Pappasang
Pappasang is a journal published by Department of the Quranic Studies and Tafseer, Faculty of Usuluddin, Adab and Dakwah (UAD), STAIN Majene. The journal is published twice annually (June and December) to encourage and promote the study of the Quran-Hadith and Islam and Contemporary Thought, was designed to facilitate and take the scientific work of researchers, lecturers, students, practitioner and etc. into dialogueand. Focus : to provide readers with a better understanding of Islamic Studies and present developments through the publication of articles and book reviews Scopes : a journal concern on Quran and Hadith Studies such as the Living Quran, the Quran and Social Culture, thoughts of figures about the Quranic Studies, the Exegesis Studies and etc.; Similarly, matters relating to the Hadith, the Hadith Studies, Living Hadith, Hadith and Social Culture, thoughts of figures about hadith and etc.; Islam and Contemporary Thought; Islamic Philosophy
Articles
84 Documents
Studi Kualitas Hadis terhadap Kedudukan Basmalah pada Surah al-Fatihah
Muhammad Irfan
PAPPASANG Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v4i2.297
Abstract: This study wants to reveal the quality of the hadith about “Basmalah which is one of the verses of the letter al-Fatihah”. It is library research. The quality of the hadith is revealed through the hadith criticism method with the standard rules of hadith validity. The literature used is the takhrij hadith books, hadith books, biographies of hadith narrators, and books that contain the rules of hadith validity and hadith criticism methods. In this study, it was found that there were breaks of the sanad and weak narrators by hadith critics, so this hadith was judged weak. The study on matan of hadith was not carried out because one of the conditions for conducting criticism of matan was sahih or valid in the hadith sanad. Keywords: Basmalah, al-Fatihah, Hadith Quality Abstrak Dalam artikel ini peneliti ingin mengungkap kualitas hadis tentang “basmalah adalah salah satu ayat dari surat al-Fatihah”. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Kualitas dari hadis tersebut diungkap menggunakan metode kritik hadis dengan standar kaidah kesahihan hadis. Literatur yang digunakan adalah kitab (buku) takhrij hadis, kitab hadis, kitab biografi para periwayat hadis, dan kitab yang memuat kaidah kesahihan hadis dan metode kritik hadis. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa terdapat keterputusan dalam sanadnya dan terdapat periwayat yang dinilai lemah (bermasalah) oleh kritikus hadis, sehingga hadis ini dihukumi lemah. Adapun penelitian matan hadis tidak dilakukan sebab salah satu syarat melakukan kritik matan adalah sanad hadis berstatus sahih. Kata kunci: Basmalah, al-Fatihah, Kualitas Hadis.
Akseptasi Masyarakat Mandar terhadap al-Mu‘Awwiżatain dalam Merespon Kejahatan Sihir di Polewali Mandar: (Studi Living Qur’an)
Dewi Sartika;
Sulkifli Sulkifli
PAPPASANG Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v4i2.443
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana upaya masyarakat Mandar terhadap al-Mu‘awwiżatain sebagai pelindung dari kejahatan sihir di Polewali Mandar, (2) bagaimana upaya masyarakat Mandar dalam penggunaan al-Mu‘awwiżatainsebagai obat dan penyembuh dari kejahatan sihir di Polewali Mandar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriktif, berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari narasumber yang dapat diamati. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan obeservasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian dari akseptasi masyarakat Mandar terhadap al-Mu‘awwiżatain dalam merespon kejahatan sihir di Polewali Mandar, ialah pada umumnya masyarakat Polewali Mandar menerima al-Mu‘awwiżatain. Bentuk penerimaan mereka terhadap al-Mu‘awwiżatain berbeda-beda, ada yang menerima surah ini tetapi dibarengi dengan bacaan lain, adapula yang mengamalkannya tetapi masih melakukan upaya perdukunan, serta adapula yang mengamalkannya dan dibarengi dengan surah perlindungan lainnya. Selain itu, terdapat macam bentuk pengamalan masyarakat Mandar terhadap al-Muawwizatain, yaitu: ada yang mengamalkannya sebagai do’a atau pelindung yang meliputi dibaca setelah salat fardu, dibaca setiap pagi dan petang, dan dibaca sebelum tidur. Adapula yang mengamalkan surah ini sebagai obat, dengan cara wirid dengan amalan surah al-Mu‘awwiżatain, dan upaya ruqyah sebagai jalan untuk meminta kesembuhan dari Allah swt dengan membaca surat-surat perlindungan termasuk al-Mu‘awwiżatain. mplikasi dari penelitian ini adalah: Terdapat berbagai bentuk upaya masyarakat Mandar terhadap pengamalan surah al-Mu‘awwiżataindalam merespon kejahatan sihir, sebagian besar dari mereka mengamalkan surah ini hanya setelah terkena kejahatan sihir, dan seharusnya masyarakat Mandar perlu mengamalkan surah al-Mu‘awwiżatainbaik itu sebelum maupun setelah terkena sihir.
