cover
Contact Name
Yuni Arfiani
Contact Email
ipi@upstegal.ac.id
Phone
+628562584220
Journal Mail Official
psej.upstegal@gmail.com
Editorial Address
Jl Halmahera Km 01 Kota Tegal, Jawa Tengah, 52121
Location
Kota tegal,
Jawa tengah
INDONESIA
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal)
ISSN : 25286714     EISSN : 25410628     DOI : https://doi.org/10.24905/psej
Core Subject : Science, Education,
PSEJ contains a variety of scientific articles related to research in the field of Science Education and application of science (Biology, Chemistry, Physics). The scope of science education also includes study of Physics Education, Biology Education, Chemical Education and Environmental Education. The range of topics in the specific journals may include the Application of Science Learning, Research and Development of Science Education, Science Education Materials Development, the Technology and the Learning Media of Science education, the Evaluation of the Science Learning and Program.
Articles 156 Documents
Analisis Kebutuhan Pengguna sebagai Dasar Pengembangan Platform Web Magang Interaktif Berbasis Indigenous-STEAM bagi Kapasitas Global Mahasiswa Muriani Nur Hayati; Isrotun Ngesti Utami
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal) Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA, FKIP Universitas Pancasakti (UPS) Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/psej.v10i2.296

Abstract

Integrasi STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic) yang berakar pada konteks lokal (indigenous) merupakan salah satu instrumen penting dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman kerja nyata yang menguatkan kapasitas global dalam Program magang internasional mahasiswa, Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis kebutuhan pengguna untuk landasan mengembangkan platform web magang interaktif berbasis Indigenous-STEAM dan (2) mengetahui tingkat validitas prototype awal platform berdasarkan penilaian ahli. Desain penelitian ini berupa deskriptif kualitatif dengan desain User Centered Design pada fase analisis kebutuhan dalam kerangka R n D model ADDIE. Pengumpulan data menggunakan angket kebutuhan pengguna yang divalidasi ahli materi dan media. Jumlah sampel angket adalah 9 mahasiswa magang. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif sederhana untuk mengkonversi skor validasi. Hasil analisis menunjukkan kebutuhan pengguna, yaitu 1) 83,3 % tertarik pada program magang yang mengintegrasikan STEAM berkearifan lokal; 2) 100 % kebutuhan fungsional platform pada fitur pencarian berdasarkan bidang ilmu, 2) 66,7% menginginkan kebutuhan konten materi tentang komunitas dan kearifan lokal serta bahasa yang digunakan kombinasi dengan fitur terjemahan(33,3%) dan berbahasa inggris sebagai penguat global (33,3%). Validasi ahli terhadap aspek materi protoype platform menunjukkan skor 4.05 (kategori”valid”), dan 4,2 (kategori”valid”) terhadap aspek media. Kontribusi penelitian ini berupa penyediaan empiris awal mengenai kebutuhan spesifik pengguna platform magang integratif Indigenous -STEAM, melalui teknologi platform digital yang praktis sebagai penguat kapasitas global mahasiswa. Saran penelitian adalah supaya platform magang Indigenous STEAM yang dikembangkan mampu menghubungkan peserta magang dengan komunitas lokal sehingga mampu menciptakan solusi yang relevan bagi masyarakat. Penelitian ini berpotensi mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif dan kreatif mahasiswa melalui proyek nyata STEAM dengan berakar budaya setempat
Tren Penelitian Media Digital STEM pada Pembelajaran IPA SMP di Indonesia: Systematic Literature Review 2014-2024 Rizki Nor Amelia; Rohanah Rohanah
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal) Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA, FKIP Universitas Pancasakti (UPS) Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/psej.v11i1.269

Abstract

In this era of technological development, innovation in learning has become an urgent need, one of which is through the use of digital media. This study aims to analyze the use of STEM-based digital media among junior high school students in Indonesia between 2014 and 2024. The method used is a Systematic Literature Review (SLR) by analyzing 54 articles from national and international journals. The results of the analysis show that the dominant research method is quantitative with a quasi-experimental design (92%), with the most publications in 2023 (43%). The most widely used type of digital media is e-modules (28%), while the data collection technique generally uses a mixed method (61%). Descriptive data analysis dominated (91%), with critical thinking skills as the most frequently studied dependent variable (15%), and science subjects as the most common context (56%). These findings provide insights for educators, researchers, and developers to optimize the implementation of STEM-based digital media in the learning process.
Integrasi Media Powtoon pada Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Literasi Sains Dinda Sutiara; Muhammad Azzarkasyi; Syamsul Rizal; Nurul Fajri Saminan; Mahyana Mahyana
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal) Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA, FKIP Universitas Pancasakti (UPS) Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/psej.v11i1.289

