cover
Contact Name
Abd Kholiq
Contact Email
kholiq@unesa.ac.id
Phone
+6285731570404
Journal Mail Official
jifi@unesa.ac.id
Editorial Address
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya Kampus Ketintang Unesa, Gedung C3 Lantai 1 Jl Ketintang, Surabaya 60321, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Inovasi Fisika Indonesia (IFI)
ISSN : 23024216     EISSN : 28301765     DOI : https://doi.org/10.26740/ifi
Jurnal Inovasi Fisika Indonesia(IFI) is a peer-reviewed journal, ISSN: 2302-4216, which is managed and published by the Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). This journal is accessible to all readers and covers developments and research in physics (Materials Physics, Earth Physics and Instrumentation Physics).
Articles 431 Documents
RANCANG BANGUN VISKOMETER ROTASI SEBAGAI PENGUKUR KEKENTALAN FLUIDA CAIR RIZQI RINDRA FIRMANSYAH; IMAM SUCAHYO
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n2.p%p

Abstract

"> Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan viskometer rotasi berbasis mikrokontroler dan menganalisis nilaikoefisien dan taraf ketelitian viskositas cairan dari alat yang dirancang bila diandingkan dengan koefisien viskositasteoritisnya. Penelitian ini dilakukan dengan merancang suatu viskometer dengan model rotasi silinder sesumbu. Metodepengujian yang digunakan yaitu dengan mengukur kecepatan motor DC pada zat cair dan arus kemudian dimasukkan kedalam persamaan viskositas. Cairan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Oli dengan kode SAE 20, SAE 30 danSAE 40. Hasil percobaan diperoleh nilai koefisien viskositas cairan oli SAE 20, SAE 30 dan SAE 40 berturut- turutdengan nilai h = 20 mm, 30 mm, 40 mm, 50 mm, 56 mm nilai viskositasnya η = 124,49 cP ; 126,45 cP ; 125,42 cP ;125,46 cP ; 125,96 cP; untuk cairan oli SAE 30 nilai viskositasnya η = 205,08 cP ; 204,66 cP ; 203,92 cP ; 204,34 cP ;204,76 cP dan untuk cairan oli SAE 40 nilai viskositasnya η = 324,99 cP ; 325,77 cP ; 327,60 cP ; 327,95 cP ; 327,78 cP.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, viskometer rotasi ini dapat melakukan pengukuran dengan tingkatakurasi mencapai 99%.Kata Kunci : Viskometer, Viskositas, rotary encoder
RANCANG BANGUN KIT EKSPERIMEN GAYA SENTRIPETAL BERBASIS MIKROKONTROLER HABIB MARTIN NASUTION; ENDAH RAHMAWATI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n2.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat kit eksperimen untuk menentukan gaya sentripetal berbasis mikrokontroler. Dari hasil pengukuran kecepatan sudut, jari-jari dan massa. Kit eksperimen terdiri dari sistem mekanik dari hasil pengukuran dan elektronik. Sistem mekanik meliputi motor DC 12 volt sebagai sistem penggerak lengan massa. Sistem elektronik meliputi sensor Load cell untuk mengukur nilai gaya sentripetal, sensor TCRT5000 sebagai photogate untuk mengukur kecepatan sudut. Pengambilan data dilakukan dengan beberapa perubahan variabel diantaranya percobaan pertama untuk mengetahui hubungan gaya sentripetal terhadap perubahan massa dengan perubahan nilai massa dari 0.04 kg - 0.24 kg sehingga diperoleh ketidak pastian maksimal sebesar 0.83 %. Percobaan kedua untuk mengetahui hubungan gaya sentripetal terhadap kecepatan sudut dengan perubahan nilai kecepatan sudut dari 84.84 Rad/s – 460.30 Rad/s dan didapatkan ketidak pastian maksimal sebesear 0.63 %. Percobaan ke tiga untuk mengetahui hubungan gaya sentripetal terhadap jari-jari dengan perubahan nilai jari-jari dari 0.04 m – 0.12 m dan didapatkan ketidak pastian maksimal sebesar 0.83 %. Hasil pengukuran gaya sentripetal oleh sensor load cell diabndingkan dengan teori Kata Kunci : Kata Kunci : Gaya sentripetal, Kecepatan sudut, Photogate dan Mikrokontroler.
RANCANG BANGUN SISTEM PERCEPATAN PADA BIDANG DATAR DENGAN PRINSIP GERAK LURUS BERBASIS SENSOR ULTRASONIK MUHAMAD ARMANSYAH; IMAM SUCAHYO
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n2.p%p

