cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 362 Documents
MARXIST’S ALIENATION IN JOHN STEINBECK’S OF MICE AND MEN’S CHARACTERS YOSSA GALUH DARHANTIAN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i3.16326

Abstract

Abstrak Pengasingan diri merupakan musuh utama dalam bidang kemanusiaan. Bentuk pengasingan diri terjadi melalui diri sendiri maupun dari orang lain. Namun, menurut pandangan seorang Karl Marx, pengasingan ini terjadi kepada seseorang akibat dari kapitalisme yang terjadi pada sebuah kelompok. Hal itulah yang terjadi pada para pekerja peternakan kuda yang ada di dalam cerita Of Mice and Men oleh John Steinbeck. George dan semua pekerja peternakan menghadapi kapitalisme di dalam komunitas mereka. Disinilah terindikasi terjadinya perbuatan mengasingkan diri di antara para pekerja peternakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah karakter-karakter di novel Of Mice and Men mengalami pengasingan sesuai teori Karl Marx. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapitalisme menjadi latar belakang terjadinya pengasingan diri oleh para pekerja. Kata Kunci: pengasingan diri, kapitalisme. Abstract Alienation is believed as a major problem in humanity. The forms of alienation come from self either from surroundings. However, according to Karl Marx’s view, alienation occurs due to the capitalism happens in a community. In the story of Of Mice and Men by John Steinbeck, George and the ranch workers live inside a capitalistic society. This study aims to reveal if the characters in the story are alienated according Marxist’s feature. In result, they are indicated to be alienated due to the class division inside the ranch. This suits to Marxist’s features of alienation. Keywords: alienation, capitalism.
POWER RELATIONS BETWEEN INSTITUTIONS AND INDIVIDUALS IN KAZUO ISHIGURO’S NEVER LET ME GO KHADIJAH LEDY YUNIA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i3.16327

Abstract

Abstrak Kekuasaan adalah topik yang umum dalam kehidupan kita. Bagi Foucault, relasi kekuasaan terdapat dimana-mana; muncul dalam setiap hubungan manusia dan dapat melibatkan tidak hanya individu tetapi juga kelompok, ras, lembaga, negara, dan lain-lain. Dalam sebuah novel dystopia yang berjudul Never Let Me Go, ada dua macam lembaga, yaitu Hailsham, sebuah lembaga edukasi, dan pusat pemulihan, sebuah lembaga medis, yang mempraktikkan kuasanya terhadap individu sehingga membentuk sebuah relasi kekuasaan antara lembaga dan individu. Dengan menggunakan konsep dan pendekatan kekuasaan dan relasi kekuasaan Michel Foucault, studi ini memiliki tiga tujuan yaitu mendeskripsikan wujud relasi kekuasaan antara lembaga dan individu, mendeskripsikan cara lembaga mempraktikkan kekuasaan terhadap indiidu, dan mengungkapkan representasi dari resistensi individu terhadap kekuasaan lembaga dalam novel Never Let Me Go karya Kazuo Ishiguro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam wujud relasi kekuasaan antara lembaga dan individu, beberapa agen dilibatkan dan Hailsham dan pusat pemulihan adalah pusat kekuasaan terbesar, sedangkan manusia kloning adalah targetnya dan memiliki posisi sebagai tubuh yang terlemah. Beberapa cara dari lembaga mempraktikkan kekuasaan adalah manipulasi pengetahuan dan kebenaran, penerapan teknik disipllin, dan panopticism. Selain itu, terungkap representasi dari resistensi individu terhadap kekuasaan lembaga. Perwakilan individual adalah tokoh Tommy dan Kathy. Hasil studi menunjukkan bahwa resistensi yang terjadi berupa perilaku dan tindakan yang merupakan resistensi yang tampak dan narasi yang menunjukkan pemikiran dan harapan yang merupakan resistensi yang tidak tampak. Kata Kunci: Relasi kekuasaan, mekanisme disiplin, kekuasaa lembaga, resistensi. Abstract Power is a general topic in our life. For Foucault, power relation is everywhere; it is present in every human relationship and can involve not only individual, but also group, race, institution, state, etc. In a dystoptian novel titled Never Let Me Go, there are two kinds of institution, educational institution which is Hailsham and medical institution which is recovery centre, that exercise power to individuals forming a power relation between institutions and individuals. Using Michel Foucault’s concept and approach of power and power relations, this study has three purposes which are to describe the forms of power relations between institutions and individuals, to describe the way of institutions exercise power to individuals, and to reveal the representation of individuals’ resistance to power in Kazuo Ishiguro’s Never Let Me Go. The results show that in the form of power relation in the novel, the several agents is involved and Hailsham and recovery centre are the greatest source of power, meanwhile the human clones are the targets and positioned as the most powerless bodies. The ways of institutions exercise power to individuals include manipulation of knowledge and truth, application of disciplinary techniques, and panopticism. Moreover, there are some representations of individuals’ resistance to institutional power. The representatives are Tommy and Kathy. The result shows that their resistance are in the form of behaviour and action, which are visible resistances and narration which shows thoughts and wishes which are invisible resistance. Keywords: Power relations, discipline mechanism, institutional power, resistance.
Mother – Daughter Relationship and Identity in Bernard Shaw’s Mrs. Warren Profession MUHAMMAD
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 4 No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v4i3.17030

