cover
Contact Name
Robby Irsan
Contact Email
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Phone
+6282149492595
Journal Mail Official
robbyirsan@teknik.untan.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. H Jl. Profesor Dokter H. Hadari Nawawi, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
ISSN : -     EISSN : 26222884     DOI : https://doi.org/10.26418/jtllb
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah (ISSN: 2622-2884) is a scientific journal published by Environmental Engineering Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia. The journal was purposed as a medium for disseminating research results in the form of full research article, short communication, and review article on aspects of environmental sciences. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah is registered on the ISSN starting from Vol. 6, No. 2, July 2018. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah accepts articles in Bahasa Indonesia or English by covering several topics of environmental studies including clean water supply, wastewater distribution, and treatment, drainage and treatment of liquid waste, solid waste treatment (solid waste), air pollution control, management of industrial and B3 discharges, environmental management (impact analysis), environmental conservation, water and soil pollution control, environmental health and sanitation, occupational safety and health, pollution control in wetlands. Since 2023, The journal periodically publishes four issues in a year in January, April, July, and October.
Articles 486 Documents
DAUR ULANG GREYWATER UNTUK KEPERLUAN SIRAM WC DAN URINAL PADA RUMAH SAKIT PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA Odhy Fauzan
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.20923

Abstract

ABSTRAK Kelangkaan air bersih masih menjadi masalah yang kita hadapi bersama. Untuk itu perlu suatu cara guna mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya dengan melakukan efisiensi terhadap sumber daya air dengan cara mengurangi pemakaian dan juga mendaur ulang air untuk keperluan tertentu. Greywater adalah jenis limbah domestik yang memiliki kandungan pencemar rendah namun memiliki jumlah yang cukup besar. Sekitar 70% limbah domestik merupakan limbah greywater. Oleh karena itu greywater sangat berpeluang digunakan kembali untuk keperluan tertentu. Dalam penelitian ini akan dirancang sistem daur ulang greywater pada Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura. Limbah greywater tersebut akan ditampung dan diolah secukupnya pada IPAL hanya untuk keperluan siram wc dan urinal. Greywater yang akan diolah kembali ialah jenis light greywater , yang kandungan pencemarnya lebih ringan karena tidak dicampurkan limbah dapur kedalamnya. Air hasil olahan ditampung terlebih dahulu di tangki bawah untuk selanjutnya dipompakan ke tangki atas yang dipasang pada lantai 1 . Dari tangki air ini didistribusikan ke seluruh wc dan urinal pada lantai dasar. Kata Kunci : greywater, daur ulang greywater, rumah sakit untan
PENGARUH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAP KUANTITAS AIR DENGAN PENDEKATAN NERACA AIR TANAMAN (STUDI KASUS DI PT. REZEKI KENCANA) Inge Meitasari
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.5161

Abstract

Kelapa sawit menjadi komoditas primadona dunia, akan tetapi konsekuensinya adalah perambahan dan konversi hutan yang tidak dapat dielakkan. Adanya perubahan penggunaan lahan akan mengubah sistem dan tatanan neraca air yang ada di wilayah gambut tersebut. Penelitian ini mengkaji nilai tatanan neraca air dengan melakukan penelitian terhadap perbandingan nilai kuantitas air khususnya surplus dari neraca air tanaman antara lahan perkebunan kelapa sawit dengan lahan hutan. Model neraca air tanaman yang dipergunakan adalah neraca air lahan Thorthwaite & Mather (1957) yang telah dimodifikasi. Nilai surplus pada lahan perkebunan sawit 1.091 mm, sementara pada lahan hutan konversi sebesar 1.151 mm. Maka langkah yang dilakukan oleh manajemen perkebunan adalah dengan mempertahankan wilayah konservasi sebagai penampung alami, rorak untuk meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah dan membuat embung besar.Kata kunci: Neraca air tanaman, kelapa sawit, lahan gambut.
RANCANGAN TEKNIK PENYEDIAAN AIR BERSIH IBU KOTA KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK Erland Evansta Sulisuka; Laili Fitria; Ulli Kadaria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v6i1.26631

Abstract

ABSTRAKSumber mata air Bukit Godang merupakan salah satu sumber mata air yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber air baku di Kecamatan Mandor. Penelitian yang dilakukan meliputi; proyeksi kebutuhan air penduduk Kecamatan Mandor hingga tahun 2037, analisis kualitas air sumber air baku yang ditinjau, analisis kuantitas dan kontinuitas air baku, serta pembuatan rencana desain jaringan pipa transmisi, bangunan penangkap mata air, dan reservoir. Hasil proyeksi penduduk pada tahun 2037 adalah 11.881 jiwa. Dari hasil analisis diketahui bahwa sumber air Bukit Godang layak dikembangkan sebagai sumber air baku. Hasil analisis debit andalan 99%  dengan menggunakan Metode Mock adalah 42,78 liter/detik, besarnya debit ini masih dapat memenuhi kebutuhan air penduduk sampai dengan tahun 2037 yang besarnya 5,16 liter/detik, Hasil analisis terhadap uji kualitas air memenuhi kelas mutu air kelas 1 berdasarkan PPRI 82 tahun 2001. Hasil analisis rencana jaringan pipa menggunakan EPANET 2.0, dapat diketahui bahwa sistem pengaliran secara gravitasi,  panjang pipa 2.230 m, velocity 1,5 meter/detik dan tekanan rata-rata adalah 12,82 m. Dalam penelitian ini juga dilakukan perencanaan bangunan penangkap mata air / broncaptering yang terletak pada titik kordinat 0o20’21,9” LU, 1090 18’17,8” BT. Reservoir terletak didesa Salatiga dengan kapasitas 326 m3.Kata Kunci: Air baku, debit andalan, kebutuhan air.
KAJIAN BEBAN PENCEMARAN BEBERAPA ANAK SUNGAI DAN SALURAN DRAINASE YANG BERMUARA KE SUNGAI KAPUAS DI KOTA PONTIANAK ( Studi Kasus: Kelurahan Sungai Jawi Luar dan Kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat ) Rosmasari Siringgo-ringgo
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.6934

Abstract

ABSTRAK Sungai Kapuas melewati Kota Pontianak dan juga menjadi muara dari saluran-saluran drainase yang ada di Kota Pontianak sehingga kualitas air Sungai Kapuas dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas air yang berasal dari saluran drainase. Kualitas air di saluran drainase dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas masyarakat di sekitarnya. Melihat keadaan ini maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besarnya beban pencemaran, besarnya potensi beban pencemaran dan cara pengendalian yang dapat dilakukan pada wilayah studi. Penelitian ini hanya dilakukan di enam saluran drainase yang terdapat di Kecamatan Pontianak Barat yaitu Parit Gg.Pisang, Parit Gg.Timun, Sungai Beliung, Parit Tengah, Sungai Serok dan Sungai Nipah Kuning. Selain itu, pengambilan sampel dilakukan secara grab samplingpada saat pasang dan pada saat surut dengan parameter BOD, COD, fosfat total dan nitrogen total.Dari hasil uji kualitas air dapat diketahui besarnya beban pencemaran di keenam saluran drainase tertinggi adalah pada saat pasang yaitu BOD (5.417, 21kg/hari), COD (6.040, 56 kg/hari), TP (141, 23 kg/hari) dan TN (825, 06 kg/hari). Beban pencemaran yang tertinggi ini terdapat di Sungai Beliung. Besarnya nilai beban pencemaran dipengaruhi oleh tata guna lahan, pasang surut surut air Sungai Kapuas dan waktu pengambilan sampel pada keenam saluran drainase. Potensi beban pencemaran tahun 2014 yang dipengaruhi oleh luas pemukiman dan jumlah penduduk. Besarnya potensi beban pencemaran tertinggi terdapat di Parit Tengah, Sungai Serok dan Sungai Nipah Kuning dengan nilai BOD (1.475, 04 kg/hari), COD (2.827, 63 kg/hari), TP (631, 76 kg/hari), dan TN (105, 76 kg/hari). Tingkat potensi beban pencemaran yang terjadi pada masing-masing saluran drainase menentukan kegiatan pengendalian pencemaran air. Pengendalian pencemaran yang oleh pemerintah Kota Pontianak belum cukup, sehingga perlu upaya lain untuk memperbaiki kualitas air di saluran drainase di Kota Pontianak. Kata Kunci : Kualitas Air, Beban Pencemaran, Potensi Beban Pencemaran, Pengendalian
Potensi Ecobrick dalam Mengurangi Sampah Plastik Rumah Tangga di Kecamatan Pontianak Barat Bella Tri Andriastuti; Arifin Arifin; Laili Fitria
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 7, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v7i2.36141

Abstract

Abstract Waste management in Pontianak City is still managed improperly so there are still lots of waste dump in landfill area. The purpose of this study are to analyze the amount and the potential of using plastic waste to become ecobrick in West Pontianak Subdistrict. Sampling is accordance with SNI 19-3964-1994 in each village office in the West Pontianak Subdistrict. The total of plastics waste in the West Pontianak Subdistrict is 850.108,20922 kg/year or 850.108 tons/year which consists of plastics waste that can be processed into ecobrick that is 652.306,13825 kg/year or 652,306 tons/year and the generation of plastics waste that cannot be processed into ecobrick is 197.802,07097 kg/year 197,802 tons/year. The potential value of ecobrick in reducing plastics waste in West Pontianak Subdistrict is 77% plastics waste can be processed into ecobrick and by 33% it cannot be processed into ecobrick. Based on this research, the potential of ecobrick produced in 1 year which is 2.481.940 pieces for a 600 ml volume bottle or 1.119.177 units for a 1500 ml volume bottle. Keywords: ecobrick, household waste, plastics waste, Pontianak, IndonesiaAbstrak Pengelolaan sampah di Kota Pontianak masih belum dikelola dengan baik sehingga masih banyak sampah yang berakhir di TPA khususnya sampah plastik. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis jumlah timbulan sampah plastik dan menganalisis potensi ecobrick dalam mengurangi sampah plastik rumah tangga di Kecamatan Pontianak Barat. Sampling dilakukan sesuai SNI 19-3694-1994 pada tiap kelurahan di Kecamatan Pontianak Barat. Berdasarkan hasil sampling, total timbulan sampah plastik rumah tangga di Kecamatan Pontianak Barat tahun 2019 yaitu sebesar 850.108,20922 kg/tahun atau 850.108 ton/tahun yang terdiri dari timbulan sampah plastik yang dapat diolah menjadi eobrick yaitu sebesar 652.306,13825 kg/tahun atau 652,306 ton/tahun dan timbulan sampah plastik yang tidak dapat diolah menjadi ecobrick yaitu sebesar 197.802,07097 kg/tahun 197,802 ton/tahun. Nilai potensi ecobrick dalam mengurangi sampah plastik rumah tangga di Kecamatan Pontianak Barat yaitu sebesar 77% sampah plastik dapat diolah menjadi ecobrick dan sebesar 33% tidak dapat diolah menjadi ecobrick. Potensi ecobrick yang dapat dihasilkan dalam 1 tahun yaitu sebanyak 2.481.940 buah untuk botol volume 600 ml atau sebanyak 1.119.177 buah untuk ukuran botol volume 1500 ml. Kata Kunci : ecobrick, sampah rumah tangga, sampah plastik, Pontianak, Indonesia.
POTENSI AIR TANAH BEBAS DI DAERAH KECAMATAN PONTIANAK SELATAN (STUDI KASUS JALAN SELAYAR – JALAN HARAPAN JAYA) Nopita Marsudi Isna Apriani
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.7288

Abstract

ABSTRAK Kelurahan Kota Baru Kecamatan Pontianak Selatan di jalan Selayar sampai jalan Harapan Jaya sebagai lokasi penelitian merupakan daerah pemukiman serta perdagangan yang sering mengalami kekurangan air terutama pada musim kemarau.Daerah tersebut sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) namun jumlah air masih terbatas dan kualitas yang masih kurang baik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan air baku adalah dengan memanfaatkan sumber air tanah dangkal sebagai sumber air baku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi air tanah bebas di Jalan Selayar – Jalan Harapan Jaya, untuk mengetahui pola aliran air tanahnya dan untuk mengetahui pola sebaran pencemaran air tanah.Tahap penelitian dimulai penentuan titik sampel yang berada di 12 titik sumur untuk pengukuran tinggi muka air, sedangkan uji kualitas air diambil 4 sumur ,penentuan titik lokasi dilihat berdasarkan tata guna lahan serta aktivitas yang berlangsung disekitar sumur dan data sekunder yaitu data tofografi. Pengambilan sampel air saat kemarau (3 Februari 2014) dan setelah hujan  (1 Maret 2014) serta pengujian kualitas air untuk parameter TSS, TDS, pH, Besi, BOD, dan Sulfat yang dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Berdasarkan perhitungan debit menurut Kepmen Energi dan SDM No.1451/10/MEM/2002 di daerah penelitian berpotensi kecil karena debit air < 2 l/detik yaitu 0,0073 l/detik saat kemarau dan 0,0088 l/detik setelah hujan. Untuk kualitas air sumur di Jalan Selayar – Jalan Harapan Jaya untuk parameter TSS, TDS, pH, dan Sulfat memenuhi standar baku mutu menurut PP No. 82 Tahun 2001 air kelas I. Sedangkan parameter BOD dan besi (Fe) melebihi standar baku mutu menurut PP No. 82 Tahun 2001 air kelas I yaitu air yang peruntukannnya dapat digunakan untuk air baku air minum atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama untuk peruntukan tersebut. Untuk arah aliran air tanah air mengalir dari arah selatan menuju arah utara yang akan bermuara di Sungai Kapuas dan pola sebaran pencemaran air tanah tidak merata karena dipengaruhi oleh sanitasi yang kurang baik namun tetap mengikuti arah aliran air tanah Kata - kata Kunci : Air Tanah, Potensi Air Tanah, Pola Sebaran Pencemaran
Analisis Transisi Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 Versi 2015 (Studi Kasus : PT.AZ) (Transition Analysis on Application of The Environmental Management System ISO 14001 2015 Version (Case Study : PT. AZ)) Cut Putri Maryeska; Dian Rahayu Jati; Suci Pramadita
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 8, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v8i1.39119

