cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 219 Documents
PENGARUH SKARIFIKASI DAN SUHU TERHADAP PEMECAHAN DORMANSI BIJI AREN (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.
Life Science Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh skarifikasi dan suhu perendaman pada pemecahan dormansi biji aren. Penelitian dilakukan dengan analisis data rancangan acak lengkap faktorial dua faktor yaitu skarifikasi (tanpa diskarifikasi, diamplas, dan disayat) dan suhu perendaman (tanpa direndam, direndam air dalam suhu 400C selama 15 menit, 600C selama 10 menit, dan 800C selama 5 menit). Pemecahan dormansi biji aren diukur dengan tiga parameter perkecambahan yaitu persentase perkecambahan, kecepatan perkecambahan dan panjang akar. Analisis data menggunakan Anava dua jalan dan dilanjutkkan dengan uji BNT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi skarifikasi dengan cara diamplas maupun disayat dan direndam dalam air dengan suhu 600C selama 10 menit berpengaruh optimal terhadap parameter persentase perkecambahan dan panjang akar, sedangkan pada parameter kecepatan perkecambahan yang paling optimal adalah kombinasi skarifikasi diamplas dan direndam dalam air bersuhu 400C selama 15 menit, Sehingga dapat disimpulkan bahwa skarifikasi dan suhu perendaman berpengaruh optimal terhadap parameter persentase perkecambahan, kecepatan perkeambahan dan panjang akar.The research aimed to determine the effect of scarification and soaking temperature on sugar palm seed dormancy. Analysis data in this research used fledged factorial random design with combination of scarification method (without scarification, sandpaper scarification, and slided) and soaking temperature (without soaking, soaking in the water at 40°C for 15 minutes, soaking in the water at 60°C for 10 minutes and soaking in the water at 80°C for 5 minutes). This research was measured based on three parameters: germination percentage, germination rate, and root length. Data was analized by two way Anova and LSD. Results of this study showed that combinations of slided scarification and soaking in the water at 60°C for 10 minutes gave optimal result for germination percentage and root length, the optimal germination rate was combination of sanded scarification and soaked in water temperature of 400C for 15 minutes. The conclusions were combination of slided scarification and soaking temperature gave optimal effect on germination percentage, germination rate, and root length.
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E TERHADAP KUALITAS SPERMA TIKUS PUTIH YANG DIPAPAR TIMBAL
Life Science Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran antioksidan untuk menangkal radikal bebas secara keseluruhan masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek pemberian vitamin E terhadap kualitas sperma tikus putih dipapar timbal. Sampel yang digunakan 20 tikus jantan yang dibagi menjadi 4 kelompok : kelompok I sebagai kontrol, kelompok II dengan perlakuan timbal 0,35 g/ekor, kelompok III diberi vitamin E 1,44 mg/ekor dan timbal 0,35 g/ekor, kelompok IV diberi vitamin E 2,16 mg/ekor dan timbal 0,35 g/ekor selama 14 hari. Pada hari ke- 15 dilakukan pembedahan untuk pengambilan data pada jumlah, motilitas, viabilitas, dan morfologi spermatozoa. Data jumlah, motilitas, dan viabilitas sperma dianalisis dengan ANAVA satu arah dan dilanjutkan dengan uji BNT, sedangkan untuk motilitas sperma dianalisis secara deskriptif. Hasil ANAVA satu arah menunjukkan pemberian antioksidan vitamin E berpengaruh signifikan pada jumlah, abnormalitas, dan viabilitas (p<0,05) sperma tikus yang dipapar timbal. Hasil uji BNT jumlah sperma menunjukan adanya perbedaan yang nyata kecuali pada kelompok II dan III, pada abnormalitas sperma menunjukan adanya perbedaan yang nyata kecuali pada kelompok III dan IV. Pada viabilitas sperma menunjukan adanya perbedaan yang nyata kecuali pada kelompok III dan IV. Dari hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa vitamin E berpengaruh mempertahankan kualitas sperma tikus yang terpapar timbal.The role of antioxidants to counteract free radicals overall is still unclear. The aime of this study is to examine the effect of vitamin E on sperm quality white rats (Rattus norvegicus) exposed to lead. The sample is using 20 male rats were divided into 4 groups: group I as a control, group II treatment with lead 0.35 g/rats, group III were given vitamin E 1.44 mg/rats and a lead of 0.35 g/rats, IV were given vitamin E 2, 16 mg/rats and a lead of 0.35 g/rats for 14 days. On the 15th day, doing surgery for taking a data on the amount, motility, viability, and morphology of spermatozoa. The data on the number, motility, and sperm viability were analyzed by one-way ANOVA, followed by LSD test, while for sperm motility were analyzed descriptively. The result of one-way ANOVA showed that giving antioxidant vitamin E has significant effect on the number, abnormality, and viability, (p <0.05) mice who exposed to lead. The LSD test showed significant differences of the amount sperms except in groups II and III, on sperm abnormality showed a significant difference except in groups III and IV. On sperm viability showed significant differences except in groups III and IV. From the research it can be concluded that vitamin E affects sperm quality maintains rat  were exposed to lead.