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang Hubungan Ibu dan Anak Perempuan didrama Mrs. Warren Profession oleh Bernard Shaw. Mrs Warren sang ibu adalah pemilik dari tempat prostitusi yang terdapat dibeberapa kota, sedangkan Vivie adalah anak perempuan yang berpendidikan, yang memiliki harga diri yang tinggi dan menolak pekerjaan ibunya. Shaw membuat adegan pembuka yang menarik didrama ini saat mempersatukan kembali ibu dan anak tersebut yang telah lama berpisah sejak Vivie masih kanak-kanak dan menjadi permulaan konflik dalam Hubungan Ibu dan Anak Perempuan mereka. Penelitianinimenggunakanteori Hubungan Ibu dan Anak Perempuan milik Nancy Chodorow untuk menganalisa hubungan ibu dan anak yang terjadi dalam drama. Chodorow percaya bahwa ibu sebagai sosok utama bagi seorang anak perempuan dalam mengidentifikasikan dirinya sendiri. Seorang anak perempuan akan menjaga hubungan dengan ibunya. Hal ini berbeda dengan ap yangdilakukan oleh anak laki-laki yang cenderung menolak iktan dengan ibunya. Konsep tersebut akan menjadi konsep utama dalam studi kali ini. Penelitian kali ini akan mengemukakan dua permasalahan yang akan dibahas : (1) bagaimna hubungan ibu dan anak tergambarkan didalam drama Mrs. Warren Profession;(2) bagaimana perpisahan yang terjadi antara mereka mempengaruhi dalam pembentukan identitas Vivie. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa hubungan ibu dan anak dipercaya sebagai hubungan yang memliki ikatan yang kuat. Namun itu tidak terjadi didalam hubungan Mrs.Warren dan Vivie.Studi ini juga menemukan bahwa perpisahan antara Mrs.Warren dan Vivie mempengaruhi dalam pembentukan identitas Vivie. Kehilangan sosok ibunya menjadi faktor utama dalam pembentukan identitas Vivie. Kata Kunci: Keterikatan, Chodorow, Sosok Teladan, Perpisahan. Abstract This study discusses mother and daughter relationship in Bernard Shaw’s Mrs. Warren Profession. Shaw has chosen an interesting topic as the beginning of the conflict in this play when he reunites a mother and her daughter after living separately for long time. This study employs Nancy Chodorow’s concept of the mother and daughter relationship to examine Vivieand Mrs. Warren relationship. Chodorow believed that mother become the role model for her daughter and also the person which her daughter identify herself with. This study proposes two statements of the problem: (1) how mother and daughter relationship is depicted in Mrs. Warren Profession;(2) how the separation between theminfluences Vivie’s identity formation. The result shows that mother anddaughter relationship,which is believed as the relationship with strong bond and intimacy,does not emerge in the relationship between Mrs. Warren and Vivie. The study also reveals that the separation between Mrs. Warren and Vivie has influenced Vivie’s identity formation since Mrs. Warren is the missing role model for Vivie. The lack of role model makes Vivie difficult to feel the bond between them and finally decide to end her relationship with her mother. Keywords:Attachment, Chodorow, Role Model, Separation.
Melanie Stryder’s Existence in Stephenie Meyer’s The Host
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i1.18326

