cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 219 Documents
IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI EKTOPARASIT PADA IKAN KONSUMSI DI BALAI BENIH IKAN SIWARAK Pujiastuti, Novy; Setiati, Ning
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenis ikan yang dipelihara di Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak Kabupaten Semarang adalah ikan konsumsi dan ikan hias. Ikan konsumsi menjadi salah satu jenis ikan yang banyak diminati para pembeli dan peternak ikan, sehingga berdampak pada tingkat permintaan ikankonsumsi yang tinggi. Permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya ikan adalah penyakit akibat serangan parasit (ektoparasit) yang dapat menyebabkan menurunnya tingkat produksi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis ektoparasit dan mengetahui tingkat prevalensi ektoparasit yang terdapat pada benih ikan konsumsidi BBI Siwarak. Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi. Rancangan penelitian menggunakan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah ikan konsumsi yang dipelihara di kolam pemeliharaan ikan di Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah ikan nila, ikan mas, dan lele berukuran 4-9 cm, umur 1-3 bulan. Pemeriksaan ektoparasit pada ikan dilakukan dengan mengambillendir bagian luar tubuh ikan, kulit ikan, sisik, kepala sampai ekor. Lendir diletakkan pada gelas benda dan diamati di bawah mikroskop. Pemeriksaan ektoparasit pada bagian insang ikan dilakukan dengan memotong bagian insang menggunakan gunting kemudian diletakkan pada gelas benda dan diamati di bawah mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ektoparasit yang menyerang ikan konsumsi di BBI Siwarak adalah Trichodina sp., Ichthyopthyrius multifiliis, Oodinium sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Argulus sp. Tingkat prevalensi ektoparasit yang tinggi pada ikan nila, ikan mas dan ikan lele adalahTrichodina sp., masing-masing sebesar 20%, 40%, dan 100% The kind of fish that be keeped in Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak Semarang city is comsumption fish and the garnish fish. The comsumption fish is one of the fish that most interested the buyer and fish keeper, until have an impact on the level of high fish comsumption demand. The problem that often happen in fish cultivation is the illness caused by parasite attack (ectoparasite) that can effect on decrease the fish production level. The aims of this research is to identify the kind of ectoparasite and to know the level of ectoparasite prevalence on seed of comsumption seed in BBI Siwarak. This research is exploration research. This research use survey method. The population of this research is the comsumption fish in a fish pond in BBI Siwarak, where as the sample of this research are tilapia, goldfish, and catfish with the measurement is 4-9 cm, with age 1-3 month. The ectoparasite examination on fish was done with take the mucilage in the outside of fish, skin of fish, scales of fish, head until tail. then cutting the fish gills. The mucilages put on the glass and be observed with microscop. The ectoparasite examination on the fish gills was done by cutting the gills with scissors and then placed on a glass object and observed under a microscope. The result of this research showed that the ectoparasite which attack the comsumption fish in BBI Siwarak is Trichodina sp., Ichthyopthyrius multifiliis, Oodinium sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., and Argulus sp. The high level of ectoparasit prevalence on tilapia, goldfish, and catfish are Trichodina sp. respectively as big as 20%, 40%, dan 100%.
