cover
Contact Name
Agustinus Dwi Nugroho
Contact Email
dwinugr1990@gmail.com
Phone
+6285643909853
Journal Mail Official
jurnalsense@isi.ac.id
Editorial Address
Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis No.KM.6, RW.5, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sense : Journal of Film and Television Studies
ISSN : 26557916     EISSN : 27152359     DOI : https://doi.org/10.24821/sense
Sense: Journal of Film and Television Studies is published twice a year (Juni and December) issued by the Faculty of Art and Record Media, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sense provides open access to the public to read abstracts and complete papers. Sense focuses on Television and Film studies. Each edition, Sense receives a manuscript that focuses on the following issues with an interdisciplinary and multidisciplinary approach, which are: 1. Television Studies 2. Film Studies 3. Communication Strategies in the Field of Television and Film 4. Communication Models Used in the Field of Television and Film 5. The Study of Media Texts in Television Program and Film 6. Marketing Studies on Television and Film 7. Management Studies on Television and Film
Articles 104 Documents
MEMBANGUN VISUAL STORYTELLING DENGAN KOMPOSISI DINAMIK PADA SINEMATOGRAFI FILM FIKSI “ASMARADANA” Tri Adi Prasetyo; Dyah Arum Retnowati; Latief Rakhman Hakim
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 1, No 2 (2018): SENSE
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.818 KB) | DOI: 10.24821/sense.v1i2.3492

Abstract

Karya tugas akhir penciptaan seni yang berjudul Membangun Visual Storytelling Dengan Komposisi Dinamik Pada Sinematografi Film Fiksi “Asmaradana” merupakan sebuah karya film pendek yang mengangkat kisah sepasang suami istri yang baru saja menikah. Konflik utama yang terjadi adalah tokoh Jaya selalu mengorbankan perasaan dan fisiknya demi bukti cinta kepada tokoh Ratih, tetapi justru Ratih mengalami atau menderita sebuah kelainan seksual.Secara umum film dapat dibagi atas dua unsur pembentuk yakni, unsur naratif dan unsur sinematik. Di dalam unsur sinematik terbagi menjadi beberapa bagian yaitu sinematografi, mise-en-scene, editing, dan suara. Sinematografi dapat dikatakan sebagai menulis dengan cahaya ke dalam sebuah gerakan gambar, sehingga sangat bergantung serta berhubungan erat pada bidang fotografi.Konsep estetik pada penciptaan karya seni film fiksi “Asmaradana” menggunakan komposisi dinamik sebagai media untuk membangun sebuah visual storytelling pada film fiksi. Visual Storytelling adalah penyampaian cerita secara naratif melalui urutan kejadian-kejadian tertentu dengan menggunakan image- image visual atau grafik, baik bergerak maupun diam. Penggunaan komposisi dinamik pada sinematografi film fiksi “Asmaradana” bertujuan untuk menyampaikan ketidakharmonisan antar karakter tokoh cerita, melalui dominasi ukuran dan posisi objek utama pada penataan elemen-elemen visual komposisi gambar di dalam bidang sinematografi.
Penerapan Model Hero’s Journey untuk Mengembangkan Karakter Tokoh Utama Lewat Kisah Petualangan pada Penulisan Skenario Fiksi “A Boy and The Legend of South Sea” Khoironnisa Wildayanti; Dyah Arum Retnowati; Endang Mulyaningsih
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.846 KB) | DOI: 10.24821/sense.v4i1.5852