Abstract

Abstrak Tesis ini bertujuan untuk mengungkapkan eksistensialisme dalam karakter utama di novel Stephenie Meyer berjudul The Host, Melanie Stryder. Tesis ini membahas tentang bagaimana Melanie menampilkan eksistensialisme dan apa dampak dari keberadaan Melanie untuk hidupnya, cinta, dan dunia. Melanie yang hidup di era di mana alien menginvasi bumi harus mempertahankan keberadaannya sebagai manusia. Melanie hidup sebagai buronan, bepindah dari satu ke tempat lain untuk bersembunyi dan membuat saudaranya aman. Melanie memilih lebih baik mati daripada ditangkap oleh para pencari. Sebagai manusia dan mempertahankan keberadaannya, Melanie memiliki motif dalam setiap kegerakannya. Berpikir tentang apa dan bagaimana hidup sebagai ada manusia. Menjadi seperti manusia terkahir di bumi membuat Melanie harus siap kabur kapan saja, kesepian tanpa teman dan selalu dilingkupi kecemasan. Sebagai manusia, Melanie juga memiliki kebebasan untuk memilih, dia memiliki kehendak bebas untuk berakhir hidupnya atau tetap hidup bahkan ketika "jiwa" telah dimasukkan ke tubuhnya. Dengan Jamie sebagai satu satunya keluarga yang tersisa, Melanie tumbuh menjadi wanita yang bertanggung jawab penuh untuk memastikan Jamie selalu aman. Melanie juga menunjukkan dari bagaimana dia dalam kesadaran dan ketidaksadaran untuk dirinya sendiri. Konsep existenliasm dan Being dan Nothingness oleh Jean Paul Sartre digunakan untuk mengungkapkan tentang Eksistensialisme Melanie di novel Stephenie Meyer, The Host. Novel Host sebagai data utama akan disertai dengan data tambahan untuk penelitian mendalam dari penerapan teori tersebut. Hasilnya akan menunjukkan bagaimana Melanie sebagai eksistensialis dan dampak terhadap kehidupan, cinta dan dunianya. Kata kunci: existetialism, existenliast, kesepian, kecemasan, kebebasan, tanggung jawab, mobile, motif. Abstract This thesis intends to reveal existentialism in the main character of Stephenie Meyer’s The Host, Melanie Stryder. This thesis discussed problem concern in how Melanie represent existentialism and what the impact of Melanie’s existence to her life, love, and world. Melanie that is live in a era where aliens invaded the earth has to maintain her existence as a human. Melanie live as a fugitive, nomadic from one to another place to hide and make her brother safe. Melanie, she rather die than to be caught up by the seeker. As a human and maintain her existence, Melanie has her motif upon her mobile. Thought about what and how to life as exist human being. Seems like the last human being and a fugitive that has to nomad anytime, makes Melanie feels Loneliness and anxiety like common existence character. As a human Melanie also has her freedom to choice, she has free will to end up her life or keep alive even a “soul” has been inserted to her body. Having a litle brother to protect, build up Melanie to be fully responsible woman to make sure her brother save. Melanie also shows off how she is being for herself and in herself. The concept of existenliasm and Being and Nothingness by Jean Paul Sartre is used to disclose about Melanie’s Existentialism in Stephenie Meyer’s The Host. The novel The Host as the main data will be accompanied by additional data in order to eleborate deeply from the application of the theory. The result will be shown how Melanie as an existentialist and its impact to her life, love and world. Keywords: existetialism, existenliast, loneliness, anxiety, freedom, responsibility, mobile, motif.
Oppression and Female Bonding in Alice Walker’s The Color Purple
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i1.18496

