cover
Contact Name
Jefrie Walean
Contact Email
jefrywalean@gmail.com
Phone
+6281326764982
Journal Mail Official
jefrywalean@gmail.com
Editorial Address
Jl. Towua No.80, Tatura Sel., Kec. Palu Sel., Kota Palu, Sulawesi Tengah 94111
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Salvation
ISSN : -     EISSN : 2623193X     DOI : https://doi.org/10.56175/salvation
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Salvation adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Bala Keselamatan Palu, dua kali dalam setahun (Bulan Januari dan Bulan Juli). Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam jurnal ini adalah tulisan dari berbagai penulis yang memiliki perspektif yang berbeda sehingga apa yang dimuat dalam jurnal ini tidak mewakili pandangan institusi STT Bala Keselamatan Palu. Jurnal ini bertujuan melengkapi para pelayan Tuhan dalam berbagai bidang pelayanan gereja sehingga dapat menyingkapi permasalahan teologis yang muncul dalam masyarakat. Adapun ruang lingkup dari Jurnal Salvation: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 109 Documents
Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih di dalam Perumpamaan Dua Orang yang Berhutang berdasarkan Lukas 7:40-43 Maritaisi Hia
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i1.48

Abstract

Abstract:Having the character of love is identical to being a follower of Christ. Acts of love are often understood as a way to get salvation, but salvation is obtained through faith in Christ. Humans are very familiar with sin, and sin is a debt that must be paid in full to God. But nothing can be given to God as a ransom for sin. But God gave His love by sending His only begotten Son to redeem mankind from the debt of sin. Without love, humans cannot get forgiveness. But man must first have faith in God so that through faith man obtains forgiveness. The purpose of this study is so that the reader can understand the spiritual meaning in Luke 7:40-43. The research method used is a qualitative research method with a descriptive approach using the exegesis method of 4 layers of biblical meaning. The 4 layers of biblical meaning are historia, theoria, moral and anagogic. So that the result of text research is that human love gets forgiveness/salvation but it works through faith, and doing love is a response to forgiveness/salvation from God. So, forgiveness/salvation is not obtained by works/acts of love but through faith. The act of love is a form or form of gratitude to God who has given forgiveness to humans.Abstrak:Memiliki karakter kasih merupakan hal yang identik sebagai pengikut Kristus. Perbuatan kasih sering dimengerti sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan, padahal keselamatan diperoleh melalui iman kepada Kristus. Manusia sangat akrab dengan dosa, dan dosa adalah hutang yang harus dibayar lunas kepada Allah. Tetapi tidak ada yang bisa diberikan kepada Allah sebagai tebusan dosa. Namun Allah memberikan kasih-Nya dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menebus manusia dari hutang dosa. Tanpa kasih maka manusia tidak memperoleh pengampunan. Tetapi manusia harus memiliki iman terlebih dahulu kepada Allah sehingga melalui iman manusia memperoleh pengampunan. Tujuan penelitian ini supaya pembaca dapat memahami spiritual meaning dalam Lukas 7:40-43. Metode penelitia yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan menggunakanmetode eksegesis 4 lapisan makna Alkitab. Ke-4 lapisan makna Alkitab tersebut adalah historia, theoria, moral dan anagogic. Sehingga hasil penelian teks adalah oleh kasih manusia memperoleh pengampunan/keselamatan tetapi itu bekerja melalui iman, dan melakukan kasih merupakan respon terhadap pengampunan/keselamatan dari Allah. Jadi, pengampunan/keselamatan tidak didapat karena perbuatan/tindakan kasih tetapi melalui iman. Tindakan kasih adalah bentuk atau wujud rasa terimakasih kepada Allah yang telah memberikan pengampunan kepada manusia.
Konsep Hidup Damai Sejahtera di dalam Kristus berdasarkan Kolose 3:15 Nursanti Waruwu
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i1.49

