cover
Contact Name
Ervina Indrayani
Contact Email
acroporapapua@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
acroporapapua@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat Acropora, Gd. Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Uncen Waena. Jl. Kamp Wolker WAENA, Jayapura, Papua
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
ISSN : 26225476     EISSN : 26851865     DOI : https://doi.org/10.31957/
Core Subject : Agriculture,
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua adalah terbitan berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Cenderawasih. Ruang lingkup jurnal fokus pada kajian ilmu kelautan dan perikanan.
Articles 171 Documents
Status Keberlanjutan Pengelolaan Perikanan Tangkap Tradisional Berbasis Penilaian RAPFISH-Blue Economy: Studi Kasus pada Nelayan di Teluk Urfu, Kabupaten Biak Numfor Rumbiak, Kristhopolus; Rejauw, Korinus; Dimara, Lisiard
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5124

Abstract

Perikanan merupakan sektor penting bagi masyarakat pesisir yang bergantung pada perikanan tangkap tradisional sebagai sumber mata pencaharian utama. Ketergantungan ini sangat kuat terutama bagi nelayan lokal di Teluk Urfu, Kabupaten Biak Numfor, sehingga mendorong perlunya kajian ilmiah mengenai keberlanjutan pemanfaatan sumber daya perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status keberlanjutan pengelolaan perikanan tangkap tradisional menggunakan pendekatan RAPFISH, mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memengaruhi keberlanjutan pengelolaan, serta mengidentifikasi praktik ekonomi biru yang telah diterapkan oleh nelayan setempat. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan (April–September 2025) pada dua stasiun pengamatan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei dengan pendekatan wawancara (kuesioner dan FGD), purposive sampling menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT), serta pengukuran in situ parameter fisik-kimia perairan. Analisis data ekologi menggunakan perangkat lunak PAST, sedangkan penilaian status keberlanjutan dilakukan dengan pendekatan Multidimensional Scaling (MDS) RAPFISH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi ekologi (56,04) dan ekonomi (53,55) termasuk dalam kategori Cukup Berkelanjutan. Sementara itu, dimensi sosial (48,41), teknologi (29,47), dan kelembagaan (46,79) berada pada kategori Kurang Berkelanjutan. Secara keseluruhan, indeks keberlanjutan pengelolaan mencapai 46,85 yang juga termasuk kategori Kurang Berkelanjutan. Atribut-atribut yang paling berpengaruh (sensitif) terhadap keberlanjutan pengelolaan antara lain: volume tangkapan ikan (7,96%), lama waktu operasi penangkapan (6,54%), dampak aktivitas bongkar-muat BBM di Teluk Urfu (6,24%), perikanan sebagai sumber mata pencaharian utama (5,04%), kepemilikan perahu penangkapan (4,74%), keberadaan usaha lain di luar sektor perikanan (4,66%), penyuluhan perikanan (8,84%), keberadaan kelompok nelayan (8,16%), teknologi pascapanen (4,99%), pemanfaatan alat navigasi (4,90%), serta penegakan hukum terhadap praktik penangkapan ikan ilegal (4,12%). Praktik ekonomi biru yang telah diterapkan oleh nelayan lokal meliputi pemanfaatan sumber daya alam secara ramah lingkungan melalui teknik penangkapan tradisional yang terbatas, diversifikasi ekonomi rumah tangga nelayan, serta keberadaan dan penguatan kelompok nelayan sebagai wadah pemberdayaan dan pengelolaan sumber daya secara kolektif.
Perbedaan Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan kakatua Hipposcarus longiceps dan Scarus ghobban Prasetyo, Tri Aji; Parenden, Dedi; Handayani, Tutik; Manangkalangi, Emmanuel
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5125

