cover
Contact Name
Donna Sampaleng
Contact Email
donna@gmail.com
Phone
+628129929141
Journal Mail Official
donna@gmail.com
Editorial Address
Jl. Rempoa Permai No. 2 Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 12330
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 25022156     EISSN : 27160556     DOI : 10.52220
Core Subject : Religion, Education,
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan isu-isu Teologi dan Kepemimpinan Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta. Focus dan Scope penelitian MAGNUM OPUS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Kepemimpinan Kristen MAGNUM OPUS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1: Desember 2021" : 5 Documents clear
Reinterpretasi Misi pada Ruang Publik Pluralisme: Analisis Matius 28:19-21 Walean, Jefrie
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.626 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.134

Abstract

  This study examines the concept of mission and reinterpretation of mission in the public sphere. This study aims to reinterpret the text of Matthew 28:19-21 in the public sphere and then position the missiological substance in a relevant way. This research is expected to provide socio-theological understanding in pluralism to churches and believers so that they have a responsibility in the mission but need to review the concept of mission in the public sphere. The author uses qualitative research. This study concludes that the interpretation of the mission in the description of the text of Matthew 28: 19-21 must be understood comprehensively and seeks to place the mission contextually without leaving the joints of diversity.  AbstrakPenelitian ini mengkaji konsep misi dan reinterpretasi misi di ruang publik. Penelitian ini bertujuan mereinterpretasikan teks Matius 28:19-21 di ruang publik selanjutnya memosisikan substansi misiologis secara relevan. Penelitian ini diharapkan memberi pemahaman sosio-teologis dalam kemajemukan kepada gereja dan orang percaya agar memiliki tanggung jawab dalam misi namun perlu mengkaji ulang konsep misi di ruang publik. Penulis menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa interpretasi misi dalam uraian teks Matius 28: 19-21 harus dipahami secara komprehensif dan berusaha untuk menempatkan misi secara kontekstual tanpa meninggalkan sendi-sendi keberagaman.    
Kepastian Keselamatan dalam Kisah Para Rasul 4:12 sebagai Pendorong Pekabaran Injil Arifianto, Yonatan Alex; Stevanus, Kalis
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.44 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.136

Abstract

The salvation received by believers as a gift from God, is sometimes only accepted selfishly without prioritizing other people who have not accepted and know the truth of this salvation. believers think that mission is the job of church leaders and ministers only so there is no motivation in preaching the gospel of salvation. The author describes the study of the certainty of salvation as an incentive for believers to continue to preach the news of salvation for all mankind. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the certainty of salvation in Acts 4:12 is the driving force for evangelism. It is part of the actualization of the Great Commission of the Lord Jesus which will continue to be carried out until His second coming. By doing and understanding, first, understand that in the theological study and exegesis of Acts 4:12 found the value of salvation which is only found in the Name of Jesus Christ. Second, it leads believers to believe that Salvation is exclusive in Jesus Christ as part of the believer's faith and spirituality. The three believers can understand the nature and essence of evangelism which plays a very important role in educating believers to keep the spirit of preaching the gospel. The four believers are required to actualize the Great Commission as an indicator of believers in the role of evangelism. This is done as part of God's plan to make believers God's co-workers who bring good news to those who do not know the truth in Acts 4:12. AbstrakKeselamatan yang diterima oleh orang percaya sebagai anugrah Tuhan, terkadang hanya diterima secara egois tanpa mementingkan orang lain yang belum menerima dan mengenal kebenaran keselamtan tersebut. orang percaya mengangap bahwa misi adalah tugas para pemimpin dan pelayan gereja saja sehingga tidak adanya motivasi dalam memberitakan injil keselamatan. Penulis mendeskripsikan kajian kepastian keselamatan sebagai pendorong orang percaya untuk terus memberitakan kabar keselamatan bagi seluruh manusia. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa kepastian keselamatan dalam Kisah Para Rasul 4:12 sebagai pendorong pekabaran Injil. Merupakan sebagai bagian dari aktualisasi Amanat Agung Tuhan Yesus yang terus dikerjakan sampai kedatanganNya kedua kali. Dengan mengerjakan dan memahami, yang pertama, menegerti bahwa dalam kajian teologis dan eksegese Kisah Para Rasul 4:12 ditemukan nilai keselamatan yang hanya ditemukan di dalam Nama Yesus Kristus.  Kedua, Hal tersebut membawa orang percaya untuk mengimani bahwa Keselamatan eksklusif dalam Yesus Kristus sebagai bagian dari iman dan kerohanian orang percaya. Ketiga ornag percaya dapat memahami adanya hakikat dan esensi penginjilan yang sangat berperan mengedukasi orang percaya untuk tetap semangat memberitakan Injil. Keempat orang percaya diwajibkan mengaktualisasi Amanat Agung sebagai indikator orang percaya dalam peran penginjilan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari rencan Tuhan menjadikan orang percaya kawan sekerja Allah yang membawa kabar baik bagi mereka yang belum mengenal kebenaran dalam Kisah para Rasul 4: 12. 
Pandangan Jhon Chrysostom tentang kualifikasi Seorang Imam: Refleksi Komparatif Buku The Priesthood dan 1 Timotius 3:1-7 Halawa, Desti Ratna Sari
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.475 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.65

