cover
Contact Name
Prof. Widiatmaka
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jtl_soilipb@yahoo.com
Editorial Address
Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Wing 12 Lt 4, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (Journal of Soil Science and Environment)
ISSN : 14107333     EISSN : 25492853     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan merupakan media yang menyajikan artikel mengenai hasil penelitian dan telaah perkembangan mutakhir dalam bidang ilmu tanah, air, dan ilmu lingkungan sebagai bahan kajian utama.
Articles 301 Documents
PERBEDAAN NILAI KADAR AIR KAPASITAS LAPANG BERDASARKAN METODE ALHRICKS, DRAINASE BEBAS, DAN PRESSURE PLATE PADA BERBAGAI TEKSTUR TANAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERTUMBUHAN BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus L.) Oteng Haridjaja; Dwi Putro Tejo Baskoro; Mahartika Setianingsih
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.871 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.52-59

Abstract

Ketersediaan air dalam tanah merupakan salah satu faktor penting bagi pertumbuhan tanaman. Kadar air pada kapasitas lapang dapat ditetapkan dengan metode yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan berbagai metode pengukuran kadar air kapasitas lapang dan melihat responnya terhadap pertumbuhan bunga matahari. Penelitian ini diawali dengan penetapan kadar air kapasitas lapang (KAKL) dengan yaitu metode Alhricks, Drainase bebas, dan Pressure Plate terhadap tiga kelas tekstur tanah berbeda yaitu: liat, lempung liat berpasir, dan lempung berpasir. Selanjutnya di rumah kaca, dilakukan penanaman bunga matahari dengan perlakuan kombinasi perbedaan jenis tekstur dan pemberian air pada KAKL dari masing-masing metode. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan percobaan faktorial acak lengkap dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekstur dan metode penetapan serta interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap nilai KAKL. Kadar air kapasitas lapang (% berat) pada tekstur liat (62.18%) lebih besar dibandingkan tekstur lempung liat berpasir (20.42%) dan lempung berpasir (10.92%). Pada penetapan kadar air kapasitas lapang dengan metode Alhricks, ketebalan pasir kuarsa yang paling baik adalah 6 cm dan tanah 3 cm, karena data kadar air yang diperoleh lebih konsisten serta menghasilkan nilai R2 yang paling tinggi (0.967). Pada tekstur liat perlakuan penyiraman yang didasarkan pada KAKL tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan biomassa akar kering namun berpengaruh nyata terhadap biomassa akar basah, biomassa tajuk basah dan kering, serta panjang akar. Pada perlakuan tekstur, terlihat perbedaan respon pertumbuhan yang nyata antara tanaman bunga matahari yang ditanam pada tekstur liat, lempung liat berpasir, dan lempung berpasir.
RASIO DAN KEJENUHAN HARA K, Ca, Mg DI DALAM TANAH UNTUK TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) Eko Noviandi Ginting; Atang Sutandi; Budi Nugroho; Lilik Tri Indriyati
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.561 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.60-65

Abstract

Pemupukan merupakan salah satu komponen kegiatan pemeliharaan yang menghabiskan biaya yang cukup tinggi sekaligus memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pencapaian produksi tanaman kelapa sawit. Penambahan salah satu unsur hara melalui pemupukan akan menyebabkan terjadinya pergeseran keseimbangan hara di dalam tanah, oleh sebab itu kegiatan pemupukan perlu memperhatikan keseimbangan hara agar pemupukan yang dilakukan dapat lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mencari nilai kisaran keseimbangan K, Ca, Mg di dalam tanah untuk tanaman kelapa sawit. Penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan dengan menggunakan data hasil analisis tanah dan data produksi yang dikumpulkan dari perkebunan kelapa sawit yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan asumsi nilai sekat produktivitas 25.96 ton TBS ha-1tahun-1 kisaran nilai rasio hara yang seimbang untuk tanaman kelapa sawit masing-masing 5.6 – 10.1 untuk rasio Ca/K, 2.1 – 2.5 untuk rasio Ca/Mg dan 2.1 – 4.5 untuk rasio Mg/K. Sementara nilai kecukupan kejenuhan K, Ca, Mg masing-masing sebesar 2.5%; 11.8% dan 3.7%.
ANALISIS KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DAN TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH DI KOTA CIMAHI, PROVINSI JAWA BARAT Santun Risma Pandapotan Sitorus; Mutiara Ashri; Dyah Retno Panuju
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.208 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.66-75

