cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan
ISSN : 28094042     EISSN : 28094034     DOI : https://doi.org/10.51878/knowledge.v2i2
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para guru, dosen, pakar, ilmuan praktisi dan umum.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 25 Documents
Search results for , issue "vol. 6 no. 3 (2026)" : 25 Documents clear
UANG HANTARAN DALAM ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT KUALA TOLAM, PELALAWAN: ANALISIS PERSPEKTIF MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH Ahmad Jamilurrahman; Muhsan Muhsan
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.8488

Abstract

Uang hantaran is a customary practice in the marriage traditions of the Malay community in Kuala Tolam, Pelalawan Regency. It functions as financial support for wedding expenses and as a symbol of respect between families. Problems arise when the amount is set excessively high and treated as a social requirement before the marriage contract, potentially causing economic pressure, debt, asset sales, marriage delays, or the termination of engagement processes. This study aims to describe the practice of uang hantaran, identify the factors influencing its determination and its impacts, and analyze it from the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah. This study employs a qualitative case-study design with a socio-legal approach. Data were collected through semi-structured interviews, non-participant observation, and document review. The data were analyzed thematically through transcription, coding, categorization, and interpretation based on the concepts of ‘urf and maqāṣid al-sharī‘ah. The findings indicate that uang hantaran differs from mahr. Mahr is the wife’s right and a religious obligation, whereas uang hantaran originates from customary practice. Its amount is influenced by educational background, family social status, prestige, and economic capacity, generally ranging from IDR 15 million to IDR 30 million and reaching IDR 50 million to IDR 60 million in certain cases. Uang hantaran may be categorized as ‘urf ṣaḥīḥ when it is determined voluntarily, proportionally, and without causing harm. Conversely, coercive and burdensome arrangements conflict with the protection of dignity, lineage, and property. Therefore, reform should focus on the mechanism for determining uang hantaran rather than eliminating the tradition itself. ABSTRAK Uang hantaran merupakan tradisi perkawinan masyarakat Melayu Kuala Tolam, Kabupaten Pelalawan, yang berfungsi sebagai bantuan biaya pesta dan simbol penghormatan antarkeluarga. Permasalahan muncul ketika nominalnya ditetapkan terlalu tinggi dan diperlakukan sebagai keharusan sosial sebelum akad sehingga dapat menimbulkan tekanan ekonomi, utang, penjualan aset, penundaan perkawinan, atau berakhirnya proses lamaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik uang hantaran, mengidentifikasi faktor penetapan dan dampaknya, serta menganalisisnya berdasarkan maqāṣid al-syarī‘ah. Penelitian menggunakan studi kasus kualitatif dengan pendekatan sosio-legal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi nonpartisipatif, dan telaah dokumen. Data dianalisis secara tematik melalui transkripsi, pengodean, kategorisasi, serta interpretasi berdasarkan konsep ‘urf dan maqāṣid al-syarī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uang hantaran berbeda dari mahar. Mahar merupakan hak istri dan kewajiban syar‘i, sedangkan uang hantaran bersumber dari adat. Nominal hantaran dipengaruhi oleh pendidikan, status sosial keluarga, gengsi, dan kemampuan ekonomi, dengan kisaran umum Rp15 juta–Rp30 juta dan mencapai Rp50 juta–Rp60 juta pada kasus tertentu. Uang hantaran dapat dikategorikan sebagai ‘urf ṣaḥīḥ apabila ditetapkan secara sukarela, proporsional, dan tidak menimbulkan kemudaratan. Sebaliknya, penetapan yang memaksa dan memberatkan bertentangan dengan perlindungan kehormatan, keturunan, dan harta. Dengan demikian, perbaikan perlu diarahkan pada mekanisme penetapannya, bukan pada penghapusan tradisinya.  
KONFLIK DALAM ORGANISASI DAN NEGOISASI Fina Ayu Madaliah; Widya Hastuti; Sukatin Sukatin; Zul Qarnain
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.12911

