Media Pustakawan
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Articles
415 Documents
Kemas Ulang Informasi: Suatu Tantangan Bagi Pustakawan
Endang Fatmawati
Media Pustakawan Vol 16, No 1&2 (2009): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (176.864 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v16i1&2.903
Artikel ini membahas mengenai kemas ulang informasi sebagai suatu tantangan bagi pustakawan. Fenomena pergeseran orientasi kebutuhan pengguna semakin kompleks dan beragam. Agar informasi menjadi menarik pengguna perpustakaan, pustakawan harus berperan sebagai pengemas informasi. Kemas informasi dilakukan dengan melakukan berbagai perubahan bentuk informasi yang ada, sehingga informasi dapat didesiminasikan dengan cepat, tepat, dan akurat. Informasi yang dikemas harus marketable, karena hasil riset, studi, dan kajian akan berarti/memberikan manfaat jika disebarluaskan. Dan tidak hanya disimpan di perpustakaan. Pengemasan informasi yang baik, harus didukung oleh informasi yang cukup memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Informasi yang dikemas kembali akan memberikan kemudahan dalam penyebaran informasi dan temu kembali informasi.
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2012 Tentang Pengukuhan Penetapan Keanggotaan Indonesia pada Organisasi Internasional Peluang dan Tantangan Pustakawan Berkiprah di Organisasi Internasional
Dodi Pribadi
Media Pustakawan Vol 21, No 2 (2014): JUNI
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6270.538 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v21i2.784
Organisasi internasional adalah organisasi/badan/lembaga/asosiasi/perhimpunan/forum antar pemerintah atau non-pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama internasional dan dibentuk dengan aturan tertentu atau kesepakatan, bersama. Keanggotaan Indonesia pada suatu Organisasi Internasional harus ditetapkan sekurang-kurangnya dengan Keputusan Presiden. Perpustakaan Nasional sebagai pumpunan (pusat) kegiatan (focal point) organisasi internasional untuk perpustakaan di Indonesia telah mengusulkan keikutsertaan aktif dalam 11 (sebelas) organisasi internasional agar masuk dalam daftar Keputusan Presiden. Keputusan Presiden diperlukan sebagai data dukung utama dalam penganggaran kegiatan pada suatu instansi dalam keikut sertaan pada organisasi internasional.
Pustakawan Di Era Teknologi Informasi Dan Komunikasi (New Paradigm)
Riah Wiratningsih
Media Pustakawan Vol 16, No 3&4 (2009): September
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (222.921 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v16i3&4.914
Salah satu keberhasilan suatu perpustakaan adalah apabila berhasil memenuhi/memuaskan informasi apa yang dibutuhkan oleh pemustaka. Untuk itu perpustakaan, dalam hal ini pustakawan perlu melakukan/mempelajari perilaku pencari informasi. Di era teknologi saat ini pemustaka membutuhkan informasi (information needs) secara cepat, tepat, dan mudah melalui internet. Kesiapan perpustakaan dalam menghadapi era TIK untuk memenuhi kebutuhan pemustaka, merupakan sebuah tuntutan yang harus direalisasikan, di mana sumber daya manusia dan kemampuan manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya menjadi faktor yang amat penting. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, mau tidak mau organisasi perpustakaan Indonesia harus mengembangkan kiprah kepustakawanannya. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perlu suatu kupasan tentang paradigma kepustakawanan selama ini. Maka rumusan masalah dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut. Apa yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan/pustakawan dalam membentuk new paradigm terhadap eksistensi perpustakaan dalam dinamika perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini?Pustakawan dan TIK merupakan sesuatu yang harus kita lihat kembali, saat ini keberadaan internet akan menggeser perpustakaan karena internet akan lebih memberi kemudahan kepada pengguna daripada harus masuk ke perpustakaan yang pasti akan dihadapkan dengan segala peraturan dan birokrasinya, apalagi dengan pustakawannya yang sering cemberut daripada bersikap menyapanya. Menyikapi perubahan TI yang terjadi, pustakawan harus menjadi pendukung kebebasan informasi. TI memberikan harapan besar untuk memberikan akses tak terbatas kepada mereka yang mencari informasi, bahkan kepada mereka yang tidak mampu secara fisik. Melalui aplikasi khusus dan akses dari manapun. Internet telah mengubah dunia informasi tanpa banyak formalitas. Kekuatan TI telah menggiring kita ke keadaan sekarang dan kita akan semakin tergantung padanya. Merupakan suatu tantangan bagi pustakawan adalah untuk memahami dan menentukan posisinya dalam proses perubahan dan beralih dari pemikiran perpustakaan sebagai ruang fisik semata ke suatu kenyataan baru perpustakaan sebagai organisasi yang harus mengembangkan jenis layanan informasi digital.