Abstract

Penelitian laboratorium ini bertujuan menghasilkan rancangan dan prototype sistem percepatan menggunakan prinsip gerak lurus yang diperoleh dari pengukuran perubahan jarak. Penelitian ini terdiri dari sistem perangkat keras dan sistem perangkat lunak maupun elektrik. Sistem perangkat keras terdiri atas benda sebagai pemantul dari gelombang ultrasonik, massa beban, tali sebagai penghubung antara benda dengan massa beban, lintasan, penahan benda agar tidak lepas, dan katrol. Sistem elektronik meliputi rangkaian sensor ultrasonik menggunakan HC-SR04 yang menghasilkan frekuensi sebesar 40 KHz. Pengambilan data dilakukan dengan pengulangan sebanyak 10 kali. Massa beban yang digunakan untuk menggerakan benda sebesar 3,11x10-3 kg, 3,46x10-3 kg, 3,82x10-3 kg, 4,18x10-3, dan 4,47x10-3 kg. Jarak awal benda sebesar 0,33 m dan jarak akhir benda sebesar 0,56 m, 0,65 m, dan 0,75 m. Sehingga didapatkan percepatan untuk nilai error terbesar pada masing-masing jarak akhir sebesar 23,08 %, 8,33 %, dan 13,04 %. Hasil dari error didapatkan dari selisih nilai yang terukur pada alat dengan nilai pada photogate timer dibagi nilai pada photogate timer. Pada penelitian ini sudah maksimal namun terdapat kendala, hal ini dikarenakan keterbatasan keakurasian dari sensor ultrasonik HC-SR04 dan faktor ruangan mulai dari keseimbangan meja alat praktikum sehingga alat mudah bergoyang dan tentunya mempengaruhi hasil yang didapat. Kata Kunci: Hukum II Newton, Gerak Lurus, Sensor Ultrasonik, Percepatan
ANALISIS RIETVELD SERBUK FeTiO3 HASIL PREPARASI DENGAN METODE PENCAMPURAN LARUTAN DHIMAS IRVAN ARDEANSYAH; FRIDA ULFAH ERMAWATI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n2.p%p

Abstract

FeTiO3 dikenal sebagai kandidat bahan dielektrik keramik untuk aplikasi telekomunikasi pada daerah gelombang mikro. Serbuk FeTiO3 dilaporkan dapat disintesis dengan metode sol-gel, solid state reaction dan microwave-assisted. Namun sintesis serbuk FeTiO3 tersebut seringkali menyisakan problem, diantaranya suhu pembentukan fasa FeTiO3 yang masih tinggi, yaitu > 1200 °C ditahan selama 24 jam dengan metode solid state reaction dan 600 C selama 2 jam dengan metode sol-gel . Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis serbuk FeTiO3 dengan metode pencampuran larutan dari bahan awal berupa serbuk logam Fe dan Ti (Merck) serta HCl 12 M sebagai pelarut. Dengan metode tersebut, fasa FeTiO3 dapat terbentuk pada suhu serendah 340 °C selama 2 jam. Analisis komposisi fasa dilakukan kepada serbuk yang telah dikalsinasi pada suhu di atas dengan menggunakan metode Rietveld dan perangkat lunak Rietica. Diperoleh hasil bahwa fasa FeTiO3 terbentuk sebagai fasa utama sebesar 83.37 % molar dan sisanya sebesar 16.63 % molar untuk fasa TiO2 (rutile). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pencampuran larutan dapat membentuk fasa FeTiO3 pada suhu yang jauh lebih rendah dari yang sudah dilaporan, meski masih menyisakan fasa TiO2.
Aplikasi Modifikasi Hukum Green Untuk Estimasi Tsunami Run-Up NUR ALISSA ANWAR; TJIPTO PRASTOWO
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n3.p%p

