cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 170 Documents
Manajemen Hemodialisis pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Stadium V dengan Kehamilan Trimester Pertama: Studi Kasus Purbasari, Alfina Fitri; Triyanto, Arifin; Sukardi, Sukardi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104747

Abstract

Background: Chronic kidney disease in pregnancy is a medical disorder that can increase the mother and her fetal morbidity as well as mortality. The high risk of morbidity and mortality in pregnant woman undergoing hemodialysis requires the role of nurses as direct caregivers to patients.Objective: To determine the management of pregnant woman with chronic kidney disease undergoing hemodialysis.Case report: A patient, 30 years old G4P1A2 had undergone routine hemodialysis since 2018. The patient was currently pregnant with a gestational age of 7 weeks and there was an increase in the frequency of hemodialysis after her pregnancy was discovered. The patient started hemodialysis 3 times a week with a duration of 4,5 hours. The left femoral was used as dialysis access.Outcomes: After undergoing hemodialysis 3 times a week, the patient had an interdialysis weight gain of 1,3 to 2,8 kg, with a HD prescription of blood flow rate (QB) of 180-200 ml/min, QD of 500 ml/min, total fluid withdrawal (UF goal) of 2.000-3.500 ml, mini/free heparin dose and Kt/V achievement of 1,33 to 1,67 points. The patient said she felt lighter and more comfortable after undergoing hemodialysis frequency of 3 times a week.Conclusion: Interventions that need to be carried out on pregnant woman undergoing hemodialysis are dialysis intensification with increased hemodialysis frequency, UF adjusted to interdialysis weight gain, minimal use of heparin, and maternal nutritional support as the principles in supporting this high-risk pregnancy.INTISARILatar belakang: Penyakit ginjal kronis pada kehamilan adalah suatu kelainan medis yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Dengan adanya risiko tinggi morbiditas dan mortalitas pada ibu hamil yang menjalani hemodialisis, maka dibutuhkan peran perawat sebagai pemberi asuhan langsung pada pasien.Tujuan: Mengetahui penatalaksanaan ibu hamil dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis.Laporan kasus: Seorang pasien berusia 30 tahun G4P1A2 sudah menjalani hemodialisis rutin sejak tahun 2018. Pasien saat ini sedang hamil dengan usia kehamilan jalan 7 minggu dan terdapat peningkatan frekuensi hemodialisis setelah diketahui sedang hamil. Pasien mulai melakukan hemodialisis 3 kali seminggu dengan durasi 4,5 jam. Akses dialisis yang digunakan adalah femoral sinistra.Hasil: Setelah menjalani hemodialisis 3 kali seminggu, pasien mengalami kenaikan berat badan interdialisis 1,3-2,8 kg, dengan resep HD kecepatan aliran darah (QB) 180-200 ml/menit, QD 500 ml/menit, jumlah total penarikan cairan (UF goal) 2.000-3.500 ml, dosis heparin mini/ free dan capaian Kt/V 1,33-1,67. Pasien mengatakan merasa lebih ringan dan nyaman setelah menjalani hemodialisis dengan frekuensi 3 kali seminggu.Simpulan: Intervensi yang perlu dilakukan pada ibu hamil yang menjalani hemodialisis, yaitu intensifikasi dialisis dengan peningkatan frekuensi hemodialisis, UF yang disesuaikan dengan peningkatan berat badan interdialisis, penggunaan heparin seminimal mungkin, dan dukungan nutrisi ibu menjadi prinsip dalam mendukung kehamilan berisiko tinggi ini.
Identifikasi Intervensi Kesehatan pada Anak sebagai Upaya Pencegahan Obesitas Berbasis Sekolah: Studi Literatur Novitasari, Dhiana Ayu; Mamonto, Dita Aditia
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104868

