cover
Contact Name
Life Science
Contact Email
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
unnes.lifescience@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Life Science
ISSN : 22526277     EISSN : 25285009     DOI : https://doi.org/10.15294/lifesci
Core Subject : Agriculture,
Life Science publishes original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.
Articles 219 Documents
KALOGENESIS EKSPLAN SETENGAH BIJI KORO BENGUK (Mucuna pruriens L.) SECARA IN VITRO MENGGUNAKAN BAP DAN NAA Marthani, Queen K. A; Anggraito, Yustinus Ulung; Rahayu, Enni S.
Life Science Vol 5 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koro benguk (Mucuna pruriens L.) adalah salah satu jenis kacang-kacangan lokal yang bisa digunakan sebagai pengganti kedelai dalam pembuatan tempe. Biji koro benguk merupakan sumber terbesar dari L-Dopa yang menjadi prekursor neurotransmitter digunakan untuk pengobatan penyakit Parkinson. Ekstraksi L-Dopa dalam skala besar membuat populasi Mucuna di alam bebas semakin terbatas. Sehingga, salah satu cara memperoleh bibit yang bermutu tinggi dapat dilakukan dengan perbanyakan tanaman secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan respon dan konsentrasi BAP dan NAA yang optimum dalam kalogenesis eksplan setengah biji koro benguk. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 4x4 dengan perlakuan konsentrasi BAP (2, 3, 4, 5 ppm) dan NAA (0.2; 0,4; 0,6; 0,8 ppm) dengan dua ulangan. Parameter yang diamati adalah waktu inisiasi kalus, persentase eksplan yang berkalus, diameter kalus, warna dan tekstur kalus. Analisis data menggunakan anava dua arah dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil. Hasil penelitian menunjukkan interaksi BAP dan NAA berpengaruh nyata terhadap waktu berkalus dan persentase berkalus, sedangkan konsentrasi NAA berpengaruh nyata terhadap diameter kalus eksplan setengah biji Mucuna pruriens. Kombinasi perlakuan yang direkomendasikan dalam penelitian kalogenesis ini adalah perlakuan BAP 2 ppm dan NAA 0,2 ppm karena kombinasi perlakuan tersebut memerlukan waktu berkalus paling pendek, memiliki persentase eksplan yang berkalus & diameter kalus paling besar, kalus berwarna hijau dan tekstur kalus yang friable. Mucuna puriens L. is one of the local leguminoceae which has many variety and used as a main material to substitute the soybean. The seed of M. pruriens are reported to contain L-3,4-dihydroxyphenylalanine (L-Dopa), a neurotransmitter precursor, used in the treatment of Parkinson’s disease. Large-scale extraction of L-Dopa from the wild populations of this plant has led to its limited availability in natural condition. Therefore, in vitro plant culture techniques may be an effective alternative for produce high quality seed. These objectives of this study are to determine the half-seed explants responses and the optimal concentration of BAP and NAA besides it also the interaction between them in caulogenesis. The experiment had been conducted by using 16 combination of BAP (2, 3, 4, 5 ppm) and NAA (0.2; 0,4; 0,6; 0,8 ppm) with Completely Randomized Design (CRD) in 4x4 factorial pattern by two replicates. The emerging of callus, the percentage, callus diameter, color and textur of the callus were the indicators observed. Collected data were analyzed using anova and followed by Least Significance Difference (LSD) (α=5%). The result of this research showed that the interaction of BAP and NAA affect in callus growth process (growth process and growth percentage) on half seed explant of Mucuna pruriens, meanwhile the concentration of NAA affect in the size of callus diameter. Combination treatment recommended in this research were BAP 2 ppm and NAA 0,2 ppm.
