cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 219 Documents
Uji Efektivitas Ekstrak Buah Ketapang (Terminalia catappa) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59794

Abstract

Flesh fruit of Terminalia catappa is underutilized by the community, even though it contains secondary metabolites that can be used as antibacterial. This study aims to determine the effectiveness of antibacterial on the type of solvent and the concentration level of ketapang fruit extract which is effective in inhibiting Escherichia coli and Bacillus subtilis bacteria. This study used 2 factorials Randomized Block Design (RBD). The first factor is the type of solvent, distilled water, and methanol 70%. The second factor is extract concentration of 100% and 50%. These two factors were used to test the growth of bacterial cultures by the disc diffusion method. The antibacterial effectiveness of ketapang fruit extract on E. coli and B. subtilis bacterial cultures as indicated by the appearance of a clear zone. Collecting data in the form of measuring the diameter of the clear zone around the paper disc and analyzing using Two Way ANOVA. The results showed that both solvents at concentrations of 100% and 50% were able to inhibit the E. coli and B. subtilis bacteria. Based on the diameter of the clear zone, methanol solvent with 70% concentration of 100% was effectively inhibited B. subtilis bacteria with an average diameter of 23.31mm. Daging buah ketapang (Terminalia catappa) kurang dimanfaatkan oleh masyarakat, padahal dalam daging buah ketapang terkandung senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas antibakteri pada jenis pelarut dan tingkat konsentrasi ekstrak buah ketapang yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis. Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Faktor pertama yaitu jenis pelarut: akuades dan metanol 70%. Faktor kedua yaitu konsentrasi ekstrak: 100% dan 50%. Kedua faktor tersebut digunakan untuk menguji pertumbuhan dari biakan bakteri E. coli dan B. subtilis dengan metode difusi cakram. Adanya efektivitas antibakteri ekstrak buah ketapang pada biakan bakteri E. coli dan B. subtilis ditandai dengan munculnya zona bening. Pengambilan data berupa mengukur diameter zona bening yang terbentuk di sekeliling paperdisc. Data kemudian dianalisis menggunakan Two Way ANOVA. Hasil ANOVA menunjukkan pelarut akuades dan metanol 70% di konsentrasi 100% dan 50% mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan B. subtilis. Berdasarkan pengukuran diameter zona bening, pelarut metanol 70% di konsentrasi 100% sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri B. subtilis dengan diameter rata- rata 23,31 mm. Keywords: Bacillus subtilis; ketapang fruit extract; Escherichia coli Bacillus subtilis; ekstrak buah ketapang; Escherichia coli
Karakteristik Populasi Ansonia spinulifer (Mocquard, 1890) di Bukit Wangkang Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59795

Abstract

Borneo is one of the centers of amphibian diversity. The distribution of amphibians in Borneo can be seen from the variety of species in lowland forest areas, rice fields, and along rivers. A. spinulifer is the species which is one of the endemic species to the island of Borneo. This study aims to examine the population character of A. spinulifer in the Wangkang Hill area which can be used as a consideration in the management of amphibian species in Borneo. Sample is collected in Bukit Wangkang, Kubu District, Kubu Raya Regency. The research method used is the Visual Encounter Survey (VES) combined with line transects. The population density of A. spinulifer in the Wangkang hill area, Kubu District, Kubu Raya Regency is 0.426 individuals/m2, The sex ratio of male and female A. spinulifer is 1:1, the gonad maturity level of female and male A. spinulifer is at level II-IV Fecundity of female A. spinulifer is 235-639 eggs. Kalimantan merupakan salah satu pusat keanekaragaman jenis amfibi. Sebaran amfibi di Kalimantan dapat dilihat dari keanekaragaman jenisnya di kawasan hutan dataran rendah, persawahan, dan di sepanjang sungai. A. spinulifer merupakan salah satu spesies endemik pulau Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakter populasi A. spinulifer di kawasan Bukit Wangkang yang dapat dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan jenis amfibi di Kalimantan. Pengambilan sampel dilakukan di Bukit Wangkang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah Visual Encounter Survey (VES) yang dipadukan dengan transek garis. Kepadatan populasi A. spinulifer di kawasan Bukit Wangkang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya adalah 0,426 individu/m2, rasio jenis kelamin A. spinulifer jantan dan betina 1:1, tingkat kematangan gonad betina dan jantan A. spinulifer berada pada level II-IV dengan kisaran indeks kematangan gonad rata-rata 0,30-0,90%. Fekunditas A. spinulifer betina rata-rata 235-639 butir telur. Keywords: Amphibi, Ansonia spinulifer, Density, Sex Ratio, Gonad Maturity Level
Aktivitas Antihiperglikemia dan Antioksidan Ekstrak Daun Sirih Merah Pada Tikus Hiperglikemia Induksi Aloksan
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59796

Abstract

Diabetes mellitus is metabolic disease that causes hyperglycemia due to a lack of insulin or insulin resistance. In these conditions, it’s easy for the formation of excess free radicals to cause damage to pancreatic beta cells. Several studies reported that red betel leaf extract has antioxidant and antihyperglycemic activity. This study aimed to analyze the effectiveness of red betel leaf extract on blood glucose and malondialdehyde levels of hyperglycemic rats. Total of 25 male wistar rats were divided into five groups (positive control given glibenclamide 0.09mg/200gBW, negative control not treated, and red betel leaf extract was treated with doses of 100, 200 and 400mg/kgBW). The research procedures included conditioning hyperglycaemia of test animals with induction of alloxan 120mg/kgBW intraperitoneally, extraction of red betel leaf using maceration method with 70% ethanol solvent, treatment of giving red betel leaf extract orally for 21 days and measuring blood glucose levels and malondialdehyde levels by spectrophotometric method. The results showed that doses of 1, 2 and 3 red betel extract didn’t differ in effectiveness with glibenclamide. Regarding malondialdehyde, the effectiveness of doses 2 and 3 of red betel extract was more effective than dose 1 in reducing levels of malondialdehyde but still below glibenclamide. Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolisme yang menyebabkan kondisi hiperglikemia akibat kurangnya jumlah insulin ataupun insulin mengalami resistensi. Pada kondisi tersebut mudah terjadi pembentukan radikal bebas berlebih sehingga meyebabkan kerusakan sel beta pankreas. Beberapa penelitian melaporkan ekstrak daun sirih merah memiliki aktivitas antioksidan dan antihiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keefektifan ekstrak daun sirih merah terhadap kadar glukosa darah dan Malondialdehyde (MDA) tikus hiperglikemia. Sebanyak 25 ekor tikus jantan strain wistar dibagi lima kelompok perlakuan (kontrol posistif diberi obat glibenklamid 0,09 mg/200 gBB, kontrol negatif tidak diberi perlakuan, dan perlakuan ekstrak daun sirih merah dosis 100, 200 dan 400 mg/kg BB). Prosedur penelitian meliputi pengkondisian hiperglikemia hewan uji dengan induksi aloksan 120 mg/kgBB secara intraperitoneal, ekstraksi daun sirih merah menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, perlakuan pemberian ekstrak daun sirih merah secara oral selama 21 hari, serta pengukuran kadar glukosa darah dan kadar Malondialdehyde (MDA) dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan dosis 1, 2 dan 3 ekstrak sirih merah tidak berbeda efektivitasnya dengan glibenklamid. Berkaitan dengan Malondialdehyde (MDA), efektivitas dosis 2 dan 3 ekstrak sirih merah lebih efektif dibandingkan dosis 1 dalam menurunkan kadar Malondialdehyde (MDA) tetapi masih dibawah glibenklamid. Keywords: blood glucose; free radicals; hyperglycemic; malondialdehyde; red betel. glukosa darah; radikal bebas; hiperglikemia; malondialdehyde; sirih merah
Pengaruh Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) dalam Memperbaiki Organ Ginjal Mencit (Mus musculus) Yang Di Induksi Karbon Tetra Klorida (CCL4)
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59798

Abstract