Abstract

Background: The increasing prevalence of childhood obesity results in various long-term health impacts. This phenomena is highlighting the need for preventive efforts through school-based health interventions.Objective: To identify effective strategies and approaches for preventing childhood obesity using a literature review method.Method: The literature search was conducted using PubMed, Web of Science, and Medline with the keywords: “Health Intervention Method” AND “School-based” AND “Children” AND “Obesity Risk.” The inclusive criterions were published between 2020 and 2024, used an experimental design, were available in full text with an abstract, and were written in English. Studies involving children with disabilities, mental disorders, or existing obesity were excluded. After reviewing 5.911 articles through Rayyan, six articles were selected as they met all the criteria.Outcome: The synthesis results indicated that school-based interventions, such as health education, physical activity, nutritional supplementation, and mindfulness, positively impact children’s knowledge, attitudes, and behaviors regarding a healthy lifestyle.Conclusion: Health education by teachers and the involvement of peer educators are important components with the potential to influence children’s health behaviors in the long term. These findings underscore the importance of an integrated holistic approach within school programs to effectively prevent childhood obesity.INTISARILatar belakang: Prevalensi obesitas pada anak yang terus meningkat menimbulkan berbagai dampak kesehatan jangka panjang. Fenomena ini mendorong perlunya upaya pencegahan melalui intervensi kesehatan berbasis sekolah.Tujuan: Mengidentifikasi strategi dan pendekatan yang efektif dalam pencegahan obesitas pada anak dengan metode tinjauan literatur.Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed, Web of Science, dan Medline, menggunakan kata kunci pencarian “health intervention method” AND “school based” AND “children” AND "obesity risk”. Kriteria inklusi artikel, yakni terbit antara tahun 2020-2024, desain studi eksperimental, dapat diakses secara lengkap disertai abstrak, dan berbahasa Inggris. Sementara itu, untuk kriteria eksklusi berupa penelitian dengan anak disabilitas, gangguan mental, dan memiliki status obesitas. Dari 5.911 artikel yang ditemukan, setelah proses seleksi menggunakan Rayyan, dipilih 6 artikel yang memenuhi kriteria.Hasil: Hasil sintesis menunjukkan bahwa intervensi berbasis sekolah dapat dilakukan dalam bentuk, seperti pendidikan kesehatan, aktivitas fisik, suplementasi nutrisi, dan mindfulness dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku anak terkait gaya hidup sehat.Simpulan: Intervensi kesehatan berbasis sekolah yang efektif dalam pencegahan obesitas pada anak menggunakan berbagai pendekatan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik yang terintegrasi dalam program sekolah untuk mencegah obesitas pada anak secara efektif.
Hubungan Pengetahuan Pola Asuh Berbasis Budaya dengan Efikasi Diri Ibu dalam Pencegahan Stunting pada Anak Usia 6-59 Bulan Kusumaningtyas, Khariza; Lusmilasari, Lely; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104920

Abstract

Background: The first five years of life are critical for achieving optimal growth and development. The main risk factor for growth failure in children is stunting. One cause of stunting is parenting patterns, particularly that of mother, who is often the primary caregiver. Therefore, maternal self-efficacy is essential for positive parenting. Maternal self-efficacy in parenting begins with knowledge of stunting prevention.Objective: To determine the correlation between cultural-based parenting knowledge and maternal self-efficacy to prevent stunting among children aged 6-59 months.Method: This quantitative cross-sectional study involved 82 respondents, selected using consecutive sampling. Data were collected in November 2023 in Candibinangun Village, Sleman, Yogyakarta. Spearman’s rank correlation analysis was used for the analysis.Results: Fifty-seven percent of mothers had good knowledge and 50% had good self-efficacy, as indicated by scores equal to or greater than the median value for each variable. The p-value was 0,007 indicating a positive correlation between the two variables, with a correlation coefficient (r) of 0,298.Conclusion: There is a significant positive correlation between mothers’ knowledge of cultural-based parenting and self-efficacy in stunting prevention in children aged 6-5 months. Therefore, mothers are encouraged to continuously improve their knowledge and self-efficacy by seeking information related to stunting and practicing positive parenting to reduce the risk of stunting.INTISARILatar belakang: Lima tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis bagi anak untuk dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Faktor risiko utama kegagalan tumbuh kembang anak disebabkan oleh stunting. Salah satu penyebab stunting adalah pola asuh yang diberikan, terutama oleh ibu yang kerap menjadi pengasuh utama. Oleh karena itu, efikasi diri ibu diperlukan untuk dapat memberikan pengasuhan yang positif. Efikasi diri ibu dalam memberikan pengasuhan dimulai dari proses kognitif terhadap pengetahuan dalam pencegahan stunting.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan pola asuh berbasis budaya dan efikasi diri ibu dalam pencegahan stunting pada anak usia 6-59 bulan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif cross-sectional yang melibatkan 82 responden dengan pemilihan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada November 2023 di Kalurahan Candibinangun, Sleman, Yogyakarta. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi Spearman’s Rank.Hasil: Sebanyak 57,3% ibu memiliki pengetahuan yang baik, serta 50% ibu memiliki efikasi diri baik ditandai dengan skor ≥ nilai tengah pada tiap variabel. Sementara itu, hasil nilai p-value adalah 0,007 yang menunjukkan dua variabel terdapat hubungan dengan arah positif dengan nilai r adalah 0,298. Simpulan: Terdapat hubungan positif signifikan antara pengetahuan pola asuh berbasis budaya dan efikasi diri ibu dalam pencegahan stunting pada anak usia 6-59 bulan. Oleh karena itu, ibu diharapkan senantiasa meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri sehingga dapat menurunkan risiko stunting dengan cara mencari tahu informasi terkait stunting serta mempraktikkan dalam pengasuhan positif. 
Manajemen Nutrisi Pascaoperasi melalui Jejunostomi pada Lansia dengan Perforasi Duodenum di Instalasi Rawat Intensif: Case Report Madany, Nur Putri; Setiyarini, Sri; Widhiastuti, Sri
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104934

