cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 164 Documents
Gambaran Kecenderungan Orthorexia Nervosa pada Mahasiswa Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM Mutiara Anisha Zahra; Irwan Supriyanto; Sri Warsini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5266.47 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.67330

Abstract

Background: Orthorexia nervosa (ON) is a new psychological disorder that still needs further research. People living with ON have unsafe obsession with eating healthy food. Research related to ON among graduate students in Indonesia, especially medical students, has not been done.Research Objectives: This study aims to determine the proportion of orthorexia nervosa (ON) tendency and to investigate certain characteristics that might influence ON tendency among medical students at FK-KMK UGM.Methodology: This research was a descriptive study with a cross-sectional design. Data collection took place in October-November 2019. Respondents involved were 97 students. The instrument used was ORTO-15. The results were analysed with Chi-Square Test and Fisher Test.Results: The proportion of ON tendency among respondents was 44.3% (cut-off point 40) and there were significant relationship between ON tendency with the habit of respondents to access health related articles in web pages and social media.Conclusion: The ON tendency among medical students in FK-KMK UGM is relatively high with a prevalence percentage of 44.3%. Prevention efforts need to be made so that this trend does not develop into an actual health problem. ABSTRAKLatar Belakang: Orthorexia nervosa (ON) merupakan gangguan psikologis baru yang masih perlu banyak diteliti dengan ciri-ciri penderita memiliki obsesi berlebih terhadap pola makan yang dianggap sehat. Hingga saat ini penelitian terkait ON pada mahasiswa di Indonesia, khususnya mahasiswa kedokteran belum dilakukan.Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi kecenderungan orthorexia nervosa (ON) dan karakteristik responden yang memengaruhi kecenderungan ON pada mahasiswa Prodi Kedokteran FK-KMK UGM.Metodologi: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. Pengambilan data berlangsung pada bulan Oktober-November tahun 2019. Responden yang terlibat sebanyak 97 mahasiswa. Instrumen yang digunakan adalah ORTO-15. Hasil analisa dilakukan dengan Chi-square dan Fisher test.Hasil: Proporsi kecenderungan ON pada responden adalah 44,3% (cut-off point 40). Ditemukan hubungan signifikan antara kecenderungan ON dengan kegemaran responden untuk mengakses laman berkaitan dengan kesehatan di sosial media (p<0,05).Kesimpulan:  Kecenderungan ON pada mahasiswa kedokteran FK-KMK UGM tergolong tinggi. Perlu dilakukan upaya pencegahan agar kecenderungan ini tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang aktual.
Perbedaan Skor Risiko Kecanduan Video Game Berdasarkan Strategi Koping pada Remaja SMA Luklu Latifah; Ronny Tri Wirasto; Intansari Nurjannah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11929.6 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.67509

