cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru
ISSN : 28078837     EISSN : 28078667     DOI : https://doi.org/10.51878/teacher.v2i1
Core Subject : Education,
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik dan lain lain.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 234 Documents
EVALUASI KINERJA GURU DALAM PEMBELAJARAN DI SD NEGE-RI SUSUKAN 02 MENGGUNAKAN MODEL CHARLOTTE DANIEL-SON Annisa Urbaningrum; Suhandi Astuti
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.13549

Abstract

The uneven quality of instruction among educators and limitations in the aspect of post-daily classroom reflection are the background to writing this article. These operational problems trigger inefficiencies in the transfer of basic character values ​​and weak mitigation of student learning obstacles at the end of the teaching period. The main focus of this scientific study is to describe and evaluate the level of achievement of classroom teacher performance based on the framework of the four domains of the Charlotte Danielson model. The steps of this qualitative descriptive evaluative approach are operated through a review of the performance records of six teacher respondents at SD Negeri Susukan 02. The data collection procedure is collected in a structured manner via direct observation sheets, questionnaires, in-depth interviews, and validation of draft document records. Quantitative data empirically reveals the achievement of lesson planning is categorized as very good with a target completion rate of 83.3 percent, classroom environmental management reaching an average of 77.4 percent, instructional implementation reaching 74 percent, and professional responsibility at 83.3 percent. The main conclusion confirms that standardized classroom interaction monitoring using the Danielson instrument has proven highly reliable in detecting pedagogical weaknesses in educators. Schools are recommended to draft training programs for teaching time management and consistently strengthening higher-order thinking skills. ABSTRAK Kualitas instruksional yang belum merata antar-pendidik serta keterbatasan dalam aspek refleksi pascapembelajaran harian di kelas melatarbelakangi penulisan artikel ini. Masalah operasional tersebut memicu inefisiensi transfer nilai-nilai karakter dasar serta lemahnya mitigasi kendala belajar peserta didik pada durasi akhir pengajaran. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah mendeskripsikan dan mengevaluasi tingkat ketercapaian kinerja guru kelas berdasarkan kerangka empat domain model Charlotte Danielson. Langkah-langkah pendekatan evaluatif deskriptif kualitatif ini dioperasikan melalui peninjauan rekam kinerja terhadap enam responden guru di SD Negeri Susukan 02. Prosedur pengumpulan data dihimpun secara terstruktur via lembar observasi langsung, kuesioner angket, wawancara mendalam, serta validasi draf rekam dokumen. Data kuantitatif secara empiris menyingkap ketercapaian perencanaan pembelajaran berkategori sangat baik dengan angka ketuntasan target 83,3 persen, tata kelola lingkungan kelas meraih rerata 77,4 persen, pelaksanaan instruksional menyentuh angka 74 persen, serta tanggung jawab profesional sebesar 83,3 persen. Simpulan utama menegaskan bahwa standardisasi monitoring interaksi kelas menggunakan instrumen Danielson terbukti sangat andal dalam mendeteksi kelemahan pedagogik pendidik. Pihak sekolah direkomendasikan menyusun draf program pelatihan manajemen waktu pengajaran dan penguatan keterampilan berpikir tingkat tinggi secara konsisten.    
INTOLERANSI TERSELUBUNG DALAM BUDAYA SEKOLAH NEGERI: ANALISIS PRAKTIK DISKRIMINASI SIMBOLIK TERHADAP SISWA MINORITAS Jecsonius Robinson
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i3.13550

