cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 3 (2025)" : 32 Documents clear
PERBEDAAN RESIKO KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA USIA IBU HAMIL RESIKO TINGGI DI WILAYAH PUSKESMAS SUKOWONO KABUPATEN JEMBER Hidayati, Nur; Sugijati, Sugijati; Sasmito, Lulut; Palupi, Jenie
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7057

Abstract

Preeclampsia is characterized by blood pressure of 140/90 mm Hg or more. The prevalence of preeclampsia in East Java in 2022 was 499 cases. In 2023 there were 498 cases, in Jember in 2022 there were 57 people and in 2023 there were 47 people. Age is one of the factors that influence preeclampsia. This study aims to determine the difference in the risk of preeclampsia at high-risk ages. The research design uses comparative. The study population of pregnant women aged ? 20 years and 2-35 years was 186 people, with a Random Sampling technique of 126 respondents. Data collection used a cohort of pregnant women in 2023. Data analysis used the Chi-Square and Odds Ratio tests. Results 41 people aged ?35 years are at risk of preeclampsia and 28 people aged ? 20 years are at risk of preeclampsia, 16 people aged 35 years are not at risk of preeclampsia, 41 people aged ? 20 years are not at risk of preeclampsia There is a difference in the risk of preeclampsia at high-risk ages with p-value = 0.001 < 0.05. Conclusion The older the age of the pregnant woman, the higher the risk of preeclampsia. KIE safe age for pregnancy use contraception first before the age of 20 years and over 35 years. Consider the risk again if pregnancy occurs at a high-risk age, do ANC regularly ABSTRAKPreeklamsia ditandai dengan tekanan darah 140/90 mm Hg atau lebih. Prevalensi preeclampsia di Jawa Timur tahun 2022 sebanyak 499 kasus. tahun 2023 sebanyak 498 kasus, di jember tahun 2022 sebanyak 57 orang dan tahun 2023 sebanyak 47 orang.usia merupakan salah satu factor yang empengaruhi preekamsi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan resiko kejadian preeklamsi pada usia resiko tinggi. Desain penelitian menggunakan komparatif. Populasi penelitian ibu hamil berusia ? 20 tahun dan 2 35 tahun sebanyak 186 orang, dengan teknik Random Sampling yaitu 126 responden. Pengumpulan data menggunakan kohord ibu hamil tahun 2023. Analisis data dengan uji Chi-Square dan Odds Ratio. Hasil 41 orang usia ?35 tahun beresiko preeklamsi dan usia ? 20 tahun 28 orang yang beresiko preeklamsi, 16 orang usia 35 tahun tidak beresiko preeklamsi, 41 orang usia ? 20 tahun tidak beresiko preeklamsi Terdapat perbedaan resiko preeklamsi pada usia resiko tinggi dengan p-value = 0,001 < 0,05. Kesimpulan semakin tua usia ibu hamil maka resiko preeklampsia juga tinggi. KIE usia aman untuk hamil gunakan kontrasepsi dulu sebelum usia mencapai 20 tahun dan usia lebih 35 tahun. Pertimbangkan lagi resiko jika terjadi kehamilan di usia resiko tinggi lakukan anc secara teratur
OPTIMALISASI PERAN KADER DALAM PENYULUHAN P4K SEBELUM DAN SETELAH PEMBERIAN PELATIHAN KADER DI KELURAHAN GEBANG UPTD PUSKESMAS PATRANG Widiarti, Tanti; Jamhariyah, Jamhariyah; Sasmito, Lulut
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7058

