cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 164 Documents
Tingkat Pengetahuan Polisi Lalu Lintas Tentang Penanganan Korban Kecelakaan Dengan Cedera Kepala Di Kabupaten Sleman Yogyakarta Yuninda Kurniawati; Sutono Sutono
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.438 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44320

Abstract

Background: Pre hospital patient management is a significant part to decrease early and late death. Head injury in traffic accident victims may increase intracranial pressure which leads to decrease victim’s consciousness. Police officers are the first special responder who may arrive in crashed area. They have responsibility to help the victim.Purpose: The purpose of this study is to know traffic police officer’s knowledge levels about early management of traffic accident victims with head injury at Sleman district in Yogyakarta.Methods: This is descriptive categorical non-experimental study with 97 traffic police officers in Sleman district as subject. We used accidental sampling method of every police station. They filled questionnaire that had been prepared. Univariate analysis with descriptive statistic technique was used to analyse the data.Result: Seventy two of 97 subject (74,23%) had an enough knowledge level of traffic accident victims early management. Fourteen subjects (14,43%) had a good knowledge level, and the others (11,34%) subject have less knowledge level. Conclusion: The traffic police officers had enough knowledge level in early management of traffic accident victims with head injury. ABSTRAKLatar Belakang: Penanganan korban kecelakaan pada area pra rumah sakit dapat menurunkan tingkat kematian pada early dan late death. Pada korban dengan cedera kepala memiliki resiko peningkatan tekanan intra kranial sehingga korban tidak sadarkan diri. Polisi merupakan orang awam khusus yang memiliki kewajiban untuk menolong korban.Tujuan Penelitian: Mengetahui tingkat pengetahuan polisi lalu lintas di Kabupaten Sleman mengenai penanganan korban kecelakaan dengan cedera kepala.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif non-eksperimental dengan subjekpolisi lalu lintas di Kabupaten Slemanyang berjumlah 97 orang. Subjek diambil dengan accidental sampling di area polsek untuk mengisi lembar kuisioner. Kemudian data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat dengan teknik statistik deskriptif.Hasil: Sebanyak 72 dari 97(74,23%) responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang penanganan korban cedera kepala. Sebanyak 14 responden (14,43%) berpengetahuan baik, dan 11 (11,34%) lainnya memiliki pengetahuan yang kurang.Kesimpulan: Tingkat pengetahuan polisi lalu lintas mengenai penanganan korban kecelakaan dengan cedera kepala di Kabupaten Sleman pada tahun 2015 adalah cukup.
Hubungan Karakteristik Responden dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan pada Remaja Pasca 7 Tahun Erupsi Gunung Merapi Rizki Muthia Putri; Sri Hartini; Fitri Haryanti; Irwan Supriyanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.024 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.44339

