Pappasang
Pappasang is a journal published by Department of the Quranic Studies and Tafseer, Faculty of Usuluddin, Adab and Dakwah (UAD), STAIN Majene. The journal is published twice annually (June and December) to encourage and promote the study of the Quran-Hadith and Islam and Contemporary Thought, was designed to facilitate and take the scientific work of researchers, lecturers, students, practitioner and etc. into dialogueand. Focus : to provide readers with a better understanding of Islamic Studies and present developments through the publication of articles and book reviews Scopes : a journal concern on Quran and Hadith Studies such as the Living Quran, the Quran and Social Culture, thoughts of figures about the Quranic Studies, the Exegesis Studies and etc.; Similarly, matters relating to the Hadith, the Hadith Studies, Living Hadith, Hadith and Social Culture, thoughts of figures about hadith and etc.; Islam and Contemporary Thought; Islamic Philosophy
Articles
84 Documents
Peran Perempuan Dalam Wilayah Publik : (Analisis Hadits Hadis Riwayat Bukhari Nomor 4037 dengan Pendekatan
Muhammad Nasir;
Sartina
PAPPASANG Vol. 2 No. 2 (2020): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (347.182 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v2i2.67
Fokus kajian ini yaitu peran perempuan dalam wilayah publik dalam tinjauan hadis, yang sering dipahami secara berbeda oleh para ulama dalam memahaminya. Kajian ini disajikan untuk memahami dasar para ulama dalam memahami hadis yang menimbulkan perbedaan di antara mereka. Hadis pada tulisan ini menggunakan metode tahlili dengan pendekatan sosio-historis kontekstual. Hasil dari pembahasan ini ditemukan bahwa hadis riwayat Bukhari tersebut kualitasnya shahih, sedangkan pemahaman dari hadis itu memunculkan dua pendapat yaitu kelompok konservatif yang memahami hadis secara tekstual sehingga perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, dan kelompok liberal progresif yang memahami hadis secara kontekstual dan memahami bahwa perempuan dapat mengambil peran dalam wilayah publik termasuk untuk menjadi pemimpin, karena apa yang disampaikan Nabi dalam hadis tersebut sifatnya kasuistik.
Al-Qurţubī dan Metode Penafsirannya dalam Kitab al-Jāmi‘ li Aĥkām al-Qur’ān
Muhammad Ismail;
Makmur
PAPPASANG Vol. 2 No. 2 (2020): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (495.935 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v2i2.68
Studi ini membahas tentang metodologi yang digunakan di dalam tafsir al-Qurţubī oleh Imam al-Qurţubī. Terdapat tiga permasalahan pokok yang menjadi fokus penelitian dalam studi ini, yaitu; metode penafsiran dalam kitab al-Jāmi‘ li Aĥkām al-Qur’an, sumber penafsiran dalam kitab al-Jāmi‘ li Aĥkām al-Qur’an dan corak penafsiran dalam kitab al-Jāmi‘ li Aĥkām al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah library research, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner, yakni pendekatan ilmu tafsir, filosofis, historis dan sosiologis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yakni kitab Tafsir al-Jāmi‘ li Aĥkām al-Qur’an dan data sekunder yang meliputi karya-karya yang terkait dengan tafsir al-Jāmi‘ li Aĥkām al-Qur’an. Penelitian ini mendapati beberapa temuan, anatara lain, (1) al-Qurţubī menggunakan metodologi taĥlīlī dalam menulis kitab tafsir al-Jāmi‘ li Aĥkām al-Qur’an, (2) kitab tafsir ini pun lebih dominan menggunakan ra’yi dibandingakn dalil-dalil al-Ma’śūr, (3) kitab tafsir ini bercorak fiqhi atau hukum.
Analisis Makna Intergrasi-Interkoneksi
Adi Ari Hamzah
PAPPASANG Vol. 2 No. 2 (2020): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v2i2.69
Manusia memiliki ide kepercayaan, fikiran perasaan, kesadaran nilai-nilai, dan orientasi yang tidak semua bisa diungkapkan secara langsung. Tidak bisa langsung ditransfer, karena itu manusia butuh yang namanya “sarana” referensi yang biasa disebut dengan simbol begitupun halnya dengan bahasa. Ketika manusia berkomunikasi pasti dia mengakui adanya suatu pesan yang sulit diterima, maka manusia butuh menginterpretasikanya sebagai jembatan disitulah peran simbol dalam komunikasi. Dinamika pemikiran dalam ilmu menunjukan dikotomi, baik agama, sosial alam dan filsafat. Disiplin ilmu dari pandangan M. Amin Abdullah tentang konsep Integrasi-Interkoneksi mengurai basis pemikiran yakni makna filosofis dan makna evaluasi dalam sebuah pertemuan disiplin ilmu. Memiliki akar yang sangat jelas dalam dunia ilmu pengetahuan. Kedudukan ilmu agama, sosial, alam dan filsafat adalah upaya mempertemukan kembali ilmu-ilmu umum tersebut. Kemudian tanda-tanda berupa teks dalam Integrasi-Interkoneksi yang telah tersaji tersebut dimaknai dengan kondisi fungsi ilmu dengan semiotika Ferdinand de Saussure, yaitu memilah yang dimaksud dengan signifier (penanda) signified (Pertanda) dan analisis pada kalimat Intergrasi dan Interkoneksi serta penerapan dalam pandangan filosofis dan evaluasi.
