cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 176 Documents
Gambaran Caring Behavior Perawat dari Penilaian Pasien dan Perawat di Bangsal Bedah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Resitha Amelia Putri; Arifin Triyanto; Christantie Effendy
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.116945

Abstract

Latar belakang: Pelayanan keperawatan merupakan bagian penting dalam sistem Kesehatan. Perilaku caring atau caring behavior yang berperan dalam menciptakan hubungan terapeutik yang mendukung proses penyembuhan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Dalam konteks pelayanan bedah, caring menjadi sangat penting karena pasien menghadapi tekanan fisik dan psikologis yang tinggi selama proses perawatan perioperatif. Penerapan caring behavior yang optimal menjadi salah satu indikator penting dalam peningkatan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit.Tujuan: Mengetahui gambaran caring behavior perawat dari penilaian pasien dan perawat di bangsal bedah RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Instrumen yang digunakan merupakan instrument tunggal yaitu Caring Behaviors Inventory-24 (CBI-24) untuk mengukur penilaian caring perawat. Data dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif dan chi-squareHasil: Penilaian caring behavior perawat menurut pasien lebih banyak berada pada kategori sudah baik (52,5%), sedangkan menurut penilaian perawat terhadap dirinya sendiri juga sudah baik (51,5%). Berdasarkan indikator domain, dimensi Respecful memperoleh penilaian tertinggi dari pasien (54,5%), sedangkan pada penilaian perawat dimensi Assurance menepati penilaian tertinggi (58,4%). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara penilaian pasien dan perawat terhadap caring behavior secara keseluruhan (p = 0,035) dan pada keempat indikator domain (assurance (p = 0,408 ; p > 0,05), knowledge and skill (p = 0,191 ; p > 0,05), respectful (p = 0,661 ; p > 0,05), connectedness (p = 0,257 ; p > 0,05).Simpulan: Caring behavior perawat di bangsal bedah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta secara keseluruhan dan pada setiap indikator domain sudah dalam kategori sudah baik.
Hubungan Pengetahuan Orang Tua tentang Pneumonia dan Pneumococcal Conjugate Vaccine dengan Penerimaan PCV di Sleman Ghofur Hariyono; Sri Hartini; Ayyu Sandhi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.118913