Abstract

The role of cadres in P4K is still low, especially in educating pregnant women due to the lack of optimal programs that include the role of cadres. Cadres in Gebang Village were found that out of 20% of cadres who conducted P4K counseling both in and outside the posyandu. This is due to the lack of coaching and increasing the knowledge capacity of cadres. This study aims to determine the optimality of the role of cadres in P4K counseling before and after providing cadre training. Researchers conducted a rapid survey using a quantitative comparative study research design, Cluster random sampling technique and Simple random sampling using a One Group Pretest-Posttest research design with a sample of 100 respondents. Data analysis used the Wilcoxon Test. The results showed that the role of cadres before being given training was 54% inactive. While the role of cadres after being given training was 56% active. The results of the analysis obtained a p-value of 0.000 <? (0.05). The conclusion in this study is that there is an optimal role for cadres in P4K counseling before and after training was given in Gebang Village, UPTD Patrang Health Center. ABSTRAKPeran kader dalam P4K masih rendah, terutama dalam mengedukasi ibu hamil dikarenakan kurang maksimalnya program yang mengikut sertakan peran kader. Kader di Kelurahan Gebang ditemukan bahwa dari 20% kader yang melakukan penyuluhan P4K baik di dalam posyandu maupun di luar posyandu. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pembinaan dan peningkatan kapasitas pengetahuan kader. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Optimal tidaknya  Peran Kader Dalam Penyuluhan P4K dari Sebelum dan Setelah Pemberian Pelatihan Kader. Peneliti melakukan survei cepat menggunakan desain penelitian studi kuantitatif comparation, teknik Cluster random sampling dan Simple random sampling menggunakan desain penelitian One Group Pretest-Posttest dengan sampel 100 responden. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kader sebelum diberi pelatihan yaitu terdapat 54% kader tidak aktif. Sedangkan peran kader setelah diberikan pelatihan yaitu terdapat 56% kader berperan aktif. Hasil analisis di peroleh p-value 0.000 < ? (0.05). Kesimpulan dalam penelitian ini adanya Peran kader yang optimal dalam penyuluhan P4K dari sebelum dan setelah diberikan Pelatihan di Kelurahan Gebang UPTD Puskesmas Patrang.
POLA PERUBAHAN Z-SCORE PASKA PEMBERIAN PMT PEMULIHAN PADA BALITA STUNTING DI UPTD PUSKESMAS KEMUNINGSARI KIDUL Vitasari, Nilla Marolin Heny; Jamhariyah, Jamhariyah; Sasmito, Lulut
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7059

Abstract

Stunting is a chronic malnutrition problem caused by insufficient nutritional intake over a long period due to the provision of food that does not meet nutritional needs. Indicators of stunting in toddlers can be seen through the Z-Score assessment, the measurement results are at the threshold (Z-Score) <-2 SD. One of the activities carried out to overcome the incidence of stunting is through the Provision of Supplementary Food (PMT). PMT is provided daily with a portion of 1 complete meal a week and 1 snack a week. The purpose of this study was to determine changes in the Z-score value after the provision of recovery PMT in stunted toddlers at the UPTD Kemuningsari Kidul Community Health Center. The research method used a comparative research design with a population of all stunted toddlers who received recovery PMT totaling 36 toddlers. The sampling technique used simple random sampling with Paired Sample T-Test analysis. The results of this study showed a p-value of 0.015 < ? 0.05, so it can be said that there was a change in the Z-score value before and after the provision of 60-day recovery PMT for stunted toddlers at the UPTD Kemuningsari Kidul Health Center. In conclusion, the recovery PMT program has great potential in reducing stunting rates in the region, with most toddlers showing positive improvements. ABSTRAKStunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan karena asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Indikator balita dikatakan stunting dapat dilihat melalui penilaian Z-Score, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD. Kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi kejadian stunting salah satunya adalah melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Pemberian PMT dilakukan setiap hari dengan porsi 1 kali makanan lengkap dalam seminggu dan kudapan 1 kali dalam seminggu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya perubahan nilai Z-score paska pemberian PMT pemulihan pada balita stunting di UPTD Puskesmas Kemuningsari Kidul. Metode penelitian menggunakan desain penelitian komparatif dengan populasi semua balita stunting yang mendapatkan PMT pemulihan berjumlah 36 balita. Tehnik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan uji analisis Paired Sample T-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan p value 0,015 < ? 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perubahan nilai Z-score sebelum dan paska pemberian PMT pemulihan 60 hari makan pada balita stunting di UPTD Puskesmas Kemuningsari Kidul. Kesimpulan program PMT pemulihan memiliki potensi besar dalam mengurangi angka stunting di wilayah tersebut, dengan sebagian besar balita menunjukkan perbaikan yang positif.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN HASIL PCR HPV DNA DI LABORATORIUM MEDIS CITO SEMARANG Heliana, Ratih
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7060