Tiga Orang yang Tidak Akan Dipandang, Diajak Berbicara, dan Disucikan oleh Allah pada Hari Kiamat: Kajian Hadis Maudhu’i
Ahmadi Husain
PAPPASANG Vol. 2 No. 2 (2020): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (526.83 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v2i2.70
Tulisan ini menyajikan tentang kajian hadis tentang tiga orang atau golongan yang Allah tidak akan memandang, berbicara dan mensucikan mereka kelak di hari kiamat. Penelitian ini untuk mengungkap kualitas hadis tentang tiga orang atau golongan yang Allah tidak akan memandang, berbicara dan mensucikan mereka kelak di hari kiamat dari segi kualitas sanad dan matan hadis pada jalur riwayat Abu Daud, mengetahui kehujjahan serta memahami kandungan dari hadis yang dimaksud, serta menambah wawasan keilmuan, khususnya yang berkaitan dengan penelitian hadis dari segi kualitasnya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok atau golongan yang disebutkan dalam hadis di atas dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis kriteria, yaitu pertama, jenis orang yang egomani, yaitu manusia yang terlalu memikirkan diri sendiri. Kedua, jenis orang yang menyalahi kodrat. Ketiga, jenis orang yang “lupa daratan”, yaitu jenis manusia yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain.
Kontribusi Pemikiran Islam Sayyid Ahmad Khan di Dunia Islam India
Muh. Ilham Usman;
Baharil
PAPPASANG Vol. 2 No. 2 (2020): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (369.655 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v2i2.71
Artikel ini membahas tentang pemikiran dan gagasan Sir Sayyid Ahmad Khan di masa penjajahan India oleh kerajaan Inggris hingga terbentuknya negara Pakistan. Tujuan penulisan ini untuk melengkapi penelitian-penelitian terdahulu tentang pemikiran Sir Sayyid Ahmad Khan yang telah banyak dikaji. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Sumber data diperoleh dari buku-buku primer yang ditulis oleh Sir Sayyid Ahmad Khan dan juga buka-buku sekunder yang mengkaji pemikiran Sir Sayyid Ahmad Khan yang ditulis orang lain. Adapun hasil penelitian didapatkan bahwa Sir Sayyid Ahmad Khan membenci penjajahan yang dilakukan oleh kerajaan Inggris, akan tetapi untuk jalan yang ditempuh untuk melawannya bukanlah konfrontasi, melainkan diplomasi. Selain itu, umat Islam India jangan hanya pasrah terhadap takdir, melainkan harus aktif dan kreatif dalam menjalankan hidup sebagaimana paham Qadariyah dalam teologi klasik Islam. Dengan mengadopsi paham Qadariyah, umat Islam India akan mendayagunakan seluruh potensi yang diberikan oleh Allah Swt dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.
Al-Quran dalam Konteks Ke-Indonesiaan : (Studi Atas Pemikiran Tafsir Kelompok Laskar Jihad)
Muhammad Yusran
PAPPASANG Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (317.886 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v3i1.72
Bagi kalangan akademik, kelompok Islam “radikal” selalu menarik untuk diteliti. Berbagai karya ilmiah, mulai dari makalah atau paper sampai tesis dan disertasi tentang Islam Radikal di Indonesia telah banyak dihasilkan. Perubahan besar dalam bidang politik di Indonesia mengakibatkan kuatnya perbincangan politik dalam dalam kajian tentang Islam radikal ini. Namun sayangnya kebanyakan karya ilmiah mengenai Islam radikal tersebut selalu sarat dengan kajian politik. Kecenderungan aspek politik dalam kajian gerakan-gerakan Islam tersebut mengakibatkan sedikitnya perhatian terhadap aspek lain, semisal pada argemnetasi normative atau basis doktrin dan keilmuan gerakan-gerakan ini. Islam radikal di Indonesia diidentikkan kepada gerakan-gerakan yang menyebut diri mereka sebagai pembaharu untuk mengembalikan Islam kepada ajaran yang murni. Selain itu gerakan radikal ini ditandai dengan keinginan dan aksi yang sangat kuat untuk membasmi kemungkaran yang selama ini berlangsung di dunia. Kelompok Laskar Jihad mungkin hanyalah salah satu diantara kelompok yang diidentikkan dengan gerakan radikal ini dan selanjutnya akan menjadi fokus kajian dalam tulisan ini.