Abstract

Abstrak Novel The Color Purple karya Alice Walker adalah sebuah novel naratif yang mengisahkan dua perempuan Afrika-Amerika bernama Celie dan Nettie, kedua karakter tersebut menceritakan kisah mereka yang harus berjuang melawan penindasan terhadap gender yang didominasi oleh laki-laki pada awal abad ke 20. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua pokok pertanyaan dalam penelitian yakni untuk menunjukkan penindasan yang tergambar pada novel The Color Purple dan yang kedua, untuk menampakkan kehebatan fungsi dari persatuan perempuan yang mampu mengubah karakter Celie yang awalnya pasif hingga menjadi Celie yang berani, tidak tertindas oleh laki-laki, dan mampu hidup mandiri. Penelitian ini menggunakan teori dari Irish Marion Young yang menyatakan bahwa terdapat lima tipe tindasan dalam suatu penindasan yang mendukung untuk menampakkan beberapa tipe penindasan yang terdapat pada novel The Color Purple. Dan pertanyaan kedua dalam penelitian ini menggunakan female bonding theory yang berguna untuk mengemukakan keunggulan atau kekuatan dari percakapan dari perserikatan perempuan ketika perempuan bersatu dalam memecahkan suatu permasalahan, saling mendukung dan saling menginspirasi satu karakter ke karakter yang lain sehingga kehidupan Celie pada akhir cerita novel menjadi sosok yang tangguh dan mandiri yang tak takut lagi pada tindasan laki-laki disekitarnya. Selain itu, persatuan perempuan yang terjadi dalam novel The Color Purple digunakan sebagai metode penelitian secara langsung dan hasilnya menunjukkan tipe kekuatan dalam tiap-tiap karakter perempuan adalah berbeda dan saling mempengaruhi satu karakter yang lemah yakni, Celie. Sementara itu, karakter wanita bernama Nettie, Sofia Butler, dan Shug Avery adalah karakter yang bersifat kuat dan mereka adalah inspirasi Celie sehingga dapat merubah hidupnya yang sengsara dan takut untuk melawan tindasan, menjadi Celie yang tangguh dan merdeka dari laki-laki yang menindasnya. Berkat bantuan inspirasional dari karakter perempuan lain dan juga keajaiban perempuan dalam mendukung dan menginspirasi satu sama lain dalam novel tersebut, karakteristik Celie seketika berubah dari pasif menjadi aktif. Kata Kunci: persatuan wanita, girl’s talk, tindasan terhadap perempuan, masyarakat Afrika-Amerika, awal abad ke 20 Abstract Alice Walker’s The Color Purple is a narrative novel about Celie and Nettie, two African-American women who are struggling to deal with gender oppression of male dominated of early 20th century African-American society. This research aims to answer two main research question of the study, which are to shows the oppression that exist in The Color Purple novel and to reveal the perspective of women bonding which bring the changes toward Celie’s life in Alice Walker’s The Color Purple. This research used Iris Marion Young theoretical approach that examines the literary work based on the five faces toward oppression and to depict the oppression that exist in the novel. And the second research question is used the female bonding theory to reveal the girl’s talk and female bonding which changes Celie’s life in the novel. The result shows the female characters’ type of resistance. Nettie, Sofia Butler and Shug Avery’s acts of resistance are consistent as an active resistance. That characters was become the big reason why Celie’s character turning into fearless and bold women in facing her sad life. From the help of the other female characters, and also the power of female bonding in support and sharing together, Celie’s characteristic of resistance is dynamically changed from passive to active. Keywords: female bonding, girl’s talk, oppression toward women, African-American, early 20th century
Female Subjectivity in Lisa See’s Snow Flower and the Secret Fan
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19168