Abstract

This study aims to analyze hidden intolerance within public school culture and reveal the forms of symbolic discrimination experienced by minority students in everyday school life. The research focuses on the dominance of majority culture, symbolic discrimination practices, hidden curriculum, psychosocial experiences of minority students, and the role of teachers and schools in managing diversity. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation involving minority students, teachers, counseling teachers, and school administrators. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that intolerance in public schools does not always appear in the form of overt discrimination, but is reproduced latently through school culture, social symbols, institutional habits, and communication patterns that predominantly represent the majority group. Symbolic discrimination was found in the form of religious jokes, social labeling, neglect of minority students’ opinions, social segregation, and the normalization of homogeneous school culture. These conditions affect minority students’ learning comfort, self confidence, and social participation within the school environment. The novelty of this study lies in its analysis of hidden intolerance through the perspectives of symbolic discrimination and hidden curriculum in public school culture, which remains underexplored in the Indonesian educational context. This study contributes to the development of multicultural education studies, inclusive school culture, and educational policies that are more responsive to student diversity. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk intoleransi terselubung dalam budaya sekolah negeri serta mengungkap praktik diskriminasi simbolik yang dialami siswa minoritas di lingkungan sekolah. Fokus penelitian diarahkan pada dominasi budaya mayoritas, praktik diskriminasi simbolik, hidden curriculum, pengalaman psikososial siswa minoritas, serta peran guru dan sekolah dalam mengelola keberagaman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap siswa minoritas, guru, guru bimbingan dan konseling, serta pihak sekolah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intoleransi di sekolah negeri tidak selalu muncul dalam bentuk diskriminasi terbuka, tetapi direproduksi secara laten melalui budaya sekolah, simbol sosial, kebiasaan institusi, dan pola komunikasi yang lebih merepresentasikan praktik laten. Praktik diskriminasi simbolik ditemukan dalam bentuk candaan bernuansa agama, pelabelan sosial, pengabaian pendapat siswa minoritas, segregasi sosial, serta pembiasaan budaya sekolah yang homogen. Kondisi tersebut berdampak terhadap kenyamanan belajar, rasa percaya diri, dan partisipasi sosial siswa minoritas dalam lingkungan sekolah. Novelty penelitian ini terletak pada analisis intoleransi terselubung melalui perspektif diskriminasi simbolik dan hidden curriculum dalam budaya sekolah negeri yang masih jarang dikaji dalam konteks pendidikan Indonesia. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan kajian pendidikan multikultural, budaya sekolah inklusif, dan kebijakan pendidikan yang lebih sensitif terhadap keberagaman peserta didik.    
SUARA YANG DIBUNGKAM DI SEKOLAH: ANALISIS SOSIAL-KRITIS ATAS TEKANAN TERHADAP GURU DAN SISWA Muhammad Rasyad Alhafizh; Kerensa Ruth Rengganis Nasarani; Farrell Anugrah Brahmantia; Erika Annisa Fitri; Muhammad Fauzan Harianto
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8800

Abstract

Freedom of expression for teachers and students is a crucial element in achieving democratic education. However, in practice there are still silenced voices in schools due to various pressures. This research aims to critically analyze the social conditions that pressure teachers and students, limiting their right to speak up. Using a qualitative method, data were gathered through case studies from media reports and relevant literature. The findings reveal forms of voice suppression, including students punished for criticizing school policies and teachers sanctioned for expressing their opinions. Hierarchical culture and a prevailing culture of silence in educational institutions perpetuate this phenomenon, causing school members’ aspirations to be neglected and constructive dialogue stifled. The discussion highlights that silencing contradicts the principles of national education which are supposed to be democratic, as well as laws that guarantee freedom of expression. As recommendations, it is imperative to foster a school climate that is more inclusive, democratic, and safe for constructive criticism. Supportive policies and commitment from all stakeholders are needed so that schools truly become venues for character building that respects the dignity and voice of every educational individual. ABSTRAK Kebebasan berpendapat bagi guru dan siswa merupakan elemen penting dalam mewujudkan pendidikan demokratis. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya suara-suara yang dibungkam di lingkungan sekolah akibat berbagai tekanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara sosial-kritis fenomena tekanan yang membatasi hak bersuara guru dan siswa. Dengan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui studi kasus dari laporan media dan literatur terkait. Temuan mengungkap bentuk-bentuk pembungkaman suara, antara lain siswa yang dihukum karena mengkritik kebijakan sekolah dan guru yang dikenai sanksi saat menyuarakan pendapat. Budaya hierarkis dan budaya diam di institusi pendidikan turut melanggengkan fenomena ini. Akibatnya, aspirasi warga sekolah terabaikan dan potensi dialog konstruktif terhambat. Hasil pembahasan menekankan bahwa pembungkaman tersebut bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional yang demokratis serta amanat hukum yang menjamin hak berpendapat. Sebagai rekomendasi, perlu dibangun iklim sekolah yang lebih inklusif, demokratis, dan aman bagi kritik membangun. Dukungan kebijakan dan komitmen semua pihak diperlukan agar sekolah benar-benar menjadi wahana pembentukan karakter yang menghargai martabat dan suara setiap insan pendidikan.
DARI LISAN KE LAYAR: PERGESERAN OTORITAS GURU PAI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MEDIA DIGITAL Yenni Safitri; Tri Andini; Sulham Efendi Hasibuan
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8835