Abstract

This study is motivated by the high incidence of cervical cancer globally, which is largely caused by Human Papilloma Virus (HPV) infection. Given that early detection through HPV DNA PCR testing is an important standard, understanding associated risk factors is crucial. However, the relationship between patient characteristics and HPV test results often varies. Therefore, this study focuses on analyzing the relationship between patient characteristics including age, contraceptive use, parity, vaginal complaints, and gynecological conditions with HPV DNA PCR results at the Cito Medical Laboratory in Semarang. This study used a cross-sectional design with a quantitative descriptive approach to 66 samples of patient medical records. Data that were not normally distributed were analyzed using the Spearman correlation test. The results showed no statistically significant relationship between age (p=0.615), contraceptive use (p=0.195), parity (p=0.32), and vaginal complaints (p=0.514) with HPV DNA PCR results. However, a significant positive relationship was found between gynecological conditions and HPV DNA PCR results (p=0.021). It was concluded that among the various characteristics tested, gynecological conditions were the only factor that had a significant association with positive HPV DNA PCR results in this study population. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kejadian kanker serviks secara global, yang sebagian besar disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Mengingat deteksi dini melalui tes PCR HPV DNA menjadi standar penting, pemahaman terhadap faktor risiko yang berhubungan menjadi krusial. Namun, hubungan antara karakteristik pasien dengan hasil tes HPV seringkali bervariasi. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk menganalisis hubungan antara karakteristik pasien meliputi usia, penggunaan kontrasepsi, paritas, keluhan vagina, dan kondisi ginekologi dengan hasil PCR HPV DNA di Laboratorium Medis Cito Semarang. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan deskriptif kuantitatif terhadap 66 sampel data rekam medis pasien. Data yang tidak terdistribusi normal dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara usia (p=0,615), penggunaan kontrasepsi (p=0,195), paritas (p=0,32), dan keluhan vagina (p=0,514) dengan hasil PCR HPV DNA. Namun, ditemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara kondisi ginekologi dengan hasil PCR HPV DNA (p=0,021). Disimpulkan bahwa di antara berbagai karakteristik yang diuji, kondisi ginekologi merupakan satu-satunya faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan hasil positif PCR HPV DNA pada populasi studi ini.
PERSENTASE KEBERHASILAN WAKTU PENUNDAAN PEMERIKSAAN SAMPEL DARAH EDTA PADA INDEKS ERITROSIT Sholihah, Irodatus; Krihariyani, Dwi; Istanto, Wisnu; Arifin, Syamsul
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7061