Abstract

Background: The 2010 Mount Merapi eruption was the biggest in the last 100 years, and had caused various impact. Anxiety is one of the psychological problems often arise in adolescent after disaster. Anxiety post-disaster in adolescent are affected by gender, age, loss of nearest person, and social support.Objective: To know the relationship between respondent characteristic and social support with anxiety in adolescent, and description of anxiety in adolescent after 7 years eruption of Mount Merapi in Wukirsari permanent residence village.Research Methods: This research was a descriptive analytic with cross-sectional design and quantitative approach. This research was conducted in January 2018. The sample used was 50 adolescents who live in Wukirsari permanent residence village. Data collect used Revised Children Manifest Anxiety Scale (RCMAS) for anxiety and The Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) for social support. Data analysis used was univariate analysis and bivariate analysis with independent sample t-test.Results: The result of data analysis were age, gender, education level, loss of the nearest person, and social support with anxiety had p value respectively 0,440; 0,801; 0,158; 0,880; dan 0,690. The prevalence of anxiety in adolescent was 20% with symptoms that often arise was worry-oversensitivity, after 7 years eruption of Mount Merapi.Conclusion: There is no relationship between age, gender, education level, loss of the nearest person, and social support with anxiety in adolescent after 7 years eruption of Mount Merapi in Wukirsari permanent residence village. ABSTRAKLatar Belakang: Erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 merupakan erupsi terbesar yang terjadi dalam kurun waktu 100 tahun terakhir dan menimbulkan berbagai dampak pada kesehatan fisik maupun psikologis. Kecemasan merupakan salah satu dari masalah psikologis yang sering timbul pada remaja setelah terjadi bencana. Kejadian kecemasan pada remaja pascabencana dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kehilangan orang terdekat, dan dukungan sosial.Tujuan: Mengetahui gambaran kecemasan remaja setelah 7 tahun erupsi Gunung Merapi serta hubungan antara karakteristik responden dan dukungan sosial dengan kecemasan pada remaja di hunian tetap (huntap) Wukirsari.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik, menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2018. Besar sampel yang digunakan yaitu 50 remaja yang tinggal di huntap Wukirsari. Kuesioner Revised Children Manifest Anxiety Scale (RCMAS) digunakan untuk mengukur kecemasan dan The Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) digunakan untuk mengukur dukungan sosial. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji independent sample t-test.Hasil: Prevalensi remaja yang mengalami kecemasan setelah 7 tahun erupsi Gunung Merapi yaitu 20% dengan gejala yang sering muncul yaitu worry-oversensitivity. Hasil analisis data antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kehilangan orang terdekat, dan dukungan sosial dengan kecemasan memiliki nilai p berturut-turut 0,440; 0,801; 0,158; 0,880; dan 0,690.Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kehilangan orang terdekat, dan dukungan sosial dengan kecemasan remaja setelah 7 tahun erupsi Gunung Merapi.
Faktor Yang Berhubungan dengan Pasien Hipertensi Tidak Terkontrol Di Puskesmas Miftafu Darussalam; Agus Warseno
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.332 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49111

Abstract

Background: Hypertension is one of the major cardiovascular risk factors. Uncontrolled hypertension is defined as the state of systolic blood pressure ≥140 mmHg and diastolic blood pressure ≥90 mmHg based on an average of three times the measurement in hypertensive patients and with or without antihypertensive treatment. Factors that can cause uncontrolled hypertension include age, education, smoking, exercise habits, medication adherence, and recent blood pressure control habits.Objective: To identify factors related to uncontrolled hypertension patients at Puskesmas Gamping 1 Sleman Yogyakarta.Methods: The research was analytical descriptive with cross sectional design. The sampling technique of this study was consecutive sampling. There was 191 respondents in this study. The data analysis used was multiple logistic regression test.Results: The hypertension disease in Puskesmas Gamping 1 Sleman is mostly uncontrolled hypertension amounted to 143 (75%) respondents. Factors associated with uncontrolled hypertension were age (p=0,008) and blood pressure control habits (p=0,000). The multivariate analysis shows that there is only one independent variable associated with uncontrolled hypertension patient that is blood pressure control habits (aOR=5,339; 95% CI; (2,452-11,624)). Respondents who do not have regular blood pressure control habits have 5,339 times higher than other risk factors of hypertension.Conclusions: The most dominant factor associated with uncontrolled hypertension is the habit of checking blood pressure. ABSTRAKLatar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama kardiovaskular. Seseorang dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. Hipertensi tidak terkontrol didefinisikan sebagai keadaan ukuran tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg berdasarkan rata-rata tiga kali pengukuran pada penderita hipertensi dan dengan atau tanpa pengobatan antihipertensi. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan hipertensi tidak terkontrol antara lain umur, pendidikan, merokok, kebiasaan olah raga, kepatuhan minum obat, dan kebiasaan kontrol tekanan darah terakhir.Tujuan: Mengidentifikasi factor-faktor yang berhubungan dengan pasien hipertensi tidak terkontrol di Puskesmas Gamping 1 Sleman Yogyakarta.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling penelitian ini adalah consecutive sampling, dengan jumlah sampel 191 responden. Untuk analisis menggunakan uji regresi logistik ganda.Hasil: Status hipertensi di Puskesmas Gamping 1 Sleman sebagian besar hipertensi tidak terkontrol berjumlah 143 responden (75%). Faktor yang berhubungan dengan hipertensi tidak terkontrol adalah umur (p=0,008) dan kebiasaan kontrol tekanan darah (p=0,000). Hasil akhir analisis multivariate didapatkan data bahwa hanya ada satu variabel independent yang berhubungan dengan pasien hipertensi tidak terkontrol yaitu kebiasaan kontrol tekanan darah (aOR=5,339; 95%CI; (2,452-11,624)). Jadi responden yang tidak mempunyai kebiasaan kontrol tekanan darah secara rutin mempunyai faktor risiko 5,339 kali dibanding faktor yang lain.Kesimpulan: Kebiasaan kontrol tekanan darah merupakan faktor yang paling dominan pada status hipertensi yang tidak terkontrol.
Studi Kasus: Pengaruh Logoterapi terhadap Depresi pada Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan Arintan Nur Safitri; Megah Andriany
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.379 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49174