Abstract

Being a priest or pastor suddenly who only studied the Bible for 3 months is an issue that is considered a problem in the church environment. Priests play a role in guiding the congregation to gain salvation, know God and have a soul that is increasingly purified from day a day. In carrying out this role there are conditions that must be possessed so that in his ministry, he becomes a priest who succeeds in shepherding the souls entrusted by God. For this reason, this study aims to provide an overview of the qualifications of a priest in the book The Priesthood and in 1 Timothy 3: 1-7. Through a literary analysis of The Priesthood and 1 Timothy 3: 1-7 the writer will explore the requirements for becoming a priest. The data collected will help the priests to be more serious in their ministry. According to Chrysostom the priest should not be a chaplain of the priestly office, have a clear mind, not be seduced by worldly desires, not be angry, not a person who loves praise. Meanwhile, according to the apostle Paul, the priest must be able to accept the responsibility of shepherding the church, have self-control, capable of teaching, be recognized as dignified in the family, well known in the community. The two opinions of this figure mutually support the success of a priest in pure service to the congregation. The result is that the priest fulfills the requirements to become a priest, so the priest can successfully serve the souls of the congregation that God has entrusted to him. AbstrakMenjadi imam atau pendeta secara tiba – tiba, yang hanya belajar Alkitab 3 bulan, merupakan isu yang dianggap sebagai persoalan dalam lingkungan gereja. Imam berperan dalam membimbing jemaat untuk memperoleh keselamatan, mengenal Allah dan memiliki jiwa yang semakin dimurnikan dari hari lepas hari. Dalam menjalankan peran ini ada syarat yang harus dimiliki sehingga dalam pelayanannya, ia menjadi seorang imam yang berhasil menggembalakan jiwa- jiwa yang dipercayakan Tuhan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kualifikasi seorang imam dalam buku The Priesthood dan dalam surat 1 Timotius 3: 1-7. Melalui analisis pustaka Buku The Priesthood dan surat 1 Timotius 3: 1- 7 penulis akan mengexplorasi syarat-syarat menjadi imam. Data- data yang dikumpulkan akan menolong para imam untuk semakin serius dalam pelayanannya. Menurut Chrysostom imam harus bukan seorang pengejar jabatan keimaman, memiliki pikiran yang jernih, tidak tergoda dengan keinginan duniawi, bukan pemarah, bukan orang yang cinta akan pujian. Sedangkan menurut rasul Paulus imam itu harus Jiwanya sanggup menerima tanggung jawab penggembalaan jemaat, mengontrol diri, cakap mengajar, dikenal berwibawa dalam keluarga, dikenal baik di tengah masyarakat. Kedua pendapat tokoh ini saling mendukung keberhasilan seorang imam dalam pelayanan yang murni kepada jemaat. Hasilnya, memenuhi syarat menjadi imam adalah panduan seorang imam untuk mencapai keberhasilan melayani jiwa–jiwa atau jemaat yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Partisipasi Gereja Mengantisipasi Bencana Alam dengan Kolaborasi Pentaheliks melalui Pemaksimalan Program Mitigasi dalam Masyarakat Barutu, Parsaoran; Sembiring, Niken Karina; Hutagalung, Stimson; Ferinia, Rolyana
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.902 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.131