Abstract

AbstrakPengetahuan tentang evolusi tinggi amplitudo gelombang tsunami selama perambatan dari lepas pantai menujugaris pantai diperlukan untuk studi mitigasi. Ketika tiba di pantai, kecepatan fase tsunami tereduksi yang menyebabkanpeningkatan amplitudo, biasa dikenal dengan tsunami run-up yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan properti.Dalam konteks pengurangan risiko bencana, estimasi tinggi run-up adalah vital. Dengan menggunakan data run-up darisurvei lapangan kasus Samoa 2009 dan Palu-Donggala 2018, validitas the basic Green’s Law berbasis efek shoaling sajadiuji untuk estimasi tinggi run-up, di mana kegagalan hukum dasar Green tersebut terjadi pada sebagian besar lokasipengamatan. Sebagai respons, kekekalan energi diterapkan untuk menurunkan the modified Green’s Law denganmenyertakan efek refraksi. The modified Green’s Law diuji untuk estimasi run-up dua kasus yang dipelajari, di manatinggi run-up diparameterisasi oleh dua faktor sekaligus, yaitu efek shoaling karena perubahan kedalaman lokal dan efekrefraksi karena kecepatan fase yang tereduksi saat tsunami mendekati garis pantai. Tujuan utama penelitian ini adalahmengkaji keberlakuan the modified Green’s Law untuk estimasi tinggi run-up dengan memanfaatkan data kedalamanlokal sebagai parameter eksternal dan jarak antar muka gelombang sebagai parameter internal. Estimasi run-up denganbantuan the modified Green’s Law adalah akurat karena 95% hasil-hasil estimasi sesuai dengan nilai yang terukur darisurvei lapangan, jauh lebih baik dari prediksi berbasis the basic Green’s Law yang memberikan kesesuaian sebesar 20%.Kompleksitas batimetri dan topografi, morfologi pantai, dan efek refleksi belum ikut dipertimbangkan. Faktor-faktortersebut juga penting, oleh karena itu perlu diselidiki dalam penelitian mendatang.Kata Kunci : modifikasi Hukum Green, efek refraksi, efek shoaling, run-upAbstractThe evolution of tsunami wave height during its propagation from open seas to coastal zones is required formitigation study. When arriving at a shoreline, tsunami phase speed decreases causing increased wave height onshore,commonly known as tsunami run-up that leads to fatalities on population and infrastructures. In the context of disasterrisk reduction, run-up estimate is of great importance. Using field data of run-up available from 2009 Samoa and 2018Palu-Donggala events, we examined the applicability of the basic Green’s law based on shoaling only to calculate run-upheights and found that it failed to predict run-ups in the majority of observational sites for all the events considered. Wethen applied concept of energy conservation to derive the modified Green’s Law by incorporating refraction effect intothe basic one. The modified Green’s Law was tested for run-up estimates of all occurrences, where run-up height wasparameterized with shoaling effect owing to changes in local ocean depth and refraction effect due to reduction in tsunamiphase speed when approaching coastal lines. The objective of this study is thus to determine if the modified Green’s lawis applicable for run-up estimate using both local depths as external parameters and tsunami wave-front separation asinternal parameters. The results are obtained with high accuracy as 95% of estimates are consistent with the measuredrun-up heights, much accurate than 20% of those derived from the basic Green’s Law. Factors such as bathymetry andtopography complexity, beach morphology, and wave reflection are not yet explored in the present study. These are alsocrucial and need to include for further investigation in future work.Keywords: modified Green’s law, refraction effect, shoaling effect, run-up
Analisis Travel Time Delay Untuk Kasus Tsunami Lintas Samudra BERTIN BINTORO PUTRI; TJIPTO PRASTOWO
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n3.p%p