Abstract

ABSTRACT Conflict is an inevitable phenomenon in organizations due to differences in interests, objectives, perceptions, and limited resources. Effective conflict management is essential to ensure that conflict does not hinder the achievement of organizational goals but instead serves as a catalyst for constructive change. This study aims to analyze the role of negotiation as a strategy for managing organizational conflict through a literature review. The research employed a qualitative approach using library research. Data were collected from books, scientific journals, and other relevant academic references selected based on their credibility and relevance to the research topic. The collected data were then analyzed using content analysis. The findings indicate that organizational conflict is primarily influenced by differences in interests, ineffective communication, unclear roles, and limited resources. The study also reveals that effective conflict management depends not only on understanding the causes of conflict but also on implementing negotiation strategies that emphasize open communication, identification of shared interests, and the pursuit of mutually beneficial solutions. Therefore, negotiation plays a crucial role in transforming conflict into an opportunity to enhance collaboration, decision-making, and organizational effectiveness. ABSTRAK Konflik merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dalam organisasi akibat perbedaan kepentingan, tujuan, persepsi, maupun keterbatasan sumber daya. Pengelolaan konflik yang tepat diperlukan agar konflik tidak menghambat pencapaian tujuan organisasi, tetapi dapat menjadi pendorong perubahan yang konstruktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran negosiasi sebagai strategi dalam pengelolaan konflik organisasi berdasarkan kajian literatur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, dan referensi akademik yang relevan, dipilih berdasarkan kredibilitas serta kesesuaiannya dengan topik, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil kajian menunjukkan bahwa konflik organisasi dipengaruhi oleh perbedaan kepentingan, komunikasi yang kurang efektif, ketidakjelasan peran, dan keterbatasan sumber daya. Kajian ini juga menemukan bahwa efektivitas pengelolaan konflik tidak hanya ditentukan oleh pemahaman terhadap penyebab konflik, tetapi juga oleh penerapan strategi negosiasi yang menekankan komunikasi terbuka, identifikasi kepentingan bersama, dan pencarian solusi yang saling menguntungkan. Dengan demikian, negosiasi merupakan strategi yang berperan penting dalam mengubah konflik menjadi sarana peningkatan kerja sama, pengambilan keputusan, dan efektivitas organisasi.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI Fitriyani Fitriyani; Sukatin Sukatin; Zul Qarnain
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.12913

Abstract

ABSTRACT Decision-making is a strategic organizational function that determines organizational effectiveness and success. However, existing studies tend to discuss procedural aspects separately and have yet to comprehensively integrate psychological factors, organizational contexts, and decision-making models into a unified framework. This gap highlights the importance of conducting a comprehensive study to provide a broader understanding of effective organizational decision-making. This study aims to analyze the concept of organizational decision-making, its processes, influencing factors, various decision-making models, and the role of organizational psychology in improving decision quality. The study employed a library research method by reviewing relevant books, scholarly articles, and previous research. The findings indicate that decision-making is a systematic process involving problem identification, information gathering, alternative generation and evaluation, decision selection, implementation, and outcome evaluation. Decision quality is influenced by both internal and external factors and can be enhanced through the application of appropriate decision-making models based on organizational conditions. This study concludes that integrating rational, psychological, and social dimensions is essential for producing effective, adaptive, and accountable organizational decisions. ABSTRAK Pengambilan keputusan merupakan fungsi strategis yang menentukan efektivitas dan keberhasilan organisasi. Meskipun demikian, kajian mengenai pengambilan keputusan masih cenderung membahas aspek prosedural secara terpisah dan belum mengintegrasikan faktor psikologis, organisasi, serta model pengambilan keputusan dalam satu pembahasan yang komprehensif. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penelitian yang mampu memberikan pemahaman menyeluruh sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pengambilan keputusan dalam organisasi, tahapan prosesnya, faktor-faktor yang memengaruhinya, berbagai model pengambilan keputusan, serta peran psikologi organisasi dalam mendukung kualitas keputusan. Penelitian menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan mengkaji berbagai buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses sistematis yang meliputi identifikasi masalah, pengumpulan informasi, pengembangan dan evaluasi alternatif, pemilihan keputusan, implementasi, serta evaluasi hasil. Kualitas keputusan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, serta dapat dioptimalkan melalui penerapan model pengambilan keputusan yang sesuai dengan kondisi organisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi aspek rasional, psikologis, dan sosial menjadi kunci dalam menghasilkan keputusan organisasi yang efektif, adaptif, dan bertanggung jawab.
STRUKTUR DAN ANATOMI ORGANISASI Muktar Asroni; Sukatin Sukatin; Zul Qarnain
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.12914

