cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 164 Documents
Faktor yang Memengaruhi Peran Suami dalam Pengambilan Keputusan Pemilihan Alat Kontrasepsi pada Pernikahan Usia Muda Dwi Marlinawati; Wiwin Lismidiati; Sinta Khrisnamurti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44252

Abstract

Background: The use of contraceptive aims for controlling excessive labor and overcoming maternal mortality rate among early marriage. The role of husband as motivator, facilitator, and educator is associated with contraceptive use in wife.Objective: To scrutinize influencing factors for husband’s role in contraceptive decision making among early marriage in Sukoharjo Community Health Center’s working area.Method: This study was a quantitative study, with a cross-sectional design. This research was conducted on March-April 2017 and involved by 50 respondents who were husbands of early marriages which was taken using purposive sampling. This study used questionnaire on husband’s role and knowledge about contraception. Data analysis was using chi square test.Result: Percentage of husband’s role as motivator and facilitator was high (64% and 86%), and as educator was low (44%). Chi square test showed that there was significant correlation between family income (p=0,033), husband’s knowledge (p=0,015), and media exposure (p=0,013) with husband’s role in contraceptive use decision making.Conclusion: Factors that influence the husband’s role in making decisions on the choice of contraceptives are family income and husband’s knowledge. Knowledge also affects the husband’s role as a motivator, while media exposure affects the husband’s role as an educator.ABSTRAKLatar belakang: Penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu upaya untuk mengatasi tingginya angka kelahiran dan kematian ibu pada pasangan yang menikah di usia muda. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi pada istri adalah peran suami, baik peran sebagai motivator, fasilitator, dan edukator.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi peran suami dalam pengambilan keputusan pemilihan alat kontrasepsi pada pasangan yang menikah muda, di wilayah kerja Pusksmas I Sukoharjo, Wonosobo.Metode: Jenis penelitian kuantitatif non eksperimen, survei analitik, dengan rancangan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2017, dengan sampel sebanyak 50 orang suami yang menikah di usia muda sebagai responden. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner peran suami dan pengetahuan suami tentang kontrasepsi. Analisis data menggunakan chi square.Hasil: Peran suami sebagai motivator dan fasilitator berada dalam kategori baik (64% dan 86%). Sementara peran suami sebagai edukator berada dalam kategori kurang (44%). Terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga (p=0,033), pengetahuan suami (p=0,015), dan paparan media (p=0,013) dengan peran suami dalam pengambilan keputusan pemilihan alat kontrasepsi.Kesimpulan: Faktor yang memengaruhi peran suami dalam pengambilan keputusan pemilihan alat kontrasepsi adalah pendapatan keluarga dan pengetahuan suami. Pengetahuan juga memengaruhi peran suami sebagai motivator, sedangkan paparan media memengaruhi peran suami sebagai edukator.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Audiovisual terhadap Konsumsi Natrium pada Populasi dengan Risiko Tinggi Sindrom Metabolik di Puskesmas Turi Kharina Nur Shabrina; Sri Mulyani; Melyza Perdana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44261