Abstract

ABSTRAK Ikan kakatua dikenal dengan sebutan parrotfish, ikan bayan, lembain, atau anglu adalah kelompok besar spesies ikan laut dari famili Scaridae yang menghuni perairan dangkal tropis dan subtropis di seluruh dunia, terutama pada ekosistem terumbu karang. Ikan Kakatua meskipun bukan target utama penangkapan, akan tetapi sering ditangkap ataupun tertangkap oleh nelayan, dan semakin lama kondisinya semakin mengkhawatirkan akibat tingginya tekanan dan aktivitas penangkapan. Kajian komparasi aspek biologi secara spesifik dari spesies ikan kakatua masih jarang dilakukan, terutama untuk di wilayah Kabupaten Manokwari. Padahal ini hal yang sangat penting dalam mendukung baseline konservasi spesifik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aspek biologi yang mencakup rasio jenis kelamin, sebaran ukuran, pola pertumbuhan, dan faktor kondisi ikan kakatua dari spesies Hipposcarus longiceps dan Scarus ghobban. Penelitian dilaksanakan pada bulan April –Agustus 2025. Pengambilan sampel dilakukan secara acak, sampel ikan diperoleh dari pedagang ikan dan atau nelayan langsung di kota Manokwari, Metode penelitian bersifat deskriptif dengan teknik observasi langsung. Jumlah sampel keseluruhan yang peroleh sebanyak 68 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin kedua spesies ikan kakatua termasuk dalam kategori seimbang dengan rasio 1:1. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai 0,023 untuk Hipposcarus longiceps dan 0,615 untuk Scarus ghobban, keduanya lebih kecil dari nilai kritis chi-square (3,841), yang mengindikasikan bahwa populasi kedua spesies masih berada pada kondisi ideal untuk mendukung kelestariannya. Distribusi ukuran panjang total dan berat tubuh kedua spesies berbeda; untuk Hipposcarus longiceps, panjang total berkisar 192–380 mm dengan berat 106–730 g, sedangkan untuk Scarus ghobban, panjang total berkisar 210–366 mm dengan berat 134–823 g. Pola pertumbuhan kedua spesies menunjukkan kesamaan, yaitu pertumbuhan bersifat alometrik negatif (b < 3), yang berarti pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat, dengan pertumbuhan Scarus ghobban lebih stabil. Nilai faktor kondisi menunjukkan bahwa Scarus ghobban tergolong gemuk/montok, sedangkan Hipposcarus longiceps tergolong agak kurus. Perbedaan ini mencerminkan variasi fisiologis dan ekologis antar spesies, serta menegaskan bahwa kondisi lingkungan dan ketersediaan pakan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan ikan kakatua di perairan.
Kelimpahan dan Keanekaragaman Jenis Gastropoda Pada Ekosistem Lamun di Perairan Kampung Sabarmiokre Distrik Supiori Barat Kabupaten Supiori Rumere, Habel Y.; Talakua, Selfanie; Sabariah, Vera
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5129

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies gastropoda di ekosistem lamun di perairan Desa Sabarmiokre, Kecamatan Supiori Barat, Kabupaten Supiori di Provinsi Papua. Penelitian ini dilakukan pada Mei 2024 untuk pengumpulan data. Sampel gastropoda diambil menggunakan metode sampling sistematis dengan plot 1x1 m di 2 (dua) stasiun penelitian, masing-masing terdiri dari 3 transek. Semua gastropoda yang ditemukan di dalam plot dihitung dan diidentifikasi. Analisis data meliputi komposisi, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi gastropoda di padang lamun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi gastropoda terdiri dari 14 famili dan 27 spesies di stasiun satu, dan 18 famili serta 35 spesies di stasiun dua. Nilai kelimpahan di stasiun 1 berkisar antara 0,530 hingga 0,330 ind/m2 dan di stasiun 2 berkisar antara 1,260-1,980 ind/m2. Keanekaragaman gastropoda adalah 1,592 - 2,854, keseragaman 0,541-0,910, kemudian nilai dominasi adalah 0,100 hingga 0,336.
Tinjauan Potensi Energi Panas Laut (OTEC) di Perairan Indonesia Berdasarkan Analisis Termodinamika Laut Ima Nurmalia Permatasari; Vani Apriani
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5242