Pengembangan Medium Konservasi In Vitro Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.) dengan Teknik Pertumbuhan Minimal Hidayah, Laila Nur Hidayah; Diantina, Surya; Pukan, Krispinus Kedati; Rahayu, Enni Suwarsi
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi kayu aksesi 430 dan 507 adalah varietas lokal yang berasal dari pulau Sumatera yang populasinya semakin menurun akibat penanaman varietas unggul saja dan deforestasi lahan sehingga perlu dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan ubi kayu dalam media pertumbuhan minimal dengan menggunakan retardan di bank gen BB Biogen. Rancangan penelitian ini adalah acak lengkap dua faktorial. Faktor pertama adalah jenis retardan, yaitu cycocel dan ABA, faktor kedua adalah aksesi ubi kayu 430 dan 507. Medium A adalah medium MS yang disuplementasi dengan 0,01 mg/l NAA, 0,05 mg/l BA, 0,1mg/l GA, 100 mg/l arginin, 100 mg/l glutamin dan 100 mg/l glysin sebagai media dasar. Eksplan yang digunakan adalah tunas pucuk yang terdiri dari 2-3 buku dan ditanam selama 16 minggu. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah pertambahan tinggi tunas, pertambahan jumlah ruas, jumlah daun dan jumlah akar. Data dianalisis dengan Anava dua jalan dan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT). Hasil Anava menunjukkan, retardan berpengaruh signifikan terhadap pertambahan tinggi dan jumlah akar. Pertambahan tinggi dan jumlah akar mampu ditekan pertumbuhannya oleh retardan ABA. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan 0,3 mg/l ABA efektif untuk konservasi jangka menengah ubi kayu aksesi 430 dan 507. Cassava accession 430 and 507 are local varieties from Sumatera which population decrease as effect of superior varieties cultivation and deforestation, so its need to be preserved. The aim of this research is to analyse cassava growth in minimal medium by retardant in gene bank BB Biogen. This research used complete randomized design with two factors. First factor was type of retardants: cycocel and ABA, the second factor was accession of cassava: 430 and 507. Medium A is MS medium which supplemented with 0.01 mg/l NAA, 0.1 mg/l BA, 0.1 mg/l GA, 100 mg/l arginine, 100 mg/l glutamine and 100 mg/l glycine as basal medium. Explants that used in this research were shoot tips which have 2-3 segments which cultured in conservation medium for 16 weeks. Growth parameter measurement were increase of height, number of increase in segments, number of leaves and number of roots. Analysis data used two ways Anova and LSD in 5% level. Anova showed that retardant gave significant effect to increase the height and number of roots. Based on this research, 0.3 mg/l ABA was effective for middle conservation cassava accession 430 and 507.
Estimasi Stok Karbon Mangrove di Dukuh Tapak Kelurahan Tugurejo Kota Semarang Hakim, Muhammad Afif; Martuti, Nana Kariada Tri; Irsadi, Andin
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan gas-gas efek rumah kaca sebagai hasil berbagai aktivitas manusia dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Salah satu dampak dari pemanasan global yaitu perubahan iklim. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah meningkatkan peran mangrove sebagai penyerap karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan stok karbon pada tegakan mangrove dan C-organik pada sedimen mangrove. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling untuk menentukan enam stasiun penelitian, sampel diambil sekali tanpa pengulangan. Analisis C-organik menggunakan metode Spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukan mangrove di Dukuh Tapak memiliki kandungan biomassa sebesar sebesar 1507,91 ton/ha, stok karbon sebesar 708,2 ton C/ha, dan mampu menyerap CO2 sebesar 2598,65 ton/ha. Pola hubungan antara kerapatan dengan biomassa, biomassa dengan stok karbon, dan stok karbon dengan serapan CO2 menunjukkan adanya tiga macam persamaan yang memiliki nilai korelasi (R) yang positif yaitu sebesar 0,67, 1,00, dan 1,00. Jenis sedimen pada penelitian ini yaitu lumpur berpasir dengan rata-rata C-organik sedimen mangrove sebesar 4,4 %. Simpulan dari penelitian ini adalah kandungan stok karbon mangrove di Dukuh Tapak lebih tinggi dari penelitian stok karbon di pulau Kemujan TN. Karimunjawa dan kandungan C-organik sedimen mangrove di Dukuh Tapak termasuk dalam kriteria tinggi. The enhancement of gases greenhouse effects as a result of human activities contribute to global warming. One of the effects of global warming is the climate change. One of the efforts which should be made to reduce these impacts is improve the role of mangroves as carbon sinks. The purpose of this study is to determine the content of carbon stock in mangrove stands and C-organic in mangrove sediments. The sampling method used in this research was purposive sampling method, in order to determine the six research stations, samples were taken once without repetition. C-organic analysis using spectrophotometry method. The results showed that mangrove in Tapak hamlet has a biomass content of at 1507.91 tons/ha, the carbon stock of 708.2 tons C/ha and capable of absorbing CO2 of 2598.65 tons/ha. The pattern of the relationship between the density of the biomass, the biomass carbon stock and carbon stock with CO2 uptake showed three kinds of equations that has a value of correlation (R) were positive in the amount of 0.67, 1.00, and 1.00, respectively. The sediment type in this study is sandy mud with an average C-organic mangrove sediments of 4.4 %. The conclusion of this research is the content of carbon stocks in Tapak hamlet mangrove is igher than the carbon stock research on the Kemujan island TN. Karimunjawa and the content of C-organic mangrove sediments in Tapak hamlet is in the high criteria.