Abstract

Background: Breastmilk is the most important baby food especially in the first months of life. The achievement level of exclusive breastfeeding in 2014 at Pati Regency was 30.4%, moreover Trangkil District was the lowest among others which was achieved 6,4%. Karanglegi Village belongs to Trangkil District. Mother’s knowledge is one of the hindrance to highten breastfeeding achievement level. Thus, health education through demonstration method is expected to increase mother's knowledge.Objective: To identify the effect of health education using demonstration method to increase the knowledge on breastfeeding management in pregnant women in Posyandu Karanglegi, Pati Regency.Methods: The study was a quantitative research type with Quasi-experimental research design using One Group pre-test and post-test. The research subjects were 14 pregnant women selected by purposive sampling. Visual aid was used during health education delivery. A questionnaire was used to asses knowledge on breastfeeding management in pregnant women and Wilcoxon Test was applied for analysis.Results: There was an increase in the mean of pretest and posttest values from 9,42 to 10,78. Statistical analysis of the mean values of total pretest and posttest showed p = 0,012 (p <0,05) which means that there was a statistically significant difference in respondents' knowledge before and after obtaining health education by demonstration method.Conclusion: The average value of breastfeeding management knowledge after being given a health education with demonstration method is higher than before given health education.ABSTRAKLatar belakang: ASI adalah makanan bayi yang paling penting, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan. Cakupan pemberian ASI eksklusif tahun 2014 di Kabupaten Pati masih tergolong rendah, khususnya Kecamatan Trangkil (6,4%). Desa Karanglegi termasuk dalam wilayah Kecamatan Trangkil. Salah satu hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif adalah tingkat pengetahuan ibu yang rendah. Pemberian pendidikan kesehatan menggunakan metode demonstrasi, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi terhadap tingkat pengetahuan tentang manajemen pemberian ASI pada ibu hamil di Posyandu Karanglegi, Kabupaten Pati.Metode: Jenis penelitian kuantitatif pre-eksperimen dengan desain one group pretest and posttest. Subjek penelitian sebanyak 14 ibu hamil yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan bantuan alat peraga. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan ibu. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon test.Hasil: Terdapat peningkatan nilai mean pengetahuan ibu pada saat pretest dan posttest dari 9,42 menjadi 10,78. Analisis statistik terhadap nilai mean total pretest dan posttest menunjukkan hasil p=0,012 (p<0,05), berarti terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada pengetahuan responden sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi.Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi efektif meningkatkan skor pengetahuan ibu.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Demonstrasi terhadap Tingkat Pengetahuan Manajemen Pemberian ASI pada Ibu Hamil di Posyandu Karanglegi, Kabupaten Pati Saffanah Khairunnisa; Widyawati Widyawati; Wiji Triningsih
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44280

Abstract

Background: Breastmilk is the most important baby food especially in the first months of life. The achievement level of exclusive breastfeeding in 2014 at Pati Regency was 30.4%, moreover Trangkil District was the lowest among others which was achieved 6,4%. Karanglegi Village belongs to Trangkil District. Mother’s knowledge is one of the hindrance to highten breastfeeding achievement level. Thus, health education through demonstration method is expected to increase mother's knowledge.Objective: To identify the effect of health education using demonstration method to increase the knowledge on breastfeeding management in pregnant women in Posyandu Karanglegi, Pati Regency.Methods: The study was a quantitative research type with Quasi-experimental research design using One Group pre-test and post-test. The research subjects were 14 pregnant women selected by purposive sampling. Visual aid was used during health education delivery. A questionnaire was used to asses knowledge on breastfeeding management in pregnant women and Wilcoxon Test was applied for analysis.Results: There was an increase in the mean of pretest and posttest values from 9,42 to 10,78. Statistical analysis of the mean values of total pretest and posttest showed p = 0,012 (p <0,05) which means that there was a statistically significant difference in respondents' knowledge before and after obtaining health education by demonstration method.Conclusion: The average value of breastfeeding management knowledge after being given a health education with demonstration method is higher than before given health education.ABSTRAKLatar belakang: ASI adalah makanan bayi yang paling penting, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan. Cakupan pemberian ASI eksklusif tahun 2014 di Kabupaten Pati masih tergolong rendah, khususnya Kecamatan Trangkil (6,4%). Desa Karanglegi termasuk dalam wilayah Kecamatan Trangkil. Salah satu hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif adalah tingkat pengetahuan ibu yang rendah. Pemberian pendidikan kesehatan menggunakan metode demonstrasi, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi terhadap tingkat pengetahuan tentang manajemen pemberian ASI pada ibu hamil di Posyandu Karanglegi, Kabupaten Pati.Metode: Jenis penelitian kuantitatif pre-eksperimen dengan desain one group pretest and posttest. Subjek penelitian sebanyak 14 ibu hamil yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan bantuan alat peraga. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan ibu. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon test.Hasil: Terdapat peningkatan nilai mean pengetahuan ibu pada saat pretest dan posttest dari 9,42 menjadi 10,78. Analisis statistik terhadap nilai mean total pretest dan posttest menunjukkan hasil p=0,012 (p<0,05), berarti terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada pengetahuan responden sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi.Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi efektif meningkatkan skor pengetahuan ibu.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Audiovisual Terhadap Peningkatan Pengetahuan Manajemen Pemberian ASI Kader Posyandu di Desa Wijimulyo Nanggulan Kulon Progo Ayyu Sandhi; Ika Parmawati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.47308