Abstract

Kualitas lingkungan kota dan kabupaten terus menurun yang ditunjukkan salah satunya oleh menurunnya luas ruang terbuka hijau (RTH). Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya pertambahan penduduk dan kebutuhan ruang untuk pembangunan permukiman dan fasilitas pelayanan. Cimahi merupakan wilayah yang baru ditetapkan sebagai kota pada tahun 2001. Sejak awal pembentukannya, Kota Cimahi telah menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang cukup pesat sehingga perlu diikuti oleh upaya-upaya menjaga keseimbangan antara lingkungan sosial dengan ekonomi. Salah satunya adalah komposisi ruang terbuka hijau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan di Kota Cimahi, mengetahui ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Cimahi, mengetahui dinamika tingkat perkembangan wilayah di Kota Cimahi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Cimahi. Pada tahun 2007-2011 menunjukkan terjadi perubahan penggunaan lahan yang dicirikan oleh perubahan penggunaan lahan lain menjadi pemukiman sebesar 420.6 ha. Adapun ketersediaan ruang terbuka hijau Kota Cimahi pada tahun 2011 hanya sebesar 738 ha atau 17.9% dari total seluruh wilayah sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan seluruh penduduk di Kota Cimahi. Dinamika tingkat perkembangan wilayah di Kota Cimahi menunjukkan ada kelurahan-kelurahan yang konsisten di hirarkinya dan ada yang bersifat fluktuatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Cimahi adalah alokasi lahan terbangun dalam RTRW, kepadatan penduduk, jumlah jenis fasilitas, pertumbuhan penduduk dan lahan terbangun tahun 2011.
INTERPRETASI BENTUKLAHAN GUNUNGAPI GUNTUR MENGGUNAKAN CITRA IKONOS Luluk Dwi Wulan Handayani; Boedi Tjahjono; Bambang Hendro Trisasongko
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.756 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.76-83

Abstract

Indonesia merupakan negara yang dilalui oleh jalur gunungapi aktif (ring of fire), memiliki lebih dari 400 gunungapi dan 130 di antaranya termasuk dalam kategori gunungapi aktif. Letusan gunungapi sangat berbahaya bagi makhluk hidup, namun dibalik itu banyak memberikan manfaat bagi manusia, di antaranya abu vulkanik merupakan bahan induk tanah yang subur untuk pertanian. Identifikasi dan pemetaan bentuklahan gunungapi sangat penting untuk keperluan mitigasi bencana dan dapat dilakukan melalui analisis geomorfologi dengan memanfaatkan data penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pemanfaatan citra IKONOS untuk mengidentifikasi dan analisis bentuklahan vulkanik di Gunungapi Guntur. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa interpretasi geomorfologis dengan citra IKONOS pada tubuh G. Guntur dapat membedakan 16 bentuklahan, di antaranya adalah 3 kawah yang berbeda kronologi, 1 kubah lava, 7 aliran lava yang berbeda kronologi, 4 bentuklahan dari kerucut vulkanik, dan 1 bentuklahan terdegradasi oleh proses antropogenik. Kenampakan detil morfologi yang dapat direkam dan ditampilkan oleh citra IKONOS dapat membantu memilah bentuklahan G.Guntur dengan lebih baik dan rinci.
JERAPAN NITROGEN-URINE OLEH ZEOLIT DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) Lilik Tri Indriyati; Iswandi Anas
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.786 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.84-90

