cover
Contact Name
Jefrie Walean
Contact Email
jefrywalean@gmail.com
Phone
+6281326764982
Journal Mail Official
jefrywalean@gmail.com
Editorial Address
Jl. Towua No.80, Tatura Sel., Kec. Palu Sel., Kota Palu, Sulawesi Tengah 94111
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Salvation
ISSN : -     EISSN : 2623193X     DOI : https://doi.org/10.56175/salvation
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Salvation adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Bala Keselamatan Palu, dua kali dalam setahun (Bulan Januari dan Bulan Juli). Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam jurnal ini adalah tulisan dari berbagai penulis yang memiliki perspektif yang berbeda sehingga apa yang dimuat dalam jurnal ini tidak mewakili pandangan institusi STT Bala Keselamatan Palu. Jurnal ini bertujuan melengkapi para pelayan Tuhan dalam berbagai bidang pelayanan gereja sehingga dapat menyingkapi permasalahan teologis yang muncul dalam masyarakat. Adapun ruang lingkup dari Jurnal Salvation: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 109 Documents
Menuju Equilibrium: Pengintegrasian Makna Teologis pada Budaya Madundum Banua Ryanto Adilang; Junaydi Jufriadi Lempoy; Tifany Fergie Tombokan; Jekson Berdame; David Rade Manat Simanjuntak
Jurnal Salvation Vol. 2 No. 2 (2022): Januari 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Madandum Banua is a culture carried out by the people of Dapihe Village, Talaud Islands Regency, which aims to expel riwu (seasonal diseases) or things that are considered odd by the local community through a ritual led by Ratumbanua or Inangguwanua on a large rock called Batu Tarenggo or Watum'barian. The existence of Christianity in Talaud Islands Regency as the majority religion is slowly starting to displace the existence of Madandum Banua. The labeling of syncretism towards the implementation of this culture certainly makes the congregation start to be reluctant and feel afraid in reflecting and implementing this culture. On the other hand, the government continues to encourage people who are also members of the congregation to preserve the culture of Madandum Banua by providing subsidies and establishing traditional groups. This situation shows that there is a struggle and clash of values between Christianity and the culture of Madandum Banua, which makes congregation members feel confused and in a dilemma. Through this paper, burapaya researchers seek common ground or balance (equilibrium) between the two values, namely by integrating theological meaning into the culture of Madandum Banua. The contextual theology approach of the translation model is used as an entry point in understanding the culture of Madandum Banua and interpreting theological values in that culture, so that the integration process can take place in a balanced way. In the end, it is hoped that writing will be an alternative for congregation members in responding to the circumstances experienced when practicing and preserving the madundum banua culture in accordance with government recommendations and avoiding the stigmatization of syncretism produced by the church. Abstrak: Madandum Banua merupakan budaya yang dilakukan masyarakat desa Dapihe Kabupaten Kepulauan Talaud yang bertujuan untuk mengusir riwu (penyakit musim) atau hal-hal yang dianggap janggal oleh masyarakat setempat melalui ritual yang dipimpin oleh Ratumbanua atau Inangguwanua di sebuah batu besar yang di sebut dengan batu Tarenggo atau Watum’barian. Keberadaan kekristenan di Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai agama mayoritas secara perlahan mulai menggusur eksistensi Madandum Banua. Pelebelan sinkretisme terhadap pelaksanaan budaya ini tentunya membuat jemaat mulai enggan dan merasa takut dalam merefleksikan dan melaksnakan budaya ini. Di sisi lain, pihak pemerintah terus mendorong masyarakat yang sekaligus anggota jemaat untuk melestarikan budaya Madandum Banua dengan memberikan subsidi dan pendirian kelompok adat. Keadaan ini menunjukan adanya pertarungan dan benturan nilai antara kekristanan dan budaya Madandum Banua sehingga membuat anggota jemaat merasa binggung serta dilematis. Melalui tulisan ini, peneliti burapaya mencari titik temu atau kesimbangan (equilibrium) antar kedua nilai tersbut yaitu dengan cara mengintegrasikan makna teologi pada budaya Madandum Banua. Pendekatan teologi kontekstual model terjemahan digunakan sebagai pintu masuk dalam memahami budaya Madandum Banua dan memaknai nilai teologis pada budaya tersebut, sehingga proses integrasi dapat berlangsung dengan seimbang. Pada akhirnya tulisan diharapkan mampu menjadi alternatif bagi anggota jemaat dalam merespon keadaan yang dialami ketika mempraktikan dan melestarikan budaya madundum banua sesuai dengan anjuran pemerintah dan terhindar dari stikmatisasi sinkretisme yang diproduksi oleh gereja.
Menelisik Dampak Estetika dalam Pemberitaan Firman terhadap Spiritualitas Jemaat di Era Post Truth Natalia Elvrita; Ruwi Hastuti
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.80

