cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2021)" : 9 Documents clear
Pengaruh Perkembangan Kognitif Pada Anak Zega, Berkat Karunia; Suprihati, Wahyu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.853 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.101

Abstract

The size of the body (physical development), is influenced by heredity and environmental factors. The most important physical development during early childhood is the continuous development of the brain and nervous system. However, the child's personality in cognitive form greatly affects the growth and development of the child, both in the character and personality of the child. For this reason, the authors examine how the influence of cognitive development on children. With a descriptive qualitative approach, it can be concluded that in this child's cognitive development, there are many factors that affect a child's cognitive development, but in this case, a teacher must have a strategy or effort to overcome each of the factors that influence the child's cognitive development factor. Therefore, the cognitive development process of children involves progressive learning processes such as attention, memory, and logical thinking. The development of these skills is important so that children can process information, learn to evaluate, analyze, remember, compare and understand causal relationships. So children's thinking and learning abilities can be improved with proper practice and practice.AbstrakBesar kecilnya ukuran tubuh (perkembangan fisik), dipengaruhi oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan. Perkembangan fisik yang sangat penting selama masa anak – anak awal adalah perkembangan otak dan sistem syaraf yang berkelanjutan. Namun kepribadian anak dalam bentuk kognitif sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, baik dalam karakter maupun kepribadian anak tersebut. Untuk itu penulis meneliti bagaimana pengaruh perkembangan Kognitif pada anak. Dengan pendekatan kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan bahwa dalam permbangan kognitif anak ini, banyak yang menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak, tetapi dalam hal ini, seorang guru harus memiliki strategi atau upaya untuk mengatasi dari setiap faktor yang mempengaruhi faktor perkembangan kognitif anak tersebut. Oleh karena itu proses Perkembangan kognitif anak melibatkan proses belajar yang progresif seperti perhatian, memori/ingatan, dan logika berpikir. Perkembangan keterampilan tersebut penting agar anak bisa memproses informasi, belajar mengevaluasi, menganalisis, mengingat, membandingkan dan memahami hubungan sebab akibat. Jadi kemampuan berpikir dan belajar anak dapat ditingkatkan dengan praktik dan latihan yang tepat.
Keutamaan Kristus di dalam Pola Hubungan Anak dan Orangtua Berdasarkan Alkitab di dalam Kolose 3:20-21 Surna, Suriawan; Widodo, Priyantoro
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.108 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.107

Abstract

The pastoral letter of the apostle Paul to the Colossians, especially in Colossians 3:20-21, forms the basic pattern of relationships between Christian children and parents. The pattern based on God's word becomes a natural means of evangelizing Christian parents to their children. In addition, this pattern directs parents and their children to have a foundation in their relationship that puts the Lord Jesus Christ first. A relationship that puts Christ first creates a strong bond for every parent with their child of all ages. And lastly, this pattern of relationships makes children have the character of Christ who is able to face the modern world with its various understandings and teachings.AbstrakSurat pengembalaan rasul Paulus kepada jemaat di Kolose khususnya di dalam Kolose 3:20-21 merupakan pembentuk pola hubungan dasar antara anak dan orang tua Kristen. Pola yang berdasarkan firman Allah tersebut menjadi sarana penginjilan orang tua Kristen kepada anak mereka yang berlangsung alami. Selain itu pola tersebut mengarahkan orang tua beserta anak mereka memiliki fondasi di dalam hubungan mereka yang mengutamakan Tuhan Yesus Kristus. Hubungan yang mengutamakan Kristus menjadi ikatan yang kuat bagi setiap orang tua dengan anak-anak mereka di semua rentang usia mereka. Dan yang terakhir pola hubungan yang tersebut menjadikan anak anak memiliki karakter Kristus yang mampu menghadapi dunia modern dengan berbagai paham dan pengajarannya.
Peran Guru PAK dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Masa New Normal Setia Wati, Hani Martha Puji; Triposa, Reni; Purba, Roida
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.989 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.102