Abstract

ABSTRACT Increasingly dynamic organizational environments require organizations to adopt adaptive organizational designs to achieve their goals effectively. However, many organizations continue to implement organizational structures based on institutional traditions or legacy practices without considering their alignment with organizational strategies and environmental demands, resulting in overlapping authority, weak coordination, and limited adaptability. This condition highlights the need for a comprehensive conceptual study of organizational structure and anatomy as a foundation for effective organizational design and decision-making. This study aims to examine the concepts of organizational structure and anatomy, organizational structure models, organizational components, and organizational arrangement mechanisms to enhance organizational effectiveness. The study employed a qualitative approach using the library research method. Data were collected from books, scientific journal articles, and other relevant academic sources and analyzed through content analysis. The findings indicate that organizational effectiveness depends on the alignment between organizational design, strategic objectives, organizational size, and environmental conditions. Furthermore, leadership, communication, human resources, coordination, and organizational culture are identified as key supporting factors in implementing an effective organizational structure. In conclusion, adaptive organizational design and appropriate structural arrangements are essential prerequisites for improving organizational effectiveness, flexibility, and sustainability in responding to dynamic environmental changes. ABSTRAK Perubahan lingkungan organisasi yang semakin dinamis menuntut organisasi memiliki desain struktur yang adaptif untuk mendukung efektivitas pencapaian tujuan. Namun, berbagai organisasi masih menerapkan struktur berdasarkan kebiasaan atau warisan kelembagaan tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan strategi dan lingkungan, sehingga memunculkan tumpang tindih wewenang, lemahnya koordinasi, dan rendahnya kemampuan beradaptasi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kajian konseptual yang komprehensif mengenai struktur dan anatomi organisasi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam desain organisasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep struktur dan anatomi organisasi, bentuk-bentuk struktur organisasi, komponen organisasi, serta mekanisme penataan organisasi untuk meningkatkan efektivitas organisasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research). Data diperoleh dari buku, artikel ilmiah, dan berbagai referensi akademik yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil kajian menunjukkan bahwa efektivitas organisasi dipengaruhi oleh kesesuaian antara desain organisasi dengan tujuan, strategi, ukuran, dan lingkungan organisasi. Selain itu, kepemimpinan, komunikasi, sumber daya manusia, koordinasi, dan budaya organisasi menjadi faktor pendukung utama dalam implementasi struktur organisasi. Disimpulkan bahwa desain organisasi yang adaptif dan penataan struktur yang tepat merupakan prasyarat untuk meningkatkan efektivitas, fleksibilitas, dan keberlanjutan organisasi dalam menghadapi perubahan lingkungan.
ANALISIS KETERSEDIAAN DAN PENILAIAN INDEKS INFRASTRUKTUR PELAYANAN DASAR DI KABUPATEN MALUKU TENGAH TAHUN 2024 Erna Junita Nussy; Resky Prafitri
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.13129

