cover
Contact Name
Muhammad Nur Murdan
Contact Email
nure1mandary@stainmajene.ac.id
Phone
+6281357285802
Journal Mail Official
pappasangjournaliat@gmail.com
Editorial Address
Jln. BLK Balai Lingkungan Kerja Kabupaten Majene, Lingkungan Passarang Kec. Banggae Kabupaten Majene Prop. Sulawesi Barat
Location
Kab. majene,
Sulawesi barat
INDONESIA
Pappasang
ISSN : -     EISSN : 27453812     DOI : https://doi.org/10.46870/jiat.v3i2
Pappasang is a journal published by Department of the Quranic Studies and Tafseer, Faculty of Usuluddin, Adab and Dakwah (UAD), STAIN Majene. The journal is published twice annually (June and December) to encourage and promote the study of the Quran-Hadith and Islam and Contemporary Thought, was designed to facilitate and take the scientific work of researchers, lecturers, students, practitioner and etc. into dialogueand. Focus : to provide readers with a better understanding of Islamic Studies and present developments through the publication of articles and book reviews Scopes : a journal concern on Quran and Hadith Studies such as the Living Quran, the Quran and Social Culture, thoughts of figures about the Quranic Studies, the Exegesis Studies and etc.; Similarly, matters relating to the Hadith, the Hadith Studies, Living Hadith, Hadith and Social Culture, thoughts of figures about hadith and etc.; Islam and Contemporary Thought; Islamic Philosophy
Articles 84 Documents
Qat}’iy dan Z}anniy Perspektif Pemikiran Islam Rahman, Rahmat; Aderus, Andi Aderus; Santalia, Indo Santalia
PAPPASANG Vol. 7 No. 1 (2025): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i1.1645

Abstract

This study explores the concepts of qath’i and zhanniy  in the sources of Islamic law, namely the Qur'an and Hadith, from the perspectives of tsubut/wurud (authenticity of origin) and dalalah (implication of meaning). The research employs a literature review method with a qualitative approach and content analysis of classical and contemporary scholars' views. The findings indicate that the Qur'an is generally considered a qath’i al-wurud (definitive in transmission), while Hadits except for those classified as mutawatir are typically zhanniy al-wurud (speculative in transmission). In terms of dalalah, some texts are deemed qath’i due to their singular and unambiguous meanings, while others are considered zhanniy as they allow for multiple interpretations, such as verses regarding iddah (waiting period) and the procedure of ablution. This study emphasizes that distinguishing between qath’i and zhanniy is essential to prevent rigidity in religious practice, avoid extremism, and promote a moderate understanding of Islam. Abstrak: Perbedaan pemahaman terhadap nash-nash dalam al-Qur’an dan Hadis seringkali berpangkal pada persoalan q{at{‘i> dan z{anni>, baik dari sisi asal-usul maupun penunjukan maknanya, yang berdampak pada beragamnya fatwa dan mazhab dalam Islam. Olehnya itu, penelitian ini bertujuan untuk membahas konsep q{at{‘i> dan z{anni> dalam sumber hukum Islam, yakni al-Qur’an dan Hadis, baik ditinjau dari aspek s\ubut /wuru>d>d (kepastian asal sumber) maupun dala>lah (penunjukan makna). Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif dan analisis isi terhadap pandangan para ulama klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qur’an secara umum merupakan sumber hukum yang q{at{‘i> al-wuru>d>d, sedangkan Hadis, kecuali yang mutawatir, umumnya tergolong z{anni> al-wuru>d>d. Dari sisi dala>lah, terdapat nas} yang bersifat q{at{‘i> karena mengandung makna tunggal dan pasti, serta nas{ yang z{anni> karena membuka kemungkinan makna jamak dan multitafsir, seperti pada ayat tentang iddah dan tata cara wudhu. Penelitian ini menegaskan bahwa pembedaan antara q{at{‘i> dan z{anni>, penting untuk mencegah kekakuan beragama, menghindari sikap ekstrem, dan mendorong pemahaman Islam yang moderat (was{at{iah). Pemikiran Islam tentang q{at{‘i> dan z{anni> adalah hasil ijtihad ulama yang dinamis, kontekstual, dan responsif terhadap perkembangan masyarakat.
Konsep Naskh dalam Pemikiran Huseyin Atay Sumadi, Sumadi; Sulkifli, Sulkifli; Saleh, Muhammad
PAPPASANG Vol. 7 No. 1 (2025): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i1.1777