Abstract

Abstrak Waktu kedatangan gelombang tsunami dan time delay di lokasi tertentu merupakan isu penting terkait dengan studi mitigasi bencana. Time delay dihitung dari perbedaan waktu antara observed travel time dan estimated travel time. Observed travel time diperoleh dari instrumen DART buoys dan tide gauges sedangkan estimasi waktu tempuh perambatan gelombang tsunami diperoleh dari solusi asumsi kecepatan gelombang panjang. Dalam penelitian ini, time delay dihitung untuk 3 kasus tsunami lintas samudra, yaitu Tohoku 2011, Sumatra 2012, dan Iquique-Chili 2014. Untuk semua kasus yang dipelajari, temuan penting adalah time delay meningkat secara linier dengan pertambahan jarak episentral. Hal itu menunjukkan bahwa kecepatan tsunami berkurang selama propagasi setidaknya karena dua faktor, yaitu variasi topografi dan batimetri dasar laut dan serta stratifikasi laut. Reduksi kecepatan tsunami untuk 2 kasus tsunami di Samudra Pasifik berada pada kisaran 1,3-1,4% sedangkan kasus tsunami di Samudra Hindia reduksi kecepatan ditemukan sebesar 4% karena kompleksitas batimetri dan topografi. Kata Kunci: time delay, estimasi waktu tempuh, reduksi kecepatan tsunami Abstract Tsunami arrival time and its corresponding time delay at a particular location or station has been an important issue in recent years. The delay in time is calculated from a difference in arrival times between observed and estimated travel times. While the observed travel times were obtained from records of DART buoys and gauge stations, the predicted travel times were derived from the basic solution for a long wave speed of propagating tsunami. In this study, we estimated time delay for trans-oceanic tsunamis, that is, 2011 Tohoku, 2012 Sumatra, and 2014 Iquique-Chili occurrences. We found for all cases that the delay increases linearly with increasing epicentral distance. It follows that tsunami speed is reduced during propagation due to at least two possible factors. These factors include varying ocean floor topography and ocean stratification. Speed reduction for 2 cases in the Pacific Ocean is lying in the range 1,3-1,4% whereas the case in the Indian Ocean takes a bit larger for the reduction in speed by 4%, owing to complex bathymetry and topography. Keywords: time delay, observed travel time, estimated travel time, reduced speed
Rancang Bangun Arduino Mini Weather System (AWMS) AL-BIKHAR ISLAM SAKTI; ENDAH RAHMAWATI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n3.p%p

Abstract

Rancang Bangun Arduino Mini Weather System (AWMS) bertujuan untuk membuat suatu sistem pengukuran kondisi cuaca dengan menggunakan alat yang terdiri dari beberapa sensor yang terdapat dalam satu sistem, dimana data dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai refrensi kondisi cuaca di suatu lingkup daerah tersebut. Alat ini juga dapat dijadikan sebagai prototype stasiun cuaca karena dapat mengukur beberapa parameter cuaca diantaranya kecepatan dan arah angin, suhu dan kelembaban udara, curah hujan, intensitas sinar UV, kualitas udara dan tekanan udara sehingga dinamakan Rancang Bangun Arduino Mini Weather System. Dengan pembuatan alat ini diharapkan dapat membantu mempermudah dalam menentukan kondisi cuaca pada suatu daerah atau lokasi tertentu. Pengambilan data dilakukan di taman alat milik BMKG Juanda Surabaya selama selang waktu 1 bulan. Setelah data diperoleh, kemudian dibandingan dengan data hasil dari pengukuran alat BMKG Juanda Surabaya yang telah terkalibrasi. Dari perbandingan data yang dilakukan didapatkan ketelitian 95,87% pada parameter suhu udara, 98,26% pada parameter kelembaban udara, 99,95% pada paeameter tekanan udara, 100% pada parameter arah mata angin, 97,33% pada parameter curah hujan. Sedangkan untuk parameter intensitas sinar UV didapat 57,23% dan parameter kecepatan angin sebesar 63,79%. Hal ini didapat karena pada pengukuran intensitas sinar UV terdapat keterbatasan alat, dimana sensor yang dipakai hanya dapat menjangkau intensitas 0-19 mW/cm2 , sedangkan untuk pengukuran kecepatan angin dikarenakan tempat ketinggian alat yang tidak sesuai dengan alat milik BMKG Juanda surabaya sehingga menimbulkan perbedaan data. Kata Kunci: Cuaca, Sensor, Arduino, intensitas
Desain Sistem Solar Tracker Dua Derajat Kebebasan Berbasis Mikrokontroler ISMAIL HASAN; DZULKIFLIH
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n3.p%p