Etika Politik dalam Al-Qur’an : (Suatu Kajian Tafsir Tah{li>li QS. al-Nisa/4:58)
Muh. Adnan;
Muh. Ilham Usman
PAPPASANG Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v4i2.444
Penelitian ini terfokus pada etika politik dalam Al-Qur’an surah al- Nisa>/4:58, pada ayat ini dikemukakan dua aspek prinsip dasar etika politik yaitu amanah dan keadilan. Umat Islam perlu berpegang pada dua prinsip ini, agar mampu mewujudkan sistem pemerintahan yang bersih dari berbagai bentuk penyalahgunaan jabatan, serta menerapkan keadilan bagi semua pihak. Penelitian ini berjenis kepustakaan dengan menggunakan pendekatan teologis. Sumber rujukan yang dipakai berasal dari berbagai buku-buku, artikel, penelitian terdahulu yang memiliki kaitan dengan tema etika politik. Data yang telah terkumpul dari berbagai sumber akan dianalisis dan diurai berdasarkan metode tafsir tah}li>li, mulai dari kosa kata, hubungan antar ayat, asba>bun nuzu>l, kandungan ayat, serta hukum yang dihasilkan oleh ayat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Islam telah mengatur etika politik melalui dua prinsip yakni: 1.) Menjaga Amanah sebagai bentuk kejujuran dalam menjalankan tugas.2.) Berlaku Adil untuk mewujudkan kesetaraan semua pihak di hadapan hukum. Berlandaskan analisis penafsiran QS.al-Nisa>/4:58 Allah swt. telah memerintahkan kepada manusia untuk mampu menjaga amanah, serta memutuskan perkara diantara manusia secara adil tanpa ada pihak yang merasa dicurangi. Nilai-nilai etika harus dijunjung tinggi dalam menjalankan tugas dan bertanggungjawab pada amanah yang telah dipercayakan. Implikasi pada penelitian ini ialah, orang-orang yang masuk di dunia politik harus mengerti ilmu tentang etika menyangkut baik dan buruk sebuah tindakan, khususnya aspek memegang amanah dan memberi keputusan dengan seadil-adilnya yang telah dipaparkan dalam QS.al-Nisa>/4:58, sebagai bentuk menjalankan perintah Al-Qur’an demi meraih kemaslahatan umum.
Interpretasi Makna Nafs dalam QS Al-Syams Ayat 7-10 : (Studi Analisis Tafsir Mafa>ti>h} Al-Ghayb Karya Fakhr Al-Di>n Al-Ra>zi>)
Ahmad Zakiy;
Muhammad Nur Murdan
PAPPASANG Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v4i2.445
Perdebatan filosofis berkenaan dengan hakikat jiwa manusia telah menimbulkan berbagai macam respon dari berbagai ahli tafsir yang berfokus pada QS al-Syams/91: 7-10, tak terkecuali Fakhr al-Di>n al-Ra>zi> sebagai tokoh mufasir yang filsuf dalam kitab tafsirnya Mafa>ti>h} al-Ghayb. Penelitian ini mencoba mengurai: 1.) Bagaimana karakteristik tafsir Mafa>ti>h} al-Ghayb karya Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, 2.) Bagaimana penafsiran umum makna nafs dalam QS al-Syams/91: 7-10, 3.) Bagaimana interpretasi makna nafs dalam QS al-Syams/91: 7-10, dalam tafsir Mafa>ti>h} al-Ghayb karya Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>. Untuk menjawab rumusan masalah di atas, peneliti menggunakan jenis penelitian library research dengan model penelitian tahli>li> atau analisis. Model penelitian analisis ini dianggap paling relevan untuk nantinya dapat melihat bagaimana interpretasi dan ciri khas al-Ra>zi> dalam menafsirkan ayat tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: 1.) Karakteristik tafsir Mafa>ti>h} al-Ghayb menggunakan pendekatan berbagai disiplin ilmu, terkadang menggunakan dialog imaginer untuk menjelaskan sebuah ayat, dan condong kepada Asy’ariyah dari segi teologi dan Syafi’iyah dari segi fikih 2.) Berkenaan dengan penafsiran umum QS.al-Syams/91: 7-10, terdapat dua perspektif besar mengenai penafsirannya. Pendapat pertama yang menyatakan bahwa Allah-lah yang menentukan jalan takwa dan fuju>r-nya seorang hamba. Sedang pendapat kedua menyatakan bahwa Allah membekali manusia aneka potensi, yaitu takwa dan fuju>r kepada manusia, sehingga selanjutnya manusialah yang menentukan pilihan hidupnya. 3.) Al-Ra>zi> berpendapat, jiwa manusia memiliki ‘bawaan’ sejak lahir. Ia tidak dalam keadaan yang sama sekali kosong sebagaimana pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh beberapa filsuf empiris. Bagi al-Ra>zi>, dengan merujuk kepada QS.al-Syams/91: 7-10, Allah memberikan aneka kecenderungan baik dan buruk kepada manusia sejak ia dilahirkan. Kemudian pada masa selanjutnya, manusialah yang diberi pilihan untuk mengasah sendiri kecenderungan-kecenderungan tersebut.