Abstract

Penelitian ini menyajikan tinjauan potensi energi panas laut Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) di perairan Indonesia berdasarkan analisis termodinamika laut menggunakan studi komparatif terhadap tiga jurnal primer. Latar belakang kajian ini berfokus pada pemanfaatan gradien suhu antara lapisan permukaan dan kedalaman laut sebagai sumber energi terbarukan yang berkelanjutan di wilayah tropis. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi wilayah dengan nilai perbedaan suhu lebih dari 20 oC yang memenuhi syarat operasi sistem OTEC serta mengevaluasi efisiensi termal yang dapat dicapai berdasarkan konfigurasi sistem yang dikaji. Metode yang digunakan meliputi telaah literatur terhadap data suhu permukaan dan kedalaman laut, analisis siklus termodinamika sederhana seperti Rankine dan Carnot, serta perbandingan hasil efisiensi dan kelayakan penerapan pada tiap wilayah studinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa perairan Indonesia bagian timur, khususnya Nusa Tenggara Timur dan Selat Makassar, memiliki perbedaan suhu berkisar 20–24 oC yang ideal untuk pengoperasian OTEC dengan potensi energi yang signifikan. Efisiensi termal sistem OTEC pada wilayah tersebut dapat mencapai lebih dari 3%, dengan potensi peningkatan melalui optimalisasi desain penukar panas dan pemilihan fluida kerja. Secara keseluruhan, Indonesia memiliki peluang besar untuk pengembangan energi panas laut sebagai sumber energi alternatif, terutama di wilayah dengan perairan dalam dekat pantai. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan pengembangan teknologi OTEC di Indonesia.OTEC
Strategi Pengendalian Penangkapan Ikan yang Merusak di Perairan Jayapura Dengan Menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) Roy Salinding; Auldry F. Walukow; Maklon Warpur; Janviter Manalu; Johnson Siallagan
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5471

Abstract

Pengelolaan kelautan dan perikanan menghadapi tantangan yang sangat kompleks, khususnya terkait praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan yang masih terus terjadi meskipun telah ada peraturan pemerintah. Praktik-praktik tersebut, termasuk penggunaan bahan peledak dan racun, masih berlangsung di perairan Kota Jayapura. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengendalian praktik penangkapan ikan yang merusak dengan menggunakan metode *Analytical Hierarchy Process* (AHP). Permasalahan utama yang dikaji adalah masih digunakannya bahan peledak dan zat beracun dalam kegiatan penangkapan ikan, meskipun langkah-langkah regulasi dan penegakan hukum telah diterapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara dan kuesioner yang melibatkan para ahli dari instansi terkait serta tokoh masyarakat adat. Analisis dilakukan dengan menyusun struktur hierarki, melakukan perbandingan berpasangan, normalisasi matriks, dan menghitung bobot prioritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi praktik penangkapan ikan yang merusak, dengan nilai prioritas tertinggi sebesar 0,728, diikuti oleh faktor sosial-budaya dan lingkungan. Pada tingkat aktor, tokoh masyarakat adat (Ondoafi) memegang peran paling signifikan dalam pengendalian praktik penangkapan ikan yang merusak, dengan nilai prioritas sebesar 0,370. Selanjutnya, alternatif strategi yang paling efektif adalah pelibatan tokoh masyarakat adat (0,279), diikuti oleh pembentukan koperasi nelayan dan penyediaan alat tangkap yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis kearifan lokal melalui penguatan peran tokoh adat, yang diintegrasikan dengan program pemberdayaan ekonomi nelayan, merupakan strategi utama yang direkomendasikan untuk mengendalikan praktik penangkapan ikan yang merusak di Kota Jayapura.
Analisis Ekologis dan Kesesuaian Lokasi untuk Budidaya Ikan Kerapu (Epinephelus Sp) Dalam Rangka Pengembangan Minawisata Perairan Kampung Holtekam Distrik Muara Tami Kota Jayapura Papua Vera Kostansie Mandey; Krithopolus Rumbiak; Tamara Kainama; Popi Ida Laila Ayer; Korinus Rejauw; Natan Baransano; Maklon Warpur
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5473