Abstract

Panel surya merupakan alat yang terdiri dari beberapa sel surya serta dapat mengkonversi cahaya menjadi energi listrik. Masalah pada panel surya yang massive di Indonesia ialah posisi panel surya yang statis. Solusi dari masalah tersebut ialah mengubah posisi panel surya statis menjadi panel surya dinamis. Telah dilakukan penelitian panel surya dinamis dengan sistem solar tracker aktif dan sistem solar tracker kronologis, hasil penelitian dari dua sistem yang diperoleh saat pengujian alat selama lima hari berturut-turut, masing – masing hari selama 6 jam pengamatan didapatkan rata - rata persentase nilai optimasi daya sistem solar tracker aktif 95%, dan persentase nilai optimasi daya sistem solar tracker kronologis 90%. Telah dibuktikan bahwa pengamatan nilai daya panel surya mendapat selisih yang signifikan pada rentang pukul 12.00 – 13.00 WIB, karena pada rentang jam tersebut radiasi harian matahari yang jatuh pada panel surya berada di posisi sudut 90º atau tegak lurus menghadap ke arah sinar matahari, tidak pada posisi ± timur atau ± barat sinar matahari. Kata Kunci: Solar tracker, Metode aktif, Metode kronologis, Real time, ArduinoSolar panel is a device that consists of several solar cells and can convert light into electrical energy. The problem with massive solar panel in Indonesia the position of solar panel is still static. The solution to this problem is to change the position of static solar panel into dynamic solar panel. Dynamic solar panel research has been carried out with an active solar tracker systems and chronological solar tracker system, The result of two systems obtained an average percentage of the value from active solar tracker system power optimization until 95% and the percentage from chronological solar tracker system power value until 90%. This has been proven when observing the value of power in solar panel gets a significant difference in the range from 12.00 – 13.00 WIB because at that time the sun’s radiation falls on the solar panel at the position of the angle 90º or perpendicular to the sun, not in ± the west or ± west position of sunlight. Key Word: Solar tracker, Active method, Cronological method, Real time, Arduino
Rancang Bangun KIT Percobaan Untuk Menentukan Momen Inersia Benda Tegar NUR HALIZAH; DZULKIFLIH
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n3.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat alat sistem pengukuran momen inersia benda tegar bentuk teratur dengan mengaplikasikan sistem torsi dan mengetahui hasil pengujian dari pengaplikasian sistem torsi untuk menentukan nilai momen inersia benda tegar serta membandingkannya dengan nilai teoritisnya. Metode pengujian yang digunakan yaitu dengan mengukur nilai RPM dari perputaran benda uji sesaat setelah beban dijatuhkan, selanjutnya dikonversikan ke dalam satuan rad/s dan disajikan dalam bentuk grafik kecepatan sudut versus waktu oleh software PLX-DAQ. Nilai percepatan sudut diperoleh dari kemiringan garis dalam grafik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam persamaan momen inersia. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa 2 buah piringan pejal dan 2 buah cincin tebal dengan massa dan diameter yang berbeda, serta massa beban yang berbeda pula. Peneliti menentukan sensor rotary encoder sebagai sensor pembaca nilai kecepatan sudut. Langkah awal dalam penelitian ini yaitu dengan membandingkan nilai kecepatan sudut yang didapat dari sensor rotary encoder dengan nilai kecepatan sudut yang diperoleh dari Rotary Motion Sensor milik PASCO. Langkah berikutnya yaitu menguji alat dengan melakukan pengukuran pada masing-masing benda uji yang akan dicari momen inersianya dengan massa beban yang berbeda. Hasil percobaan diperoleh perbandingan nilai momen inersia rata-rata berdasarkan percobaan dengan perhitungan teoritis, dimana untuk benda uji 1 memiliki error sebesar 5,46% - 6,01%; untuk benda uji 2 memiliki nilai error sebesar 4,12% dan 4,58%; untuk benda uji 3 memiliki nilai error sebesar 7,10% - 11,66%; dan untuk benda uji 4 memiliki nilai error sebesar 3,58% - 4,22%. Kata Kunci: Momen inersia, kecepatan sudut, rotary encoder. This study aims to create a regular form rigid inertia moment measurement system by applying the torque system and knowing the test results from the application of the torque system to determine the moment value of rigid inertia and compare it with its theoretical value. The test method used is by measuring the RPM value of the rotation of the test object immediately after the load is dropped, then converted into rad / s units and presented in graphical angular velocity versus time by PLX-DAQ software. The angle acceleration value obtained from the slope of the line in the graph is then entered into the moment of inertia equation. The specimens used in this study were in the form of 2 solid discs and 2 thick rings with different masses and diameters, as well as different weight masses. The researcher determined the rotary encoder sensor as a reader sensor for angular velocity values. The first step in this research is to compare the angular velocity values ​​obtained from the sensor rotary encoder with the angular velocity values ​​obtained from the Rotary Motion Sensor of PASCO. The next step is to test the tool by measuring each specimen to be searched for inertia with a different mass of load. The final results of the experiment obtained a comparison of the moment inertia values ​​on average based on experiments with theoretical calculations, where for specimen 1 has an error of 5.46% - 6.01%; for specimen 2 has an error value of 4.12% and 4.58%; for specimen 3 has an error value of 7.10% - 11.66%; and for specimen 4 has an error value of 3.58% - 4.22%. Keywords: Moment of inertia, angle of speed, rotary encoder.
Pengaruh Doping Ion Zn dan Ion Sn Pada Sistem (Mg0,6Zn0,4)(Ti0,99Sn0,01)O3 Terhadap Pembentukan Fasa MgTiO3 NOVYANTI NUR FIRDAUSI; FRIDA ULFAH ERMAWATI
Inovasi Fisika Indonesia Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v8n3.p%p

