cover
Contact Name
Ahmad Fauzan
Contact Email
elizdiwaj@radenintan.ac.id
Phone
+628996444357
Journal Mail Official
elizdiwaj@radenintan.ac.id
Editorial Address
Jln. Lektol H. Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung Rumah Jurnal Fakultas Syari'ah UIN Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law
ISSN : -     EISSN : 27460126     DOI : 10.24042/el-izdiwaj.v2i2.
Core Subject : Religion,
El Izdiwaj Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law jurnal yang membahas artikel dalam bidang hukum keluarga Islam dan hukum perdata dengan berbagai pendekatan
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 87 Documents
Pesantren sebagai Lembaga Substitusi Nafkah bagi Santri Broken Home: Analisis Kewajiban Nafkah dalam Perspektif Hukum Islam Ahmad Wafiyul Ahdi; Ita Rahmania Kusumawati
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/wwzf2754

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pemberian nafkah terhadap santri yang berasal dari keluarga broken home di Pondok Pesantren Al-Bisri Mambaul Ma’arif. Fenomena santri broken home memunculkan pergeseran tanggung jawab nafkah yang semula menjadi kewajiban orang tua, namun dalam praktiknya turut dipikul oleh pihak pesantren dan lingkungan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori kewajiban nafkah dalam hukum Islam serta prinsip maslahah mursalah dan ta‘āwun (tolong-menolong). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren berperan sebagai lembaga substitusi nafkah dengan memberikan pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, pendidikan, dan pembinaan spiritual. Praktik ini sejalan dengan nilai keadilan sosial dan perlindungan anak dalam hukum Islam, namun tanggung jawab utama tetap berada pada keluarga atau wali santri. Penelitian ini merekomendasikan perlunya kebijakan internal pesantren terkait sistem pemberian nafkah bagi santri dari keluarga broken home. Kata Kunci: Nafkah, Santri Broken Home, Pesantren.
Perlindungan Hukum bagi Penjual dan Pembeli dalam Perjanjian Jual Beli Tanah Letter C di Bawah Tangan Yulianti; Junus, Nirwan; Elfikri, Nurul Fazri
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/j06fzc35

Abstract

Penelitian ini berfokus pada analisis perlindungan hukum terhadap penjual dan pembeli dalam perjanjian jual beli Tanah Letter C yang dilakukan secara bawah tangan di Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, khususnya ditinjau dari kepastian hukum peralihan hak atas tanah dan keterdaftarannya dalam sistem pendaftaran tanah nasional. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis-empiris dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara terhadap aparat kelurahan dan pihak Kantor Pertanahan, serta analisis terhadap peraturan perundang-undangan dan dokumen hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjanjian jual beli Tanah Letter C yang dibuat di bawah tangan dapat memenuhi syarat sah perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, namun tidak memenuhi syarat formil peralihan hak atas tanah sebagaimana ditentukan dalam Pasal 37 ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997, sehingga tidak dapat didaftarkan dan tidak memberikan kepastian hukum serta perlindungan terhadap pihak ketiga. Praktik jual beli bawah tangan tersebut tetap berlangsung karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi, rendahnya literasi hukum masyarakat, kebiasaan lokal, serta terbatasnya sosialisasi hukum pertanahan oleh pemerintah. Penelitian ini merekomendasikan penguatan edukasi hukum pertanahan, penyederhanaan prosedur pendaftaran tanah, serta optimalisasi program sertifikasi tanah seperti Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) guna meningkatkan kepastian dan perlindungan hukum bagi masyarakat.
The Childfree Phenomenon from the Perspective of Hadith in Islamic Family Law Purwaningsih, Titin; Gusti, Hyang Kinasih
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/c5q36a36