Abstract

Abstract: Preaching the Word should accommodate three main areas, namely truth, goodness, and beauty. This study aims to explain empirically the influence of the aesthetic dimension in preaching the word to the congregation of the Central Kalimantan I Assemblies of God Church in the post truth era. The method used in this study is a quantitative method with a questionnaire approach and literature review. This article discusses Christian spirituality, preaching the word in the post truth era and the impact of the aesthetic dimension in preaching the word on Christian spirituality, specifically in relation to God, oneself, others and nature. Based on the results of the research in this article, it was found that the high aesthetic dimension in preaching the word in the post truth era resulted in low congregational spirituality. The congregation does not experience spiritual growth when the word delivered is based on the subjectivity of the preacher of the word Abstrak: Pemberitaan Firman seharusnya mengakomodir tiga area utama yaitu kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan secara empiris mengenai pengaruh dimensi estetika dalam pemberitaan firman terhadap jemaat Gereja Sidang Jemaat Allah Kalimantan Tengah I di era post truth. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan kuesioner dan kajian literatur. Artikel ini membahas tentang spiritualitas Kristiani, pemberitaan Firman di era post truth dan dampak yang ditimbulkan dari dimensi estetik dalam pemberitaan firman terhadap spiritualitas Kristiani, secara khusus dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain dan alam. Berdasarkan hasil penelitian dalam artikel ini ditemukan bahwa tingginya dimensi estetik dalam pemberitaan firman di era post truth menghasilkan spiritualitas jemaat yang rendah. Jemaat tidak mengalami pertumbuhan secara spiritual ketika firman yang disampaikan bersumber pada subyektivitas dari pemberita firman tersebut.
Membingkai Aplikasi Praktis Integritas Gembala Sidang dalam Menjalankan Pelayanan Berdasarkan Efesus 4:1-13 Yunus Kiding
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.81

Abstract

Abstract: Indeed integrity is a very important character quality and should be owned by every leader, a life that is not reproached and there is no conflict between words and deeds. Someone who feels called to be the pastor of the congregation, should maintain his integrity properly because the pastor is the leader of the local church where God has placed him. The purpose of this research article is to frame the practical application of the pastor's integrity in carrying out services based on Ephesians 4:1-13 in the Assemblies of God Regional Management Board 1 in Central Kalimantan. The methods that the researchers chose in working on this article were descriptions, interviews and literature review. This article discusses the importance of integrity for leaders, the integrity of the shepherd in the description of Ephesians 4, and its application to Assemblies of God Regional Management Board 1 ministries in Central Kalimantan. It was concluded that pastors need to understand the importance of integrity and be able to apply integrity to themselves, their families, the church, and social life. Abstrak: Sejatinya integritas merupakan kualitas karakter yang sangat penting dan seharusnya dimiliki oleh setiap pemimpin, Integritas merupakan suatu kehidupan yang tidak bercela dan tidak adanya pertentangan antara perkataan dan perbuatan. Seseorang yang merasa terpanggil menjadi gembala sidang, seharusnya menjaga integritasnya dengan baik karena gembala sidang merupakan pemimpin gereja lokal di mana ia Tuhan tempatkan. Adapun tujuan dari penelitian artikel ini ingin membingkai aplikasi praktis integritas gembala sidang dalam menjalankan pelayanan berdasarkan Efesus 4:1-13 di kalangan gereja GSJA BPD 1 Kalimantan Tengah. Metode yang peneliti pilih dalam mengerjakan artikel ini adalah deskripsi, wawancara dan kajian literatur. Artikel ini membahas tentang arti penting integritas bagi pemimpin, integritas gembala dalam gambaran efesus 4, dan aplikasinya di pelayanan GSJA BPD 1 Kalimantan Tengah. Disimpulkan bahwa para gembala sidang perlu memahami pentingnya integritas dan mampu mengamplikasikan Integritas pada diri sendiri, keluarga, gereja, dan kehidupan bermasyarakat.
Upacara Ngaben ditinjau dalam Perspektif Iman Kristen Ayub Pangga Lewu; Tjiong Eric Cahyadi; Auw Tammy Yulianto; Simon Simon
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.82