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan literasi sains siswa menggunakan media video animasi dan mengamati respons siswa terhadap metode pembelajaran ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan mendistribusikan instrumen tes dan kuesioner kepada 30 siswa kelas VIII di SMPN 13 Banda Aceh sebagai sampel dari populasi total siswa yang dikelompokkan dan kemudian dipilih secara acak. Aspek-aspek kompetensi literasi sains yang digunakan sesuai dengan ketentuan PISA 2017, yang meliputi tiga aspek, yaitu kompetensi untuk menjelaskan fenomena secara ilmiah, kompetensi untuk merancang dan mengevaluasi penyelidikan ilmiah, serta kompetensi untuk menafsirkan data dan bukti secara ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains sebelum menerapkan pembelajaran berbasis Powtoon (pre-test) dalam aspek menjelaskan fenomena ilmiah sebesar 31,90%, yang termasuk dalam kategori rendah, dan setelah menerapkan pembelajaran (post-test), persentasenya menjadi 60,95%, yang termasuk dalam kategori sedang. Kemampuan dalam merancang dan mengevaluasi penyelidikan ilmiah, persentase sebelum menerapkan pembelajaran (pre-test) adalah 33,33% dalam kategori sedang, dan setelah menerapkan pembelajaran (post-test) menjadi 56,67% dalam kategori sedang. Kompetensi dalam menafsirkan data dan bukti ilmiah, persentase sebelum pembelajaran (pretest) sebesar 42,08% dalam kategori sedang, dan setelah pembelajaran (posttest) sebesar 67,08% dalam kategori sedang.
Implementasi Alat Praktikum Viskositas Berbasis Sensor Infrared Obstacle dalam Pembelajaran Fisika di SMA Rifda Arifa Hanifah; Salwa Mulya Insani; Muhammad Agum Heryawan; Adam Malik
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal) Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA, FKIP Universitas Pancasakti (UPS) Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/psej.v11i1.292

Abstract

Peralatan laboratorium yang terbatas masih menjadi hambatan utama dalam melaksanakan eksperimen fisika di sekolah menengah, terutama pada topik dinamika fluida. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan alat eksperimen viskositas yang menggunakan sensor inframerah sebagai bahan ajar fisika untuk kelas XII di Madrasah Aliyah Serba Bakti, serta mengevaluasi kesesuaiannya untuk digunakan dalam kegiatan praktikum. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan langkah-langkah meliputi persiapan peralatan, pengembangan modul praktikum berbasis penyelidikan, uji kelayakan terbatas oleh kelompok eksternal, dan implementasi di kelas. Hasil implementasi menunjukkan bahwa siswa mampu mengumpulkan data tentang waktu tempuh bola melalui berbagai jenis fluida secara stabil dan sesuai dengan teori viskositas. Namun, terdapat tantangan teknis terkait sensitivitas sensor inframerah terhadap cahaya dan lokasi objek. Secara keseluruhan, alat praktikum ini terbukti efektif dalam membantu siswa memahami konsep viskositas secara lebih konkret dan relevan, dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai alat praktikum fisika berbasis teknologi.
Pemodelan Pemahaman Siswa dalam Fisika Menggunakan Algoritma Pohon Keputusan: A Systematic Review Andrea Yuda Mugono; Erlida Amnie
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal) Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA, FKIP Universitas Pancasakti (UPS) Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/psej.v11i1.287

Abstract

Pemahaman konsepsi yang mendalam merupakan pilar utama dalam pembelajaran fisika, namun kesulitan utama terletak pada identifikasi dan diagnosis pola miskonsepsi siswa yang seringkali terhambat oleh metode evaluasi tradisional. Penelitian observasi sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mensintesis secara komprehensif literatur mengenai penerapan serta menyebarkan efektivitas Algoritma Pohon Keputusan (Decision Tree Algorithm) dalam memodelkan dan mengklasifikasikan tingkat pemahaman siswa. Kajian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan kerangka PRISMA, mengumpulkan artikel empiris dari basis data bereputasi seperti SINTA, Scopus, dan ERIC yang terbit dalam rentang tahun 2017–2024. Hasil observasi menunjukkan bahwa Algoritma Pohon Keputusan (termasuk variasi Random Forest) dimanfaatkan secara luas sebagai alat diagnostik prediktif untuk membedakan kategori pemahaman dan mendeteksi miskonsepsi, dengan laporan akurasi klasifikasi model yang secara konsisten melebihi 80%. Simpulannya, pemodelan berbasis Pohon Keputusan merupakan alat berbasis data yang sangat efektif, mampu menyediakan aturan keputusan yang terstruktur dan dapat ditindaklanjuti, sehingga memiliki kontribusi signifikan dalam mendukung perancangan intervensi pedagogis yang adaptif dan terpersonalisasi dalam konteks pendidikan fisika.
Understanding Teacher Agency During Curriculum Transitions: A Case Study of Secondary School Natural Science Teachers in South Africa Matlhodi Motsepe; Thomas Sedumedi; Mmushetji Rankhumise
PSEJ (Pancasakti Science Education Journal) Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA, FKIP Universitas Pancasakti (UPS) Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/psej.v11i1.301

Abstract

In South Africa, curriculum change remains a crucial national concern, particularly in secondary schools, where educational reform efforts intersect with broader concerns about equity, access to knowledge, and teacher autonomy. This study investigates how secondary school teachers understand and enact their professional agency in the face of curriculum change. Using an ecological framework of an agency, it examines how teachers perceive their roles as change agents, the factors that affect their choices, and their interaction with policy-driven changes. Using a quantitative design, the study collected responses through a structured questionnaire administered in 41 schools in the Northwest province of South Africa. Descriptive statistical analysis showed that although many teachers demonstrate a strong sense of professional responsibility and a deep commitment to curriculum goals, they are frequently constrained in their ability to act by external factors, including unequal access to resources, top-down policy mandates, and inadequate professional development. According to the results, teacher agency is influenced by the relationships they build within those settings, as well as by the institutional contexts in which they operate. In the end, the study emphasizes the necessity of rethinking teacher development frameworks to prioritize teacher voice, foster local innovation, and promote agency as a major factor in meaningful curriculum reform. For policymakers, school administrators, and curriculum developers seeking a more inclusive and responsive science education system in post-apartheid South Africa, these insights have significant implications.