Abstract

ABSTRACTBackground: Female inmates undergo depression in various levels and symptoms. Depression on female inmates rise from loss of freedom and stressor during imprisonment which results in feelings of failure, loss of life’s meaning, emptiness, interpersonal barriers, and stress. Logotherapy is an intervention that has been proven to decrease depression level through the process of discovering the meaning and purpose of life. Logotherapy on inmates has been shown to decrease the level of despair, influence the meaningfulness of life, increase self-esteem, and decrease anxiety levels. The effect of logotherapy on female inmates depression is still limited to be found, both quantitatively and qualitatively.Objective: To analyze the effect of logotherapy on female inmates depression level in each domain of depression symptoms.Methods: This study is quantitative and observational study with a case study design. The sample were five participants who were recruited using purposive sampling technique with inclusion criteria i.e. willing to take part in a series of studies, identified as experiencing depression from mild to severe level, not get psychotherapy, cooperative, and able to communicate well. Data were collected using Beck Depression Inventory II (BDI II) questionnaire, before and after logotherapy. Logotherapy was carried out in four sessions, namely problem identification, responses and problem solving identification, development of positive attitudes and values toward problems, and evaluation.Results: Four participants experienced varying changes in depression levels and one participant remained at moderate depression level but got her total score changed.Conclusion: Logotherapy has an effect on reducing the level of depression in various ways. Based on these findings, correctional nurse needs to develop a comprehensive nursing care by providing logotherapy to decrease female inmates depression level.Keywords: depression, female Inmates, logotherapy ABSTRAKLatar Belakang: Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) perempuan mengalami depresi dengan tingkat dan tanda gejala yang bervariasi. Depresi pada WBP perempuan muncul karena kehilangan kemerdekaan dan stresor saat pemidanaan sehingga menimbulkan perasaan gagal, kehilangan nilai hidup, perasaan hampa dan tertekan, serta hambatan interpersonal. Logoterapi merupakan intervensi yang terbukti dapat menurunkan tingkat depresi melalui proses penemuan makna dan tujuan hidup. Logoterapi terhadap WBP telah terbukti dapat menurunkan tingkat keputusasaan, memengaruhi kebermaknaan hidup, meningkatkan harga diri, dan menurunkan tingkat kecemasan. Penelitian mengenai pengaruh logoterapi terhadap tingkat depresi pada WBP perempuan masih sangat terbatas ditemukan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh logoterapi terhadap penurunan tingkat depresi WBP perempuan pada setiap domain gejala depresi.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan observasional dengan desain studi kasus. Sampel terdiri dari lima partisipan yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling dengan kriteria inklusi: bersedia mengikuti serangkaian penelitian, teridentifikasi mengalami depresi dari ringan hingga berat, tidak mendapatkan pengobatan psikoterapi, kooperatif, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory II (BDI II) sebelum dan sesudah logoterapi. Logoterapi  dilakukan empat sesi yaitu identifikasi masalah, identifikasi respons dan cara penyelesaian masalah, pengembangan sikap dan nilai positif terhadap masalah, dan evaluasi.Hasil: Empat partisipan mengalami perubahan tingkat depresi yang bervariasi dan satu partisipan tetap pada depresi sedang, namun mengalami perubahan total skor.Kesimpulan: Logoterapi berpengaruh terhadap penurunan tingkat depresi secara bervariasi. Perawat Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) perlu mengembangkan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan pemberian logoterapi untuk menurunkan tingkat depresi pada WBP perempuan.Kata kunci: Depresi, Logoterapi, dan WBP perempuan
Pengaruh Edukasi Kesehatan Paket Cerdas Ibu Menyusui (PCIM) terhadap Efikasi Diri Ibu Primipara dalam Merawat Bayi Baru Lahir di Haharu, Sumba Timur Umbu Nggiku Njakatara; Lely Lusmilasari; Anik Rustiyaningsih
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.945 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49351