Sejarah Penulisan dan Pembukuan Hadis
Faizal Luqman;
Euis Indah Kesuma Ningsih;
Sonya Liani Nasution
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v5i1.446
Tujuan pada penulisam ini ialah untuk menegtahui perjalanan tentang sejarah dan pembukuan hadist dimasa lampau hingga masa sekarang. Tujuan lain ialah untuk menegtahui perkembangannya hadist yang tidak secara langsung terkodifikasi dengan sempurna sebagaimana dahulu alquran dibukukan karena banyak perselisihan serta keraguan para sahabat dalam menulis dan membukukan hadist. Metode didalam penelitian ini ialah penelitian Kepustakaan atau penelitian literature berisi teori-teori yang relevan masalah penelitian direkam oleh peneliti, data dikumpulkan dan dianalisis seluruhnya dari literature bahan dokumenter lainnya seperti tulisan di surat kabar atau media lainnya saat ini dan diteliti. Berdasarkan penelitian ini hasilnya ialah Perkembangan hadis pada Rasulullah masyarakat umat Islam masih terbilang kurang memahami hadis maupun menulis hadis Para sahabat dalam menjaga dan menghafal hadis secara akurat, yaitu dengan penghafalan, merekam, dan praktik. adanya masalah penulisan hadis, di antaranya yang pernah dilakukan oleh: Urwah, Al-Akhfasy, Al-Qa’nabi, Yahya bin Abu Katsir. Dalam pembukuan hadis ada beberapa periode yaitu dintaranyan Periode Pra Khulafa' Ar-Rasyidin, Periode Abad II dan III Hijriah hingga sampai Periode (656 H-Sekarang).
Paham Neo-Platonis dan Negara Kesejahteraan: Kritik Sir Muhammad Iqbal Terhadap Kesadaran Umat Islam
Muh. Ilham Usman
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v5i1.449
Abstract This article describes Muhammad Iqbal's thoughts in fighting for Indian Muslims with strategies that were in accordance with the conditions and situation of the Indian people at that time. This research uses library research method. The results of the study found that Muhammad Iqbal through Islamic thought, literature and philosophy voiced that Muslims everywhere must rise from the downturn and decline of Islam from British colonialism. And also Muhammad Iqbal became a pioneering figure in the early establishment of the Pakistani state to save Indian Muslims who were always secondary. Abstrak Artikel ini mendeskripsikan pemikiran Muhammad Iqbal dalam memperjuangkan umat Islam India dengan strategi yang sesuai dengan kondisi dan situasi rakyat India kala itu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Adapun hasil penelitian menemukan bahwa Muhammad Iqbal lewat pemikiran, sastra dan filsafat Islam menyuarakan bahwa umat Islam di manapun mesti bangkit dari keterpurukan dan kemunduran Islam dari kolonialisme Inggris. Dan juga Muhammad Iqbal menjadi tokoh perintis awal berdirinya negara Pakistan untuk menyelamatkan umat Islam India yang selalu dinomorduakan.
Paradigma Baru Ilmu Tafsir : (Tinjauan Kritis Atas Metode Penafsiran Muhammad Syahrur)
Sulkifli Sulkifli;
Ahmad Rajab
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v5i1.531
Artikel ini membahas paradigma baru ilmu tafsir yang fokus pada metode dan bentuk penafsiran Muhammad Syahrur dalam menafsirkan al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat Pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Muhammad Syahrur menawarkan metode baru dalam memahami al-Qur’an yang dikenal dengan Qira’ah Mu’ashirah pembacaan kontemporer). Dengan metode tersebut, Muhammad Syahrur mengembangkan teori-teori yang terkesan berbeda dan lebih sesuai dengan konteks sekarang. Sejalan dengan hal tersebut, Syahrur menawarkan dua Pendekatan dalam menafsirkan al-Qur’an yakni pendekatan linguistik-saintifik dengan metode hermeneutika ta’wil, kedua adalah pendekatan dengan teori hudud dengan metode ijtihad. Melalui analisis dan pendekatan yang baru tersebut, maka hasil Penafsirannya pun termasuk baru dan berbeda dengan tafsir-tafsir sebelumnya (klasik). This article discusses the new paradigm of the science of interpretation which focuses on Muhammad Syahrur's methods and forms of interpretation in interpreting the Qur'an. This research is a qualitative research that is library in nature. The results of this study indicate that Muhammad Syahrur offers a new method in understanding the Qur'an known as Qira'ah Mu'ashirah (contemporary reading). With this method, Muhammad Syahrur developed theories that seemed different and more appropriate to the current context. In line with this, Syahrur offers two approaches to interpreting the Koran, namely a linguistic-scientific approach using the hermeneutic ta'wil method, the second is an approach with hudud theory using the ijtihad method. Through this new analysis and approach, the results of the interpretation are also new and different from previous (classical) interpretations.
