cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 170 Documents
Hubungan Antara Kedekatan Ibu dan Anak dengan Perilaku Psikososial Anak Usia Prasekolah Sholaita, Khana; Lusmilasari, Lely; Haryanti, Fitri
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.93185

Abstract

Background: Preschool age is at risk of experiencing psychosocial behavior problems which, if not treated immediately, will have an impact on development. The closeness of mother and child is basic in emotional development and social relationships. Objective: Knowing the relationship between mother and child closeness and the psychosocial behavior of preschool childrenMethod: This research is a descriptive analytical research with a research design cross sectional which will be carried out in April – June 2022 in Sleman Regency, Yogyakarta. The research involved 118 respondents taken through the method consecutive sampling. Instrument Child Parent Relationship Scale (C-PRS) is used to measure the closeness of mother and child and Preschool Pediatric Symptom Checklist (PPSC) to measure children's psychosocial behavior. Data were analyzed using correlation tests Spearman.Results: 78% of preschool children's psychosocial behavior is normal, and 22% are at risk of experiencing psychosocial problems. The most common psychosocial problems are internalization and attention problems. Mark mean The warm dimension of closeness between mother and child is higher than the conflict dimension. The warm dimension was negatively correlated with the risk of psychosocial behavior problems (r = -0,190; p = 0,039) while the conflict dimension is positively correlated with the risk of psychosocial problems (r = 0,410; p = 0,000). Conclusion: There is a relationship between the closeness of mother and child and the psychosocial behavior of preschool children. Warm mother-child closeness reduces the risk of psychosocial behavior problems. The closeness between mother and child that tends to be negative (conflict) increases the risk of psychosocial behavior problems.INTISARILatar belakang: Usia prasekolah berisiko mengalami masalah perilaku psikososial yang apabila tidak segera ditangani akan berdampak pada perkembangan. Kedekatan ibu dan anak menjadi hal dasar dalam perkembangan emosional dan hubungan sosial.  Tujuan: Mengetahui hubungan antara kedekatan ibu dan anak dengan perilaku psikososial anak prasekolahMetode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional yang dilakukan pada April – Juni 2022 di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian melibatkan 118 responden diambil melalui metode consecutive sampling. Instrumen Child Parent Relationship Scale (C-PRS) dipakai untuk mengukur kedekatan ibu dan anak dan Preschool Pediatric Symtomp Checklist (PPSC) untuk mengukur perilaku psikososial anak. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman.Hasil: Perilaku psikososial anak prasekolah 78% normal, dan 22% berisiko mengalami masalah psikososial. Masalah psikososial yang paling banyak adalah internalisasi dan masalah perhatian. Nilai mean kedekatan ibu dan anak dimensi hangat lebih tinggi dari pada dimensi konflik. Dimensi hangat berkorelasi negatif dengan risiko masalah perilaku psikososial (r = -0,190; p=0,039) sedangkan dimensi konflik berkorelasi positif dengan risiko masalah psikososial (r = 0,410; p = 0,000). Simpulan: Terdapat hubungan antara kedekatan ibu dan anak dengan perilaku psikososial anak prasekolah. Kedekatan ibu dan anak yang hangat menurunkan risiko masalah perilaku psikososial. Kedekatan ibu dan anak yang cenderung negatif (konflik) meningkatkan risiko masalah perilaku psikososial.
Pengelolaan Pasien Stroke Hemoragik dengan Aritmia di Instalasi Gawat Darurat: Studi Kasus Safira, Vaniya; Martani, Hersinta Retno; Setyawan, Setyawan
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.97586