Abstract

Background: Pneumonia remains a cause of mortality among Indonesian infants and children under five. Since 2022, Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) has been included in the national immunization program. Parental knowledge and acceptance influence PCV immunization among children. Studies in Indonesia regarding knowledge of pneumonia, PCV immunization, and PCV acceptance remain limited. Objective: To analyze the relationship between parental knowledge of pneumonia and PCV immunization and PCV acceptance. Methods: A cross-sectional study was conducted at 28 posyandu in Sleman involving 288 parents of children aged 0–2 years, excluding children with contraindications to PCV immunization. Proportionate stratified random sampling was used to determine sample size in each village, while posyandu were randomly selected in March 2025. Data were collected using validated questionnaires consisting of 13 knowledge and 9 acceptance items (r > 0,244), with KR-20 = 0,723 and Cronbach’s alpha = 0,707. Spearman’s Rho and Mann–Whitney tests analyzed relationships between characteristics, knowledge, and acceptance. Multiple linear regression identified the main predictor of acceptance. Results: A total of 73,6% of parents had good knowledge. Positive acceptance included pneumonia burden (89,2%), PCV benefits (91,7%), PCV financing (95,1%), willingness to immunize children (96,5%), and PCV socialization (93,4%). Knowledge was associated with PCV acceptance (r = 0,173; p = 0,003) and was the dominant factor (β = 0,296). Education (p = 0,023), health insurance ownership (p = 0,034), and experience (p = 0,001) were also associated with PCV acceptance. Conclusion: Better parental knowledge of pneumonia and PCV immunization was associated with positive PCV acceptance.INTISARILatar belakang: Pneumonia masih menjadi salah satu penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. Sejak tahun 2022, Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) telah menjadi program imunisasi nasional. Pengetahuan dan penerimaan orang tua memengaruhi pemberian imunisasi PCV pada anak. Penelitian di Indonesia terkait pengetahuan pneumonia dan imunisasi PCV serta penerimaan PCV masih terbatas. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan orang tua tentang pneumonia dan imunisasi PCV dengan penerimaan PCV. Metode: Penelitian cross-sectional di 28 Posyandu di Sleman melibatkan 288 orang tua anak usia 0–2 tahun, dengan kriteria eksklusi anak yang memiliki kontraindikasi imunisasi PCV. Proportionate stratified random sampling digunakan untuk menentukan sampel tiap kalurahan, sedangkan Posyandu dipilih secara acak pada Maret 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi yang terdiri dari 13 item pengetahuan dan 9 item penerimaan (r > 0,244), dengan KR-20 = 0,723 (pengetahuan) dan Cronbach’s alpha = 0,707 (penerimaan). Uji Spearman’s Rho dan Mann–Whitney digunakan untuk menganalisis hubungan karakteristik, pengetahuan, dan penerimaan. Regresi linier berganda mengidentifikasi prediktor utama penerimaan. Hasil: Sebanyak 73,6% orang tua memiliki pengetahuan baik. Penerimaan positif mencakup persepsi beban pneumonia (89,2%), manfaat PCV (91,7%), pembiayaan PCV (95,1%), kesediaan imunisasi (96,5%), dan sosialisasi PCV (93,4%). Pengetahuan berhubungan dengan penerimaan PCV (r = 0,173; p = 0,003) dan menjadi faktor paling dominan (β = 0,296). Pendidikan (p = 0,023), kepemilikan asuransi kesehatan (p = 0,034), dan pengalaman (p = 0,001) juga berhubungan dengan penerimaan PCV. Simpulan: Semakin baik pengetahuan orang tua dari anak usia 0–2 tahun tentang pneumonia dan imunisasi PCV, semakin positif penerimaan terhadap imunisasi PCV.
Efektivitas Intervensi Ergonomi terhadap Work-Related Musculoskeletal Disorders pada Pekerja Pertanian: Literature Review Ahmad Eko Wibowo; Candra Dermawan; Risky Kusumawardani; Hanan Alawiyah; Baiq Deisy Pupiyati; Iman Firmansyah; Nurfika Asmaningrum
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.119624

Abstract

Background: Work-related musculoskeletal disorders (WMSDs) are a major occupational health concern among agricultural workers worldwide, with a prevalence up to 50% higher than that of workers in non-agricultural sectors, due to exposure to repetitive and prolonged non-ergonomic working postures. However, guidelines for implementing evidence-based ergonomic interventions that can be carried out by community nurses in Indonesia remain limited. Objective: To review the effectiveness of ergonomic interventions in reducing WMSDs risk and complaints among agricultural workers in community settings based on recent evidence (2020–2025). Method: A systematic literature search was conducted across four databases (Scopus, PubMed, Cochrane/Wiley, Google Scholar). From 135 identified articles, 93 unique articles were obtained after deduplication; 12 final articles were included after screening and eligibility assessment. JBI critical appraisal tools were applied. Result: Twelve articles encompassed cross-sectional, quasi-experimental, observational, and review designs. WMSDs prevalence ranged from 39–76%, with low back pain, shoulder pain, and neck pain as the most common complaints. Ergonomic interventions including posture training, tool redesign, and participatory ergonomics significantly reduced musculoskeletal complaints. Conclusion: Ergonomic interventions are effective in reducing WMSDs among agricultural workers. Community nurses play a strategic role in implementing evidence-based ergonomic programs.INTISARILatar belakang: Gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan (WMSDs) merupakan masalah kesehatan kerja utama pada pekerja pertanian di seluruh dunia, dengan prevalensi mencapai 50% lebih tinggi dibandingkan pekerja di sektor non-pertanian akibat paparan postur kerja nonergonomis berulang dan berkepanjangan. Namun panduan implementasi intervensi ergonomi berbasis bukti yang dapat dilakukan perawat komunitas di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Menelaah efektivitas intervensi ergonomi dalam menurunkan risiko dan keluhan WMSDs pada pekerja pertanian di setting komunitas berdasarkan bukti ilmiah terkini (2020–2025). Metode: Penelusuran sistematis dilakukan pada empat database (Scopus, PubMed, Cochrane/Wiley, Google Scholar). Dari 135 artikel teridentifikasi, 93 unik setelah deduplikasi, dan 12 artikel final diinklusi setelah skrining dan asesmen eligibilitas. Penilaian kualitas menggunakan instrumen JBI. Hasil: Dua belas artikel mencakup desain cross-sectional, quasi-experimental, observasional, dan review. Prevalensi WMSDs berkisar 39–76%, dengan low back pain, nyeri bahu, dan nyeri leher sebagai keluhan terbanyak. Intervensi ergonomi pelatihan postur, redesain alat, dan participatory ergonomics terbukti signifikan menurunkan keluhan muskuloskeletal. Simpulan: Intervensi ergonomi efektif menurunkan WMSDs pada pekerja pertanian. Perawat komunitas berperan strategis dalam implementasi program ergonomi berbasis bukti.
Effectiveness of Combinied Tera Gymnastics and Emotional Freedom Technique in Reducing Blood Pressure of Older Adults with Hypertension in Karanglewas Nazwa Arrofa Firdaus; Ragil Setiyabudi; Diyah Yulistika Handayani
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.120929