Abstract

A total of 70% of laboratory test results form the basis for medical decision-making. Approximately 61% of all laboratory errors are caused by pre-analytical procedures, including the length of time the test is delayed. K3EDTA is the anticoagulant used in this study. One important test for making a diagnosis is the assessment of erythrocyte indices. In this study, EDTA blood samples were evaluated immediately and after delays of two, four, and six hours to determine the success rate of erythrocyte index testing (MCV, MCH, and MCHC). This study used an analytical design and observational research methodology. Purposive sampling was used to identify 45 sixth-semester students from the Diploma Three program in Medical Laboratory Technology at the Surabaya Ministry of Health Polytechnic as the research population. This study was conducted in May 2025. The research data consisted of primary data obtained directly from laboratory test results. The data analysis techniques used were the Shapiro-Wilk normality test, homogeneity test, and parametric One-Way ANOVA test. The results of this study showed that delaying the EDTA blood sample examination did not affect the erythrocyte index values, with a success rate of 100%. ABSTRAKSebanyak 70% hasil pemeriksaan laboratorium menjadi dasar dalam pengambilan keputusan medis. Sekitar 61% dari semua kesalahan laboratorium disebabkan oleh prosedur pra-analitik, diantaranya adalah lama waktu penundaan pemeriksaan. K3EDTA adalah antikoagulan yang digunakan dalam penelitian ini. Salah satu tes penting untuk membuat diagnosis adalah penilaian indeks eritrosit. Dalam studi ini, sampel darah EDTA dievaluasi secara langsung dan setelah penundaan dua, empat, dan enam jam untuk menentukan tingkat keberhasilan pemeriksaan indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC). Penelitian ini menggunakan desain analitis dan metodologi penelitian observasional. Sampling purposive digunakan untuk mengidentifikasi 45 mahasiswa program Diploma Tiga jurusan Teknologi Laboratorium Medis semester keenam di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya yang menjadi populasi penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2025. Data penelitian ini berupa data primer yang didapatkan langsung dari hasil pemeriksaan laboratorium. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk , uji homogenitas, dan uji parametrik One Away ANOVA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penundaan waktu pemeriksaan sampel darah EDTA tidak memengaruhi nilai indeks eritrosit, dengan tingkat keberhasilan mencapai 100%.
KORELASI ANTARA HBA1C DENGAN KADAR KREATININ PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DISERTAI HIPERTENSI Wulandari, Merry; Haryanto, Edy; Istanto, Wisnu; Jukadiarko, Gesang
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.5959

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia. This condition can lead to microvascular complications such as diabetic nephropathy. Diabetic nephropathy occurs due to uncontrolled blood glucose levels, resulting in the kidneys working harder to filter blood. Increased blood urea and creatinine levels indicate decreased kidney function. This study aimed to examine the correlation between HbA1c levels and creatinine levels in patients with diabetes mellitus and hypertension. This study was an observational and analytical study using a purposive sampling method at the Regional Health Laboratory of Magetan Regency. The sample in this study was 88 patients with diabetes mellitus and hypertension who participated in the Chronic Disease Management Program (Prolanis) at the Magetan Regency Community Health Center between January and April 2025. HbA1c examination was performed using the Fluorescent Immunoassay (FIA) method, while creatinine levels were measured using the Jaffe method. Statistical analysis was performed using a non-parametric correlation test (Spearman test). The study results showed a moderately positive correlation between HbA1c and creatinine levels in patients with diabetes mellitus and hypertension. Higher HbA1c levels are associated with higher creatinine levels, indicating a risk of kidney damage. Therefore, regular check-ups, regular medication consumption, and a healthy lifestyle are highly recommended to prevent complications. ABSTRAK Diabetes melitus adalah masalah metabolik kronis dengan ciri hiperglikemia. Kondisi ini mampu menimbulkan komplikasi mikrovaskuler seperti nefropati diabetik. Nefropati diabetik terjadi akibat kadar glukosa darah yang tidak terkendali, akibatnya dalam penyaringan darah, ginjal bekerja lebih ekstra. Meningkatnya kadar ureum dan kreatinin dalam darah menjadi indikasi turunnya fungsi ginjal. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat korelasi antara kadar HbA1c dengan kadar kreatinin pada pengidap diabetes melitus disertai hipertensi. Studi ini tergolong observasional analitik dengan metode purposive sampling di UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Magetan. Sampel dalam studi ini sebanyak 88 pengidap diabetes melitus yang disertai hipertensi pada peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Kabupaten Magetan selama pada bulan Januari-April 2025. Pemeriksaan HbA1c dilakukan menggunakan metode Fluorescent Immunoassay (FIA), sedangkan kadar kreatinin diukur dengan metode Jaffe. Analisis statistik dilakukan dengan uji korelasi non parametrik (uji Spearman). Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi bermakna yang positif sedang antara HbA1c dengan kadar kreatinin pada penderita diabetes melitus disertai hipertensi. Peningkatan kadar HbA1c, semakin tinggi pula kadar kreatinin, yang mengindikasikan risiko kerusakan ginjal. Oleh karena itu, kontrol rutin, konsumsi obat teratur, dan pola hidup sehat sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi.
KORELASI ANTARA NEUTROPHIL LYMPHOCYTE RATIO (NLR) DAN C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA PASIEN ANAK SUSPEK SEPSIS Purnomowati, Anik; Woelansari, Evy Diah; Sasongkowati, Retno
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6611