Abstract

Abstrak Di dalam masyarakat yang menganut sistem patriarki, secara umum, perempuan berada di bawah laki-laki dan memiliki akses dan kebebasan yang terbatas. Mereka tertekan dan dikendalikan. Tekanan yang dialami oleh perempuan membatasi pergerakan mereka, dengan demikian, mereka menunjukkan subjektivitas perempuan. Dalam novel Snow Flower dan Kipas Rahasia, Lisa See mencoba menggambarkan subjektivitas perempuan yang dilakukan oleh karakter perempuan, terutama yang dilakukan Lily dan Snow Flower. Subjektivitas perempuan memungkinkan perempuan untuk berpikir, berbicara, dan bertindak untuk diri mereka sendiri. Penindasan perempuan merupakan faktor mengapa subjektivitas perempuan terjadi; eksploitasi perempuan, marginalisasi perempuan, ketidakberdayaan, dan kekerasan. Sebagai hasil dari subjektivitas perempuan, karakter perempuan menunjukkan aksi perlawanan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai subjektivitas perempuan dan faktor yang menyebabkannya. Penelitian ini menggunakan teori post-struktural feminisme, konsep subjektivitas, dan konsep perlawanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa subjektivitas perempuan terjadi sebagai cara untuk memperoleh individualitas dan kepribadian. Penyebab subjektivitas perempuan disebabkan oleh penindasan perempuan yang dialami oleh karakter perempuan. Perempuan melakukan perlawanan dalam diam melalui pemberontakan dalam diam dan menulis nu shu yang mana nu shu berfungsi untuk memberi suara kepada para perempuan dan untuk menyimpan dan mencatat pengalaman perempuan. Kata Kunci: post-struktural feminis, subjektivitas perempuan, penindasan, perlawanan Abstract In a society where patriarchal system exists, generally, women are put below men and have limited access and freedom. They are being oppressed and controlled. The oppression limits the women moves, thus, they exhibit what is called as female subjectivity. In the novel Snow Flower and the Secret Fan, Lisa See tried to depict the female subjectivity by the female characters, especially from Lily and Snow Flower. Female subjectivity allows women to be able to think, to speak, and to act for themselves. Women’s oppression is the contributing factor of female subjectivity; women’s exploitation, women’s marginalization, powerlessness, and violence. As a result of female subjectivity, the female characters display the acts of resistance. Therefore, the purpose of this study is to find out the depiction of female subjectivity and the contributing factors to female subjectivity. This study uses post-structural feminism theory, concept of subjectivity, and concept of resistance. Thus, the study showed that the female subjectivity happens as a way to acquire selfhood and personality. The trigger of female subjectivity lies on women’s oppression experienced by the female characters. The women do silence resistance through silent rebellion and nu shu writing as it gives the women voices they need and to keep record of women’s experiences. Keywords:post-structural feminism, female subjectivity, oppression, resistance
The Idea of Gender Oppression Over Man Domination in Tyler Perry’s “For Colored Girls” Movie
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19173