Abstract

Motivation to learn is very important to give a series of efforts to provide space so that someone wants and wants to do something. Motivation to learn can affect student learning outcomes. Because where a low motivation value can lead to lower success in learning so that it will affect learning achievement. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that: the teacher's job is as a guide and helper to help students to increase learning motivation. The teacher awakens the enthusiasm of students to learn by providing creative ways when teaching, so that it can attract the attention of students. the importance of Christian Religious Education teachers to advise, guide, teach and direct and provide encouragement to continue to move forward in increasing the enthusiasm for learning so as to have good learning motivation. So, the teacher needs to generate motivation in students so that they are more active in learning so that they can achieve learning success. Students who have high learning motivation are very easy to get good learning outcomes, and students will try hard with all their efforts to learn starting from Christian Religious Education subjects so that other subjects can learn with this. Therefore, learning motivation is very important in achieving the learning success of students.AbstrakMotivasi belajar sangatlah penting untuk memberikan serangkaian usaha untuk menyediakan ruang sehingga seseorang mau  dan ingin melakukan sesuatu. Motivasi belajar dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Sebab dimana nilai motivasi yang rendah dapat menyebabkan rendahkanya keberhasilan dalam belajar sehingga akan memperngaruhi prestasi belajar. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat disimpulkan bahwa: tugas guru adalah sebagai pembimbing dan penolong untuk membantu siswa untuk meningkatkan motivasi belajar. Guru membangkitkan semangat anak didik untuk belajar dengan memberikan cara-cara kreatifitas saat mengajar, sehingga dapat menarik perhatian peserta didik. pentingnya guru Pendidikan Agama Kristen untuk memberi nasehat, membimbing, mengajarkan dan mengarahkan serta memberikan dorongan untuk terus maju dalam meningkatkan semangat belajar agar punya motivasi belajar yang baik. Maka, Guru perlu membangkitkan motivasi dalam diri anak didik agar mereka semakin aktif belajar sehingga dapat mencapai keberhasilan belajar. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi sangat mudah memperoleh hasil belajar yang baik, dan anak didik akan berusaha keras dengan segala daya upaya mempelajari mulai dari mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen sehingga mata pelajaran yang lain boleh belajar dengan hal ini. Oleh karena itu, motivasi belajar sangat penting dalam mencapai keberhasilan belajar anak didik.
Kajian Teologis Konsep Pemberitaan Injil Berdasarkan 2 Korintus 5: 18-21 Efrayim Ngesthi, Yonathan Salmon; Munandar, Aris; Zacheus, Soelistiyo Daniel; Dwikoryanto, Matius I Totok
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.025 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.108

Abstract

Preaching the gospel in believers requires responsibility and courage to actualize it. But many people do not understand that evangelism is God's way of working with people to bring a message of reconciliation to people. Through descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that God's people must be able to understand that there is a heart of God in saving humans in God's mission of reconciliation for humans. Furthermore, God's people can also understand how God entrusts the task of serving missions to be a priority and responsibility to do, because being a messenger of Christ for the salvation of others is a way for believers to respond to God's call to be a blessing to this world.AbstrakMemberitakan injil dalam diri orang percaya memerlukan tanggung jawab dan keberanian dalam mengaktualisasi. Namun banyak orang tidak memahami bahwa penginjilan adalah cara Allah bekerja sama dengan manusia membawa pesan pendamaian bagi manusia. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature dapat disimpulkan bahwa umat Tuhan harus dapat memahami bahwa adanya hati Allah dalam menyelamatkan manusia dalam misi pendamaian Allah bagi manusia. Selanjutanya umat Tuhan dapat mengerti juga bagaimana Allah Mempercayakan tugas pelayanan misi menjadi prioritas dan tanggung jawab untuk dikerjakan, sebab menjadi utusan Kristus bagi keselamatan orang lain adalah merupakan cara orang percaya merespon panggilan Tuhan untuk menjadi berkat bagi dunia ini.
Metode Bermain Salah satu Metode Pembelajaran Untuk Anak Ester, Ester; Giamulia, Daniel Setiawan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.842 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.103

Abstract

Playing is a child's daily activity. Play has a big influence on children's development, both physically and mentally. One method of learning in children, especially early childhood is the play method.Basically, children like to play, move, sing and dance, either alone or in groups. Play can develop physical, motor, social, emotional, cognitive, creativity, language, behavior, sensory acuity, release tension and therapy for both physical and mental. Therefore, the play method is very suitable for the child's learning process. If the playing method is carried out without proper preparation, the learning objectives cannot be achieved optimally. On the other hand, if properly prepared, the play method can help students understand the lesson. The method of playing requires strategy and media. The playing method has strengths and weaknesses that educators need to know and understand.AbstrakBermain adalah aktivitas anak sehari-hari. Bermain memberi pengaruh besar bagi perkembangan anak, baik secara fisik maupun mental. Salah satu metode pembelajaran pada anak khususnya anak usia dini adalah metode bermain. Pada dasarnya anak-anak suka bermain, bergerak, bernyanyi dan menari, baik dilakukan sendiri maupun berkelompok. Bermain dapat mengembangkan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif, daya cipta, bahasa, perilaku, ketajaman penginderaan, melepaskan ketegangan dan terapi bagi fisik maupun mental. Oleh sebab itu, metode bermain sangat cocok bagi proses pembelajaan anak. Apabila metode bermain dilakukan tanpa persiapan yang matang, maka tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara maksimal. Sebaliknya, jika dipersipkan dengan baik, maka metode bermain dapat menolong anak didik memahami pelajaran. Metode bermain memerlukan strategi dan media. Metode bermain memiliki kekuatan dan juga kelemahan yang perlu diketahui dan dipahami oleh pendidik.
Makna Glossalalia Menurut Kisah Para Rasul 2:1-13 dan Implikasi Urapan Roh Kudus Bagi Mahasiswa Teologi Mau, Marthen
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.307 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.104