Abstract

ABSTRAKPenciptaan skenario fiksi “A Boy and The Legend of South Sea” merupakan skenario dengan genre fantasi petualangan yang mengisahkan perjuangan seorang anak laki-laki tenggelam kemudian masuk ke dalam peradaban manusia di bawah laut, ia ingin kembali ke daratan tetapi dilarang oleh pemimpin peradaban tersebut. Sumber ide dari penulisan skenario ini terinspirasi dari isu kontroversi seputar Atlantis benua yang hilang berada di Indonesia dan adanya dua tokoh legenda kepercayaan masyarakat Jawa tentang penguasa laut selatan. Keresahan mengenai isu lingkungan juga menjadi sumber ide cerita. Ide tersebut kemudian dikemas menjadi cerita fantasi petualangan yang menyasar target audience remaja. Penuturan cerita menggunakan model Hero’s Journey yang di setiap babaknya terdapat 12 tahapan cerita. Skenario ini juga mengajak penonton ikut berpetualang di bawah laut dan mengunjungi tempat yang belum pernah dilihat sebelumnya. Penciptaan skenario ini dibuat untuk film berdurasi 90 menit, diharapkan film ini dapat menjadi sarana hiburan yang edukatif dan juga menarik.Kata kunci: Skenario fiksi, Hero’s Journey, Petualangan
DYNAMIC SHOT UNTUK MEMPERKUAT REALITAS PADA SINEMATOGRAFI FILM MOCKUMENTARY “BOOKING OUT” Khanif Irkham Muzaki; Arif Eko Suprihono; Latief Rakhman Hakim
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.824 KB) | DOI: 10.24821/sense.v3i2.5108

Abstract

ABSTRACTThe final project of art creation entitled "Dynamic Shot to Strengthen Reality in The Cinematography of Mockumentary film production “Booking Out” is taking form in a mockumentary film that raises the issue of sexuality in Indonesian society, especially at the city of Yogyakarta.  The film tells the story of a fake online sex worker who wants to gain profit by tricking a man on the internet whose think that he is a sexual worker and paying him money, but in the end he's being caught by the police because of fraud, exploitation, misuse of data along with his sister-in-law's report to the police. Mockumentary film is a work of fictional film which has a visual structure resembling a documentary film and must be able to build its own reality.  Cinematography is one of the fragment of how filmmaker could tell a narrative through visuals and it consists of three aspects, namely camera film, framing and image duration, and that should be one of the main concerns in the creation of a mockumentary film.  The use of dynamic shot as a cinematographic concept in the creation of a mockumentary film "Booking Out" can maximize the exploration of motion on the camera through the use of long take, handheld, and zoom techniques, this is useful as an enhancer of the reality especially in the visual look and mood or atmosphere of the mockumentary film. Keyword : Cinematography, Dynamic Shot, Reality, Mockumentary Film  ABSTRAK            Karya tugas akhir penciptaan seni berjudul Dynamic Shot Untuk Memperkuat Realitas Pada Sinematografi Film Mockumentary “Booking Out” merupakan sebuah karya film mockumentary yang mengangkat isu seksualitas di masyarakat Indonesia, khususnya kota Yogyakarta. Film Mockumentary “Booking Out” bercerita mengenai seorang pekerja seks online palsu, menginginkan keuntungan banyak dari pekerjaannya, namun justru tertangkap polisi karena kasus penipuan, eksploitasi, dan penyalahgunaan data dengan pelapor adik iparnya sendiri.Film mockumentary merupakan sebuah karya film fiksi yang  memiliki struktur visual menyerupai film dokumenter haruslah dapat membangun sebuah realitas kehidupan yang nyata. Sinematografi sebagai salah satu bagian dari cara bertutur sebuah film melalui visual terdiri dari tiga aspek yaitu kamera dan film, framing serta durasi gambar, patutlah menjadi salah satu perhatian utama dalam penciptaan sebuah film mockumentary. Penggunaan dynamic shot sebagai konsep sinematografi pada penciptaan film mockumentary “Booking Out”  dapat memaksimalkan eksplorasi gerak pada kamera melalui penggunaan teknik longtake, handheld, dan juga zoom, hal ini berguna sebagai pemerkuat realitas look (nuansa) dan mood (suasana) sebuah film mockumentary. Kata Kunci : Sinematografi, Dynamic Shot, Realitas, Film Mockumentary
MEMPERKENALKAN DUNIA BINATANG MELALUI PENYUTRADARAAN PROGRAM MAGAZINE SHOW “FUNTASY ZOO” EPISODE KUCING DENGAN PENGGUNAAN GAYA VISUAL FLAT DESIGN Bunga Nindiah Septiani; Agnes Widyasmoro; Andri Nur Patrio
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.638 KB) | DOI: 10.24821/sense.v2i2.5079