Abstract

Background: Coping is an important mediator for teenagers in response to stressors, and video games are widely used by teenagers to reduce the perceived stressors. Senior high school students are the group that commonly play and have a high risk of being addicted to video games.Objective: To determine differences in the risk of video games addiction based on coping strategies in Muhammadiyah 1 Yogyakarta school teenagers.Methods: This research was a quantitative comparative descriptive study with a cross-sectional design conducted on 156 teenagers in Muhammadiyah 1 Yogyakarta school in February 2020. Data were collected using the COPE Inventory and IGDS9-SF. Data analyzed using univariate analysis and bivariate using Kruskal Wallis and a post Hoc test using Mann-Whitney.Results: Most respondents were male (51,3%), aged 16 years old (47,4%), who began playing video games at the age >8 years old (6,4%), have played video games for £4 hours in a day (87,8%), and frequency 1-3 days a week (61,5%). There were no respondents with a risk of video game addiction (0%). Most respondents were classified into uncategorized coping strategies (89,1%). The religious coping component was mostly preferred (mean = 13,55), while substance using ranked the least (mean = 4,49). The results showed a significant difference between the types of coping strategies with video games addiction risk scores (p <0,05).Conclusion: Video games addiction risk scores in SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta teenagers differed significantly based on their coping strategies. ABSTRAKLatar belakang: Koping merupakan mediator penting bagi remaja dalam menanggapi stresor dan video game banyak digunakan oleh remaja untuk mengurangi stresor yang dirasakan. Remaja SMA merupakan kelompok yang kerap bermain dan berisiko tinggi mengalami kecanduan video game.Tujuan: Mengetahui perbedaan risiko kecanduan video game berdasarkan jenis strategi koping pada remaja di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada 156 remaja di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada bulan Februari 2020. Data dikumpulkan menggunakan COPE Inventory dan IGDS9-SF. Analisis data berupa analisis univariat dan bivariat dengan Kruskal Wallis dan uji post hoc menggunakan uji Mann Whitney.Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (51,3%), berusia 16 tahun (47,4%), pertama kali bermain video game pada usia >8 tahun (65,4%), bermain video game dengan durasi £4 jam dalam sehari (87,8%), dan frekuensi 1-3 hari dalam seminggu (61,5%). Tidak ada responden yang memiliki risiko kecanduan video game (0%). Koping tidak terkategori paling banyak digunakan (89,1%). Komponen koping ‘kembali kepada agama’ paling banyak digunakan (mean = 13,55), sementara ‘penggunaan zat’ paling sedikit digunakan (mean = 4,49). Hasil uji beda terdapat perbedaan signifikan antara jenis strategi koping dengan skor risiko kecanduan video game (p<0,05).  Simpulan: Skor risiko kecanduan video game pada remaja SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta berbeda secara signifikan berdasarkan strategi koping yang dimiliki.
Kecemasan dan Persepsi Pasien Kanker Ovarium dengan Kemoterapi setelah Terapi Smartphone-Based Virtual Reality (S-VR): Studi Kasus Made Satya Nugraha Gautama; Wiwin Lismidiati; Farida Widayati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.748 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.67529

Abstract

Background: Chemotherapy is a systemic modality for cancer patients and has physical and psychological side effects. Psychological problems usually arise most often when undergoing chemotherapy. Not a few patients feel anxiety and negative perceptions when diagnosed with cancer, undergo surgery, or have an IV inserted to get chemotherapy drugs. Virtual Reality (VR) is a technology-based non-complementary therapy that has the potential to be involved as an alternative in the management of symptoms of cancer patients.Objective: To describe the effects of using Smartphone-Based Virtual Reality (S-VR) on the level of anxiety and perceptions of cancer patients during chemotherapy.Methods: A case study of ovarian cancer patient undergoing chemotherapy and were given Smartphone -Based Virtual Reality (S-VR) treatment.Results: The results obtained were a decrease in situational anxiety facing chemotherapy from a score of 40 (moderate anxiety) to a score of 21 (mild anxiety), decreased in pulse rate, and a significant increase in the perception score (28.6%) (less perception) to 94.3% ( good perception) after getting S-VR intervention during chemotherapy.Conclusion: S-VR can be a technology-based and non-invasive non-pharmacological intervention in reducing anxiety and providing positive experiences for patients during chemotherapy. ABSTRAKLatar Belakang: Tidak sedikit pasien merasakan kecemasan dan persepsi negatif saat didiagnosa kanker, menjalankan pembedahan, atau dipasang infus kemoterapi. Virtual Reality (VR) menjadi salah satu terapi non-komplementer berbasis teknologi yang potensial dilibatkan sebagai alternatif dalam manajemen gejala pasien kanker.Tujuan: Untuk mengetahui efek penggunaan Smartphone-Based Virtual Reality (S-VR) terhadap tingkat kecemasan dan persepsi pasien kanker selama menjalani kemoterapi.Metode: Studi kasus dilakukan pada pasien dengan kanker ovarium yang mendapatkan kemoterapi dan diberikan terapi S-VR. Kecemasan diukur dengan instrument S-AI, pengukuran nadi dan RR. Pengukuran persepsi menggunakan instrument dari Scates.Hasil: Terjadi penurunan kecemasan saat kemoterapi dari skor 40 (kecemasan sedang) ke skor 21 (kecemasan ringan), penurunan frekuensi nadi dan adanya peningkatan secara signifikan skor persepsi (65,7%) (persepsi cukup) menjadi 94,3% (persepsi baik) setelah mendapatkan intervensi S-VR selama  kemoterapi.Kesimpulan: S-VR dapat menjadi intervensi non-farmakologis berbasis teknologi dan non-invasif dalam menurunkan kecemasan dan memberikan pengalaman positif pada pasien selama menjalani kemoterapi.Kata Kunci: 
Hubungan Persepsi Orang Tua terkait Dukungan Keluarga dengan Masalah Psikososial pada Anak dengan Leukemia Evita Dwi Nastiti; Itsna Luthfi Kholisa; Fitri Haryanti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.416 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.67684