Abstract

Background: Breastmilk is very beneficial for immunity, growth, development, and reducing infant and toddler mortality. One of the pivotal factors that affects breastfeeding success is the support of community health workers, particularly Posyandu cadres. Health education using audiovisual media is expected to improve cadres’ knowledge in giving breastfeeding counseling among mothers with infant.Objective: To identify the effect of health education using audiovisual media on Posyandu cadres’ knowledge of breastfeeding management in Wijimulyo, Nanggulan subdistrict, Kulon Progo.Method: This was a pre-experimental study with one group pretest-posttest design. A total of 40 Posyandu cadres, who were chosen through purposive sampling, participated in this study. Audiovisual media was used as intervention tool in health education, and the cadres’ knowledge was measured by questionnaire. Data was analyzed by using Wilcoxon signed rank test.Results: There was improvement of pretest and posttest mean score from 15,18 to 16,60. The result of statistical analysis showed significant difference in breastfeeding management knowledge among Posyandu cadres before and after health education using audiovisual media (p = 0,000).Conclusion: Health education using audiovisual media is effective to improve cadres’ knowledge of breastfeeding management.ABSTRAKLatar belakang: Air susu ibu (ASI) sangat bermanfaat untuk sistem pertahanan tubuh, pertumbuhan, dan perkembangan bayi, serta berkontribusi menurunkan angka kematian bayi dan balita. Salah satu faktor yang berperan dalam kesuksesan pemberian ASI di antaranya dukungan dari kader Posyandu. Pendidikan kesehatan dengan media audiovisual diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan kader Posyandu sehingga mendukung peningkatan keterampilan edukasi kader pada ibu menyusui.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media audiovisual terhadap pengetahuan manajemen pemberian ASI kader Posyandu di Desa Wijimulyo, Kecamatan Nanggulan, Kulon Progo.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Subjek penelitian sebanyak 40 orang kader Posyandu yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen penelitian mencakup alat intervensi, yaitu media audiovisual untuk pendidikan kesehatan dan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan kader. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Wilcoxon signed rank test.Hasil: Terdapat peningkatan mean nilai pretest dan posttest dari 15,18 menjadi 16,60. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik pada pengetahuan responden sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan melalui media audiovisual (p = 0,000).Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan media audiovisual efektif untuk meningkatkan pengetahuan kader terkait manajemen pemberian ASI.
Pemenuhan Kebutuhan Keluarga Pasien Kritis dengan Perawatan Paliatif di Intensive Care Unit: Studi di Yogyakarta Sri Setiyarini; Eri Yanuar Akhmad; Happy Indah Kusumawati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.71433

Abstract

Background: Regarding the severity of disease, death occur at high rates in ICU, with mortality rate reaches 25%. Hospitalization in ICU has significant impact for patient’s family, therefore meeting needs of family is crucial part in the ICU. Objective: To determine family needs of critically ill patients who need palliative care from nurses and familes perspective.Method: This was descriptive study which conducted in three ICU facilities in Yogyakarta. The subjects were 31 nurses and 76 family members who completed the Critical Care Family Needs Inventory (CCFNI), Meeting Needs Inventory (MNI) instruments and open questions. Data were analyzed quantitatively used mean (± SD) and percentage.Result: The mean (± SD) score of inventory needs (CCFNI) subscale from nurse perception vs. family perception were as follows: assurance (3,488 ± 0,386 vs. 3,602 ± 0,362), proximity and accessibly (3,308 ± 0,363 vs. 3,484 ± 0,739), information (3,207 ± 0,630 vs. 3,334 ± 0,422). The mean (± SD) score of meeting needs (MNI) subscale from perception of nurses vs family were as follows: assurance (3,160 ± 0,371 vs. 3,137 ± 0,556), proximity and accessibly (3,151 ± 0,405 vs. 2,998 ± 0,531), information (2,775 ± 0,399 vs. 2,512 ± 0,630). Conclusion: The most important family need and meeting need, according to nurses and families, is assurance subscale.ABSTRAKLatar belakang: Beratnya jenis penyakit pasien di ICU, membuat ICU menjadi tempat kematian yang umum bagi pasien, dengan angka kematian sekitar 25%. Hospitalisasi di ICU cukup berdampak pada keluarga, sehingga memenuhi kebutuhan keluarga menjadi hal yang penting di ICU. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pemenuhan kebutuhan keluarga pasien kritis yang membutuhkan perawatan paliatif, dari persepsi perawat dan keluarga.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan di tiga ICU di Yogyakarta. Terdapat 31 sampel perawat dan 76 sampel keluarga pasien yang mengisi instrumen The Critical Care Family Needs Inventory (CCFNI), Meeting Needs Inventory (MNI), dan beberapa pertanyaan terbuka. Data dianalisis secara kuantitatif menggunakan rerata (± SD) dan persentase.Hasil: Skor rerata pentingnya kebutuhan keluarga pasien dari persepsi perawat dan keluarga pada 3 subskala tertinggi, adalah: jaminan 3,488 (± 0,386) dan 3,602 (± 0,362); kedekatan dan akses 3,308 (± 0,363) dan 3,484 (± 0,739); informasi 3,207 (±0,630) dan 3,334 (± 0,422). Rerata terpenuhinya kebutuhan keluarga pasien dari persepsi perawat dan keluarga pada 3 subskala tertinggi, adalah: jaminan 3,160 (± 0,371) dan 3,137 (± 0,556); kedekatan dan akses 3,151(± 0,405) dan 2,998 (± 0,531), informasi 2,775 (± 0,399) dan 2,512 (± 0,630), Kesimpulan: Baik kebutuhan maupun pemenuhan kebutuhan, yang dianggap paling penting menurut perawat dan keluarga adalah jaminan.
Gambaran Perilaku Anak Berkebutuhan Khusus dan Penanganannya oleh Guru di Sekolah Dasar Inklusi Kabupaten Sleman Galih Adi Pratama; Ibrahim Rahmat; Sri Warsini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.74915