‘Allamah al-Tabataba‘i dan Tafsir al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an : (Suatu Tinjauan Manhaj Tafsir)
Muhammad Yunan
PAPPASANG Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (441.429 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v3i1.73
‘Allamah Sayyid Muhammad Tabataba‘i adalah seorang ulama tafsir yang memiliki nasab bersambung langsung dengan Nabi Muhammad saw. Lahir di Tabriz pada tahun 1271 H/ 1892 M dan wafat pada bulan November 1981 M di kota Qum. Ia menulis kitab tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an yang terdiri dari 20 jilid. Sebagai ulama tafsir, ‘Allamah al-Tabataba‘i, menjelaskan bahwa metode menafsirkan Alquran dengan Alquran adalah metode yang ideal. Menurutnya, lewat bukti verbal kita mengetahui bahwa Alquran sendiri mengabsahkan sabda dan penafsiran nabi saw, dan begitu pula nabi saw pun mengabsahkan penafsiran Ahlulbaitnya. Dalam menulis kitab tafsirnya, ia menempuh metode tafsir tahlili dalam menyusun kitab tafsirnya dengan menyajikan corak tafsir yang beragam yang mencakup sejarah, riwayat, irfan, filsafat, fiqhi, bahasa dll.
Tradisi Barzanji, Antara Sakral dan Profan di Masjid Raya Campalagian
Idham Hamid
PAPPASANG Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (142.175 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v3i1.74
Ada banyak cara atau metode memanggil orang-orang untuk melaksanakan panggilan ibadah. Salah satunya adalah tradisi barazanji yang rutin dilaksanakan setiap malam Jum’at setelah shalat magrib berjamaah. Agenda rutin ini merupakan praktek yang telah turun-temurun dititiskan oleh para ulama-ulama sebagai upaya mensyi’arkan Islam. Hal ini dalam rangka untuk memudahkan masyarakat dalam mempraktekkan konsep ibadah ritual maupun sosial. Ada yang berbeda ketika praktek tersebut kita bandingkan dengan apa yang umum terjadi di daerah lainnya. Di tengah pembacaan teks barzanji, terdapat momen sakral yang disebut mahallul qiyam (asarakah), di mana para peserta diwajibkan berdiri dengan sikap merendahkan hati. Ungkapan simbolik ini terangkum dengan hadirnya buah-buahan seperti pisang, langsat, mangga, dan rambutan, sebagai salah satu bagian terpenting dalam kegiatan tersebut dan buah akan dibagikan kepada para jama’ah setelah pembacaan doa barzanji. Tidak ada yang mengetahui persis kapan tradisi ini dimulai dan mengapa harus buah yang dihadirkan dalam praktek tersebut. Namun, yang terpenting dari tradisi ini, terselip nilai-nilai simbolisasi yang memberikan kesan yang luhur bahwa para ulama-ulama dahulu dalam memberikan akses terbuka untuk menyampaikan ajaran Islam, tidak hanya dengan cara metode skriptual atau fundamentalis, juga tidak mengabaikan apsek sosial masyarakat yang mengitarinya, tetapi keduanya menyatu dalam bingkai budaya dan nilai spiritual Islam.
Komunikasi dalam Pandangan al-Quran
Sulkifli;
Muhtar
PAPPASANG Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (316.197 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v3i1.75
The objective of this research is to find out the concept of communication in holy Qoran. This research is qualitative research which applied social-theology approach. The result of this research reveals that the Qoran illustrates the concept of communication to be several forms. Therefore, muslim scholars claim that there are eight communication forms which mentioned in holy Qoran, those are qaul karim, qaul ma’ruf, qaul layyin, qaul adzim, qaul balig, qaul maisur, qaul tsaqil, and qaul sadid. Farther, the Qoran informs that in communication, one needs to consider the communicant to achieve an intentional main. The determining of communication form chose to be used has offerd in Quran as an alternative way in public communication area.
Studi Kritis atas Hadis “Sab’ah Ahruf”
Rahmat Nurdin;
Muhammad Nur Murdan
PAPPASANG Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (414.103 KB)
|
DOI: 10.46870/jiat.v3i1.76
The Hadis talking about “unzila al-Qur’an ‘ala sab’ah ahruf” has been interpreted by some Islamic scholars. Every scholar has different opinion. According to this, it is important to re-read for making clear what “sab’ah ahruf” meaning is. This paper would like to analyze this hadis on steps; external criticism, internal criticism and syarh al-hadis (understanding). In the conclusion, based on the al-Razi’s view, this mini-research shows that “sab’ah ahruf” is about the sevent differences in Quranic reading. Then, flexibility in reading the Quran to make it easier to be read indicates that Quran is possible to be interpreted in different approaches to make it easier to be understood.