INTENSITAS WARNA KUNING DAN KADAR OMEGA-3 TELUR BURUNG PUYUH AKIBAT PEMBERIAN UNDUR-UNDUR LAUT
Life Science Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur merupakan bahan makanan yang bergizi dan disukai masyarakat, namun mengandung faktor pembatas yang dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan yaitu kolesterol. Diharapkan suplementasi asam lemak tak jenuh yang berasal dari organisme laut (undur-undur laut) mampu meningkatkan intensitas warna kuning telur dan adanya omega-3 pada telur burung puyuh. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji peningkatan intensitas warna kuning telur dan kadar omega-3 burung puyuh yang diberi pakan undur-undur laut (Emerita sp). Sampel yang digunakan yaitu 60 ekor burung puyuh betina berusia 45 hari yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan yaitu 0%, 10%, 20 dan 30% tepung undur-undur laut dalam pakan. Perlakuan diberikan selama 15 hari. Data asam lemak omega-3 dan intensitas warna kuning telur puyuh dilakukan pada hari ke-15. Data kadar asam lemak omega-3 dianalisis secara deskriptif sedangkan, data intensitas warna kuning telur puyuh dianalisis dengan ANAVA satu arah dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil ANAVA satu arah terhadap intensitas warna kuning telur puyuh menunjukkan bahwa pemberian tepung undur-undur laut signifikan (p<0,05). Hasil uji BNT menunjukan adanya perbedaan yang nyata antara kelompok R0 dengan R3 dan R1 dengan R3 sedangkan, kadar omega-3 (linolenat) yang terdeteksi hanya pada kelompok R3 sebesar 0,17%.Egg is one of the nutritions food which the most people liked, but it contains limited factor such as cholestrol which can be intrude on health. Unsaturated Fatty acids supplemen from sea orgnanism mole crabs chould be increased quail yolk color intensity and omega-3 content. The purpose is to exsamine the increase quails yolk colour intensity and omega-3 content int quail egg fed mole crabs (Emerita sp). The samples used was 60 female quails aged 45 days devided into 4 groups treatment of 0%, 10%, 20, 30% mole crab flour contents added to feed. The treatment was given for 15 days. The data of omega-3 and quail yolk color intensity performed on day 15. Omega-3 contents were analyzed descriptively, but the quail yolk color intensity were analyzed by one-way ANOVA followed by LSD test. The result of the one-way ANOVA for quails yolk color intensity showed giving of mole crab flour is significant (p<0,05). LSD test showed there are significantly different between R0 with R3 group and R1 with R3 group while percentage of omega-3 (linoleic acid) detected only R3 group that is 0,17%.