Peran Strategis Perpustakaan Khusus dalam Implementasi Reformasi Birokrasi Lembaga Induk: Kasus PDII LIPI
Rochani Nani Rahayu;
Sobari Sobari
Media Pustakawan Vol 26, No 1 (2019): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.153 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v26i1.174
Reformasi Birokrasi merupakan hal yang wajib dilakukan oleh seluruh Kementerian maupun Lembaga Pemerintah non Kementerian di Indonesia, tidak terkecuali LIPI. Di dalam Road Map (Peta Jalan) Reformasi Birokrasi LIPI 2015-2019 disebutkan sasaran ke tiga Reformasi Birokrasi adalah terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Oleh karena itu perlu diidentifikasi berbagai peran strategis yang telah dilakukan oleh satuan kerja dalam hal ini perpustakaan khusus (PDII) dalam memberikan layanan publik. Makalah ini menguraikan peran strategis yang dilakukan oleh PDII LIPI dalam rangka implementasi Reformasi Birokrasi (RB) di LIPI. Kajian dilakukan menggunakan metode content analysis. Hasil kajian menunjukkan bahwa peran strategis PDII LIPI untuk mengimplementasikan Reformasi Birokrasi di lingkungan LIPI adalah: 1) Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Sertifikasi Profesi dan Uji Kompetensi; 2) Meningkatkan Kualitas Layanan PDII LIPI melalui ISO 9001:2008 yang diperbaharui menjadi ISO 9001:2015; 3) Meningkatkan Sarana dan Prasarana Pelayanan; 4) Meningkatkan Kerjasama Layanan antar Stakeholder; 5) Menanamkan nilai-nilai yang dianut di PDII (IDAMAN). Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan bahwa PDII LIPI telah melakukan sebanyak lima peran strategis dalam Implementasi Reformasi Birokrasi Lembaga Induknya yaitu LIPI. AbstractBureaucratic reform is a mandatory thing for all Ministries and Non-Ministry Government Institutions in Indonesia, including LIPI. In the 2015-2019 LIPI Road Map (Roadmap) for Bureaucratic Reform, it is stated that the third target of Bureaucratic Reform is the realization of improving the quality of public services to the public. Therefore it is necessary to identify various strategic roles that have been carried out by the work unit in this particular library (PDII) in providing public services. This paper outlines the strategic role carried out by PDII LIPI in the framework of implementing Bureaucratic Reform (RB) at LIPI. The study was conducted using the content analysis method. The results of the study show that the strategic role of PDII LIPI to implement Bureaucratic Reform in the LIPI environment are: 1) Improving the Quality of Human Resources Through Professional Certification and Competency Tests; 2) Improving the Quality of PDII LIPI Services through updated ISO 9001:2008 to ISO 9001:2015; 3) Improve Service Facilities and Infrastructure; 4) Improve Service Cooperation between Stake Holders; 5) Instill the values adopted in PDII (IDAMAN). Based on the results and discussion it was concluded that PDII LIPI had carried out five strategic roles in the Implementation of its Parent Institution’s Bureaucratic Reform, LIPI.
Komunikasi Nonverbal Sebagai Uoaya Optimalisasi Layanan Perpustakaan
Noorika Retno Widuri
Media Pustakawan Vol 22, No 2 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5503.976 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v22i2.820
Berbagai fakta penelitian mengenai komunikasi nonverbal mengungkapkan betapa komunikasi ini memegang peranan penting dalam sebuah proses komunikasi. Kekuatannya mampu mengubah citra/image sebuah perpustakaan. Komunikasi nonverbal merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan dalam layanan prima. Tulisan ini menjabarkan berbagai jenis komunikasi nonverbal yang berlangsung di perpustakaan. Dalam keseharian kegiatan pustakawan yang berinteraksi dengan pemustaka setidaknya ada 10 macam bentuk komunikasi nonverbal yaitu bahasa tubuh, ruang, surat, aroma dan musik, waktu, dokumen perpustakaan, alat bantu pelayanan perpustakaan, nada dan volume suara dan wilayah. Pada bagian akhir tulisan ini, disampaikan beberapa metode atau cara untuk memperbaiki komunikasi nonverbal.
Rangkaian Sumber Informasi di Perpustakaan Sebagai Sarana Penelusuran Pendidikan Interaktif
Indah Purwani
Media Pustakawan Vol 15, No 3 (2008): September
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (132.639 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i3.949
This paper describes about the connection of information sources to education. This project will enhance the learning process and support to the education sector in Indonesia. The mission of this project is to socialize (enculture) the knowledge to education community and to build infrastructure of information technology in Indonesia.
Pengembangan Perpustakaan Desa Berbasis Community Engagement di Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB
Andrea Ardi Ananda
Media Pustakawan Vol 22, No 3 (2015): September
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (341.266 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v22i3.206
AbstrakKemajuan suatu bangsa dilihat dari bagaimana kondisi Sumber Daya Manusianya. Salah satu yang menjadi indikator pada umumnya adalah pendidikan. Tingkat Pendidikan masyarakat terutama di desa dapat dikatakan belum merata jika melihat ketersediaan sarana pendidikan yang ada. Dengan adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa diharapkan setiap desa mampu menyediakan, mengelola dan mengembangkan sarana perpustakaan yang ada di desa sebagai wujud pembangunan bangsa. Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan sepanjang hayat dirasa perlu menjadi salah satu tempat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tidak hanya dari segi pengetahuan dan keterampilannya namun juga berpengaruh pada peningkatan taraf ekonomi yang lebih baik. Oleh karena itu, perlu sekiranya dilakukan inovasi dan strategi pengembangan yang mampu menjadikan perpustakaan khususnya di desa sebagai pusat kegiatan dan belajar masyarakat melalui prinsip community engagement (pelibatan masyarakat) seperti yang sudah dilakukan di beberapa Perpustakaan Desa di Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB.