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed the educational landscape, including Islamic Religious Education (PAI). This transformation has led to a shift in teacher authority, where teachers are no longer the sole source of knowledge but share their roles with digital media and online learning platforms. This study aims to examine the shift in the authority of Islamic education teachers in digital-based learning and the factors influencing this transformation. Using a qualitative literature review approach, this research analyzes various national and international scholarly articles related to digital learning, teacher authority, and Islamic education. The findings indicate that the shift in teacher authority is characterized by the increasing role of digital media, the transformation of teachers into facilitators, and the emergence of alternative religious authorities through social media and online platforms. Nevertheless, teachers remain essential in guiding students, validating religious knowledge, and shaping students’ moral and spiritual character. Therefore, strengthening digital competence and pedagogical skills is crucial to maintaining the authority and relevance of Islamic education teachers in the digital era. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Transformasi ini berdampak langsung pada pergeseran otoritas guru yang sebelumnya menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, kini berbagi peran dengan media digital dan sumber belajar daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif bagaimana pergeseran otoritas guru PAI terjadi dalam konteks pembelajaran berbasis media digital, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran otoritas guru PAI ditandai oleh meningkatnya peran teknologi sebagai sumber belajar, perubahan peran guru menjadi fasilitator, serta munculnya otoritas alternatif seperti media sosial dan platform digital keagamaan. Meskipun demikian, guru tetap memiliki peran strategis dalam membimbing, memvalidasi informasi, serta membentuk karakter dan nilai keislaman peserta didik. Oleh karena itu, penguatan kompetensi digital dan pedagogik guru PAI menjadi kebutuhan mendesak agar otoritas keilmuan dan moral tetap terjaga di era digital.
TRANSFORMASI PEMBELAJARAN BUDAYA NUSANTARA MELALUI GALERI VIRTUAL ARTSTEPS: STUDI IMPLEMENTASI DI SEKOLAH DASAR Rika Ayumawarsih; Evi Purnamasari; Yani Dwi Hastuti
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i1.8956