PERKEMBANGAN LARVA IKAN RAINBOW BOESEMANI (Melanotaenia boesemani) : Tahap Pembentukan Sirip dan Pembelokan Tulang Ekor
Life Science Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahapan perkembangan ikan rainbow dalam budidaya meliputi fase embriogenesis, larva, juvenile,dan induk. Larva yang sudah memiliki organ lengkap merupakan tanda bahwa larva telah memasuki fase juvenile. Informasi yang terbatas tentang proses pembentukan organ ikan rainbow membuat petani ikan kesulitan menentukan fase juvenile pada ikan. Salah satu tahap penting pada fase larva adalah pembentukan sirip karena sirip merupakan organ yang digunakan ikan untuk aktif bergerak mencari makan dan aktifitas lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pembentukan sirip ikan rainbow boesemani (Melanotaenia boesemani). Metode penelitian yang dilakukan meliputi pemeliharaan larva dan pengamatan pembentukan sirip larva. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa larva ikan rainbow boesemani yang baru menetas memiliki panjang total rata-rata sebesar 4.71 mm dan sudah memiliki sirip dada. Larva ikan yang berusia 11 hari sudah mengalami pembelokan tulang ekor di sirip ekor sebesar 300. Sirip anal sudah sempurna saat larva ikan berusia 14 hari. Sirip punggung larva ikan sempurna ketika berusia 26 hari. Sirip yang terakhir terbentuk adalah sirip perut saat larva ikan rainbow boesemani berusia 30 hari dengan jari-jari sudah mengeras.Stages of development of rainbow fish in aquaculture include the phase of embryogenesis, larval, juvenile, and parental. Larvae which already has a complete organ is a sign that the larvae have entered the juvenile phase. Limited information about the process of organ formation of rainbow fish to make fish farmers found difficulties in determining the phase of juvenile fish. One of the important stages in the larval stage is the formation of fins for fin is an fish organ that is used to move actively foraging and other activities. This study aims to understand the formation of rainbowfish boesemani fins (Melanotaenia boesemani). The method of research was conducted on the larvae rearing and observation of the formation of the larvae fin. The results of this study showed that fish larvae newly hatched rainbow boesemani has a total length of an average of 4.71 mm and already have pectoral fins. When Boesemani rainbowfish larvae is 11 days old already experiencing notochord deflection in the caudal fin of 300. Anal fin is already perfect when boesemani rainbowfish larvae  is 14 days old. Dorsal fin boesemani is perfect when rainbowfish larvae is 26 days old. Last fin is formed was the pelvic fin when rainbowfish boesemani larvae is 30 days old with fins fingers already hardened.
UJI DAYA INFEKTIVITAS Plasmodium berghei IRADIASI PADA HATI, LIMPA MENCIT MENGGUNAKAN NESTED-PCR
Life Science Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plasmodium berghei  adalah parasit jenis protozoa penyebab malaria pada rodensia yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Iradiasi dapat menyebabkan perubahan struktur protein, degradasi protein maupun perubahan konformasi DNA. Dosis iradiasi 150-175 Gy dapat menurunkan daya infeksi P.berghei pada mencit dengan ditunjukkan oleh periode prepaten yang panjang serta jumlah kematian mencit yang rendah. Keberadaan Plasmodium dideteksi menggunakan nested-Polymerase Chain Reaction. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaaan Plasmodium iradiasi pada organ (hati dan  limpa) mencit menggunakan metode Nested-Polymerase Chain Reaction (PCR). Penelitian ini menggunakan Plasmodium yang diiradiasi dosis 175 Gy tanpa booster, 175 Gy dengan booster, dan 0 Gy dan diinfeksikan ke dalam tubuh mencit. Setelah 2 bulan hati dan limpa mencit diambil dan dilakukan ekstraksi DNA. Hasil ekstraksi diamplifikasi menggunakan nested-PCR dan dianalisis menggunakan gel agaros dengan melihat ada tidaknya pita DNA spesifik yang berukuran sesuai dengan DNA target. P. berghei  iradiasi tidak terdeteksi pada hati dan limpa mencit yang diinfeksi P. berghei dosis 175 Gy tanpa booster maupun dengan booster. Hal ini berarti bahwa iradiasi dapat menurunkan daya infeksi P. berghei di hati dan limpa mencit.Plasmodium berghei  is parasite of protozoa that was causing malaria in rodent infected through bites of female Anopheles  mosquito. Irradiation can cause changing protein structure, protein degradation also DNA conformation. Irradiation dose in 150-175 Gy can decrease infection of  P.berghei in mice were showed by long prepaten period and low death in mice. Plasmodium detected by nested-Polymerase Chain Reaction. The purpose of this study to detect irradiation Plasmodium in the organs(liver and spleen) of mice using nested-Polymerase Chain Reaction  method. This study used Plasmodium irradiated in 175 Gy dose without booster , 175  Gy with booster and 0 Gy dose then infected to the mice. After 2 months hepar and spleen of mice taken and doing DNA extraction. DNA extracts amplified using  nested-PCR and analyzed using gel agarose electrophoresis by looking at the presence or absence of specific DNA bands corresponding to the size of the target DNA. P. berghei irradiation was not detected in the liver and spleen infected P. berghei 175 Gy dose without booster or 175 Gy with booster. It is mean that Irradiation can decrease infectivity of P. berghei in liver and spleen of mice.
