cover
Contact Name
Jefrie Walean
Contact Email
jefrywalean@gmail.com
Phone
+6281326764982
Journal Mail Official
jefrywalean@gmail.com
Editorial Address
Jl. Towua No.80, Tatura Sel., Kec. Palu Sel., Kota Palu, Sulawesi Tengah 94111
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Salvation
ISSN : -     EISSN : 2623193X     DOI : https://doi.org/10.56175/salvation
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Salvation adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Bala Keselamatan Palu, dua kali dalam setahun (Bulan Januari dan Bulan Juli). Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam jurnal ini adalah tulisan dari berbagai penulis yang memiliki perspektif yang berbeda sehingga apa yang dimuat dalam jurnal ini tidak mewakili pandangan institusi STT Bala Keselamatan Palu. Jurnal ini bertujuan melengkapi para pelayan Tuhan dalam berbagai bidang pelayanan gereja sehingga dapat menyingkapi permasalahan teologis yang muncul dalam masyarakat. Adapun ruang lingkup dari Jurnal Salvation: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 104 Documents
Reflektif Teologi Digital di Era Pasca Pandemi dan Post-Truth:: Strategi Edukasi Iman dan Kritik terhadap Kultur Digital Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.58

Abstract

Abstract: The rapid development of digital technology, especially in the wake of the Covid-19 pandemic, has prompted churches and theological institutions to adapt their ministry and faith education to the digital space. However, this transformation brings not only opportunities but also serious challenges, particularly in terms of spiritual shallowness, stagnation of faith communities, and the emergence of instant religious consumption models. Concurrently, the post-truth era has given rise to an epistemological crisis, where subjective feelings, relativism, and personal or communal opinions are trusted more than objective truth, including in matters of faith. The flood of hoax content, theological disinformation, and the influence of digital platforms on faith understanding have become key concerns in the dynamics of digital religious life. This study aims to theologically examine the expansion of digital theology in responding to this crisis through strategies of faith education and criticism of digital culture. Using a descriptive qualitative method based on literature review, It can be concluded that the understanding of digital theology as a contextual response in the post-pandemic era is presented as digital faith education within the paradigm shift in theological learning. Despite the post-truth crisis and theological challenges, this serves as a pathway for theological criticism of digital culture to build faith education and digital spirituality. Thus, the church is challenged to be present as light and salt in the digital space as an agent of truth and restoration. Abstrak: Perkembangan teknologi digital yang pesat, terutama pasca-pandemi Covid-19, telah mendorong gereja dan institusi teologi untuk mengadaptasi pelayanan dan pendidikan iman ke dalam ruang digital. Namun, transformasi ini tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan serius, terutama dalam hal pendangkalan spiritualitas, stagnasi komunitas iman, dan munculnya model konsumsi religius yang instan. Bersamaan dengan itu, era post-truth telah melahirkan krisis epistemologis, di mana nilai perasaan subjektif dan relaitiv serta opini persoanal maupun komunal lebih dipercaya daripada kebenaran objektif, termasuk dalam perkara iman. Fenomena membanjirnya konten hoaks, disinformasi teologis, dan pengaruh Flatform digtital terhadap pemahaman iman menjadi perhatian utama dalam dinamika kehidupan beragama digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis ekspansi teologi digital dalam merespons krisis tersebut melalui strategi edukasi iman dan kritik terhadap kultur digital. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka,. Maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman akan teologi digital sebagai respons kontekstual di era pasca-pandemi, dihadirkan sebagai pendidikan iman digital dalam perubahan paradigma pembelajaran teologis. walaupun adanya krisis post-truth dan tantangan teologis menjadi jalan bagi kritik teologis terhadap kultur digital membangun edukasi iman dan spiritualitas digital. Dengan demikian, gereja ditantang untuk hadir secara nyata dalam terang dan garam di ruang digital sebagai agen kebenaran dan pemulihan.
Perkawinan Ulang Pemimpin Gereja:: Analisis Sosio Teologis atas Pendeta Pasca Ditinggal Pasangan Simon, Simon; Anderson, Lindin
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.61

Abstract

Abstract: The focus of this article is the phenomenon of remarriage among church leaders, particularly male and female pastors who have lost their spouses. Although the experience has a significant impact on the personal lives and individual ministries of the pastors, this research is based on the lack of comprehensive studies regarding the socio-theological aspects of that experience. The main research question of this article is, how does the socio-theological context of marriage influence church leadership? This article is written using a qualitative methodology with a multiple-case study. The findings of this article reveal that the remarriage of church leaders often elicits a range of responses from the congregation, from acceptance to rejection. This also affects the social relations and leadership authority of the pastor in the church. Additionally, church leaders face spiritual and emotional pressure when deciding to remarry. Therefore, the church must create more empathetic and inclusive pastoral guidelines to support leaders in the remarriage process while they are in a state of mourning. Furthermore, the church should provide opportunities for theological discussions on this issue. Abstrak: Fokus artikel ini adalah fenomena pernikahan ulang di kalangan pemimpin gereja, khususnya pendeta pria dan wanita yang kehilangan pasangannya. Meskipun pengalaman tersebut memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan pribadi dan pelayanan individu kepada para pendeta, penelitian ini didasarkan pada kurangnya studi komprehensif mengenai aspek sosio-teologis dari pengalaman tersebut. Rumusan pertanyaan utama artikel ini adalah, bagaimana konteks sosio-teologis perkawinan dalam kepemimpinan gereja? Artikel ini ditulis menggunakan metodologi kualitatif dengan studi kasus. Temuan artikel ini mengungkapkan bahwa perkawinan ulang pemimpin gereja sering menimbulkan respons yang beragam dari jemaat, mulai dari menerima hingga menolak. Ini juga memengaruhi relasi sosial dan otoritas kepemimpinan pendeta di gereja. Selain itu, pemimpin gereja menghadapi tekanan spiritual dan emosional saat memutuskan untuk menikah kembali. Oleh sebab itu, gereja harus membuat pedoman pastoral yang lebih empatik dan inklusif untuk mendukung para pemimpin dalam proses perkawinan ulang saat mereka dalam keadaan duka. Selain itu, gereja harus memberikan kesempatan untuk adanya diskusi teologis tentang masalah ini
Membaca Wahyu 1:11-19 sebagai Resistensi Simbolik:: Telaah Hermeneutik dengan pendekatan Sosiologi Pengetahuan Nendissa, Julio Eleazer; Taroreh, Steve Y; Pangaribuan, Rosdinar
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.62