Pengaruh Konsentrasi Antibakteri Propolis terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus pyogenes secara In Vitro Milah, Nihayatul; Bintari, Siti Harnina; Mustikaningtyas, Dewi
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Propolis merupakan salah satu produk lebah madu yang memiliki banyak manfaat, salah satunya memiliki sifat sebagai antibakteri. Penelitian tentang antibakteri propolis sudah banyak dikembangkan baik di dalam negeri maupun luar negeri, namun belum ada penelitian antibakteri propolis terhadap bakteri Streptococcus pyogenes STR 10 yang bersifat Gram positif yaitu bakteri penyebab faringitis. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh konsentrasi antibakteri propolis terhadap pertumbuhan bakteri S. pyogenes secara in vitro dan menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Propolis diencerkan sehingga didapatkan konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12,5%. Uji antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi dengan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian propolis 100%, 50%, 25% dan 12,5% mampu membentuk rata-rata diameter zona hambat berturut-turut yaitu 19,76 mm, 10,9 mm, 5,97 mm dan 3,3 mm. Simpulan dari penelitian ini adalah konsentrasi propolis secara in vitro berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri S. pyogenes. Semakin tinggi konsentrasi propolis maka semakin kuat daya hambat bakterinya. Propolis mempunyai sifat antibakteri karena mengandung senyawa flavonoid yang bekerja dengan mengganggu permeabilitas sel bakteri. Konsentrasi penghambatan minimum propolis untuk bakteri Streptococcus pyogenes adalah 12,5%. Propolis is a natural product produced by honey bees that has many benefits, one of them is it has antibacterial properties. Research on antibacterial propolis has been developed both domestically and abroad, but there is still no research about antibacterial propolis against Gram-positive bacteria namely Streptococcus pyogenes, bacteria that cause pharyngitis. The purpose of this research was to determine the effect of antibacterial concentration of propolis on the growth of S. pyogenes bacteria by in vitro and to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Liquid propolis sample was diluted using a dilution series to get propolis with a concentration of 100%, 50%, 25%, and 12.5% ​​for antibacterial testing against the bacteria S. pyogenes STR 10. Antibacterial test in this research was used diffusion method with four replication to determine MIC. The results showed that propolis treatment 100%, 50%, 25% and 12.5% ​ formed the ​average inhibition zone diameter 19.76 mm, 10.9 mm, 5.97 mm and 3.3 mm, respectively. The conclusion of this research is the concentration of propolis antibacterial affect the growth of S. pyogenes bacteria by in vitro. Higher concentration of propolis give the effect of stronger the inhibition of bacteria growth. Propolis has antibacterial properties due to their flavonoids contained which work by disrupting the bacterial cell permeability. The MIC of propolis for the S. pyogenes is 12.5%.
