cover
Contact Name
Ervina Indrayani
Contact Email
acroporapapua@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
acroporapapua@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat Acropora, Gd. Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Uncen Waena. Jl. Kamp Wolker WAENA, Jayapura, Papua
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
ISSN : 26225476     EISSN : 26851865     DOI : https://doi.org/10.31957/
Core Subject : Agriculture,
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua adalah terbitan berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Cenderawasih. Ruang lingkup jurnal fokus pada kajian ilmu kelautan dan perikanan.
Articles 163 Documents
Pertumbuhan Karang Pocillopora verucossa dan Stylophora pistillata Menggunakan Substrat Semen: Analisis Morfologi dan Data Lingkungan Wijayanti, Lady; Unbekna, Sara; Djumanto, Djumanto; Y Setiawan, Riza; Khoerunnisa, Nurani; I C Utama, Mochhamad; A Nugraha, Tito; Djalil, Mukhlisnah; R Firdaus, Mochamad
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4187

Abstract

Arsitek kecil berupa terumbu karang yang memberikan warna-warni di bawah laut ternyata dapat mendukung 25% kehidupan di laut. Namun, para ilmuan memprediksi bahwa 60% terumbu karang dunia akan mati sepenuhnya pada tahun 2050 jika kerusakan terus berlanjut. Salah satu cara menanggulanginya adalah dengan transplantasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat dan laju pertumbuhan dari karang Pocillopora verrucosa dan Stylophora pistillata yang ditransplantasi menggunakan media semen. Pengambilan data dilakukan setiap minggu selama 3 bulan (Oktober 2016 – Januari 2017) di Pantai Serangan, Bali. Penelitian dilakukan dengan mengukur lebar, tinggi, jumlah cabang, dan parameter lingkungan. Pertumbuhan diukur dengan jangka sorong (ketelitian 0,05 mm). Parameter lingkungan perairan yang diukur adalah suhu air, pH air, dan salinitas. Hasil peneltian menunjukkan pertumbuhan lebar, tinggi, cabang meningkat hingga mencapai masing-masing 5,89 mm; 10,28 mm; 8 cabang/fragmen (P.verucossa), dan 8,84 mm; 13,01 mm; 16 cabang/fragmen (S. pistillata). Pertumbuhan dan laju pertubuhan menunjukkan bahwa S. pistillata lebih cepat dari pada P.verucossa, dan pertumbuhan lebar lebih cepat dari pada tinggi untuk kedua jenis karang. Laju pertumbuhan lebar dan tinggi kedua jenis karang pada awal pengamatan mengalami penurunan yang signifikan, hal ini berbanding lurus dengan suhu (32,33°C) dan salinitas (35,33 ppt) sebagai nilai tertinggi yang didapatkan pada minggu awal penelitian. Pemilihan jenis karang yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan akan memberikan keberhasilan transplantasi karang.
Makrozoobentos sebagai Indikator Biologis dalam Menentukan Kualitas Air Sungai Hubai/ Kali Jembatan Dua Kabupaten Jayapura Mantayborbir, Vyona; Agamawan, Lalu Panji Imam; Indrayani, Ervina; Wenda, Yukiur; Kalor, John Dominggus; Numberi, Yulindra Margaretha
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4191

