cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 415 Documents
Kajian Pemanfaatan Layanan Rujukan Perpustakaan Universitas Indonesia Tahun 2019 Kalarensi Naibaho
Media Pustakawan Vol 27, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.407 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v27i2.894

Abstract

Reference service is one of the leading services in the college library. In the digital era, the concept of reference services is transformed along with technological developments. The reference service transformation also took place at the University of Indonesia Library. Reference collections are dominated by e-resources, therefore the service concept has also changed. The purpose of this study is to determine the level of user satisfaction with the reference service, and the development of what needs to be done by the librarian in improving the UI Library reference service. The data collected by using a questionnaire survey, which was circulated online and directly. Research respondents were 361 UI postgraduate students. Data were processed using SPSS version 17. Validity and reliability tests were performed using Pearson Product Moment. The reliability test is done by Cronbach’s Alpha.  The results of the study are mapped into 4 SWOT components, Strength: complete e-resources collection, adequate access facilities, competent librarians. Weakness: lack of facility maintenance, some facilities are lacking, access via remote is often problematic. Opportunity: some services are not yet known to users, service socialization and promotion must be more intense. Threat: maintenance of facilities is not under the coordination of the library so that it is difficult when needing quick repairs, reference librarians are decreasing due to retirement, and the lack of HR development programs. It is recommended that the UI Library conduct more intensive coordination with DSTI and DPPF related to technical issues that are often complained by respondents.
Tinjauan Pemanfaatan Digital Printing dalam Pelestarian Majalah Terjilid Koleksi Perpustakaan Nasional RI Damaji Ratmono
Media Pustakawan Vol 24, No 3 (2017): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.618 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v24i3.465

Abstract

Abstrak  Tinjauan ini dilatarbelakangi oleh adanya perubahan alur dan metode pelestarian bahan perpustakaan di Sub Bidang Teknis Penjilidan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI. Perubahan alur ini akibat dampak digunakannya teknologi digital printing dalam pembuatan sampul majalah terjilid koleksi Direktorat Deposit Perpustakaan Nasional RI. Tinjauan ini membahas bagaimana proses pelestarian bahan perpustakaan di sub bidang teknis penjilidan bp sebelum menggunakan teknologi digital printing dan sesudah menggunakannya. Dijabarkan juga mengenai segi keunggulan dan kekurangan masing- masing metode. Penulisan karya ilmiah ini menggunakan metode pengamatan langsung atau obeservasi lapangan di sub bidang penjilidan dengan metode wawancara. Hasil tinjauan adalah bahwa proses penjilidan dengan menggunakan metode lama bertentangan dengan tujuan pelestarian bahan perpustakaan. Untuk itu diperlukan metode baru dalam upaya memperbaiki dan meminimalisir permasalahan yang timbul sesuai dengan tujuan pelestarian bahan perpustakaan. Penggunaan teknologi digital printing menjadi salah satu alternatif perbaikan dalam mengatasi permasalahan yang timbul.
Mengenal ICS Sebagai Salah Satu Sistem Klasifikasi Dokumen Abdul Rahman Saleh
Media Pustakawan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1203.332 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v20i1.895

Abstract

Abstrak Bagi pustakawan skema klasifikasi DDC, UDC maupun LC sudah sangat akrab dan selalu digeluti setiap hari. Namun demikian ada satu skema klasifikasi yang mungkin jarang dikenal oleh pustakawan. Padahal skema klasifikasi ini digunakan oleh pusat-pusat informasi dan pusat-pusat dokumentasi bidang standardisasi di seluruh dunia. Skema klasifikasi tersebut adalah ICS atau International Classification for Standard. Artikel ini hanya memperkenalkan skema klasifikasi ICS dengan tujuan meningkatkan awereness para pustakawan terhadap skema klasifikasi dokumen yang suatu saat mungkin berguna bagi pustakawan dalam mengelola dokumen yang menjadi tanggung jawabnya.
Peningkatan Status dan Eksistensi Profesi Pustakawan Indonesia melalui Publikasi Bidang Kepustakawanan Wahid Nashihuddin
Media Pustakawan Vol 24, No 1 (2017): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.576 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v24i1.166

