cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru
ISSN : 28078837     EISSN : 28078667     DOI : https://doi.org/10.51878/teacher.v2i1
Core Subject : Education,
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik dan lain lain.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "vol. 5 no. 4 (2025)" : 9 Documents clear
PENGEMBANGAN MANAJEMEN SEKOLAH RAMAH ANAK DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS SISWA SEKOLAH DASAR Harahap, Rizki Dwi Aprilia; Purba, Diva Egita; Siburian, Parasina Caroldion Br; Namira, R. Nazra Fitri; Budianto, Agum
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8219

Abstract

ABSTRACT The development of Child-Friendly Schools (CFS) is crucial in creating a safe, inclusive learning environment that supports the psychological development of elementary school students. However, the implementation of CFS in many schools still faces challenges, particularly in terms of management, teacher readiness, and the availability of supporting facilities. This study aims to analyze how school management develops CFS and how these efforts contribute to improving students’ psychological well-being. The study employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through observations, in-depth interviews with principals, teachers, and students, as well as analysis of school documents. The study includes identification of initial conditions and needs mapping, analysis of child protection policies and programs, evaluation of CFS implementation in classrooms and the school environment, and assessment of its impact on indicators of students’ psychological well-being. The results indicate that CFS development is carried out through the formulation of child protection policies, enhancement of teachers’ capacity in positive parenting, strengthening guidance and counseling services, and provision of child-friendly facilities such as counseling rooms and safe play areas. The findings also show increased student self-confidence, reduced learning anxiety, and improved academic motivation. Overall, the study concludes that school management that consistently applies CFS principles is able to create a safe and supportive learning environment, thereby significantly contributing to the improvement of students’ psychological well-being. ABSTRAK Pembangunan Sekolah Ramah Anak (SRA) sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan psikologis siswa sekolah dasar. Namun, implementasi SRA di banyak sekolah masih menghadapi hambatan, terutama dalam hal manajemen, kesiapan guru, dan ketersediaan fasilitas pendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana manajemen sekolah mengembangkan SRA dan bagaimana upaya ini berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, serta analisis dokumen sekolah. Penelitian ini mencakup identifikasi kondisi awal dan pemetaan kebutuhan, analisis kebijakan dan program perlindungan anak, evaluasi implementasi CFS di kelas dan lingkungan sekolah, serta penilaian dampak terhadap indikator kesejahteraan psikologis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan SRA dilakukan melalui formulasi kebijakan perlindungan anak, peningkatan kapasitas guru dalam parenting positif, penguatan layanan bimbingan dan konseling, serta penyediaan fasilitas ramah anak seperti ruang konseling dan area bermain aman. Temuan juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri siswa, penurunan kecemasan belajar, dan peningkatan motivasi akademik. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa manajemen sekolah yang secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip SRA mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung, sehingga berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa.
TANTANGAN ETIKA DIGITAL ISLAMI: STUDI FENOMENOLOGIS PADA SISWA YANG MENGAKSES KONTEN KEAGAMAAN SINGKAT Hasibuan, Sulham Efendi; Dini, Fitri Rahma; Hasibuan, Nesmi Yuli
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8366