Abstract

ABSTRAK Dominasi adalah suatu aktivitas dari kontrol atau pengaruh terhadap sesuatu atau seseorang yang bersifat dikendalikan dan ketat. Judul dari skripsi ini adalah “THE IDEA OF GENDER OPPRESSIONS OVER MEN DOMINATION IN TYLER PERRY’S “FOR COLORED GIRLS” movie. Penelitian ini memaparkan beberapa isu terkait masalah-masalah domestik yang dialami wanita kulit hitam. Dari status sebagai wanita berkulit hitam menyebabkan tidak mendapatkan respon yang baik di kalangan mereka sendiri sesama kulit hitam. Peran wanita kulit hitam disini adalah kebanyakan sebagai istri atau kekasih yang mempunyai pasangan yang selalu mendominasi mereka. Dominasi yang dilakukan tokoh laki-laki dalam film adalah melakukan tekanan baik secara fisik maupun non-fisik seperti adanya kekerasan dalam sebuah hubungan seksual, pemerkosaan, penyimpangan pernikahan, dan penyimpangan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat membantu para pembaca untuk memahami black feminism, serta untuk memberikan keterangan tentang setiap karakter pada tesis ini dalam dominasi yang dilakukan oleh karakter laki-laki terhadap karakter perempuan. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah Black Feminist Thought dari Patricia Hill Collins. Teori ini digunakan untuk memperkuat analisa. Ada pua teori gender oppression dan male dominance yang digunakan sebagai referensi pada penilitian. Di penelitian ditemukan bahwa sejak jaman perbudakan, wanita kulit hitam selalu diremehkan baik di bidang sosial, seksual, ekonomi, dan ras. Teori-teori tersebut membuktikan bahwa wanita berkulit hitam selalu diremehkan dalam banyak aspek seperti sosial, ekonomi, ras, dan seksual. Pada film “For Colored Girl” ditemukan bahwa karakter wanita diperlakukan secara kasar. Secara seksual mereka tertekan, terdiskriminasi, dipermalukan, dan tertindas karena status mereka sebagai kulit hitam. Respon dari wanita kulit hitam terhadap dominasi adalah kebanyakan dari mereka menunjukkan sikap keberanian dengan mencoba memberantas dominasi seperti melaporkan masalah, membangun kekeluargaan, menyingkirkan permasalahan, dan memilih perceraian. Kata Kunci: Dominasi, Black Feminism, Gender Oppression, Male Dominance, For Colored Girls ABSTRACT Domination is one of activity of control or effect over something or someone of being controlled. The title of this thesis is “THE IDEA OF GENDER OPPRESSIONS OVER MEN’S DOMINATION IN TYLER PERRY’S ‘FOR COLORED GIRL’ MOVIE”. This study presents some issues related to domestic problems experienced by black women. As black women, the women characters do not get a good response among their fellow blacks. The roles of the black women in the chosen movie are mostly as wives and lovers. The forms of domination the male characters done are both physical and non-physical pressures such as rape, social deviation, attacks and sexual deviation. This research is expected to help readers to learn about black as well as to provide explanation of the term domination toward female characters. The study applies Patricia Hill Collin’s Black Feminist idea. The theory is used to strengthen the discussion on the domination and both physical and mental abusive actions. There is also oppression in terms of gender and male dominance which can be used as references and also data in the analysis. The analysis shows that since the days of slavery, black women were underestimated socialy, sexualy, economically, and racially. Those above findings approve that black women are indeed always underestimated in many aspects such as social, economical, racial, and sexual. In “ For Colored Girl”, women characters are treated abusively. Black women characters are sexually discriminated, humiliated, and oppressed because of their status as black women. Women’s responses toward the domination show that most of female characters fight against the domination such as making report their problems to the police, setting up family bonding among the women characters, getting over the problems as quick as possible, and then proposing divorce. Key Word: Domination, Black Feminism, Gender Oppression, Male Domination, For Colored Girl
Ecocriticism in Dr. Seuss The Lorax
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19215