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DI SUNGAI SEKONYER TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING KALIMANTAN TENGAH
Life Science Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian keanekaragaman jenis ikan di sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah terdiri dari enam stasiun pengamatan pada bulan Januari-Februari 2013. Pemilihan stasiun pengamatan secara terpilih (purposive sampling) yaitu berdasarkan pertimbangan terwakili keadaan perairan.Hasil penelitian terdapat 43 jenis dari 25 genus dan 13 famili dari ikan yang berhasil dikumpulkan berjumlah 1013 ekor menggunakan pancing, gillnet, serok, seruak, taut dan pengilar secara ekplorasi. Jenis ikan terbanyak di sepanjang sungai Sekonyer terdiri dari famili Cyprinidae (10 jenis),  Belontiidae (7 jenis), Channidae (6 jenis), Hemiramphidae (4 jenis) dan Siluridae (4 jenis). Keanekaragaman jenis ikan di Sungai Sekonyer TNTP Kalimantan Tengah dalam keadaan relatif sedang (H’<3) dengan indeks keanekaragam (H’) sebesar 2,98 dan keseragaman populasi tinggi (E>0,6) sebesar 0,79.  Hasil indeks keanekaragaman (H’) tertinggi pada stasiun VI dan terendah pada stasiun II. Indek kemerataan (E) tertinggi di stasiun I dan terendah di stasiun III. Jenis ikan yang mendominasi (Di) di sungai Sekonyer adalah Krytopterus bicirrhis (17%), Rasbora cephataena (11,8%), Mytus wyckii (10,5%), Ombok leiacahthus (6,8%), Plistolepis grooti (5,6%) dan Hemirhamphodon phaisoma (5,5%).A Study on the species diversity of fishes at six stasions along the  Sekonyer river of Tanjung Puting National Park Central Kalimantan was conducted in January - February 2013. Eleciontion method use purpose sampling based on  considerat to represent of freshwater characteristic. Study result total of 43 fish species, belong 25 genera and 13 family were captured using fish rods, gillnet, hand net, seruak, taut and pengilar. The most varied species of fish belonged to the Cyprinidae (10 species), Belontiidae (7 species), Channidae (6 species), Hemiramphidae ( 4 species) and Siluridae ( 4 species). The result TNTP divesity index was avarage relative (H’>3) with divesity indekx (H’) were 2,98 and  pupolation  was high relative (E>0,6) at 0,79. The result highest divesity index (H’) were station VI and lowest was at stations II. Evennes index (E) highest at stations I and lowest was stasion III. Dominant fish (Di) in Sekonyer river were Krytopterus bicirrhis (17%), Rasbora cephataena (11,8%), Mytus wyckii (10,5%), Ombok leiacahthus (6,8%), Pristolepis grooti (5,6%) and  Hemirhamphodon phaisoma (5,5%).