Abstract

Sungai Hubai/ Kali Jembatan Dua adalah salah satu Sungai yang bermuara di Danau Sentani. Informasi keanekaragaman makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas air Sungai ini masih sangat minim bahkan belum ada. Penilaian status kualitas air di Sungai Hubai adalah langkah krusial dalam menjaga dan memelihara kesehatan lingkungan, serta pengelolaan ekosistemnya, demi kesejahteraan masyarakat setempat terutama sungai ini bermuara pada Danau Sentani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah jenis makrozoobenthos yang terdiri dari 2 kelas, yaitu kelas Gastropoda (1 genus) dan Insecta (2 genus). Kelimpahan di semua stasiun adalah sama, yaitu 1 ind/m2. Indeks keanekaragaman (H') memiliki indeks keanekaragaman dalam kategori keanekaragaman rendah. Indeks keseragaman (E') memiliki indeks keseragaman dengan kategori keseragaman komunitas rendah. Indeks dominasi (D) tidak memiliki dominasi yang bervariasi. Nilai status kualitas air berdasarkan tiga stasiun penelitian menunjukkan bahwa perairan Sungai Jembatan, Kota Jayapura termasuk dalam kategori tercemar berat dan beberapa parameter kualitas air yang diamati dalam penelitian telah melebihi batas standar kualitas yang telah ditetapkan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Sungai Jembatan Dua, Kota Jayapura, telah tercemar berat akibat limbah penambangan emas. Indikator kualitas air, termasuk makrozoobenthos, menunjukkan keanekaragaman dan keseragaman komunitas yang rendah. Beberapa parameter kualitas air juga melebihi standar kualitas, mengkonfirmasi kondisi polusi yang serius.
Komposisi dan Diversitas Hasil Tangkapan Pancing Ulur di Pulau Panggang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Khoerunnisa, Nurani; Ayu Sri Wijayanti, Lady; Budi Pratama, Gilar; Dzulpikah Darojat, Hanif
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4192

Abstract

Nelayan di Pulau Panggang dan Kepulauan Seribu sering melakukan operasi penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap pancing ulur. Penangkapan ikan dengan pancing ulur dinilai efektif dalam menangkap ikan karena ramah lingkungan. Namun demikian, penelitian yang menyatakan seberapa selektifnya alat tangkap ini dengan menunjukkan komposisi dan indeks keanekaragaman hasil tangkapan alat tangkap pancing ulur masih sedikit. Kurangnya penelitian ini mengakibatkan kekurangan data sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan pengelolaan sumber daya. Tujuan penelitian adalah menghitung komposisi spesies hasil tangkapan dan keanekaragaman hasil tangkapan pancing ulur di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif untuk menghitung komposisi jenis tangkapan dan keanekaragaman hasil tangkapan alat tangkap pancing ulur dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener. Alat tangkap pancing ulur di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu berhasil menangkap 10 jenis ikan pelagis dan demersal, yaitu tenggiri (Scomberomorus commerson), layaran (Istiophorus sp), tongkol (Auxis thazard), lemadang (Coryphaena hippurus), cendro (Tylosurus crocodilus), cucut (Rhizoprionodon acutus), dan ikan gabus (Channa striata). Sementara itu, ikan demersal yang cenderung hidup di dasar laut terdiri dari ikan kakap (Lutjanus argentimaculatus), lencam (Lethrinus sp), dan ikan kerapu (Ephinepelus sp). Jenis ikan yang paling banyak tertangkap adalah ikan tenggiri (33%), sedangkan ikan budun merupakan jenis ikan yang paling sedikit tertangkap (1%). Indeks keanekaragaman menghasilkan nilai H' = 1,96, artinya keanekaragaman hasil tangkapan pancing ulur di Pulau Panggang termasuk dalam kategori sedang. Nilai ini menunjukkan bahwa keanekaragaman alat tangkap tergolong tinggi, tetapi selektivitasnya tergolong rendah.
Kelimpahan dan Jenis Sampah Padat di Pesisir Pantai Wisata Pasir Putih, Manokwari. Rumayomi, Elly Airand; Sala, Ridwan; Purba, Gandi Y. S.
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4198

Abstract

Pantai Pasir Putih di Manokwari merupakan salah satu destinasi wisata yang mengalami permasalahan pencemaran lingkungan akibat akumulasi sampah padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelimpahan dan jenis sampah padat yang terdapat di pesisir pantai tersebut, serta memberikan rekomendasi pengelolaan sampah yang efektif. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan pengumpulan data langsung mengenai jenis, jumlah, dan berat sampah padat. Sampel sampah dikategorikan menjadi plastik, styrofoam, kaca, dan kaleng. Data dianalisis untuk menentukan jumlah potongan sampah per meter persegi, berat sampah per meter persegi, serta proporsi relatif masing-masing jenis sampah terhadap total sampah yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah plastik mendominasi dengan jumlah potongan sebanyak 475 item dan berat total 8,91 kg, yang merepresentasikan 92,23% dari total jumlah potongan sampah dan 76,81% dari total berat sampah. Styrofoam ditemukan sebanyak 16 potongan dengan berat 1,2 kg, kaca sebanyak 9 potongan dengan berat 0,88 kg, dan kaleng sebanyak 15 potongan dengan berat 0,61 kg. Meskipun jumlah styrofoam relatif kecil, berat relatifnya cukup signifikan yaitu 10,34% dari total berat sampah.
PEMURNIAN MINYAK IKAN SARDIN (Sardinella sp.) HASIL SAMPING PENEPUNGAN DARI BALI Haryati, Kristina; Jenmau, Irja Sepriyanto; Sinaga, Yohana Yana; Wandikbo, Irfan
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4208