Abstract

This study aims to describe the transformation of Indonesian cultural learning through the use of the Artsteps virtual gallery in elementary schools. The research background stems from low student engagement and the lack of contextual learning experiences in cultural learning, necessitating the need for immersive media capable of providing exploratory experiences. Using a qualitative approach with a case study design, this study involved teachers and fourth-grade students through observation, interviews, and documentation during the pre-implementation, implementation, and post-implementation processes. The results showed a significant increase in student learning engagement, marked by increased exploration, discussion, and question-asking activities during visits to the Artsteps virtual space. Students' understanding of cultural diversity also improved, as evidenced by their ability to identify, describe, and compare cultural elements across regions in greater depth. Furthermore, the teacher's role shifted from information provider to facilitator, enabling more collaborative and student-centered learning. However, this study also identified several challenges, such as network limitations, diverse digital literacies, and device constraints, all of which were overcome through adaptive instructional strategies. Overall, this study confirms that the Artsteps virtual gallery is effective in enriching cultural learning experiences and has the potential to be a pedagogical innovation that can be widely implemented in elementary schools. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan transformasi pembelajaran budaya Nusantara melalui pemanfaatan galeri virtual Artsteps di sekolah dasar. Latar belakang penelitian berangkat dari rendahnya keterlibatan siswa dan minimnya pengalaman belajar kontekstual dalam pembelajaran budaya, sehingga diperlukan media imersif yang mampu menghadirkan pengalaman eksploratif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan guru dan siswa kelas IV melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama proses pra-implementasi, implementasi, dan pasca-implementasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterlibatan belajar siswa, ditandai dengan meningkatnya aktivitas eksplorasi, diskusi, dan pengajuan pertanyaan selama mengunjungi ruang virtual Artsteps. Pemahaman siswa terhadap keberagaman budaya juga meningkat, terlihat dari kemampuan mereka mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan membandingkan unsur budaya antar daerah secara lebih mendalam. Selain itu, peran guru mengalami pergeseran dari pemberi informasi menuju fasilitator, yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang lebih kolaboratif dan student-centered. Kendati demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan seperti keterbatasan jaringan, literasi digital yang beragam, dan kendala perangkat, namun semua dapat diatasi melalui strategi instruksional adaptif. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa galeri virtual Artsteps efektif dalam memperkaya pengalaman belajar budaya dan berpotensi menjadi inovasi pedagogis yang dapat diimplementasikan luas di sekolah dasar.  
KONSTRUKSI TEORETIS INSTRUMEN PENILAIAN MENULIS TEKS DESKRIPSI KELAS VII BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) Mashudi Mashudi; Kuntoro Kuntoro
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i1.8998

Abstract

ABSTRACT Descriptive text writing skills are an important competence in the Merdeka Curriculum Phase D, requiring students’ observational abilities and imaginative expression. However, assessment practices in schools still tend to focus on Lower Order Thinking Skills (LOTS) and have not fully accommodated the demands of Higher Order Thinking Skills (HOTS). This study aims to formulate a comprehensive HOTS-based assessment instrument model for descriptive text writing. The research employs a qualitative approach using a library research method through the analysis of scholarly literature, language learning evaluation theories, and educational policy documents. Data were collected through documentation and analyzed using content analysis techniques, including data reduction, data display, and conclusion drawing, with data validity strengthened through source triangulation. The findings indicate that HOTS-based writing assessment requires the development of cognitive indicators at the C4 level (analyzing the interrelationships among object details), C5 (evaluating the effectiveness of figurative language use), and C6 (creating original descriptive texts from a unique perspective). The formulated assessment instrument takes the form of an essay test based on visual stimuli, emphasizing authentic assessment and the use of at least three senses. The assessment rubric is analytical–holistic, with the highest weighting placed on diction and figurative language (40%) and text structure (30%). The conclusion of this study confirms that a HOTS-based descriptive text writing assessment instrument is capable of fostering students’ critical and creative thinking skills more optimally. Theoretically, this study enriches the conceptual framework of language learning evaluation, and practically, it serves as a reference for teachers in designing meaningful and challenging writing assessments. ABSTRAK Keterampilan menulis teks deskripsi merupakan kompetensi penting dalam Kurikulum Merdeka Fase D yang menuntut kemampuan observasi dan ekspresi imajinatif siswa. Namun, praktik penilaian di sekolah masih cenderung berfokus pada Lower Order Thinking Skills (LOTS) dan belum sepenuhnya mengakomodasi tuntutan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Penelitian ini bertujuan merumuskan model instrumen penilaian menulis teks deskripsi berbasis HOTS secara komprehensif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis literatur, teori evaluasi pembelajaran bahasa, serta dokumen kebijakan pendidikan. Data dikumpulkan melalui dokumentasi dan dianalisis menggunakan teknik analisis isi yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, dengan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa penilaian menulis berbasis HOTS menuntut pengembangan indikator kognitif pada level C4 (menganalisis keterkaitan detail objek), C5 (mengevaluasi efektivitas penggunaan majas), dan C6 (menciptakan teks deskripsi orisinal dengan sudut pandang unik). Instrumen penilaian yang dirumuskan berbentuk tes uraian berbasis stimulus visual yang menekankan penilaian autentik dan penggunaan minimal tiga pancaindra. Rubrik penilaian bersifat analitik-holistik dengan pembobotan utama pada aspek pilihan kata dan majas sebesar 40% serta struktur teks sebesar 30%. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa instrumen penilaian menulis teks deskripsi berbasis HOTS mampu mendorong kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa secara lebih optimal. Secara teoretis, kajian ini memperkaya konsep evaluasi pembelajaran bahasa, dan secara praktis dapat dijadikan acuan bagi guru dalam menyusun asesmen menulis yang bermakna dan menantang.
ASESMEN AUTENTIK BERBASIS TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Arum Berliana Prasanty; Kuntoro Kuntoro
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i1.8999