Abstract

Abstract: Bali Island is a famous island in the world. Besides being famous for its beautiful tourist attractions, the island is also famous for a unique ceremony called ngaben or the burning of corpses as a path taken by the Hindu people to reach the heaven or in Hindu spiritual terms called Moksa. The implementation of ngaben ceremony goes through a long process and requires high cost. The purpose of this writing was to equip evangelists who would carry out missions to Hindus. With an understanding of heaven from a Hindu perspective, evangelists could design the right mission strategy. The research in this paper used a qualitative descriptive method to get a comprehensive exposure. The literature study approach was also used by using library sources, such as books, journals and articles. The results showed that there was a religious concept to get eternal salvation after death. This research aimed to help the mediator who wanted to carry out God's mission to realize the religious meaning contained in the ngaben ceremony. This research suggested that it was important for a servant of God as an agent of God's mission on earth to understand this fundamental concept. Abstrak: Pulau Bali merupakan pulau yang terkenal di seluruh dunia. Disamping terkenal akan obyek wisatanya yang indah, pulau ini juga terkenal dengan sebuah upacara yang unik yaitu upacara Ngaben atau pembakaran mayat sebagai jalan yang ditempuh umat Hindu untuk mendapatkan sorga atau di dalam istilah kerohanian Hindu disebut “Moksa”. Pelaksanaan upacara ngaben melalui proses yang panjang dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Tujuan penulisan ini adalah membekali penginjil yang akan melaksanakan misi kepada umat Hindhu. Dengan pemahaman akan sorga dari perspektif Hindhu maka penginjil dapat merancang strategi misi yang tepat. Penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendapatkan pemaparan secara komprehensif. Pendekatan studi Pustaka juga digunakan dengan menggunakan sumber-sumber Pustaka dari buku, jurnal dan artikel. Hasil penelitian menunjukkan adanya konsep religius yang bermakna keselamatan kekal setelah kematian. Penelitian ini bermaksud membantu seorang pelaksana misi Allah agar memahami makna religius yang terkandung di dalam upacara ngaben. Penelitian ini menyarankan pentingnya seorang hamba Tuhan sebagai agen misi Allah di bumi memahami konsep fundamental ini.
Implikasi Aliran Filsafat Idealisme terhadap Praksis Pendidikan Agama Kristen Go Heeng; Remegises Danial Yohanis Pandie; Yunardi Kristian Zega
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.85