PERILAKU MAKAN JULANG EMAS (Rhyticeros undulatus) PADA SAAT BERSARANG DI GUNUNG UNGARAN JAWA TENGAH Dahlan, Jammalludin; Rahayuningsih, Margareta
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Julang Emas (Rhyticeros undulatus) merupakan salah satu jenis burung rangkong yang terdapat di Gunung Ungaran, Indonesia. Burung Julang Emas termasuk hewan yang dilindungi UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) telah mengkategorikan burung rangkong dalam daftar appendiks II. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengamati perilaku makan Julang Emas pada saat bersarang dan mengumpulkan data buah pakan di Gunung Ungaran. Data yang diambil adalah cara Julang Emas memberi makan ke dalam sarang, waktu dan jumlah kehadiran memberi makan, dan jenis buah pakan yang diberikan ke dalam sarang. Hasil penelitian menunjukan Julang Emas jantan memberi makan induk betina dengan cara memuntahkan satu per satu buah pakan, kemudian diposisikan pada ujung paruhnya dan mengoperkannya ke ujung paruh betina di dalam sarang. Julang Emas jantan cenderung memberi makan sebanyak 1–4 kali dalam sehari. Dalam sekali kedatangan, Julang jantan dapat mambawa buah pakan 2–48 buah di dalam kantung lehernya. Waktu yang paling sering digunakan Julang Emas memberi makan adalah antara pukul 15.00–16.00 WIB. Julang jantan mampu memberi makan dengan laju yang cukup tinggi (9–10 buah per menit). Jenis buah yang paling banyak dikonsumsi oleh Julang Emas di Gunung Ungaran adalah dari famili Lauraceae 10 jenis (34%), dan famili  Moraceae (Ficus) tujuh jenis (23%). Wreathed Hornbill (Rhyticeros undulatus) is one of hornbill spesies found in Mount Ungaran, Indonesia. Wreathed Hornbill is belong to protected animals Law No. 5 of 1990 on the Conservation of Natural Resources and Ecosystems. Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna And Flora (CITES) has categorized hornbill in the appendix II. The objective of the study was to observe the feeding behavior during the breeding season and collect fruit data Wreathed Hornbill on Mount Ungaran. The collected data is how Wreathed Hornbill feed into the nest, time and attendance feed to the nest, and the type of fruit that given to the nest.  The results showed the male Wreathed Hornbill feeding the female by regurgigated one fruit, then position it on tip of the bill and passed it to the female in the nest. The males tend to eat as many as 1-4 times a day. In one arrival, the male Hornbill can take 2-48 fruit in his esophagus. The most commonly time used by Wreathed Hornbill is between 03.00-04.00 PM. Male hornbill able to spend as much fruit 9-10 fruit per minute. Most fruit consumed by Wreathed Hornbill in Mount Ungaran is from the family Lauraceae 10 species (34%), and family Moraceae (Ficus) seven types (23%).
OPTIMASI MEDIUM PEMBIBITAN KAWISTA (Limonia acidissima L.) DENGAN MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR (MVA) DAN KOMPOS Muna, Khusniyyatul; Rahayu, Enni Suwarsi
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan pengaruh dosis MVA, kompos, dan interaksinya pada pertumbuhan bibit kawista. Analisis data dalam penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor yaitu MVA (0 gram, 5 gram, 10 gram, dan 15 gram) dan kompos (0 gram, 30 gram, 60 gram, dan 90 gram). Parameter pertumbuhan bibit kawista yang diamati dalam penelitian, adalah pertambahan tinggi bibit, pertambahan jumlah daun, pertambahan diameter batang, pertambahan panjang akar, pertambahan berat segar bibit dan derajat infeksi MVA pada akar kawista. Analisis data menggunakan Anava dua jalur dan DMRT. Hasil Anova dua jalur  menunjukkan bahwa dosis MVA dan kompos serta interaksi antara keduanya berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bibit kawista. Berdasarkan DMRT hasil penelitian ini menunjukkan interaksi dosis MVA 15 gram dengan kompos 60 gram dan dosis MVA 15 gram dengan kompos 90 gram paling optimal terhadap parameter pertambahan tinggi bibit, pertambahan jumlah daun, dan derajat infeksi MVA pada akar kawista This research aimed to analyze and describe the effects of VAM dose, compost and their interaction on wood apple stump. Analysis data in this research used fledged factorial random design withcombination of VAM (0 grams,5 grams,10 grams,and 15 grams) and compost (0 grams, 30 grams, 60 grams, and 90 grams). The growthparameters of wood apple on this research were the growth of the plant height, the accretion of leaves  total, the added of stem diameter, the added of root length, the added of plant weight total, and VAM infection degrees on wood apple root. Data was analized in two ways Anova and DMRT.Two ways Anova result showed that VAM dose, compost and their interaction gave significant effects on the growth of wood apple stump. Based on DMRT results this research showed that interaction 15 gramsof VAM dose with60 gramsof compost and15 gramsof VAM dose with 90 gramsof compost gave optimal effects toward the growth of the plant height, the accretion of leaves total and VAM infection degrees on wood apple root