Abstract

Menulis merupakan kegiatan intelektual pustakawan yang banyak memberikan manfaat bagi pustakawan. Pustakawan adalah tenaga profesional perpustakaan yang dituntut untuk senantiasa mengembangkan protensi diri dan profesinya secara berkelanjutan. Melalui publikasi/karya tulis, nama pustakawan akan selalu dikenal dan dikenang oleh masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan: 1) konsep teori yang terkait dengan status dan eksistensi profesi pustakawan Indonesia melalui publikasi bidang kepustakawanan; 2) kondisi publikasi/karya tulis pustakawan Indonesia; (3) upaya memotivasi pustakawan untuk menulis dan menghasilkan karya tulis; dan (4) literasi informasi pustakawan dan masyarakat Indonesia. Tulisan ini bersifat diskriptif, yang bersumber dari studi literatur dan hasil pemikiran, pengalaman, pengamatan penulis sebagai pustakawan. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi pustakawan untuk rajin dan gemar menulis, serta memberikan pengetahuan kepada pustakawan bahwa karya tulis dapat meningkatkan status dan eksistensi profesi pustakawan Indonesia.
Pengembangan Pustakawan Indonesia: Bagaimana seharusnya? Muhammad Muntar Arifin Sholeh
Media Pustakawan Vol 18, No 2 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.141 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i2.808

Abstract

Kecenderungan masyarakat sekarang adalah membentuk pola hidup masa kini dan masa depan. Kecenderungan itu adalah pergeseran dari ekonomi industri ke ekonomi informasi. Dalam ekonomi industri, kapital merupakan sumber yang sangat strategis; sedangkan dalam ekonomi informasi, sumber yang paling strategis adalah informasi itu sendiri. Pada era global, informasi menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. Mereka yang dapat menguasai ekonomi informasi akan menjadi pemenang dalam persaingan hidup. Misalnya, informasi yang disebarluaskan surat kabar dapat memberi kekuatan masyarakat untuk semakin peka terhadap lingkungan, semakin kritis terhadap fenomena sosial, dan semakin waspada terhadap penyimpangan pembangunan. Pergeseran pola hidup tersebut menunjukkan bahwa saat ini masyarakat, khususnya masyarakat kampus, telah menjadi masyarakat informasi (Information society). Information society ditandai dengan kesadaran masyarakat tentang nilai informasi (information awareness), ledakan jumlah informasi (information bombing),  kebutuhan informasi (information need), dan cara-cara efektif - efisien dalam melacak informasi (information retrieval). Information awareness dapat dilihat di mana berbagai tempat para anggota masyarakat membaca koran/majalah, dan di warnet-warnet (warung internet) mereka mencari informasi lewat internet. Information bombing dapat diketahui dengan semakin marak penerbitan buku, koran, majalah, tabloid, dsb., dan menjamurnya internet yang menyediakan samudra informasi yang begitu luas. Information need seseorang didasarkan pada kebutuhan (kepentingan) dan keahlian (keilmuan)-nya. Information retrieval harus dilakukan secara efektif dan efisien karena ledakan informasi yang dahsyat dan meluas. Informasi yang banyak dan luas ini membutuhkan kemampuan membaca sebagai syarat untuk hidup dalamnya, membaca yang dimaksud bukan sekedar membaca huruf melainkan kemampuan memahami makna dari suatu bacaan (informasi). Sehingga reading culture atau budaya membaca sebuah masyarakat menjadi salah satu turunan indikator kualitas SDM suatu bangsa, Selain budaya baca yang rendah dan jumlah terbitan buku yang sedikit, permasalahan kepustakawanan di Indonesia adalah pustakawan merupakan profesi yang kurang diminati, terbatasnya kualitas dan kuantitas pustakawan, dan bahkan ada kesan bahwa perpustakaan merupakan tempat “pembuangan” pegawai yang tidak terpakai. Problema inilah yang dihadapi oleh kepustakawanan Indonesia yang harus terus berkembang untuk mengatasi problema tersebut. Bagaimana seharusnya kepustakawanan Indonesia dikembangkan?
INDIKATOR KINERJA PERPUSTAKAAN MENURUT ISO 11620: 2008 (Information and Documentation – Library Performance Indicators) Bagian Kedua dari Dua Tulisan Abdul Rahman Saleh
Media Pustakawan Vol 20, No 3 (2013): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.414 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v20i3.941