Abstract

Background: Leukemia is the most common childhood cancer. Leukemia and its treatment have side effects on the physical and psychosocial health of the sufferer, which are still rarely studied. Psychosocial problems in children with leukemia can affect care and treatment process. One of the factors that can influence psychosocial problems in children with leukemia is family support.Objective: This study aimed to determine the relationship between parents' perceptions of family support and psychosocial problems of children with leukemia in RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Method: This was a descriptive-analytic research with a cross-sectional approach. Subjects were 43 children with leukemia aged 5-18 years and their parents who were selected using the purposive sampling technique. The inclusion criteria in this study were children with leukemia who were treated at RSUD Dr Moewardi, parents who in the past week treated children with leukemia, could speak Indonesian, and filled out informed consent. Parents' perceptions of family support were measured by the family support instrument and psychosocial problems were measured by the Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17. The analysis was carried out by Spearman Rank.Result: Parents' perceptions of family support were 55,8% in the moderate category. The majority of leukemia children did not experience psychosocial problems (97,7%) however, 6 children experienced psychosocial problems in the internalization domain. There was no significant relationship between parents' perceptions of family support and psychosocial problems in children with leukemia as it showed p-value of 0,576 (p>0,05).Conclusion: Parents' perceptions of family support is not corelated with psychosocial problems in children with leukemia in RSUD Dr. Moewardi Surakarta. ABSTRAKLatar belakang: Leukemia merupakan kanker yang paling banyak terjadi pada anak. Leukemia dan pengobatannya memberi efek samping bagi kesehatan fisik dan psikososial pasien anak yang saat ini masih jarang diteliti. Masalah psikososial pada anak leukemia dapat memengaruhi proses perawatan dan pengobatannya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi masalah psikososial pada anak leukemia adalah pemberian dukungan keluarga.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi orang tua terkait dukungan keluarga dengan masalah psikososial anak leukemia di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian yaitu 43 anak leukemia berusia 5-18 tahun dan orang tuanya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini antara lain, anak leukemia yang sedang menjalani perawatan di RSUD Dr Moewardi, orang tua yang dalam satu minggu terakhir merawat anak dengan leukemia, dapat berbahasa Indonesia dan mengisi informed consent. Persepsi orang tua terkait dukungan keluarga diukur dengan instrumen dukungan keluarga dan masalah psikososial diukur dengan Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17. Analisis dilakukan dengan Spearman Rank.Hasil: Persepsi orang tua terkait dukungan keluarga sebanyak 55,8% dalam kategori sedang. Mayoritas anak leukemia tidak mengalami masalah psikososial (97,7%). Namun, terdapat 6 anak yang mengalami masalah psikososial pada domain internalisasi. Hasil uji hubungan antara persepsi orang tua terkait dukungan keluarga dengan masalah psikososial anak leukemia menunjukkan hasil p-value 0,576 (p>0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan.Simpulan: Persepsi orang tua terkait dukungan keluarga tidak berhubungan dengan masalah psikososial anak leukemia di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Electronic Patient Reported Outcomes (ePROs) dalam Pengukuran dan Pemantauan Gejala pada Anak dengan Kanker: Studi Literatur El Nino Tunjungsari; Allenidekania Allenidekania
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.667 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.71367