Abstract

Urine umumnya mengandung unsur hara, terutama nitrogen (N) yang tinggi, mudah larut dan tersedia bagi tanaman, tetapi mudah hilang dalam bentuk gas amonia. Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Zeolit merupakan mineral yang memiliki mempunyai afinitas yang tinggi terhadap ion amonium. Zeolit yang mengandung amonium dapat digunakan sebagai pupuk lambat tersedia. Tujuan percobaan ini adalah untuk melihat hubungan antara ukuran zeolit dengan kemampuannya menjerap nitrogen yang terkandung dalam urine sapi, dan mengamati pengaruh ukuran dan takaran zeolit yang telah dicampur dengan urine sapi terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian ini dilakukan dengan percobaan pot di rumah kaca yang disusun secara acak lengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah empat taraf takaran zeolit: 1000, 2000, 4000, dan 8000 ppm dengan dua taraf ukuran zeolit, yaitu kurang dari 60 mesh dan 32-60 mesh. Parameter tanaman dan tanah yang diukur adalah tinggi tanaman, bobot kering bagian atas dan akar tanaman, serapan N bagian atas dan akar tanaman, serta KTK tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa jerapan N-urine semakin besar dengan semakin halus ukuran zeolit. Tetapi pengaruh pemberian zeolit-urine dengan ukuran 60 mesh terhadap tinggi tanaman, bobot kering bagian atas dan akar tanaman jagung umur 21 hari, serapan N akar serta KTK tanah nyata lebih tinggi daripada pemberian zeolit-urine dengan ukuran yang lebih halus (< 32 mesh). Zeolit-urine dengan takaran 2000 ppm nyata meningkatkan tinggi tanaman, bobot kering bagian atas tanaman, serapan N akar, dan KTK tanah, tetapi interaksi antara ukuran dan takaran zeolit-urine tidak berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati. Pada takaran zeolit-urine lebih dari 2000 ppm, semua parameter pertumbuhan tanaman cenderung menurun.
PEMBERIAN KOTORAN SAPI PADA PERTANAMAN JAGUNG (Zea mays): PERUBAHAN FRAKSI FOSFOR INORGANIK PADA ULTISOL GUNUNG SINDUR, JAWA BARAT Arief Hartono; Sri Djuniwati; Hafiz Hernandi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.608 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.1-4

Abstract

Percobaan mengenai evaluasi perubahan fraksi-fraksi fosfor (P) karena pemberian kotoran sapi pada budidaya jagung dilaksanakan di desa Cibadung Gunung Sindur, Jawa Barat. Dosis kotoran sapi yang digunakan adalah 0, 10, 20, dan 40 ton ha-1. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Pengambilan contoh tanah dilakukan setelah dua minggu inkubasi dan setelah panen. Contoh tanah diambil di rhizosfer dan antar baris tanaman. Perubahan fraksi-fraksi P dievaluasi dari hasil pengurangan nilai suatu fraksi P pada saat panen dengan nilai suatu fraksi P setelah dua minggu inkubasi. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kotoran sapi nyata meningkatkan fraksi resin-Pi, fraksi NaHCO3-Pi dan NaOH-Pi. Nilai fraksi-fraksi P tersebut pada saat panen lebih tinggi di rhizosfer dibandingkan dengan nilai fraksi-fraksi P di antar baris tanaman. Perubahan resin-Pi di rhizosfer dan antar baris tanaman adalah negatif yang menunjukkan bahwa resin-Pi telah bertransformasi ke fraksi P yang lain. Perubahan fraksi NaHCO3-Pi dan NaOH-Pi tidak konsisten positif baik di rhizosfer dan antar baris tanaman dengan meningkatnya dosis kotoran sapi. Hal ini menunjukkan bahwa pengambilan P oleh tanaman, pelepasan P dan transformasi P ke bentuk yang lebih stabil mempengaruhi jumlah peningkatan fraksi NaHCO3-Pi dan NaOH-Pi.
POTENSI OLIGOCHITOSAN,VITAZYME DAN BIOFERTILIZER DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI (Oryza sativa L.) Ans Iswandi; Fahrizal Hazra; Velicia Desyana Rakhmadina
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.574 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.5-11