Abstract

Ikan sardin atau lemuru adalah kelompok dari ikan pelagis yang banyak dijumpai di perairan Selat Bali. Ikan ini dimanfaatkan dalam industri pengalengan maupun industri penepungan, dimana hasil samping pengolahan tersebut menghasilkan limbah berupa minyak ikan. Minyak ikan yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali, namun memiliki kualitas yang rendah dikarenakan banyaknya komponen pengotor (asam lemak bebas, bilangan peroksida dan sebagainya), sehingga perlu dilakukan pemurnian. Tahapan pemurnian yang dilakukan meliputi degguming, netralisasi, dan bleaching. Tahapan degumming dilakukan untuk menghilangkan senyawa berlendir atau fosfatida dengan menggunakan asam sitrat, tahapan netralisasi untuk menghilangkan asam lemak bebas yang direaksikan dengan NaOH, tahapan bleaching untuk memperbaiki warna dan menghilangkan komponen pengotor yang tidak hilang saat tahapan netralisasi menggunakan magnesol XL. Pengujian parameter oksidasi yang dilakukan meliputi pengujian kadar asam lemak bebas (FFA), bilangan peroksida (PV), bilangan asam (AV), nilai anisidin (AnV), dan total oksidasi (Totox). Hasil menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai parameter oksidasi setelah dilakukan pemurnian yaitu FFA 0,17%; PV 3,99 meq/kg; AV 0,38 mg KOH/g; AnV 8,54 meq/kg; Totox 16,52 meq/kg. Dengan demikian, disimpulkan bahwa serangkaian teknik pemurnian dapat menurunkan nilai parameter oksidasi minyak ikan kasar sehingga memenuhi International Fish Oil Standard (IFOS).
Validasi Udang Air Tawar Caridina gracilipes Danau Sentani Menggunakan Pendekatan DNA Barcoding Agamawan, Lalu Panji Imam; Kogoya, Riki; Nazal, Muhammad Asghar; Suhendro, Maulid Dio
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4250

Abstract

Danau Sentani merupakan danau terbesar di Provinsi Papua yang masuk dalam wilayah pemerintahan Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Salah satu sumberdaya perikanan penting yang belum dimanfaatkan dengan baik di daerah Danau Sentani adalah udang air tawar. Informasi kejelasan dari suatu spesies, terutama sumberdaya perairan Danau Sentani, khususnya udang air tawar Caridina gracilipes masih sangat minim. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan validasi secara genetik udang air tawar Caridina gracilipes yang berada pada perairan Danau Sentani. Metode yang digunakan adalah metode Barcoding DNA Mitokondria, gen COI. Gen COI ketiga sampel berhasil diamplifikasi dengan panjang basa 767 (SpS01), dan 686 (SpS02 dan SpS03). Hasil pensejajaran pada Gen Bank NCBI dengan aplikasi BLAST menunjukkan kemiripan sampel nukleotida SpS01 99.54%, SpS02 sebesar 99.85% dan SpS03 sebesar 100% dengan data GenBank NCBI yaitu Caridina gracilipes. Hasil BLAST diperkuat juga dengan pohon filogenetik, yang menunjukkan bahwa ketiga sampel (SpS01, SpS02, dan SpS03) berada pada satu kelompok spesies Cardina gracilipes.
Estimasi Kandungan Karbon dan Biomassa Hutan Mangrove Teluk Youtefa Kota Jayapura Yonas, Marcelino N.; Tanjung, Rosye H. R.; Rejauw, Korinus; Paiki, Kalvin
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4277