Abstract

Perairan Holtekam merupakan perairan yang ada di Kota Jayapura. Memiliki potensi sumberdaya hayati di wilayah pesisir dan laut seperti terumbu karang yang masih bagus dan merupakan tempat wisata bagi masyarakat. Potensi perairan Kampung Holtekam bila dikembangan untuk budidaya perikanan ikan kerapu akan memberikan pemasukan dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perairan Kampung Holtekam berpotensi tidak hanya sebagai sentra produksi perikanan, namun juga wisata bahari (minawisata). ikan kerapu (Epinephelus sp) termasuk ikan ekonomis penting karena nilai jualnya tinggi, disukai banyak konsumen, bergizi tinggi dan jumlah produksinya besar. Untuk membudidaya ikan kerapu (Epinephelus sp) memerlukan faktor-faktor lingkungan perairan yang sesuai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – Agustus 2024 di perairan Kampung Holtekam Distrik Muara Tami Kota Jayapura. Penelitian ini dilakukan secara insitu pada 4 titik pengambilan data di perairan Pantai Pasir 2. Pada penelitian ini terdapat data primer dan sekunder yang digunakan, pengumpulan data primer dilakukan dengan survey lapangan dan data sekunder diperoleh dari database online/internet. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan beberapa parameter lingkungan perairan yang mencakup kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, Suhu, salinitas, pH, dan DO di perairan Holtekam masing-masing adalah 6-7 m 7-10 m, 0,3-0,32 m/detik, 30,0- 30,2°C, 31,0-32,2%o, 7-7,5, 7,0-7,0. masih sesuai dengan baku mutu. Sedangkan Amoniak (NH3-N) 3,10- 4,20, Nitrat (NO2-N, 1,40- 3, 40 dan Fosfat (PO4 – P) 0,71 - 1,20. Ketiga parameter ini kelompokkan kedalam kelas tidak sesuai (S3).
Performa Transportasi Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus × Epinephelus lanceolatus) pada Variasi Kepadatan Biomassa Menggunakan Wadah Sekunder Vertikal dalam Sistem Tangki Tertutup Bintang Napitupulu; Gede Iwan Setibudi; Kadek Lila Antara
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5516

Abstract

Penentuan kepadatan biomassa yang tepat merupakan faktor krusial dalam meminimalkan stres fisiologis selama distribusi ikan hidup. Penelitian ini bertujuan menimbulkan pengaruh variasi kepadatan (15 kg, 16 kg, dan 17 kg per wadah) terhadap sintasan dan respon respirasi ikan Kerapu Cantang ( Epinephelus fuscoguttatus × E. lanceolatus ) pada simulasi transportasi tertutup selama 72 jam. Menggunakan sistem hiperoksia dan suhu rendah (21,0–22,5°C), hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kepadatan tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup (P > 0,05), dengan tingkat sintasan tetap terjaga di atas 92% pada seluruh perlakuan. Namun peningkatan kepadatan biomassa berpengaruh sangat signifikan (P < 0,05) terhadap Frekuensi Bukaan Operkulum (FBO). Kepadatan 17 kg memicu stres respirasi akut (120 kali/menit) dan kerusakan fisik pada sirip, sementara kepadatan 15 kg menunjukkan kondisi homeostasis paling stabil (75 kali/menit). Disimpulkan bahwa kepadatan 15–16 kg/wadah merupakan standar optimal untuk menjaga kualitas fisik dan kesejahteraan ikan Kerapu Cantang dalam transportasi jarak jauh.
Analisis Kepadatan Benih Terhadap Sintasan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus × E. Lanceolatus) pada Transportasi Sistem Tertutup A. Dzunun Yubi Pradana; Kadek Lila Antara; Hamdanul Fain
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5518

