cover
Contact Name
Ervina Indrayani
Contact Email
acroporapapua@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
acroporapapua@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat Acropora, Gd. Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Uncen Waena. Jl. Kamp Wolker WAENA, Jayapura, Papua
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
ISSN : 26225476     EISSN : 26851865     DOI : https://doi.org/10.31957/
Core Subject : Agriculture,
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua adalah terbitan berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Cenderawasih. Ruang lingkup jurnal fokus pada kajian ilmu kelautan dan perikanan.
Articles 163 Documents
Analisis Perubahan Garis Pesisir Utara Enggros Menggunakan Citra Satelit Landsat Periode 2014–2024 Sumardi, Sitti Rosnafi’an; Kainama, Tamara Louraine Jeanette; Hisyam, Muhammad; Manalu, Kristhoper A. A.
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5037

Abstract

Perubahan garis pantai merupakan indikator penting dinamika pesisir yang dipengaruhi oleh faktor alam dan aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai di Pesisir Utara Enggros, Teluk Youtefa, Kota Jayapura, selama periode 2014–2024 menggunakan citra satelit Landsat. Data yang digunakan meliputi citra Landsat 8 yang telah melalui proses koreksi, masking awan, dan penggabungan tahunan. Metode utama yang diterapkan adalah Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) untuk memisahkan area darat dan perairan, kemudian dilakukan thresholding, morfologi, vektorisasi, serta overlay multi-temporal guna menghitung luasan abrasi dan akresi tiap tahun. Analisis tren temporal dilakukan menggunakan regresi polinomial orde 2–6 untuk mengevaluasi pola perubahan dan memprediksi kondisi hingga tahun 2027. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 2014–2024, wilayah Pantai Enggros mengalami total akresi sebesar 2.157,32 Ha dan abrasi ±1.930,01 Ha, dengan rasio rata-rata perubahan 1,12, yang menandakan dominasi akresi secara umum. Namun, area barat (sekitar Jembatan Merah dan Pantai Ciberi) menunjukkan fluktuasi signifikan, dengan abrasi terbesar terjadi pada 2023–2024 dan puncak akresi pada 2022–2023 ). Model regresi polinomial orde 6 menunjukkan hasil paling sesuai (R2 = 0,845 untuk akresi dan 0,934 untuk abrasi), serta memproyeksikan tren peningkatan abrasi pada 2025–2027. Secara keseluruhan, Pesisir Utara Enggros menunjukkan dinamika pesisir yang kompleks akibat kombinasi proses alami dan aktivitas pembangunan.
Peta Batimetri Perairan Situ Gede, Cilala dan Salabenda di Kabupaten Bogor Panggabean, Grin Tommy; Wulandari, Dwi Yuni Wulandari; Zulmi, Reza; Sulaiman, Goran
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5054

Abstract

Keberadaan situ memiliki peran ekologis dan hidrologis yang penting, di antaranya sebagai penyimpan air hujan, pengendali banjir lokal, sumber air untuk irigasi, habitat biota air tawar, serta penunjang keanekaragaman hayati. Batimetri merupakan ilmu yang mempelajari topografi dasar perairan, baik perairan laut maupun perairan darat seperti danau, waduk, dan sungai. Dalam konteks perairan darat di Indonesia terkhusus di perairan situ di Kabupaten Bogor belum banyak yang memuat informasi peta batimetri situ. Studi batimetri ini memiliki peran penting untuk memahami bentuk dasar perairan, volume air, serta distribusi kedalaman yang memengaruhi sirkulasi air, sebaran organisme, dan proses ekologis lainnya. Teknik interpolasi menggunakan metode Kriging pada ArcGIS 10.8, diperoleh gambaran kontur kedalaman yang jelas, dengan distribusi titik pengukuran yang berbeda pada tiap situ, yaitu 377 titik di Situ Cilala, 1032 titik di Situ Gede, dan 107 titik di Situ Salabenda. Situ Cilala memiliki luas perairan terbesar (108.697,56 m²) dengan kedalaman maksimum ±5 meter, terutama pada bagian utara dan tengah situ. Situ Gede, dengan luas 59.222,20 m², memiliki kedalaman maksimum ±2 meter yang terkonsentrasi di bagian tengah. Kedangkalan pada bagian selatan (kurang dari 1 meter). Sementara itu, Situ Salabenda memiliki luas terkecil (32.291,00 m²) dengan kedalaman maksimum ±4 meter di tengah danau. Secara umum, pola kedalaman ketiga situ memperlihatkan bahwa zona terdalam cenderung berada di tengah atau utara perairan, sedangkan zona dangkal berada di bagian selatan.
Peningkatan dan Efisisensi Pakan Serta Laju Pertumbuhan Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio) Menggunakan Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) Yenusi, Tien Nova B.; Akerina, Joselina; Kubelaborbir, Triana; Ayer, Popi; Ingratubun, Jotje A.; Stevanie, Selmi Y.; Tasak, Albida Rante; Bukorpioper, Iriani Ira; Rumaikeu, Beatrik
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5059

Abstract

Ikan mas merupakan jenis ikan air tawar yang banyak disukai masyarakat karena mengandung protein tinggi dan memiliki daya tarik estetika. Ikan Mas (Cyprinus carpio) juga bernilai ekonomis sehingga sering dijadikan komoditas budidaya. Agar budidaya berjalan optimal, diperlukan produksi yang stabil dari pembudidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tepung daun kelor terhadap efisiensi pakan dan laju pertumbuhan ikan mas. Metode penelitian yang dipakai adalah metode Eksperimen Laboratoris. Data dianalisis dengan menggunakan formula Pertumbuhan Relatif, Efisiensi Pakan, dan Konversi Pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 1 (90% pelet + 10% tepung kelor) menghasilkan pertumbuhan relatif tertinggi yaitu 0,03%, sedangkan perlakuan 3 (80% pelet + 20% tepung kelor) memberikan hasil terendah sebesar 0,003%. Efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan 1 dengan nilai 0,03517 g, dan yang terendah pada perlakuan 4 sebesar 0,03022 g. Nilai konversi pakan terendah juga ada pada perlakuan 1 sebesar 1,9610 g dan tertinggi pada perlakuan  4 dengan nilai 3,9786 g
Literature Review: Kelimpahan Mikroplastik dalam Biota Laut Aryanti, Chairun Annisa; Fatmawati, Fatmawati; Jali, Wa; Mangurana, Wa Ode Intiyani; Simbolon, Maria Yosephine
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5060

Abstract

Permasalahan pencemaran mikroplastik hingga saat ini telah menjadi masalah umum yang terjadi di lingkungan, termasuk pada lingkungan pesisir dan laut. Masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah plastik berasal dari sifatnya yang resisten terhadap degradasi alami. Mikroplastik mengandung zat tambahan yang dapat berfungsi sebagai pembawa polutan lain, yang berpotensi menyebabkan dampak negatif pada biota yang mengkonsumsinya. Artikel ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi terkait kelimpahan mikroplastik yang terdapat dalam organisme laut serta untuk menjawab pertanyaan penelitian tertentu terkait pencemaran mikroplastik dalam organisme laut. Selain itu, artikel ini dapat menjadi baseline data dalam penyediaan data mikroplastik dalam biota laut. Pencarian literatur dalam penelitian ini dilakukan melalui Google Scholar dengan menggunakan kata kunci "mikroplastik dan microplastic in biota”, yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Artikel yang didapat ditapis sesuai topik terkait pencemaran mikroplastik di wilayah pesisir, yang dapat terunduh serta artikel yang terbit sejak 2020-2025. Penelitian ini didukung oleh kajian mendalam terhadap lima artikel ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Hasil tinjauan pustaka menemukan bahwa kelimpahan mikroplastik dalam biota tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya, pengelolaan limbah plastik yang kurang tepat, dan populasi kepadatan di lokasi tersebut. Bentuk mikroplastik tertinggi dari 5 artikel yang di review adalah fiber. Hasil review menunjukkan warna mikroplastik dalam tubuh biota bervariasi, antara lain warna putih, hitam, merah, kuning, biru, coklat, tosca, dan transparan. Limbah mikroplastik tersebut berpotensi masuk ke dalam tubuh biota hingga manusia melalui rantai makanan yang dapat menyebabkan dampak negatif bagi organisme laut dan manusia yang mengkonsumsinya. Berdasarkan hasil literature review, pencemaran mikroplastik di lingkungan perairan dapat menyebabkan kontaminasi pada biota laut.
Analisis Pendapatan Nelayan Tradisional di Kampung Ausem Distrik Pulau Yerui Kabupaten Kepulauan Yapen Rumahorbo, Basa T.; Tuhumena, Lolita; Hisyam, Muhammad; Ayer, Popi Ida Laila; Ramadhan, Guntar; Wardani, Aisy Nur; Oktavia, Ria Puspita Ayu; Afan, Yulianus Cia; Lestari, Dita Anggun
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5067

Abstract

Potensi perikanan tangkap di perairan Kampung Ausem meliputi ikan pelagis dan demersal, serta masyarakat pesisir yang menggunakan pancing ulur untuk menangkap ikan tersebut. Dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan peluang pengembangan, serta kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya di Kampung Ausem, Kabupaten Kepulauan Yerui, sangatlah penting. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis pendapatan nelayan tradisional di Kampung Ausem. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan Juni hingga Agustus 2025 di Kampung Ausem. Secara keseluruhan, ada 23 nelayan yang menggunakan perahu dayung kayu di Kampung Ausem. Mereka berusia di atas 46 tahun, sebagian besar tidak menyelesaikan sekolah dasar, telah menjadi nelayan selama 8 tahun, sebagian besar sudah menikah, dan memiliki 4 hingga 6 anggota keluarga. Karakteristik sosial ekonomi menunjukkan bahwa responden telah tinggal di Kampung Ausem untuk waktu yang lama dan mencari nafkah sebagai nelayan dengan menangkap ikan dan berkebun ketika mereka tidak melaut. Pendapatan bersih yang diperoleh oleh nelayan individu dalam setahun dari kegiatan ini adalah Rp. 60.240.434,78/tahun. Karakteristik sosial ekonomi menunjukkan bahwa responden yang telah tinggal di Kampung Ausem untuk waktu yang lama mencari nafkah sebagai nelayan dengan menangkap ikan dan berkebun ketika mereka tidak melaut. Pendapatan bersih yang diperoleh oleh nelayan individu dalam setahun dari kegiatan ini adalah Rp. 60.240.434,78 per tahun. Dengan demikian, setiap nelayan memperoleh penghasilan bulanan sebesar Rp. 5.020.036,23, sedangkan upah minimum regional (UMR) di Provinsi Papua adalah Rp. 4.285.850. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan nelayan di Kampung Ausem, Kecamatan Pulau Yerui, Kabupaten Kepulauan Yapen.
Pengaruh Tutupan Karang Hidup Terhadap Keanekaragaman dan Dominansi Ikan Karang di Zona Inti KKPD Pulau Palue, NTT Vincentius, Angelinus; Rukminasari, Nita
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5078

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh tutupan karang hidup terhadap keanekaragaman dan dominansi ikan karang di Zona Inti KKPD Pulau Palue, NTT. Penelitian berlangsung sejak Agustus 2024 sampai Desember 2024. Data terumbu karang diambil dengan metode transek foto bawah air, diolah dengan software Coral Point Count with Excel extension, kemudian dinilai sesuai Kepmen. Lingkungan Hidup No.4/2001.  Data ikan karang diambil dengan metode Underwater Visual Census, dianalisis Indeks Keanekaragaman dan Indeks Dominansi, selanjutnya dianalisis regresi. Hasil penelitian, data tutupan karang di 3 stasiun dalam Kategori Kurang Baik, yaitu kategori karang keras sebesar 24,20% di Stasiun Ona; 21,41% di Stasiun Langawai dan 23,18% di Stasiun Watunoni. Kelimpahan ikan karang di Stasiun Ona sebesar 1,97 individu/m2, Stasiun Langawai 0,78 individu/m2 dan Stasiun Watunoni 0,59 individu/m2. Indeks keanekaragaman ikan karang di Stasiun Ona adalah 2,293; Stasiun Langawai 2,591; Watunoni 2,847. Indeks dominansi ikan karang di Stasiun Ona 0,164; Stasiun Langawai 0,148; dan Stasiun Watunoni 0,112. Pengaruh tutupan karang hidup terhadap keanekaragaman ikan karang dinyatakan dalam persamaan regresi polinomial: Y = 0,0004X2 – 0,0656X + 3,0791. Nilai r sebesar 0,709 menunjukkan korelasi kuat antara variabel X dan Y. Nilai R2 sebesar 0,5029 menjelaskan bahwa variabel X (tutupan karang hidup) dapat mempengaruhi 50,29% dari variabel Y (indeks keanekaragaman ikan karang), dan sebesar 49,71% nilai indeks keanekaragaman ikan karang (Y) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Hubungan tutupan karang hidup dan dominansi ikan karang dalam persamaan regresi polinomial: Y = 9E-06X2 - 0.0014X + 0.1807. Nilai r sebesar 0,521 menunjukkan adanya korelasi positif yang sedang antara variabel X dan Y. Nilai R2 sebesar 0,272 menjelaskan bahwa variabel X (tutupan karang hidup) dapat mempengaruhi 27,2% dari variabel Y (indeks dominansi ikan karang), dan sebesar 72,8% variasi indeks dominansi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian.
Kualitas Air Media Budidaya Nila (Oreochromis niloticus): Efek Pakan Bersinbiotik EM4 dan Tepung Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Wildanti Arifaddini; Gede Ari Yudasmara; Made Dwipa Kusuma Maharani
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5079

Abstract

Peningkatan produksi Oreochromis niloticus dalam sistem budidaya intensif sering terhambat oleh penurunan kualitas air akibat akumulasi limbah organik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pakan bersinbiotik, kombinasi Probiotik EM4 dan Prebiotik tepung ubi jalar (Ipomoea batatas L.), dalam memitigasi senyawa nitrogen toksik dan memperbaiki ekosistem perairan. Penelitian eksperimental dengan pendekatan deskriptif selama 30 hari, ini membandingkan tiga perlakuan: Kontrol (tanpa sinbiotik), Dosis A (Probiotik 1% + Prebiotik 2%), dan Dosis B (Probiotik 2% + Prebiotik 1,5%). Parameter yang diukur meliputi amonia, nitrit, nitrat, dan komposisi plankton. Hasil menunjukkan perlakuan sinbiotik secara signifikan menjaga kualitas air. Perlakuan Kontrol mengalami akumulasi nitrit sangat tinggi, mencapai 35,67 mg/L, yang berakibat pada mortalitas. Sebaliknya, Dosis A dan B berhasil mengendalikan kadar amonia dan nitrit, menunjukkan peningkatan efisiensi siklus nitrifikasi. Dosis A (1% Probiotik, 2% Prebiotik) terbukti paling optimal, memicu pertumbuhan masif plankton (biofilter alami) dengan kelimpahan tertinggi (4,97 x 106 ind/mL) di akhir penelitian. Simpulan, pemberian pakan bersinbiotik, khususnya Dosis A, merupakan strategi manajemen kualitas air yang efektif dalam menciptakan lingkungan budidaya yang seimbang.
Dinamika Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perspektif Sosio Kultur, Kesehatan dan Kebijakan di Teluk Numbay Kota Jayapura Kainama, Tamara Louraine Jeanette; Dosinaeng, Antonius Satrio Wicaksono; Lekitoo, Brayon Virgil; Krisifu, Pasca Fransiscus Izaak
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5091

Abstract

Air merupakan sumber daya fundamental yang menopang kehidupan dan aktifitas semua organisme. Sumber daya air harus dikelola secara berkelanjutan untuk melindungi lingkungan dan kegunaannya bagi kehidupan manusia dan organisme lain. Namun, pencemaran yang diakibatkan limbah rumah tangga (domestik), limbah industri, limbah pertanian, penggunaan pestisida, kepadatan populasi, sanitasi yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat serta pertumbuhan penduduk dari segi sosial dan kultur. Teluk Numbay adalah salah satu bagian dari rangkaian kenampakan alam perairan yang ada di wilayah Kota Jayapura. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui dampak dari pencemaran dari faktor kesehatan dan sosio kultur. Berdasarkan hasil yang didapatkan, Akibat pencemaran lingkungan yang terjadi diwilayah Sungai Anafre, sebagian masyarkat menderita beberapa penyakit kulit Dermatitis Iritan yang terkonfirmasi Laboratorium pada tahun 2025 di Puskesmas Jayapura Utara sebanyak 51 orang dengan nilai tertinggi terjadi pada Bulan Juli, dengan angka kejadian sebesar 30 pasien dengan presentasi 58,8%. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi pencemaran diimplementasikan dalam Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 10 Tahun 2007.
Dinamika Keuntungan Usaha Sero: Tinjauan Dari Sisi Biaya dan Harga Pasar di Desa Tapulaga, Konawe Irmawan, Irmawan; Annaastasia, Nurhuda; Siang, Roslindah Daeng
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5116

Abstract

Sero merupakan alat tangkap pasif yang bersifat menetap, vital sebagai sumber mata pencaharian nelayan tradisional. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur biaya, selisih harga, serta profitabilitas usaha perikanan tangkap sero oleh nelayan skala kecil di Desa Tapulaga, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. enelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan metode sensus (total sampling) terhadap seluruh unit usaha sero yang beroperasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha sero memiliki efisiensi biaya yang luar biasa dengan rata-rata Harga Pokok Penjualan (HPP) yang sangat rendah, yaitu Rp5.902,14/kg. Total biaya produksi bervariasi antar lokasi, dengan sero di habitat Mangrove mencatat pengeluaran tertinggi (Rp1.234.139/bulan) dan Padang Lamun terendah (Rp1.056.236/bulan). Meskipun demikian, profitabilitas dijamin oleh margin bruto yang sangat lebar, terutama untuk ikan komoditas bernilai tinggi seperti Baronang dan Kuwe, yang selisih harganya mencapai hingga Rp44.496,97/kg di zona Terumbu Karang. Secara finansial, Padang Lamun memberikan keuntungan bulanan per unit sero tertinggi (Rp5.885.430,56), diikuti oleh Mangrove (Rp5.645.861,11). Total keuntungan bersih bulanan mencapai Rp16.265.263,89, menegaskan bahwa usaha sero merupakan solusi ekonomi yang ideal dan berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan nelayan tradisional.
Studi Penilaian Kerentanan Elevasi dan Kemiringan Pesisir Pulau Biak Terhadap Kenaikan Muka Air Laut Hamuna, Baigo
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 8 No 2 (2025): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Edisi November 2025
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v8i2.5119

Abstract

Penilaian kerentanan wilayah pesisir terhadap kenaikan permukaan laut merupakan salah satu aspek penting dalam menilai dampak perubahan iklim. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan secara spasial tingkat kerentanan elevasi dan kemiringan wilayah pesisir Pulau Biak (Kabupaten Biak Numfor) terhadap ancaman kenaikan permukaan laut. Area studi dibatasi hingga 500 m dari garis pantai ke arah daratan (383 grid cells). Kami menggunakan data Digital Elevation Model (DEM) dari DEM-Nasional (DEMNAS) yang diproduksi oleh Badan Informasi Geospatial, Indonesia untuk menentukan kerentanan elevasi dan kemiringan pesisir. Perangkat lunak ArcMap 10.8.1 digunakan untuk pengolahan data DEM dan analisis spasial kerentanan pesisir. Hasil studi menunjukkan distribusi spasial tingkat kerentanan pesisir yang berbeda antara variabel elevasi dan kemiringan pesisir. Tingkat kerentanan berdasarkan variabel elevasi pesisir antara lain kategori risiko sangat rendah 52,52% (127,08 km), kategori risiko rendah 20,96% (50,71 km), kategori sedang 17,21% (41,63 km), kategori risiko tinggi 6,71% (12,22 km) dan kategori risiko sangat tinggi 2,62% (6,33 km). Adapun variabel kemiringan pesisir menghasilkan tingkat kerentanan risiko sangat rendah 26,11% (63,19 km), risiko rendah 33,96% (82,19 km), risiko sedang 20,04% (48,49 km), risiko tinggi 18,37% (44,46 km) dan risiko sangat tinggi 1,51% (3,66 km). Variabel kemiringan pesisir memberikan tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan elevasi pesisir. Namun, kedua variabel tersebut secara bersama memberikan tingkat kerentanan yang tinggi untuk wilayah pesisir Distrik Biak Kota dan tingkat kerentanan yang rendah untuk wilayah pesisir Distrik Yendidori dan Bondifuar