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Mangrove menyerap CO2 pada saat proses fotosintesis, kemudian mengubahnya menjadi karbohidrat dengan menyimpannya dalam bentuk biomassa pada akar ,pohon, serta daun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui total above ground biomass, belowground biomass, simpanan karbon atas, simpanan karbon bawah, dan karbon organik pada sedimen dasar di Hutan Mangrove Demta. Sampling dilakukan dengan metodepurposive sampling dengan dasar pertimbangan berupa jenis, kerapatan serta diameter pohon mangrove. Estimasi biomassa digunakan metode tanpa pemanenan dengan mengukurdiameter at breast height (DBH, 1.3 m) mangrove. Berdasarkan hasil penelitian mangrove secara lansung di lapangan, diperoleh Kerapatan mangrove, Biomassa Mangrove, Stok Karbon Mangrove, Cadangan Karbon Organik Tanah dan Total Karbon mangrove di Teluk Youtefa bervariasi. Mangrove di Teluk Youtefa terdiri dari dua tipe vegetasi yaitu vegetasi primer dan sekunder, adapun hasil penelitian dapat dilakukan pada vegetasi primer. Kondisi ekoekosistem mangrove disekitarnya merupakan mangrove tua dengan kondisi tegakan yang didominasi oleh strata pohon, adapun dari hasil survei lapangan diketahi mangrove tersebut memiliki potensi ekonomi terutama kepentingan parawisata dan pemukiman masyarakat Kampung Naffri, Engggros dan Tobati. Hasil analisis karbon organic tanah pada lokasi penelitian berberda pada kedua stasiun, hasil penelitian ditemukan pada stasiun 1 berkisar antara 1.025 – 1.029 ton/m², total karbon diperoleh 3.079 ton/m² dan rata-rata 1.026 ton/m². Stasiun berkisar antara 1.936-1.941 ton/m², total karbon 5.819 ton/m² dan rata-rata 1.940 ton/m²
Estimasi Stok Biomassa Karbon Mangrove Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2A di Teluk Maumere Bagian Barat Vincentius, Angelinus; Parera, Guido Roberto Jerun; Woda, Marianus Raymond Roky
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4282

Abstract

Ekosistem mangrove di wilayah pesisir memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar pada biomassa tegakan. Teluk Maumere bagian barat di Kabupaten Sikka Provinsi NTT memiliki 2 lokasi sentra mangrove yaitu Magepanda dan Kampung Garam. Ekosistem mangrove perlu dijaga dan dipertahankan karena bernilai ekonomis dan ekologis. Namun cadangan karbon yang saat ini tersimpan pada mangrove tersebut belum diketahui jumlahnya karena tidak adanya data inventarisasi mengenai hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi cadangan karbon di atas permukaan pada hutan mangrove di Teluk Maumere bagian barat dengan menggunakan citra Sentinel-2A. Penelitian dimulai bulan Juni 2024 sampai September 2024. Nilai cadangan karbon diperoleh dari persamaan regresi berdasarkan data indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan cadangan karbon aktual berdasarkan persamaan alometrik (above ground biomass). Penentuan titik sampel menggunakan teknik stratified sampling. Jumlah titik sampel sebanyak 16 titik, berupa plot berukuran 10x10 m2. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linear, polinomial, eksponensial, dan uji akurasi. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa persamaan regresi polinomial menghasilkan nilai koefisien determinasi (R2) yang paling tinggi yaitu sebesar 0,8574 sehingga dipilih sebagai model penduga atau estimasi stok karbon permukaan. Persamaan regresi polinomial y = -255,61x2 + 494,84x – 154,45 dimana y adalah karbon dan x adalah nilai NDVI. Indeks vegetasi NDVI mempunyai korelasi yang erat dengan cadangan karbon sebesar 85,74% (R² = 0,8574). Luas hamparan mangrove sebesar 100,82 ha. Total cadangan karbon di atas permukaan pada tegakan mangrove di Teluk Maumere bagian barat mencapai 5.860,59 ton C dengan nilai rata-rata sebesar 58,13 ton C/ha.
Potensi Ekstrak Senyawa Spons Laut Jenis Aplysina aerophoba Asal Perairan Base-G Sebagai Antibakteri Eschericia coli dan Sthaphylococcus aureus Ayer, Popi; Mantayborbir, Vyona; Bukorpioper, Iriani Ira; Rejauw, Korinus; Mandey, Vera K.
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4292