Abstract

Abstrak Studi ini menggunakan teori ecocriticism yang menggunakan buku The Ecocriticism Reader karyaCherryl Glotfelty dan juga Harold Fromm. Ecocriticism melihat kerusakan hutan sebagai hasil dari tingkah laku manusia terhadap hutan misalnya: eksploitasi dan colonialisasi. Lawrence Buell mengatakan bahwa kondisi lingkungan itu ditentukan oleh manusia.Tesis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjawab dan menganalisa dua rumusan masalah, yakni: (1) Bagaimana perusakan lingkungan digambarkan dan (2) Bagaimana kehancuran mempengaruhi karakter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengrusakan hutan ini terjadi karena satu karakter yang bernama Once-ler. Dia melakukan pengrusakan hutan karena dia sedang melakukan bisnis pakaian Thneed yang bahan bakunya diambil dari Pohon yang khas didalam hutan The Lorax,Pohon Truffula kemudian hal ini menyebabkan polusi terhadap air, udara dan tanah. Selain menyebabkan polusi dan pencemaran, kerusakan hutan ini berpengaruh juga terhadap karakter-karakter yang ada di dalamThe Lorax, yakni Once-ler, Lorax, dan Ted. Kata Kunci: Deforestasi, ekokritikisme, sastraanak Abstract This study uses the theory ecocriticism that is in The Ecocriticism Reader edited by CherrylGlotfelty and Harold Fromm. Ecocriticism see the destruction of forests as a result of human behavior on the forest for example: exploitation and colonialization. Lawrence Buell said that the environmental conditions are determined by humans. This thesis uses qualitative descriptive method to answer and to analyze two formulations of the problem, which are: (1) How environmental destruction is described and (2) How does the destruction affecting the character. The results of this study indicate that deforestation happens because a character named Once-ler. He was destroying the forest because he was doing business Thneed clothing with raw materials taken from a typical tree in the forest The Lorax, Truffula Trees. Then this is lead to pollution in environment that are in the air, water, and land. In next, forest destruction is also affect the character in The Lorax, Once-ler, Lorax, and Ted. Once-ler as an antagonist character feel so depressed with destruction because he had lost everything, family, property, and also the beauty of the forest. Ted as a child is a picture of the children who want to know about what happened in the woods and Once-ler expects him to conserve forests. He is also a symbol of the children as the future of the green surroundings. And The Lorax is the guardian of the forest. He had been many times to remind once-ler in preserving the forest and does not damage it. He marked the pollution and destruction to the Once-ler. In the end he was tired because the forest had occurred much damage and decided to disappear behind a cloud and left the Once-ler. Keywords:deforestation, ecocriticism, children literature. Studi ini menggunakan teori ecocriticism yang menggunakan buku The Ecocriticism Reader karyaCherryl Glotfelty dan juga Harold Fromm. Ecocriticism melihat kerusakan hutan sebagai hasil dari tingkah laku manusia terhadap hutan misalnya: eksploitasi dan colonialisasi. Lawrence Buell mengatakan bahwa kondisi lingkungan itu ditentukan oleh manusia.Tesis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjawab dan menganalisa dua rumusan masalah, yakni: (1) Bagaimana perusakan lingkungan digambarkan dan (2) Bagaimana kehancuran mempengaruhi karakter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengrusakan hutan ini terjadi karena satu karakter yang bernama Once-ler. Dia melakukan pengrusakan hutan karena dia sedang melakukan bisnis pakaian Thneed yang bahan bakunya diambil dari Pohon yang khas didalam hutan The Lorax,Pohon Truffula kemudian hal ini menyebabkan polusi terhadap air, udara dan tanah. Selain menyebabkan polusi dan pencemaran, kerusakan hutan ini berpengaruh juga terhadap karakter-karakter yang ada di dalamThe Lorax, yakni Once-ler, Lorax, dan Ted.
A Journey through Invisibility in Ralph Ellison’s Invisible Man
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19234