Abstract

ABSTRACT Learning evaluation in the Merdeka Curriculum positions authentic assessment as an essential component for assessing students’ competency achievement in a holistic and contextual manner. Along with the development of digital technology, the integration of technology into authentic assessment presents a strategic opportunity to enhance the quality of Indonesian language learning evaluation. This study aims to examine and analyze the concepts, benefits, and challenges of implementing technology-based authentic assessment in Indonesian language learning through a literature review. The research employed a qualitative descriptive method with a library research approach. Data were obtained through a systematic review of books, scientific journal articles, and relevant digital sources and were analyzed inductively to identify patterns and major themes. The results indicate that technology-based authentic assessment supports the authentic assessment of language competence through various digital literacy products, such as digital portfolios, multimedia projects, and online discussions. The integration of technology also accelerates feedback provision, enhances students’ learning motivation, and enables continuous, learner-centered evaluation. However, its implementation still faces challenges, including limited teacher competencies, infrastructure readiness, and variations in students’ digital literacy. This study concludes that technology-based authentic assessment has significant potential to improve the quality of Indonesian language learning evaluation in the Merdeka Curriculum, provided it is supported by strengthening teachers’ competencies and adequate technological infrastructure. ABSTRAK Evaluasi pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka menempatkan asesmen autentik sebagai komponen esensial untuk menilai ketercapaian kompetensi peserta didik secara holistik dan kontekstual. Seiring perkembangan teknologi digital, integrasi teknologi dalam asesmen autentik menjadi peluang strategis untuk meningkatkan kualitas evaluasi pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis konsep, manfaat, serta tantangan implementasi asesmen autentik berbasis teknologi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan kajian literatur. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui penelaahan sistematis terhadap buku, artikel jurnal ilmiah, dan sumber digital yang relevan, kemudian dianalisis secara induktif untuk menemukan pola dan tema utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa asesmen autentik berbasis teknologi mampu mendukung penilaian kompetensi berbahasa secara nyata melalui berbagai produk literasi digital, seperti portofolio digital, proyek multimedia, dan diskusi daring. Integrasi teknologi juga mempercepat pemberian umpan balik, meningkatkan motivasi belajar, serta memungkinkan evaluasi yang berkelanjutan dan berpusat pada peserta didik. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan kompetensi guru, kesiapan infrastruktur, dan variasi literasi digital peserta didik. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa asesmen autentik berbasis teknologi berpotensi besar meningkatkan kualitas evaluasi pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Merdeka, asalkan didukung oleh penguatan kompetensi guru dan penyediaan infrastruktur teknologi yang memadai.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS CANVA: TRANSFORMASI TEKS PROSEDUR MENJADI INFOGRAFIK PADA SISWA KELAS IX SMP Tuti Mayasuci; Eko Suroso
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i1.9024