Abstract

Background: A patient with Spontaneous Intracerebral Hemorrhage (sICH) has a high risk of experiencing arrhythmia and can cause cardiac arrest.Objective: To determine the nursing problem, management, and nursing role of sICH patient with arrhythmia in the Emergency Department.        Case report: A 54-year-old woman came to the ER with GCS E1V2M5, blood pressure 162/106 mmHg, HR 62 times/minute regularly, SpO2 98%, RR 22 times/minute, and a history of sudden loss of consciousness, seizures and vomiting. The previous complaint of headache was denied. Positive Babinski reflex and lateralization to the right were found. After 2 hours of treatment in the ER, the patient experienced arrhythmia and cardiac arrest. CPR was performed for 3 cycles then ROSC with blood pressure of 54/30 mmHg.Outcome: The main nursing problem is a risk of ineffective cerebral tissue perfusion and decreased cardiac output. Acute management of sICH in the ER includes hemostasis management, ICP management, and monitoring. When a patient has cardiac arrest with an asystole rhythm, treatment is carried out according to AHA guidelines, then ROSC with a BP of 54/30 mmHg. Management of hypotension is directly carried out by administering vasopressors regarding the sICH experienced by the patient. Nursing interventions are carried out include management of sICH, management of asystole, and management of post-ROSC hypotension. Conclusion: The acute management of sICH, cardiac arrest, and post ROSC in the ER had been carried out according to the existing algorithm by the nurses as per their roles. At the end of the intervention, the patient had experienced a decrease in consciousness to coma with GCS E1V1M1, BP 133/93 mmHg, MAP 106 mmHg, SpO2 100% with ventilator mode PSIMV PC 14 I: E 1: 2 PEEP 5 FiO2 90 RR 14. This could be caused by complications experienced by the patient in the form of cardiac arrest which was supported by a history of hypertension.INTISARILatar belakang: Pasien dengan kondisi Spontaneous Intracerebral Haemorrhage (sICH) memiliki risiko tinggi untuk mengalami aritmia dan dapat menyebabkan cardiac arrest.Tujuan: Mengetahui masalah keperawatan, penatalaksanaan, dan peran perawat dalam pengelolaan pasien stroke hemoragik dengan aritmia, di Instalasi Gawat Darurat RSA UGM, Yogyakarta.Laporan kasus: Seorang wanita usia 54 tahun datang ke IGD dengan GCS E1V2M5, tekanan darah 162/106 mmHg, HR 62 kali/menit reguler, SpO2 98%, RR 22 kali/menit, serta riwayat penurunan kesadaran mendadak, kejang, dan muntah. Keluhan nyeri kepala sebelumnya disangkal. Ditemukan refleks Babinski positif dan lateralisasi ke kanan. Setelah 2 jam perawatan di IGD, pasien lalu mengalami aritmia dan cardiac arrest. Dilakukan RJP 3 siklus, kemudian ROSC dengan tekanan darah 54/30 mmHg.Hasil: Masalah keperawatan utama, yaitu risiko tidak efektifnya perfusi jaringan otak dan penurunan curah jantung. Penatalaksanaan akut sICH di IGD yang dilakukan berupa manajemen hemostasis, manajemen ICP, dan monitoring. Saat pasien mengalami cardiac arrest dengan irama asystole, dilakukan tata laksana sesuai panduan AHA, lalu ROSC dengan TD 54/30 mmHg. Manajemen hipotensi langsung dilakukan dengan pemberian vasopressor berkenaan dengan sICH yang dialami pasien. Intervensi keperawatan yang dilakukan di antaranya manajemen sICH, manajemen asystole, dan manajemen hipotensi post ROSC. Simpulan: Tata laksana akut sICH, cardiac arrest, dan post ROSC di IGD sudah dilakukan sesuai dengan algoritma yang ada dan perawat telah melaksanakan intervensi sesuai dengan perannya. Di akhir intervensi, pasien mengalami penurunan kesadaran menjadi koma dengan GCS E1V1M1, TD 133/93 mmHg, MAP 106 mmHg, SpO2 100% dengan ventilator mode PSIMV PC 14 I:E 1:2 PEEP 5 FiO2 90 RR 14. Hal tersebut dapat disebabkan karena komplikasi yang dialami pasien berupa cardiac arrest dan riwayat hipertensi yang dialami pasien.
Pencegahan Hipotermia Intraoperatif selama Laparoskopi Apendiks pada Pasien Anak di IBS RSA UGM: Studi Kasus Andayani, Qory Nurulita; Triyanto, Arifin; Ruswanti, Anita
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.98512