Abstract

ABSTRAKAnak dan remaja sering kali menjadikan binatang peliharaan sebagai salah satu life style trending item dengan pembekalan pengetahuan yang minim. Kurangnya pengetahuan tentang merawat binatang peliharaan menjadikan binatang peliharaan tersiksa dan menyebabkan manusia menjadi bingung dengan tindakan perawatannya. Program peliputan aktivitas binatang maupun pengetahuan dasar binatang telah ditayangkan di televisi Indonesia dalam bentuk feature maupun dokumenter. Hal inilah yang menjadi latar belakang dalam penciptaan program magazine show bertema binatang.Program magazine show “Funtasy Zoo” adalah program yang membahas seputar binatang dengan tema yang menyenangkan dan memainkan fantasi dalam penyajiannya. Pada season 1 bertema binatang peliharaan yaitu kucing. Melalui skripsi penciptaan seni berjudul “Memperkenalkan Dunia Binatang Melalui Penyutradaraan Program Magazine Show “Funtasy Zoo” Episode Kucing Dengan Penggunaan Gaya Visual Flat Design” bertujuan untuk mengenalkan dunia binatang khususnya kucing lebih mendalam dengan bahasa yang ringan dan tampilan yang menarik menggunakan gaya flat design untuk mendukung visual agar menarik minat penonton terutama anak dan remaja.Program “Funtasy Zoo” berisi 7 rubrik, berdurasi 30 menit dengan pembawaan yang menarik, menyenangkan dan didukung oleh penyajian gaya flat design seperti menggunakan warna cerah dan ilustrasi. Dengan adanya program ini, diharapkan mampu menambah wawasan kepada masyarakat mengenai binatang, baik dari karakter sampai cara merawatnya dan menambah referensi dan hiburan kepada masyarakat terkait binatang. Kata Kunci : Binatang, Flat Design, Magazine Show
Mengamati Kehidupan Owa Jawa Dalam Penyutradaraan Film Dokumenter "Habitat" Dengan Bentuk Penuturan Perbandingan Kawakibi Muttaqien; Dyah Arum Retnowati; Gregorius Arya Dhipayana
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.537 KB) | DOI: 10.24821/sense.v2i1.5069

Abstract

ABSTRACTDocumentary is one among many ways to tell a fact and information from surroundings. One of it are endemic animals called Javan Gibbon.This thesis documentary tells about Javan Gibbon who lives in three different habitat which are wild life, rehabilitation center and zoo. Different environment influences the daily activiy of each Javan Gibbon. For Javan Gibbon, jungle is their natural habitat. Rehabilitaion center is a place for them to be rehabilitate before being release to wild life. While zoo is a place for preservation and education for people.This thesis, Observing the Life of Javan Gibbon in Directing Documentary “Habitat” with Narrative Form of Comparison, contains the comparison of Javan Gibbon on three different habitats. The comparison is delivered with sequences of footages between each habitat through activities of Javan Gibbon. The activity consists of the process of getting food, socialize between each Gibbon, interacting with humans and during rainy seasons. keywords: documentary, javan gibbons habitat, comparison, directing ABSTRAKFilm dokumenter merupakan satu dari sekian banyak cara untuk menyampaikan sebuah fakta dan informasi dari apa yang terjadi di sekitar kita. Salah satunya adalah satwa endemik yaitu owa Jawa.Karya tugas akhir film dokumenter ini menceritakan tentang owa Jawa yang hidup di tiga habitat yaitu alam liar, penangkaran rehabilitasi dan kebun binatang. Lingkungan yang berbeda mempengaruhi pola kehidupan sehari-hari dari masing- masing owa Jawa. Bagi owa Jawa, hutan merupakan habitat alaminya. Penangkaran merupakan tempat rehabilitasi sebelum dikembalikan ke alam liar. Sedangkan kebun binatang merupakan tempat pelestarian dan sarana edukasi bagi masyarakat.Perbandingan owa Jawa ini dikemas dalam karya tugas akhir yang berjudul Mengamati Kehidupan Owa Jawa dalam Penyutradaraan Film Dokumenter “Habitat” dengan Bentuk Penuturan Perbandingan. Perbandingan ini disampaikan dengan menyajikan runtutan gambar antara habitat satu dengan habitat lainnya melalui kegiatan owa Jawa. Kegiatan tersebut meliputi proses mendapatkan makanan, bersosialisasi dengan sesama owa Jawa, berinteraksi dengan manusia, dan menghadapi kondisi cuaca seperti hujan. kata kunci: film dokumenter, habitat owa jawa, perbandingan, penyutradaraan
Peran Perubahan Karakter Tokoh Utama Dalam Membangun Suspense Pada Film “Posesif” Lina Itafiana; Endang Mulyaningsih; Dyah Arum Retnowati
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.722 KB) | DOI: 10.24821/sense.v4i2.6772