Abstract

Background: Maternal self-efficacy is a mother's ability to manage her role. This ability has a positive impact towards children’s safety and development. Knowledge to take care of newborn will increase maternal self-efficacy, especially for primiparous (a woman who is pregnant or gives birth for the first time). Health education may be one effective way, among others, to deliver this knowledge.Objective: To examine the effect of a health education module called Paket Cerdas Ibu Menyusui/PCIM (translated as breastfeeding smart package) toward self-efficacy of primiparous in caring newborns. The second objective is to examine the corelation between social support and maternal self-efficacy.Method: This research used a quasi-experimental with pre-test and post-test for comparing intervention, and a control grup. There were 60 primiparous who became participants which were selected by consecutive sampling techniques. Research instruments were PSES scale for primiparous self-efficacy and PSSP for social support measurement. Data analysis were using paired t-test, independent t-test and Spearman test with significance level or p value <0,05.Results: PCIM health education module affected maternal self-efficacy score. Respondents received scores of 3,51 before intervention and increased into 5,49 after intervention (p=0,001). The increasement in intervention group was higher than control group (p=0,001). On the other hand, there was not any significant correlation between social supprot and self-efficacy for both groups (p>0,05).Conclusion: PCIM health education module increases the self-efficacy of primiparous in caring for newborns. But, there is not any correlation between social support and the self-efficacy of primiparous in caring for newborns. ABSTRAKLatar Belakang: Efikasi diri ibu merupakan keyakinan seorang ibu akan kemampuannya dalam menjalankan peran yang dapat memberi pengaruh positif terhadap keselamatan dan perkembangan anaknya. Untuk meningkatkan keyakinan ibu, khususnya pada ibu primipara (perempuan yang pertama kali hamil atau melahirkan bayi) diperlukan pengetahuan dalam merawat bayi baru lahir yang dapat dilakukan melalui edukasi kesehatan.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan paket cerdas ibu menyusui terhadap efikasi diri ibu primipara dalam merawat bayi baru lahir, dan hubungan dukungan sosial dengan efikasi diri ibu primipara.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experiment pre-test and post-test dengan kelompok kontrol. Subjek penelitian berjumlah 60 ibu primipara yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen PSES untuk mengukur efikasi diri ibu primipara dalam merawat bayi baru lahir dan PSSP untuk melihat hubungan dukungan sosial dengan efikasi diri ibu. Analisis data menggunakan uji paired t-test, independent t-test dan Spearman dengan tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil: Edukasi kesehatan paket cerdas ibu menyusui berpengaruh terhadap efikasi diri ibu primipara dalam merawat bayi baru lahir dengan nilai 3,51 sebelum intervensi, menjadi 5,49 setelah intervensi dengan nilai (p=0,001). Peningkatan efikasi diri pada kelompok intervensi lebih tinggi dari kelompok kontrol (p=0,001). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan efikasi diri pada kedua kelompok (p>0,05).Kesimpulan: Edukasi kesehatan paket cerdas ibu menyusui memengaruhi peningkatan efikasi diri ibu primipara dalam merawat bayi baru lahir. Dukungan sosial tidak berhubungan dengan peningkatan efikasi diri ibu primipara.
Gambaran Kesejahteraan Spiritual Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Frilisa J. Hi. Syafi; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.293 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49490