Abstract

Background: Sleman District Government through the Child Friendly City (Kota Layak Anak/KLA) has a child-friendly school program in the form of inclusive school. The implementation of inclusive education in Indonesia has not met the current standard. There has been no further study regarding the behavior of children with special needs in inclusive schools and how teacher handle their behaviors in Sleman. Therefore, research on the experience of classroom teachers in finding and handling behavior of children with special needs in inclusive primary school of Sleman Regency is important.Objective: To describe the experience of classroom teachers in finding and handling behavior of children with special needs in inclusive primary school Sleman Regency.Method: This research was qualitative with phenomenology approach. The subjects were six class teachers, six parents/guardians, and two education-office civil servants whom were selected by purposive sampling method. Data obtained from the results of in-depth interviews were processed using content analysis.Result: Children with special needs had several behavioral problems, i.e: internalizing problems in the form of anxiety, somatic disorder, and withdrawal; externalizing issues (behavior) in the form of aggressive behavior, and destructive behavior; other behavioral problems such as attention disorder, thought problem, and social problem. The handling of children with special needs at school was based on the strategy of the school and its classroom teacher.Conclusion: There are five themes in this research that are internalizing (emotion) children with special needs, externalizing (behavioral) problem of children with special needs, other behavior problem, classroom teacher strategy in handling children with special needs behavior, and school strategy in handling children with special needs behavior.ABSTRAKLatar belakang: Pemerintah Kabupaten Sleman melalui program Kota Layak Anak (KLA) mempunyai program sekolah ramah anak yang diimplementasikan dalam sekolah inklusi. Pelaksanaan pendidikan inklusi di Indonesia masih belum memenuhi standar yang ada. Belum ada kajian lebih lanjut mengenai sekolah inklusi di Kabupaten Sleman khususnya mengenai perilaku Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah inklusi dan bagaimana penanganan perilaku yang telah dilakukan guru di sekolah. Oleh karena itu, penelitian tentang pengalaman guru kelas dalam menemukan perilaku pada anak berkebutuhan khusus dan penanganannya di sekolah dasar inklusi Kabupaten Sleman, penting untuk dilakukan.Tujuan: Mengetahui pengalaman guru kelas dalam menemukan perilaku pada anak berkebutuhan khusus dan penanganannya di sekolah dasar inklusi Kabupaten Sleman.Metode: Jenis penelitian ini adalah kualitatif, menggunakan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian adalah 6 guru kelas, 6 orang tua/wali, dan 2 pegawai dinas yang dipilih dengan purposive sampling. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan analisis konten.Hasil: ABK mempunyai beberapa masalah perilaku, yaitu masalah internalizing (emosi) yang meliputi kecemasan, gangguan somatis, dan menarik diri; masalah externalizing (perilaku) yang meliputi perilaku agresif dan perilaku merusak; serta masalah perilaku lainnya, seperti gangguan perhatian, masalah pemikiran, dan masalah sosial. Penanganan ABK di sekolah dilakukan berdasarkan strategi dari sekolah dan yang dilakukan oleh guru kelas.Kesimpulan: Terdapat lima tema dalam penelitian ini, yaitu masalah internalizing (emosi) ABK, masalah externalizing (perilaku) ABK, masalah perilaku lainnya, strategi guru kelas dalam penanganan perilaku ABK, dan strategi sekolah dalam penanganan perilaku ABK. 
Hubungan Stres dengan Konsep Diri Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Yogyakarta Yanuarta Sulistiyawati; Puji Sutarjo; Ibrahim Rahmat
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44275