Abstract

Mengukur kinerja sebuah perpustakaan merupakan upaya untuk mengetahui pencapaian perpustakaan tersebut terhadap visi, misi, dan tujuan perpustakaan. Sejak tahun 1998 ISO telah menerbitkan standar cara mengukur indikator kinerja perpustakaan yaitu dengan menerbitkan ISO 11620:1998. Sesuai dengan perkembangan layanan yang ada di perpustakaan standar ISO tersebut sudah tidak dapat mengakomodir indikator-indikator kinerja baru, khususnya kinerja yang berkaitan dengan layanan elektronik dan digital. Oleh karena itu ISO merevisi standar yang diterbitkannya tahun 1998 tersebut menjadi standar ISO 11620: 2008. ISO 11620: 2008 mengukur indikator sebanyak 45 indikator. Makalah ini adalah bagian dua dari dua tulisan yang akan membahas bagaimana cara mengukur ke 45 indikator kinerja tersebut.
Tren Kebutuhan Informasi Standar di Kawasan Puspiptek Serpong Berdasarkan Kriteria Pengguna dan Jenis Informasi Standar yang Dibutuhkan Rahartri Rahartri
Media Pustakawan Vol 25, No 4 (2018): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.646 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i4.198

Abstract

Abstrak Kebutuhan informasi standar di Kawasan Puspiptek cukup tinggi, mencapai 1775 judul standar selama tahun 2011-2017. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengguna informasi standar di kawasan Puspiptek, dan jenis informasi standar yang dibutuhkan. Kajian dilakukan secara deskriptif. Pengumpulan data dengan menginventarisasi pengguna dan kebutuhan informasi standar selama periode 2011-2017. Dari hasil kajian disimpulkan: 1). Pengguna Informasi standar di Kawasan Puspiptek secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu pengguna dari dalam Kawasan Puspiptek (LIPI, BPPT, BATAN, LAPAN) dan pengguna dari luar Kawasan Puspiptek (industri, instansi di luar kawasan Puspiptek, dan perguruan tinggi); 2). Pengguna terbanyak berasal dari dalam kawasan Puspiptek yaitu BPPT, dengan jumlah permintaan sebanyak 741 permintaan atau 41,746%. Satuan kerja BPPT yang banyak memanfaatkan informasi standar adalah B2TKS dan BTP. Pengguna terbanyak ke-2 berasal dari luar kawasan Puspiptek yaitu kelompok industri, dengan jumlah permintaan sebanyak 507 permintaan atau 28,563 %. Industri yang banyak memanfaatkan informasi standar adalah PT. Indokarlo Perkasa; PT. Tri Artha Manunggal; PT. IRC Inoac Indonesia; PT. Bakrie Building Industries; PT. Gemala Kempa Daya. Pengguna terbanyak ke-3 adalah LIPI, dengan jumlah permintaan sebanyak 284 permintaan atau 16,000 %. Satuan kerja LIPI yang banyak memanfaatkan informasi standar adalah P2F; P2K; dan P2MM; 3). Jenis informasi standar yang banyak diperlukan di Puspiptek adalah ASTM, JIS, IEC, ISO, SNI, UIC, DIN, BS; 3). Hasil kajian ini dapat menjadi masukan bagi para pengambil keputusan dalam menyediakan informasi standar di Puspiptek, juga menjadi masukan untuk menggali lebih jauh kebutuhan informasi standar oleh masing-masing kelompok pengguna di Kawasan Puspiptek, dalam rangka meningkatkan daya saing produk bangsa.
Film Animasi Sebagai Media Promosi Perpustakaan Sutarsyah Sutarsyah
Media Pustakawan Vol 23, No 2 (2016): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4606.667 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i2.847

Abstract

Di era digitalisasi sekarang ini, pemanfaatan teknologi digital  menjadi tuntutan utama dalam layanan perpustakaan. Makalah ini memaparkan tentang promosi perpustakaan dengan memanfaatkan  film animasi sebagai media layanan digital  di perpustakaan yang lebih interaktif dan mudah dipahami. Tujuannya agar  perpustakaan sebagai media layanan informasi dapat menarik lebih banyak pengguna. Pembahasan tentang dampak teknologi informasi dan multimedia sebagai sarana promosi di perpustakaan dan deskripsi beberapa produk film multimedia yang dihasilkan perpustakaan dengan content yang berbeda, hal ini terkait dengan fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi dan sumber pengetahuan. Diharapkan  dengan pembuatan film multimedia ini fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi  menjadi tempat yang menyenangkan untuk mendapatkan dan berbagi informasi, sehingga dapat mengajak lebih banyak pemustaka berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan.
Gambaran Pustakawan Ideal: Cerdas, Luwes dan Suka Menolong Yunus Yunus
Media Pustakawan Vol 14, No 2 (2007): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.686 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v14i2.977