Abstract

Abstract:Everyone aspires to live in peace since a believer's life is never free from the trials and tribulations of life. People find it challenging to comprehend and experience the meaning of the peace that comes through Christ as a result. Some people even believe that God is a myth. In accordance with Colossians 3:15, the purpose of this study is to clarify the idea of living in peace in Christ. A syntactic text analysis methodology was employed in this text, focusing on the text itself and connecting it to other texts as well as a combination of books and journals. The findings demonstrate that, in of Colossians 3:15, a life of peace can only be found in Christ because He is the Only One capable of defeating human nature. However, believers need to experience union with the peace of Christ and allow Christ to reign in the heart. So that believers will continue to be nurtured by the love and grace of God that remains alive in believers.Abstrak:Hidup damai merupakan dambaan dari semua orang sebab tantangan dan masalah hidup tidak pernah lepas dari kehidupan orang beriman. Hal ini membuat orang-orang sulit untuk mengerti dan merasakan arti damai sejahtera yang berasal dari Kristus. Bahkan ada yang beranggapan bahwa Tuhan tidak ada. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep hidup damai sejahtera dalam Kristus menurut Kolose 3:15. Metode yang digunakan dalam teks ini adalah pendekatan analisis teks secara sintaksis yang fokus pada teks itu sendiri dan dihubungkan dengan teks-teks lainnya serta perpaduan dengan buku juga jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Kolose 3:15, hidup damai sejahterah hanya ada di dalam Kristus sebab Kristus adalah Pribadi yang bisa menaklukan hati manusia. Akan tetapi orang orang beriman perlu mengalami penyatuan dengan damai sejahtera Kristus dan mengizinkan Kristus yang memerintah didalam hati. Sehingga orang percaya akan terus dipelihara oleh kasih dan anugrah Allah yang tetap hidup dalam diri orang beriman.
Perintisan Gereja dalam Konteks Digitalisasi Masa Kini Simon Simon
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i1.51

Abstract

Abstract:This paper discusses specifically how church pioneering is carried out in a digital context. The urgency of this topic is elaborated considering that in the present day digitalization has been cultivated from various aspects. With today's digital age, the church needs to adapt evangelism according to the context and era in which the church exists. This paper uses the approach of digital religion and literature methods to answer two questions on the topic, how is digitalized religion? And how is the establishment of church that digitalizes? The results of the description on this topic suggest that, the church establishment in a digital context can start from the establishment of a virtual church. Although the virtual church is not in the physical form, religious activities can be felt and experienced by believers through the virtual church. The establishment of the church in a digital context can be done by establishing a virtual communion. The virtual communion serves as a forum to unite people of faith in Jesus. The virtual communion is an alternative to the establishment of digital church. The establishment of digital churches can preserve evangelism as mandated by the Great Commission.Abstrak:Tulisan ini membahas secara spesifik bagaimana perintisan gereja dilakukan dalam konteks digital. Urgensitas topik ini diuraikan mengingat masa kini digitalisasi telah membudaya di berbagai aspek. Dengan zaman digital saat ini, gereja perlu menyesuaikan perintisan sesuai dengan konteks dan zaman dimana gereja berada. Tulisan ini menggunakan pendekatan metode digital dan literatur dengan menjawab dua pertanyaan pada topik, bagaimana tentang agama yang terdigitalisasi? Serta bagaimana penanaman gereja yang meng digital? Hasil uraian pada topik ini mengemukakan bahwa, pengamanan gereja dalam konteks digital dapat dimulai dari pendirian gereja virtual. Walau gereja virtual tidak bersifat fisik, namun aktivitas keagamaan dapat dirasa dan dialami orang percaya melalui gereja virtual ini. Penanaman gereja dalam konteks digital dapat dilakukan dengan membangun persekutuan virtual. Persekutuan virtual sebagai wadah mempersatukan orang yang seiman kepada Yesus. Persekutuan virtual sebagai alternatif dalam penanam gereja secara mendigital. Penanaman gereja secara mendigital melestarikan penginjilan sebagaimana mandata Amanat Agung.
Pengaruh Program Mentoring terhadap Pembentukan Karakter Tunas Remaja Rejoice Leny Simatupang; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i1.52