Abstract

Abstract: Philosophy of idealism in the praxis of Christian religious education focuses on developing spiritual awareness, building a relationship with God and strengthening basic religious values. Idealism also emphasizes the importance of recognizing the truth and understanding the essence of human existence. This can help in forming a positive mindset, making good decisions, and acting with integrity and responsibility. However, in practice not many understand the concept of philosophy of idealism, so that the practice of Christian religious education often ignores philosophical concepts that contribute to the process of improving Christian religious education itself. The method used in this research is literature study. The results of the study show that there are implications of the philosophy of idealism in the praxis of Christian religious education, namely the importance of understanding religious concepts, focusing on developing individual potential, prioritizing the learning process and prioritizing personal experience. Thus, the philosophy of idealism can be applied in the practice of Christian religious education by paying attention to spiritual values, character education, holistic education, and inclusive education. Abstrak: Filsafat idealisme dalam praksis pendidikan agama Kristen fokus pada pengembangan kesadaran spiritual, membangun hubungan dengan Tuhan dan memperkuat nilai-nilai agama yang mendasar. Idealisme juga menekankan pada pentingnya mengenali kebenaran dan memahami esensi keberadaan manusia. Hal ini dapat membantu dalam membentuk pola pikir yang positif, membuat keputusan yang baik, dan bertindak dengan integritas serta tanggung jawab. Namun, dalam praktiknya belum banyak yang memahami konsep filsafat idealisme, sehingga praksis pendidikan agama Kristen sering kali mengabaikan konsep-konsep filsafat yang punya sumbangsih bagi proses perbaikan pendidikan agama Kristen itu sendiri. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat implikasi filsafat idealisme dalam praksis pendidikan agama Kristen yaitu pentingnya pemahaman konsep-konsep keagamaan, fokus pada pengembangan potensi individu, mengutamakan proses belajar dan mengutamakan pengalaman pribadi. Dengan demikian, filsafat idealisme dapat diterapkan dalam praksis pendidikan agama Kristen dengan memperhatikan nilai-nilai spiritual, pendidikan karakter, pendidikan holistik, dan pendidikan inklusif.
Perspektif Suatu Analisis Kritis terhadap LGBT dengan Perspektif Kekristenan Eka Putri Jayanti
Jurnal Salvation Vol. 3 No. 2 (2023): Januari 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v3i2.97

Abstract

Abstract: LBGT is an issue that continues to cause a lot of controversy to this day and as time goes by it is no longer an issue but a phenomenon, the church or Christianity has the responsibility to answer all issues on how to act based on the truth of God's Word. Based on this, in this paper the author wants to look at the perspective regarding LGBT from the perspective of the Bible and Christianity itself, while the method used is books, journals and Bible studies which are the basis of the writing. The results obtained from the study are: LGBT is an abomination to God, this is absolute Christianity firmly rejects LGBT and rejects same-sex marriage, but God's grace is open to all sinful human beings. God Jesus loves every sinner, so the church, Christians must see LGBT as brothers in need help, Christianity rejects all forms of violence, oppression and even phobia of LGBT, like Christ as a Shepherd who always cares for his sheep, so the church, Christ's education and Christian families care for those who are entangled with LGBT. This study uses the method of literature or literature study. Abstrak LBGT menjadi isu yang sampai saat ini terus menimbulkan banyak sekali pertentangan dan seiring perkembangan zaman hal tersebut bukan lagi menjadi sebuah isu tetapi fenomena, gereja atau kekristenan memiliki tanggung jawab untuk menjawab semua isu bagaimana seharusnya bertindak berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Berdasarkan hal tersebut, dalam tulisan ini penulis ingin melihat sudut pandang menyangkut LGBT dalam pandangan alkitab dan kekristenan itu sendiri, adapun metode yang pergunakan ialah, kajian-kajian buku, jurnal dan Alkitab yang mendasarkan penulisan. Hasil yang didapatkan dari kajian tersebut ialah:. LGBT adalah bentuk kekejian bagi Tuhan, hal ini absolut kekristenan dengan tegas menolak LGBT dan menolak pernikahan sejenis, tetapi kasih karunia Tuhan terbuka untuk semua manusia yang berdosa Tuhan Yesus mengasihi setiap orang berdosa maka gereja, orang-orang Kristen harus melihat LGBT sebagai saudara yang membutuhkan pertolongan, kekristenan menolak segala bentuk kekerasan, penindasan bahkan phobia terhadap LGBT, seperti Kristus sebagai Gembala yang selalu peduli domba-dombanya, demikianlah gereja, pendidikan Kristus dan Keluarga Kristen peduli dengan mereka yang terjerat dengan LGBT. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan atau studi literatur.
Literasi Agama Melalui Media Sosial dan Dampaknya Pada Anak Muda Kristen Damacus Wisnu Kristanto; Andrias Pujiono
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.103