Keanekaragaman Crustacea di Ekosistem Mangrove Wilayah Tapak Kelurahan Tugurejo Kota Semarang Handayani, Octarina Tri; Ngabekti, Sri; Martuti, Nana Kariada Tri
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman Crustacea di ekosistem mangrove wilayah Tapak, Semarang. Metode purposive sampling digunakan untuk menentukan tujuh stasiun pengumpulan sampel. Sampel diambil sebanyak 3 kali pengulangan dengan selang waktu 2 minggu. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menemukan 10 spesies Crustacea yaitu Metopograpsus thukuhar, Episesarma versicolor, Varuna yui, Panaeus mergulensis, Scylla serrata, Portunus pelagicus, Thalamita creanata, Uca sp., Uca bellator, Harpiosquills sp. Indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 0-1,57. Indeks H’ tertinggi berada pada stasiun VI (1,57) disusul oleh stasiun III (1,49), stasiun V (1,32) dan stasiun IV (1,18). Empat stasiun ini memiliki tingkat keanekaragaman dengan kriteria sedang. Stasiun I dan II memiliki H’ 0,95 dan 0,93 tergolong kriteria rendah. Stasiun VII H’-0 karena hanya ditemukan satu spesies. Indeks kemerataan berkisar antara 0 (terendah di stasiun VII) dan 0,81 (tertinggi di stasiun VI). Keanekaragaman Crustacea sangat dipengaruhi oleh parameter salinitas, pH, suhu, substrat, dan O2. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat keanekaragaman Crustacea di ekosistem mangrove Tapak tergolong kriteria rendah sampai sedang. The aims of this study is to determine the diversity of Crustaceans in the mangrove ecosystem Tapak Semarang region. The purposive sampling was used to select seven stations to collect the samples. The samples were taken three times repetition with two weeks interval. Data obtained then analyzed for the diversity index, evenness index, and dominance index. Result find that there were 10 species of Crustaceans that are Metopograpsus thukuhar, Episesarma versicolor, Varuna yui, Panaeus mergulensis, Scylla serrata, Portunus pelagicus, Thalamita creanata, Uca sp., Uca bellator, Harpiosquills sp. The diversity index (H’) ranges from 0-1.57. The highest index H’ was at station VI (1.57) followed by station III (1.49), station V (1.32) and station IV (1.18). These four stations have diversity levels with moderate criteria. The stations I and II have H’ 0.95 and 0.93 are low criteria. Station VII H’-0 because only one species was found. The similarity index ranged from 0 (lowest at station VII) and 0,81 (highest at station VI). Diversity of Crustaceans is strongly influenced by salinity, pH, temperature, substrate and O2 parameters. Based on the research, it can be concluded that the level of Crustaceans diversity in the mangrove ecosystem Tapak classified from low to moderate criteria.
Produksi Biohidrogen dari Limbah Organik Cair Molase dan Vinasse Menggunakan Bakteri Rhodobium marinum Anhari, Saeful; Bintari, Siti Harnina; Mubarok, Ibnul; Susilaningsih, Dwi
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biohidrogen merupakan salah satu sumber energi alternatif terbarukan yang dihasilkan melalui proses biologis menggunakan bahan baku biomassa organik dengan melibatkan mikroorganisme penghasil gas hidrogen. Penelitian ini bertujuan menentukan dan membandingkan rasio kebaharuan terhadap produksi gas biohidrogen dari limbah organik cair molase dan vinasse selama fotofermentasi menggunakan Rhodobium marinum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap tiga faktor, terdiri dari jenis limbah (molase dan vinasse), konsentrasi limbah (10%, 50%, 100%) dan pH limbah (6, 7, 8), pola perlakuan 2x3x3 dengan tiga kali ulangan. Penelitian ini memiliki alur penelitian: pembuatan media tumbuh bakteri, kultivasi bakteri, persiapan media produksi, karakterisasi media produksi, fotofermentasi, dan pengukuran kadar biohidrogen. Rerata hasil produksi gas biohidrogen limbah molase tersignifikan berturut-turut pada K1P3, K2P3, K3P3 sebesar 86/10-1 L kultur, 146/10-1 l kultur, 188/10-1 L kultur dan produksi gas biohidrogen limbah vinasse berturut-turut pada K2P3, K3P3 sebesar 86/ 10-1 L kultur, 110/ 10-1 L kultur. Kesimpulan yang diperoleh bahwa rasio kebaharuan produksi gas biohidrogen molase:vinasse sebesar 27:20. Produksi gas biohidrogen tertinggi pada limbah molase sebesar 188/10-1 L kultur dan limbah vinasse sebesar 110/10-1 L kultur. Biohydrogen is one alternative renewable energy sources produced through biological processes using organic biomass feedstocks involve hydrogen gas-producing microorganisms. This study aims to determine and compare the recency ratio biohydrogen to gas production from organic waste liquid molasses and vinasse by Rhodobium marinum fotofermentation. This study used a completely randomized design of three factors, comprised of the types of waste (molasses and vinasse), effluent concentration (10%, 50%, 100%) and a pH of waste (6, 7, 8) with a pattern of treatment 2x3x3 in three replications. The stages of research were: creation of bacterial growth media, bacteria cultivation, preparation of media production, media characterization of production, fotofermentation, and measurement of biohydrogen. Average results of biohydrogen gas production waste molasses for K1P3, K2P3, K3P3 as amount of 86 / 10-1 L culture, 146 / 10-1 L culture, 188 / 10-1 L culture, respectively and production biohidrogen gas of vinasse waste of K2P3, K3P3 by 86 / 10-1 L culture, 110 / 10-1 L culture, respectively. The conclusion that the newness ratio of biohydrogen production molasses: vinasse was at 27:20. The highest gas production biohydrogen on molasses waste by 188 / 10-1 l culture and vinasse waste by 110 / 10-1 L culture.