Abstract

Background: Female prisoner suffers more stressful situation. Stress can cause a change in life that response emotionally in the form of negative feelings to oneself. These negative feelings can affect the self-concept response of the individual to become maladaptive. Objective: To know the correlation between stress and self-concept of female prisoners in Women’s Correctional Institution (Lembaga Pemasyarakatan Perempuan/LPP) in Yogyakarta. Methods: This was non-experimental quantitative research with correlational analytics and cross-sectional design. The study was conducted at LPP Yogyakarta in December 2017. The sample in this study was female prisoners in LPP Class IIB Yogyakarta, which amounted to 64 people. The sampling technique used in this study was the consecutive sampling technique. Stress measurement was using the Windistiar’s instrument and self-concept measurements was using the Rahmat’s instrument as basis, then they were modified by the researchers. The analysis used in this study was univariate and bivariate analysis that using chi-square test. Results: The majority of respondents had low level stress (79,69%) and negative self-concept (51,6%). Moreover, p value for chi-square test of the correlation between the stress level and self-concept, was 0,001. Conclusion: There is a correlation between stress and self-concept of female prisoners in LPP Yogyakarta.ABSTRAKLatar belakang: Menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan merupakan situasi yang penuh dengan stres, terlebih untuk narapidana wanita. Stres dapat menyebabkan perubahan dalam kehidupan, yang memberi respons emosional dalam bentuk perasaan negatif terhadap diri sendiri. Perasaan negatif tersebut dapat memengaruhi respons konsep diri individu, sehingga menjadi maladaptif. Tujuan: Mengetahui hubungan antara stres dengan konsep diri pada narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan di LPP Kelas II B Yogyakarta, pada Bulan Desember 2017. Sampel dalam penelitian ini adalah narapidana wanita di LPP Yogyakarta yang berjumlah 64 orang. Teknik sampling yang digunakan, yaitu consecutive sampling. Pengukuran stres menggunakan instrumen dari Windistiar dan pengukuran konsep diri menggunakan instrumen Rahmat yang dimodifikasi oleh peneliti. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat, menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat stres yang rendah (79,69%) dan memiliki konsep diri yang negatif (51,6%). Berdasarkan hasil uji chi-square pada hubungan antara tingkat stres dengan konsep diri, didapatkan nilai p value sebesar 0,001. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara stres dengan konsep diri pada narapidana wanita di LPP Yogyakarta. 
Gambaran Kenyamanan Ibu Menyusui yang Menggunakan Ruang Laktasi di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman Rizky Endah Wuningsari; Sri Mulyani
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44289