Abstract

ABSTRACT The availability of basic service infrastructure is essential for promoting equitable regional development and improving community welfare. However, previous studies on infrastructure in Central Maluku Regency have primarily focused on individual sectors and have not provided a comprehensive assessment through a basic service infrastructure index that can support evidence-based policymaking. Therefore, this study is important to provide an integrated evaluation of infrastructure performance and identify development priorities. This study aims to identify the availability of basic service infrastructure and analyze the infrastructure index of Central Maluku Regency in 2024. A descriptive quantitative approach was employed using secondary data collected from relevant government agencies and analyzed through a composite index. The findings reveal that the education sector achieved the highest infrastructure index and was classified as good, followed by the health sector in the moderate category. In contrast, land transportation and, particularly, clean water infrastructure recorded the lowest performance, significantly reducing the overall infrastructure achievement. Consequently, the composite infrastructure index of Central Maluku Regency falls into the poor category. These findings highlight the need to prioritize investment in clean water infrastructure, road improvement, and equitable health service provision to support sustainable regional development. ABSTRAK Ketersediaan infrastruktur pelayanan dasar merupakan prasyarat penting bagi pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, penelitian mengenai infrastruktur di Kabupaten Maluku Tengah masih didominasi kajian sektoral dan belum menyediakan penilaian komprehensif melalui indeks infrastruktur pelayanan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar evaluasi kebijakan. Penelitian ini penting untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi infrastruktur sebagai bahan perumusan prioritas pembangunan daerah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi ketersediaan infrastruktur pelayanan dasar serta menganalisis indeks infrastruktur di Kabupaten Maluku Tengah Tahun 2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait dan dianalisis menggunakan indeks komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor pendidikan memiliki capaian indeks tertinggi dengan kategori baik, diikuti sektor kesehatan pada kategori sedang. Sebaliknya, sektor transportasi darat dan terutama sektor air bersih masih menunjukkan kondisi yang rendah sehingga menjadi faktor utama penurunan kinerja infrastruktur daerah. Secara komposit, indeks infrastruktur Kabupaten Maluku Tengah berada pada kategori tidak baik. Temuan ini menunjukkan perlunya kebijakan pembangunan yang lebih terarah dengan memprioritaskan peningkatan infrastruktur air bersih, transportasi, dan pemerataan layanan kesehatan untuk mendukung pembangunan wilayah yang berkelanjutan.
STRUKTUR ORGANISASI M. Zakaria; Liza Audya; Sukatin Sukatin; Zulqarnain Zulqarnain
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.13134

Abstract

ABSTRACT Studies on organizational structure have predominantly focused on administrative and managerial aspects, while its integration with the perspective of organizational psychology, particularly in Islamic educational institutions, remains insufficiently explored. This gap highlights the need to examine organizational structure not only as a managerial framework but also as a determinant of organizational effectiveness and employee behavior. This study aims to analyze organizational structure from the perspective of organizational psychology and to explain its relevance to the management of Islamic educational institutions. The research employed a qualitative approach using a library research method through a comprehensive review of scholarly books, journal articles, and other relevant academic sources. The findings reveal that organizational structure is built upon six key elements: job specialization, departmentalization, chain of command, span of control, centralization or decentralization, and formalization. These structural elements influence communication patterns, work motivation, job satisfaction, and organizational effectiveness. In the context of Islamic educational institutions, an organizational structure grounded in the principles of tawhid, amanah, shura, and justice contributes to adaptive governance, enhances organizational effectiveness, and supports the development of competent human resources with strong Islamic values. ABSTRAK Kajian mengenai struktur organisasi umumnya masih berfokus pada aspek administratif dan manajerial, sedangkan integrasinya dengan perspektif psikologi organisasi dalam konteks lembaga pendidikan Islam belum banyak dibahas secara komprehensif. Kesenjangan tersebut mendorong pentingnya penelitian ini untuk menganalisis struktur organisasi sebagai faktor yang memengaruhi efektivitas organisasi sekaligus perilaku anggotanya. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur organisasi dalam perspektif psikologi organisasi serta menjelaskan relevansinya bagi pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui penelaahan berbagai buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa struktur organisasi dibangun oleh enam elemen utama, yaitu spesialisasi pekerjaan, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi atau desentralisasi, dan formalisasi. Konfigurasi elemen tersebut memengaruhi pola komunikasi, motivasi, kepuasan kerja, dan efektivitas organisasi. Dalam lembaga pendidikan Islam, struktur organisasi yang berlandaskan nilai tauhid, amanah, syura, dan keadilan mampu mendukung tata kelola yang adaptif, meningkatkan efektivitas organisasi, serta memperkuat pengembangan sumber daya manusia yang profesional dan berkarakter Islami.
KERAGAMAN BUDAYA DAN TEORI BUDAYA ORGANISASI Feni Husnul Fatimah; Nur Alip; Sukatin Sukatin; Zul Qarnain
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.13135