Abstract

Background: Spiritual is one of the significant aspects in the concept of comprehensive nursing care. The broad variation of spiritual well-being and the limited number of research on spiritual well-being of patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis become the background of this research.Objective: To identify the spiritual well-being of patients undergoing hemodialysis.Method: The study used descriptive-analytic design. The sample was using purposive sampling technique with 62 patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis at RSUD Panembahan Senopati Bantul. Data was compiled through the valid and reliable Spiritual Well-Being Scale (SWBS) questionnaire. Data analysis consisted of univariate and bivariate (One-way ANNOVA and Unpaired T-test).Result: The measured respondents’ spiritual well-being was reached score of 91,58+10,47 within the range of 20-120. Based on the respondents’ characteristics, there is no difference of spiritual well-being based on age (p=0,691), gender (p=0,355), marital status (p=0,107), employment status (p=0,141), level education (p=0,141) and length of time of hemodialysis (p=0,300).Conclusion: The spiritual well-being of patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis at RSUD Panembahan Senopati Bantul was at the moderate level. There was not any significant difference of spiritual well-being based on respondents’ characteristics. Efforts to help patients obtain spiritual well-being through therapeutic communication, empathy, and facilitating patients to express spirituality are necessary. ABSTRAKLatar belakang: Spiritual merupakan salah satu aspek penting dalam konsep pelayanan keperawatan yang komprehensif. Beragamnya kesejahteraan spiritual dan sedikitnya penelitian mengenai gambaran kesejahteraan spiritual pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) yang menjalani hemodialisis mendorong penelitian ini untuk dilakukan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesejahteraan spiritual pasien GGK yang menjalani hemodialisis.Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif-analitik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan besar sampel 62 pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Spiritual Well-Being Scale (SWBS) yang telah valid dan reliabel. Analisis data terdiri atas univariat dan bivariat (uji One-way ANNOVA dan uji t tidak berpasangan).Hasil: Kesejahteraan spiritual responden bernilai 91,58±10,47 dalam rentang skor 20-120. Berdasarkan karakteristik reponden, tidak ada perbedaan kesejahteraan spiritual berdasarkan usia (p=0,691), jenis kelamin (p=0,355), status pernikahan (p=0,107),  status pekerjaan (p=0,141), tingkat pendidikan  (p=0,549), dan lama hemodialisis (p=0,300).Simpulan: Kesejahteraan spiritual pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada tingkat sedang. Tidak ada perbedaan bermakna kesejahteraaan spiritual berdasarkan karakteristik responden. Upaya untuk membantu pasien mencapai kesejahteraan spiritual yang tinggi melalui komunikasi terapeutik, empati, dan memfasilitasi pasien untuk mengekspresikan spiritual perlu dilakukan.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Terapi ARV pada ODHA di Yogyakarta Erika Agustin Wulandari; Dwi Kartika Rukmi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.642 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49663

