cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru
ISSN : 28078837     EISSN : 28078667     DOI : https://doi.org/10.51878/teacher.v2i1
Core Subject : Education,
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik dan lain lain.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 4 Documents clear
PENGEMBANGAN MANAJEMEN SEKOLAH RAMAH ANAK DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS SISWA SEKOLAH DASAR Harahap, Rizki Dwi Aprilia; Purba, Diva Egita; Siburian, Parasina Caroldion Br; Namira, R. Nazra Fitri; Budianto, Agum
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8219

Abstract

ABSTRACT The development of Child-Friendly Schools (CFS) is crucial in creating a safe, inclusive learning environment that supports the psychological development of elementary school students. However, the implementation of CFS in many schools still faces challenges, particularly in terms of management, teacher readiness, and the availability of supporting facilities. This study aims to analyze how school management develops CFS and how these efforts contribute to improving students’ psychological well-being. The study employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through observations, in-depth interviews with principals, teachers, and students, as well as analysis of school documents. The study includes identification of initial conditions and needs mapping, analysis of child protection policies and programs, evaluation of CFS implementation in classrooms and the school environment, and assessment of its impact on indicators of students’ psychological well-being. The results indicate that CFS development is carried out through the formulation of child protection policies, enhancement of teachers’ capacity in positive parenting, strengthening guidance and counseling services, and provision of child-friendly facilities such as counseling rooms and safe play areas. The findings also show increased student self-confidence, reduced learning anxiety, and improved academic motivation. Overall, the study concludes that school management that consistently applies CFS principles is able to create a safe and supportive learning environment, thereby significantly contributing to the improvement of students’ psychological well-being. ABSTRAK Pembangunan Sekolah Ramah Anak (SRA) sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan psikologis siswa sekolah dasar. Namun, implementasi SRA di banyak sekolah masih menghadapi hambatan, terutama dalam hal manajemen, kesiapan guru, dan ketersediaan fasilitas pendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana manajemen sekolah mengembangkan SRA dan bagaimana upaya ini berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, serta analisis dokumen sekolah. Penelitian ini mencakup identifikasi kondisi awal dan pemetaan kebutuhan, analisis kebijakan dan program perlindungan anak, evaluasi implementasi CFS di kelas dan lingkungan sekolah, serta penilaian dampak terhadap indikator kesejahteraan psikologis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan SRA dilakukan melalui formulasi kebijakan perlindungan anak, peningkatan kapasitas guru dalam parenting positif, penguatan layanan bimbingan dan konseling, serta penyediaan fasilitas ramah anak seperti ruang konseling dan area bermain aman. Temuan juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri siswa, penurunan kecemasan belajar, dan peningkatan motivasi akademik. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa manajemen sekolah yang secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip SRA mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung, sehingga berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa.
TANTANGAN ETIKA DIGITAL ISLAMI: STUDI FENOMENOLOGIS PADA SISWA YANG MENGAKSES KONTEN KEAGAMAAN SINGKAT Hasibuan, Sulham Efendi; Dini, Fitri Rahma; Hasibuan, Nesmi Yuli
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8366

Abstract

The rise of short-form video platforms has transformed how young people consume religious content shifting from in-depth study to bite-sized religious messages. This transformation presents both opportunities for religious outreach and ethical challenges for students as consumers and sharers of content. This paper provides a systematic literature review (SLR) of empirical and conceptual studies on Islamic digital ethics and the consumption of short religious content among students. Reviewing 5 key articles (2020–2025), the study identifies core themes: (1) accuracy and tabayyun (verification) of content, (2) oversimplification and decontextualization of scriptural texts, (3) performative religiosity, (4) privacy and dissemination of personal data, (5) polarisation and provocation risks, and (6) potential for digital religious education. While short videos increase religious interest and engagement, students often face interpretive confusion and vulnerability to unverified information. Recommendations include embedding Islamic digital ethics into curricula, tabayyun training, and partnerships between religious educators and content creators to enhance content integrity. These findings are relevant to educators, policy makers, and digital da'wah practitioners engaging Gen Z and younger audiences. ABSTRAK Perkembangan platform short-form video telah mengubah cara generasi muda mengakses konten keagamaan: dari kajian panjang ke potongan pesan singkat yang mudah disebarluaskan. Transformasi ini menghadirkan peluang dakwah dan pembelajaran agama yang lebih luas sekaligus menimbulkan tantangan etis bagi siswa sebagai konsumen dan penyebar konten. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis (SLR) terhadap studi-studi empiris dan konseptual mengenai etika digital Islami dan praktik konsumsi konten keagamaan singkat di kalangan pelajar. Dengan menelaah 15 artikel utama (2020–2025) yang relevan, artikel ini mengidentifikasi tema-tema utama: (1) akurasi dan tabayyun (verifikasi) konten, (2) simplifikasi teks-naqli dan kehilangan konteks/tafsir, (3) fenomena performativitas keagamaan (pamer ibadah), (4) privasi dan penyebaran data personal, (5) polarisasi & potensi provokasi, serta (6) peluang pendidikan religius digital. Hasil menunjukkan bahwa meski konten singkat efektif menarik perhatian dan meningkatkan minat beragama, banyak pelajar mengalami kebingungan interpretatif dan rentan menerima informasi yang belum terverifikasi. Artikel ini merekomendasikan integrasi pendidikan etika digital Islami dalam kurikulum, pelatihan tabayyun, dan kolaborasi antara pendidik agama dengan pembuat konten untuk memastikan kualitas pesan dakwah. Temuan ini penting bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan praktisi dakwah digital yang bekerja dengan generasi Z dan alfa.
SUARA YANG DIBUNGKAM DI SEKOLAH: ANALISIS SOSIAL-KRITIS ATAS TEKANAN TERHADAP GURU DAN SISWA Alhafizh, Muhammad Rasyad; Nasarani, Kerensa Ruth Rengganis; Brahmantia, Farrell Anugrah; Fitri, Erika Annisa; Harianto, Muhammad Fauzan
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8800