Abstract

Penggunaan Oligochitosan, Vitazyme, dan Biofertilizer dapat menjadi salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan Oligochitosan, Vitazyme, dan Biofertilizer dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi. Penelitian ini terdiri atas penelitian menggunakan media tanah dalam pot di lapangan dan penelitian di lahan sawah. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan pada penelitian pot terdiri atas pemberian pupuk NPK, Oligochitosan Jepang, Oligochitosan BATAN, Biofertilizer Azozo, dan Vitazyme, sementara penelitian lapang perlakuan hanya menggunakan pupuk NPK, Oligochitosan Jepang, dan Biofertilizer Azozo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK 100% nyata meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi dibandingkan dengan pemupukan NPK 50%. Kombinasi perlakuan pupuk NPK 50% dengan Oligochitosan, Vitazyme, atau Biofertilizer, nyata meningkatkan produksi padi menyamai atau melebihi pemupukan NPK 100%. Ini berarti bahwa baik Oligochitosan, Vitazyme atau Biofertilizer bila dikombinasikan dengan pemberian 50% NPK mampu menggantikan 50% pupuk NPK. Akan tetapi pada penelitian di lahan sawah, tidak adanya perbedaan pertumbuhan maupun produksi padi yang diberi perlakuan NPK 100% dengan perlakuan NPK 50%, sehingga dampak pemberian Oligochitosan, Vitazyme atau Biofertilizer yang dikombinasikan dengan pemberian 50% NPK tidak dapat dievaluasi.
PENENTUAN INDEKS BAHAYA KEKERINGAN AGRO-HIDROLOGI: STUDI KASUS WILAYAH SUNGAI KARIANGO SULAWESI SELATAN Muhammad Munawir Syarif; Baba Barus; Sabri Effendy
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1587.66 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.12-19

Abstract

Kekeringan agro-hidrologi dapat diartikan sebagai kekurangan air permukaan, air tanah dan mencukupi untuk tanaman dan kebutuhan masyarakat untuk jangka waktu tertentu. Sejauh ini belum ada indeks kekerigan agro-hidrologi yang menggabungkan faktor iklim, air permukaan, dan air bawah permukaan tanah. Penelitian ini merumuskan sebuah indeks bahaya kekeringan (Ibk) sebagai indikator kekeringan agro-hidrologi. Model yang dikembangkan dari kombinasi curah hujan musim kering, kedalaman air tanah, jarak sumber air, tekstur tanah dan indeks ketersediaan air bagi tanaman dengan menggunakan metode penginderaan jauh dan GIS. Indeks bahaya kekeringan agro-hidrologi yang telah dikembangkan adalah Ibk= (0.33CH) + (0.27KAT) + (0.20SA) + (0.13T) + (0.0WSVI) dengan hasil validasi model menunjukkan kemiripan yang tinggi kekeringan di lapangan.
PEMETAAN LAHAN SAWAH DAN POTENSINYA UNTUK PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PASAMAN BARAT, SUMATERA BARAT Muhammad Zulfikar; Baba Barus; Atang Sutandi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.581 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.20-28

Abstract

Kabupaten Pasaman Barat terbentuk dari pemekaran Kabupaten Pasaman melalui Keputusan Pemerintah No.38 / 2003 tanggal 18 Desember 2003. Sejak tahun 1990 masalah yang dihadapi oleh Kabupaten Pasaman adalah konversi lahan pertanian ke penggunaan lain yang sangat cepat, terutama lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pengesahan UU No 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), diharapkan dapat mengendalikan laju perubahan penggunaan lahan pertanian ke penggunaan lain. Peraturan ini masih baru, sehingga implementasi peraturan ini belum banyak dilakukan, termasuk perencanaan dan penetapan wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap faktor utama yang mempengaruhi penentuan lahan sawah berkelanjutan, (2) untuk menganalisis proyeksi kebutuhan luas sawah di tingkat kabupaten, dan (3) untuk menentukan area sawah berkelanjutan di wilayah penelitian berdasarkan batas wilayah kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor fisik yaitu ketersediaan aktual dan potensial (kesesuaian lahan), diutamakan dalam penentuan sawah yang akan dipertahankan. Ketersediaan lahan sawah eksisting di Kabupaten Pasaman Barat masih cukup untuk mencukupi kebutuhan pangan lokal selama kurang lebih 20 tahun yang akan datang. Terdapat lahan sawah (aktual) seluas 27,317 ha yang cocok untuk dilindungi di Kecamatan Barru, dengan penggunaan lahan eksisting berupa sawah irigasi (budidaya). Selain itu, terdapat lahan potensial untuk dilindungi seluas 9,871 ha, dengan penggunaan lahan eksisting berupa semak-semak, rawa dan rawa lebak. Lahan yang diusulkan di lindungi dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu: area yang surplus produksi, adanya irigasi, dan penerimaan oleh masyarakat. Lahan yang mencakup ketiga kriteria tersebut terdapat seluas 18,670 ha yang terdistribusi di beberapa kecamatan.
IDENTIFIKASI KOMODITAS BASIS TANAMAN PANGAN DAN ARAHAN PENGEMBANGANNYA DI PROVINSI LAMPUNG Santun Risma Pandapotan Sitorus; Bima Wahyu Widodo; Dyah Retno Panuju
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1512.403 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.29-38

Abstract

Pengembangan wilayah pertanian saat ini banyak dilakukan tanpa penelitian terlebih dahulu dari keunggulan komparatif, kompetitif dan potensi sumberdaya lahan pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengetahui komoditas basis tanaman pangan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di Provinsi Lampung, (2) mengevaluasi kesesuaian lahan komoditas basis, (3) menganalisis hubungan antara komoditas basis dengan kesesuaian lahan, dan (4) menyusun arahan pengembangan komoditas basis. Metode penelitian yang digunakan dalam mengidentifikasi keunggulan komparatif adalah perhitungan Location Quotient (LQ). Identifikasi keunggulan kompetitif dilakukan menggunakan komponen Differential Shift (DS). Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan membandingkan karakteristik tanah dengan kriteria tumbuh tanaman. Analisis korelasi digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara komoditas basis dengan tingkat kesesuaian lahan. Hasil penelitian menunjukkan adanya komoditas basis tanaman pangan di masing-masing kabupaten, kecuali di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Tulangbawang, Tulang Bawang Barat dan Mesuji yang tidak memiliki komoditas basis. Kesesuaian lahan aktual untuk tanaman komoditas basis di masing-masing kabupaten juga telah dihasilkan. Tanaman padi sawah banyak ditanam di lahan yang cukup sesuai di sebagian besar kabupaten. Pengusahaan masing-masing komoditas basis dikaitkan dengan tingkat kesesuaian lahannya di masing-masing kabupaten juga dikemukakan. Demikian juga arahan pengembangan masing-masing komoditas basis dan luasannya di masing-masing kabupaten. Lahan pada kawasan budidaya pertanian yang tergolong tidak sesuai disarankan digunakan sebagai kawasan konservasi.

Page 8 of 31 | Total Record : 301


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 27 No 1 (2025): Journal of Soil Science and Environment Vol 26 No 2 (2024): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 26 No 1 (2024): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 25 No 2 (2023): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 25 No 1 (2023): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 24 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 24 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 23 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 23 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 22 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 21 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 11 No 2 (2009): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2009): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 2 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 19 No 2 (2017): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 19 No 1 (2017): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 2 (2015): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 1 (2015): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 2 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 2 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 1 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 2 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 1 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan Vol 12 No 2 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 12 No 1 (2010): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 2 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2008): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 9 No 2 (2007): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 9 No 1 (2007): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 7 No 2 (2005): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 7 No 1 (2005): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 No 2 (2004): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 No 1 (2004): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 5 No 1 (2003): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 No 2 (2000): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 2 No 2 (1999): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 2 No 1 (1999): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan More Issue