Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora was founded in 2001 with the aim of seeking a new scientific ethos in the humanities with an interdisciplinary, political, and textual spirit. It was, and still remains, the aspiration of Retorik to foster humanities research with a scientific ethos capable of responding to the needs of the Indonesian society that continues to strive to become more democratic, just, and pluralistic in the aftermath of long authoritarian rule, under social, economic, and political conditions still characterized by inequality. In its interdisciplinary spirit, Retorik has drawn insights from an array of disciplines, most notably, political economy, language (including semiotics), and psychoanalysis, to that end. As various managerial requirements stifle the passion for academic and intellectual life, while simultaneously in the broader Indonesian society, the ideals of Reformation are frustrated by political and economic oligarchy that continues to exist with impunity, Retorik affirms the need to defend a scientific ethos at present, for the future. In light of its aims, Retorik promotes original research that makes advances in the following areas: 1. Historically-informed studies that engage with the conditions, contexts, and relations of power within which the humanities were born, and with which the humanities are entwined. 2. Dialogues with various disciplines in the humanities and social sciences, including history, sociology, psychology, and anthropology. 3. Interdisciplinary research pertaining to critical pedagogy, religious and cultural studies, art studies, and new social movements. 4. Experimentation with new forms of knowledge that foster the formation of a more democratic, just, and plural society. 5. Studies that are sensitive to the vital role of both technology and art in contemporary society and seek to understand the ways in which art, technology, and economy together contribute to the formation of contemporary cultures and societies.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4, No 2 (2016)"
:
8 Documents
clear
Pertukaran Nilai-nilai dalam Pasar Seni: Sebuah Sketsa Awal
St. Sunardi
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1110.892 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.419
Artikel ini menguraikan mengenai berbagai nilai yang diperhitungkan dalam pasar seni.Hal itu menyangkut nilai-nilai yang ada dalam karya seni dan bagaimana nilai-nilai tersebut saling dipertukarkan dalam pasar seni.Ada empat perkara yang dibahas dalam artikel ini. Pertama, apa yang membuat suatu karya seni bernilai tinggi? Kedua, tiga kemungkinan sistem pertukaran nilai dalam balai lelang seni. Ketiga, topografi perjalanan karya seni dan implikasinya bagi perubahan nilai-nilai dalam karya seni. Keempat, berbagai jenis wacana yang mungkin muncul dari sistem pertukaran nilai-nilai dalam seni. Dalam seni diduga nilai utama berupa nilai tanda yang melamapaui nilai guna dan nilai tukar ekonomis. Logika itu yang memungkinkan karya seni dihargai dengan jumlah uang membubung tinggi tak terkendali maupun turun tak tertolong. Ini menunjukkan bahwa karya seni tidak bisa dihargai dengan uang. Karena nilai tukar ekonomis sudah kosong dan hanya menjadi nilai tukar tanda, maka naik turunnya uang akan ditentukan oleh naik turunnya karya seni sebagai nilai tanda.
Demokratisasi Musik: Globalisasi dan Identitas Pemeluk Gaya Hidup "Netlabel"
Putro Prasetyo Kusuma
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (644.58 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.415
Netlabel adalah perusahaan rekaman berbasis internet. Kemunculan Netlabel tidak dapat dilepaskan dari pengaruh globalisasi musik. Netlabel memberikan pengaruh kepada pemilik Netlabel, musisi maupun konsumennya. Proses mempengaruhi inilah yang pada akhirnya memunculkan suatu strategi baru dalam mencipta maupun mengkonsumsi musik. Konsep Netlabel adalah konsep yang berasal dari luar negri, dan ketika Netlabel dihadirkan di Indonesia memiliki pemaknaan berbeda. Di luar negri Netlabel hadir sebagai bentuk demokratisasi di bidang musik dan merupakan bagian dari scene musik. Sementara itu di Indonesia, Netlabel hadir sebagai bagian dari maraknya pembajakan dan pengunduhan musik secara illegal. Tidak hanya itu, di Indonesia Netlabel hadir di tengah cepatnya laju modernitas. Namun demikian, modernitas yang terjadi di Indonesia membentuk identitas yang berbeda dari negara-negara lain. Pemahaman tersebut dapat kita gunakan untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana modernitas dan globalisasi berpengaruh terhadap terbentuknya Netlabel di Indonesia? dan Bagaimana posisi Netlabel dalam membentuk identitas seseorang dalam mengkonsumsi musik di Indonesia? Perkembangan Netlabel di Indonesia saya anggap perlu dibahas karena lahirnya Netlabel di Indonesia tidak hanya sebatas tren, tetapi merupakan suatu pergerakan. Dari kajian yang telah dilakukan ternyata kehadiran Netlabel di Indonesia lahir dengan berbagai misi, di antaranya misi anti-kapitalisme, demokratisasi pasar, dan misi untuk hadir dengan semangat Do It Yourself. Semangat-semangat itulah yang merupakan identitas pemeluk gaya hidup Netlabel.
Estetika Haptik dan Kelahiran Lukisan
Stanislaus Yangni
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2658.246 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.420
Artikel ini menguraikan tentang estetika haptik yang muncul di dalam karya seni. Konsep ini berasal dari gagasan Deleuze yang memandang bahwa kreasi atau penciptaan itu terjadi ketika manusia berada dalam keterbatasan hidup dan melampaui rasionya. Seni, bagi Deleuze, adalah perihal menghadirkan sensasi, menangkap kekuatan, dan melukis adalah “menghadirkan kekuatan yang tak kelihatan.”Dia menjelaskan mengenai logika sensasi yang disebutnya diagram. Logika ini tidak bisa dikatakan dengan gramatika bahasa biasa yang kita kenal. Ia dimiliki setiap seniman dalam setiap proses kreasinya. Konsep tersebut memungkinkan kita memahami estetika haptik yang menawarkan paradigma khas untuk mengapresiasi karya seni. Estetika haptik memungkinkan orang terbuka dan mampu berdialog dengan karya seni lewat logika sensasi yang dimiliki karya itu.