Polemik Nasikh-Mansukh John Burton dalam “The Collection of The Quran”
Rahmat Nurdin;
Abdillah Abdillah
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v5i1.534
Abstrak Artikel ini mencoba menelusuri pemikiran John Barton tentang persoalan nasikh mansukh dalam karyanya yang berjudul “The Collection Of The Quran”. Dalam argumennya dikatakan, bahwa pada awalnya, kajian tentang nasikh mansukh disusun dengan tujuan untuk memvalidasi dan menjelaskan beberapa konflik atau perbedaan yang terjadi di antara para ulama fiqh. Dengan menggunakan jenis penelitian library research dengan model kajian pemikiran tokoh, penulis menelusuri lebih jauh untuk mendapatkan gambaran yang signifikan dari pemikiran Joh Barton terkait dengan persoalan nasikh mansukh. Adapun hasil penelusuran penulis menyimpulkan, bahwa polemik tentang ada atau tidaknya nasikh masukh dalam al-Qur’an, di kalangan ulama pun terjadi perbedaan pendapat, terlebih lagi atas klaim John Barton dalam karyanya yang menganggap adanya ilmu nasihk mansukh tidak terlepas dari upaya para ulama ushul dalam menyeragamkan pendapat dan lebih jauh mengatakan, bahwa al-Qur’an yang ada sekarang merupakan editan Nabi Muhammad sendiri, serta sikap skeptisisme John barton yang dilontarkan atas al-Qur’an yang ada sekarang juga tidak dapat dibuktikan dengan data-data yang valid.
Analisis Semiotik Ferdinand De Saussure Terhadap QS. al-Taubah (9): 123
Saniatul Hidayah Sania
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v5i1.535
Artikel ini bertolak dari adanya kasus kekerasan atas nama agama di Indonesia yang hanya mendasarkan aksinya pada pemahaman tekstual saja. Salah satu ayat Alquran yang rawan disalah pahami jika dibaca hanya secara tekstual berkaitan dengan masalah ini adalah Q.S. Al-Taubah (9): 123. Maka penulis berusaha mengungkap makna di balik ayat tersebut. Artikel ini merupakan studi pustaka (library research) dengan menggunakan teori sintagmatik-paradigmatik dan signifier-signified Ferdinand de Saussure sebagai pisau analisis, dan melihat penjelasan konteks tekstual dan historis ayatnya, untuk menemukan pemaknaan (signified) dari Q.S. Al-Taubah (9): 123 (signifier). Artikel ini menyimpulkan bahwa pemaknaan (signified) dari ayat tersebut adalah bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang perintah bagi umat Muslim untuk berjuang, baik dengan mengangkat senjata, mencurahkan pikiran, harta, dll, melawan orang-orang kafir, yang memusuhi dan membahayakan umat Muslim atas nama agama, dengan tegas dan serius. Hal tersebut perlu dilakukan agar umat Islam terhindar dari orang-orang yang hendak mengganggu dan merusak agama.
Kontekstualisasi Bahasa Arab dalam Penafsiran Al-Qur’an: (Perspektif Hermeneutika Gadamer)
Bahruddin Bahruddin
PAPPASANG Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46870/jiat.v5i1.537
Kehadiran umat manusia di muka bumi dengan segala kompleksitasnya membutuhkan suatu acuan normatif-teologis yang akan menjadi pedoman dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam konteks tersebut, posisi al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam memainkan peran sentral dalam menjiwai setiap ruang gerak manusia baik dalam dimensi vertikal (ibadah) ataupun dalam dimensi horizontal (muamalah). Konsekuensinya, pengkajian terhadap al-Qur’an yang tertulis dalam bahasa Arab menjadi suatu proses kajian panjang seiring dengan gelora semangat yang tiada henti dalam diri kaum muslimin untuk membumikan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan keseharian mereka. Pemahaman yang hanya berdasar pada apa yang tertulis pada teks semata yang kebetulan berbahasa Arab, hanya akan mengaburkan esensi pesan dalam teks itu sendiri sehingga kontekstualisasi bahasa Arab dalam penafsiran al-Qur’an perlu dilakukan yang salah satunya melalui perspektif hermeneutika Gadamer.