Abstract

Background: The incidence of cancer in children is estimated to increase in the future, on the other hand, health care providers rarely detect the burden of the symptoms felt by children with cancer. Effectively reported and measured subjective symptoms could increase the quality of interventions that affected children’s health-related quality of life (HRQoL). Recently, Electronic Patient-Reported Outcomes (ePROs) have been widely applied in the assessment, monitoring, and evaluation of interventions on symptoms that mostly experienced by adult cancer patients, while the application of ePROs in pediatric patients is still not widely developed.Objective: To describe the application of ePROs in children with cancer in the last decade.Method: This was literature review research. Articles searched through online databases, i.e. Proquest, Science Direct, Research Gate, and Google Scholar that were published in the last 10 years (2012 to 2021), with keywords electronic patient-reported outcomes and pediatric cancer.Result: There were nine articles found. It was found that ePROs were more developed by High-Income Countries (HIC). Furthermore, the measuring tools used in ePROs determined the user's age and measured symptoms. Moreover, ePROs was easy to use and provided more benefits for users and health care providers. Meanwhile, there were technical and organizational barriers in their development.Conclusion: Symptom measurement tools that are synchronized to the user's age will make ePROs an effective symptom measurement tool in children with cancer. The use of ePROs in pediatric patients with cancer is positively affecting patients. ABSTRAKLatar belakang: Angka kejadian kanker pada anak diperkirakan meningkat dari tahun ke tahun. Namun, di sisi lain, penderitaan yang dirasakan oleh anak dengan kanker sering tidak terdeteksi oleh tenaga kesehatan. Gejala-gejala subjektif yang dialami oleh pasien anak dengan kanker jika dilaporkan dan didokumentasikan dengan baik, telah terbukti meningkatkan intervensi sesuai dengan prioritas gejala yang paling mengganggu kualitas hidup anak. Belakangan ini, Electronic Patient Reported Outcomes (ePROs) telah banyak dimanfaatkan dalam pengkajian, pemantauan, hingga evaluasi terhadap intervensi pada gejala yang dialami oleh pasien kanker dewasa. Namun, penggunaan ePROs pada pasien anak masih belum banyak dikembangkan.Tujuan: Untuk menggambarkan penggunaan ePROs pada anak dengan kanker dalam satu dekade terakhir.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur. Artikel dicari melalui database daring yakni Proquest, Science Direct, Research Gate, dan Google Scholar yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir (2012-2021) dengan kata kunci electronic patient reported outcomes dan anak dengan kanker.Hasil: Diperoleh 9 artikel yang sesuai dengan kriteria. Ditemukan bahwa ePROs lebih banyak dikembangkan oleh negara-negara berpenghasilan tinggi. Kemudian, alat ukur yang digunakan dalam ePROs akan berpengaruh terhadap usia pengguna dan gejala yang diukur. Lebih jauh lagi, pengguna merasa bahwa ePROs mudah digunakan dan lebih banyak memberikan keuntungan dan manfaat, baik bagi pengguna maupun penyedia layanan kesehatan. Akan tetapi dalam pengembangan ePROs terdapat beberapa hambatan teknis dan organisasi.Simpulan: Alat ukur gejala yang disesuaikan dengan usia pengguna akan membuat ePROs menjadi alat ukur gejala yang efektif pada anak dengan kanker. Penggunaan ePROs pada pasien anak dengan kanker juga terbukti mempunyai dampak positif terhadap pasien.
Self-Directed Learning Mahasiswa Keperawatan pada Implementasi E-Learning di Pembelajaran Praktik Profesi Ners Kharisma Eka Suryani; Made Satya Nugraha Gautama; Eri Yanuar Budi Akhmad Sunaryo; Totok Harjanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.554 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.71675