Abstract

Background: Hypertension is a chronic condition characterized by persistently elevated blood pressure.. This condition is the fourth leading risk factor for mortality among older adults in Indonesia, with a prevalence reaching 10,2%. Generally, long-term pharmacological therapy is prone to triggeringmedication-related adverse effects. Therefore, non-pharmacological approaches such as physical activity and relaxation therapy  have been shown to beeffective alternatives for controlling blood pressure. To date, no study has examined the combined effect of Tera exercise and the Emotional Freedom Technique on lowering blood pressure, particularly in the Karanglewas Community Health Center (Puskesmas) in Banyumas Regency. Objective: To determine the effectiveness of combined Tera gymnastics and Emotional Freedom Technique in reducing blood pressure among older adults with hypertension.in the Karanglewas Community Health Center (Puskesmas) in Banyumas Regency. Method: This research employed a quantitative quasi-experimental design with a pretest and posttest control group. A sample of 40 older adult was obtained through purposive sampling. Blood pressure measurements used a calibrated digital sphygmomanometer. Data normality was tested using the Shapiro-Wilk test. Data were analyzed using the paired t-test, Wilcoxon, and Mann-Whitney U test. Results: In the intervention group, systolic blood pressure decreased significantly from 144,75 to 140,40 (p =0,001) and diastolic blood pressure also decreased significantly from 89,90 to 81,90 mmHg (p =0,001). In the control group, there were no significant changes in systolic blood pressure (p =0,064) and diastolic blood pressure (p =0,872). The Mann-Whitney test showed a significant difference between the intervention group (systolic delta 5,9 and diastolic delta 10,1) and the control group (systolic delta 0,8 and diastolic delta 0,6) with a p =0,001 result (p ≤0,05). Conclusion: The combination of Tera gymnastics and the Emotional Freedom Technique is effective in reducing blood pressure in the elderly.INTISARILatar belakang: Hipertensi merupakan kondisi meningkatnya tekanan darah yang abnormal. Masalah ini menjadi faktor risiko untuk kematian terbesar keempat pada lanjut usia di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 10,2%. Umumnya, pengobatan terapi farmakologis jangka panjang rentan memicu efek samping negatif terkait obat (drug related problems). Oleh karena itu, pendekatan nonfarmakologis aktivitas fisik dan terapi relaksasi menjadi alternatif yang efektif untuk mengontrol tekanan darah. Hingga saat ini belum ada yang meneliti efek gabungan antara senam tera dan Emotional Freedom Technique terhadap penurunan tekanan darah khususnya di wilayah Puskesmas Karanglewas Banyumas. Tujuan: Mengetahui apakah kombinasi senam Tera dan Emotional Freedom Technique efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di wilayah Puskesmas Karanglewas Kabupaten Banyumas. Metode: Desain kuantitatif kuasi-eksperimen dengan rancangan pretest dan posttest control group diterapkan dalam riset ini. Sampel sebanyak 40 lansia diperoleh melalui teknik purposive sampling (non-probabilitas). Pengukuran tekanan darah menggunakan sfigmomanometer digital yang sudah dikalibrasi. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro Wilk. Analisis data menggunakan Paired t-test, Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil: Pada kelompok intervensi tekanan darah sistolik menurun signifikan dari 144,75 ke 140,40 (p=0,001) dan tekanan diastolik juga turun signifikan dari 89,90 ke 81,90 (p=0,001). Pada kelompok kontrol tidak ada perubahan signifikan pada tekanan darah sistolik (p=0,064) dan diastolik (p=0,872). Uji Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi (delta sistolik 5,9 dan diastolik 10,1) dan kontrol (delta sistolik 0,8 dan diastolik 0,6) dengan hasil p=0,001 (p ≤0,05). Simpulan: Kombinasi senam Tera dan Emotional Freedom Technique efektif dalam menurunkan tekanan darah tinggi pada lansia.
Terapi Bermain Storytelling dan Literasi Awal untuk Kecemasan Hospitalisasi Anak Prasekolah: Studi Kasus Caca Tanika; Laili Nur Hidayati; Maili Maghfiroh
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.120996