Abstract

Background: Knowledge is something that can influence individual behaviour, and it is also one of the factors that can affect adherence. On the other hand, an individual who has knowledge about HIV/AIDS does not always has good adherence to ARV (antiretroviral) therapy.Objective: Determine the correlation between the level of HIV/AIDS knowledge with the adherence to ARV therapy in people living with AIDS (PLWHA) at the Victory Plus Foundation, Yogyakarta.Methods: This research was a correlative analytic study with a cross-sectional design approach. A total of 67 PLWHA who underwent ARV therapy at the Victory Plus Foundation Yogyakarta were chosen as respondents through purposive sampling technique, between May and July 2019. Data collection used the HIV/AIDS Knowledge Level Questionnaire and The Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), which have been considered as valid and reliable. Somers' D Test used to analyze obtained data.Results: The level of knowledge of PLWHA in this study was in the high category (92,5%), while adherence to ARV therapy was in the moderate category (40,3%). There is no significant correlation between the level of knowledge and adherence to ARV therapy (r= 0,113; p-value= 0,153).Conclusion: The level of knowledge of HIV patients undergoing ARV therapy at the Victory Plus Foundation Yogyakarta is high and their adherence to ARV therapy is moderate, but there is no relationship between these two variables. Consequently, healthcare provider should focus on other scientific-proven factors, than HIV/AIDS knowledge, to increase ARV therapy adherence among patients for successful HIV treatment. ABSTRAKLatar Belakang: Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku individu dan kepatuhan. Namun, individu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS tidak selalu memiliki kepatuhan terapi ARV (antiretroviral) yang baik.Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan kepatuhan terapi ARV pada orang dengan HIV AIDS (ODHA) di Yayasan Victory Plus Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan pendekatan desain cross sectional. Sebanyak 67 ODHA yang menjalani terapi ARV di Yayasan Victory Plus Yogyakarta dipilih sebagai responden dengan teknik purposive sampling, antara bulan Mei hingga Juli 2019. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), yang sudah valid dan reliabel. Uji Somers' D digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh.Hasil: Tingkat pengetahuan ODHA dalam penelitian ini termasuk dalam kategori tinggi (92,5%), sedangkan kepatuhan terapi ARV dalam kategori sedang (40,3%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan terapi ARV (r= 0,113; p-value= 0,153).Kesimpulan: Tingkat pengetahuan pasien HIV yang menjalani terapi ARV di Yayasan Victory Plus Yogyakarta tinggi dan kepatuhan terapi ARV sedang, tetapi tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Dampaknya, penyedia layanan kesehatan harus fokus pada faktor-faktor ilmiah lain, selain pengetahuan HIV/AIDS, agar dapat meningkatkan kepatuhan terapi ARV di antara pasien untuk pengobatan HIV yang berhasil.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Perilaku Manajemen Diri pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Pandak I Bantul DI. Yogyakarta Umi Khomsatun; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.322 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49826