Abstract

Abstract: The influence of social media is enormous in the lives of modern humans, including young Christians. Social media can be both a medium and a source of learning, so it needs to be used optimally in the context of religious literacy. With content specifically designed to increase understanding and behavior that are in line with Christian faith, social media will be able to become a medium and learning resource that contributes to increasing Christian youth's religious literacy. The method in this scientific article is a quantitative method with literature studies. Here the author seeks, records, analyzes and concludes various relevant sources. Young Christians who have good vertical and horizontal relationships can increase understanding and encourage behavior through social media that features content related to religious literacy. Abstrak: Pengaruh media sosial sangat bersar terhadap kehidupan manusia modern termasuk anak muda Kristen. Media sosial dapat menjadi media dan sekaligus sumber belajar, sehinga perlu dimanfaatkan secara optimal dalam konteks literasi agama. Dengan konten yang dirancang khusus dalam peningkatan pemahaman dan  perilaku yang sesuai iman Kristen, media sosial akan mampu menjadi media dan sumber belajar yang berkontribusi dalam peningkatan literasi agama anak muda Kristen. Metode dalam artikel ilmiah ini adalah metode kuantitatif dengan studi kepustakaan. Di sini penulis mencari, mencatat, menganalisis dan menyimpulkan berbagai sumber yang relevan.  Hasilnya, bahwa media sosial dengan konten yang terkait literasi agama dapat meningkatkan pemahaman dan mendorong perilaku anak muda Kristen yang memiliki relasi vertikal dan horizontal yang  baik.
Aktualisasi Pemimpin Gereja menjaga Moral dan Integritas Umat dalam Menghadapi Tahun Politik Yonatan Alex Arifianto; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.104

Abstract

Abstract: Political years often bring problems and can also bring about internal church conflicts as well as horizontal conflicts between people. However, this is a challenge for society and also for the country, because it is related to sensitive political issues, diseases of democracy, and even the politics of dishonesty involving pastors and Christianity regarding choice and support. Therefore the lack of political education for Christianity can exacerbate the political situation and undermine democracy. Therefore, church pastors or church leaders need to be vigilant and try to deal with these problems wisely and responsibly. So that the morality and integrity of the pastor in facing the political year can be an example for God's congregation. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the morality and integrity of church leaders in facing the first 2024 political year church leaders can understand the nature of morality and integrity for politics so they can understand how the political paradigm and its influence on the church. Of course this is a reflection of the Bible's teaching of morality and integrity towards church leadership to be on the right path and in accordance with the basics of Biblical truth. So as to bring up the movement which is the value of the actualization of church leaders in politics as maintaining morale and integrity. Abstrak: Tahun politik seringkali membawa persoalan dan bisa juga mendatangkan konflik internal gereja maupun konflik horizontal antar sesama. Namun hal itu merupakan tantangan bagi masyarakat dan juga negara, sebab terkait dengan adanya isu-isu politik yang sensitif, penyakit demokrasi, bahkan politik uang dan politik ketidakjujuran yang melibatkan para pemimpin gereja dan kekristenan, terkait pilihan dan dukungan sering terjadi. Maka dari itu kurangnya pendidikan politik bagi kekristenan dapat memperburuk situasi politik dan merusak demokrasi. Oleh karena itu, gembala jemaat atau pemimpin gereja perlu waspada dan berupaya untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Supaya moralitas dan integritas gembala dalam menghadapi tahun politik dapat menjadi teladan bagi jemaat Tuhan. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa moralitas dan integritas pemimpin gereja dalam menghadapi tahun politik 2024 pertama para pemimpin gereja dapat mengerti akan hakikat moralitas dan integritas bagi politik sehingga dapat memahami bagiamana paradigma politik dan pengaruhnya Bagi gereja. Tentunya hal itu menjadi reflektif pengajaran Alkitab moralitas dan integritas terhadap kepemimpinan gereja untuk berada dijalan yang benar dan sesuai dengan dasar kebenaran Alkitabiah. Sehingga memunculkan gerekan yang menjadi nilai akan aktualisasi pemimpin gereja dalam perpolitikan sebagai menjaga moral dan integitas.
Berbeda itu Indah: Berbeda itu Indah: Nilai-nilai Universal untuk Hidup dalam Kemajemukan menurut Kisah Para Rasul 10 Gultom, Rogate Artaida Tiarasi; Lumban Tobing, Lasmaria
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.102