Abstract

Background: Children have a higher risk in experiencing intraoperative hypothermia (a body temperature below 36 ºC) compared to adults. This is due to an ineffective thermoregulation system, higher surface area compared to volume, and limited subcutaneous fat reserves.Objective: To determine effective management to prevent intraoperative hypothermia in pediatric patients.Case report: Pediatric patient A, 7 year old female with a diagnosis of acute appendicitis underwent appendix laparoscopy procedure. The patient's preoperative temperature was 36,9 ºC, the procedure took around 55 minutes, and the operating room temperature was between 18 - 20 ºC. Nurse gave active and passive mechanisms to prevent intraoperative hypothermia. The active mechanism was done by using a warming blanket with a temperature of 39 ºC. Passive management involved the use of 4 sterile draping, the draping process was carried out quickly to minimize the time patient's body was exposed to the cold air of the operating room, and in addition, blanket was applied over patient’s body while mobilized from the reception room to the pick-up room.Outcome: After intervention using active and passive mechanisms, it was found that the child did not shiver, the temperature was 36 ºC post-operatively, and no acral cyanosis was found.Conclusion: The application of active mechanisms in the form of using warming blankets and passive mechanisms using blankets and draping is effective in preventing intraoperative hypothermia in children.INTISARILatar belakang: Anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotermia intraoperatif (keadaan temperatur tubuh di bawah 36ºC) dibandingkan dewasa. Hal tersebut karena anak memiliki sistem termoregulasi yang belum efektif, luas permukaan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan volume, dan cadangan lemak subkutan yang terbatas.Tujuan: Mengetahui manajemen yang efektif untuk mencegah hipotermia intraoperatif pada pasien anak.Laporan kasus: Pasien An. A, anak perempuan berusia 7 tahun dengan diagnosis apendisitis akut dilakukan laparoskopi apendiks. Suhu pre-operatif pasien yaitu 36,9ºC, tindakan berlangsung sekitar 55 menit, dengan suhu kamar operasi antara 18 - 20 ºC. Perawat melakukan mekanisme aktif dan pasif untuk mencegah hipotermia intraoperatif. Mekanisme aktif dilakukan melalui penggunaan warming blanket dengan suhu 39 ºC. Manajemen pasif melalui penggunaan draping dengan 4 duk steril, proses draping dilakukan dengan cepat untuk meminimalkan waktu tubuh pasien terpapar udara dingin kamar operasi dan ditambah dengan penggunaan selimut pada tubuh pasien, saat dipindahkan mulai dari ruang penerimaan sampai dengan ruang penjemputan.Hasil: Setelah dilakukan intervensi aplikasi mekanisme aktif dan pasif pencegahan hipotermia intraoperatif, didapatkan hasil pasien anak tidak menggigil, suhu post-operatif 36 ºC, dan tidak ditemukan sianosis pada akral.Simpulan: Penerapan mekanisme aktif berupa penggunaan warming blanket dan mekanisme pasif dengan penggunaan selimut serta draping, terbukti efektif untuk mencegah terjadinya hipotermia intraoperatif pada anak.
Penerapan Teknologi Media Audiovisual untuk Meningkatkan Proses Orientasi Pasien Baru di Rumah Sakit Swasta di Kediri Firmanda, Giovanni Iga; Wahyuningsih, Aries
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.99347