Abstract

Background: Hypertension is a chronic disease which needs good self management. One of the factors influencing self-management behavior is social support. There are still limited number of studies which examine the correlation between social support and self-management behavior in patients with hypertension, especially focusing on certain behaviors such as the adherence on taking medicine, food intake, physical activities, smoking, maintaining the body weight, and avoiding alcohol consumption.Objective: To identify the correlation between social support and self-management behavior in patient with hypertension located in Puskesmas Pandak I Bantul.Methods: This research design used a descriptive correlative design with cross-sectional approach. The sample were 47 respondents who were selected using purposive sampling technique. The data collection used questionnaire of Chronic Illness Resources Survey (CIRS) and Hypertension Self-Care Activity Level Effects (H-SCALE) which were valid and reliable. The data was analysed using Pearson Corelation and Spearman Rank Test analysis to identify the relationship of social support to self management behavior in patients with hypertension.Results: The result showed that the social support had a significant correlation with self-management behavior in the food intake domain (r= 0,336; p= 0,021) and in the domain of body weight management (r= 0,392; p= 0,006). Meanwhile, the social support did not have a significant correlation with self-management behaviour in the domains of the adherence on taking medicine (p= 0,351), physical activity (p= 0,974), and smoking (p= 0,908).Conclusion: There is a significant correlation between social support and self-management behavior in the domains of food intake and body weight management. Nurses can provide health promotion related to self management as well as the increased of social support in patients with hypertension. ABSTRAKLatar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit kronik yang memerlukan manajemen diri yang baik. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku manajemen diri adalah adanya dukungan sosial. Namun, penelitian terkait hubungan dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada pasien hipertensi dengan menggali aspek tiap domain seperti kepatuhan minum obat, asupan makanan, aktivitas fisik, merokok, menjaga berat badan, dan kepatuhan tidak mengkonsumsi alkohol, masih sangat terbatas.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada pasien hipertensi di Puskesmas Pandak I Bantul.Metode: Rancangan enelitian ini adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 47 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Chronic Illness Resources Survey (CIRS) dan Hypertension Self-Care Activity Level Effects (H-SCALE) yang telah valid dan reliabel. Analisis data Uji Pearson Correlation dan Spearman Rank digunakan untuk melihat hubungan dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada pasien hipertensi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku manajemen diri pada domain asupan makanan (r= 0,336; p= 0,021) dan domain manajemen berat badan (r= 0,392; p= 0,006). Sementara dukungan sosial tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku manajemen diri pada domain kepatuhan minum obat (p= 0,351), domain aktivitas fisik (p= 0,974), dan domain merokok (p= 0,908).Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada domain asupan makanan dan berat badan. Perawat dapat memberikan promosi kesehatan terkait management diri serta peningkatan dukungan sosial pada pasien hipertensi.
Pengaruh Emotional Freedom Technique (EFT) Terhadap Gambaran Diri Pasien Kanker Payudara di Yogyakarta Eki Resti Anggreini; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.916 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49827

Abstract

Background: Mastectomy and chemotherapy have side effects that can affect the body image of breast cancer patients. The Emotional Freedom Technique (EFT) is a complementary alternative medicine that has the power of tapping and suggestion that can correct physical and psychological problems in just minutes.Objective: The aim of this study was to determine the effect of EFT on the body image of breast cancer patients in one of hospital in Yogyakarta.Methods: This study used a pre-experimental design with one group pre-test and post-test designs. The sampling used purposive sampling technique with a sample size of 17 respondents. The body image was measured using a valid and reliable Body Image Scale (BIS). Data were analysed using the Wilcoxon test.Results: The body image of breast cancer patients before being given an EFT showed a median value of 8,00 (range of score from 0-30). Meanwhile, respondent’s body image after being given EFT showed a median value of 4,00 (range of score 0-30). Wilcoxon test results obtained a p-value of <0,001, which means that there was a significant effect of EFT on the body image of breast cancer patients.Conclusion: There is an effect of EFT on the body image of breast cancer patients. EFT therapy is a non-pharmacological alternative therapy that can be applied to improving negative body image in breast cancer patients. ABSTRAKLatar Belakang: Pengobatan kanker payudara seperti mastektomi ataupun kemoterapi memiliki efek samping yang dapat memengaruhi gambaran diri pasien kanker payudara. Emotional Freedom Technique (EFT) merupakan pengobatan komplementer alternatif yang mempunyai kekuatan tapping dan sugesti yang bisa memperbaiki masalah fisik dan psikologis hanya dalam waktu hitungan menit.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Emotional Freedom Technique (EFT) terhadap gambaran diri pasien kanker payudara di Yogyakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre experiment dengan rancangan one group pretest and posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 17 responden. Gambaran diri diukur menggunakan Body Image Scale (BIS) yang telah valid dan reliabel. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Gambaran diri pasien kanker payudara sebelum diberikan EFT menunjukkan nilai median 8,00 (rentang skor 0-30). Sementara gambaran diri responden setelah diberikan EFT menunjukkan nilai median 4,00 (rentang skor 0-30). Hasil uji Wilcoxon diperoleh p-value <0,001.Kesimpulan: Terdapat pengaruh EFT terhadap gambaran diri pasien kanker payudara. Terapi EFT merupakan pengobatan alternatif non farmakologi yang dapat diterapkan dalam memperbaiki gambaran diri yang negatif pada pasien kanker payudara.
Gambaran Indikator Klinis Diagnosis Keperawatan Insomnia Menggunakan Insomnia Severity Index pada Pasien Hemodialisis Ayu Dwi Silvia Putri; Totok Harjanto; Intansari Nurjannah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.691 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.56584