PENGARUH EKSTRAK KAYU MANIS TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI DAN KADAR SGOT-SGPT HEPAR TIKUS YANG DIINDUKSI PARASETAMOL Rafita, Ita Dwi; Lisdiana, Lisdiana; Marianti, Aditya
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayu manis (Cinnamomum burmanii) memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Senyawa antioksidan dapat digunakan untuk menghambat atau memperlambat proses oksidasi. Proses oksidasi pada tubuh salah satunya karena sering mengkonsumsi obat-obatan misalnya parasetamol. Efek negatif dari overdosis parasetamol akan menyebabkan kerusakan hepar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kayu manis terhadap gambaran histopatologi dan kadar SGOT- SGPT hepar tikus yang diinduksi parasetamol. Penelitian ini menggunakan sampel 20 ekor tikus putih jantan Wistar berumur 2-3 bulan dengan berat badan ± 200 gram. Sampel dibagi dalam empat kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan (P1, P2, P3). Masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor tikus. Kelompok kontrol diberi pakan standar dan air minum, kelompok perlakuan diberi pakan standar, air minum, parasetamol, dan ekstrak kayu manis selama 21 hari. Pada hari ke-22, tikus dinekropsi, diambil darah dan organ heparnya untuk selanjutnya dibuat preparat histologi dan menghitung kadar SGOT-SGPT. Perubahan histopatologi yang diamati berupa degenerasi parenkimatosa, hidropik, dan nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji One Way Anova. Analisis data menggunakan One Way Anova diperoleh hasil nilai sig. 0,039< 0,05, hal ini membuktikan bahwa rata-rata skor sel hepar yang rusak antar kelompok perlakuan berbeda signifikan. Hasil uji LSD menunjukkan bahwa rata-rata skor kerusakan hepar kelompok parasetamol berbeda dengan kelompok kontrol, P2, dan P3. Hasil nilai sig. 0,001< 0,05, untuk kadar SGOT-SGPT membuktikan bahwa kelompok parasetamol berbeda dengan kelompok kontrol, P2, dan P3. Hasil uji LSD kadar SGOT-SGPT menunjukkan bahwa kelompok P1 lebih tinggi daripada kelompok kontrol, P2, dan P3. Hasil uji regresi linier, dosis ekstrak kayu manis 320 mg/KgBB adalah dosis yang paling efektif, sehingga dengan ekstrak kayu manis dapat memperbaiki dan menurunkan kadar SGOT-SGPT hepar tikus yang diinduksi parasetamol. Cinnamonhasantioxidant activity. Antioxidant compoundscanbe usedas a compoundthat can inhibitorslow theoxidation process. The process of oxidationin the body ofone of them caused often consumedrugssuch asparacetamol. The negativeeffectsofoverdose ofparacetamolwouldcauseddamage tothe liver. This studyaimed to determinethe effect ofcinnamon extractonhistopathologicalpictureSGPTandSGOTparacetamol-induced ratliver. This study used a sample of 20 male Wistar rats aged 2-3 months with body weight ± 200 grams. The samples were divided into four groups, namely the control and treatment groups (P1, P2, P3). Each group consists of five rats. The control group was given the standard feed and drinking water, the treatment groups were given the standard feed, drinking water, paracetamol and cinnamon extract for 21 days. On day 22nd, the mice were sacrificed, blood and hepar organs were taken then made preparations for histology and calculate SGOT-SGPT. Histopathological changes were observed as parenchimatose degeneration, hydropic and necrosis. Data were analyzed by using One Way Anova. Data analysis using One Way Anova results obtained sig. 0.039 <0.05, this proves that the average scores of damaged liver cells differ significantly between treatment groups. LSD results indicate that the average score og liver damage paracetamol group different from the control group, P2, and P3. Results sig. 0.001 <0.05, for SGOT-SGPT proved that paracetamol group different from the control group, P2, and P3. LSD test results showed that the levels of SGOT-SGPT group P1 is higher than the control group, P2, and P3. Regression analysis, a cinnamomum dose of 320 mg/KgBW is the most effective dose, so that the cinnamon extract can improve and reduce levels of SGOT-SGPT paracetamol-induced rat liver.
KAJIAN GLUTATION DAN F2 ISOPROSTAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTI TUBERKULOSIS Hidayah, Nurul; Yuniastuti, Ari
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang masih mendapat perhatian di dunia.  tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kadar glutation (GSH) dan F2 isoprostan pada pasien TB paru yang belum mendapat dan setelah mendapat terapiOAT. Metode penelitian ini adalah eksperimental Quasi (eksperimental semu), dimana dalam eksperimen ini tidak menggunkan kontrol study kasus dengan rancangan pre dan post. Sampel yang digunakan merupakan pasien TB yang belum mengkonsumsi OAT sebanyak 59pasien umur 15-55 tahun. Darah diambil sebanyak 5ml melalui intra vena. Uji kadar GSH dan F2_Isoprostan kemudian di baca menggunakan Elisa kit pada 450 nm. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar GSH awal 0,052 mM/mL kadar GSH akhir 0,058 mM/mL. Uji t statistik mendapat nilai signifikan 0,05 (P<0,005). Pada kadar F2ISO awal 96,969 Pg/Ml kadar F2ISO akhir 96.578 Pg/MlUjiWilcoxon di dapat nilai sig 0,902 (P>0,05) Simpulanya bahwa kadar GSH pasien sebelum dan setelah mendapat terapi OAT terdapat perbedaan sedangkan pada kadar F2ISO sebelum dan setelah mengkonsumsi OAT tidak terdapat perbedaan, tetapi terdapat hubungan antara GSH dan F2ISO pada pasien tuberkulosis paru Pulmonary tuberculosis is a contagious disease that still gets the attention of the world. the purpose of this study is to examine the levels of glutathione (GSH) and F2 isoprostane in patients with pulmonary TB who have not received OAT and after therapy. This research method is experimental Quasi (quasi-experimental), which in this experiment not using the case control study with pre and post design. The sample used was TB patients who do not consume as much 59pasien OAT aged 15-55 years. Blood taken as 5ml via intravenous. Test the levels of GSH and F2_Isoprostan then be read using Elisa kit at 450 nm. The results showed that the levels of GSH beginning of 0.052 mM / mL final concentration 0.058 mM GSH / mL. T test statistic got significant value of 0.05 (P <0.005). At the beginning F2ISO levels 96.969 Pg / Ml levels F2ISO end 96 578 Pg / Ml in the Wilcoxon test can sig 0.902 (P> 0.05) Simpulanya that GSH levels of patients before and after therapy OAT whereas there are differences in the levels before and after consuming F2ISO OAT there is no difference, but there is a relationship between GSH and F2ISO in patients with pulmonary tuberculosis.