Abstract

Abstract One of the most brilliant novel of all time that brings up racial issue is Invisible Man that was written by Ralph Ellison. It tells a journey of a nameless African-American man from South moving to urban life of Harlem. Through a sense of invisibility that seems to cloak him, he struggle with deception and racism in White dominant society. This study discusses about the invisibility process portrayed in the novel by using Franklin’s concept of invisibility. Moreover, the purpose of this study is to reveal and understand how invisibility is depicted in Invisible Man. This study is a literary research of African-American criticism that is conducted through descriptive qualitative and library research method by using Invisibility Syndrome Paradigm concept. The result of this study shows that through cumulative encounters with prejudice and racism experienced in his journey in Harlem, the protagonist struggles with invisibility for the lack of recognition, lack of satisfaction, lack of validation, lack of respect, lack of dignity toward his presence as equal human beings and eventually it leads to his identity being challenged and lost. After experienced series of unfortunate encounters of racial slights and people’s refusal to acknowledge and consider him as equal, he is rendered invisible in the eyes of the society. Keywords: invisibility, invisibility syndrome paradigm, racial slights, African-American criticism. Abstrak Salah satu dari novel paling brilian sepanjang masa yang mengangkat tentang isu rasial adalah novel Invisible Man yang ditulis oleh Ralph Ellison. Novel ini menceritakan tentang sebuah perjalanan dari seorang pria Afrika-America dari Selatan yang berpindah ke kehidupan kota Harlem. Dengan invisibilitas yang seakan menyelimutinya, dia berjuang melawan tipu-daya and rasisme dalam lingkungan sosial yang mana kaum putih lebih dominan. Penelitian ini membahas tentang proses invisibilitas yang tergambar dalam novel dengan menggunakan konsep invisibilitas milik Franklin. Selanjutnta, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyingkap dan memahami bagaimana invisibilitas digambarkan dalam Invisible Man. Penelitian ini merupakan penelitian kesastraan dari kritik sastra Afrika-Amerika yang dilakukan melalui metode penelitian deskripsi qualitatif dan kepustakaan dengan menggunakan konsep Paradigma Sindrom Invisibilitas . Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa melalui pertemuan kumulatif dengan prasangka dan rasisme yang dialami dalam perjalanannya di Harlem, sang protagonis berjuang melalui invisibilitas ditandai dengan kurangnya pengakuan, penghargaan, validasi, rasa hormat, dan kurangnya martabat terhadap keberadaannya sebagai manusia yang sederajat dan berakibat pada identitasnya yang tergoyah dan hilang. Setelah mengalami banyak kejadian diskriminasi rasial dan juga penolakan masyarakat untuk mengakui dan menganggap dirinya mempunyai derajat yang sama, dia menjadi tidak terlihat di mata masyarakat. Kata Kunci: invisibilitas, paradigma sindrom invisibilitas, diskriminasi rasial, kritik sastra Afrika-Amerika.
IDENTITY EXPLORATION AND IDENTITY CONFUSION IN JAMAICA KINCAID’S LUCY
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19265

Abstract

Abstrak Masa remaja dianggap sebagai masa yang paling sensitif karena merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan. Para remaja tidak bisa diungkiri mengalami pencarian jati diri yang mana identitas diri yang sesungguhnya mungkin dibentuk dengan baik atau malah mereka mengalami kebingungan identitas. Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang ke dalam kebingungan identitas; dua faktor di antaranya adalah pengalaman pahit pada masa lalu dan eksplorasi diri yang tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan eksplorasi diri yang kurang akan komitmen dan membuktikan bahwa kebingungan identitas terjadi karena eksplorasi yang tidak terkendali. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis yang dikembangkan berdasarkan teori-teori dan interpretasi pribadi. Novel pendek karya Jamaica Kincaid, Lucy, merupakan data dari penelitian ini yang mana kebingungan identitas yang dihadapi oleh karakter utama menjadi subjek penelitian. Penelitian ini menerapkan teori-teori Erik H. Erikson, yakni eksplorasi identitas dan tingkatan psikososial perkembangan identitas, untuk menjawab masalah-masalah dalam penelitian. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa kebingungan identitas dialami oleh Lucy sebagai hasil dari eksplorasi dirinya yang rendah akan komitmen. Lucy dianggap sebagai penjelajah yang aktif, namun dia tidak aktif dalam membuat komitmen. Kata Kunci: eksplorasi identitas, kebingungan identitas, perkembangan psikososial Abstract Adolescence is assumed as the most sensitive period because it is the transition period from childhood to adulthood. Adolescents undeniably experience search of identity which the real identity may be successfully formed, or even they may experience identity confusion. There are several factors which drive someone into identity confusion; two of those factors are bitter past experience and uncontrollable exploration. This study is aimed to depict low commitmen exploration and prove that identity confusion happens because of uncontrollable exploration. This qualitative study uses descriptive and analytical approach which is develoed based on the theories and personal interpretation. Jamaica Kincaid’s novella, Lucy, is the data of this study in which the protagonist character’s identity confusion becomes the subject. This study applies Erik H. Erikson’s theories, identity exploration and psychosocial development stages, to answer the research problems. The result of this study is that identity confusion is experienced by Lucy as the outcome of her low commitment exploration. Lucy is considered as an active explorer, however she is inactive in making commitment. Keywords: identity exploration, identity confusion, psychosocial development