Abstract

Background: E-learning method could develop student’s self-directed learning abilities, as its advantage. Self-directed learning (SDL) becomes essential in education since it encourages student to learning, skill development, and professional practice. Educators need to combine current learning process with information technology and e-learning to promote student readiness for SDL abilities.Objective: To describe self-directed learning readiness (SDLR) for nursing students during e-learning implementation in clinical rotation nurse professional program.Method: This was a descriptive-quantitative study with a cross-sectional design conducted at PSIK FK-KMK UGM. Total sampling was applied and included 102 respondents. They were nurse professional program students who were taking basic nursing practice and nursing management courses from August to December 2018. Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) was used as data collection instrument which consisted of 40 items. Data was analysed using univariate approach.Result: There were 60,8% of Nurse Professional Program students who took e-learning courses had high SDLR scores (Mean=152,75; SD=13,362; Min=121; Max=195). The average SDLR scores in each subscale were reaching 3,61 on self-management, 3,98 on the desire to learn, and 3,86 on self-control.Conclusion: The SDLR level of nurse professional program students who took basic nursing practice and nursing management courses showed high results in the implementation of e-learning. ABSTRAKLatar belakang: E-learning memiliki keunggulan dalam mengembangkan kemampuan belajar mandiri siswa (self-directed learning). Self-directed learning (SDL) penting dalam pendidikan karena memotivasi mahasiswa untuk belajar, mengembangkan keahlian, serta melatih profesionalitas. Pendidik perlu menggabungkan proses pembelajaran dengan teknologi informasi dan e-learning guna memfasilitasi kesiapan mahasiswa terhadap kemampuan SDL (self-directed learning readiness).Tujuan: Untuk mengetahui gambaran SDLR mahasiswa profesi ners.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian descriptive-quantitative dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di PSIK FK-KMK UGM. Pengambilan responden secara total sampling, responden sebanyak 102 mahasiswa profesi ners stase praktik keperawatan dasar dan manajemen keperawatan pada periode Agustus-Desember 2018. Instrumen yang digunakan adalah Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) yang terdiri atas 40 pertanyaan. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis univariat.Hasil: Sebanyak 60,8% mahasiswa profesi ners pada pembelajaran e-learning ini memiliki nilai SDLR yang cenderung tinggi (Mean=152,75; SD=13,362; Min=121; Max=195). Rata-rata skala SDLR pada tiap sub-skala adalah 3,61 pada manajemen diri, 3,98 pada keinginan untuk belajar, dan 3,86 untuk kontrol diri.Simpulan: Tingkat SDL mahasiswa profesi ners menunjukkan kecenderungan tinggi pada pembelajaran e-learning.
Hubungan Distres Emosional dan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Lansia Penderita Diabetes Melitus di Kabupaten Sleman Reka Septiara Irawati; Heru Subekti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44242