Abstract

Abstract:Currently, pre-teens or juvenile shoots in facing their development both physically, emotionally, and spiritually should be guided, supported and also fostered so that they do not take wrong steps in passing the developmental stages of their lives. The mentoring program is an option that can be used as a means to minimize the character and actions of youth shoots that do not reflect the character of the Lord Jesus. This study aims to determine how much influence it has, and also to find out the results of the mentoring program in shaping character, so this research focuses on the implementation of the Christian Religious Education mentoring program held at the Voice of the Bible Church. With the intention that in the end this mentoring program is expected to form early adolescents with character. This study uses quantitative methods with research subjects consisting of mentors, mentors, and mentoring participants. The result of this program is that there is an influence of the mentoring program on juvenile shoots so that teenage buds get a change in character, namely discipline, honesty, independence, tolerance, responsibility, good morals, a sense of wanting to help, a sense of wanting to help, a sense of caring for others, a sense of caring for the environment, a sense of belonging. want to help, be polite, and also respect others through character building through a mentoring program at the Voice of the Truth Gospel Church in Artha Gading Mall Rehobot by 64.3%.Abstrak:Saat ini yang pra-remaja atau tunas remaja dalam menghadapi perkembangannya baik dari segi fisik, emosional, dan spiritual seharusnya dibimbing, didukung dan juga dibina agar tidak salah langkah dalam melewati tahap perkembangan kehidupannya. Program mentoring menjadi pilihan yang dapat dijadikan sebagai sarana dalam meminimalisir karakter dan tindakan-tindakan tunas remaja yang tidak mencerminkan karakter Tuhan Yesus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya, dan juga mengetahui hasil program mentoring dalam membentuk karakter, sehingga penelitian ini berfokus pada pelaksanaan program mentoring Pendidikan Agama Kristen yang diadakan di Gereja Suara Kebenaran Injil. Dengan maksud pada akhirnya program mentoring ini diharapkan dapat membentuk remaja awal yang berkarakter. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek penelitian terdiri atas pembina mentoring, mentor, dan peserta mentoring. Hasil dari program ini adalah ada pengaruh program mentoring terhadap tunas remaja sehingga tunas remaja mendapatkan perubahan karakter yaitu disiplin, jujur, mandiri, toleransi, bertanggung jawab, bermoral baik, rasa ingin menolong, rasa ingin membantu, rasa peduli sesama, rasa peduli lingkungan, rasa ingin menolong, sopan, dan juga menghargai orang lain lewat pembentukan karakter melalui program mentoring di Gereja Suara Kebenaran Injil Rehobot Mall Artha Gading sebesar 64,3 %.
Menelisik Kontribusi Ayah dalam Menanamkan Kesabaran pada Anak di Keluarga Kristen Kosma Manurung; Jefrie Walean
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.66

Abstract

Abstract: Patience is important to be taught by fathers to their children because it is very relevant, has an impact on children's social emotional intelligence, and is related to children's success in the future. This article intends to examine the contribution of fathers in instilling patience in children in Christian families. By using the description method and supported by literature review, it is hoped that it can provide a clear, in-depth picture, and have an academic footing related to patience in the Bible description, the importance of patience for children, and the maximum contribution that fathers can make in instilling patience in children. It was concluded that fathers greatly contributed to instilling patience in children when actively involved in educating children, introducing patience as early as possible, understanding this is a long-term effort, a unique form of affection for children, and the closest example that can be imitated by children.Abstrak: Kesabaran penting diajarkan oleh ayah kepada anaknya karena sangat relevan, berdampak pada kecerdasan sosial emosional anak, serta terkait dengan kesuksesan anak dimasa depan. Artikel ini bermaksud menelisik kontribusi ayah dalam menanamkan kesabaran pada anak di keluarga Kristiani. Dengan menggunakan metode deskripsi dan didukung oleh kajian literatur diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas, mendalam, serta memiliki pijakan akademik terkait dengan kesabaran dalam gambaran Alkitab, pentingnya kesabaran bagi anak, dan kontribusi maksimal yang ayah bisa berikan dalam menanamkan kesabaran pada anak. Disimpulkan bahwa ayah sangat berkontribusi dalam menanamkan kesabaran pada anak ketika terlibat aktif mendidik anak, memperkenalkan kesabaran sedini mungkin, memahami ini usaha jangka panjang, bentuk kasih sayang yang unik kepada anak, dan contoh paling dekat yang dapat ditiru oleh anak.
Makna Ketaatan Abraham dalam Mempersembahkan Ishak: Analisa Naratif dari Kejadian 22:1-19 Solingkari Halawa; Bobby Kurnia Putrawan
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.67