Abstract

Introduction: New patient orientation is an important step in ensuring that patients understand hospital services, rights, and procedures. Effective orientation can increase patient satisfaction, reduce anxiety, and speed up the process of patient adaptation in the hospital environment, but it has not been implemented optimally in several hospitals in Indonesia. During patient orientation, conventional media, such as leaflets, is often considered less effective in conveying complex information thus audiovisual media may bring more effective result. Objective: To evaluate the effectiveness of audiovisual media technology in improving the understanding of new patients at the one of Private Hospital in Kediri during the orientation process. Method: This was quantitative research with a one-group approach pre-experiment pre and post-design. A total of 30 new patients randomly selected (proportionate stratified random sampling). Data was collected through a questionnaire created by the researcher himself which referred to aspects of communication and patient safety to measure patient understanding before and after orientation. Instrument validity test result was 0,85-0,93 and reliability was 0,62-0,76. Respondents were given an orientation using an audiovisual media lasting 5-10 minutes. Statistical test analysis used paired t-test to compare comprehension scores before and after intervention.Results: There was knowledge improvement from 48,33 to 79,33 in hospital orientation among respondents. Significant improvement in respondents’ comprehension scores after orientation using audiovisual media had p-value = 0,000 (p<0,05). Conclusion: The use of audiovisual media is more effective in increasing patient understanding during the orientation process at the hospital. This technology can replace or complement conventional on boarding methods to improve the quality of service to new patients.INTISARI Latar belakang: Orientasi pasien baru merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa pasien memahami layanan, hak, dan prosedur di rumah sakit. Orientasi yang efektif dapat meningkatkan kepuasan pasien, mengurangi kecemasan, dan mempercepat proses adaptasi pasien di lingkungan rumah sakit. Namun, hal ini belum terlaksana secara optimal di beberapa rumah sakit di Indonesia. Saat melakukan orientasi pasien, penggunaan media konvensional, seperti leaflet, sering kali dianggap kurang efektif dalam menyampaikan informasi yang kompleks. Oleh karena itu media audiovisual diharapkan memberikan hasil yang lebih baik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas teknologi media audiovisual dalam meningkatkan pemahaman pasien baru di salah satu rumah sakit swasta di Kediri selama proses orientasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan one group pre-experiment pre and post design. Responden sebanyak 30 pasien baru yang dipilih secara acak (proportionate stratified random sampling). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti, yang mengacu pada aspek komunikasi dan keselamatan pasien untuk mengukur pemahaman pasien sebelum dan sesudah orientasi. Hasil uji validitas instrumen (0,85-0,93) dan reliabilitas (0,62-0,76). Pasien diberi orientasi menggunakan media audiovisual berdurasi 5-10 menit. Analisis uji statistik menggunakan paired t-test untuk membandingkan skor pemahaman sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan mengenai rumah sakit selama orientasi, dari 48,33 menjadi 79,33 dalam kategori baik. Terdapat peningkatan signifikan pada skor pemahaman pasien setelah orientasi menggunakan media audiovisual dengan p-value = 0,000 (p < 0,05). Simpulan: Penggunaan media audiovisual terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman pasien selama proses orientasi di rumah sakit. Teknologi ini dapat menggantikan atau melengkapi metode orientasi konvensional, untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien baru. 
Gambaran Perilaku Phubbing pada Mahasiswa Keperawatan UNSOED di Masa Endemi COVID-19 Wiguna, Ilham; Awaludin, Sidik; Mulyaningrat, Wahyudi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.100295

Abstract

Background: Phubbing is a behaviour when a person keeps staring at the cell phone during social interactions, thus ignoring the interlocutor or speaking opponent. This behavior obviously disturb interpersonal relationship and may hurt other people feeling. While phubbing behavior is quite common among college students, it becomes interesting to explore. Objective: To describe phubbing behavior among UNSOED Nursing students during the COVID-19 endemic.Method: The research was descriptive with cross-sectional approach. This involved UNSOED Nursing students as respondents, with a sample of 203  which were chosen using the proportionate stratified random sampling technique. The instruments was Phubbing Scale, which consisted of two factors: communication disorders and obsession with cell phones. Data were analyzed using univariate methods.Results: Most of the respondents (91%) were women with a median age of 20 years old. Most of the respondents showed moderate behavior phubbing (87%), but 13% showed high phubbing behavior. For the dimensions of communication disorders and the greatest obsession with cell phones, the majority of respondents were at moderate level, with 91% and 65% consecutively.Conclusion: Phubbing behavior among UNSOED nursing students are at moderate level. Attention is needed toward cellphone usage to maintain caring practice among nursing students.INTISARILatar belakang: Phubbing adalah praktik melihat layar ponsel saat berinteraksi sosial sehingga mengabaikan lawan bicara. Perilaku ini dapat mengganggu hubungan antar manusia dan menyakiti perasaan orang lain. Kecenderungan perilaku phubbing banyak ditemukan pada mahasiswa sehingga menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran perilaku phubbing mahasiswa Keperawatan UNSOED selama endemi COVID-19.Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional ini melibatkan mahasiswa Keperawatan UNSOED, dengan sampel 203 responden menggunakan teknik proportionate stratified random-sampling. Instrumen yang digunakan adalah The Phubbing Scale yang terdiri dari dua faktor, gangguan komunikasi dan obsesi terhadap ponsel. Data dianalisis dengan metode univariat.Hasil: Sebagian besar  responden (91%) perempuan dengan nilai tengah usia 20 tahun. Sebagian besar responden menunjukkan perilaku phubbing sedang (87%), tetapi sebanyak 13% menunjukkan perilaku phubbing tinggi. Pada dimensi gangguan komunikasi dan obsesi terbesar terhadap ponsel mayoritas responden berada pada tingkat sedang (91% dan 65%).Simpulan: Perilaku phubbing mahasiswa keperawatan UNSOED berada pada tingkat sedang. Diperlukan pengawasan terhadap penggunaan ponsel agar penerapan konsep caring dapat dilaksanakan secara konsisten.
Hubungan antara Fungsi Keluarga dengan Manajemen Diri Penderita Hipertensi Ramadhani, Aulia Intan; Noviana, Uki; Subekti, Heru
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.101667

Abstract

Background: Hypertension is often referred to as the 'silent killer' because its special character that does not show clear symptoms, hence requires good self-management. Self-management of hypertension is a very important action taken by patient with hypertension. The aim are to reduce and control blood pressure which is influenced by many factors, one of which is family function. Unfortunately, there is very limited published research on the influence of family function in implementing self-management of patient with hypertension. Objective: To determine the correlation between family function and self-management of patient with hypertension in the working area of the Mlati II Public Health Center, Sleman, Yogyakarta.Method: This was a quantitative study with a cross sectional design. The research subjects were 121 people with hypertension aged 18-64 years-old who dwelt in the working area of the Mlati II Health Center. The sample was determined based on the inclusion and exclusion criteria using a proportionate stratified random sampling technique. Hypertension self-management was measured using the Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ) and family function was measured using the Family Assessment Device (FAD). Chi Square test was used to analyze the correlation between family function and self-management of patient with hypertension.Results: There were 50% of respondents which had high self-management and 52% of them that had healthy family function. In addition, 33,9% of respondents with high self-management had healthy family function. There was a significant correlation between family function and self-management of hypertension (p = 0,001). Conclusion: Family function had a significant correlation with self-management of hypertension.INTISARILatar belakang: Hipertensi sering disebut ‘silent killer’ karena karakter penyakit ini tidak menampakkan gejala yang jelas sehingga memerlukan manajemen diri yang baik. Manajemen diri hipertensi merupakan tindakan yang sangat penting dilakukan oleh penderita hipertensi untuk menurunkan dan mengontrol tekanan darah, yang dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya yaitu fungsi keluarga. Namun, publikasi mengenai pengaruh fungsi keluarga dalam penerapan manajemen diri pasien hipertensi masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fungsi keluarga dengan manajemen diri penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Mlati 2, Sleman, Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah 121 orang penderita hipertensi, berusia 18-64 tahun, di wilayah kerja Puskesmas Mlati II. Sampel ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik proportionate stratified random sampling untuk menentukan jumlah sampel representatif dari ketiga desa. Kemudian teknik convenience sampling digunakan untuk menentukan sampel pada setiap desa. Manajemen diri hipertensi diukur menggunakan Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ) dan pengukuran fungsi keluarga menggunakan Family Assessment Device (FAD). Uji Chi Square digunakan untuk menganalisis hubungan fungsi keluarga dengan manajemen diri pada pasien hipertensi. Hasil: Sebanyak 50% responden penelitian telah memiliki manajemen diri yang tinggi dan 52% responden penelitian juga telah memiliki fungsi keluarga yang sehat. Selain itu, sebanyak 33,9% responden penelitian dengan manajemen diri yang tinggi, telah memiliki fungsi keluarga yang sehat. Terdapat hubungan yang bermakna antara fungsi keluarga dengan manajemen diri pada pasien hipertensi (p = 0,001).Simpulan: Fungsi keluarga memiliki hubungan yang bermakna dengan manajemen diri pada pasien hipertensi.Kata kunci:  
Hubungan Distres dengan Kadar HbA1c dan LDL pada Pasien DM Tipe 2 Tyas, Asih; Subiyanto, Paulus; Kristanti, Fittriya
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.100984