EFEK LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI SARI JERUK NIPIS TERHADAP PENURUNAN KADAR TIMBAL (Pb) PADA DAGING SAPI (STUDI KASUS DI TPA JATIBARANG SEMARANG) Masduqi, Mahbub; Ngabekti, Sri
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daging sapi yang dipelihara TPA di Jatibarang terbukti tercemar timbal (Pb). Upaya yang dilakukan untuk menurunkan kadar Pb pada daging melalui perendaman jeruk nipis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Pb pada daging sapi serta efektivitas jeruk nipis dalam menurunkan Pb pada daging sapi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Randomized Pretest-Posttest Control Group Design menggunakan Rancangan Acak Lengkap, pola faktorial 4x2 dengan sampel daging paha 3 ekor sapi yang terdiri atas kontrol dan 8 kombinasi perlakuan. Kadar Pb dalam daging dianalisis dengan AAS. Analisis menggunakan Anava Dua Jalan diperoleh nilai signifkan 0,032 (Sig<0,05) untuk konsentrasi dan 0,30 (Sig<0,05) untuk lama perendaman yang menunjukkan keduanya berpengaruh signifikan terhadap penurunan Pb. Rerata kadar Pb daging sapi sebesar 0,501 mg/Kg. Rerata kadar Pb pada perendaman sari jeruk nipis 0%, 10%, 20% dan 30% berturut-turut sebesar 0,391; 0,388; 0,282; dan 0,242 mg/Kg. Sedangkan rerata kadar Pb dalam waktu 30 dan 60 menit berturut-turut sebesar 0,371 dan 0,283 mg/Kg. Kadar Pb larutan sebelum dan sesudah perlakuan rerata sebesar  0,011 dan 0,295 µl/l. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penurunan Pb tertinggi adalah sari jeruk nipis konsentrasi 30% selama 60 menit dengan penurunan 59,4%. The cattle beef of Jatibarang municipal garbage disposal area was contaminated of lead. The effort needed to reduce beef lead levels was by soaking of lime essence. This research aimed to determine beef lead level and effectiveness of lime to reduce beef lead level. This was experimental research with Randomized Pretest-Posttest Control Group Design using Complete Randomized Design, factorial 4x2 with sample thigh beeves of 3 cows consisted of control and 8 treatment combinations. Beef Pb level was analyzed by AAS. Analysis using Two Way Anova obtained significant value 0,032 (Sig<0,05) for concentration and 0,30 (Sig<0,05) for soaking time that indicated both effected significantly on reducing of lead. The average of beef Pb level was 0,501 mg/Kg. The average of Pb level for lime essence 0%, 10%, 20% and 30% were 0,391; 0,388; 0,282; and 0,242 mg/Kg. The average of Pb level for soaking time 30 and 60 minutes were 0,371 and 0,283 mg/Kg. The average of Pb level for essence before and after treatment were 0,011 and 0,295 µl/l. Based on this research, it could conclude that the highest lead reduction was lime essence 30%  for 60 minutes with reduction 59,4%.
KEANEKARAGAMAN JENIS TIKUS DAN CECURUT DI GUNUNG UNGARAN JAWA TENGAH Prasetio, Ardi; Setiati, Ning
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tikus dan cecurut memiliki peran yang penting dalam ekosistem. Gunung Ungaran sebagai salah satu habitat alami tikus dan cecurut mulai terganggu. Data mengenai tikus dan cecurut di Gunung Ungaran belum ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis tikus dan cecurut yang ada di Kawasan Gunung Ungaran. Lokasi pengambilan berada di hutan primer, kebun teh serta area perbatasan antara hutan primer dan kebun teh. Metode yang digunakan adalah Single Capture Live Trap yang dipasang pada transek. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan lima jenis tikus dan dua jenis cecurut. Keanekaragaman jenis tikus paling tinggi berada di area perbatasan antara kebun teh dan hutan primer, sedangkan keanekaragaman jenis cecuru paling tinggi berada di area kebun teh Rats and shrews have important role in ecosystem. Mount Ungaran as one of natural habitat for rats and shrews is being disturbed. There is no sufficient data about rats and shrews diversity in Mount Ungaran. This research aim to know rats and shrews diversity in Mount Ungaran. This research is conducted in three area, primary forest, tea plantation, and the border between primary forest and tea plantation. Single Capture Live Trap is setted in a transect to collect data. The result show that there are five species of rats and two species of shwrews live in Mount Ungaran. The highest rats diversity is occured in the border between primary forest and tea plantation beside highest shrews diversity is occured in tea plantation