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the implementation of Canva-based Indonesian language learning in transforming procedural texts into infographics for ninth-grade students at SMP Negeri 2 Karangpucung, to identify the challenges faced by teachers and students, and to analyze students’ responses to the learning process. Procedural text learning, which has traditionally focused on linguistic structure, is often considered less engaging; therefore, learning innovation that integrates digital technology and 21st-century skills is required. This study employed a descriptive qualitative method with ninth-grade students as the research subjects. The research stages included lesson planning using Canva, implementation of learning activities involving the transformation of procedural texts into infographic formats, and evaluation through reflection and analysis of students’ responses. Data were collected through classroom observations, interviews with teachers and students, and questionnaires to assess students’ perceptions. The results indicate that the use of Canva increased student engagement, creativity, and the ability to present information visually. The challenges encountered included limited access to digital devices and varying levels of students’ digital literacy. Overall, students showed positive responses, perceiving the learning activities as interesting, easy to understand, and helpful in improving their comprehension of procedural texts. In conclusion, Canva-based learning is an effective and innovative alternative for teaching procedural texts in Indonesian language classes. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis Canva dalam mentransformasikan teks prosedur menjadi infografik pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Karangpucung, mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru dan siswa, serta menganalisis respons siswa terhadap pembelajaran tersebut. Pembelajaran teks prosedur yang selama ini cenderung berorientasi pada struktur kebahasaan dinilai kurang menarik, sehingga diperlukan inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi digital dan penguatan keterampilan abad ke-21. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan subjek siswa kelas IX. Tahapan penelitian meliputi perencanaan pembelajaran berbasis Canva, pelaksanaan pembelajaran transformasi teks prosedur ke bentuk infografik, serta evaluasi melalui refleksi dan pengumpulan respons siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi aktivitas pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa, serta penyebaran angket untuk mengetahui respons siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Canva mampu meningkatkan keterlibatan siswa, kreativitas, serta kemampuan menyajikan informasi secara visual. Kendala yang ditemukan meliputi keterbatasan akses perangkat dan variasi kemampuan literasi digital siswa. Secara umum, siswa memberikan respons positif terhadap pembelajaran ini karena dianggap menarik, mudah dipahami, dan membantu pemahaman materi. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis Canva efektif sebagai alternatif inovatif dalam pembelajaran teks prosedur.
SIKAP MURID KELAS VIII SMP TERHADAP KARAKTER IBU DALAM CERITA RAKYAT TIMUN MAS: SEBUAH KAJIAN KUALITATIF Singgih Wiku Yuwono; Eko Suroso
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i1.9025