Abstract

ABSTRACT Cultural diversity has become an inseparable characteristic of modern organizations due to globalization, workforce mobility, and increasing cross-cultural interactions. While diversity promotes creativity, innovation, and organizational adaptability, it may also create communication barriers and workplace conflicts if not properly managed. This study aims to analyze cultural diversity, organizational culture, organizational culture theories, and their implications for organizational behavior through a literature review approach. The study employed a narrative literature review by analyzing scientific articles, books, and research reports published between 2021 and 2025, complemented by seminal literature. Data were analyzed using content analysis involving identification, selection, synthesis, and interpretation of relevant studies. The findings indicate that organizational culture serves as a system of shared values guiding organizational members' behavior, whereas cultural diversity significantly influences communication, leadership, teamwork, innovation, job satisfaction, and organizational commitment. Edgar H. Schein's theory explains organizational culture through artifacts, espoused values, and basic assumptions, while Hofstede's theory explains cultural differences through national cultural dimensions influencing workplace behavior. The review further indicates that organizations with inclusive organizational cultures demonstrate stronger adaptability, innovation, and competitiveness than organizations that fail to manage cultural diversity effectively. Therefore, adaptive leadership and diversity management are essential for organizational effectiveness.   ABSTRAK Keragaman budaya merupakan karakteristik yang tidak dapat dipisahkan dari organisasi modern akibat globalisasi, mobilitas tenaga kerja, dan meningkatnya interaksi lintas budaya. Keberagaman tersebut membawa peluang berupa meningkatnya kreativitas, inovasi, dan kemampuan organisasi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, namun juga berpotensi menimbulkan konflik, hambatan komunikasi, dan penurunan efektivitas organisasi apabila tidak dikelola secara tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep keragaman budaya, budaya organisasi, teori budaya organisasi, serta implikasinya terhadap perilaku organisasi melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah narrative literature review dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah, buku referensi, dan hasil penelitian yang dipublikasikan pada rentang tahun 2021-2025 serta beberapa literatur klasik yang masih relevan. Analisis dilakukan menggunakan teknik content analysis melalui proses identifikasi, seleksi, sintesis, dan interpretasi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya organisasi berfungsi sebagai sistem nilai yang mengarahkan perilaku anggota organisasi, sedangkan keragaman budaya menjadi faktor strategis yang memengaruhi komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, inovasi, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi. Teori Edgar H. Schein menjelaskan budaya organisasi melalui tiga tingkatan, yaitu artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar, sedangkan teori Hofstede menjelaskan perbedaan budaya melalui dimensi budaya nasional yang memengaruhi perilaku kerja. Sintesis berbagai penelitian menunjukkan bahwa organisasi yang mampu mengembangkan budaya organisasi yang inklusif memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas, dan daya saing yang lebih tinggi dibandingkan organisasi yang gagal mengelola keberagaman budaya. Oleh karena itu, kepemimpinan yang adaptif serta strategi pengelolaan keberagaman menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas organisasi.
ANALISIS KESENJANGAN KURIKULUM PROGRAM HI TERHADAP KOMPETENSI TATA KELOLA PARIWISATA GLOBAL: PENDEKATAN OBE Khurin Nabillah
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.13299