Abstract

The rise of short-form video platforms has transformed how young people consume religious content shifting from in-depth study to bite-sized religious messages. This transformation presents both opportunities for religious outreach and ethical challenges for students as consumers and sharers of content. This paper provides a systematic literature review (SLR) of empirical and conceptual studies on Islamic digital ethics and the consumption of short religious content among students. Reviewing 5 key articles (2020–2025), the study identifies core themes: (1) accuracy and tabayyun (verification) of content, (2) oversimplification and decontextualization of scriptural texts, (3) performative religiosity, (4) privacy and dissemination of personal data, (5) polarisation and provocation risks, and (6) potential for digital religious education. While short videos increase religious interest and engagement, students often face interpretive confusion and vulnerability to unverified information. Recommendations include embedding Islamic digital ethics into curricula, tabayyun training, and partnerships between religious educators and content creators to enhance content integrity. These findings are relevant to educators, policy makers, and digital da'wah practitioners engaging Gen Z and younger audiences. ABSTRAK Perkembangan platform short-form video telah mengubah cara generasi muda mengakses konten keagamaan: dari kajian panjang ke potongan pesan singkat yang mudah disebarluaskan. Transformasi ini menghadirkan peluang dakwah dan pembelajaran agama yang lebih luas sekaligus menimbulkan tantangan etis bagi siswa sebagai konsumen dan penyebar konten. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis (SLR) terhadap studi-studi empiris dan konseptual mengenai etika digital Islami dan praktik konsumsi konten keagamaan singkat di kalangan pelajar. Dengan menelaah 15 artikel utama (2020–2025) yang relevan, artikel ini mengidentifikasi tema-tema utama: (1) akurasi dan tabayyun (verifikasi) konten, (2) simplifikasi teks-naqli dan kehilangan konteks/tafsir, (3) fenomena performativitas keagamaan (pamer ibadah), (4) privasi dan penyebaran data personal, (5) polarisasi & potensi provokasi, serta (6) peluang pendidikan religius digital. Hasil menunjukkan bahwa meski konten singkat efektif menarik perhatian dan meningkatkan minat beragama, banyak pelajar mengalami kebingungan interpretatif dan rentan menerima informasi yang belum terverifikasi. Artikel ini merekomendasikan integrasi pendidikan etika digital Islami dalam kurikulum, pelatihan tabayyun, dan kolaborasi antara pendidik agama dengan pembuat konten untuk memastikan kualitas pesan dakwah. Temuan ini penting bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan praktisi dakwah digital yang bekerja dengan generasi Z dan alfa.
SUARA YANG DIBUNGKAM DI SEKOLAH: ANALISIS SOSIAL-KRITIS ATAS TEKANAN TERHADAP GURU DAN SISWA Alhafizh, Muhammad Rasyad; Nasarani, Kerensa Ruth Rengganis; Brahmantia, Farrell Anugrah; Fitri, Erika Annisa; Harianto, Muhammad Fauzan
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8800

Abstract

Freedom of expression for teachers and students is a crucial element in achieving democratic education. However, in practice there are still silenced voices in schools due to various pressures. This research aims to critically analyze the social conditions that pressure teachers and students, limiting their right to speak up. Using a qualitative method, data were gathered through case studies from media reports and relevant literature. The findings reveal forms of voice suppression, including students punished for criticizing school policies and teachers sanctioned for expressing their opinions. Hierarchical culture and a prevailing culture of silence in educational institutions perpetuate this phenomenon, causing school members’ aspirations to be neglected and constructive dialogue stifled. The discussion highlights that silencing contradicts the principles of national education which are supposed to be democratic, as well as laws that guarantee freedom of expression. As recommendations, it is imperative to foster a school climate that is more inclusive, democratic, and safe for constructive criticism. Supportive policies and commitment from all stakeholders are needed so that schools truly become venues for character building that respects the dignity and voice of every educational individual. ABSTRAK Kebebasan berpendapat bagi guru dan siswa merupakan elemen penting dalam mewujudkan pendidikan demokratis. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya suara-suara yang dibungkam di lingkungan sekolah akibat berbagai tekanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara sosial-kritis fenomena tekanan yang membatasi hak bersuara guru dan siswa. Dengan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui studi kasus dari laporan media dan literatur terkait. Temuan mengungkap bentuk-bentuk pembungkaman suara, antara lain siswa yang dihukum karena mengkritik kebijakan sekolah dan guru yang dikenai sanksi saat menyuarakan pendapat. Budaya hierarkis dan budaya diam di institusi pendidikan turut melanggengkan fenomena ini. Akibatnya, aspirasi warga sekolah terabaikan dan potensi dialog konstruktif terhambat. Hasil pembahasan menekankan bahwa pembungkaman tersebut bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional yang demokratis serta amanat hukum yang menjamin hak berpendapat. Sebagai rekomendasi, perlu dibangun iklim sekolah yang lebih inklusif, demokratis, dan aman bagi kritik membangun. Dukungan kebijakan dan komitmen semua pihak diperlukan agar sekolah benar-benar menjadi wahana pembentukan karakter yang menghargai martabat dan suara setiap insan pendidikan.
DARI LISAN KE LAYAR: PERGESERAN OTORITAS GURU PAI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MEDIA DIGITAL Safitri, Yenni; Andini, Tri; Hasibuan, Sulham Efendi
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8835