Abstract

Background: Diabetes mellitus is one of the degenerative illnesses in elderly caused by inadequate production of insulin. Diabetes mellitus need a long-term management which can lead to emotional distress and diminishing life quality. Social support is playing an important role toward diabetic management and distress coping. Diabetics patient needs social support to lower emotional distress and improve quality of life.Objective: To determine the correlation between emotional distress, social support with quality of life among elderly patients with Diabetes Mellitus in Sleman Regency.Method: This was a correlational study using cross sectional design. Subjects were 188 elderlies with Diabetes Mellitus in Sleman Regency, selected by purposive sampling method. Data were collected using questionnaire of Problem Area in Diabetic, social support (by Kim, Shimada, Sakano), and WHO Quality of Life-BREF (WHOQOL-Bref). Data was analysed using Spearman correlation.Results: The Spearman Rank analysis result for emotional distress and quality of life variables is r=-0,289, p=0,000; and r=0,230, p=0,002 for social support and quality of life variables. While for social support and emotional distress variables the result is r=0,038, p=0,605.Conclusion:  There is significant negative correlation between emotional distress and quality of life among elderly with DM; while there is positive significant correlation between social support and quality of life. However, there is no significant correlation between social support and emotional distress among elderly with DM in Sleman regency. Therefore, it was necessary to pay attention to the psychosocial aspects in providing nursing care for type 2 diabetes patient.ABSTRAKLatar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif pada lansia karena produksi insulin yang tidak adekuat. Diabetes melitus membutuhkan manajemen jangka panjang sehingga penderitanya berisiko mengalami distres emosional dan menurunkan kualitas hidup. Dukungan sosial penting dalam manajemen diabates dan koping distres emosional. Penderita diabetes melitus memerlukan dukungan sosial untuk menurunkan distres emosional dan meningkatkan kualitas hidup.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan distres emosional dan dukungan sosial dengan kualitas hidup lansia penderita diabetes melitus di Kabupaten Sleman.Metode:Penelitian correlational menggunakan rancangan cross sectional pada 188 responden lansia penderita DM di Kabupaten Sleman yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data penelitian diperoleh menggunakan kuesioner Problem Area in Diabetic (PAID); Dukungan Sosial oleh Kim, Shimada dan Sakano; dan WHO Quality of Life-BREF (WHOQOL-Bref). Analisis data menggunakan uji Spearman correlation.Hasil: Hasil analisis Spearman untuk variabel distres emosional dan kualitas hidup didapatkan nilai r=-0,289, p=0,000; dan r=0,230, p=0,002 untuk variabel dukungan sosial dan kualitas hidup. Sementara untuk variabel diukungan sosial dengan distres emosional nilai r=0,038, p=0,605.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara distres emosional dengan kualitas hidup lansia dengan DM dengan arah negatif. Sementara ada hubungan yang signifikan dengan arah positif antara dukungan sosial dengan kualitas hidup lansia dengan DM. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara distres emosional dan dukungan sosial pada lansia dengan DM di Kab Sleman. Oleh karena itu perlu diperhatikan aspek psikososial dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita DM tipe 2.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi dengan Pemanfaatan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja Dias Putri Kusumastuti; Wiwin Lismidiati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44246

Abstract

Background: Adolescents are vulnerable to reproductive health problems. National Family Planning Coordinating Board (or Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/BKKBN in Bahasa Indonesia’s term), as government agency, has implemented reproductive health services program called Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) in certain schools. The problem was there are differences in the utilization of PIK-KRR in some areas in Indonesia. Knowledge about reproductive health and attitude on the program were some factors that may cause the differences in utilization of PIK-KRR.Objective: To identify the correlation between knowledge and attitude on reproductive health with the utilization of  the PIK-KRR.Methods: It was a non-experimental study using cross sectional approach. Sample of the research were 157 students among XI and XII grader of public high school 1 Srandakan. The research variables were knowledge about reproductive health, attitude on reproductive health, and PIK-KRR utilization. This research used total sampling technique and data were analysed using univariate and bivariate analysis. Fisher and Chi-Square test were used for bivariate analysis.Results: Respondents in this study were 143 of 157 students in XI and XII (91,07%). The result of the analysis showed that there were 95,1% of the respondents with a high level of knowledge about reproductive health, 53,1% of  respondents had the positive attitude to the reproductive health, and the utilization of PIK-KRR was in a high category (48,2%). There was a significant correlation between reproductive health knowledge and the utilization of PIK-KRR (p= 0,002) and between the attitude of reproductive health with PIK-KRR (p= 0,006).Conclusion: There was a correlation between knowledge about reproductive health and attitude on it with the utilization of PIK-KRR. ABSTRAKLatar Belakang: Masa remaja memerlukan perhatian serius karena rentan terjadi permasalahan kesehatan reproduksi. Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah melaksanakan program kesehatan reproduksi bernama Pusat Informasi Kesehatan Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) di sekolah. Masalah yang dihadapi yaitu adanya perbedaan pemanfaatan PIK-KRR di beberapa wilayah Indonesia. Banyak faktor yang memengaruhi pemanfaatan PIK-KRR, antara lain pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi dengan pemanfaatan PIK-KRR.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan studi cross sectional. Teknik pengumpulan data menggunakan total sampling. Sampel penelitian sebanyak 157 siswa SMA kelas XI dan XII. Variabel yang diteliti adalah pengetahuan, sikap tentang kesehatan reproduksi, dan pemanfaatan PIK-KRR. Analisis data terdiri dari analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan Uji Fisher dan Uji Chi-Square.Hasil: Responden dalam penelitian ini adalah 143 responden dari 157 siswa kelas XI dan XII (91,07%). Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja dengan tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dalam kategori tinggi sebanyak 136 orang (95,1%), remaja yang memiliki sikap positif terhadap kesehatan reproduksi sebanyak 76 orang (53,1%), tingkat pemanfaataan PIK-KRR dalam kategori tinggi sebanyak 69 orang (48,2%). Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan pemanfaatan PIK-KRR (p=0,002) dan sikap tentang kesehatan repoduksi dengan pemanfaatan PIK-KRR (p=0,006).Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi berhubungan dengan pemanfaatan PIK-KRR.
Interrater Reliability dari Checklist OSCE Keterampilan Mencuci Tangan dan Memakai Sarung Tangan di Program Studi Ilmu Keperawatan UGM Nur Fajriyah Rosyidah; Eri Yanuar Akhmad Budi Sunaryo; Totok Harjanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44249