Abstract

Background: Duodenal perforation is a rare and life-threatening condition. Hence, postoperative nutritional management is challenging, especially in elderly with severe perforation. Enteral nutrition via jejunostomy is used in this case. Unfortunately, there are limited case studies related to nutritional management, specifically through jejunostomy, in elderly patients with duodenal perforation.Objective: To understand nutritional management via jejunostomy in elderly patients with duodenal perforation.Case report: A 72-year-old female patient with duodenal perforation underwent operations and jejunostomy placement. The initial phase relied on parenteral nutrition. Enteral nutrition via jejunostomy was given gradually and adjusted based on enteral tolerance.Outcome: Evaluation showed that there was enteral feeding intolerance characterized by increased intraduodenal drainage and diarrhea. Adjustments in nutritional administration were applied until enteral tolerance improved. However, the patient's metabolic condition was worsened, causing mortality.Conclusion: Nutritional management through jejunostomy in elderly patients with duodenal perforation faces challenges in achieving enteral tolerance despite adjustments in the nutritional administration. Enteral feeding intolerance is influenced by advanced age, severity of perforation, and comorbidities, which are also factors in patient mortality. Further research is needed to provide evidence-based guidelines for nutritional management via jejunostomy in patients with duodenal perforation.INTISARILatar belakang: Perforasi duodenum merupakan kondisi yang jarang terjadi, tetapi mengancam jiwa. Manajemen nutrisi pascaoperasi menjadi tantangan, terutama pada pasien lansia dengan perforasi yang parah. Nutrisi enteral melalui tindakan jejunostomi digunakan pada kasus seperti ini. Sayangnya, belum banyak studi kasus terkait manajemen nutrisi, khususnya melalui jejunostomi pada pasien lansia dengan perforasi duodenum.Tujuan: Laporan ini bertujuan untuk mengetahui manajemen nutrisi melalui jejunostomi pada pasien lansia dengan perforasi duodenum.Laporan kasus: Pasien perempuan berusia 72 tahun dengan perforasi duodenum menjalani dua kali operasi dan pemasangan jejunostomi. Fase awal mengandalkan nutrisi parenteral. Nutrisi enteral melalui jejunostomi diberikan bertahap dan dilakukan penyesuaian berdasarkan toleransi enteral.Hasil: Evaluasi menunjukkan adanya intoleransi enteral, ditandai dengan peningkatan drainase intraduodenal dan diare. Penyesuaian pemberian nutrisi dilakukan hingga toleransi enteral membaik. Namun, kondisi metabolik pasien memburuk hingga menyebabkan mortalitas.Kesimpulan: Manajemen nutrisi jejunostomi pada lansia dengan perforasi duodenum menghadapi tantangan dalam mencapai toleransi enteral, meskipun telah dilakukan penyesuaian pada metode dan kecepatan pemberian. Intoleransi enteral dapat dipengaruhi oleh faktor usia lanjut, tingkat keparahan perforasi, dan komorbiditas, yang juga menjadi faktor mortalitas pasien. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memberikan panduan berbasis bukti, mengenai manajemen nutrisi melalui jejunostomi pada pasien dengan perforasi duodenum. 
Pendekatan Komplementer dalam Mengelola Mual dan Muntah pada Pasien Kanker Pascakemoterapi: Scoping Review Nuzulullail, Agung Subakti; Fakhriyah, Anya Bunga; Wensi, Avantika Puspa Imelda; Lidiyana, Ika Arif; Chandra, Ilany Nandia; Rindawati, Magdalena; Rusdiansyah, Mohamad; Azizah, Prisa Tifa; Annelydia, Putri; Christaputri, Silvia Tri Wahyu; Hariyanto, Suci Wahyu; Pangastuti, Heny Susaeni
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.106649