Identifikasi Ektoparasit pada Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) yang Dibudidayakan di Balai Benih Ikan (BBI) Boja Kendal Hasyimia, Umi Salmah Al; Dewi, Nur Kusuma; Pribadi, Tyas Agung
Life Science Vol 5 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang sering dialami dalam budidaya ikan lele adalah timbulnya penyakit dan kematian. Penyakit yang menyerang ikan dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, virus, maupun parasit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jenis ektoparasit yang menyerang pembenihan ikan lele Sangkuriang di Balai Benih Ikan Boja, Kendal. Penelitian dilaksanakan di tiga kolam budidaya (A3, A4, dan A5). Masing-masing kolam diambil lima belas ikan sebagai sampel yang diambil secara acak di lima titik pengambilan. Ikan yang dijadikan sampel adalah benih ikan lele Sangkuriang ukuran 3-5 cm dengan kriteria berat ±0,6 gram. Pemeriksaan ektoparasit dilakukan dengan cara mengerok lendir bagian luar tubuh ikan dari kepala sampai ekor. Kemudian lendir dioleskan ke object glass, ditetesi akuades, ditutup cover glass, dan diamati di bawah mikroskop. Hasil pemeriksaan ektoparasit dianalisis secara deskriptif. Data yang diperoleh ditabulasikan ke dalam tabel dan grafik. Hasil penelitian didapat dua jenis ektoparasit yang berasal dari sub kelas Monogenea, yaitu genus Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Prevalensi parasit tertinggi adalah Gyrodactylus sp. sebesar 100%, sedangkan nilai intensitas parasit tertinggi adalah parasit Gyrodactylus sp. sebesar dua individu/ekor. Tingginya prevalensi Gyrodactylus sp. disebabkan tingginya kepadatan populasi dan berkurangnya kualitas lingkungan hidup sehingga menjadikan ikan stres dan mudah terserang parasit. Disease and mortality of catfish is the main problem of catfish cultivation. Catfish disease may be caused by bacteria, fungi, viruses or parasites. The aim of this research was to find out the kind of ectoparasites attack Sangkuriang catfish seedlings in Balai Benih Ikan Boja, Kendal. Research carried out in three ponds of cultivation (A3, A4, and A5). Each ponds were taken fiveteen fishes randomly at five point as sample. The fish sampled is Sangkuriang catfish seed size 3-5 cm with weight ±0,6 gram. Ectoparasite examination was done by scraping mucus outside the body of fish from head to tail. The mucus spread to object glass, dropped by aquades, covered by glass cover and observed under a microscope. The results obtained two types of ectoparasites derived from sub-class Monogenea, namely genus Gyrodactylus and Dactylogyrus. The highest prevalence of parasites was Gyrodactylus sp. 100%, while the highest parasite intensity value was the parasite Gyrodactylus sp. for two parasites/fish. The high prevalence of Gyrodactylus sp. is due to high population density and reduced of environmental quality, caused fish stress and susceptible to parasites.
Aktivitas Ekstrak Daun Jati Belanda terhadap Kadar Kolesterol HDL dan LDL pada Tikus Hiperkolesterolemia Naim, Fatchun; Marianti, Aditya; Susanti, R.
Life Science Vol 6 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperkolesterolemi adalah keadaan kadar kolesterol tubuh yang melebihi batas normal. Keadaan ini dapat berdampak pada berbagai penyakit seperti aterosklerosis dan jantung koroner. Ekstrak daun jati belanda memiliki senyawa-senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk mengurangi penimbunan kolesterol dalam darah. Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas ekstrak daun jati belanda terhadap kadar kolesterol HDL dan LDL tikus. Ekstraksi daun jati belanda dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji fitokimia dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan rancangan Post Randomized Controlled Group Design. Dua puluh lima ekor tikus putih dibagi dalam 5 kelompok uji, yaitu 1 kelompok kontrol, 1 kelompok kontrol positif dan 3 kelompok perlakuan (P1, P2, P3) dengan tiap kelompok terdiri dari 5 ekor. Pada kelompok kontrol diberi induksi dengan akuades. Pada kelompok kontrol positif diberi induksi vitamin C 1,8 mg /hr. Kelompok P1 diberi induksi ekstrak daun jati belanda 25 mg/kg BB/hari, P2 diberi induksi 50 mg/kg BB/hari dan kelompok P3 75 mg/kg BB/hari. Pemberian induksi dilakukan selama 14 hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95% dilanjut dengan uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun jati belanda signifikan menurunkan kadar LDL pada kelompok P3 75 mg/kg BB/hari. Namun ekstrak daun jati belanda tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar HDL. Hypercholesterolemia is a state of body cholesterol levels that exceed normal limits. This situation can have an impact on various diseases such as atherosclerosis and coronary heart disease. Dutch teak leaf extract has compounds that function as powerful antioxidants to reduce accumulation of cholesterol in the blood. The purpose of this study was to examine the activity of Dutch teak leaf extract on HDL cholesterol and LDL rat levels. Dutch teak leaf extraction was carried out by maceration using 70% ethanol. Phytochemical test was carried out using thin layer chromatography method. This research is an experimental research with the design of Post Randomized Controlled Group Design. Twenty-five white rats were divided into 5 test groups, namely 1 control group, 1 positive control group and 3 treatment groups (P1, P2, P3) with each group consisting of 5 heads. The control group was induced with distilled water. In the positive control group were given vitamin C induction 1.8 mg / day. Group P1 was given induction of Dutch teak leaf extract 25 mg / kg body weight / day, P2 was given induction of 50 mg / kg body weight / day and group P3 75 mg / kg body weight / day. Induction was given for 14 days. The data obtained were analyzed by one-way Anova with 95% confidence level followed by LSD test. The results showed that Dutch teak leaf extract significantly decreased LDL levels in P3 group 75 mg / kg BW / day. However, Dutch teak leaf extract has no significant effect on increasing HDL levels.