Abstract

Freedom of expression for teachers and students is a crucial element in achieving democratic education. However, in practice there are still silenced voices in schools due to various pressures. This research aims to critically analyze the social conditions that pressure teachers and students, limiting their right to speak up. Using a qualitative method, data were gathered through case studies from media reports and relevant literature. The findings reveal forms of voice suppression, including students punished for criticizing school policies and teachers sanctioned for expressing their opinions. Hierarchical culture and a prevailing culture of silence in educational institutions perpetuate this phenomenon, causing school members’ aspirations to be neglected and constructive dialogue stifled. The discussion highlights that silencing contradicts the principles of national education which are supposed to be democratic, as well as laws that guarantee freedom of expression. As recommendations, it is imperative to foster a school climate that is more inclusive, democratic, and safe for constructive criticism. Supportive policies and commitment from all stakeholders are needed so that schools truly become venues for character building that respects the dignity and voice of every educational individual. ABSTRAK Kebebasan berpendapat bagi guru dan siswa merupakan elemen penting dalam mewujudkan pendidikan demokratis. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya suara-suara yang dibungkam di lingkungan sekolah akibat berbagai tekanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara sosial-kritis fenomena tekanan yang membatasi hak bersuara guru dan siswa. Dengan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui studi kasus dari laporan media dan literatur terkait. Temuan mengungkap bentuk-bentuk pembungkaman suara, antara lain siswa yang dihukum karena mengkritik kebijakan sekolah dan guru yang dikenai sanksi saat menyuarakan pendapat. Budaya hierarkis dan budaya diam di institusi pendidikan turut melanggengkan fenomena ini. Akibatnya, aspirasi warga sekolah terabaikan dan potensi dialog konstruktif terhambat. Hasil pembahasan menekankan bahwa pembungkaman tersebut bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional yang demokratis serta amanat hukum yang menjamin hak berpendapat. Sebagai rekomendasi, perlu dibangun iklim sekolah yang lebih inklusif, demokratis, dan aman bagi kritik membangun. Dukungan kebijakan dan komitmen semua pihak diperlukan agar sekolah benar-benar menjadi wahana pembentukan karakter yang menghargai martabat dan suara setiap insan pendidikan.
DARI LISAN KE LAYAR: PERGESERAN OTORITAS GURU PAI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MEDIA DIGITAL Safitri, Yenni; Andini, Tri; Hasibuan, Sulham Efendi
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8835

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed the educational landscape, including Islamic Religious Education (PAI). This transformation has led to a shift in teacher authority, where teachers are no longer the sole source of knowledge but share their roles with digital media and online learning platforms. This study aims to examine the shift in the authority of Islamic education teachers in digital-based learning and the factors influencing this transformation. Using a qualitative literature review approach, this research analyzes various national and international scholarly articles related to digital learning, teacher authority, and Islamic education. The findings indicate that the shift in teacher authority is characterized by the increasing role of digital media, the transformation of teachers into facilitators, and the emergence of alternative religious authorities through social media and online platforms. Nevertheless, teachers remain essential in guiding students, validating religious knowledge, and shaping students’ moral and spiritual character. Therefore, strengthening digital competence and pedagogical skills is crucial to maintaining the authority and relevance of Islamic education teachers in the digital era. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Transformasi ini berdampak langsung pada pergeseran otoritas guru yang sebelumnya menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, kini berbagi peran dengan media digital dan sumber belajar daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif bagaimana pergeseran otoritas guru PAI terjadi dalam konteks pembelajaran berbasis media digital, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran otoritas guru PAI ditandai oleh meningkatnya peran teknologi sebagai sumber belajar, perubahan peran guru menjadi fasilitator, serta munculnya otoritas alternatif seperti media sosial dan platform digital keagamaan. Meskipun demikian, guru tetap memiliki peran strategis dalam membimbing, memvalidasi informasi, serta membentuk karakter dan nilai keislaman peserta didik. Oleh karena itu, penguatan kompetensi digital dan pedagogik guru PAI menjadi kebutuhan mendesak agar otoritas keilmuan dan moral tetap terjaga di era digital.

Page 1 of 1 | Total Record : 4