Abstract

Background: Chemotherapy is an effective cancer therapy, but has side effects such as nausea and vomiting. These effects need to be addressed through various method, one of which is complementary approaches. There only few articles related to complementary therapies for reducing nausea and vomiting.Objective: To determine the types of complementary therapies that effectively reduced nausea and vomiting in cancer patients after receiving chemotherapy.Method: Scoping review was conducted using four databases: Science Direct, PubMed, Scopus, and Wiley. Studies were selected based on the following criteria, P: Cancer patients undergoing chemotherapy; I: Complementary Alternative Medicine; C: Conventional approach or no complementary intervention; O: Reduction in the incidence of nausea and vomiting. The inclusion criteria for this study were articles published between 2020 and 2024, written in English, original articles, open access, and discussing complementary interventions for nausea and vomiting after chemotherapy. Exclusion criteria included review articles, protocol studies, and pilot studies. Article screening followed the PRISMA 2020 guidelines. All articles synthesized in this study underwent eligibility assessment by three researchers using the JBI Critical Appraisal Checklist 2020.Outcomes: Ten articles were identified in this study, which reported that there were complementary therapies for post-chemotherapy patients with cancer such as aromatherapy, massage, acupuncture and acupressure, yoga tawa, and herbs. All therapies effectively improved quality of life and nutritional status, reduced the frequency, symptoms, severity, and intensity of nausea and vomiting.Conclusion: Complementary interventions can significantly reduce the incidence of nausea and vomiting in cancer patients after receiving chemotherapy.INTISARILatar belakang: Kemoterapi merupakan terapi kanker yang efektif, tetapi memiliki efek samping seperti mual dan muntah. Efek tersebut perlu segera ditangani melalui berbagai pendekatan, salah satunya pendekatan komplementer. Review terkait ragam terapi komplementer yang efektif dalam menurunkan mual muntah belum banyak dilakukan.Tujuan: Mengetahui macam terapi komplementer yang efektif dalam menurunkan mual muntah pada pasien kanker pascakemoterapi.Metode: Penelitian scoping review dilakukan dari empat database, yaitu Science Direct, Pubmed, Scopus, dan Willey. Pemilihan studi berdasarkan, P: Pasien kanker yang menjalani kemoterapi, I: Complementary Alternative Medicine, C: Pendekatan konvensional atau tanpa intervensi komplementer, O: Penurunan kejadian mual muntah. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah artikel yang terbit pada tahun 2020-2024, berbahasa Inggris, artikel orisinal, open access, serta artikel yang membahas intervensi komplementer pada mual dan muntah pascakemoterapi. Kriteria eksklusi di antaranya artikel review, study protocol, dan pilot study. Artikel diskrining mengikuti pedoman PRISMA 2020. Seluruh artikel yang disintesis dalam studi ini melalui penilaian kelayakan oleh tiga peneliti menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist tahun 2020.Hasil: Sepuluh artikel diidentifikasi pada penelitian ini, dengan temuan terapi komplementer pada pasien kanker pascakemoterapi, yaitu aromaterapi, pijat, akupunktur dan akupresur, yoga tawa, dan herbal. Seluruh terapi dapat efektif meningkatkan kualitas hidup dan status nutrisi, penurunan frekuensi, gejala, keparahan, intensitas mual dan muntah.Simpulan: Intervensi komplementer secara signifikan menurunkan mual dan muntah pasien kanker pascakemoterapi.
Hubungan Mekanisme Koping terhadap Tingkat Kecemasan Menghadapi Praktik Klinik pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Kuswadi, Kuswadi; Setyowati, Anita; Muhaji, Muhaji
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.106660