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed the educational landscape, including Islamic Religious Education (PAI). This transformation has led to a shift in teacher authority, where teachers are no longer the sole source of knowledge but share their roles with digital media and online learning platforms. This study aims to examine the shift in the authority of Islamic education teachers in digital-based learning and the factors influencing this transformation. Using a qualitative literature review approach, this research analyzes various national and international scholarly articles related to digital learning, teacher authority, and Islamic education. The findings indicate that the shift in teacher authority is characterized by the increasing role of digital media, the transformation of teachers into facilitators, and the emergence of alternative religious authorities through social media and online platforms. Nevertheless, teachers remain essential in guiding students, validating religious knowledge, and shaping students’ moral and spiritual character. Therefore, strengthening digital competence and pedagogical skills is crucial to maintaining the authority and relevance of Islamic education teachers in the digital era. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Transformasi ini berdampak langsung pada pergeseran otoritas guru yang sebelumnya menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, kini berbagi peran dengan media digital dan sumber belajar daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif bagaimana pergeseran otoritas guru PAI terjadi dalam konteks pembelajaran berbasis media digital, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran otoritas guru PAI ditandai oleh meningkatnya peran teknologi sebagai sumber belajar, perubahan peran guru menjadi fasilitator, serta munculnya otoritas alternatif seperti media sosial dan platform digital keagamaan. Meskipun demikian, guru tetap memiliki peran strategis dalam membimbing, memvalidasi informasi, serta membentuk karakter dan nilai keislaman peserta didik. Oleh karena itu, penguatan kompetensi digital dan pedagogik guru PAI menjadi kebutuhan mendesak agar otoritas keilmuan dan moral tetap terjaga di era digital.
HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN PRESTASI AKADEMIK SISWA Baiq Nana Apriani; Nuraini Nuraini; M Chairul Anam
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.10330

Abstract

ABSTRACT Family economic status reflects a household’s ability to meet basic needs, including education, income, and available facilities. This condition is assumed to be associated with students’ academic achievement at school. This study aims to examine the relationship between family economic status and students’ learning outcomes at SMP Negeri 1 Praya Barat Daya in the 2020/2021 academic year. The study employed a quantitative approach with a correlational method involving 37 students as respondents, using questionnaires and documentation as data collection techniques. Data were analyzed using the Product Moment correlation test. The results indicate a significant relationship between the two variables, as shown by the correlation coefficient (r) of 0.719, which is higher than the r-table value (0.325) at a 5% significance level, indicating a strong correlation. These findings suggest that better economic conditions tend to be associated with higher academic achievement. Therefore, it can be concluded that family economic status is significantly related to students’ learning outcomes. The implication of this study highlights the importance of inclusive educational policies to accommodate differences in students’ economic backgrounds in order to improve learning quality. ABSTRAK Tingkat ekonomi keluarga merupakan kondisi sosial ekonomi yang mencerminkan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup, yang meliputi pendidikan, pendapatan, dan fasilitas yang dimiliki. Kondisi ini diduga berkaitan dengan capaian akademik siswa di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara tingkat ekonomi keluarga dengan hasil belajar siswa di SMP Negeri 1 Praya Barat Daya Tahun Pelajaran 2020/2021. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional pada 37 siswa sebagai responden, dengan teknik pengumpulan data berupa angket dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel, ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,719 lebih besar dari r tabel (0,325) pada taraf signifikansi 5%, yang mengindikasikan hubungan kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang lebih baik cenderung diikuti oleh capaian belajar yang lebih optimal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat ekonomi keluarga memiliki keterkaitan yang signifikan dengan hasil belajar siswa. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif untuk mengakomodasi perbedaan latar belakang ekonomi siswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
HUBUNGAN PERILAKU PHUBBING DENGAN KUALITAS INTERAKSI SOSIAL SISWA SEKOLAH MENENGAH Muhammad Jalil; Hariadi Ahmad; Muhammad Zainal Mustamiin
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.10333