Menonton Bangkutaman: Subkultur Musik "Indie" Yogyakarta
Doan Mitasari
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (856.747 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.416
Artikel ini memaparkan mengenai Bangkutaman, sebuah grup musik indie pop dari Yogyakarta. Menurut peneliti, Bangkutaman identik dengan grup indie yang merupakan perlawanan atas perusahaan rekaman major label yang berorientasi pada pasar. Indiepop mengusung semangat independensi atau alternatif terhadap musik mainstream. Semangat perlawanan itu tampak dari syair-syair lagu yang dibuat hingga pada konsep pertunjukannya. Mereka melakukan kritik terhadap ketidak-adilan maupun ketimpangan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kendati melawan ideologi pasar, Bangkutaman tetap memiliki penggemar yang cukup banyak dan lagu-lagunya telah tersebar ke berbagai negara.
Panggung Poskolonial Indonesia dalam Narasi "Memoar Tanah Rucuk"
Timoteus Anggawan Kusno
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3382.239 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.421
Rezim otoritarian Orde Baru menggunakan “sejarah” sebagai perangkat ideologis yang memiliki peran kunci dalam membangun ingatan bersama. Lengsernya Suharto dari kekuasaan rupanya tidak lantas merubah cara “sejarah” dipandang. Sebagai sebuah sistem pikir, Orde Baru telah dengan ketat memistifikasi cara manusia Indonesia membaca, dan mendudukkan “sejarah”. Proyek seni “Memoar Tanah Runcuk” merupakan sebuah upaya untuk menantang cara pembacaan “sejarah” yang terlanjur (di)mapan(kan) dan menjadi versi tunggal. Sebagai sebuah karya seni, proyek yang meleburkan narasi fiksi dengan ingatan historis ini berupaya mendemistifikasi kekakuan cara pandang atas “sejarah”, sekaligus mendudukannya dalam perspektif pascakolonial. Tulisan ini membongkar segenap proses penciptaan, pendekatan, metodologi, maupun bangunan fiksi dan segenap studi yang mendasari karya seni Memoar Tanah Runcuk yang dikembangkan oleh penulis.
Retorika Visual dan Identitas: Hantu Sebagai Simbol Komunitas Musik "Underground" di Surakarta
Albertus Rusputranto Ponco Anggoro
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (801.926 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.417
Artikel ini menguraikan mengenai fenomena kelompok musik metal yang menghadirkan hantu sebagai retorika visual pembentuk identitas komunitasnya. Citra hantu digunakan terkait dengan sejarah kelompok musik yang tidak terlepaskan dari pengaruh black metal atau yang dikenal dengan musik underground. Komunitas musik black metal menampilkan hantu sebagai ikon kelompok. Meski kelompok musik black metal di Indonesia terpengaruh oleh kelompok di negeri lain, namun mereka memodifikasi simbol atau ikon-ikon hantu yang dipergunakan dengan citra dan citarasa lokal. Seperti kelompok musik Makam atau Bandosa yang terdapat di Surakarta, mereka menciptakan syair, perhiasan yang dipakai dalam atraksi pemanggungan, logo, foto-foto serta artikel-artikel yang diperjual belikan sarat dengan soal dunia roh-roh gentayangan yang dikenal di masyarakat Jawa. Pemakaian ikon dan simbol-simbol yang mengerikan dan menjijikkan dalam penampilan dan pementasan mereka menggugat pemahaman tentang estetika yang secara umum dipandang berlawanan. Namun justru di situlah estetika komunitas underground diciptakan dan dinikmati. Di samping itu, kreatifitas dalam ranah ini sekaligus menyalakan daya hidup tradisionalisme di tengah arus modernitas global, di antara tren kebudayaan populer.
Pementasan Bocah Bajang: Negosiasi Teater terhadap Media Massa atas Fenomena Ponari
Airani Sasanti
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (994.012 KB)
|
DOI: 10.24071/ret.v4i2.418
Fenomena Ponari merupakan peristiwa pengobatan tradisional yang muncul pada tahun 2009 dan menjadi berita besar di media massa. Praktik pengobatan ini dilakukan Ponari, seorang anak berusia sembilan tahun, yang mampu mengundang perhatian banyak orang dan membuat puluhan ribu orang datang ke lokasi pengobatan. Praktik pengobatan ini menggunakan sebuah batu sebagai medium penyembuhan. Praktik pengobatan oleh Ponari menimbulkan berbagai reaksi dari banyak pihak yang setuju dan tidak setuju, dan reaksi-reaksi itu diberitakan dari berbagai sudut pandang dalam media massa. Fenomena Ponari juga menarik perhatian Teater Garasi. Melalui program Actor Studio Teater Garasi, fenomena Ponari direspon dengan menghadirkan peristiwa pengobatan tersebut dalam pementasan teater berjudul Bocah Bajang. Tulisan ini ingin menunjukkan bagaimana Actor Studio Teater Garasi menarasikan fenomena Ponari, di mana peristiwa tersebut sudah terlebih dahulu dikonstruksi media massa, ke dalam pementasan Bocah Bajang, serta membaca negosiasi seperti apa yang ditawarkan oleh teater terhadap media massa dalam rangka memaknai fenomena Ponari.