Abstract

Background: Anxiety is an uncomfortable feeling experienced by a person, in the form of fear, tension, and emotion. In the context of facing clinical practice, psychological pressure can arise and increase anxiety level, resulting in mental problem. Due to its negative impact, it is crucial to overcome anxiety. Therefore, coping mechanism is applied to make a self-adjustment toward problem. Moreover, each person has different coping mechanism.Objective: To determine the correlation between coping mechanisms and anxiety levels of facing clinical practice among students of Diploma IV Anesthesiology Nursing at ‘Aisyiyah University of Yogyakarta.Method: This was an observational study with a Cross-Sectional design. The respondents of this study were 61 students from Anesthesiology Nursing Diploma IV program at ‘Aisyiyah University of Yogyakarta class of 2022, and whom were facing clinical practice in hospital. The research instruments were the Brief Cope Scoring questionnaire for measuring coping mechanisms and the Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) for measuring anxiety levels. Data analysis used was the Spearman Rank Correlation Test.Results: Most of respondents were experiencing moderate anxiety. The results of the statistical test obtained a p-value of 0,000 (<0,05) with a correlation coefficient of 0,582.Conclusion: There is a medium-strength positive correlation between coping mechanisms and anxiety levels in facing clinical practice among Anesthesiology Nursing Diploma IV students at ‘Aisyiyah University of Yogyakarta.INTISARILatar belakang:  Kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman yang dialami seseorang, berupa rasa takut, tegang, dan emosional. Dalam menghadapi praktik klinik, mahasiswa akan mengalami berbagai tekanan psikologis dan meningkatkan kecemasan hingga mengakibatkan masalah mental. Dengan banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan oleh kecemasan, membuat hal ini penting untuk diatasi. Penyesuaian diri untuk mengatasi masalah ini dilakukan dengan cara mekanisme koping. Dalam hal ini setiap individu memiliki mekanisme koping yang berbeda.Tujuan: Mengetahui hubungan antara mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi praktik klinik pada mahasiswa Diploma IV Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analisis korelasional dengan desain cross sectional. Responden penelitian ini adalah mahasiswa program Diploma IV Keperawatan Anestesiologi Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta angkatan 2022 dengan jumlah 61 responden yang sedang menghadapi praktik klinik. Instrumen yang digunakan berupa Kuesioner Brief Cope Scoring untuk mekanisme koping dan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) untuk mengukur tingkat kecemasan. Analisis data menggunakan uji Korelasi Spearman's Rank.Hasil:  Uji statistik menunjukkan bahwa 61 responden mengalami kecemasan tingkat sedang dengan nilai p-value sebesar 0,000 (<0,05) dan koefisien korelasi sebesar 0,582.Simpulan: Terdapat hubungan dengan kekuatan sedang dan arah korelasi positif antara mekanisme koping terhadap skor kecemasan menghadapi praktik klinik pada mahasiswa Diploma IV Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. 
Merawat di Bawah Tekanan: Faktor Risiko Kejadian Burnout pada Perawat Maternitas dan Bidan: Scoping Review Puspitasari, Halfie Zaqiyah Gusti; Selwis Raistanti, Sihqina Ramadhani; Tsauroh, Salsabila Fiqrotu; Agustin, Agustin; Hutami, Nurfitria Anisa; Riyati, Riyati; Mokodompit, Hariansyah; Viegas, Bonifacio de Jesus; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.107591