Abstract

Abstract: This paper aims to examine the meaning of John's vision on the Island of Patmos as described in Revelation 1:11-19, using a hermeneutic approach within the theoretical framework of the sociology of knowledge. The methodological approach used is qualitative, exploratory, and interpretative-hermeneutic, integrating a textual reading of the Bible with an analysis of the historical and social context of the time. The findings of this study indicate that John's vision, which depicts Christ in divine glory and authority, can be understood as a symbol of transcendent power that provides comfort, hope, and spiritual legitimacy for a marginalized community. Within the framework of the sociology of knowledge, this text reflects social and theological constructions closely related to power dynamics, the formation of community identity, and forms of symbolic resistance to hegemonic cultural domination. Thus, John's vision can be interpreted as a theological narrative rich in social meaning, uniting spiritual and contextual aspects to strengthen the faith and collective identity of early Christians. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna penglihatan yang dialami oleh Yohanes di Pulau Patmos sebagaimana tercantum dalam Wahyu 1:11–19, dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dalam kerangka teori sosiologi pengetahuan. Pendekatan metodologis yang digunakan bersifat kualitatif eksploratif dan interpretatif-hermeneutik, yang mengintegrasikan pembacaan tekstual Alkitab dengan analisis terhadap konteks historis dan sosial pada masa itu. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa penglihatan Yohanes yang menampilkan Kristus dalam kemuliaan dan otoritas ilahi dapat dipahami sebagai simbol kekuatan transenden yang memberi penghiburan, harapan, serta legitimasi spiritual bagi komunitas yang mengalami marginalisasi. Dalam kerangka sosiologi pengetahuan, teks ini mencerminkan konstruksi sosial dan teologis yang erat kaitannya dengan dinamika kuasa, pembentukan identitas komunitas, dan bentuk resistensi simbolik terhadap dominasi budaya yang hegemonik. Dengan demikian, penglihatan Yohanes dapat ditafsirkan sebagai narasi teologis yang kaya makna sosial, yang menyatukan aspek spiritual dan kontekstual demi memperkokoh iman dan identitas kolektif umat Kristen mula-mula.
Musik Gamelan di dalam Kekristenan Jawa yang menjadi Paradoks Graha, Dwi Rendra
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.63

Abstract

Abstract: Gamelan, as an integral part of Javanese cultural heritage imbued with philosophical and spiritual meaning, is often perceived as at odds with the universal principles of Christianity. However, in the context of Javanese Christianity, gamelan has been adapted and utilized as a liturgical instrument and a means of strengthening the religio-cultural identity of the community. This creates an interesting tension between local traditions and the teachings of the Christian faith. This paper aims to explore the role of gamelan in Christian practice among Javanese people, while also examining the dynamics of acceptance, resistance, and transformation processes that occur within the Javanese Christian community. Using a qualitative approach based on literature, this study finds that gamelan is not merely understood as a musical instrument, but also as a medium of inculturation that enriches Christian spiritual expression without abandoning its Javanese cultural roots. In conclusion, the integration of gamelan in Javanese Christian practice reflects the complexity of the interaction between religion and culture and demonstrates how the local context can engage in creative dialogue with the faith. Abstrak: Gamelan, sebagai bagian integral dari warisan budaya Jawa yang sarat dengan makna filosofis dan spiritual, kerap dipersepsikan berseberangan dengan prinsip-prinsip universal Kekristenan. Namun, dalam konteks Kekristenan Jawa, gamelan justru mengalami adaptasi dan difungsikan sebagai sarana liturgis serta penguatan identitas religio-kultural umat. Hal ini menciptakan suatu ketegangan yang menarik antara tradisi lokal dan ajaran iman Kristen. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran gamelan dalam praktik kekristenan di kalangan masyarakat Jawa, sekaligus menelaah dinamika penerimaan, resistensi, dan proses transformasi yang terjadi di dalam komunitas Kristen Jawa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menemukan bahwa gamelan tidak sekadar dipahami sebagai instrumen musik, tetapi juga sebagai medium inkulturasi yang memperkaya ekspresi spiritual Kristen tanpa menanggalkan akar kebudayaan Jawa. Kesimpulannya, integrasi gamelan dalam praktik Kekristenan Jawa mencerminkan kerumitan interaksi antara agama dan budaya, serta menunjukkan bagaimana konteks lokal mampu berdialog secara kreatif dengan iman yang dianut.

Page 11 of 11 | Total Record : 104