Abstract

ABSTRACT Social behavior in school settings is an important indicator in shaping healthy interactions and students’ social adjustment. One emerging phenomenon is phubbing behavior, defined as the tendency to ignore direct social interactions due to excessive smartphone use. This phenomenon is important to examine in the student context because it has the potential to reduce the quality of social interaction amid the increasing use of digital technology in daily life. This study aims to determine the relationship between phubbing behavior and social relationships among eleventh-grade students at MA NW Penendem in the 2025/2026 academic year. The study employed a quantitative approach with a correlational design, using questionnaires to measure phubbing behavior and students’ social relationships. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation test to determine the strength of the relationship between variables. The results showed a significant relationship between phubbing behavior and students’ social relationships, with a correlation coefficient (r) of 0.633, which is higher than the r-table value of 0.2609, and a significance value of 0.000 < 0.05. The relationship is negative, indicating that higher levels of phubbing behavior are associated with lower quality of students’ social relationships. These findings suggest that managing smartphone use is an important factor in maintaining the quality of students’ social interactions in school environments. ABSTRAK Perilaku sosial siswa di lingkungan sekolah menjadi indikator penting dalam membangun interaksi yang sehat dan penyesuaian diri. Salah satu fenomena yang semakin berkembang adalah perilaku phubbing, yaitu kecenderungan mengabaikan interaksi langsung karena penggunaan gawai secara berlebihan. Fenomena ini menjadi penting diteliti pada konteks siswa karena berpotensi menurunkan kualitas interaksi sosial di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku phubbing dengan hubungan sosial pada siswa kelas XI di MA NW Penendem Tahun Pelajaran 2025/2026. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, dengan pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner yang mengukur perilaku phubbing dan hubungan sosial siswa. Analisis data dilakukan menggunakan uji Pearson Product Moment untuk mengetahui keeratan hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku phubbing dengan hubungan sosial siswa dengan nilai korelasi r hitung sebesar 0,633 lebih besar dibandingkan r-tabel 0,2609, serta nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hubungan yang terjadi bersifat signifikan dengan arah negatif, yang berarti semakin tinggi perilaku phubbing, maka semakin rendah kualitas hubungan sosial siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengelolaan penggunaan gawai menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas interaksi sosial siswa di lingkungan sekolah.
PENGARUH PERMAINAN BALOK TERHADAP SIKAP KOGNITIF PADA KONSEP BERHITUNG ANAK USIA 5-6 TAHUN Mustapa Mustapa; Mustakim Mustakim; M. Najamuddin
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.10959

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the low numeracy skills of children aged 5–6 years, indicating the need for engaging learning media appropriate to children’s developmental characteristics. Block play was chosen as a learning medium because it helps children recognize number concepts, improve concentration, and stimulate cognitive development in numeracy learning through enjoyable activities. The purpose of this study was to determine the effect of block play on the cognitive ability of numeracy concepts among children aged 5–6 years at TK Yazida NW Tangar in the 2019/2020 academic year. This research employed a quantitative approach with an experimental design. The population consisted of 40 students, while the sample included 15 students selected through purposive sampling. Data were collected using observation, interviews, documentation, and questionnaires. The data were analyzed using the t-test to determine the effect of block play on children’s numeracy abilities. The results showed that block play had a positive effect on early childhood numeracy skills. Children became more active, were able to recognize number concepts more easily, and showed greater interest in participating in numeracy learning activities after the implementation of block play activities. The findings indicate that the use of educational play media can help improve children’s cognitive abilities, particularly in understanding basic numeracy concepts in early childhood education. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kemampuan berhitung anak usia 5–6 tahun sehingga diperlukan media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Permainan balok dipilih sebagai media pembelajaran karena mampu membantu anak mengenal konsep angka, meningkatkan konsentrasi, serta merangsang perkembangan kognitif dalam proses berhitung secara lebih menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan balok terhadap kemampuan kognitif pada konsep berhitung anak usia 5–6 tahun di TK Yazida NW Tangar Tahun Pelajaran 2019/2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen. Populasi penelitian berjumlah 40 siswa, sedangkan sampel penelitian terdiri atas 15 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket. Data penelitian dianalisis menggunakan uji t-test untuk mengetahui pengaruh permainan balok terhadap kemampuan berhitung anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan balok memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan berhitung anak usia dini. Anak menjadi lebih aktif, mudah mengenal konsep angka, serta lebih tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran berhitung setelah diberikan perlakuan menggunakan permainan balok. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media permainan edukatif dapat membantu meningkatkan kemampuan kognitif anak, khususnya dalam memahami konsep berhitung dasar pada pendidikan anak usia dini.
SUARA YANG DIBUNGKAM DI SEKOLAH: ANALISIS SOSIAL-KRITIS ATAS TEKANAN TERHADAP GURU DAN SISWA Muhammad Rasyad Alhafizh; Kerensa Ruth Rengganis Nasarani; Farrell Anugrah Brahmantia; Erika Annisa Fitri; Muhammad Fauzan Harianto
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8800