Abstract

Background: Several factors such as high job demands, unsupportive health care environment, and low salary contribute to burnout among maternity nurses and midwives. Untreated burnout can have a negative impact on the quality of care, the mental health of midwifery nurses and midwives, and therefore patient well-being.Objective: To identify risk factors for burnout among maternity nurses and midwives.Method: This study was a scoping review in accordance with Updated Methodological Guidance for The Conduct of Scoping Reviews 2020. Articles were obtained from three electronic data sources, namely PubMed, ScienceDirect, and Wiley. Inclusion criteria included English-language article, published between 2020 and 2024, and original research articles on burnout among maternity nurses and midwives. Articles that did not meet the criterion, such as focusing on maternity nurses and midwives in education context, were excluded. Article selection followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses for Scoping Review (PRISMA-ScR) Guidelines 2020 and quality assessment used the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist 2020 and Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018.Results: A total of 32.803 articles were found in the search. After screening, eight articles that met the criteria were selected and analyzed further. Based on the analysis results, it was found that the identified risk factors causing burnout in maternity nurses and midwives included socioeconomic status, work experience and duration, unpleasant experiences, job demands, and commitment.Conclusion: Socioeconomic status, work experience and duration, unpleasant experiences, job demands, and commitment contribute to burnout among maternity nurses and midwives. Therefore, further research is needed to develop burnout prevention strategies to improve the well-being of maternity nurses and midwives.INTISARILatar belakang: Tuntutan pekerjaan yang tinggi, lingkungan fasilitas kesehatan yang kurang mendukung, hingga gaji yang rendah, menjadi beberapa faktor pemicu burnout pada perawat maternitas. Burnout yang tidak ditangani dapat berdampak negatif pada kualitas pelayanan, kesehatan mental perawat maternitas dan bidan, serta kesejahteraan pasien.Tujuan: Mengidentifikasi faktor risiko burnout pada perawat maternitas dan bidan.Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan cakupan sesuai dengan pedoman Updated Methodological Guidance for The Conduct of Scoping Reviews tahun 2020. Artikel diperoleh dari tiga sumber data elektronik, yaitu PubMed, ScienceDirect, dan Wiley. Kriteria inklusi mencakup artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan antara 2020–2024 dan merupakan artikel penelitian orisinal tentang burnout pada perawat maternitas. Artikel yang tidak memenuhi kriteria, yakni berfokus pada perawat atau bidan dalam konteks pendidikan, telah dikeluarkan. Seleksi artikel mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses for Scoping Review (PRISMA-ScR) tahun 2020 serta penilaian kualitas menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist tahun 2020 dan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) tahun 2018.Hasil: Sebanyak 32.803 artikel ditemukan dalam penelusuran. Setelah dilakukan skrining, didapatkan 8 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa faktor risiko yang teridentifikasi menyebabkan burnout pada perawat maternitas dan bidan di antaranya adalah status sosial demografi, pengalaman dan waktu kerja, pengalaman tidak menyenangkan, tuntutan pekerjaan, dan komitmen.Simpulan: Status sosial demografi, pengalaman dan waktu kerja, pengalaman tidak menyenangkan, tuntutan pekerjaan, dan komitmen, dapat berkontribusi menyebabkan burnout. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan strategi pencegahan burnout dalam rangka meningkatkan kesejahteraan kerja pada perawat maternitas dan bidan. 
Cairan Hidrogen Peroksida (H2O2) sebagai Pencuci Luka pada Tindakan Debridemen Ulkus Diabetik: Studi Kasus Jati, Puspa Silvia; Triyanto, Arifin; Ruswati, Anita
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.107667