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) type 2 is a metabolic condition that requires long-term and strict management. In addition, HbA1c level is a determinant for the level of blood sugar in certain time. Furthermore, for patient with DM, high levels of distress can affect glycemic control, HbA1c, and lipid profiles, including Low-Density Lipoprotein (LDL).Objective: To determine the correlation between distress level with HbA1c and LDL levels in patients with type 2 DM at the Panti Rapih Hospital Polyclinic.Method: This research was quantitative and correlational analytical research with cross-sectional design. The study population was 194 patients with type 2 DM who used Oral Hypoglycemic Drugs (OHO) from April, 15th to 20th 2024. Consecutive sampling technique was used to choose 131 respondents diagnosed with type 2 DM who were treated at the Panti Rapih Hospital Polyclinic. Data was collected through Diabetes Distress Scale (DDS) questionnaires to see the correlation between distress level with analysis of HbA1c and LDL levels. The Spearman correlation test was carried out to determine the correlation between distress levels with HbA1c and LDL levels.Results: The result of the Spearman correlation test showed that the correlation between distress levels and HbA1c levels had coefficient of 0,075 and p-value of 0,393. Meanwhile, the result of data analysis between distress levels and LDL levels had a correlation coefficient of -0,019 and a p-value of 0,826.Conclusion: There is no significant correlation between the level of distress with the levels of HbA1c and LDL in Type 2 DM patients at the Panti Rapih Hospital Polyclinic.INTISARILatar belakang: Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah kondisi metabolik yang memerlukan manajemen jangka panjang dan ketat. Kadar HbA1c merupakan penanda tingginya glukosa dalam darah pada periode waktu tertentu. Pada pasien DM, tingkat distres yang tinggi dapat memengaruhi kontrol glikemik HbA1c dan profil lipid, salah satunya Low-Density Lipoprotein (LDL).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat distres dengan kadar HbA1c dan LDL pada pasien DM tipe 2 di Poliklinik Rumah Sakit Panti Rapih.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitis korelasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 194 pasien DM tipe 2 yang menggunakan obat hipoglikemik oral (OHO) dalam periode 15-20 April 2024. Sejumlah 131 responden dengan diagnosis DM tipe 2 yang berobat di Poliklinik Rumah Sakit Panti Rapih, dipilih dengan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Diabetes Distress Scale (DDS) untuk melihat hubungan tingkat distres dengan analisis kadar HbA1c dan LDL. Uji korelasi Spearman dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat distres dengan kadar HbA1c dan LDL.Hasil: Uji korelasi Spearman menunjukkan hasil data antara tingkat distres dan kadar HbA1c dengan koefisien korelasi 0,075 serta nilai p-value 0,393. Sementara itu, hasil analisis data antara tingkat distres dan kadar LDL dengan koefisien korelasi -0,019 dan nilai p-value 0,826.Simpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat distres dengan kadar HbA1c dan LDL pada pasien DM Tipe 2 di Poliklinik Rumah Sakit Panti Rapih.
Dukungan Keluarga terhadap Wanita dengan Kanker Serviks Stadium IIIB yang Mendapat Concurrent Chemoradiation Therapy (CCRT): Studi Kasus Ningsih, Dini Cristia; Fitriana, Nazula; Effendy, Christantie
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.101011