The efficacy of cinnamon and the negative and positive effects of tetrachloride that cause kidney damage in mice, it is necessary to do research on the effect of cinnamon extract in repairing the kidney organs of mice induced by carbon tetra chloride (CCL4). Carbon tetrachloride (CCL4) is often used as a model to study hepatotoxicity in experimental animals because it is toxic, especially to kidney cells, both after acute and chronic exposure. The purpose of this study was to determine Cinnamon extract in repairing kidney damage in mice. The type of research used in this research is comparative research. Histopathological picture of normal mice kidney after administration of cinnamon extract with a concentration of 5% after induction of carbon tetrachloride, but administration of cinnamon extract with concentrations of 10% and 15% as well as positive control of the kidney of mice still showed abnormal kidney histopathology Khasiat kayu manis dan efek negative dan positif dari tetra klorida yang menyebabkan kerusakan ginjal mencit, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak kayu manis dalam memperbaiki organ ginjal mencit yang di induksi karbon tetra klorida (CCL4). Karbon tetra klorida (CCL4) sering digunakan sebagai model untuk mempelajari hepatotoksisitas pada hewan coba karena sifatnya yang toksis terutama pada sel ginjal, baik setelah pemaparan akut maupun kronis. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak Kayu manis dalam memperbaiki kerusakan ginjal mencit. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian komparatif. gambaran histopatologi ginjal mencit normal setelah pemberian ekstrak kayu manis dengan konsentrasi 5% pasca di induksi karbon tetra klorida, namun pemberian ekstrak kayu manis konsentrasi 10% dan 15% serta pada kontrol positif ginjal mencit masih menunjukkan adanya gambaran histopatologi ginjal yang tidak normal. Keywords: Cinnamon, mencit kidney, Kayu manis, ginjal mencit, CCL4
Analisis Bakteri Coliform pada Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Gajahmungkur
Life Science Vol 11 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v11i1.59799

Abstract

The need for drinking water for the community continues to increase along with population growth without being balanced with the availability of clean water so that people prefer refilled water as a source of drinking water that is easier and more practical. There are so many small industries that run Refill Drinking Water Depot (DAMIU) business, but not all DAMIUs are managed properly, especially for water quality. Based on the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No.492/MENKES/PER/IV/2010, drinking water has standard criteria, namely physical, chemical, and microbiological. Mandatory parameters for microbiological drinking water quality include Coliform bacteria and Escherichia coli with a maximum concentration of 0/100 ml sample. The purpose of this study was to analyze the presence and number of Coliform bacteria in refilled drinking water in Semarang City and to determine the factors that influence the presence of Coliform bacteria in refilled drinking water. This laboratory-based research was conducted descriptively. The samples in this study came from 8 DAMIU in Gajahmungkur District which were then identified in the laboratory by the membrane filter method. The results showed that of the 8 samples examined, 7 of them were contaminated with Coliform bacteria. Factors that influence the presence of Coliform bacteria are the operator/owner's lack of awareness of cleanliness, environmental conditions, filter cleanliness, and the condition of the drinking water depot building. Kebutuhan air minum untuk masyarakat terus meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk tanpa diimbangi dengan ketersediaan air bersih sehingga masyarakat lebih memilih air isi ulang sebagai sumber air minum yang lebih mudah dan praktis. Banyak sekali industri-industri kecil yang menjalankan bisnis Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU), tetapi tidak semua DAMIU dikelola dengan baik terutama untuk kualitas airnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.492/MENKES/PER/IV/2010 air minum memiliki kriteria standar yaitu fisik, kimia, dan mikrobiologi. Parameter wajib kualitas air minum secara mikrobiologis meliputi bakteri Coliform dan Escherichia coli dengan kadar maksimum 0/100 ml sampel. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keberadaan dan jumlah bakteri Coliform pada air minum isi ulang di Kota Semarang serta mengetahui faktor yang mempengaruhi adanya bakteri Coliform pada air minum isi ulang. Penelitian ini berbasis laboratorium dilakukan secara deskriptif. Sampel pada penelitian ini berasal dari 8 DAMIU di Kecamatan Gajahmungkur yang kemudian dilakukan identifikasi di laboratorium dengan metode membran filter. Hasil penelitian menunjukkan dari 8 sampel yang diperiksa 7 diantaranya terkontaminasi bakteri Coliform. Faktor yang mempengaruhi adanya bakteri Coliform adalah kurangnya kesadaran operator/pemilik terhadap kebersihan, kondisi lingkungan sekitar, kebersihan filter, dan kondisi bangunan depot air minum. Keywords: Refill drinking water, Coliform bacteria, microbiological Air minum isi ulang, bakteri Coliform, mikrobiologis
Pendekatan Citizen Science sebagai Upaya Konservasi Burung Dilindungi di Desa Ngesrepbalong
Life Science Vol 11 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mount Ungaran is one of the Important Birds Area (IBA) areas that need to be protected. The issue of the threat of bird hunting and the absence of a bird database on Mount Ungaran is one of the important factors for bird conservation on Mount Ungaran. This study aims to analyze citizen science as an effort to conserve birds on Mount Ungaran. This research is descriptive qualitative research based on citizen science. The research held in 2019-2020, the sampling location was in Ngesrebalong Village, Limbangan, Kendal Regency. The research sample was 59 respondents who were determined through snowball sampling and purposive sampling techniques. Data collection used three techniques, namely interviews, questionnaires, and observations. The data obtained were validated using the data triangulation method. The data was processed using descriptive analysis. The results show that the Ngesrepbalong community has implemented the concept of citizen science. The application of citizen science by the community can be seen in observing and tagging bird nests. However, it has not documented and recorded data on bird and nest observations on a regular basis. Conservation activities are still focused on conservation activists, such as the Omah Sawah and Pokdarwis Gunungsari communities. The community of Ngesrepalong Village is included in the Contributory Project category, because researchers or cadres still dominate the activities. Gunung Ungaran merupkan salah satu kawasan Important Birds Area (IBA) yang perlu dilindungi keberadaannya. Isu ancaman perburuan burung dan belum adanya pangkalan data burung Gunung Ungaran menjadi salah satu faktor pentingnya konservasi burung di Gunung Ungaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis citizen science sebagai upaya konservasi burung di Gunung Ungaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif berbasis citizen science. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2019-2020, lokasi pengambilan sampel di Desa Ngesrebalong, Limbangan, Kabupaten Kendal. Sampel penelitian sebanyak 59 responden yang ditentukan melalui teknik snowball sampling dan purposive sampling. Data diperoleh menggunakan tiga teknik yaitu wawancara, angket, serta observasi. Data yang diperoleh divalidasi menggunakan metode triangulasi data. Data diolah menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Ngesrepbalong sudah menerapkan konsep citizen science. Penerapan citizen science oleh masyarakat dapat terlihat dalam kegiatan pengamatan dan melakukan tagging (penandaan) sarang burung. Namun belum mendokumentasikan dan mencatat data pengamatan burung maupun sarang secara berkala. Kegiatan konservasi masih terfokus pada penggiat konservasi, seperti komunitas Omah Sawah dan Pokdarwis Gunungsari. Masyarakat Desa Ngesrepalong masuk dalam kategori Contributory Project, karena peneliti atau kader yang masih mendominasi kegiatan Keywords: citizen science, bird conservation, Ngesrepbalong village, konservasi burung, desa Ngesrepbalong
Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap Pertumbuhan Trichoderma spp. dan Aktivitas Enzim Amilase dan Xilanase
Life Science Vol 11 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trichoderma erinaceum and Trichoderma koningiopsis have the potential to produce lignocellulolytic enzymes, such as amylase and xylanase. Molds must grow in an ideal environment to support their metabolism, so research is needed to determine the temperature and pH of the mold growth environment and its correlation with the enzymes produced. The research was carried out in several stages, including 1) Testing the effect of temperature and pH on the growth of the mold isolates T. erinaceum and T. koningiopsis, 2) Testing the activity of amylase and xylanase enzymes on the best isolates resulting from variations in temperature and pH. The results showed that the best temperature for growth of T. erinaceum based on the calculation of diameter, density, and mycelium compactness was 25°C, while T. koningiopsis was 25-35°C. The best pH for growth of T. erinaceum based on the calculation of diameter, density, and mycelium compactness was 5-7, while T. koningiopsis was 7. At 25°C and pH 7, T. koningiopsis produced the highest amylase activity, while at 25°C and pH 5, T. erinaceum produced the highest xylanase activity. It is recommended to research the effect of parameters other than temperature and pH on the growth of Trichoderma spp. Trichoderma erinaceum dan Trichoderma koningiopsis berpotensi menghasilkan enzim lignoselulolitik, seperti amilase dan xilanase. Kapang harus tumbuh di lingkungan yang ideal untuk mendukung metabolismenya, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui suhu dan pH lingkungan pertumbuhan kapang dan korelasinya dengan enzim yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap, diantaranya: 1) Uji pengaruh suhu dan pH pada pertumbuhan isolat kapang T. erinaceum dan T. koningiopsis, 2) Uji aktivitas enzim amilase dan xilanase pada isolat terbaik hasil variasi suhu dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu terbaik pertumbuhan T. erinaceum berdasarkan penghitungan diameter, kelebatan, dan kekompakan miselium adalah 25°C, sedangkan T. koningiopsis adalah 25-35°C. pH terbaik pertumbuhan T. erinaceum berdasarkan penghitungan diameter, kelebatan, dan kekompakan miselium adalah 5-7, sedangkan T. koningiopsis adalah 7. Pada suhu 25°C dan pH 7, T. koningiopsis menghasilkan aktivitas amilase tertinggi, sedangkan pada suhu 25°C dan pH 5, T. erinaceum menghasilkan aktivitas xilanase tertinggi. Disarankan untuk dilakukan penelitian mengenai pengaruh parameter selain suhu dan pH terhadap pertumbuhan Trichoderma spp. Keywords: Trichoderma spp.; temperature; pH; amylase; xylanase ; suhu; pH; amilase; xilanase
Senyawa Bioaktif Trichoderma erinaceum dan Trichoderma koningiopsis Serta Potensinya Sebagai Antibakteri
Life Science Vol 11 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trichoderma erinaceum and Trichoderma koningiopsis are lignocellulolytic mold isolated from the Universitas Negeri Semarang which are thought to produce bioactive compounds and have potential as antibacterials. The purpose of this study was to determine the types of bioactive compounds produced by T. erinaceum and T. koningiopsis and to test their antibacterial activity. The crude extracts of Trichoderma erinaceum (TE) and Trichoderma koningiopsis (TK) were tested for their bioactive compounds by chemical test tube including alkaloid, phenolic, flavonoid, steroid/terpenoid, tannin, and saponin tests. Furthermore, antibacterial tests were carried out on Escherichia coli and Bacillus subtilis using the paper disc diffusion method. Chemical tube test showed that TE and TK produced bioactive compounds in the form of flavonoids, phenolics, terpenoids, and tannins. The results of the antibacterial activity test showed that TE inhibited the growth of E. coli more strongly than B. subtilis with diameter inhibition zone 5.3 mm and 4.3 mm, respectively, while TK inhibited the growth of B. subtilis more strongly than E. coli with diameter inhibition zone 5.3 mm and 3.4 mm, respectively. This study shows that T. erinaceum and