Abstract

Background: Hospitalization in preschool children often causes anxiety due to the unfamiliar hospital environment, medical procedures, and reduced opportunities for play. Unresolved anxiety may interfere with treatment and recovery. Storytelling play therapy combined with early literacy activities is a developmentally appropriate non-pharmacological intervention for reducing hospitalization anxiety. However, evidence regarding the implementation of this combined intervention in hospitalized preschool children remains limited. Objective: To describe the potential effect of storytelling play therapy combined with early literacy activities on reducing hospitalization anxiety in a preschool child through a case study. Case report: A 3-year-old boy was admitted with bronchopneumonia in stable clinical condition experienced hospitalization anxiety, with an initial Face Image Scale (FIS) score of 4. The nursing diagnosis was anxiety related to a situational crisis (hospitalization). A single 45-minute session of storytelling play therapy integrated with early literacy activities was conducted using an age-appropriate animal-themed picture book, with parental involvement. The storytelling was delivered using engaging intonation and facial expressions while encouraging the child to identify pictures, vowels, and simple consonants embedded in the story. Anxiety levels were assessed before and after the intervention using the FIS. Results: Following the intervention, the child's FIS score decreased from 4 to 1. The patient appeared calmer, more cooperative, and interacted more positively with healthcare professionals during hospitalization. Conclusion: In this case study, storytelling play therapy combined with early literacy activities was associated with a reduction in hospitalization anxiety in a preschool child.INTISARILatar belakang: Hospitalisasi pada anak prasekolah sering menimbulkan kecemasan akibat lingkungan rumah sakit yang tidak familiar, prosedur medis, serta berkurangnya kesempatan bermain. Kecemasan yang tidak teratasi dapat mengganggu proses perawatan dan pemulihan anak. Terapi bermain storytelling dan literasi awal merupakan intervensi nonfarmakologis yang sesuai dengan tahap perkembangan anak untuk membantu mengurangi kecemasan hospitalisasi. Namun, bukti studi kasus mengenai penerapan kombinasi intervensi tersebut pada anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi masih terbatas. Tujuan: Mendeskripsikan pengaruh terapi bermain storytelling dan literasi awal dalam menurunkan kecemasan hospitalisasi pada anak prasekolah dalam studi kasus. Laporan kasus: Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dengan diagnosis bronkopneumonia pada hari pertama perawatan berada dalam kondisi klinis stabil, tetapi mengalami kecemasan hospitalisasi dengan skor awal Face Image Scale (FIS) sebesar 4. Masalah keperawatan yang ditegakkan adalah kecemasan berhubungan dengan krisis situasional (hospitalisasi). Intervensi terapi bermain storytelling yang dipadukan dengan aktivitas literasi awal diberikan dalam satu sesi selama ±45 menit menggunakan buku cerita bergambar bertema hewan yang sesuai dengan usia anak, dengan pendampingan orang tua. Storytelling dilakukan menggunakan intonasi dan ekspresi yang menarik serta melibatkan anak dalam mengenali gambar, huruf vokal, dan huruf konsonan sederhana yang terintegrasi dalam alur cerita. Tingkat kecemasan dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi menggunakan FIS. Hasil: Setelah intervensi, skor FIS menurun dari 4 menjadi 1. Pasien tampak menjadi lebih tenang, kooperatif, serta berinteraksi lebih baik dengan tenaga kesehatan selama perawatan. Simpulan: Terapi bermain storytelling dan literasi awal pada studi kasus ini berpengaruh terhadap penurunan kecemasan hospitalisasi pada anak prasekolah.
Efektivitas Edukasi Kesehatan Berbasis Video Animasi dan Leaflet terhadap Pengetahuan Pencegahan Anemia pada Siswi Kelas VII Siti Wulandari; Dedeh Sri Rahayu; Sri Maryati; Budi Rianto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.121326