Abstract

The childfree phenomenon has increasingly become a subject of debate among young Muslims in Indonesia and raises normative questions within Islamic family law. This study aims to analyze the childfree phenomenon from the perspective of Hadith-based Islamic family law through both normative and empirical approaches. The research employs a qualitative field study design conducted in Baradatu District, Way Kanan Regency, in 2026. Data were collected through in-depth interviews with Generation Z participants and analyzed using thematic analysis. Normative analysis was conducted through hadith takhrij, sanad and matn examination, and the framework of maqāṣid al-sharī‘ah. The findings reveal that Generation Z’s perceptions of childfree fall into three main orientations: rational-economic considerations, reproductive autonomy, and normative-religious perspectives. Normatively, the hadith encouraging marriage to fertile women reflects a procreative orientation as an ideal value rather than a binding obligation. Meanwhile, the hadith concerning the practice of coitus interruptus (‘azl) indicates flexibility in birth regulation as long as it does not intend permanent termination of lineage. Within the maqāṣid al-sharī‘ah framework, the protection of lineage (ḥifẓ al-nasl) encompasses not only quantitative continuity but also qualitative sustainability. Therefore, the childfree phenomenon cannot be judged in a binary legal framework; instead, it requires a proportional analytical approach that balances normative texts and social realities to preserve the authority of hadith while maintaining its relevance in contemporary Muslim family life.
Subrogation as a Legal Protection Mechanism for Banks in Kredit Usaha Rakyat (KUR) Guarantee Schemes Raditya Maharani; Firdausi, Kamalia; M. Dju Bire, Chatryen
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/tyt2dv47

Abstract

This study examines how subrogation functions within the Credit Guarantee mechanism of a government-backed microcredit program in Indonesia (Kredit Usaha Rakyat) as a tool for protecting banks’ legal interests in cases of non-performing loans. Although subrogation is formally regulated under the Indonesian Civil Code, the practice of KUR credit guarantees demonstrates that subrogation is often narrowly understood as merely an administrative consequence of guarantee claim payments. This situation arises because KUR guarantees cover only a portion of the credit risk, resulting in a partial transfer of receivables and creating legal complexities in the relationships among banks, debtors, and credit guarantee institutions. Using a normative legal research approach through the examination of the Indonesian Civil Code, regulations governing the KUR program guarantee scheme, and the prudential principle in banking law, this study finds that subrogation in KUR guarantees is inherently partial and possesses a strategic function that has not yet been fully optimized. Partial subrogation not only facilitates the transfer of receivables but also serves as a proportional and layered legal protection mechanism for banks in resolving non-performing loans. This study emphasizes that the systematic integration of subrogation within the legal framework of a government-backed microcredit program in Indonesia (Kredit Usaha Rakyat) guarantee scheme has the potential to strengthen the legal protection of banks’ interests while supporting the stability of government- backed credit distribution.   Keywords: Subrogation; KUR; Credit Guarantee; Legal Protection of Banks.
The Transformation of Marriage Law in the Digital Era: Examining the Legal Validity of Online Marriage under Indonesian Law Al Layyinah, Jihan; Ma'mun, Sukron
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jrpknw52

Abstract

The rapid development of digital technology has precipitated the emergence of online marriage practices, constituting a significant transformation in matrimonial practices in Indonesia. This phenomenon raises complex legal issues, particularly given the absence of explicit regulatory provisions in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage. This study seeks to analyse the legal validity of online marriages under Indonesian positive law and to assess the urgency of regulatory reform in the digital era. Employing a normative juridical method, the study adopts both statutory and conceptual approaches through an extensive review of the literature. The findings suggest that online marriages may be regarded as substantively valid, provided that they fulfil the essential pillars and legal requirements of marriage as prescribed by both religious norms and principles of positive law. However, the absence of specific regulatory frameworks gives rise to a range of legal challenges, including the validity of virtual witnesses, the use of electronic documents and signatures, mechanisms of registration, and the protection of the rights of women and children. These conditions contribute to legal uncertainty and create potential avenues for misuse, including fraud and unregistered marriages. Accordingly, comprehensive and adaptive legal reform is required to ensure legal certainty, administrative legitimacy, and the effective protection of the rights of all parties involved. Keywords: Online marriage; Indonesian positive law; legal validity; digital era; regulatory reform.
Tinjauan Hukum Ekonomi Syari’ah Terhadap Praktik Pembiayaan Sistem Tempo Pada Travel Haji Dan Umroh Rizhaldi, A. Taufiq; Faizan, Liky; Yati, Alan
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/bheg7842