Studi Etnobotani sebagai Obat Tradisional Masyarakat di Desa Adat Kalisalak, Banyumas, Jawa Tengah
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59787

Abstract

Kalisalak Traditional Village (KTV) is a village where people still use plants for survival and traditional medicine. This study aimed to determine the diversity of plants used as medicine and their utilization by the people. The method used in this research is a survey method with a random sampling technique. Data was collected through interviews with semi-structured interview techniques using a questionnaire guide. The determination of the respondents was representatives drawn from 5 hamlets, namely Depok, Karang Sari, Pandak Reja, Grumbul Semingkir, and Karangbanar, 10 respondents from each hamlet, including herbal medicine sellers, traditional birth attendants, PKK cadres, community leaders (village officials and traditional leaders), and the local community. The variables of this study were the diversity of medicinal plants and their use. At the same time, the parameters observed were the morphological characteristics of each species, the plant parts used, the processing methods, and the benefits of medicinal plants known to the people of KTV. Observational data were analyzed descriptively comparatively. This study showed that the diversity of medicinal plants used by the people of the KTV was 38 species and 20 families. People use plants as medicine by utilizing the roots, stems, leaves, fruit, seeds, flowers, bark, tubers, rhizomes, and sap. Desa Adat Kalisalak merupakan desa yang masyarakatnya masih menggunakan tumbuhan untuk keberlangsungan hidup dan sebagai obat tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan keanekaragaman tumbuhan yang digunakan sebagai obat dan pemanfaatannya oleh masyarakat Desa Adat Kalisalak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik random sampling. Pengambilan data diperoleh melalui wawancara dengan teknik wawancara semi struktural dengan menggunakan panduan kuesioner. Penentuan responden adalah perwakilan yang diambil dari lima dusun yaitu Depok, Karang Sari, Pandak Reja, Grumbul Semingkir, dan Karangbanar yang masing-masing dusun diambil 10 responden meliputi penjual jamu, dukun bayi, kader PKK, tokoh masyarakat (perangkat desa dan tokoh adat), dan masyarakat setempat. Variabel dari penelitian ini adalah keanekaragaman tumbuhan obat dan cara pemanfaatannya, sedangkan parameter yang diamati karakter morfologi tiap spesies, bagian tumbuhan yang digunakan, cara pengolahannya dan manfaat dari tumbuhan obat yang diketahui masyarakat Desa Adat Kalisalak. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil penelitian ini didapat bahwa keanekaragaman tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Adat Kalisalak sebanyak 38 spesies dan 20 familia. Masyarakat menggunakan tumbuhan sebagai obat dengan memanfaatkan bagian akar, batang, daun, buah, biji, bunga, kulit batang, umbi, rimpang, dan getah. Pemanfaatan tumbuhan dengan cara langsung maupun tidak langsung.
Potensi Ekstrak Akuades Biji Pepaya sebagai Penghambat Pertumbuhan Khamir Penyebab Busuk Buah Tomat dan Stroberi
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59788

Abstract

Papaya seeds are known to contain secondary metabolite compounds. These chemical compounds can be used by passing the extraction method with aquadest solvent where aquadest is an easily obtained material that facilitates its application in the community. This research aims to extend the shelf life of the fruit with in vitro testing and its application to the fruit directly (in vivo). The research designs used were complete randomized designs for in vitro and group randomized designs for in vivo tests. The medium used is YPMEA which is a specific medium for yeast growth. Papaya seeds used in the form of California papaya seeds that have been cooked are then extracted with aquadest solvent. The parameters used for in vitro testing are in the form of extract-inhibiting zone diameter around the paper disc while the parameters for in vivo tests are in the form of fruit storage, texture, aroma, and microbial sustainability in addition to isolates. The data were analyzed with a one-way Anava for in vitro testing and descriptive analysis for in vivo testing. Anava results showed that papaya seed aquadest extract has a significant effect on inhibition of germicidal ripening that causes rotten tomatoes and strawberries. The increase in the shelf life of the fruit in tomatoes increases by 2 days and strawberries by 3 days. Based on the results of the study, the use of papaya seed aquades extract concentration is 100% effective to increase the shelf life of the fruit. Biji pepaya diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder. Senyawa kimia tersebut dapat digunakan dengan melewati metode ekstraksi dengan pelarut akuades dimana akuades merupakan bahan yang mudah didapatkan sehingga memudahkan penerapannya di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperpanjang daya simpan buah dengan uji secara in vitro dan penerapannya pada buah secara langsung (in vivo). Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap untuk in vitro dan Rancangan Acak Kelompok untuk uji in vivo. Medium yang digunakan yaitu medium YPMEA yang merupakan medium spesifik untuk pertumbuhan khamir. Biji papaya yang digunakan berupa biji papaya California yang telah masak kemudian diekstrak dengan pelarut akuades. Parameter yang digunakan untuk uji in vitro berupa diameter zona hambat ekstrak disekitar paper disc, sedangkan parameter untuk uji in vivo berupa daya simpan buah, tekstur, aroma, dan keberadaan mikroba selain isolat. Data dianalisis dengan Anava satu arah untuk uji in vitro dan analisis deskriptif untuk uji in vivo. Hasil Anava menunjukkan, ekstrak akuades biji papaya berpengaruh signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan khamir penyebab busuk buah tomat dan stroberi. Pertambahan daya simpan buah pada buah tomat bertambah 2 hari dan buah stroberi 3 hari. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan ekstrak akuades biji papaya konsentrasi 100% efektif untuk menambah daya simpan buah Keywords: Aquadest extract; papaya seed; yeast ekstrak akuades; biji papaya; khamir
Pengaruh Lama Perendaman dan Jenis Pembungkus terhadap Kadar Etanol Tape Ketan
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59790

Abstract

Tape is one of the traditional foods in Indonesia which is produced through the fermentation process of carbohydrate foods. This study aims to determine the effect of the different packaging and cooking methods on the organoleptic properties and ethanol content of sticky rice tape. The research method used experimental research methods using a completely randomized design with a factorial pattern. The first factor is soaking time, which is soaked for 3 hours before cooking (T1) and without soaking before cooking (T2). The second factor is the type of wrapping, namely banana leaf (L1), plastic container (L2), and water guava leaf (L3). Each treatment method of cooking and wrapping was varied again by being given dragon fruit juice, pineapple juice, and without the addition of fruit juice. Parameters tested include organoleptic and ethanol content. The results of the organoleptic assessment of glutinous tape ranged from 7.00-8.47. The ethanol content of sticky rice tape soaked before cooking and wrapped in banana leaves was 2,936-15.879%; wrapped in 3,974-14,408% plastic containers, 6,464-16,181% guava leaves wrapped. Glutinous tape without soaking before cooking and wrapped in banana leaves 1.747-10.219%, wrapped in plastic containers 3.879-12.276%, wrapped in guava leaves 3.936-6.577%. Based on the organoleptic assessment and the ethanol content, the best quality tape and preferred by consumers is the original glutinous rice tape through the cooking process by soaking it and wrapping it in banana leaves. The appearance of the tape is whole, fresh white, the texture is soft and watery, has a very fresh aroma specific to the tape, it also has a slightly sweet taste, slightly sour, and contains 2.936% ethanol. Tape merupakan salah satu makanan tradisional di Indonesia yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan pangan berkarbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menentukan pengaruh pembungkus dan cara memasak yang berbeda terhadap sifat organoleptik dan kadar etanol tape ketan. Metode penelitian menggunakan metode penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah lama perendaman, yaitu direndam selama 3 jam sebelum dimasak (T1) dan tanpa direndam sebelum dimasak (T2). Faktor kedua adalah jenis pembungkus, yaitu daun pisang (L1), wadah plastik (L2), daun jambu air (L3). Setiap perlakuan cara memasak dan pembungkus, divariasi lagi dengan diberi sari buah naga, sari buah nanas, dan tanpa penambahan sari buah. Parameter yang diuji meliputi organoleptik dan kadar etanol. Hasil penilaian organoleptik tape ketan berkisar 7,00-8,47. Kadar etanol tape ketan dengan direndam sebelum dimasak dan dibungkus daun pisang yaitu 