Abstract

ABSTRACT The increasing complexity of global tourism governance requires International Relations curricula to equip graduates with competencies that meet contemporary demands, including sustainability, diplomacy, digital literacy, crisis adaptability, and collaborative governance. However, studies evaluating the alignment between curriculum design and these competencies remain limited, resulting in insufficient evidence regarding curriculum gaps in preparing graduates for global tourism governance. This study aims to analyze the curriculum gap of the International Relations Program at Universitas Sulawesi Barat concerning global tourism governance competencies. A qualitative approach was employed using deductive content analysis of curriculum documents based on the Outcome-Based Education (OBE) framework and the constructive alignment theory. The findings reveal that the curriculum demonstrates strong coverage in sustainability (77%) and multilevel governance (73%), while showing moderate coverage in diplomacy (64%) and community responsiveness (55%). In contrast, digital literacy and crisis adaptability are not explicitly accommodated in the curriculum (0%). The analysis also identifies a misalignment between program learning outcomes and course-level implementation, resulting in several strategic competencies being insufficiently integrated. This study recommends competency-based curriculum renewal through strengthening learning outcomes, integrating digital literacy and crisis adaptability, and enhancing curriculum alignment based on OBE principles to improve graduates' readiness for the evolving challenges of global tourism governance. ABSTRAK Perkembangan tata kelola pariwisata global menuntut kurikulum Program Studi Hubungan Internasional mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan kontemporer, seperti keberlanjutan, diplomasi, literasi digital, adaptabilitas krisis, dan tata kelola kolaboratif. Namun, kajian yang mengevaluasi kesesuaian kurikulum terhadap kompetensi tersebut masih terbatas sehingga kesenjangan antara capaian pembelajaran dan tuntutan tata kelola pariwisata global belum terpetakan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesenjangan kurikulum Program Studi Hubungan Internasional Universitas Sulawesi Barat terhadap kompetensi tata kelola pariwisata global. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten deduktif terhadap dokumen kurikulum berdasarkan kerangka Outcome-Based Education (OBE) dan teori constructive alignment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum memiliki kekuatan pada dimensi keberlanjutan (77%) dan tata kelola multilevel (73%), tetapi masih menunjukkan kesenjangan pada dimensi diplomasi (64%), responsivitas komunitas (55%), serta belum mengakomodasi literasi digital dan adaptabilitas krisis (0%). Selain itu, ditemukan ketidaksesuaian antara capaian pembelajaran program studi dan implementasinya pada tingkat mata kuliah sehingga beberapa kompetensi strategis belum terintegrasi secara optimal. Penelitian ini merekomendasikan pembaruan kurikulum berbasis kompetensi melalui penguatan learning outcomes, integrasi literasi digital, adaptabilitas krisis, serta penyelarasan kurikulum sesuai prinsip OBE guna meningkatkan relevansi lulusan terhadap dinamika tata kelola pariwisata global.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS CANVA TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN DASAR PROGRAM KEAHLIAN SISWA KELAS X TPM SMK NEGERI 5 PADANG Falry Kurnia Darlis; Rifelino Rifelino; Wanda Afnison; Fathir Aspar
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.13532

Abstract

ABSTRACT Limited availability of mechanical measuring instruments in vocational high schools (SMK) has constrained practical learning activities, resulting in low student learning outcomes. Although Canva-based learning media have been widely developed, studies integrating instructional videos, interactive 3D visualizations, and digital assessments to address the lack of practical facilities in mechanical measuring instrument topics remain limited. This study aimed to develop Canva-based interactive learning media that are valid, practical, and effective in improving the learning outcomes of tenth-grade Mechanical Engineering students at SMK Negeri 5 Padang. The study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model. Media validity was evaluated by two material experts and three media experts, practicality was tested on 35 students, and effectiveness was examined through a Nonequivalent Control Group Design using an Independent Sample t-test and N-Gain analysis. The results showed that the media achieved a very high level of validity from material experts (88.54%) and media experts (90.77%), while practicality reached 93.01%, categorized as highly practical. The effectiveness test revealed a significant difference between the experimental and control groups (Sig. = 0.000), with the experimental group's average score increasing from 67 to 90. Therefore, the developed media are proven to be valid, practical, and effective, providing a digital learning alternative to overcome the limitations of practical facilities in vocational education. ABSTRAK Keterbatasan fasilitas alat ukur mekanis di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyebabkan proses pembelajaran praktik belum optimal dan berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik. Meskipun media pembelajaran berbasis Canva telah banyak dikembangkan, penelitian yang mengintegrasikan video pembelajaran, visualisasi 3D interaktif, dan evaluasi digital untuk mengatasi keterbatasan sarana praktik pada materi alat ukur mekanis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis Canva yang valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Teknik Pemesinan SMK Negeri 5 Padang. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Validitas media dinilai oleh dua ahli materi dan tiga ahli media, praktikalitas diuji kepada 35 siswa, sedangkan efektivitas diuji menggunakan desain Nonequivalent Control Group Design melalui Independent Sample t-test dan analisis N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media memperoleh tingkat validitas sangat tinggi dari ahli materi (88,54%) dan ahli media (90,77%), serta praktikalitas sebesar 93,01% dengan kategori sangat praktis. Uji efektivitas menunjukkan perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kontrol (Sig. = 0,000), dengan peningkatan nilai rata-rata dari 67 menjadi 90 pada kelas eksperimen. Dengan demikian, media yang dikembangkan terbukti valid, praktis, dan efektif serta memberikan alternatif pembelajaran digital untuk mengatasi keterbatasan fasilitas praktik di SMK.
PERAN PENYULUH PENDAMPING TERHADAP EFEKTIVITAS KINERJA BRIGADE PANGAN DI PROVINSI LAMPUNG Septiana Septiana; Danny Alfandy
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.13761