Abstract

Background: The scope of exclusive breastfeeding in Indonesia is still fluctuating, thus the government made policies regarding procurement of lactation rooms in public places and in the workplace. It is necessary for the availability of lactation rooms to consider the comfort of mothers who use it, because comfort is an important condition.Objective: To understand the description of comfort of breastfeeding mother who used the lactation room in primary health care in Sleman District.Method: This research was a descriptive quantitative non-experimental research with cross-sectional design. This research was conducted in five Primary Health Care that were selected randomly. The samples of this research were 91 people who had been or currently used spaces in the five lactation rooms at the five Primary Health Cares. Instrument in this study was General Comfort Questionnaire (GCQ) questionnaire from Kolcaba which had been modified. This research was analyzed using univariate analysis.Result: Physical comfort perceived by respondents including not feeling sore (80,2%), not hungry/thirsty (85,7%), and not tired (91,2%). Psycho-spiritual comfort perceived by respondents including feeling confident (87,9%), satisfied (89,0%), privacy-maintained (87,9%), the mind became calm (90,1%), having no fear (84,6 ), not feeling depressed/discouraged (94,5%), and the need to feel more comfortable when breastfeed in lactation room (93,4%). Environmental comfort perceived by respondents including feeling in a groove (87,9%), comfortable with room lighting (73,6%), no odor (79,1%), the lactation room was easy to find (92,3%), and feeling calm in the room (87,9%). Social comfort perceived by respondents including not feeling lonely (86,8%), not disturbed by people (95,6%), still using the lactation room although there was someone in it (81,3%), and did not require the help of another person when breastfeed in the lactation room (89,0%).Conclusion: The majority of breastfeeding mothers who used the lactation room felt comfortable in terms of physical, psycho-spiritual, environmental, and social.ABSTRAKLatar belakang: Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih fluktuatif, maka pemerintah membuat kebijakan mengenai pengadaan ruang laktasi di tempat umum maupun di tempat kerja. Adanya ruang laktasi perlu memperhatikan kenyamanan ibu menyusui yang menggunakan ruangan tersebut, karena kenyamanan merupakan suatu kondisi yang penting bagi seorang ibu menyusui.Tujuan: Mengetahui gambaran kenyamanan ibu menyusui yang menggunakan ruang laktasi di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Mei 2016 di lima Puskesmas di Kabupaten Sleman. Responden penelitian ini dipilih menggunakan teknik convenience sampling, yaitu sebanyak 91 orang ibu menyusui yang pernah atau sedang menggunakan ruang laktasi di lima Puskesmas tersebut. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan kuesioner General Comfort Questionnaire (GCQ) dari Kolcaba yang dimodifikasi. Analisis penelitian ini menggunakan analisis univariat.Hasil: Responden merasakan kenyamanan fisik seperti tidak merasa pegal (80,2%), tidak lapar/haus (85,7%), tidak lelah (91,2%), dan merasa sehat (95,6%); kenyamanan psiko-spiritual, seperti merasa percaya diri (87,9%), puas (89,0%), privasi terjaga (87,9%), pikiran menjadi tenang (90,1%), tidak takut (84,6), dan tidak merasa patah semangat (94,5%); kenyamanan lingkungan seperti merasa berada di tempat yang disenangi (87,9%), nyaman dengan pencahayaan (73,6%), tidak bau (79,1%), mudah untuk menemukan ruangan (92,3%), serta merasa tenang (87,9%); dan kenyamanan sosial seperti tidak kesepian (86,8%), tidak ada yang mengganggu (95,6%), tetap menggunakan ruang walaupun ada seseorang di dalamnya (81,3%), dan tidak memerlukan bantuan orang lain ketika menyusui (89,0%).Kesimpulan: Sebagian besar ibu menyusui yang menggunakan ruang laktasi merasa nyaman baik dari segi fisik, psiko-spiritual, lingkungan, dan sosial.
Gambaran Pengetahuan Family caregiver dalam Merawat Pasien Demensia Merry Olvia; Heny Suseani Pangastuti; Christantie Effendy
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44302

Abstract

Background: Dementia is a chronic disease that will affect the function and the dependency of patient, thus requiring assistance from the caregiver to fulfill their daily needs. Family caregivers providing care to dementia patients are influenced by knowledge. Knowledge is one of the abilities needed in caring for dementia patients. Objective: The aim of this study is to give the description about caregiver’s knowledge that treating patients with dementia. Method: This study is a descriptive quantitative study using cross sectional design. Selection of sample was done by using non probability purposive sampling technique. The sample consisted of 53 family caregivers that have been recorded in medical record of Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta on May 2018 by using inclusion criteria i.e. 1) took care a patient with dementia, 2) aged more than 18 years old, and 3) willing to become the respondents of this study. Data were obtained by using dementia knowledge assessment scale (DKAS) questionnaire which has been translated to Indonesian language. Data were analyzed using univariate analysis. Results: Majority respondents were women and aged more than 65 years old and has been taking care the patient more than 6 months. The majority type of dementia of the patients was vascular. Their average knowledge score were 23,25 from the maximum 50 total score. The highest average score was in domain 3, i.e. care consideration (8,17 ± 2,64), and the lowest one is in domain 2, i.e. communication and behavior (4,19 ± 1,82). Conclusion: Family caregivers’ knowledge about dementia that consist of several domain were still categorized as low.Keywords: dementia; family caregiver; knowledgeABSTRAKLatar belakang: Demensia merupakan penyakit kronis yang memengaruhi fungsi kerja dan kemandirian dari pasien, sehingga dibutuhkan peran caregiver dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Family caregiver memberikan perawatan kepada pasien demensia dipengaruhi oleh pengetahuan. Pengetahuan merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan dalam merawat pasien demensia.  Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan family caregiver dalam merawat pasien demensia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross sectional. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik sampling nonprobability purpossive sampling. Sampel terdiri dari 53 family caregiver pasien demensia yang tercatat klinik memori RSUP Dr. Sardjito pada bulan Mei 2018 dengan kriteria inklusi, yaitu 1) family caregiver pasien demensia, 2) usia lebih dari 18 tahun, dan 3) bersedia menjadi responden penelitian. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner data demografi dan Dementia Knowledge Assesment Scale (DKAS) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Mayoritas family caregiver rata-rata berusia lebih dari 65 tahun, perempuan, dan telah merawat pasien lebih dari 6 bulan. Jenis demensia yang paling banyak diderita pasien adalah demensia vaskular. Pengetahuan family caregiver pasien demensia rata-rata adalah 23,25 dari skor total maksimal 50. Rata-rata skor pengetahuan family caregiver tentang demensia tertinggi adalah pada domain 3 care consideration (rata-rata 8,17 ± 2,64) dan terendah pada domain 2 communication and behaviour (rata-rata 4,19 ± 1,82). Kesimpulan: Pengetahuan family caregiver tentang demensia masih dalam kategori kurang. 
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Berbasis Kesetaraan Gender Terhadap Efikasi Diri Seksual Remaja Putra Siswa SMP di Kota Yogyakarta Annisa Rachmawati; Wenny Artanty Nisman; Ika Parmawati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.67967