Abstract

Abstract This research discusses the concept of naskh according to Huseyin Atay's thought. In reality, scholars differ in addressing naskh in the Qur'an, there are groups of supporters and not a few who reject, one of whom is Huseyin Atay. This type of research is qualitative research based on literature (library research) using a rationality approach. The results of this study show that the fundamental thing about Atay's view regarding naskh is that there is no naskh in the Qur'an. This view is based on the conclusion that each verse has the validity of its own content and context. He continued, the view that states there is naskh between verses in the Qur'an contradicts QS. al-Nisa>'/4: 82 that if the Qur'an did not come from Allah, there would be contradictions in it. This research can be a reference in the study of ‘ulu>m al-Qur'a>n, especially related to naskh in Huseyin Atay's view. Abstrak Penelitian ini membahas tentang konsep naskh menurut pemikiran Huseyin Atay. Dalam realitasnya, para ulama berbeda dalam menyikapi naskh dalam al-Qur’an, terdapat kelompok pendukung dan tidak sedikit pula yang menolak, satu di antaranya adalah Huseyin Atay. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif berbasis kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan rasionalitas. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hal mendasar dari pandangan Atay terkait naskh adalah tidak ada naskh dalam al-Qur’an. Pandangan itu didasarkannya pada kesimpulan bahwa setiap ayat memiliki keabsahan dari kandungan dan konteksnya sendiri. Lanjutnya, pandangan yang menyatakan terdapat naskh antar ayat dalam al-Qur’an bertentangan dengan QS. al-Nisa>’/4: 82 bahwa seandainya al-Qur’an itu tidak datang dari sisi Allah tentulah ditemukan pertentangan di dalamnya. Penelitian ini dapat menjadi referensi dalam kajian ‘ulu>m al-Qur’a>n terutama terkait dengan naskh dalam pandangan Huseyin Atay.
Tindak Pidana Perzinahan dalam Persfektif Hadis Dol, Sri Karmila; Hafid, Arwin; Rasyid, Muhammad Dirman; Reskiani, Anugrah
PAPPASANG Vol. 7 No. 1 (2025): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i1.1778

Abstract

Abstract: This paper discusses adultery as a criminal offense in Islam based on the Prophetic traditions. It aims to explore the concept of zina, the sanctions imposed on perpetrators, and the relevance of applying Islamic criminal law in contemporary social contexts. Using a normative-theological approach and qualitative descriptive methods, the data are obtained from primary sources in the form of authentic hadiths and supported by secondary literature. The study reveals that Islam imposes firm sanctions against adultery, such as stoning for married offenders (muḥṣan) and flogging for unmarried ones (gairu muḥṣan), serving both as a preventive and educational measure to uphold public morality. In Indonesia, its application faces legal challenges, as adultery is classified as a complaint-based offense. This study recommends a reformulation of national criminal policies grounded in hadith values to realize a fair and moral legal system. Abstrak: Tulisan ini membahas perzinaan sebagai salah satu bentuk tindak pidana dalam Islam berdasarkan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam konsep zina, sanksi terhadap pelakunya, serta relevansi penerapan hukum zina dalam konteks sosial kontemporer. Menggunakan pendekatan normatif-teologis dan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh dari literatur primer berupa hadis-hadis ṣaḥīḥ serta literatur sekunder pendukung lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam menetapkan sanksi tegas terhadap zina, seperti rajam bagi pelaku yang telah menikah (muḥṣan) dan cambuk bagi yang belum menikah (gairu muḥṣan), sebagai upaya preventif dan edukatif dalam menjaga moralitas publik. Dalam konteks Indonesia, penerapan hukum ini dihadapkan pada sistem hukum nasional yang menetapkan zina sebagai delik aduan. Kajian ini merekomendasikan reformulasi kebijakan hukum pidana nasional berbasis nilai-nilai hadis, demi mewujudkan sistem hukum yang adil dan bermoral.
Analisis Nilai-Nilai al-Qur’an dan Hadis dalam Tradisi Mappatende di Desa Panggalo Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene Makmur; Marsyam, Abdul Waris; Sukarman, Sukarman
PAPPASANG Vol. 7 No. 1 (2025): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i1.1779

Abstract

Abstract: The Mappatende tradition is an annual ritual performed by agrarian communities in Panggalo Village as a form of gratitude for the harvest. However, this tradition has received various perceptions among local residents, with some groups viewing it as a religious innovation (bid‘ah). This study aims to analyze the Qur'anic values embedded in the Mappatende tradition and how these values are implemented in the community’s social life. The research employs a qualitative approach using observation, in-depth interviews, and documentation methods. Data analysis is conducted through the Living Qur’an approach, which interprets how Qur’anic teachings are practiced contextually within local culture. The findings reveal that the Mappatende tradition embodies and expresses Qur’anic values such as gratitude (shukr), kinship (silaturahmi), cooperation, and charity (sadaqah), all of which are reflected in each stage of the ritual. These results imply that local traditions can serve as a medium for contextualizing and preserving Islamic values within society. Keywords: Living Qur’an, Mappatende, Qur’anic values, local tradition. Abstrak: Tradisi Mappatende merupakan ritual tahunan masyarakat agraris di Desa Panggalo sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen. Namun, tradisi ini mendapat beragam pandangan di tengah masyarakat, termasuk anggapan sebagai praktik bid‘ah oleh sebagian kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai al-Qur’an yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi Mappatende serta bagaimana implementasinya dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan pendekatan Living Qur’an, yaitu menelaah makna dan praktik nilai-nilai Qur’ani dalam budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mappatende mengandung dan merepresentasikan nilai-nilai al-Qur’an seperti syukur, silaturahmi, kerjasama, dan sedekah, yang diimplementasikan dalam seluruh tahapan pelaksanaannya. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa tradisi lokal seperti Mappatende dapat menjadi media aktualisasi ajaran Islam secara kontekstual dan menjadi sarana pelestarian nilai-nilai Qur’ani dalam budaya masyarakat. Kata Kunci: Living Qur’an, Mappatende, Nilai-Nilai al-Qur’an, Tradisi lokal