PENGARUH INFUSA DAUN BELUNTAS (Pluchea indica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus epidermidis Maftuhah, Anis; Bintari, Siti Harnina; Mustikaningtyas, Dewi
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bau badan merupakan salah satu masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Kelenjar apokrin mengandung lemak dan protein, yang apabila di uraikan oleh bakteri akan menimbulkan bau yang tidak enak, bau inilah yang di kenal bau badan. Salah satu bakteri pada bau badan adalah bakteri Staphylococcus epidermidis. Bakteri Staphylococcus epidermidis umumnya telah resisten terhadap antibiotik penisilin dan metisilin. Daun beluntas diduga memiliki potensi antibakteri karena mengandung steroid, alkaloid, fenol dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh infusa daun beluntas terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang dilakukan dilaboratorium Fakultas Kedokteran mikrobiologi molekuler Universitas Diponegoro dengan perlakuan konsentrasi ekstrak (20%, 40%, 60%, 80%, 100%) sedangkan konsentrasi suspensi bakteri Staphylococcus epidermidis adalah 1x106 sel/ml. Metode yang digunakan adalah metode dilusi untuk mengamati MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dari nilai OD (optical density) dan mengamati MBC (Minimum Bactericidal Concentration). Hasil penelitian menggunakan analisa deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa infusa daun beluntas dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis. Penelitian menunjukkan MIC adalah konsentrasi 20% dengan selisih nilai OD -0.026 sedangkan MBC infusa daun beluntas terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis adalah konsentrasi 100% ditandai dengan sudah tidak munculnya koloni bakteri Staphylococcus epidermidis. Kandungan daun beluntas yang berperan sebagai antibakteri adalah tannin, fenol, flavonoid, sterol dan alkaloid. Disimpulkan bahwa daun beluntas memiliki pengaruh antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis secara in vitro. Body odor is one of the problems that interfere with daily life. Apocrine glands contain fat and protein, which when is described by the bacteria will cause an unpleasant smell, the smell is what is known body odor. One of the bacteria in the body odor is the bacteria Staphylococcus epidermidis. Staphylococcus epidermidis bacteria are generally resistant to antibiotics penicillin and methicillin. Beluntas leaves suspected to have antibacterial potency because they contain steroids, alkaloids, phenols and flavonoids. The aim of this study was to investigate the effect of infusion of leaves beluntas on the growth of Staphylococcus epidermidis. Used in this study is an experimental research conducted molecular microbiology laboratory of the Faculty of Medicine, University of Diponegoro by treatment with the extract (20%, 40%, 60%, 80%, 100%), while the concentration of Staphylococcus epidermidis suspension is 1x106 cells / ml. The method used is the dilution method to observe the MIC (Minimum Inhibitory Concentration) of the OD (optical density) and observing the MBC (Minimum Bactericidal Concentration). The results using descriptive analysis. The results show that infusion of leaves beluntas can inhibit the growth of Staphylococcus epidermidis. Research shows MIC is the concentration of 20% with a difference of OD value -0026 while MBC infuse leaves beluntas against Staphylococcus epidermidis was 100% concentration has not marked by the appearance of colonies of Staphylococcus epidermidis. Beluntas leaf content that acts as an antibacterial is tannin, phenols, flavonoids, sterols and alkaloids. Beluntas concluded that the leaves have antibacterial effect against Staphylococcus epidermidis in vitro
ENJERAPAN TIMBAL (Pb) PADA HATI SAPI MENGGUNAKAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) (Studi Kasus di TPA JATIBARANG) Trisdihar, Ansa Ikrar; Dewi, Nur Kusuma