Abstract

Abstrak Telah dilakukan sintesis serbuk (Mg0,6Zn0,4)(Ti0,99Zn0,01)O3 (disingkat MZTS) dengan menggunakan metode pencampuran larutan, dengan bahan awal berupa serbuk logam Mg, Zn, Ti, dan Sn (Merck). Serbuk MZTS dikalsinasi pada suhu 550 °C dan ditahan selama 2 jam. Hasil uji XRD menunjukkan bahwa serbuk MZTS mempunyai struktur yang terdiri dari fasa MgTiO3 sebagai fasa utama dan TiO2 sebagai fasa sekunder. Selanjtnya, hasil uji XRD dari sampel MZTS dibandingkan dengan hasil uji XRD sampel MgTiO3 tanpa doping (disebut MT) yang juga dikalsinasi pada suhu yang sama. Hasil perbandingan tersebut menunjukkan bahwa fasa MgTiO3 terbentuk lebih sempurna pada sampel MZTS dibandingkan pada sampel MT. Puncak difraksi milik fasa TiO2 (Rutile) dan puncak difraksi milik fasa MgO (Periclase) masih ditemukan secara signifikan pada pola XRD sampel MT. Keberadaan kedua fasa tersebut menandakan bahwa keduanya belum bereaksi secara sempurna untuk membentuk fasa MgTiO3. Berbeda dengan pola XRD MT, pada pola XRD sampel MZTS, puncak difraksi milik fasa MgO sama sekali tidak ditemukan. Sedangkan puncak difraksi milik fasa TiO2 tidak signifikan. Dapat disimpulkan bahwa penambahan ion Zn dan Sn pada sistem (Mg0,6Zn0,4)(Ti0,99Zn0,01)O3 mampu membentuk larutan padat MZTS. Pada suhu kalsinasi yang sama, penambahan ion Zn dan Sn pada sistem tersebut mampu mempercepat pembentukan fasa MgTiO3 sehingga fasa MgTiO3 terbentuk lebih stabil. Kata Kunci: Metode pencampuran larutan, Uji Struktur, Hasil uji XRD serbuk MZTS. Abstract Powder synthesis (Mg0,6Zn0,4)(Ti0,99Zn0,01)O3 has been carried out (abbreviated MZTS) by using a solution mixing method, with the initial material in the form of metal powder Mg, Zn, Ti, and Sn (Merck). MZTS powder is calcined at a temperature of 550 °C and stored for 2 hours. The XRD test results show that MZTS powder has a structure consisting of the phase MgTiO3 as the main phase and TiO2 as the secondary phase. Furthermore, the XRD test results from the MZTS sample were compared with the XRD test results of the MgTiO3 without doping (called MT) which was also calcined at the same temperature. The results of this comparison indicate that the MgTiO3 phase was formed more perfectly in the MZTS sample than in the MT sample. The diffraction peaks belonging to TiO2 (Rutile) and the diffraction peaks belonging to the MgO (Periclase) phase were still found significantly in the XRD pattern of the MT samples. MgTiO3. Unlike the XRD MT pattern, in the XRD pattern of the MZTS sample, the diffraction peaks belonging to the MgO phase were not found at all. While the diffraction peaks belonging to the TiO2 phase are not significant. Can be removed from this amount Zn and Sn on the system (Mg0,6Zn0,4)(Ti0,99Zn0,01)O3 is able to fulfill the needs of MZTS. At the same calcination temperature, add Zn and Sn ions to this system which support the increase of the MgTiO3 phase so that the MgTiO3 phase is formed more stable. Key Words: liquid mixing method, structure test, XRD test result of MZTS powder.