Abstract

ABSTRACT Sepsis neonatorum is one of the biggest triggers of neonatal deaths in Indonesia. The Diagnosis of sepsis is difficult to establish due to non-specific symptoms, so accurate, affordable, and easily accessible biomarkers are needed. Commonly used biomarkers such as C-Reactive Protein (CRP) and Procalcitonin (PCT) have limited cost and availability. Neutrophil lymphocyte Ratio (NLR) is a promising alternative because it can be obtained from a routine complete blood count. The study intends to determine the correlation between the value of NLR and CRP in children indicated sepsis in RSUD dr. Sayidiman Magetan. The study was classified as cross sectional based analytical observational in 33 pediatric patients suspected of sepsis during October 2024 to March 2025. Spearman correlation testing is used in the data analysis of this study because the distribution of data is not normal based on the Shapiro-Wilk test. The average value of NLR was 6.72% and CRP was 70.16 mg/L. Spearman correlation test results showed a moderate correlation between NLR and CRP with a correlation coefficient of 0.407 (p = 0.019). There is a significant moderate correlation between NLR and CRP in pediatric patients with suspected sepsis, so NLR can potentially be used as an alternative inflammatory marker to detect pediatric sepsis. ABSTRAK Sepsis neonatorum ialah satu di antara pemicu terbesar terhadap kematian neonatal di Indonesia. Diagnosis sepsis sulit ditegakkan karena gejala yang tidak spesifik, sehingga dibutuhkan penanda biologis (biomarker) yang akurat, terjangkau, dan mudah diakses. Biomarker yang umum digunakan seperti C-Reactive Protein (CRP) dan Procalcitonin (PCT) memiliki keterbatasan biaya dan ketersediaan. Rasio Neutrofil Limfosit (Neutrophil Lymphocyte Ratio/NLR) menjadi alternatif yang menjanjikan karena dapat diperoleh dari hitung darah lengkap rutin. Penelitian bermaksud mengetahui korelasi antara nilai NLR dan CRP pada anak terindikasi sepsis di RSUD dr. Sayidiman Magetan. Penelitian tergolong observasional analitik berbasis cross sectional pada 33 pasien anak suspek sepsis selama Oktober 2024 hingga Maret 2025. Pengujian korelasi Spearman dimanfaatkan dalam analisis data penelitian ini sebab distribusi data tidak normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk. Nilai rata-rata NLR sebesar 6,72% dan CRP sebesar 70,16 mg/L. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya korelasi sedang antara NLR dan CRP dengan koefisien korelasi sebesar 0,407 (p = 0,019). Terdapat korelasi sedang yang signifikan antara NLR dan CRP pada pasien anak suspek sepsis, sehingga NLR berpotensi digunakan sebagai penanda inflamasi alternatif untuk mendeteksi sepsis anak.
PENGARUH KINESIO TAPING TERHADAP NYERI PUNGGUNG BAWAH IBU HAMIL TRIMESTER III DI PMB “T” SUMBERSARI JEMBER A, Hanida Aisyah; Telaumbanua, May Kristina Indah K
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6778