T. koningiopsis produce bioactive compounds that have potential as antibacterials with weak-moderate inhibitory responses. Trichoderma erinaceum dan Trichoderma koningiopsis merupakan isolat kapang lignoselulolitik yang diisolasi dari lingkungan Universitas Negeri Semarang yang diduga dapat menghasilkan senyawa bioaktif dan berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh T. erinaceum dan T. koningiopsis serta uji aktivitas antibakterinya. Ekstrak kasar Trichoderma erinaceum (TE) dan Trichoderma koningiopsis (TK) diuji kandungan senyawa bioaktifnya dengan uji tabung kimiawi meliputi uji alkaloid, fenolik, flavonoid, steroid/terpenoid, tanin, dan saponin. Selanjutnya, uji antibakteri dilakukan terhadap Escherichia coli dan Bacillus subtilis dengan metode difusi kertas cakram. Uji tabung kimiawi menunjukkan bahwa TE dan TK menghasilkan senyawa bioaktif berupa flavonoid, fenolik, terpenoid, dan tanin. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan TE lebih kuat menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dibandingkan B. subtilis dengan diameter zona hambat 5,3 mm dan 4,3 mm secara berturut-turut, sedangkan TK lebih kuat menghambat pertumbuhan bakteri B. subtilis dibandingkan E. coli dengan diameter zona hambat 5,3 mm dan 3,4 mm secara berturut-turut. Penelitian ini menunjukkan bahwa T. erinaceum dan T. koningiopsis menghasilkan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri dengan respon hambatan lemah-sedang. Keywords: Antibacterial; Bioactive compounds; Trichoderma Antibakteri; Senyawa bioaktif;; Trichoderma
Biokonversi Limbah Roti Apkir Dan Ampas Tahu dengan Memanfaatkan Larva Hermetia illucens
Life Science Vol 11 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bioconversion is the process of converting organic matter into valuable products by involving living organisms. The bioconversion process can be used for the management of expired bread and tofu waste into feed for H. illucens larvae. H. illucens larvae are known to be rich in protein content that can be used as an alternative protein. This study aims to analyze the results of giving expired bread and tofu dregs to weight, survival rate, waste reduction index, and nutrition of H. illucens larvae. This study used an experimental method using a Rancangan Acak Lengkap (RAL) technique with four treatments and five replications. The organic waste used as feed media for H. illucens larvae were 100% expired bread (control), 10% expired bread 90% tofu dregs, 20% expired bread 80% tofu dregs, 30% expired bread 70% tofu dregs for each treatment. using 1333 (3.06 g) test animals obtained from the Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Universitas Negeri Semarang. The results showed H. illucens larvae fed 30% expired bread 70% tofu dregs gave the best results with an average weight of 0.21 g/larva, a survival rate of 96.5%, and a waste reduction index of 6.13%/ day. The results of proximate nutrition analysis of H. illucens larvae showed the highest Protein content in feed with a high concentration of tofu waste (90% tofu waste) which was 43.14%, the highest fat content was found in larvae with 100% expired bread feed, which was 44.64%, while the water content in the highest larvae was found in the treatment of 20% expired bread 80% tofu dregs which was 6.8%. Biokonversi merupakan proses pengubahan bahan organik menjadi produk bernilai dengan melibatkan organisme hidup. Proses biokonversi dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan sampah roti apkir dan ampas tahu menjadi pakan larva H. illucens. Larva H. illucens dikenal kaya kandungan protein yang dapat digunakan sebagai protein alternatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis hasil pemberian roti apkir dan ampas tahu terhadap bobot, tingkat kelulusan hidup, indeks pengurangan sampah, dan nutrisi larva H. illucens. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen menggunakan teknik Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Sampah organik yang digunakan sebagai media pakan larva H. illucens adalah 100% roti apkir (kontrol), 10% roti apkir 90% ampas tahu, 20% roti apkir 80% ampas tahu, 30% roti apkir 70% ampas tahu masing-masing perlakuan menggunakan 1333 (3,06 g) hewan uji yang diperoleh dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Universitas Negeri Semarang. Hasil penelitian menunjukkan larva H. illucens yang diberi pakan 30% roti apkir 70% ampas tahu memberi hasil terbaik dengan rata-rata bobot 0,21 gr/larva, tingkat kelulusan hidup 96,5%, dan indeks pengurangan sampah 6,13%/hari. Hasil analisa nutrisi proksimat larva H. illucens menunjukkan kadar protein tertinggi pada pakan dengan konsentrasi ampas tahu tinggi (90% ampas tahu) yakni 43,14%, kadar lemak tertinggi terdapat pada larva dengan pakan roti apkir 100% yakni sebesar 44,64%, sedangkan kadar air pada larva tertinggi terdapat pada perlakuan 20% roti apkir 80% ampas tahu yakni sebesar 6,8%. Keywords: bioconversion; expired bread; tofu dregs; Hermetia illucens larvae; biokonversi; roti apkir; ampas tahu; larva Hermetia illucens
Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Daging Ikan di Tanjung Mas Semarang
Life Science Vol 11 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanjung Mas Semarang is located in a coastal area where most of the population live as fishermen, fish processing entrepreneurs and other jobs such as steam power plants, ports, and industry, where these activities have the potential to cause problems, one of which is pollution by heavy metal lead. Seen in the field, it was found that people used fish along the waters for consumption, so it wasnecessary to pay attention to considering the presence of Pb contaminants which are toxic, carcinogenic, accumulation and Keywords :bioamgnification which can have a negative impact on humans, namely the emergence of disease. This study aims to determine the Accumulation, Lead (Pb),content of heavy metal Pb in water and which accumulates in fish meat. The study used an observational design with theTanjung Mas Semarang determination of sampling using purposive random sampling technique. Testing the heavy metal content of Pb using AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometry) spectrophotometer. The results showed that the concentration of Pb in water in 5 locations ranged from 0-0.015 mg/L, some of which had exceeded the threshold set by PPRI No.22 Th.2021, while the heavy metal content of lead in fish meat ranged from 0-9.973 mg/L. kg where some have exceeded the threshold set by SNI 7387:2009 . The conclusion from this study, based on the measurement results of heavy metal Pb contained in water and meat, some have exceeded the threshold set with the BCF value in the low to moderate category. Tanjung Mas Semarang berada di daerah pesisir yang sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan, pengusaha pengolahan ikan serta pekerjaan lainnya seperti PLTU, Pelabuhan, dan industri, dimana aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan terjadinya suatu permasalahan salahsatunya pencemaran oleh logam berat timbal. Dilihat di lapangan dijumpai masyarakat yang memanfaatkan ikan di sepanjang perairan untuk dikonsumsi, sehingga perlu diperhatikan mengingat keberadaan zat pencemar Pb bersifat toksik, karsinogenik, akumulasi dan bioamgnifikasi yang dapat berdampak negatif pada manusia yaitu timbulnya penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Pb pada air dan yang terakumulasi pada daging ikan. Penelitian menggunakan rancangan observasional dengan penetapan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive random sampling. Pengujian kandungan logam berat Pb menggunakan spektrofotometer AAS (Atomic Absorbtion Spectrofotometry). Hasil penelitian diperoleh konsentrasi Pb pada air di 5 lokasi berkisar antara 0-0,015 mg/L dimana sebagian telah melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh PPRI No.22 Th.2021, sedangkan kandungan logam berat timbal pada daging ikan berkisar antara 0-9,973 mg/kg dimana debagian telah melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh SNI 7387:2009. Simpulan dari penelitian ini, berdasarkan perolehan hasil pengukuran logam berat Pb yang terkandung pada air dan daging sebagian telah melebihi ambang batas yang ditetapkan dengan nilai BCF dalam kategori rendah hingga sedang Keywords: Heavy metals, Lead, Fish meat, Tanjung Mas, Logam berat, Timbal, Daging ikan, Tanjung Mas