Abstract

Background: Teenagers experience various changes, both physically and physiologically. Prominent changes result in the attraction of the opposite sex thus begin to feel sexual desire. Society that favored one gender increases the possibility of adolescents to develop risky sexual behavior. Reproductive health education is an intervention that can be done to reduce the sexual risk behavior in adolescents. Objectives: This study aims to determine the effect of gender equality-based reproductive health education on sexual self-efficacy of male students. Method: This study was a quasi-experimental study with pretest-posttest with a control group. Samples were taken by consecutive sampling technique. Respondents were 33 male adolescents who were given gender equality-based reproductive health education and 34 male adolescents with usual reproductive health education only that were conducted by the Puskesmas as a control group. Sexual self-efficacy was measured by the adolescent sexual self-efficacy questionnaire developed by researchers (r >0,1754; p= 0,745). Results: Differences in the self-efficacy score on pretest-posttest treatment group were -3,54 ± 12,88 and the control group was 3,09 ± 13,25. The treatment group has a value of p = 0,124 and the control group p = 0,183 so that the two did not experience a significant increase. There was a significant difference between the treatment group and the control group with a value of p= 0,034 but there was a decline in self-efficacy in the treatment group. The relationship test results show that the idol correlates with the increase in the male sexual self-efficacy score. Conclusion: Gender-based reproductive health education has no effect on increasing the male sexual self-efficacy score.ABSTRAKLatar belakang: Remaja mengalami berbagai perubahan, baik perubahan secara fisik maupun psikologis. Perubahan yang menonjol mengakibatkan munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis yang memicu munculnya hasrat seksual. Budaya masyarakat yang mengunggulkan salah satu gender meningkatkan kerentanan remaja untuk melakukan perilaku seksual berisiko. Pendidikan kesehatan reproduksi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi perilaku berisiko seksual pada remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi berbasis kesetaraan gender terhadap efikasi diri seksual remaja putra. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental with pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Responden adalah 33 remaja putra yang diberikan pendidikan kesehatan reproduksi berbasis kesetaraan gender dan 34 remaja putra dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang biasa dilakukan Puskesmas sebagai kelompok kontrol. Efikasi diri seksual diukur dengan kuesioner efikasi diri seksual remaja yang dikembangkan oleh peneliti.  Hasil: Beda peningkatan skor efikasi diri pada pretest-posttest kelompok perlakuan sebesar -3,54±12,88 (p = 0,124) dan kelompok kontrol sebesar 3,09±13,25 (p = 0,183) sehingga keduanya tidak mengalami peningkatan signifikan. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan nilai p = 0,042 namun terjadi penurunan rerata pada kelompok perlakuan. Hasil uji hubungan menunjukkan idola berkorelasi dengan peningkatan skor efikasi diri seksual remaja putra. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan reproduksi berbasis kesetaraan gender tidak berpengaruh terhadap peningkatan skor efikasi diri seksual remaja putra.

Page 9 of 17 | Total Record : 164