Abstract

ABSTRACT Food security is a key pillar of national agricultural development. Although the Indonesian government has established the Food Brigade (Brigade Pangan/BP) as a strategy to accelerate food self-sufficiency through technology-based agricultural modernization, empirical evidence regarding the influence of agricultural extension officers on the effectiveness of Food Brigade performance remains limited. This study aimed to analyze the role of agricultural extension facilitators in improving the effectiveness of Food Brigade performance in Lampung Province. A quantitative survey with a correlational design was employed. The respondents consisted of 38 Food Brigade extension facilitators in 2024 from four regencies in Lampung Province: Tulang Bawang, East Lampung, Central Lampung, and Mesuji. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed through descriptive statistics and Spearman's Rank Correlation using SPSS version 24.0. The findings revealed a strong and statistically significant positive relationship between the role of agricultural extension officers and the effectiveness of Food Brigade performance (r = 0.647; p < 0.05). The results indicate that the more effectively extension officers perform their roles as facilitators, motivators, educators, and innovators, the higher the effectiveness of Food Brigade performance. These findings provide empirical evidence that strengthening the capacity of agricultural extension facilitators is a strategic factor in enhancing Food Brigade performance and offers practical input for improving Food Brigade institutional development and agricultural extension policies to support the achievement of national food self-sufficiency. ABSTRAK Ketahanan pangan merupakan pilar utama pembangunan pertanian nasional. Meskipun Brigade Pangan (BP) telah dibentuk sebagai strategi percepatan swasembada pangan melalui modernisasi pertanian berbasis teknologi, bukti empiris mengenai pengaruh peran penyuluh pendamping terhadap efektivitas kinerja Brigade Pangan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Penyuluh Pendamping terhadap efektivitas kinerja Brigade Pangan di Provinsi Lampung. Penelitian menggunakan desain survei kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Responden berjumlah 38 Penyuluh Pendamping Brigade Pangan Tahun 2024 yang tersebar di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Mesuji. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif serta uji korelasi Rank Spearman menggunakan SPSS 24.0. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara peran penyuluh pertanian dan efektivitas kinerja Brigade Pangan (r = 0,647; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin optimal peran penyuluh sebagai fasilitator, motivator, edukator, dan inovator, semakin tinggi efektivitas kinerja Brigade Pangan. Hasil penelitian memberikan bukti empiris bahwa penguatan kapasitas penyuluh pendamping merupakan faktor strategis dalam meningkatkan kinerja Brigade Pangan serta menjadi dasar bagi pengembangan kelembagaan Brigade Pangan dan kebijakan penyuluhan pertanian untuk mendukung pencapaian swasembada pangan.

Page 1 of 3 | Total Record : 25