Abstract

Background: Objective Structured Clinical Examination (OSCE) is a method to evaluate students’ nursing skills. OSCE uses checklist as an instrument to test hand washing and gloving skills. While reliability values of both checklists are vital aspect for the instrument, they have not been measured in PSIK FKKMK UGM.Objective: To identify the interrater reliability in the hand washing and gloving skills of OSCE checklists at PSIK FKKMK UGM.Method: This research used non-experimental descriptive quantitative research type with cross-sectional design. The respondents were 92 first-year students at PSIK FKKMK UGM participating in the OSCE examination. Assessment on students performance were conducted using hand washing and gloving checklists by two raters. The scores were analyzed using Kappa and percent agreement (PA).Result: Hand washing checklist had Kappa value of 0,146 (quite poor) and PA 80,40% (acceptable). Gloving checklist had Kappa value of 0,228 (poor) and PA 78,20% (acceptable). The results were divided into two categories, first Kappa not acceptable and PA acceptable or called Kappa paradox consisting of 14 checklist items. Furthermore, there were 11 checklist items in the second category namely Kappa not acceptable and PA not acceptable.Conclusion: Hand washing and gloving skill checklists which are used by PSIK FKKMK UGM do not possess good interrater reliability in measuring the skills of nursing students. These checklists need revision and statistical test in order to improve education quality at School of Nursing at FKKMK UGM.ABSTRAKLatar belakang: Salah satu metode untuk mengevaluasi keterampilan keperawatan mahasiswa adalah menggunakan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Instrumen yang dapat digunakan dalam OSCE adalah checklist. Reliabilitas merupakan aspek penting dalam suatu instrumen. Pengujian reliabilitas dari checklist mencuci tangan dan memakai sarung tangan di PSIK FKKMK UGM belum pernah dilakukan.Tujuan: Untuk mengetahui interrater reliability pada checklist OSCE keterampilan mencuci tangan dan memakai sarung tangan di PSIK FKKMK UGM.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross-sectional. Responden pada penelitian adalah 92 mahasiswa PSIK FKKMK UGM tahun pertama yang mengikuti ujian OSCE. Penilaian performa mahasiswa dilakukan menggunakan instrumen checklist mencuci tangan dan memakai sarung tangan oleh dua orang penguji. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Kappa dan percent agreement (PA).Hasil: Checklist mencuci tangan memiliki nilai Kappa 0,146 (cukup buruk) dan PA 80,40% (dapat diterima). Checklist memakai sarung tangan memiliki nilai Kappa 0,228 (buruk) dan PA 78,20% (dapat diterima). Terdapat 14-unit checklist yang masuk dalam kategori Kappa tidak dapat diterima, namun PA dapat diterima (paradoks Kappa). Terdapat 11-unit checklist yang masuk dalam kategori Kappa dan PA tidak dapat diterima.Kesimpulan: Checklist keterampilan mencuci tangan dan memakai sarung tangan di PSIK FKKMK UGM belum memiliki interrater reliability yang baik dalam mengukur keterampilan mahasiswa. Checklist tersebut memerlukan perbaikan untuk menghasilkan reliabilitas baik demi kualitas pendidikan di Program Studi Ilmu Keperawatan FKKMK UGM yang lebih baik.
Hubungan antara Dukungan Sosial dan Aktivitas Fisik pada Kelompok Risiko Sindrom Metabolik di Wilayah Kerja Puskesmas Turi Sleman Imah Nur Chasanah; Melyza Perdana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44268