Abstract

Glossalalia is an act of speaking using language or tongues or tongues. Tongues can be considered by certain people as tongues. Actually speaking in tongues is not the same as tongues. Therefore, this study uses a qualitative research method with an exegetical approach according to the text of Acts 2: 1-13 on glossalalia. The purpose of this research is to encourage theology students to understand and apply the meaning of glossalalia correctly. The result of this research is the finding that the meaning of glossalalia is not in tongues which is generally used by certain churches of God with the pretext that it is God's voice that must be developed, but in tongues that can be learned by everyone to be used in ministry. In conclusion, theological students understand glossalalia in Acts 2: 1-13 so that theological students properly apply tongues in the preaching of the gospel of Christ. Gospel preaching is growing and advancing, so students of theology must continually receive the anointing of the Holy Spirit.AbstrakGlossalalia merupakan suatu tindakan dalam berbicara menggunakan bahasa atau lidah atau bahasa lidah. Bahasa lidah dapat dianggap oleh orang-orang tertentu sebagai bahasa roh. Sebenarnya bahasa lidah tidaklah sama dengan bahasa roh. Karena itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan eksegesis menurut teks Kisah 2:1-13 tentang glossalalia. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendorong mahasiswa teologi dalam memahami dan menerapkan secara tepat makna tentang glossalalia. Hasil penelitian ini ialah temuan makna glossalalia bukan bahasa roh yang umumnya dipakai oleh gereja Tuhan tertentu dengan sebuah dalih sebagai suara Tuhan yang harus dikembangkan, melainkan bahasa lidah yang boleh dipelajari oleh setiap orang untuk digunakan dalam pelayanan. Kesimpulannya, mahasiswa teologi memahami glossalalia dalam Kisah 2:1-13 supaya mahasiswa teologi secara benar menerapkan bahasa lidah di dalam pemberitaan Injil Kristus. Pemberitaan Injil semakin berkembang dan maju, maka para mahasiswa teologi harus terus-menerus menerima pengurapan dari Roh Kudus.  
Alkitab Dan Kritik Alkitab Zega, Fati Aro
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.183 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.105

Abstract

The Bible is the single most criticized and most freely criticized book, and no other Bible is so openly criticized. Even though the Bible never flinches. Although not all criticism is bad. The purpose of the author in this article is to understand how biblical criticism becomes the basis for exploring God's word. Using a qualitative descriptive text study with a literature literature approach, it can be concluded that there are two levels of research that are critical of the Bible, namely the level of Lower Criticism and Higher Criticism, even though all of them use philosophy and rasii in researching the Bible. This group at that time was known as the bearers of Liberal Theology. Through this article the author describes his research on nine models of criticism of the Bible which more discredit the sacredness and glory of the Bible rather than admit it.AbstrakAlkitab adalah satu-satunya buku yang paling banyak dikritik dan paling bebas dikritik, juga tidak ada Kitab Suci lain yang begitu terbuka dikritik. Sekalipun Alkitab tidak pernah bergeming. Walaupun memang tidak semua kritik itu buruk. Tujuan penulis dalam artikel ini supaya dapat memahami bagaimana kritik Alkitab menjadi dasar untuk menggali firman Allah. Menggunkan kajian teks deskritif kualitatif dengan pendekatan literature pustaka maka dapat disimpulkan bahwa ada dua level penelitian yang kritis terhadap Alkitab, yaitu level Lower Criticism dan Higher Criticism, walau semuanya sama-sama mengunakan filsafat dan rasii dalam meneliti Alkitab. Kelompok ini pada masanya dikenal sebagai pengusung Teologi Liberal. Melalui artikel ini penulis mendeskripsikan penelitian atas sembilan model kritik atas Alkitab yang lebih banyak mendeskreditkan kesakralan dan keagungan Alkitab daripada mengakuinya.
Tinjauan Etis Kristiani Terhadap Buzzer dalam Media Sosial Arifianto, Yonatan Alex; Widodo, Priyantoro
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.667 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.100