Abstract

Perkembangan model pembiayaan syariah terus mengalami dinamika seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah. Salah satu inovasi tersebut diterapkan oleh PT. Berkah Wisata Muli Lampung yang menyediakan sistem pembiayaan tempo dalam penyelenggaraan perjalanan haji dan umroh. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis praktik pembiayaan dengan sistem tempo yang diterapkan di PT. Berkah Wisata Muli Lampung berdasarkan ketentuan fiqh muamalah dan prinsip-prinsip syariah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembiayaan haji dan umroh di PT. Berkah Wisata Muli Lampung dilakukan melalui mekanisme pembayaran secara bertahap dalam jangka waktu tertentu setelah jamaah melaksanakan perjalanan umroh. Praktik tersebut telah sesuai dengan konsep ijarah karena memenuhi rukun dan syarat akad serta sejalan dengan prinsip-prinsip hukum ekonomi syariah, seperti keadilan, transparansi, dan kemaslahatan. Penelitian ini merekomendasikan agar penyelenggara perjalanan haji dan umroh yang menerapkan sistem pembiayaan serupa memperkuat aspek transparansi akad, pengelolaan risiko pembiayaan, serta edukasi kepada jamaah mengenai hak dan kewajiban para pihak guna menjamin kepatuhan syariah dan keberlanjutan layanan secara optimal. Kata Kunci: Akad, Pembiayan Tempo, Travel Haji dan Umroh, Hukum Islam
Transformasi Relasi Digital ke dalam Ikatan Perkawinan: Tinjauan Hukum terhadap Praktik Pernikahan Berbasis Media Online dalam Perspektif Hukum Islam Kamilatuzzakia
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/b17ten46

Abstract

Abstrak:  Transformasi teknologi informasi telah merekonstruksi mekanisme interaksi sosial, termasuk pada aspek sakral dalam hukum keluarga Islam melalui fenomena pernikahan berbasis media daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran budaya, konstruksi teknis-syariat, serta legalitas hukum Islam terhadap praktik pernikahan virtual di era digital. Menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-normatif, penelitian ini mengkaji literatur fikih klasik, fatwa kontemporer, dan regulasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi telah mengubah mekanisme ta’aruf dan akad nikah dari perjumpaan fisik menuju ruang virtual yang menuntut adaptasi nilai kesakralan. Dalam aspek teknis-syariat, sahnya akad sangat bergantung pada pemaknaan ulang ittihad al-majlis menjadi kesatuan waktu (majlis hukmi) dengan syarat ketat berupa transmisi audio-visual real-time, kepastian identitas, dan kehadiran saksi yang tervalidasi. Secara hukum Islam, praktik ini berada dalam ranah khilafiyah, namun kecenderungan ijtihad kontemporer memberikan legalitas fungsional sebagai bentuk maslahah mursalah dan kemudahan (taysir) bagi umat, selama prinsip kehati-hatian (al-ihtiyath) terhadap risiko manipulasi teknologi dapat terjamin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun teknologi memungkinkan terciptanya ikatan perkawinan yang sah secara syariat melalui media daring, integritas prosesi tetap menjadi pilar utama guna menghindari ketidakpastian hukum (gharar) di masa depan. Kata kunci: pernikahan online, ittihad al-majlis, transformasi digital   Abstract:    Abstract: The transformation of information technology has reconstructed the mechanisms of social interaction, including the sacred aspects of Islamic family law through the phenomenon of online-based marriage. This study aims to analyze cultural shifts, the technical-sharia construction, as well as the legality in Islamic law regarding virtual marriage practices in the digital era. Using library research methods with a qualitative-normative approach, this study examines classical fiqh literature, contemporary fatwas, and related regulations. The results of the study show that digitalization has changed the mechanisms of ta’aruf and the marriage contract from physical meetings to virtual spaces, requiring an adaptation of the sacred values. In the technical-sharia aspects, the validity of the contract highly depends on the reinterpretation of ittihad al-majlis into unified time (majlis hukmi) with strict conditions such as real-time audio-visual transmission, identity certainty, and the presence of validated witnesses. Under Islamic law, this practice falls within the realm of khilafiyah (matters of difference of opinion), but contemporary ijtihad tends to provide functional legality as a form of maslahah mursalah (public interest) and facilitation (taysir) for the community, as long as the principle of caution (al-ihtiyath) against the risk of technological manipulation can be ensured. This study concludes that although technology allows the creation of a marriage bond that is valid according to sharia through online media, the integrity of the process remains the main pillar to avoid legal uncertainty (gharar) in the future.   Keywords: online marriage, ittihad al-majlis, digital transformation