Abstract

Bagi pengguna yang mencari berbagai sumber informasi di perpustakaan, hanya ada satu keinginan, yaitu: disambut seorang pelayan dengan tiga karakteristik andalannya yaitu berpengetahuan luas, pandai menangani keberagaman permintaan apapun dan tulus membantu pemenuhan kebutuhan akan informasi. Latar belakang pendidikan formal pustakawan berkorelasi erat dengan kiprahnya di lapangan di dalam melayani pengguna berbagai lapisan: mahasiswa, dosen, peneliti dan pemerhati perpustakaan lainnya. Idealnya seorang pustakawan memiliki empat belas kriteria, sebagai berikut:  memiliki keterampilan manajerial kepustakawanan, memahami ilmu jiwa dan pendidikan, menanggapi perkembangan teknologi bibliografis, menunjukkan sosoknya sebagai seorang generalis, memiliki kemampuan mengajar melalui komputer, terampil mengolah, mendiversifikasikan, dan memberdayakan informasi berbasis komputer, mampu berkreasi melalui promosi koleksi non-buku, memiliki ketajaman menganalisis makna isi sebuah artikel, buku, atau prosiding seminar, memahami perkembangan masyarakat dan lingkungan, menyadari kelasnya yang tergolong profesional, mendalami informasi dan ilmu komunikasi, terutama untuk menjangkau clientele sebanyak mungkin, memiliki sense of media yang baik, sebagai subject specialist, mampu menampilkan unjuk kerja terpuji dalam menjalin hubungan antar sesama sdi (sumber daya insani). Unsur lain yang tidak kalah pentingnya dengan senarai kemampuan seperti terpapar dimuka adalah kemahiran menggunakan bahasa asing. Semakin profesional seseorang semakin luwes pula cara berfikirnya hal yang kerap berkorelasi dengan muatan psikologis, yaitu kemampuan membaca pola fikir orang lain yang sedang menjadi lawan interaksinya dalam berkomunikasi, bersedia menerima pendapat  orang lain  dan menyesuaikan irama penyampaian gagasannya. 
Membangun Komunikasi Efektif dalam Pelayanan Perpustakaan Daryono Daryono
Media Pustakawan Vol 25, No 2 (2018): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.267 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i2.274

Abstract

 Abstrak Pustakawan dalam melakukan tugasnya sehari-hari selalu terjadi intraksi sosial baik antar pustakawan, atasan, dan pemustaka. Dalam konteks perpustakaan, komunikasi adalah suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan, karena perpustakaan berhubungan dengan informasi yang akan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Proses transformasi informasi yang disampaikan maupun yang diterima di perpustakaan membutuhkan komunikasi yang efektif agar setiap informasi yang dibutuhkan di perpustakaan dapat diterima dengan baik. Ruang lingkup komunikasi di perpustakaan dapat terjadi secara internal dan eksternal dan peran pustakawan sebagai komunikator harus mempunyai etos kerja dan sikap yang terpuji. Kualitas dan keterampilan mendasar yang diharapkan dari seorang pustakawan adalah kemampuan berkomunikasi secara positif dan efektif, kemampuan memahami kebutuhan pemustaka, kemampuan bekerja sama dengan perorangan, kelompok atau dengan lembaga lain, memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai keanekaragaman budaya, dan sikap pustakawan dalam memberi informasi kepada pemustaka. Komunikasi yang efektif bahwa pustakawan harus lebih aktif kepada pemustaka yang pasif dan pustakawan harus bertanggung jawab terhadap ucapannya dan pesan yang diberikan kepada pemustaka. Komunikasi yang efektif harus memenuhi lima hal yaitu respect, empaty, audible, clarity, dan humble.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 29, No 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue