cover
Contact Name
Jefrie Walean
Contact Email
jefrywalean@gmail.com
Phone
+6281326764982
Journal Mail Official
jefrywalean@gmail.com
Editorial Address
Jl. Towua No.80, Tatura Sel., Kec. Palu Sel., Kota Palu, Sulawesi Tengah 94111
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Salvation
ISSN : -     EISSN : 2623193X     DOI : https://doi.org/10.56175/salvation
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Salvation adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Bala Keselamatan Palu, dua kali dalam setahun (Bulan Januari dan Bulan Juli). Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam jurnal ini adalah tulisan dari berbagai penulis yang memiliki perspektif yang berbeda sehingga apa yang dimuat dalam jurnal ini tidak mewakili pandangan institusi STT Bala Keselamatan Palu. Jurnal ini bertujuan melengkapi para pelayan Tuhan dalam berbagai bidang pelayanan gereja sehingga dapat menyingkapi permasalahan teologis yang muncul dalam masyarakat. Adapun ruang lingkup dari Jurnal Salvation: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 109 Documents
Reflektif Teologi Digital di Era Pasca Pandemi dan Post-Truth:: Strategi Edukasi Iman dan Kritik terhadap Kultur Digital Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.58

Abstract

Abstract: The rapid development of digital technology, especially in the wake of the Covid-19 pandemic, has prompted churches and theological institutions to adapt their ministry and faith education to the digital space. However, this transformation brings not only opportunities but also serious challenges, particularly in terms of spiritual shallowness, stagnation of faith communities, and the emergence of instant religious consumption models. Concurrently, the post-truth era has given rise to an epistemological crisis, where subjective feelings, relativism, and personal or communal opinions are trusted more than objective truth, including in matters of faith. The flood of hoax content, theological disinformation, and the influence of digital platforms on faith understanding have become key concerns in the dynamics of digital religious life. This study aims to theologically examine the expansion of digital theology in responding to this crisis through strategies of faith education and criticism of digital culture. Using a descriptive qualitative method based on literature review, It can be concluded that the understanding of digital theology as a contextual response in the post-pandemic era is presented as digital faith education within the paradigm shift in theological learning. Despite the post-truth crisis and theological challenges, this serves as a pathway for theological criticism of digital culture to build faith education and digital spirituality. Thus, the church is challenged to be present as light and salt in the digital space as an agent of truth and restoration. Abstrak: Perkembangan teknologi digital yang pesat, terutama pasca-pandemi Covid-19, telah mendorong gereja dan institusi teologi untuk mengadaptasi pelayanan dan pendidikan iman ke dalam ruang digital. Namun, transformasi ini tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan serius, terutama dalam hal pendangkalan spiritualitas, stagnasi komunitas iman, dan munculnya model konsumsi religius yang instan. Bersamaan dengan itu, era post-truth telah melahirkan krisis epistemologis, di mana nilai perasaan subjektif dan relaitiv serta opini persoanal maupun komunal lebih dipercaya daripada kebenaran objektif, termasuk dalam perkara iman. Fenomena membanjirnya konten hoaks, disinformasi teologis, dan pengaruh Flatform digtital terhadap pemahaman iman menjadi perhatian utama dalam dinamika kehidupan beragama digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis ekspansi teologi digital dalam merespons krisis tersebut melalui strategi edukasi iman dan kritik terhadap kultur digital. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka,. Maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman akan teologi digital sebagai respons kontekstual di era pasca-pandemi, dihadirkan sebagai pendidikan iman digital dalam perubahan paradigma pembelajaran teologis. walaupun adanya krisis post-truth dan tantangan teologis menjadi jalan bagi kritik teologis terhadap kultur digital membangun edukasi iman dan spiritualitas digital. Dengan demikian, gereja ditantang untuk hadir secara nyata dalam terang dan garam di ruang digital sebagai agen kebenaran dan pemulihan.
Perkawinan Ulang Pemimpin Gereja:: Analisis Sosio Teologis atas Pendeta Pasca Ditinggal Pasangan Simon, Simon; Anderson, Lindin
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.61

Abstract

Abstract: The focus of this article is the phenomenon of remarriage among church leaders, particularly male and female pastors who have lost their spouses. Although the experience has a significant impact on the personal lives and individual ministries of the pastors, this research is based on the lack of comprehensive studies regarding the socio-theological aspects of that experience. The main research question of this article is, how does the socio-theological context of marriage influence church leadership? This article is written using a qualitative methodology with a multiple-case study. The findings of this article reveal that the remarriage of church leaders often elicits a range of responses from the congregation, from acceptance to rejection. This also affects the social relations and leadership authority of the pastor in the church. Additionally, church leaders face spiritual and emotional pressure when deciding to remarry. Therefore, the church must create more empathetic and inclusive pastoral guidelines to support leaders in the remarriage process while they are in a state of mourning. Furthermore, the church should provide opportunities for theological discussions on this issue. Abstrak: Fokus artikel ini adalah fenomena pernikahan ulang di kalangan pemimpin gereja, khususnya pendeta pria dan wanita yang kehilangan pasangannya. Meskipun pengalaman tersebut memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan pribadi dan pelayanan individu kepada para pendeta, penelitian ini didasarkan pada kurangnya studi komprehensif mengenai aspek sosio-teologis dari pengalaman tersebut. Rumusan pertanyaan utama artikel ini adalah, bagaimana konteks sosio-teologis perkawinan dalam kepemimpinan gereja? Artikel ini ditulis menggunakan metodologi kualitatif dengan studi kasus. Temuan artikel ini mengungkapkan bahwa perkawinan ulang pemimpin gereja sering menimbulkan respons yang beragam dari jemaat, mulai dari menerima hingga menolak. Ini juga memengaruhi relasi sosial dan otoritas kepemimpinan pendeta di gereja. Selain itu, pemimpin gereja menghadapi tekanan spiritual dan emosional saat memutuskan untuk menikah kembali. Oleh sebab itu, gereja harus membuat pedoman pastoral yang lebih empatik dan inklusif untuk mendukung para pemimpin dalam proses perkawinan ulang saat mereka dalam keadaan duka. Selain itu, gereja harus memberikan kesempatan untuk adanya diskusi teologis tentang masalah ini
Membaca Wahyu 1:11-19 sebagai Resistensi Simbolik:: Telaah Hermeneutik dengan pendekatan Sosiologi Pengetahuan Nendissa, Julio Eleazer; Taroreh, Steve Y; Pangaribuan, Rosdinar
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.62

Abstract

Abstract: This paper aims to examine the meaning of John's vision on the Island of Patmos as described in Revelation 1:11-19, using a hermeneutic approach within the theoretical framework of the sociology of knowledge. The methodological approach used is qualitative, exploratory, and interpretative-hermeneutic, integrating a textual reading of the Bible with an analysis of the historical and social context of the time. The findings of this study indicate that John's vision, which depicts Christ in divine glory and authority, can be understood as a symbol of transcendent power that provides comfort, hope, and spiritual legitimacy for a marginalized community. Within the framework of the sociology of knowledge, this text reflects social and theological constructions closely related to power dynamics, the formation of community identity, and forms of symbolic resistance to hegemonic cultural domination. Thus, John's vision can be interpreted as a theological narrative rich in social meaning, uniting spiritual and contextual aspects to strengthen the faith and collective identity of early Christians. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna penglihatan yang dialami oleh Yohanes di Pulau Patmos sebagaimana tercantum dalam Wahyu 1:11–19, dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dalam kerangka teori sosiologi pengetahuan. Pendekatan metodologis yang digunakan bersifat kualitatif eksploratif dan interpretatif-hermeneutik, yang mengintegrasikan pembacaan tekstual Alkitab dengan analisis terhadap konteks historis dan sosial pada masa itu. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa penglihatan Yohanes yang menampilkan Kristus dalam kemuliaan dan otoritas ilahi dapat dipahami sebagai simbol kekuatan transenden yang memberi penghiburan, harapan, serta legitimasi spiritual bagi komunitas yang mengalami marginalisasi. Dalam kerangka sosiologi pengetahuan, teks ini mencerminkan konstruksi sosial dan teologis yang erat kaitannya dengan dinamika kuasa, pembentukan identitas komunitas, dan bentuk resistensi simbolik terhadap dominasi budaya yang hegemonik. Dengan demikian, penglihatan Yohanes dapat ditafsirkan sebagai narasi teologis yang kaya makna sosial, yang menyatukan aspek spiritual dan kontekstual demi memperkokoh iman dan identitas kolektif umat Kristen mula-mula.
Musik Gamelan di dalam Kekristenan Jawa yang menjadi Paradoks Graha, Dwi Rendra
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.63

Abstract

Abstract: Gamelan, as an integral part of Javanese cultural heritage imbued with philosophical and spiritual meaning, is often perceived as at odds with the universal principles of Christianity. However, in the context of Javanese Christianity, gamelan has been adapted and utilized as a liturgical instrument and a means of strengthening the religio-cultural identity of the community. This creates an interesting tension between local traditions and the teachings of the Christian faith. This paper aims to explore the role of gamelan in Christian practice among Javanese people, while also examining the dynamics of acceptance, resistance, and transformation processes that occur within the Javanese Christian community. Using a qualitative approach based on literature, this study finds that gamelan is not merely understood as a musical instrument, but also as a medium of inculturation that enriches Christian spiritual expression without abandoning its Javanese cultural roots. In conclusion, the integration of gamelan in Javanese Christian practice reflects the complexity of the interaction between religion and culture and demonstrates how the local context can engage in creative dialogue with the faith. Abstrak: Gamelan, sebagai bagian integral dari warisan budaya Jawa yang sarat dengan makna filosofis dan spiritual, kerap dipersepsikan berseberangan dengan prinsip-prinsip universal Kekristenan. Namun, dalam konteks Kekristenan Jawa, gamelan justru mengalami adaptasi dan difungsikan sebagai sarana liturgis serta penguatan identitas religio-kultural umat. Hal ini menciptakan suatu ketegangan yang menarik antara tradisi lokal dan ajaran iman Kristen. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran gamelan dalam praktik kekristenan di kalangan masyarakat Jawa, sekaligus menelaah dinamika penerimaan, resistensi, dan proses transformasi yang terjadi di dalam komunitas Kristen Jawa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menemukan bahwa gamelan tidak sekadar dipahami sebagai instrumen musik, tetapi juga sebagai medium inkulturasi yang memperkaya ekspresi spiritual Kristen tanpa menanggalkan akar kebudayaan Jawa. Kesimpulannya, integrasi gamelan dalam praktik Kekristenan Jawa mencerminkan kerumitan interaksi antara agama dan budaya, serta menunjukkan bagaimana konteks lokal mampu berdialog secara kreatif dengan iman yang dianut.
Manajemen Konflik dalam Komunitas Sel di Gereja Lokal: Upaya Gembala dalam Membangun Pastoral Sehat Momongan, Jefri; Arifianto, Yonatan Alex; Boiliu, Esti Regina
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i2.65

Abstract

Abstract: Conflict management within cell groups in local churches is an important aspect of maintaining the quality of congregational development, especially when relational dynamics give rise to tensions that can hinder spiritual growth. Conflicts arising from differences in character, communication patterns, or theological understanding often develop into latent problems if not managed through an appropriate pastoral approach. In addition, the lack of cell leadership capacity to anticipate and handle conflicts often worsens the congregation's overall pastoral condition. The phenomenon of increasing hidden conflicts in cell communities shows that the pastoral mentoring structure is not yet fully capable of responding to the complexity of inter-member relationships. This study aims to analyse the role of pastors in implementing constructive conflict management to foster a healthy pastoral culture within the local church. The research method used is a qualitative study, so it can be concluded that the active involvement of pastors as pastoral mediators is able to create a safe space for dialogue for relationship restoration. In addition, the application of theological principles regarding reconciliation strengthens the effectiveness of conflict management in cell communities. This study also emphasises that the development of cell group leaders through a systematic pastoral approach is an important factor in building a healthy and sustainable church ecosystem. Abstrak: Manajemen konflik dalam komunitas sel di gereja lokal merupakan aspek penting dalam menjaga kualitas pembinaan jemaat, terutama ketika dinamika relasional memunculkan ketegangan yang dapat menghambat pertumbuhan rohani. Konflik yang muncul akibat perbedaan karakter, pola komunikasi, maupun pemahaman teologis sering kali berkembang menjadi persoalan laten apabila tidak dikelola melalui pendekatan pastoral yang tepat. Selain itu, kurangnya kapasitas kepemimpinan sel dalam mengantisipasi dan menangani konflik kerap memperburuk kondisi pastoral jemaat secara keseluruhan. Fenomena meningkatnya konflik tersembunyi dalam komunitas sel menunjukkan bahwa struktur pendampingan pastoral belum sepenuhnya mampu merespons kompleksitas relasi antaranggota. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gembala dalam menerapkan manajemen konflik yang konstruktif guna membangun budaya pastoral yang sehat di lingkungan gereja lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif, maka dapat disimpulkan bahwa keterlibatan aktif gembala sebagai mediator pastoral mampu menciptakan ruang dialog yang aman bagi pemulihan relasi. Selain itu, penerapan prinsip teologis mengenai rekonsiliasi memperkuat efektivitas manajemen konflik dalam komunitas sel. Penelitian ini juga menegaskan bahwa pembinaan pemimpin sel melalui pendekatan pastoral yang sistematis menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem gereja yang sehat dan berkelanjutan.
Melawan Intoleransi di Indonesia: Studi Komparatif Lukas 10:25-37 dan Sila Pertama Pancasila dari Perspektif Kristen Reynaldi Indi Joshua Christian; Makalao Sean Cornery Mikhael; Richelle Maqdalene Sayudha; Prita Patricia Harefa
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i2.67

Abstract

Abstract: The issue of intolerance remains a frequent problem in Indonesia, especially among communities with diverse religions and cultures. This article aims to discuss how Christians can play a role in combating intolerance by examining the story of the Good Samaritan in Luke 10:25–37 and the first principle of Pancasila, Belief in One God. Through Jesus' parable, we are taught that true love knows no boundaries of religion, ethnicity, or social status. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the values contained in Luke 10:25-37 are in line with the meaning of the first principle, which emphasises the recognition of the One God and respect for fellow believers. By looking at these shared values, this article affirms that the Christian faith is called to manifest God's love in concrete actions that reject intolerance and build a harmonious, just, and peaceful life together in Indonesia. The first principle of Pancasila and the parable of the Good Samaritan both reinforce the values of love and rejection of intolerance, but the first principle of Pancasila functions as a juridical-moral foundation of divine ethics in a pluralistic nation, while Luke 10:25–37 is rooted in a personal, relational, and sacrificial call to faith, so that the two complement each other in shaping a civilised communal life. Abstrak: Masalah intoleransi masih menjadi persoalan yang sering muncul di Indonesia, terutama di tengah masyarakat yang beragam agama dan budaya. Artikel ini bertujuan untuk membahas bagaimana umat Kristen dapat berperan dalam melawan sikap intoleransi dengan meninjau kisah Orang Samaria yang Baik Hati dalam Lukas 10:25–37 dan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Melalui perumpamaan Yesus, diajarkan bahwa kasih sejati tidak mengenal batas perbedaan agama, suku, atau status sosial. menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa nilai yang terkandung dalam Lukas 10:25-37 ini sejalan dengan makna sila pertama yang menekankan pengakuan akan Tuhan yang Esa dan penghormatan terhadap sesama umat beragama. Dengan melihat kesamaan nilai tersebut, artikel ini menegaskan bahwa iman Kristen dipanggil untuk mewujudkan kasih Allah secara nyata dalam tindakan yang menolak intoleransi serta membangun kehidupan bersama yang rukun, adil, dan damai di Indonesia. Sila Pertama Pancasila dan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati sama-sama meneguhkan nilai kasih dan penolakan terhadap intoleransi, namun dalam sila Pancaila pertama berfungsi sebagai landasan etika ketuhanan yang yuridis-moral dalam kehidupan berbangsa yang plural, sedangkan Lukas 10:25–37 berakar pada panggilan iman yang personal, relasional, dan berkorban, sehingga keduanya saling melengkapi dalam membentuk kehidupan bersama yang berkeadaban
Ἁγιάζω antara Status dan Proses: Analisis Diskursif Ibrani 10:10 dan Surat-Surat Paulus Sunkudon, Pieter G.O.; Lepa, Royke
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i2.70

Abstract

Abstract: This article examines the theological meaning of hagiazō (ἁγιάζω) in Hebrews 10:10 and the Pauline letters through a lexical analysis developed into a discourse-based theological reading of the Greek text. In contrast to approaches that treat sanctification as a systematic or monolithic concept, this study situates the term within the discursive function and theological purpose of each corpus. The analysis demonstrates that in Hebrews 10:10, hagiazō affirms sanctification as a definitive soteriological status grounded in Christ’s once-for-all sacrifice. In the Pauline letters, however, sanctification is articulated contextually and pastorally: as a new orientation of life in Romans, a holy identity shaping communal formation in Corinthians, and an ethical calling rooted in God’s will in Thessalonians. This comparison shows that the differences between Hebrews and Paul are complementary rather than contradictory. Sanctification is thus understood as God’s grace, definitively granted in Christ and dynamically actualised in the life of the believing community. Abstrak: Artikel ini mengkaji makna teologis ἁγιάζω (hagiazō) dalam Ibrani 10:10 dan surat-surat Paulus melalui analisis leksikal yang dikembangkan menjadi pembacaan teologis berbasis wacana teks Yunani. Berbeda dari pendekatan yang memperlakukan pengudusan secara sistematik atau monolitik, penelitian ini menempatkan istilah tersebut dalam fungsi diskursif dan tujuan teologis masing-masing korpus. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam Ibrani 10:10, ἁγιάζω menegaskan kekudusan sebagai status soteriologis yang final melalui korban Kristus yang dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya. Sebaliknya, dalam surat-surat Paulus, pengudusan diartikulasikan secara kontekstual dan pastoral: sebagai arah hidup baru dalam Roma, identitas kudus dalam Korintus, dan panggilan etis dalam Tesalonika. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa perbedaan tersebut bersifat komplementer, bukan kontradiktif. Pengudusan dipahami sebagai anugerah Allah yang telah dianugerahkan di dalam Kristus dan diaktualkan secara dinamis dalam kehidupan umat.
Dari Mimbar ke Layar: Livestreaming sebagai Model Pelayanan Digital dalam Transformasi Ibadah Imanuel, Phileo; Eka Putri Lago; Reni Triposa
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i2.71

Abstract

Abstract: The rapid development of digital technology has brought significant changes to church ministry practices, particularly in the conduct of worship services and congregational formation. In this context, livestreaming technology has evolved beyond a temporary or emergency solution and has become an integral part of contemporary church life. The continued use of livestreaming in church worship reflects a paradigm shift in ministry, moving from exclusively physical spaces toward digital spaces. This study aims to analyse livestreaming as a model of digital ministry in transforming worship practices. The research employs a qualitative approach through a literature review. The findings indicate that livestreaming contributes to a redefinition of the meaning of worship and congregational presence within virtual spaces. Furthermore, this practice opens new opportunities for interaction and the formation of broader faith communities, while simultaneously presenting challenges related to relational depth and the quality of spirituality. The novelty of this study lies in its conclusion that post-pandemic churches need to develop reflective and integrative digital ministries, ensuring that technology functions as a means to strengthen the church’s mission and inclusivity without displacing the essence of the Christian faith. Abstrak: Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam praktik pelayanan gereja, khususnya dalam penyelenggaraan ibadah dan pembinaan jemaat. teknologi dalam pelayanan praktik livestreaming tidak berhenti sebagai solusi darurat, melainkan bertransformasi menjadi bagian integral dari kehidupan bergereja. Fenomena berlanjutnya penggunaan livestreaming dalam ibadah gereja menunjukkan adanya pergeseran paradigma pelayanan dari ruang fisik menuju ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis livestreaming sebagai model pelayanan digital dalam mentransformasi praktik ibadah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa livestreaming berkontribusi pada redefinisi makna ibadah dan kehadiran jemaat dalam ruang virtual. Selain itu, praktik ini membuka peluang baru bagi interaksi dan pembentukan komunitas iman yang lebih luas sekaligus menghadirkan tantangan terkait kedalaman relasi dan kualitas spiritualitas. kebaharuan penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja pasca-pandemi perlu mengembangkan pelayanan digital yang reflektif dan integratif agar teknologi berfungsi sebagai sarana yang memperkuat misi dan inklusivitas gereja tanpa menggeser esensi iman Kristen.
Meruntuhkan Tirani, Membangun Pembebasan: Kajian Poskolonial terhadap Matius 2:13-23 dan Relevansinya dalam Realitas Pengungsian Kontemporer Kalundang, Audriano
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i2.72

Abstract

Abstract:  This article discusses the narrative of Jesus' flight to Egypt in Matthew 2:13–23 by placing it within a postcolonial hermeneutical framework and the reality of contemporary displacement. The exile of Joseph, Mary, and the infant Jesus is not merely seen as a theological symbol that fulfils prophecy, but rather seeks to reveal the power relations, agency, and resistance of the subaltern under imperial rule. This study aims to emphasise that the flight in Matthew 2:13–23 represents the strategies of marginalised subjects in facing paranoid and repressive power, and to relate it to the reality of contemporary displacement. This study uses a qualitative method with a postcolonial hermeneutic approach to interpret Matthew 2:13–23. Data were collected through a literature study and text analysis. The results show that the family of Joseph, Mary, and the infant Jesus appear as migrant subjects who have the capacity to read the political situation, make strategic decisions, and develop survival patterns as a form of non-confrontational resistance. These findings challenge the church to revise its pastoral and diaconal paradigm towards refugees and/or subalterns, from objects of pity to theological subjects who bring experiences of faith, hope, and practices of liberation. Abstrak:  Tulisan ini membahas narasi penyingkiran Yesus ke Mesir dalam Matius 2:13–23 dengan menempatkannya dalam kerangka hermeneutik poskolonial dan realitas pengungsian kontemporer. Pengungsian Yusuf, Maria dan Yesus kecil tidak sekadar dilihat sebagai simbol teologis semata yang menggenapi nubuatan namun berusaha menyingkap relasi kuasa, agensi, serta resistensi subaltern di bawah kekuasaan imperial. Tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa pengungsian dalam Matius 2:13-23 merepresentasikan cara dan strategis subjek marginal dalam menghadapi kekuasaan yang paranoid dan represif, serta merelevansikannya dengan realitas pengungsian kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik poskolonial untuk menafsirkan Matius 2:13–23. Data dikumpulkan  melalui studi pustaka dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga Yusuf, Maria dan Yesus kecil tampil sebagai subjek migran yang memiliki kapasitas membaca situasi politik, mengambil keputusan strategis, dan membangun pola bertahan hidup sebagai bentuk resistensi non-konfrontatif. Temuan ini menantang gereja untuk merevisi paradigma pastoral dan diakonianya terhadap pengungsi dan/atau subaltern, dari objek belas kasihan semata menjadi subjek teologis yang membawa pengalaman iman, harapan, dan praksis pembebasan.

Page 11 of 11 | Total Record : 109