Abstract

ABSTRAKFilm Posesif dikategorikan sebagai film romantic suspense pertama di perfilman Indonesia. Posesif menjadi salah satu dari banyak sisi kehidupan remaja yang dieksplorasi dan dikemas dalam bentuk film layar lebar. Posesif menawarkan keunikan cerita dari drama cinta remaja kebanyakan yang terlalu picisan dan sangat kental dengan stereotipe happy ending. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan mendeskripsikan cerita dalam bentuk treatment dan mengarakteristikan tokoh Lala. Adegan yang telah direduksi dipaparkan dalam bentuk potongan gambar dari film Posesif terkait peran karakter tokoh Lala. Selanjutnya menemukan hambatan, resiko serta foreshadowing sebagai pembangun suspense pada setiap adegan. Kemudian menganalisis keterkaitan dua variabel tersebut dengan teori yang menjadi landasan penelitian. Hasil kajian ditemukan ditemukan adanya peran karakter dalam narasi pada tokoh Lala diantaranya: Donor, Penolong, Pengirim, Putri, dan Pahlawan Palsu. Setiap perubahan yang terjadi membangun adanya suspense yang menimbulkan gerak dramatik pada cerita, sehingga menciptakan suatu keadaan dimana perhatian penonton menjadi lebih tinggi.  Kata Kunci: Film Posesif, Karakter, Suspense, Vladimir Propp ABSTRACT“Posesif” film is categorized as the first romantic suspense movie in the Indonesian film industry. Possessive become one of many teenage life facets that are explored and packed in a big-screen movie form. “Posesif” offers a unique story from teenage love dramas that usually are too cheap and thick with the stereotype of a happy ending. This research is qualitative research with a descriptive approach by describing the story in a treatment form and characterized Lala’s character. The scene that has been reduced is presented in the form of pictures cut from the “Posesif” film related to the characteristic role of Lala’s character. Next find obstacles, risks, and foreshadowing as suspense builder in every scene. Then analyze the correlation between these two variables with the basic theory of the research. The results of the study found a character role in the narrative of Lala’s character, including Donor, Helper, Dispatcher, Princess, and False Hero. Every change that occurs develops suspense that raises dramatic motions to the story, which creates a situation where the audience’s attention becomes higher. Keywords: Film Posesif, Character, Suspense, Vladimir Propp
Puncak Ritual Kematian Suku Dayak Tonyooi Benuaq dalam Dokumenter Etnografi “Malas Budi Basaq” Valenci Kalista; Alexandri Luthfi Rahman
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 1, No 1 (2018): SENSE
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.821 KB) | DOI: 10.24821/sense.v1i1.3316

Abstract

Penciptaan karya dokumenter ini adalah puncak ritual kematian dalam suku Dayak Tonyooi Benuaq, yaitu kuangkai. Kuangkai dilaksanakan bertahun-tahun setelah seseorang meninggal, yakni saat tengkorak sudah bisa dipisahkan darai badan. Kuangkai merupakan bentuk balas budi yang dilakukan oleh pihak keluarga. Masyarakat adat yakin, apabila seseorang meninggal, roh mereka harus dijemput oleh leluhur agar dapat sampai ke surga. Sebelum ritual kuangkai, ada tahap parapm api dan kenyau yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya, ketika seseorang baru meninggal.Dokumenter “Malas Budi Basaq” menggunakan metode etnografi agar penonton mengetahui pentingnya kuangkai berdasarkan sudut pandang masyarakat Tonyooi Benuaq. Pendekatan melalui metode ini membuat makna-makna yang terkandung dalam ritual kuangkai dapat disajikan dengan maksimal. Gaya ekspositori digunakan agar segala informasi mengenai kuangkai yang masih asing bagi sebagian besar penonton dapat tersampaikan dengan baik. Struktur kronologis dipilih untuk memaparkan tahapan ritual kuangkai yang berlangsung selama kurang lebih 14 hari.Hasil karya seni ini menunjukkan bagaimana kedudukan kuangkai sebagai puncak ritual kematian bagi masyarakat Dayak Tonyooi Benuaq. Kuangkai tetap menjadi sebuah ritual yang sakral dan akan terus mereka laksanakan sebagai bukti penghormatan dan balas budi kepada roh-roh leluhur.
BIOSKOP DALAM RUMAH (MEDIATISASI BIOSKOP) Fina Zahra
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.989 KB) | DOI: 10.24821/sense.v3i2.5130