Abstract

Background: Debridement is a part of diabetic ulcers management through removing dead tissue to prevent infection. Wound irrigation is common in debridement. Hydrogen peroxide (H2O2) is used as wound irrigation as it is effective in cleaning and minimising contamination.Objective: To identify the use of H2O2 as wound irrigation solution in surgical debridement.Case report: A 34-year-old woman with uncontrolled DM had an ulcer on her sinistra ankle that had not healed within 2 weeks. The wound was 10 cm in diameter with erythema, crusts, and signs of infection. Debridement was performed with wound irrigation using H2O2 mixed with Povidone iodine.Results: H2O2 effectively used as wound irrigation solution due to its benefits in cleansing the wound from dead tissue and preventing infection. In this case, 100 ml H2O2 was mixed with 400 ml Povidone iodine, then it was poured to the wound. Moreover, NaCl was used to rinse the mixture of H2O2 and Povidone iodine. After debridement procedure, the wound improved and there was not any adverse reaction occurred.Conclusion: The use of H2O2 solution as wound irrigation in debridement procedure can improve wound hygiene, prevent infection, and support healing.INTISARILatar belakang: Debridemen merupakan bagian dari manajemen prosedur penanganan ulkus diabetik dengan menghilangkan jaringan mati untuk mencegah infeksi. Prosedur debridemen umumnya diikuti dengan tindakan irigasi atau pencucian luka. Hidrogen peroksida (H2O2) digunakan sebagai irigasi luka karena efektif dalam membersihkan dan meminimalkan kontaminasi.Tujuan: Mengetahui penggunaan H2O2 sebagai pencuci luka pada debridemen bedah.Laporan kasus: Perempuan 34 tahun dengan diabetes melitus tidak terkontrol memiliki ulkus di ankle sinistra yang tidak sembuh dalam 2 minggu. Luka berdiameter 10 cm dengan eritema, krusta, dan tanda infeksi. Dilakukan debridemen dengan irigasi luka menggunakan H2O2 dicampur Povidone Iodine.Hasil: H2O2 dapat digunakan sebagai irigasi luka secara efektif dikarenakan manfaatnya dalam membersihkan luka dari jaringan mati dan mencegah infeksi. Pada kasus ini, H2O2 100 ml dicampur 400 ml Povidone Iodine kemudian diguyurkan pada luka. Selain itu, prosedur ini juga menggunakan NaCl untuk membilas irigasi luka dari campuran H2O2 dan Povidone Iodine. Kondisi luka pasien membaik pascaprosedur dan tidak ada efek samping yang muncul pada pasien.Simpulan: H2O2 sebagai cairan irigasi pada debridemen dapat meningkatkan kebersihan luka, mencegah infeksi, dan mendukung penyembuhan.
Gambaran Efikasi Diri Perawat Instalasi Gawat Darurat pada Rumah Sakit di Kabupaten Sleman Santoso, Eko Budi; Kusumawati, Happy Indah; Sutono, Sutono
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.106863

Abstract

Background: Self-efficacy is crucial for emergency department nurses, as they must possess skills, make quick decisions, and consistently engage in critical thinking. Research related to self-efficacy of nurses working in emergency departments in Sleman Regency is limited. Objective: To determine the self-efficacy of nurses working in the Emergency Department (ED) in Sleman Regency. Methods: This study used a descriptive analytical method. The study was conducted in four hospitals, comprising one type A facility and three type B facilities, from September to October 2023. The sampling method used was total sampling, which included 122 ED nurses. Self-efficacy was assessed using the General Self-Efficacy (GSE) questionnaire. Univariate analysis, Mann-Whitney, and Kruskal-Wallis tests were used to analyze the data. Results: A total of 57% of ED nurses had a median self-efficacy score of 31 or higher, indicating high self-efficacy. The majority of emergency nurses demonstrated high self-efficacy, especially for the strength component; however, low self-efficacy was found in the magnitude dimension. Comparative analysis showed no significant differences in nurses' self-efficacy across all respondent characteristic variables and work location. Conclusion: The majority of emergency department nurses at Sleman Regency Hospital have high level of self-efficacy. The results of this study can be used to assess the efficacy and formulate policies to improve nurse self-efficacy.INTISARILatar belakang: Efikasi diri sangat penting bagi perawat di ruang gawat darurat karena perawat harus memiliki kecakapan, membuat keputusan cepat, dan secara konsisten terlibat dalam pemikiran kritis. Efikasi diri perawat yang bekerja di ruang gawat darurat di Kabupaten Sleman belum banyak diketahui. Tujuan: Untuk mengetahui efikasi diri perawat yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Kabupaten Sleman. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Penelitian dilakukan di empat rumah sakit, yang terdiri dari satu RS tipe A dan tiga RS tipe B pada bulan September – Oktober 2023. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, yang mencakup 122 perawat IGD. Efikasi diri dinilai dengan kuesioner Efikasi Diri Umum (General Self-Efficacy/GSE) dan data dianalisis menggunakan analisis univariat dan uji beda dengan Mann Whitney dan Kruskal Wallis. Hasil: Sebanyak 57% perawat instalasi gawat darurat memiliki skor efikasi diri median ≥ 31 yang artinya memiliki efikasi diri yang tinggi. Mayoritas perawat IGD memperlihatkan efikasi diri yang tinggi pada dimensi kekuatan, tetapi mereka memperlihatkan efikasi diri yang rendah pada dimensi besaran. Pada uji beda, tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada efikasi diri perawat terhadap seluruh variabel karakteristik responden dan tempat bekerja.Simpulan: Mayoritas perawat IGD pada rumah sakit di Kabupaten Sleman memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menilai efektivitas dan merumuskan kebijakan untuk meningkatkan efikasi diri perawat.
Pijat Tangan dan Kaki serta Aromaterapi Lavender untuk Meningkatkan Kualitas Tidur pada Pasien CHF: Studi Kasus Wiguna, Ilham; Mulyono, Wastu Adi; Andriyana, Andriyana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.107928