Abstract

Natural disasters are events that often occur in Indonesia due to the condition and location of the Indonesian state in a position that is prone to natural disasters. Along with the occurrence of natural disasters, many casualties were caused by the community's unpreparedness to deal with them. The community needs to change the concept of natural disasters, that readiness to face them is not when a disaster occurs but before a natural disaster occurs. This research intends for the church to play an active role as part of the Penta helix to collaborate with the government in charge of dealing with natural disasters by helping the government in reducing and suppressing casualties through natural disaster mitigation which is conveyed to the church members. The research method used is a qualitative method with secondary sources through collecting the necessary data and information by digging from sources through reference books and scientific journal articles. The results of this study indicate that the Church as a religious institution plays an important role in facilitating its congregation to provide disaster mitigation education to reduce casualties and material losses. AbstractBencana alam adalah peristiwa yang sering terjadi di negara Indonesia oleh sebab kondisi dan letak negara Indonesia berada di posisi yang rawan bencana alam. Seiring terjadinya bencana alam, banyak korban jiwa dikarenakan tidak siap siaganya masyarakat menghadapinya. Masya-rakat perlu merubah konsep terhadap bencana alam, bahwa kesiapan menghadapinya bukan disaat terjadinya bencana namun sebelum terjadinya bencana sudah melengkapi dirinya dengan pengetahuan akan bencana alam. Penelitian ini bermaksud agar gereja berperan aktif sebagai bagian dari pentaheliks untuk berkolaborasi dengan pemerintah yang berwewenang mengatasi bencana alam dengan maksud menolong pemerintah dalam mengurangi dan menekan korban jiwa lewat mitigasi bencana alam yang disampaikan kepada warga Gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan sumber sekunder melalui pengumpul data-data dan informasi yang diperlukan dengan cara menggali dari sumber melalui buku-buku referensi dan artikel-artikel jurnal ilmiah. Hasil penelitian ini menujukan bahwa Gereja sebagai Lembaga agama sangat berperan penting dalam memfasilitasi jemaatnya untuk memberikan edukasi mitigasi bencana sehingga mengurangi korban jiwa dan kerugian material. 
Kepemimpinan Gereja yang Berdampak dalam Menghadapi Persoalan Masyarakat Abad XXI Suprijadi, Totok
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.931 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.140

Abstract

The church leadership in the XXI century, or this third millennium, requires the ability of leaders who can deal with rapid changes in society and the world. Likewise, the church, as a light, is expected to enlighten the chaotic world of this century. The values of the Kingdom of God that are displayed through the reflection of spiritual leadership are expected to color the condition of the world. The church as an agent of salt and light in the world will be the solution and answer for the world community to fill the empty part of their soul. The world is heading for great change, and the Church is amid this world. By using descriptive qualitative methods and a literature study approach, it is found that church leaders amid the conditions of the 21st-century world community display biblical principles. In fact, which remains consistent based on the values that come from the Logos/Word in dealing with philosophical/values that are built on human arrogance. Because the expected leader of the Church is of lasting value and impact. The principles of this leadership are to shepherd, not by force, not to seek profit, to be an example, to humble oneself to one another, to humble oneself under the hand of God, to surrender all worries to God, to be aware and watchful of the opponent, namely the devil, and resist the devil with firm faith. AbstrakKepemimpinan Gereja abad XXI, atau milenium ketiga ini, membutuhkan kemampuan pemimpin yang dapat menghadapi perubahan cepat dalam masyarakat dan dunia. Demikian halnya juga dengan gereja, sebagai terang, diharapkan memberi pencerahan bagi karut-marutnya dunia abad ini. Nilai-nilai Kerajaan Allah yang ditampilkan melalui refleksi kepemimpinan rohani diharapkan mewarnai kondisi dunia. Gereja sebagai agen garam dan terang dunia akan menjadi solusi dan jawaban bagi masyarakat dunia untuk mengisi bagian dari jiwanya yang kosong. Dunia sedang menuju perubahan besar, dan Gereja ada di tengah-tengah dunia ini. Dengan menggunakan metode kualitatif deskritif dan pendekatan studi literatur didapatkan bahwa kepemimpinan gereja di tengah kondisi masyarakat dunia abad ke-21 menampilkan prinsip-prinsip alkitabiah, yang tetap konsisten berdasarkan nilai-nilai yang bersumber dari Sang Logos/Firman di dalam menghadapi nilai-nilai/filosofis yang dibangun di atas keangkuhan manusia. Sebab kepemimpi-nan Gereja yang seperti apa yang diharapkan, adalah yang bernilai abadi serta berdampak. Adapun yang menjadi prinsip dari kepemimpinan tersebut adalah: menggembalakan, tidak dengan paksa, tidak mau mencari keuntungan, menjadi teladan, merendahkan diri seorang terha-dap yang lain, merendahkan diri di bawah tangan Tuhan, menyerahkan segala kekuatiran kepada Tuhan, sadar dan berjaga-jaga terhadap lawan, yaitu iblis, dan melawan iblis dengan iman yang teguh.  

Page 1 of 1 | Total Record : 5