Pemahaman Pemustaka Dalam Menelusur Sumber-Sumber Literatur Di Perpustakaan PDII-LIPI
Wahid Nashihuddin
Media Pustakawan Vol 22, No 2 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2609.348 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v22i2.855
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui: a) profil penelusur literatur; b) pemahaman pemustaka terhadap sistem penelusuran literatur; c) pemahaman pemustaka terhadap tahapan penelusuran literatur; d) pemahaman pemustaka terhadap sistem layanan literatur; e) sikap pemustaka terhadap hasil penelusuran literatur; dan f) cara komunikasi pemustaka dengan petugas/pustakawan ketika mengalami kesulitan dalam menelusur sumber-sumber di Perpustakaan PDII. Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara dan kuesioner. Responden yang dijadikan sampel sebanyak 50 orang. Data yang sudah terkumpul, kemudian diolah dan dianalisis secara kualitatif, dengan cara: 1) memverifikasi, mengklasifikasi, dan memperingkatkan jawaban responden, dari jawaban paling banyak hingga paling sedikit. dan 2) menjelaskan pernyataan responden yang bernilai negatif. Penyajian data secara kualitatif berupa persentase pernyataan responden dan tabel. Hasil pembahasan, kemudian dijadikan dasar untuk menyusun kesimpulan. Hasil kajian antara lain: 1) Responden/pemustaka yang menelusur sumber-sumber literatur Perpustakaan PDII sebagian besar dari kalangan mahasiswa (49 orang atau 98%), dengan tujuan mencari sumber referensi penelitian yang bersumber dari artikel jurnal Ilmiah Indonesia; 2) Sebagian besar pemustaka “memahami” tentang penelusuran sumber-sumber literatur di Perpustakaan PDII, baik menggunakan Katalog LARAS atau ISJD maupun mencari koleksi di rak perpustakaan (34 orang atau 68%); 3) Sebagian besar pemustaka “kurang memahami” tentang adanya menu pencarian di Katalog LARAS atau ISJD dan sistem layanan literatur yang dilaksanakan di Perpustakaan PDII, baik menelusur melalui menu pencarian umum dan pencarian canggih, maupun menelusur pada sistem layanan terbuka dan tertutup; 4) Sebagian besar pemustaka akan mencari/menelusur koleksi lain dengan topik atau variabel judul koleksi sejenis (46 orang atau 92%), dengan memperhatikan aspek kekhususan/spesifikasi topik koleksi yang sejenis. Jika mengalami kesulitan, pemustaka akan meminta bantuan penelusuran literatur ke petugas/pustakawan.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kepuasan Pemustaka Terhadap Layanan Perpustakaan Puslitbang Perkebunan Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian
Erriani Kristiyaningsih
Media Pustakawan Vol 27, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (198.437 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v27i2.738
Library services are one of the main activities of libraries to utilize their collections to users as well as government-owned libraries that focus on library service satisfaction. The purpose of this study was to analyze the Factors Affecting Service Satisfaction in the Agriculture Library of the Ministry of Agriculture. The study was conducted on visitors to the agricultural library of the Ministry of Agriculture. The number of respondents selected is as many as 100 people selected based on the method of accidental sampling. Data analysis was performed descriptively and using ordinal regression. The results obtained that the timeliness of service, SOP conformity of service products, and the quality of facilities and infrastructure have a significant effect on customer service satisfaction.
Pengaruh Pelatihan, Budaya Organisasi terhadap Motivasi Kerja serta Dampaknya terhadap Kinerja Pustakawan (Studi Kasus) pada Perpustakaan Nasional
Retno Hermawati
Media Pustakawan Vol 24, No 3 (2017): September
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (637.301 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v24i3.464
Abstrak Keberhasilan institusi perpustakaan bagi masyarakat pemakainya adalah bukan merupakan hasil kerja orang perorangan, melainkan hasil kerja bersama atau kolaborasi semua pegawai, mulai dari pucuk pimpinan dan pejabat struktural, pejabat fungsional dan tenaga pendukung lainnya, termasuk budaya kerja agar sumber daya manusia yang ada dapat termotivasi dalam bekerja. Organisasi yang baik adalah organisasi yang berusaha meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya, karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk meningkatkan kinerja karyawan.Terdapat beberapa faktor yang mampu mempengaruhi naik atau turunnya kinerja karyawan diantaranya pelatihan, motivasi dan budaya organisasi. Untuk mewujudkan rencana di atas perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan peningkatan profesionalisme pustakawan dengan cara mengadakan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan ilmu perpustakaan dan teknologi informasi dan komunikasi. Pada bagian akhir tulisan ini, disampaikan metode peningkatan kinerja dalam suatu organisasi dipengaruhi oleh motivasi kerja.