Abstract

Spons laut adalah salah satu organisme laut yang banyak menghasilkan senyawa bioaktif yang bermanfaat dalam bidang farmasi dan kedokteran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji potensi senyawa dari spons laut jenis Aplysina aerophoba sebagai antibakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Lokasi pengambilan sampel spons berada di Perairan Base-G Kota Jayapura. Metode yan digunakan untuk uji aktivitas antibakteri yaitu metode Difusi agar (Kirby Bauer) dan metode yang digunakan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif yaitu melalui Pemeriksaan Fitokimia. Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak spons A. aerophoba    terhadap bakteri E. Coli yaitu pada konsentrasi 50% dihasilkan 6,26 ± 0,55 dengan kriteria Sedang dan terhadap Sthaphylococcus aureus pada konsentrasi 50% dihasilkan 1,2 ± 0,45 dengan kriteria Lemah. Masing-masing zona hambat yang dihasilkan ekstrak spons tersebut lebih kecil dibandingkan dengan zona hambat yang dihasilkan oleh control positif yaitu sebesar 7,67 ± 0,14 untuk Escherichia  coli  dan 1,67 ± 0,16 untuk Sthaphylococcus aureus. Kandungan senyawa bioaktif yang terkandung didalam spons A. aerophoba     dari perairan Base-G berdasarkan hasil uji Fitokimia yaitu Flavonoid, Alkaloid, Streoid dan Terpenoid.
Pemetaan Kesehatan Mangrove dan Struktur Komunitas Ikan di Pantai Lampu Satu Kabupaten Merauke Provinsi Papua Selatan. Welliken, Marius Agustinus; Laiyan, David; Situmorang, Ferdinand
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.4314

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir dengan memiliki keanakaragaman tinggi baik ikan maupun fauna lainya. Ekosistem dengan tingkat gangguan sedang hingga tinggi, seperti mangrove di pantai Lampu Satu, Kabupaten Merauke, yang berada dekat dengan pemukiman penduduk dan dipengaruhi oleh aktivitas penggalian pasir, sehingga diduga memiliki tingkat gangguan yang signifikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status kesehatan mangrove dan struktur komunitas ikan serta hubungan kerapatan mangrove dengan kelimpahan ikan. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan yaitu dari bulan Oktober - November 2023 di pantai Lampu Satu Kabupaten Merauke Papua Selatan, Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis Normalized Different Vegetation Indeks (NDVI), analisis struktur komunitas ikan dan analisis model regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan luasan mangrove di wilayah Lampu Satu Merauke sebesar 135 ha. Dari total luas tersebut 82 ha merupakan daerah mangrove dengan kondisi baik yang memiliki luasan 61 %, sedangkan 51 ha merupakan daerah mangrove dengan kondisi normal yang memiliki luasan 38%, 2 ha merupakan daerah mangrove dengan kondisi buruk yang memiliki luasan 1%. Sedangkan kerapatan mangrove pada ketiga stasiun yang dihitung berdasarkan jumlah individu mangrove dan perbandingan luas area diperoleh Stasiun I dengan 767 individu/ha, menunjukkan tingkat kerusakan mangrove yang rusak; Stasiun II dengan 1.457 individu/ha, menunjukkan tingkat kerusakan mangrove yang baik; dan Stasiun III dengan 1.500 individu/ha, menunjukkan tingkat kerusakan mangrove yang baik. Berdasarkan hasil struktur komunitas ikan menunjukkan bahwa jumlah hasil tangkapan ikan sebanyak 57 ekor dari 4 spesies yang tersebar pada tiga stasiun penelitian. Berdasarkan hasil analisis indeks keanekaragaman untuk ketiga stasiun termasuk dalam kategori sedang dan indeks keseragaman ketiga stasiun menunjukkan kondisi kurang stabil serta indeks dominansi ketiga stasiun ditemukan nilai indeks dominansi yang rendah. Hasil analisis korelasi antara kerapatan mangrove dan kelimpahan ikan menunjukkan bahwa terjadi korelasi yang kuat antara kerapatan ekosistem mangrove dan hasil tangkapan ikan.