Abstract

Background: Anemia among adolescent girls remains a health issue that can affect their health, ability to concentrate in school, and productivity. Health education through animated videos and leaflets has been shown to increase knowledge about anemia prevention. However, research comparing the effectiveness of these two media in improving adolescent girls’ knowledge of anemia prevention remains limited. Objective: To compare effectiveness of health education using animated videos and leaflets on knowledge of anemia prevention among seventh-grade female students at SMPN 8 Cimahi. Method: This quantitative study used a quasi-experimental two-group pretest-posttest design. The sample consisted of 40 seventh-grade female students who met the inclusion criteria, agreed to participate, and completed the study. Respondents were allocated to an animated video group or a leaflet group. Knowledge was measured using a structured questionnaire before and after the intervention. Data were analyzed using the paired-sample t-test and Independent-sample t-test. Results: The mean knowledge score for the animated video group increased from 51,75 to 85,00 (p=0,001), while that for the leaflet group increased from 52,75 to 73,75 (p=0,001). The between-group comparison showed p=0,001 (p <0,005), with the increase in knowledge in the animated video group being higher than that in the leaflet group. Conclusion: Health education through animated videos and leaflets is effective in increasing knowledge about anemia prevention, with animated videos proving more effective than leaflets. Schools are encouraged to collaborate with community health centers in implementing adolescent health programs, particularly those focused on anemia prevention.INTISARILatar belakang: Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan yang dapat berdampak terhadap kesehatan, konsentrasi belajar, dan produktivitas. Edukasi kesehatan melalui video animasi dan leaflet telah diketahui dapat meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan anemia. Namun, penelitian yang membandingkan perbedaan kedua media tersebut dalam meningkatkan pengetahuan pencegahan anemia pada remaja putri masih terbatas. Tujuan: Mengetahui perbedaan edukasi kesehatan berbasis video animasi dan leaflet terhadap pengetahuan pencegahan anemia pada siswi kelas VII SMPN 8 Cimahi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi-experimental two group pretest-posttest. Sampel berjumlah 40 responden yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu siswi kelas VII, setuju menjadi responden, dan mengikuti keseluruhan rangkaian penelitian. Responden dibagi menjadi kelompok video animasi dan kelompok leaflet. Pengukuran pengetahuan menggunakan kuesioner sebelum beserta sesudah intervensi. Data dianalisis melalui paired sample t-test beserta independent sample t-test. Hasil: Rata-rata skor pengetahuan kelompok video animasi meningkat dari 51,75 menjadi 85,00 (p=0,001), sedangkan kelompok leaflet meningkat dari 52,75 menjadi 73,75 (p=0,001). Hasil uji perbedaan antara kedua kelompok menunjukkan p=0,001 (p <0,005) dengan peningkatan pengetahuan kelompok video animasi lebih tinggi dibandingkan leaflet. Simpulan: Edukasi kesehatan melalui video animasi dan leaflet efektif meningkatkan pengetahuan pencegahan anemia, dengan video animasi lebih efektif dibandingkan leaflet. Sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan puskesmas dalam pelaksanaan program kesehatan remaja, khususnya pencegahan anemia.