Abstract

Background: Patients with congestive heart failure (CHF) often experience sleep disturbances, affecting cardiac muscle function, respiration, and immunity. Long-term use of sleeping medication may cause toxicity; thus, non-pharmacological therapies are required. Hand and foot massage combined with Lavender aromatherapy are safe, simple complementary therapies that can improve body circulation and relaxation. However, case studies on the effects of hand and foot massage combined with lavender aromatherapy have not been widely conducted. Objective: To determine the effect of hand and foot massage and Lavender aromatherapy on sleep quality in a CHF patient. Case Report: A 72-year-old male with CHF was hospitalized at Banyumas Hospital, complaining of shortness of breath, productive cough, sleep disturbances, frequent awakenings, fatigue, and changes in day-night sleep patterns. Physical examination revealed blood pressure 150/90 mmHg, respiratory rate 29 breaths/min, pulse 129 bpm, oxygen saturation 90%, and rhonchi breath sounds. Laboratory tests result showed increased Urea, Creatinine, SGOT, SGPT, and blood gas abnormalities (hypoxemia, respiratory alkalosis). Nursing care over three days included sleep education, environmental modification, hand and foot massage, and Lavender aromatherapy. On day one, poor sleep was reported by the patient. On day two, relaxed and improved daytime sleep were noted. On day three, sleep quality improved with longer duration, while reduced dyspnea and coughing were  concluded. Outcome: Intervention improved vital signs, (i.e.blood pressure, hartbeat, respiration, and oxygen saturation) and sleep quality from poor (≥6) to good (≤5). Conclusion: The combination of hand and foot massage with Lavender aromatherapy effectively improve sleep quality in a CHF patient.INTISARILatar belakang: Pasien congestive heart failure (CHF) umumnya mengalami gangguan tidur, menyebabkan terganggunya fungsi otot jantung, pernapasan, dan sistem imun. Toksisitas dapat muncul sebagai akibat dari penggunaan obat tidur secara terus-menerus sehingga dibutuhkan terapi nonfarmakologis. Hand foot massage dan aromaterapi Lavender merupakan terapi komplementer yang aman, mudah diberikan, serta dapat meningkatkan sirkulasi dan relaksasi tubuh. Namun studi kasus tentang pengaruh pijat tangan dan kaki yang dikombinasikan dengan aromaterapi Lavender masih belum banyak dilakukan. Tujuan: Mengetahui bagaimana massage tangan dan kaki serta aromaterapi Lavender dapat memengaruhi kualitas tidur pasien CHF. Laporan kasus: Pasien laki-laki berusia 72 tahun yang menderita CHF dirawat di Rumah Sakit Banyumas. Pasien mengeluhkan sesak napas, batuk berdahak, gangguan tidur, sering terbangun, kelelahan, serta perubahan pola tidur siang dan malam. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 150/90 mmHg, respirasi 29 kali/menit, nadi 129 kali/menit, saturasi Oksigen 90%, serta suara napas ronki. Hasil laboratorium menunjukkan adanya peningkatan Ureum, Kreatinin, SGOT, SGPT, serta gangguan gas darah (hipoksemia, alkalosis respiratori). Asuhan keperawatan selama tiga hari meliputi edukasi tidur, modifikasi lingkungan, serta intervensi hand foot massage dan aromaterapi Lavender. Hari pertama, pasien melaporkan kualitas tidur buruk. Hari kedua, mulai merasa rileks dengan peningkatan tidur siang. Hari ketiga, kualitas tidur membaik dengan peningkatan durasi tidur dan penurunan keluhan sesak napas, serta batuk. Hasil: Intervensi memberikan perbaikan pada tekanan darah, nadi, respirasi, saturasi Oksigen, serta peningkatan kualitas tidur dari buruk (≥6) menjadi baik (≤5). Simpulan: Hand foot massage dan aromaterapi Lavender efektif dalam memperbaiki kualitas tidur pada pasien CHF.