Life Science Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sapi yang digembalakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang terkontaminasi timbal (Pb) pada organ hatinya. Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar Pb pada hati sapi dengan cara merebus hati sapi bersama-sama dengan daun jambu biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daun jambu biji dalam menjerap timbal yang ada pada hati sapi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial menggunakan satu faktor yaitu variasi banyaknya daun jambu biji 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Parameter yang diamati adalah penjerapan Pb yang ditunjukkan dengan adanya penurunan kadar Pb pada hati sapi. Data dianalisis menggunakan Anava satu arah yang kemudian dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil Anava satu arah menunjukkan bahwa variasi perlakuan banyaknya daun jambu biji yang digunakan dalam perebusan hati sapi berpengaruh terhadap penurunan kadar Pb pada hati sapi. Penjerapan Pb pada hati sapi secara optimal terdapat pada perlakuan menggunakan daun jambu biji sebanyak 250 gr atau setara dengan 85 lembar daun pada perlakuan 50% dengan rata-rata penurunan Pb sebesar 0,012 mg/Kg. Penjerapan Pb oleh daun jambu biji dapat terjadi karena daun jambu biji bertindak sebagai adsorben yang mampu menjerap timbal sehingga kadar Pb pada hati sapi dapat menurun Cows grazing in the final disposal (landfill) Jatibarang Semarang contaminated with lead (Pb) in the liver organ. Efforts should be made to reduce levels of Pb in liver by boiling cow liver together with guava leaves. This research aimed to determine the ability of guava leaves in absorbing of lead in the cow liver. This research used a completely randomized design with one factorial using a variation of the many factors that guava leaves 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, and 50%. Parameters observed were the adsorption of Pb indicated by the decreasing of Pb levels in beef liver in each of the various treatments. Data were analyzed using one-way Anova followed by LSD test. The results of one-way Anova showed that the treatment of various guava leaves used in boiling of beef liver effect on decreasing levels of Pb in beef liver. Adsorption Pb at the heart of the cow was optimal there are in treatment use leaves as many as 250 gr guava or equivalent to 85 pieces of leaves on the decline in treatment with an average 50% of Pb 0.012 mg/Kg. Lead adsorption by guava leaves can occur because of guava leaves act as an adsorbent that is able to adsorb lead to Pb in cow liver can be decreased
KEANEKARAGAMAN SPESIES MAKROZOOBENTOS SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS AIR SUNGAI KREO SEHUBUNGAN DENGAN KEBERADAAN TPA JATIBARANG Mulia, Vivin Lesandra; Ngabekti, Sri
Life Science Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas air Sungai Kreo Semarang ditinjau dari keanekaragaman spesies makrozoobentos. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplorasi. Penetapan titik sampel dengan purposive sampling pada tiga titik pengamatan untuk tujuh stasiun pengamatan. Penetapan titik sampel didasarkan pada terwakilinya gambaran keadaan perairan sungai, masukan buangan ke dalam sungai, dan rona lingkungan sekitar. Pengambilan sampel diambil  dengan alat pengeruk sederhana dan saringan makrozoobentos kemudian hasil yang diperoleh diidentifikasi jenisnya dan dihitung jumlah individu per jenis, sehingga diketahui nilai Indeks Keanekaragaman. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Indeks Keanekaragaman makrozoobentos di tujuh stasiun tergolong rendah sampai sedang (0,37-1,08), sehingga kualitas air di Sungai Kreo sehubungan dengan keberadaan TPA Jatibarang tergolong dalam perairan yang tercemar sedang sampai berat The purpose of this research is to know the quality of the waters of the Kreo River Semarang in terms of diversity of macrozoobentos species. Method used in this research was exploration, the determination of the sampling method of sample point with purposive sampling in the three the points of observation on seven stations. The determination of sample point is based on the image of the state of the river, discharge input into the river, and hue the surrounding community. Samples were taken with a simple scoop and then filtered the results obtained macrozoobenthos species were identified and counted the number of individuals per species. The results will be used to determine the value of diversity index. Based on the results of this study it was concluded that diversity index of macrozoobenthos in seven stations was low to moderate (0.37 to 1.08), so the water quality in the Kreo River with respect to the presence of TPA Jatibarang classified in the polluted waters was moderate to severe.

Page 3 of 22 | Total Record : 219