Abstract

Background: Patients with cervical cancer undergoing CCRT therapy often experience a decline in quality of life such as physical complaints, decreased spiritual well-being, and poor mental health. Family support plays a crucial role for individuals with certain illnesses, including those with cervical cancer.Objective: To describe family support for woman with stage IIIB cervical cancer undergoing CCRT.Case report: Mrs. Y, 37 years old, had been married for 10 years with a parity status of P2A1. She was currently a housewife in a middle-class family. The patient came for a routine check-up at the ICC Oncology Clinic of Dr. Sardjito General Hospital with a diagnosis of stage IIIB cervical cancer, scheduled for CCRT, and anemia. She has undergone chemotherapy twice and radiation therapy 10 times. Additionally, she had no history of hypertension, diabetes mellitus, or previous cancer.Outcomes: CCRT therapy had several physical and psychological impacts on the patient. These were including diarrhea, weight loss, oral problems, frequent fatigue, tingling in the hands and feet, the menstrual cycle alteration, bleeding, anxiety, and sexual relationships modification. Throughout the treatment process, the patient had received strong family support in the form of informational, emotional, instrumental, and appreciation support.Conclusion: Family support enhances self-confidence, provides motivation, and offers significant encouragement to patients. Therefore, family support plays a crucial role in the treatment of cervical cancer, especially for patients undergoing CCRT therapy.INTISARILatar belakang: Pasien kanker serviks yang mendapat terapi CCRT sering dilaporkan mengalami penurunan kualitas hidup yang berkaitan dengan keluhan fisik, penurunan kesejahteraan spiritual, dan kesehatan mental yang buruk. Dukungan keluarga memiliki peranan penting pada individu dengan penyakit tertentu, termasuk individu dengan kanker serviks.Tujuan: Mengetahui gambaran dukungan keluarga pada wanita yang menderita kanker serviks stadium IIIB dengan CCRT.Laporan kasus: Ny. Y, berusia 37 tahun, sudah menikah selama 10 tahun dengan status paritas P2A1. Pekerjaan pasien saat ini sebagai ibu rumah tangga dan pasien termasuk keluarga kelas menengah. Pasien datang untuk melakukan kontrol rutin di Poliklinik Onkologi ICC RSUP Dr. Sardjito dengan diagnosis kanker serviks stadium IIIB pro CCRT dengan anemia. Pasien sudah menjalani kemoterapi sebanyak dua kali dan radiasi sebanyak 10 kali. Selain itu, pasien tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi, DM,  dan kanker sebelumnya.Hasil: Terapi CCRT memberikan beberapa dampak bagi pasien, baik secara psikis maupun psikologis. Dampak yang dialami pasien seperti diare, berat badan turun, masalah pada mulut, sering merasa lelah, kesemutan pada tangan dan kaki, perubahan siklus menstruasi, perdarahan, perasaan cemas dan perubahan dalam hubungan seksual. Selama menjalani pengobatan, dukungan keluarga yang didapatkan pasien baik dukungan informasional, penghargaan, instrumental maupun emosional sudah baik.Simpulan: Dukungan keluarga meningkatkan rasa percaya diri, memberikan motivasi dan semangat yang besar bagi pasien sehingga dukungan keluarga mempunyai peranan penting dalam proses pengobatan kanker serviks terutama pasien dengan terapi CCRT.
Hubungan Kecemasan dengan Insomnia pada Masyarakat di Daerah Rawan Banjir di Desa Pinggiran Sungai Martapura Anggraini, Arista Dewi; Setyowati, Anggi; Rahmah, Mutia
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.101532

Abstract

Background: River flood triggers anxiety in people who live in riverside areas. Anxiety arises as an emotional response when a person feels threatened. Anxiety can cause insomnia. Insomnia is an acute sleep disorder indicated by difficulty initiating sleep, maintaining a state of sleep, and subjective problems in the form of poor sleep quality.Objective: To measure the correlation between anxiety and insomnia in flood-prone communities in two Martapura’s river bank villages.Method: This study used a type of quantitative research of correlational analysis with a cross-sectional design. The research sampling technique was simple random sampling. There were 83 respondents of people who lived in flood-prone river bank. The instruments used were demographic data questionnaire sheets, Indonesian Self Anxiety Scale (SAS) and Regensburg Insomnia Scale (RIS) questionnaires. Data analysis used the Spearman rank test.Results: The results showed that 41% of the study respondents experienced moderate anxiety, while 54,2% of the study respondents experienced insomnia. There was a significant correlation between anxiety and insomnia among flood-prone communities in Martapura river bank villages with a p-value = 0,001 and correlation coefficient (r) of 0,873.Conclusion: Anxiety and insomnia have a positive relationship, which means that if anxiety increases, then insomnia will go up. Anxiety management interventions is needed to reduce anxiety, hence the insomnia incidence will resolve.INTISARILatar belakang: Banjir memicu terjadinya kecemasan pada masyarakat yang tinggal di wilayah pinggiran sungai. Kecemasan muncul sebagai respons emosional ketika seseorang merasa terancam. Kecemasan yang dimiliki seseorang dapat menyebabkan insomnia. Insomnia adalah gangguan tidur yang bersifat akut. Indikasi insomnia, di antaranya susah mengawali tidur, mempertahankan keadaan tidur, dan juga permasalahan subjektif, berupa buruknya kualitas tidur.Tujuan: Mengetahui hubungan kecemasan dengan insomnia pada masyarakat di daerah rawan banjir di dua desa Pinggiran Sungai Martapura.Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitis korelasional dengan rancangan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah simple random sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 83 responden di daerah rawan banjir. Instrumen yang digunakan, yakni lembar kuesioner data demografi, kuesioner Self Anxiety Scale (SAS) Indonesia dan kuesioner Regensburg Insomnia Scale (RIS). Analisis data yang digunakan adalah uji Spearman Rank.Hasil: Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa 41% responden penelitian mengalami kecemasan sedang. Sementara itu, sebanyak 54,2% responden penelitian mengalami insomnia. Terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan insomnia yang dialami masyarakat di daerah rawan banjir di Desa pinggiran Sungai Martapura, dengan nilai p-value = 0,001 dan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,873.Simpulan: Kecemasan dan insomnia memiliki hubungan dengan arah positif. Hal ini bermakna, ketika kecemasan meningkat, maka insomnia juga akan mengalami peningkatan. Intervensi manajemen kecemasan diperlukan untuk menangani kecemasan sehingga kejadian insomnia dapat ikut teratasi.
Pengaruh Edukasi terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Obat pada Penderita TB di Karanganyar Firmanda, Giovanni Iga; Pratiwi, Wahyu Nur; Sunarno, Rita Dewi; Wahyuningsih, Aries
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104297