Abstract

Abstract: In Abraham's life, obedience was the principle that motivated his life. He willingly obeyed God, not out of law, but out of love. In the course of his life, Abraham was an obedient and God-fearing man. In addition, the story in Genesis chapter 22 becomes a severe test in Abraham's life, where God commanded Abraham to sacrifice his only son as a burnt offering (Gen 22:2a). This article aims to find the meaning of Abraham's obedience in offering Isaac in Genesis 22:1-19. The method used is narrative analysis. The result is in this case explaining how the life of Abraham who always feared God as evidence of faith in God. Abraham's life can be a guide for the Christian life today. In this context, Abraham is an example of faith, how people live in obedience to God by giving the best, namely the most beloved son in Abraham's life.Abstrak: Dalam kehidupan Abraham, ketaatan merupakan prinsip yang memotivasi kehidupannya. Ia dengan rela menaati Allah, bukan karena hukum, melainkan karena kasih. Di dalam perjalanan hidupnya, Abraham adalah seorang yang taat dan takut kepada Tuhan. Selain itu, kisah di Kejadian pasal 22 menjadi ujian yang berat dalam hidup Abraham, dimana Allah memerintahkan Abraham untuk mengorbankan anaknya yang tunggal menjadi kurban bakaran (Kej 22:2a). Artikel ini bertujuan menemukan makna ketaatan abraham dalam mempersembahkan ishak di Kejadian 22:1-19. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dekriptif dengan pendekatan hermeneutik analisa naratif. Hasilnya adalah dalam hal ini ini menjelaskan bagaimana ketaatan Abraham dalam mempersembahkan Ishak si Kejadian 22:1-19. Kehidupan Abraham yang taat akan Allah sebagai bukti iman kepada Allah. Kehidupan Abraham dapat menjadi pedoman bagi kehidupan orang Kristen pada zaman sekarang ini. Dalam konteks ini, Abraham menjadi contoh teladan iman, bagaimana umat hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dengan memberikan yang terbaik, yaitu anaknya yang paling dikasihi dalam hidup Abraham.
Konsep Mencapai Doa sebagai Persembahan yang Murni kepada Tuhan menurut St. Ishak dari Niniweh Cange Esra Runisi Gulo
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.72

Abstract

Abstract: Talking about prayer may not always be interesting in certain circles to be discussed. Because it can be influenced by different paradigms or perceptions about prayer and then cause confusion. Prayers that you may be familiar with are expressing all requests and even giving thanks to God for all the goodness received. Even though the understanding of prayer that might be more specific is about building a relationship with God and fellowship with Him in prayer. There are also those who make prayer a tool to get what they want. And this is a mistake in understanding what prayer is like. The purpose of this writing is to contribute insights to readers, especially to practice true prayer. With the right understanding of prayer, of course the practice of prayer will be even better and not just a formality. This study uses the literary method, namely collecting data and collaborating with the theoretical basis to discuss the topic of discussion. As a result, prayer is a pure offering to be offered to God. Prayers that are done with full concentration in silence and wakefulness can make these prayers purer so that they are worthy of being an offering to God. So that when everyone correctly understands the meaning and purpose of this prayer, there will not be an act of prayer as a mere formality, or the perception that prayer is a spiritual activity to relate to God, but instead have the view that prayer can be a pure offering to God.Abstrak: Berbicara mengenai doa mungkin tidak selalu menarik dalam beberapa kalangan tertentu untuk dibahas. Karena dapat saja dipengaruhi karena paradigma atau persepsi tentang doa yang berbeda-beda dan kemudian menimbulkan kebingungan. Doa yang mungkin familiar dikenal adalah mengutarakan segala permohonan bahkan mengucap syukur kepada Tuhan terhadap segala kebaikan yang diterima. Padahal pemahaman tentang doa yang mungkin lebih spesifik yakni tentang membangun relasi dengan Tuhan serta bersekutu dengan-Nya dalam doa. Ada juga yang menjadikan doa sebagai alat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dan ini merupakan kekeliruan dalam memahami doa itu seperti apa. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan sumbangsih wawasan bagi para pembaca, terutama untuk mempraktikkan doa yang benar. Dengan pemahaman yang benar tentang doa, tentunya praktik doa akan semakin lebih baik dan tidak hanya sekadar formalitas. Penelitian ini menggunakan metode Literatur, yakni mengumpulkan data dan melakukan kolaborasi dengan landasan teori untuk membahas topik bahasan. Alhasil, doa merupakan persembahan yang murni untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Doa yang dilakukan dengan penuh kosentrasi dalam keheningan serta keterjagaan dapat menjadikan doa tersebut semakin murni hingga layak menjadi persembahan kepada Tuhan. Sehingga ketika setiap orang memahami dengan benar makna dan tujuan doa ini, maka tidak akan terjadi tindakan doa sekadar formalitas, atau persepsi bahwa doa merupakan kegiatan rohani untuk berhubungan dengan Tuhan, melainkan memiliki pandangan bahwa doa dapat menjadi persembahan yang murni kepada Tuhan.
Perspektif Alkitab terhadap Praktek Euthanasia Hardi Halim; Tjutjun Setiawan
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.73

Abstract

Abstract: Death is an event that must occur in the life of every human being. Although it is something that is certain but it remains a mystery, because only God Himself knows when a person will experience death. However, not a few people who want to end their lives because of various life problems or because of various diseases that do not go away so that to end their suffering they take suicide actions that are carried out by themselves or carried out with the help of others, in this case assisted by medical personnel. , where this action is known as euthanasia. This study examines the biblical perspective on euthanasia. The method used is qualitative with a literature study approach where the main source is the Bible, then assisted by literature, published journals so that they can answer the problem. The conclusion is that there is euthanasia that is not according to the Bible but there is also euthanasia that can be justified in Christian ethics, namely natural passive euthanasia, a decision not to give machines or tools so that patients who should have died naturally but survived. with the machine so that his life depends on the machine and not in the hands of God.Abstrak: Kematian merupakan suatu peristiwa yang pasti terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Meskipun itu adalah sesuatu yang pasti tetapi tetap merupakan sebuah misteri, sebab hanya Tuhan sendirilah yang tahu kapan seseorang itu akan mengalami kematian. Namun tidak sedikit orang yang ingin mengakhiri hidupnya karena berbagai persoalan hidup yang dialami ataupun karena berbagai penyakit yang tak kunjung sembuh sehingga untuk mengakhiri penderitaannya ia mengambil tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh diri sendiri maupun dilakukan dengan bantuan orang lain, dalam hal ini dibantu oleh tenaga medis, di mana tindakan ini dikenal dengan sebutan eutanasia. Penelitian ini mengkaji bagaimana perspektif Alkitab terhadap eutanasia. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka di mana sumber utama adalah Alkitab, lalu dibantu literatur, jurnal yang terpublikasi sehingga dapat menjawab rumusan masalah. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa ada eutanasia yang tidak sesuai dengan Alkitab tetapi ada juga eutanasia yang dapat dibenarkan secara etika Kristen, yaitu eutanasia pasif alami, suatu keputusan untuk tidak memberikan mesin atau alat-alat sehingga pasien yang seharusnya sudah mati secara wajar tetapi dapat bertahan hidup dengan mesin sehingga hidupnya tergantung kepada mesin dan bukan di tangan Allah.
Menggagas Peranan Bimbingan Pranikah dalam upaya Mitigasi Konflik Mertua dan Menantu Dessy Ari Wardhani; Andrias Pujiono
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.74