2,936-15,879%; dibungkus wadah plastik 3,974-14,408%, dibungkus daun jambu 6,464-16,181%. Tape ketan tanpa direndam sebelum dimasak dan dibungkus daun pisang 1,747-10,219%, dibungkus wadah plastik 3,879-12,276%, dibungkus daun jambu 3,936-6,577%. Berdasarkan penilaian organoleptik dan kadar etanol, kualitas tape yang paling baik dan disukai konsumen adalah tape ketan original melalui proses memasak dengan direndam dan dibungkus dengan daun pisang. Kenampakan tape utuh, putih segar, teksturnya lunak dan berair, mempunyai aroma sangat segar spesifik tape, juga mempunyai rasa agak manis, sedikit asam dan mengandung kadar etanol 2,936 %. Tambahkan aspek kebaruan dari hasil penelitian ini (termasuk dalam abstract). Keywords: Ethanol, Wrapping Media, Soaking, Glutinous Tape Kata kunci: Etanol, Media Pembungkus, Perendaman, Tape Ketan
Pengaruh Kadar Garam dan Jenis Kemasan terhadap Mutu Terasi Rebon
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59792

Abstract

Terasi is a fermented shrimp product with the addition of salt. Fermentation with salt causes protein degradation into amino acids. One of the amino acids, namely glutamic acid, is the producer of the distinctive taste of shrimp terasi. Salt concentration and type of packaging are important factors in the process of making shrimp terasi. This study aims to analyze the effect of salt content and packaging on the quality of rebon (Acetes sp.). shrimp terasi. This research is an experimental study using 2 types of treatment with 3 repetitions. The first treatment was salt concentration, namely 5%, 10%, and 15%. The second treatment was the type of packaging (banana leaves and aluminum foil). Parameters tested include organoleptic, protein content, water content, and microbial content. The shrimp terasi made with different levels of salt and packaging were all acceptable to the panelists, with a value of 7.2-8.6. The results showed that the organoleptic value of shrimp terasi ranged from 7.65-8.32, meaning that the product was acceptable to consumers. The protein contained in shrimp terasi with a salt content of 10% in banana leaf packaging is 16.40%, while with a salt content of 10% and 15% in aluminum foil packaging are 15.75% and 16.86%, according to SNI standards. that is at least 15%. The water content of the shrimp terasi ranges from 32-45%. The number of Escherichia coli colonies in all shrimp terasi samples ranged from 2.23-7.30 Log CFU/g. It was concluded that the best quality of rebon shrimp terasi was shrimp paste made with 10% salt content and packed with banana leaves, with an organoleptic value of 8.6, protein content of 16.4%, water content of 32% and E. coli contamination 2.23 Log CFU/g. Terasi merupakan produk fermentasi udang dengan penambahan garam. Fermentasi dengan garam menyebabkan degradasi protein menjadi asam amino. Salah satu asam amino yaitu asam glutamat, sebagai penghasil cita rasa khas terasi. Konsentrasi garam dan jenis kemasan merupakan faktor penting pada proses pembuatan terasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kadar garam dan jenis kemasan terhadap mutu terasi rebon (Acetes sp.). Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental menggunakan 2 jenis perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan pertama adalah konsentrasi garam yaitu 5%, 10%, dan 15%. Perlakuan kedua adalah jenis kemasan (daun pisang dan aluminium foil). Parameter yang diuji meliputi organoleptik, kadar protein, kadar air, dan kandungan mikroba. Terasi yang dibuat dengan perbedaan kadar garam dan kemasan semuanya dapat diterima oleh panelis, dengan nilai 7,2-8,6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai organoleptik terasi berkisar 7,65-8,32 artinya produk tersebut dapat diterima konsumen. Protein yang terdapat dalam terasi dengan kadar garam 10% kemasan daun pisang sebesar 16,40%, sementara dengan kadar garam 10% dan 15% pada kemasan aluminium foil berturut-turut sebesar 15,75% dan 16,86 %, sesuai dengan standar SNI yaitu minimal 15%. Kadar air terasi berkisar antara 32-45%. Jumlah koloni Esherichia coli pada semua sampel terasi berkisar 2,23-7,30 Log CFU/g. Disimpulkan bahwa kualitas terasi rebon yang paling baik adalah terasi yang dibuat dengan kadar garam 10% dan dikemas dengan daun pisang, dengan nilai organoleptic 8,6, kadar protein 16,4%, kadar air 32% dan cemaran E. coli 2,23 Log CFU/g. Perlu ditambahkan kebaruan informasi yang diperoleh dari penelitian ini. Keywords: rebon shrimp terasi; salt; banana leaves; aluminium foil terasi rebon; garam, daun pisang; aluminium foil