Abstract

Background: Hypertension and diabetes mellitus cases, as part of the metabolic syndrome, are increasing in the working area of Puskesmas Turi. One of the preventive efforts is promoting physical activity. On the other hand, physical activity is influenced by internal and external factors, such as social support from the environment.Objective: To determine the relationship between social support and physical activity in the risk group for metabolic syndrome in the working area of Puskesmas Turi, Sleman Regency.Methods: This study was a descriptive correlational study with a cross-sectional design. The research respondents were 87 people categorized in metabolic syndrome risk group with inclusion criteria, i.e. BMI ≥ 23; abdomen circumference >90 cm for male and >80 cm for female; and aged 30 to 60 years. Data collected using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) questionnaire to measure the level of physical activity and to measure the level of social support was using social support and exercise surveys. Data was analyzed using univariate analysis and Spearman Rank.Result: The level of physical activity of most of the respondents were 43,8% (moderate). Respondents received social support mostly from friends rather than family members. Spearman Rank score for testing the correlation between social support (from family and friend) and respondents’ physical activity achieved r = -0,117; p = 0,282 and r = 0,036; p = 0,740.Conclusion: There is no significant relationship between social support and physical activity in the metabolic syndrome risk groups in the working area of Puskesmas Turi, Sleman Regency.ABSTRAKLatar belakang: Kasus hipertensi dan diabetes sebagai bagian dari sindrom metabolik, mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di wilayah kerja Puskesmas Turi. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan suatu pencegahan agar menekan angka sindrom metabolik. Salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik, dipengaruhi faktor internal dan eksternal, seperti dukungan sosial dari lingkungan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan aktivitas fisik pada kelompok risiko sindrom metabolik di wilayah kerja Puskesmas Turi Kabupaten SlemanMetode: Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah 87 orang yang termasuk dalam kategori kelompok risiko sindrom metabolik dengan kriteria inklusi, IMT ≥ 23; lingkar perut >90 cm pada pria dan >80 cm pada wanita; dan berusia 30 sampai 60 tahun. Proses pengambilan data menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) untuk mengukur tingkat aktivitas fisik dan Social Support and Exercise Survey untuk mengukur tingkat dukungan sosial. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan Spearman Rank.Hasil: Aktivitas fisik sebagian besar kelompok risiko sindrom metabolik sebesar 43,7% atau termasuk dalam tingkat aktivitas fisik sedang. Dukungan sosial dari teman lebih tinggi dibandingkan dukungan sosial dari keluarga. Dari hasil uji Spearman Rank, didapatkan hubungan dukungan sosial keluarga dan teman terhadap aktivitas fisik sebesar r=-0,117; p=0,282 dan r=0,036; p=0,740.Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan sosial dengan aktivitas fisik pada kelompok risiko sindrom metabolik di wilayah kerja Puskesmas Turi Kabupaten Sleman.

Page 6 of 17 | Total Record : 164