Mortalitas dan Kerusakan Jaringan pada Setiap Gejala Infeksi Larva Oryctes rhinoceros L. Akibat Perlakuan Cendawan Metarhizium anisoplia Indriyanti, Dyah Rini; Damayanti, Indah Budi; Setiati, Ning; Priyono, Bambang
Life Science Vol 6 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros L.) merupakan hama utama tanaman kelapa di Indonesia. Pengendalian O. rhinoceros dapat dilakukan dengan menggunakan cendawan entomopatogen M. anisopliae. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian cendawan M. anisopliae terhadap mortalitas larva O. rhinoceros dan menganalisis kerusakan jaringan larva O. rhinoceros pada setiap gejala infeksi akibat perlakuan cendawan M. anisopliae. Hasil penelitian menunjukkan Pemberian konsentrasi M. anisopliae yang berbeda dapat menyebabkan mortalitas pada larva O. rhinoceros. Larva pada hari ke 12 setelah aplikasi pada perlakuan P3 (4 gram M. anisopliae) sudah mengalami kematian sebesar 100%. Sedangkan larva pada perlakuan P1 (1 gram M. anisopliae) membutuhkan waktu yang lebih lama. M. anisopliae merusak jaringan larva O. rhinoceros dengan tingkatan kerusakan yang berbeda pada setiap tahapan gejala infeksi. Gejala infeksi yang muncul yakni bercak cokelat (melanisasi), kaku (mumifikasi), muncul hifa putih (mikosis) dan muncul koloni cendawan berwarna hijau tua. Horn beetle (Oryctes rhinoceros L.) is the main pest of coconut plants in Indonesia. Control of O. rhinoceros can be performed using entomopathogenic fungus M. anisopliae (Moslim et al., 2009). The aim of this study was to analyze the effect of M. anisopliae fungus on mortality of O. rhinoceros larvae and to analyze tissue damage of O. rhinoceros larvae in each infection symptom due to the treatment of M. anisopliae fungus. The results of the study showed that different concentrations of M. anisopliae can cause mortality in O. rhinoceros larvae. Larvae on the 12th day after application on P3 treatment (4 grams of M. anisopliae) have experienced 100% death. Whereas larvae in P1 treatment (1 gram M. anisopliae) took longer. M. anisopliae damages the tissue of O. rhinoceros larvae with different levels of damage at each stage of the infection symptoms. Symptoms of infection that appear are brown spots (melanisasi), stiffness (mummification), white hyphae appear (mycosis) and dark green colonies appear.
Bioakumulasi Kadmium pada Ikan Bandeng di Tambak Wilayah Tapak Semarang Sanjivanie, Hasti Apri; Martuti, Nana Kariada Tri; Ngabekti, Sri
Life Science Vol 6 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Tapak merupakan muara dari Sungai Tapak yang sebagian besar wilayahnya berupa area pertambakan ikan bandeng. Berkembangnya industri di DAS Tapak telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas perairan Tapak akibat pencemaran limbah yang mengandung logam berat Cd. Hal itu mempengaruhi kualitas ikan bandeng yang dipelihara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Cd dalam air tambak dan ikan bandeng di tambak wilayah Tapak Semarang. Penelitian bersifat observasional analitik menggunakan analisis komparatif, metode purposive random sampling. Metode analisis data menggunakan AAS. Kandungan Cd pada air Sungai Tapak adalah <0,004mg/l, nilai tersebut masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan PPRI No.82 Tahun 2001 yaitu sebesar 0,01mg/l. Rerata kandungan Cd pada air tambak Tapak <0,0045mg/l, nilai tersebut telah melebihi ambang batas yang ditetapkan KepMen LH No.51 Tahun 2004 yaitu sebesar 0,001mg/l. Rerata kandungan Cd pada daging ikan bandeng di ketiga stasiun adalah <0,01mg/l, nilai tersebut masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan SNI 7287:2009 yakni sebesar 0,1 mg/kg. Simpulan dari penelitian ini adalah kandungan Cd pada air tambak Tapak telah melebihi ambang batas. Kandungan Cd pada ikan bandeng masih berada di bawah ambang batas, namun tetap perlu diwaspadai keberadaan logam berat Cd karena logam berat bersifat toksik dan akumulatif. Tapak is the estuary of the Tapak River which is mostly covered in the form of milkfish aquaculture area. Development industry in the Tapak watershed have resulted in a decrease in Tapak water quality due to pollution waste containing heavy metals Cd. It affects the quality of the fish is maintained. This study aims to determine the content of Cd in pond water and fish in the pond area Tapak Semarang. Observational analytic study using a comparative analysis, purposive random sampling method. Methods of data analysis using AAS. Cd content Tapak is <0,004mg / l, the value is still below the threshold set PPRI No.82 year 2001 which was 0,01mg / l. The mean Cd content in the Tapak water pond <0,0045mg/l, the value has exceeded the threshold KepMen LH No.51 year 2004 which was 0,001 mg / l. The mean Cd content in meat fish at all three stations is <0,01mg / l, the value is still below the threshold set ISO 7287:2009 which amounted to 0.1 mg/kg. The conclusion from this study was that the content of cadmium in the Tapak water pond has exceeded the threshold. Cd content in fish is still below the threshold, but still need to be careful because heavy metals are toxic bioaccumulative.

Page 5 of 22 | Total Record : 219