Abstract

ABSTRACT Pregnant women experience numerous changes in their bodies. Around 60%–90% of pregnant women report complaints of low back pain, making it the most common disorder. A non-pharmacological therapeutic alternative is the application of kinesio taping. The purpose of this study was to identify the effect of kinesio taping on the intensity of low back pain in third-trimester pregnant women who underwent examinations at PMB “T” Sumbersari, Jember. This study employed a Quasi-Experimental Design. The study population included all third-trimester pregnant women attending ANC at PMB “T” Sumbersari in 2022, with a total sample of 26 respondents. The research instrument used was a questionnaire sheet (NRS), while data analysis was carried out using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed that before kinesio taping (pretest), most third-trimester pregnant women experienced low back pain at a scale of 7, whereas after kinesio taping intervention (posttest), the majority reported a pain scale of 2. The analysis revealed a p-value of 0.000 ? ? = 0.05, leading to the rejection of H0. This indicates that kinesio taping has an effect on reducing low back pain in third-trimester pregnant women. In conclusion, kinesio taping is effective in decreasing the intensity of low back pain in third-trimester pregnant women. Therefore, healthcare providers, particularly midwives, are encouraged to apply kinesio taping therapy as an effort to reduce complaints of low back pain in third-trimester pregnant women. ABSTRAK Wanita hamil akan merasakan banyak sekali perubahan pada dirinya. Sebanyak 60%–90% ibu hamil mengalami keluhan nyeri punggung bawah, menjadikannya gangguan yang paling umum. Alternatif terapi non farmakologis yaitu pemberian kinesio taping. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi efek penerapan kinesio taping terhadap intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III yang melakukan pemeriksaan di PMB “T” Sumbersari Jember. Penelitian ini menerapkan metode Quasi Experimental Design. Populasi penelitian mencakup seluruh ibu hamil trimester III yang menjalani ANC di PMB “T” Sumbersari pada tahun 2022, dengan jumlah sampel sebanyak 26 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar kuesioner (NRS), sedangkan analisis data dilakukan melalui uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pemberian kinesio taping (pretest), mayoritas ibu hamil trimester III mengalami nyeri punggung bawah pada skala 7, sedangkan setelah intervensi kinesio taping (posttest), sebagian besar berada pada skala nyeri 2. Uji analisis menunjukkan nilai p = 0,000 ? ? = 0,05, sehingga H0 ditolak. Hal ini menandakan bahwa terdapat pengaruh kinesio taping terhadap nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III. Dapat disimpulkan bahwa kinesio taping efektif dalam menurunkan intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, khususnya bidan, dianjurkan untuk menerapkan terapi kinesio taping sebagai upaya mengurangi keluhan nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III.
HUBUNGAN BUDAYA TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-12 BULAN DI DESA NAMOSIMPUR Telaumbanua, May Kristina Indah K; A, Hanida Aisyah
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6779

Abstract

ABSTRACT The high incidence of underage (early-age) marriage in Indonesia is influenced by various factors, including economic conditions, low levels of education, understanding of cultural and certain religious values, out-of-wedlock pregnancy (married by accident), and other factors. This study aims to identify the factors influencing mothers to marry at an early age in Tangkahan Village, Namorambe Subdistrict, Deli Serdang Regency. The study employed an analytical method with a cross-sectional design. It was conducted in Namosimpur Village, Hamlet 1, with a population of 30 people. A total of 30 people were included as the study sample. The findings showed that 19 respondents (63.3%) had negative cultural beliefs, while 11 respondents (36.7%) had positive cultural beliefs. The majority of respondents, namely 22 people (73.3%), held negative cultural beliefs or perceptions regarding breastfeeding, while 8 respondents (26.7%) had positive beliefs related to breastfeeding. Most respondents, or 21 people (70.0%), did not practice exclusive breastfeeding, whereas 9 respondents (30.0%) did. There was a significant relationship between breastfeeding mothers and the provision of exclusive breastfeeding for infants aged 0–12 months, with p-values of 0.004 and 0.032. The conclusion of this study is that there is a relationship between cultural values regarding exclusive breastfeeding and mothers’ beliefs about breastfeeding with the practice of exclusive breastfeeding. It is recommended that healthcare workers promote the importance of exclusive breastfeeding for infants. ABSTRAK Tingginya kasus perkawinan di bawah umur (usia dini) di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kondisi ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, pemahaman terhadap budaya serta nilai-nilai agama tertentu, terjadinya kehamilan di luar nikah (married by accident), dan faktor lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ibu melakukan perkawinan usia dini di Desa Tangkahan, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Namosimpur Dusun 1 dengan jumlah populasi 30 orang. Sebanyak 30 orang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 responden (63,3%) memiliki budaya negatif, sedangkan 11 responden (36,7%) memiliki budaya positif. Mayoritas responden, yaitu 22 orang (73,3%), memiliki budaya atau keyakinan mengenai ASI yang bersifat negatif, sementara 8 responden (26,7%) memiliki budaya atau keyakinan positif terkait ASI.  Sebagian besar responden, yakni 21 orang (70,0%), tidak memberikan ASI eksklusif, sedangkan 9 responden (30,0%) memberikan ASI eksklusif.   Terdapat   hubungan   ibu menyusui dengan pemberian asi eksklusif pada bayi 0-12 bulan  dengan p value 0.004 dan 0.032. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan budaya nilai kebudayaan tentang ASI eksklusif dan keyakinan atau kepercayaan tentang ASI ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif. Disarankan, supaya petugas kesehatan melakukan promosi kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi.
STUDI SURVEI : GAMBARAN PENYAKIT MENULAR PADA WANITA DI KABUPATEN MAGETAN Riyanto, Digdo; Woelansari, Evy Diah; Nabilah, Musholli Himmatun
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6793