Abstract

ABSTRACTIn-Home Cinema (Mediatization of Cinema). The current pandemic is driving many changes, including in the way to enjoy entertainment, which is now mostly online. One of the newest online video entertainment service providers is bioskoponline.com. As the name suggests, this site adopts conventional cinema services, but provides exclusive Indonesian films that can be accessed by users who have purchased tickets for 48 hours. Although enjoying movies online is nothing new, the concept that bioskoponline.com carries in the midst of this pandemic condition provides new experiences for its users and is interesting to research. The results of the study are expected to provide an overview of the changes that occur now and in the future due to changes in the media for watching movies, so that concrete steps can be taken in relation to this. In this research report, I use an intrinsic case study as a method to explain this new media-driven mediation. The results showed that as a new media, bioskoponline.com not only changed the vehicle for watching movies in the cinema into a digital version, but also provided several new experiences to its users. bioskoponline.com encourages new ways to enjoy films, as well as encourages new discourse about Indonesian films, especially regarding piracy which is a crucial issue for the film industry. Meanwhile, considering that cinemas will resume, it is advisable that bioskoponline.com improve its media technology and community base. Keywords: mediatization, cinema, film, piracy, discourse. ABSTRAKPagebluk yang tengah melanda mendorong banyak perubahan, termasuk dalam cara menikmati hiburan yang kini sebagian besar beralih secara daring. Salah satu penyedia layanan hiburan berupa video secara daring yang terbaru adalah bioskoponline.com. Sebagaimana namanya, situs tersebut mengadopsi layanan bioskop konvensional, namun dengan menyediakan film-film Indonesia eksklusif yang dapat diakses oleh pengguna yang telah membeli tiket selama 48 jam. Meskipun menikmati film secara daring bukan hal baru, tetapi konsep yang diusung bioskoponline.com di tengah kondisi pagebluk ini memberi pengalaman baru bagi penggunanya dan menarik untuk diteliti. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi gambaran tentang perubahan yang terjadi saat ini dan yang akan datang karena perubahan pada media untuk menonton film, sehingga dapat dilakukan langkah konkret terkait hal tersebut. Dalam laporan penelitian ini, saya menggunakan intrinsic case study sebagai metode untuk menjelaskan mediatisasi yang didorong oleh media baru ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai media baru, bioskoponline.com bukan sekadar mengalih wahana kegiatan menonton film di bioskop ke dalam versi digital, melainkan juga memberikan beberapa pengalaman baru kepada penggunanya. bioskoponline.com mendorong adanya cara-cara baru dalam menikmati film, sekaligus mendorong wacana baru tentang film Indonesia, terutama terkait pembajakan yang merupakan isu krusial industri film. Sementara itu mengingat bahwa bioskop konvensional akan kembali beroperasi, disarankan bioskoponline.com untuk menyempurnakan teknologi medianya dan basis komunitasnya. Kata kunci: mediatisasi, bioskop, film, pembajakan, wacana.
KEHIDUPAN MULTIKULTURALISME SWITHA SEBAGAI ANAK SUKU TAMIL DI KOTA MEDAN DALAM PENYUTRADARAAN FILM DOKUMENTER POTRER “NIRAM” Yunalistya Sakanti Putri; Agnes Widyasmoro; Lilik Kustanto
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.356 KB) | DOI: 10.24821/sense.v3i1.5095