Abstract

Introduction: Pulmonary Tuberculosis (TB) is one of infectious diseases which remains as significant health issue in communities. The increasing cases of TB are often caused by medication non-adherence.Objective: To evaluate the effect of educational intervention toward medication knowledge and adherence among TB patients in Karanganyar.Method: This study was pre-experimental research with a One Group Pretest-Posttest design involving 30 TB patients as respondents, which were selected using purposive sampling. The respondents were provided with education in the form of direct counseling on TB disease, the importance of medication adherence, and the consequences of non-adherence behavior. The education was conducted in one group session lasting 30-45 minutes, where all participants engaged together in the session. Data were collected through questionnaires measuring medication knowledge and adherence before and after the education. Statistical analysis was performed using a paired t-test to compare the knowledge and adherence scores before and after the intervention.Results: The results showed a significant increase in the knowledge score and adherence of respondents’ treatment after education. The average knowledge score before education increased from 6,53 to 7,93 points. Likewise, the average adherence score before education increased from 8,97 to 17,27. The paired t-test obtained a p-value of 0,000 for both variables.Conclusion: Direct health education significantly improves the knowledge and treatment adherence of TB patients.INTISARILatar belakang: Penyakit menular menjadi masalah kesehatan yang signifikan di masyarakat dan Tuberkulosis Paru (TB) menjadi salah satu penyakit menular yang paling mengkhawatirkan. Peningkatan jumlah kasus TB sering kali disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap pengobatan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dampak edukasi terhadap pengetahuan dan kepatuhan pengobatan pada pasien TB di Karanganyar.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental dengan desain One Group Pretest-Posttest dan melibatkan 30 pasien TB yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Responden diberikan edukasi dalam bentuk penyuluhan langsung mengenai penyakit TB, pentingnya kepatuhan pengobatan, dan dampak ketidakpatuhan. Edukasi dilakukan dalam satu sesi kelompok dengan durasi 30-45 menit, semua responden berpartisipasi secara bersama-sama dalam sesi yang dilaksanakan di balai desa. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur pengetahuan dan kepatuhan pengobatan pasien TB sebelum dan sesudah dilakukan edukasi. Analisis uji statistik menggunakan paired t-test untuk membandingkan skor pengetahuan dan kepatuhan sebelum dan sesudah intervensi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada skor pengetahuan dan kepatuhan pengobatan pasien TBC setelah pemberian edukasi. Rata-rata skor pengetahuan sebelum diberikan edukasi dari angka 6,53 meningkat menjadi 7,93. Demikian halnya dengan rata-rata skor kepatuhan sebelum diberikan edukasi adalah 8,97 meningkat menjadi 17,27 setelah diberikan edukasi. Hasil uji paired t test diperoleh nilai p = 0,000 untuk kedua variabel.Simpulan: Edukasi yang diberikan dengan penyuluhan secara langsung terbukti dapat meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pengobatan pada pasien TB secara signifikan.