Abstract

The existence of cyber warfare using buzzers is very busy in the world of politics, so the author examines it so that it can be a lesson for believers to have self-integrity in actualizing their lives when using social media. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that Christian ethical studies of buzzers in social media that are increasingly widespread need to be watched out for because they are very detrimental to the nation and state. Therefore, all elements of society can understand the concept of buzzer terms, social media and Christian ethics. So that the scope of the buzzer in social media related to problems can be minimized. The growing role of social media in political contestation also triggers a change from a deviant role from the essence of the meaning of buzzer. For this reason, every individual can interpret that the buzzer in Christian ethics is not justified if it becomes a mouthpiece for crime, especially to divide the nation's children. For this reason, the attitude of believers needs to be considered in using Social media in all Market Places.AbstrakAdanya perang ciber menggunakan buzzer sangat ramai dalam dunia perpolitikan maka penulis mengkaji supaya menjadi pembelajaran bagi orang percaya untuk memiliki integritas diri dalam mengaktualisasikan hidupnya saat bermedia sosial. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka Dapat disimpulkan bahwa kajian etis Kristiani terhadap buzzer dalam media sosial yang semakin marak ini sangat perlu diwaspadai karena hal tersebut sangat merugikan bangsa dan negara. Oleh sebab itu seleuruh elemen lapisan masyarakat dapat memahami konsep dari terminologi istilah buzzer, media sosial dan etis Kristiani. Sehingga adanya ruang lingkup buzzer dalam media sosial berkaitan dengan problematika dapat di minimalisir. Peran bertumbuhnya media sosial aalam kontestasi politik juga memicu perubahan dari peran menyimpang dari esensi makna buzzer. Untuk itu setiap pribadi dapat memaknai bahwa buzzer dalam tinjuan etis Kristiani memang tidak dibenarkan bila hal itu menjadi corong kejahatan gterlebih pemecah belah anak bangsa. Untuk itu selanjutnya adanya sikap orang percaya perlu diperhatikan dalam menggunakan media Sosial di seluruh Market Places.
Strategi Guru dalam Membentuk Spritualitas Religius Belajar Siswa/siswi Kristen Zamili, Uranus
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.753 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.106

Abstract

Children's spiritual relationship must be formed from childhood. This is because the earlier the child knows and has a good relationship with God, the more his spiritual relationship develops for the better until adulthood. Religious spirituality is a close relationship or relationship between human beings and God so that humans can rely on it because it must be so in shaping the attitude or spirituality of Christian students in the midst of this digital age. Through descriptive qualitative research with a literature study approach, it can be concluded that the teacher does not only give children knowledge or transfer knowledge to increase their knowledge but also has to shape the child into a person who fears God and has a good spiritual relationship with God and can be an example to other generations. in the future in the future. This can be done through prayer, worship, thanksgiving and preaching the Word. The purpose of this research is to know the importance of forming the religious character of Christian students, and to explain the teacher's strategy in shaping the religious spirituality of Christian students.AbstrakHubungan spiritualitas anak harus dibentuk mulai sejak kecil. Hal ini dikarenakan semakin dini anak mengenal dan memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan maka hubungan spiritulitasnya, semakin berkembang menjadi lebih baik hingga dewasa. Spiritualitas religius adalah relasi atau hubungan yang akrab antara sesama manusia dengan Tuhan sehingga manusia dapat menyandari hal itu karena memang harus demikian dalam membentuk sikap atau spiritualitas siswa/i Kristen di tengah-tengah zaman digital ini. Melalui penelitian kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur dapat disimpulkan bahwa Guru tidak hanya memberikan anak pengetahuan atau mentransferkan ilmu untuk menambah wawasannya tetapi juga harus membentuk anak menjadi pribadi yang takut akan Tuhan dan memiliki hubungan spiritulitas yang baik dengan Tuhan serta dapat jadi contoh kepada generasi yang lain dimasanya kelak nantinya. Hal ini dapat dilakukan melalui doa, penyembahan, ucapan syukur dan pemberitaan Firman. Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah mengetahui pentingnya pembentukan karakter religius siswa/i Kristen, dan menjelaskan strategi guru dalam membentuk spiritualitas religius anak siswa-siswi Kristen.

Page 1 of 1 | Total Record : 9