Abstract

ABSTRAKSuku Tamil sendiri berasal dari Asia Selatan atau biasa disebut dengan India. Suku Tamil memiliki persebaran yang cukup besar dan berpusat di Sumatera Utara sejak zaman penjajahan belanda pada abad 7 masehi. Multikulturalisme adalah sebutan untuk seseorang memiliki pandangan tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman.Film dokumenter “Niram” merupakan film dokumenter bergenre potret yang akan memberikan informasi langsung secara visual bagaimana multikulturalisme menjadi bagian dari kehidupan sosial seorang anak Suku Tamil sebagai salah satu golongan suku minoritas yang berada di lingkungan multikultur di Kota Medan dengan metode pemaparan cinéma vérité sebagaimana perwujudan dalam karya ini juga dibangun saat pengambilan gambar ataupun dalam proses riset guna memberikan fakta yang terjadi di lapangan dan melalui statement Switha sebagai subjek utama serta narasumber pendukung lainnya.Penerapan genre potret dan metode pemaparan cinéma vérité dalam film dokumenter “Niram” ini menghasilkan karya yang menunjukkan bagaimana perspekstif anak Suku Tamil yang bernama Switha dalam kehidupan multikulturalisme secara sosial di Kota Medan. Pada dokumenter ini juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada penonton bahwasannya saling menghormati tanpa melihat perbedaan adalah hal yang baik untuk dilakukan tiap individu tanpa melihat budaya, suku, agama, ras, dan strata sosial. Kata Kunci: Multikulturalisme, Suku Tamil, Dokumenter Potret, Cinéma Vérité.
VISUALISASI SUDUT PANDANG TOKOH UTAMA DENGAN PENERAPAN GRAYSCALE PADA PENYUTRADARAAN FILM FIKSI “DANILA” Adina Iffah Izdihar; Agnes Widyasmoro; Alexandri Luthfi Rahman
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.071 KB) | DOI: 10.24821/sense.v2i1.5073

Abstract

ABSTRACTThe accountability of the artwork thesis Visualization of the Main Figures with Grayscale Application in the Directing of "Danila" Fiction Film aims to create audio-visual works with a cinematographic approach, point of view, and the application of grayscale as a symbol of the main character's emotional representation. The film "Danila" tells the life of a teenager who has psychological trauma that in this film, caused by a deep sense of loss over the death of her mother which was further aggravated by a change in the attitude of his father by becoming a workaholic who is rarely at home. Feelings of sadness, loss, and loneliness that are increasingly accumulating change Danila's character and way of dealing with life.Cinematographic techniques with handheld camera movement, the use of camera angle POV that dominate, and the application of grayscale in Danila's visual point of view are intended to support the storyline, character subjectivity as teenagers who have psychological trauma, and as emotional representations when Danila experiences various kinds of daily life problems day. Keywords: Directing, Film, Grayscale. ABSTRAKPertanggungjawaban skripsi penciptaan seni Visualisasi Sudut Pandang Tokoh Utama dengan Penerapan Grayscale pada Penyutradaraan Film Fiksi “Danila” bertujuan untuk menciptakan karya audio visual dengan pendekatan sinematografi, sudut pandang, dan penerapan grayscale sebagai simbol representasi emosi tokoh utama. Film “Danila” menceritakan kehidupan remaja yang memiliki trauma psikologis yang pada film ini, disebabkan karena rasa kehilangan mendalam atas kematian sang ibu yang kemudian diperparah dengan perubahan sikap sang ayah dengan menjadi seorang workaholic yang jarang berada di rumah. Rasa sedih, kehilangan, dan kesepian yang kian menumpuk merubah karakter dan cara Danila dalam menghadapi kehidupan.Teknik sinematografi dengan pergerakan kamera handheld, penggunaan POV camera angle yang mendominasi, dan penerapan grayscale dalam visual sudut pandang Danila ditujukan untuk mendukung jalan cerita, subjektifitas tokoh sebagai remaja yang memiliki trauma psikologis, dan sebagai representasi emosi saat Danila mengalami berbagai macam problematika kehidupan sehari-hari. Kata kunci: Penyutradaraan, Film, Grayscale

Page 5 of 11 | Total Record : 104