Abstract

Background: End Stage Renal Disease is a condition of chronic kidney disease characterized by decreased renal function that requires hemodialysis therapy. Hemodialysis causes several effects, one of which is insomnia.Objective: To identify clinical indicator of nursing diagnosis for insomnia using Insomnia Severity Index (ISI) as the measuring instrument.Methods: This was descriptive research with cross-sectional design. Respondents in this study were patients undergoing hemodialysis which amounting in total to 72 patients. Two instruments, ISI and NANDA-I for Insomnia (an instrument developed from clinical indicators of nursing diagnosis), were used in this research. Then, the most appeared ISI’s clinical indicators at every level of insomnia were analyzed using univariate analysis.Results: The ISI’s clinical indicators which appear in all severe insomnia patients are: early awakening, difficulty in initiating sleep, difficulty in maintaining sleep, alteration in sleep pattern (sleep quantity and quality change), health status shifting, sleep disturbance with an impact on the next-day, exhausted, decreased quality of life, mood swing, and haggard. Only one ISI’s clinical indicator which appears in all moderate insomnia patients which is alteration in sleep pattern (sleep quality change). On the mild insomnia, there is not any clinical indicator which appear in every patient; however, patients are likely to experience alteration in sleep pattern (sleep quantity and quality change).Conclusions: Ten clinical indicators of insomnia nursing diagnosis found in patients with severe insomnia need to be considered as the main indicator in patients with insomniac nursing diagnosis. ABSTRAK Latar belakang: End Stage Renal Disease adalah penyakit ginjal kronis yang ditandai dengan menurunnya fungsi ginjal sehingga membutuhkan terapi hemodialisis. Hemodialisis menimbulkan beberapa dampak, salah satunya adalah insomnia.Tujuan: Mengetahui gambaran indikator klinis diagnosis keperawatan insomnia yang diukur menggunakan Insomnia Severity Index (ISI).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Responden dalam penelitian ini adalah 72 pasien yang menjalani hemodialisis. Pengukuran insomnia pada responden dilakukan menggunakan dua instrumen yaitu ISI dan instrumen yang disusun dari indikator klinis diagnosis keperawatan insomnia berdasarkan NANDA-I. Peneliti menganalisis indikator klinis yang muncul pada setiap tingkatan insomnia berdasarkan ISI.Hasil: Indikator klinis yang terdapat pada insomnia berat sesuai ISI adalah: bangun terlalu dini, kesulitan memulai tidur, kesulitan mempertahankan tidur, gangguan pola tidur (perubahan kuantitas dan kualitas tidur), perubahan status kesehatan, gangguan tidur yang berdampak pada keesokan hari, tidak berenergi, penurunan kualitas hidup, perubahan suasana hati, dan tidur tidak memuaskan. Indikator klinis yang terdapat pada pasien dengan insomnia sedang sesuai ISI adalah gangguan pola tidur (perubahan kualitas tidur). Pada insomnia ringan, tidak ada indikator klinis yang muncul pada pasien, namun pasien cenderung mengalami gangguan pola tidur (perubahan kuantitas dan kualitas tidur).Kesimpulan: Sepuluh indikator klinis diagnosis keperawatan insomnia yang terdapat pada pasien dengan insomnia berat perlu dipertimbangkan sebagai indikator utama pada pasien dengan diagnosis keperawatan insomnia.

Page 4 of 17 | Total Record : 164