Abstract

Abstract: Conflict is often the cause of broken relationships in the household, including those related to parent in law and daughter in law or son in law. Conflicts between parent in law and daughter in law or son in law often occur in families where in-laws and sons-in-law live in the same house. Conflict arises because of differences due to differences in race, economy, social status, character, desires, and so on. This conflict will continue to arise if no efforts are made to mitigate or prevent the conflict. Therefore, the church must also care, and have a strategic role in mitigating the conflict by holding premarital guidance that specifically addresses the relationship between parent in law and daughter in law or son in law. The purpose of this research is how to initiate the role of premarital guidance in mitigating conflict between parent in law and daughter in law or son in law. This research method uses qualitative research with descriptive methods and literature review. Premarital guidance is a service carried out by the church in preparing prospective married couples who will enter marriage. Premarital counseling has an important role in mitigating in-law-daughter-in-law conflicts, because it serves as a vehicle for preparing prospective husband and wife by training them to become a family, and also as a means for learning conflict management. By learning conflict management, when a married couple will be able to wisely resolve conflicts. In addition, every married couple is also capable of having an attitude of peace with God, peace with oneself, peace with others and peace with the environment.Abstrak: Konflik sering menjadi penyebab retaknya hubungan dalam rumah tangga, termasuk yang berhubungan dengan relasi mertua dan menantu. Konflik antara mertua dan menantu banyak terjadi pada keluarga di mana mertua dan menantu tinggal dalam satu rumah. Konflik muncul karena adanya perbedaan karena perbedaan RAS, ekonomi, status sosial, karakter, keinginan, dan lain sebagainya. Konflik ini akan terus muncul bila tidak dilakukan usaha mitigasi atau pencegahan terhadap konflik tersebut. Oleh karena itu gereja juga harus peduli, dan memiliki peran cukup strategi dalam upaya mitigasi konflik tersebut dengan mengadakan bimbingan pranikah yang khusus membahas relasi mertua dengan menantu. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana menggagas peranan bimbingan pranikah dalam memitigasi konflik antara mertua dan menantu. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dan kajian literatur.  Bimbingan pranikah adalah sebuah layanan yang dilakukan oleh gereja dalam mempersiapkan calon pasangan suami istri yang akan memasuki pernikahan. Bimbingan pranikah memiliki peranan yang cukup penting dalam memitigasi konflik mertua dengan menantu, karena menjadi wadah dalam mempersiapkan calon pasangan suami istri dengan melatih diri mereka menjadi sebuah keluarga, dan juga sebagai sarana untuk belajar manajemen konflik. Dengan belajar manajemen konflik maka saat pasangan suami istri akan mampu dengan bijaksana menyelesaikan konflik. Selain itu, setiap pasangan suami istri juga mampu untuk mempunyai sikap berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan.
Mengikis Sikap Superioritas Beragama untuk Mencapai Persatuan Indonesia Kaleb Ginting; Simon Simon
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.76

Abstract

Abstract: This paper was elaborated by the researchers because in fact there are individuals who practice religion by showing their superior attitude that their belief is more correct or they are much better than others and this is characterized by an arbitrary attitude towards other religions. This paper used a qualitative method with a literature approach. Through this writing topic, the author described about eroding the attitude of superiority as a form of the practice of Pancasila in the principle of "Unity of Indonesia". It can be concluded from the results of the description on this topic that to erode the attitude of superiority in practicing the principle of the “Unity of Indonesia” and the norms contained therein, what needs to be done as an Indonesian society is to implement the religious values in unity as mandated by Pancasila and believers must also exhibit behavior and attitudes in accordance to unity and harmony so as to build the value of togetherness in line with the content contained in  the points and values of Pancasila.Abstrak: Tulisan ini diuraikan oleh peneliti karena melihat secara faktual adanya oknum-oknum menjalankan agamanya dengan menunjukkan bahwa sikap Superioritas dalam beragama dimana keyakinannya lebih benar atau sikap perasaan lebih segalanya dari orang lain dan ini ditandai oleh sikap sewenang-wenang terhadap agama lain. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan literatur. Melalui topik penulisan ini penulis mendeskripsikan tentang mengikis sikap superioritas sebagai ujut dalam pengamalan Pancasila dalam sila “Persatuan Indonesia”. Dapat disimpulkan dari hasil uraian pada topik ini bahwa untuk mengikis sikap superioritas dalam mengamalkan sila Persatuan Indonesia dan norma yang terkandung di dalamnya maka yang perlu dilakukan sebagai masyarat Indonesia mengimplementasikan nilai agamanya dalam persatuan sebagaimana mandat pancasila dan orang percaya juga harus mengejawantahkan perilaku dan sikap tentang persatuan dan kerukunan sehingga dapat membangun nilai kebersamaan yang selaras dengan muatan yang terkandung dalam butir-butir dan nilai-nilai ajar Pancasila.

Page 4 of 11 | Total Record : 109