Abstract

Abstract: This research aims to find out universal values ​​for living in diversity, so that an understanding is found that being different is beautiful. Acts 10 opens a new paradigm of diversity. The Apostle Peter, who strongly adhered to Jewish traditions, was able to change his perspective through dialogue with Cornelius. These two figures worship the same God in their own ways. Peter worshiped God by upholding Jewish traditions, while Cornelis, who was a pagan, worshiped God with the knowledge he knew. Through the Acts of the Apostles, universal things about differences are found, namely 1) Differences in character are beautiful, 2) Social differences, 3) Cultural differences and 4) Ethnic differences. All differences will be beautiful, if each other understands the universal values ​​of differences. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai universal untuk hidup dalam kemajemukan, sehingga ditemukan suatu paham bahwa berbeda itu indah. Kisah Para Rasul 10 membuka paradigma baru tentang perbedaan. Rasul Petrus yang sangat memegang teguh tradisi Yahudi dapat mengubah cara pandangnya melalui dialog dengan Kornelius. Kedua tokoh ini menyembah Allah yang sama dengan cara masing-masing. Petrus menyembah Allah dengan memegang teguh tradisi Yahudi, sementara Kornelis yang seorang kafir, menyembah Allah dengan pengetahuan yang dia ketahui. Melalui Kisah Para Rasul ini ditemukan hal yang universal tentang perbedaan yaitu 1) Perbedaan karakter itu indah, 2) Perbedaan sosial, 3) Perbedaan Budaya dan 4) Perbedaan Suku. Semua perbedaan itu akan menjadi indah, jika saling memahami nilai-nilai universal dari perbedaan.
Membingkai Peran Ibu dalam Pola Asuh Anak Berkebutuhan Khusus di Keluarga Kristiani Fransiska; Manurung, Kosma
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.105

Abstract

Abstract: Parenting patterns for children with special needs is an important issue in contemporary society, while a mother in the family has a significant role in providing support and guidance to children with special needs. This research attempts to frame the role of mothers in parenting children with special needs in Christian families. The use of qualitative descriptive methods and literature studies is intended to be able to provide a strong picture of children with special needs and the various challenges they face in their daily lives, as well as what it is like for mothers to play a maximum role in the parenting of children with special needs in Christian families. It was concluded that a mother will play the maximum role for a child with special needs when she accepts and treats the child with love, is actively involved in the child's education, plays a role in the child's spiritual formation, and introduces the child to the church community. Abstrak: Pola asuh anak berkebutuhan khusus adalah isu yang penting dalam masyarakat yang kontemporer, sedangkan seorang ibu dalam keluarga memiliki peran yang signifikan dalam memberikan dukungan maupun bimbingan kepada anak dengan kebutuhan khusus. Penelitian ini berupaya membingkai peran Ibu dalam pola asuh anak berkebutuhan khusus di keluarga Kristiani. Penggunaan metode deskriptif kualitatif dan kajian literatur dimaksudkan mampu memberikan gambaran yang kuat mengenai anak berkebutuhan khusus dan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam keseharian hidupnya, serta seperti apa sejatinya ibu bisa berperan maksimal dalam pola asuh anak berkebutuhan khusus tersebut di keluarga Kristiani. Disimpulkan bahwa seorang ibu akan berperan maksimal bagi anak berkebutuhan khusus ketika menerima dan memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang, terlibat aktif dalam pendidikan anak, berperan dalam pembentukan rohani anak, serta memperkenalkan anak pada komunitas gereja.  

Page 5 of 11 | Total Record : 109