Abstract

Freedom of expression for teachers and students is a crucial element in achieving democratic education. However, in practice there are still silenced voices in schools due to various pressures. This research aims to critically analyze the social conditions that pressure teachers and students, limiting their right to speak up. Using a qualitative method, data were gathered through case studies from media reports and relevant literature. The findings reveal forms of voice suppression, including students punished for criticizing school policies and teachers sanctioned for expressing their opinions. Hierarchical culture and a prevailing culture of silence in educational institutions perpetuate this phenomenon, causing school members’ aspirations to be neglected and constructive dialogue stifled. The discussion highlights that silencing contradicts the principles of national education which are supposed to be democratic, as well as laws that guarantee freedom of expression. As recommendations, it is imperative to foster a school climate that is more inclusive, democratic, and safe for constructive criticism. Supportive policies and commitment from all stakeholders are needed so that schools truly become venues for character building that respects the dignity and voice of every educational individual. ABSTRAK Kebebasan berpendapat bagi guru dan siswa merupakan elemen penting dalam mewujudkan pendidikan demokratis. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya suara-suara yang dibungkam di lingkungan sekolah akibat berbagai tekanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara sosial-kritis fenomena tekanan yang membatasi hak bersuara guru dan siswa. Dengan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui studi kasus dari laporan media dan literatur terkait. Temuan mengungkap bentuk-bentuk pembungkaman suara, antara lain siswa yang dihukum karena mengkritik kebijakan sekolah dan guru yang dikenai sanksi saat menyuarakan pendapat. Budaya hierarkis dan budaya diam di institusi pendidikan turut melanggengkan fenomena ini. Akibatnya, aspirasi warga sekolah terabaikan dan potensi dialog konstruktif terhambat. Hasil pembahasan menekankan bahwa pembungkaman tersebut bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional yang demokratis serta amanat hukum yang menjamin hak berpendapat. Sebagai rekomendasi, perlu dibangun iklim sekolah yang lebih inklusif, demokratis, dan aman bagi kritik membangun. Dukungan kebijakan dan komitmen semua pihak diperlukan agar sekolah benar-benar menjadi wahana pembentukan karakter yang menghargai martabat dan suara setiap insan pendidikan.
DARI LISAN KE LAYAR: PERGESERAN OTORITAS GURU PAI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MEDIA DIGITAL Yenni Safitri; Tri Andini; Sulham Efendi Hasibuan
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8835

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed the educational landscape, including Islamic Religious Education (PAI). This transformation has led to a shift in teacher authority, where teachers are no longer the sole source of knowledge but share their roles with digital media and online learning platforms. This study aims to examine the shift in the authority of Islamic education teachers in digital-based learning and the factors influencing this transformation. Using a qualitative literature review approach, this research analyzes various national and international scholarly articles related to digital learning, teacher authority, and Islamic education. The findings indicate that the shift in teacher authority is characterized by the increasing role of digital media, the transformation of teachers into facilitators, and the emergence of alternative religious authorities through social media and online platforms. Nevertheless, teachers remain essential in guiding students, validating religious knowledge, and shaping students’ moral and spiritual character. Therefore, strengthening digital competence and pedagogical skills is crucial to maintaining the authority and relevance of Islamic education teachers in the digital era. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Transformasi ini berdampak langsung pada pergeseran otoritas guru yang sebelumnya menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, kini berbagi peran dengan media digital dan sumber belajar daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif bagaimana pergeseran otoritas guru PAI terjadi dalam konteks pembelajaran berbasis media digital, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran otoritas guru PAI ditandai oleh meningkatnya peran teknologi sebagai sumber belajar, perubahan peran guru menjadi fasilitator, serta munculnya otoritas alternatif seperti media sosial dan platform digital keagamaan. Meskipun demikian, guru tetap memiliki peran strategis dalam membimbing, memvalidasi informasi, serta membentuk karakter dan nilai keislaman peserta didik. Oleh karena itu, penguatan kompetensi digital dan pedagogik guru PAI menjadi kebutuhan mendesak agar otoritas keilmuan dan moral tetap terjaga di era digital.

Page 1 of 1 | Total Record : 9