Abstract

ABSTRACT Sexually Transmitted Infections (STIs) such as HIV, Hepatitis B, and Syphilis are serious public health problems, especially among high-risk groups like female sex workers. The Pasar Sayur Magetan area has a high potential for STI transmission due to nighttime entertainment activities and the presence of dimly lit establishments. This study aims to identify the presence of STIs among women in Magetan as a basis for planning prevention and education programs by the government and health authorities. This research uses an analytical cross-sectional survey design with venous blood samples collected in EDTA anticoagulant tubes from female sex workers at Pasar Sayur Magetan. Data were collected through Rapid Diagnostic Tests (RDT) using immunochromatographic methods to detect HIV, Hepatitis B, and Syphilis, along with questionnaires to identify risk factors and behaviors influencing STI transmission. The study found cases of HIV and Syphilis among female sex workers in Pasar Sayur Magetan. The main risk factors include unsafe sexual behavior, inconsistent condom use, frequent partner changes, and limited education and knowledge. Although all respondents practiced good genital hygiene, this did not fully prevent STIs transmitted through blood and bodily fluids. This survey reveals the prevalence of STIs and the main risk factors in Pasar Sayur Magetan. These findings serve as a foundation for the government and health services to design prevention, education, and early detection programs to reduce cases and increase awareness of safe sexual behavior. ABSTRAK Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti HIV, Hepatitis B, dan Sifilis menjadi masalah kesehatan serius, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti wanita pekerja seks. Kawasan Pasar Sayur Magetan berpotensi tinggi dalam penyebaran IMS karena aktivitas hiburan malam dan keberadaan warung remang-remang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya penyakit penyakit menular seksual pada wanita di daerah Magetan, agar dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan program pencegahan dan edukasi oleh pemerintah dan dinas Kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik cross-sectional dengan menggunakan sampel darah vena antikoagulan EDTA pada wanita pekerja seks di Pasar Sayur Magetan. Data dikumpulkan dari hasil pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) metode imunokromatografi untuk mendeteksi HIV, Hepatitis B, dan Sifilis, serta kuesioner untuk mengidentifikasi faktor risiko dan perilaku yang mempengaruhi penularan IMS. Penelitian ini menemukan adanya kasus HIV dan Sifilis di kalangan wanita pekerja seks di Pasar Sayur Magetan dengan faktor risiko utama berupa perilaku seksual tidak aman dan ketidakkonsistenan penggunaan kondom serta keterbatasan pendidikan dan pengetahuan. Kesimpulannya, meskipun praktik genital higiene baik, risiko penularan IMS tetap terjadi. Survei ini mengungkap tingkat penyebaran PMS di Pasar Sayur Magetan serta faktor risiko utama. Temuan ini menjadi dasar bagi pemerintah dan dinas kesehatan dalam merancang program pencegahan, edukasi, dan deteksi dini guna mengurangi kasus serta meningkatkan kesadaran akan perilaku seksual yang aman.

Page 3 of 4 | Total Record : 32