Abstract

Transportasi sistem tertutup merupakan tahapan kritis dalam distribusi benih ikan kerapu yang berpotensi menyebabkan mortalitas tinggi akibat penurunan kualitas lingkungan media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi kepadatan terhadap kelulushidupan (survival rate) benih ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus × E. lanceolatus), serta menentukan kepadatan optimal pada simulasi pengangkutan selama 24 jam. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan kepadatan, yaitu P1 (150 ekor/5 L), P2 (175 ekor/5 L), dan P3 (200 ekor/5 L), masing-masing dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi kelulushidupan serta kualitas air, yaitu suhu, oksigen terlarut (DO), pH, dan amonia. Hasil analisis statistik menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa variasi kepadatan berpengaruh signifikan (P < 0,05) terhadap kelulushidupan benih. Nilai kelulushidupan tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 97,77% ± 1,01, diikuti P2 sebesar 95,23% ± 0,87, sedangkan nilai terendah terjadi pada P3 sebesar 71,06% ± 1,00. Penurunan kelulushidupan pada kepadatan tinggi sejalan dengan degradasi kualitas air, yang ditandai oleh peningkatan konsentrasi amonia hingga 0,3 mg/L serta penurunan oksigen terlarut hingga 5,5 mg/L. Kepadatan 150 ekor per 5 liter merupakan kondisi optimal dalam mempertahankan stabilitas fisiologis benih serta meningkatkan efisiensi transportasi dalam sistem tertutup.
Efektivitas Dosis Probiotik EM4 terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Putu Satria Nugraha; Kadek Lila Antara; Jasmine Masyitha Amelia
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5314

Abstract

Keberhasilan produksi benih ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem budidaya intensif sering terkendala oleh rendahnya efisiensi pemanfaatan nutrien dan tingginya kerentanan terhadap stres lingkungan pada fase awal pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian dosis probiotik EM4 yang berbeda dalam pakan terhadap Laju Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate/SGR) dan Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) benih ikan nila. Penelitian dilaksanakan selama 30 hari di Balai Benih Ikan (BBI) Ringdikit menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu kontrol (0 mL/kg pakan), 10 mL/kg, 20 mL/kg, dan 30 mL/kg pakan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa suplementasi EM4 berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan benih (P < 0,05). Pertumbuhan optimal diperoleh pada dosis 20 mL/kg pakan dengan nilai SGR bobot sebesar 3,02% dan SGR panjang sebesar 3,46%. Tingkat kelangsungan hidup tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan (P > 0,05), namun secara deskriptif dosis 20 mL/kg menghasilkan sintasan tertinggi (90,00%) dibandingkan kontrol (66,67%). Parameter kualitas air selama pemeliharaan berada dalam kisaran optimal sehingga tidak menjadi faktor pembatas. Berdasarkan hasil penelitian, dosis 20 mL/kg pakan menunjukkan efektivitas tertinggi dalam meningkatkan pertumbuhan serta mempertahankan stabilitas sintasan benih ikan nila.
Analisis Keberlanjutan Kota Baubau Sebagai Kawasan Minapolitan Berbasis Ekosistem Budidaya Harbin; Ida Bagus Jelantik Swasta; Alexander Korinus Marantika
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 9 No 1 (2026): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi Mei 2026
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v9i1.5276

Abstract

Kota Baubau ditetapkan sebagai kawasan minapolitan berdasarkan keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia nomor 32/MEN/2010. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan Kota Baubau setelah 15 tahun berstatus sebagai kawasan minapolitan. Penelitian ini hanya akan berfokus pada ekosistem budidaya. Pendekatan penelitian menggunakan motode kuantitatif dan kualitatif (mixed method) dengan melakukan survey lapangan (field studi) terhadap lima dimensi keberlanjutan : ekologi, ekonomi, sosial, hukum kelembagaan, infrastruktur. Untuk mengevaluasi keberlanjutan tersebut, peneliti menggunakan multidimensional scaling dengan bantuan software rapid appraisal for fisheries (MDS-RAPFISH).hasil penelitian ini menujukan status keberlanjutan Kota Baubau sebagai kawasan minapolitan berbasis ekosistem budidaya berada pada kategori berkelanjutan dengan nilai keberlanjutan 71,63 %. Arah pengembangan wilayah minapolitan Kota Baubau menetapkan Kecamatan Lea-Lea, Kecamatan Kokalukuna dan Kecamatan Batupoaro sebagai Kawasan Minapolitan dan menjadikan Kecamatan Bungi, Kecamatan Sorawolio dan Kecamatan Betoambari sebagai wilayah hinterland kegiatan produksi perikanan budidaya.