Abstract

ABSTRACT The folk tale Timun Mas is one of the popular traditional stories rich in moral values and is often used as teaching material in junior high school literature classes. However, interpretations of characters in folk tales are not always singular and can be critically analyzed by students. This study aims to describe the attitudes of eighth-grade students toward the mother’s character in the Timun Mas folk tale, particularly regarding the mother’s act of breaking her promise to the giant. The study employed a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects were 34 students of class VIII-A at SMP Negeri 2 Karangpucung. Data were collected through open-ended questionnaires, in-depth interviews, and focused group discussions, and then analyzed thematically. The results indicate a variation in students’ attitudes toward the mother’s character. Most students viewed Timun Mas’s mother as intelligent, loving, and willing to sacrifice for her child’s safety. However, some students considered the act of breaking a promise as less commendable and contrary to the value of honesty. This study shows that eighth-grade students are capable of evaluating folk tale characters critically, not only based on explicit moral messages but also by considering context, conflicts, and the characters’ moral dilemmas. Therefore, the study recommends implementing literature learning based on critical analysis so that students can develop reflective thinking skills and not accept moral values uncritically. ABSTRAK Cerita rakyat Timun Mas merupakan salah satu cerita tradisional yang populer dan sarat nilai moral sehingga sering digunakan sebagai bahan ajar sastra di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, pemaknaan terhadap tokoh dalam cerita rakyat tidak selalu bersifat tunggal dan dapat ditafsirkan secara kritis oleh peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap murid kelas VIII SMP terhadap karakter ibu dalam cerita rakyat Timun Mas, khususnya terkait tindakan ibu Timun Mas yang mengingkari janji kepada raksasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah 34 murid kelas VIII-A SMP Negeri 2 Karangpucung. Data dikumpulkan melalui angket terbuka, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi sikap murid dalam menilai karakter ibu Timun Mas. Sebagian besar murid memandang ibu Timun Mas sebagai sosok yang cerdas, penuh kasih sayang, dan rela berkorban demi keselamatan anaknya. Namun, sebagian murid lainnya menilai tindakan mengingkari janji sebagai perilaku yang kurang terpuji dan bertentangan dengan nilai kejujuran. Penelitian ini menunjukkan bahwa murid kelas VIII SMP mampu menilai tokoh cerita rakyat secara kritis, tidak hanya berdasarkan pesan moral eksplisit, tetapi juga dengan mempertimbangkan konteks, konflik, dan dilema moral tokoh. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penerapan pembelajaran sastra berbasis analisis kritis agar murid dapat mengembangkan kemampuan berpikir reflektif dan tidak menerima nilai moral secara tunggal.
SOFT SKILLS PENDIDIKAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM Sulham Efendi Hasibuan; Nurjulianti Nurjulianti; Fifi Angraini; Riska Romadhona
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i1.9035

Abstract

Islamic education holds a crucial role in shaping well-rounded individuals, not only intellectually but also emotionally and socially. This paper explores the urgency of soft skills development within the framework of Islamic education, particularly in the context of Islamic Religious Education (IRE). Employing a descriptive qualitative method through literature review, the author examines recent scholarly sources that discuss the integration of Islamic values with the enhancement of interpersonal abilities such as communication, collaboration, and leadership. The findings reveal that Islamic education has significant potential to cultivate soft skills by internalizing moral values, ethical conduct, and the practical application of Islamic teachings in daily life. The study suggests that when Islamic education broadens its focus beyond cognitive and doctrinal content to include interpersonal skill development, it can produce resilient Muslim individuals with strong character who are capable of facing global challenges. The conclusion highlights that fostering soft skills is an essential component of holistic Islamic education and aligns with the demands of contemporary society. ABSTRAK Pendidikan Islam berperan penting dalam membentuk individu yang seimbang, tidak hanya dari sisi intelektual, tetapi juga dalam aspek emosional dan sosial. Tulisan ini membahas urgensi pengembangan soft skills dalam pendidikan Islam, khususnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan, penulis mengulas literatur-literatur mutakhir yang membahas keterpaduan nilai-nilai Islam dengan penguatan keterampilan interpersonal seperti komunikasi, kerja sama, dan kepemimpinan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan Islam sangat potensial dalam menanamkan soft skills melalui pembiasaan nilai-nilai moral, etika, dan implementasi ajaran Islam dalam aktivitas sehari-hari. Temuan ini mengungkapkan bahwa apabila pendidikan Islam tidak hanya menitikberatkan pada aspek intelektual dan keagamaan, tetapi juga memberi perhatian pada pengembangan keterampilan sosial, maka akan terbentuk generasi Muslim yang tangguh, memiliki karakter unggul, dan siap bersaing di era global. Kesimpulan dari artikel ini menegaskan bahwa pembinaan soft skills adalah bagian yang tak terpisahkan dari konsep pendidikan Islam yang menyeluruh dan sesuai dengan tantangan zaman kini.