Abstract

Every ISO standard will be evaluated every 5 years to decide whether a revision is needed in order to keep the relevance toward today’s marketplace. In 2015, ISO issued the latest international standard version of EMS ISO 14001: 2015 and officially substitute the older version which was ISO 14001:2004. ISO 14001:2015 meets the objectives by drawing together relevant external and internal issues (4.1) with the requirements of interested parties (4.2). These address the concept of preventive action and in part establishes the context for the EMS (4.3) in the organization. Ever since the 2015 version was released, the organization has 3 years to make the transition from the 2004 version to the latest version until September 2018. This research analysis was carried out using a checklist by the Global Environmental Management Initiative (GEMI) to measure the implementation of EMS ISO 14001;2015 then categorize the result to the predefined category which are initial compliance level, transition level, and advanced level. The result shows the entire level of implementation ISO 14001:2015 on  PT. AZ was categorized into an advanced level with score 169 but seen from the lowest percentage was on clause 4  Context of the Organization which was a new clause in the 2015 version. Thus, the 3 years transition period was not enough for the organization to entirely implement the standard.Keywords: Environmental Management System, ISO 14001, Transition. AbstrakSeluruh standar ISO dilakukan evaluasi dan peninjauan setiap 5 tahun untuk menjaga relevansi terhadap pasar. Sehingga pada tahun 2015 lalu, ISO mengeluarkan standar internasional SML versi baru yaitu ISO 14001:2015 dan secara resmi menggantikan standar sebelumnya yaitu ISO 14001:2004. ISO 14001:2015  lebih memerhatikan isu-isu lingkungan melalui dua klausul baru yaitu konteks organisasi dimana organisasi harus menentukan isu eksternal dan internal (4.1) serta memerhatikan kebutuhan dan harapan dari pihak berkepentingan (4.2). Hal ini merupakan tindakan preventif mencapai konteks bagi SML  (4.3) di organisasi tersebut. Sejak dikeluarkan pembaharuan pada September 2015, organisasi diberikan waktu untuk melakukan transisi dari standar lama ke standar versi selama 3 tahun yaitu hingga tahun 2018. Penelitian ini dianalisis menggunakan checklist yang dikeluarkan oleh Global Environmental Management Initiative (GEMI) untuk menilai implementasi SML ISO 14001 :2015 lalu mengkategorikan hasil penilaian pada kategori yang telah ditentukan yaitu tingkat pemenuhan awal, tingkat transisi, dan tingkat lanjut. Hasil penilaian menunjukkan bahwa secara keseluruhan penerapan ISO 14001 :2015  di PT. AZ  berada kategori tingkat lanjut dengan  skor 169  tetapi jika dilihat presentase penerapan terendah ada pada klausul 4  Konteks Organisasi yang merupakan klausul baru di versi 2015. Dengan demikian, masa transisi selama 3 tahun masih belum cukup bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan menerapkan seluruh persyaratan dalam klausul baru. Kata Kunci : ISO 14001, Sistem Manajemen Lingkungan, Transisi
PENGARUH INFILTRASI TERHADAP PENURUNAN PERMUKAAN TANAH PADA LAHAN GAMBUT KAWASAN KONSERVASI TAMAN WISATA ALAM (TWA) BANING KABUPATEN SINTANG FARIZ ARRIZMI
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.9080

Abstract

ABSTRAK Taman Wisata Alam (TWA) Baning merupakan salah satu kawasan konservasi di Kalimantan Barat yang terletak di Kabupaten Sintang, Kecamatan Sintang yang memiliki tipe ekosistem rawa gambut (peat). Berdasarkan hasil survei dan observasi pada tahun 2012, terlihat bahwa kondisi lahan gambut di daerah ini mengalami penurunan permukaan tanah (subsidence). Penurunan permukaan tanah ini disebabkan oleh adanya peristiwa over-drainage. Over-drainage adalah peristiwa atau fenomena yang terjadi di lahan gambut yang ditandai dengan keluarnya air dari dalam tanah secara berlebihan karena proses infiltrasi yang terjadi pada lahan gambut tersebut tidak sempurna (kurang/minim) atau bisa dikatakan rusak yang disebabkan oleh perubahan fisik tanah gambut karena adanya perubahan vegetasi akibat kebakaran lahan dan pembangunan infrastruktur yang tidak tepat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya infiltrasi yang terjadi, mengetahui besarnya penurunan permukaan tanah (subsidence) yang terjadi, dan mengetahui pengaruh infiltrasi yang terjadi terkait dengan perubahan sifat fisik tanah gambut sehingga mengakibatkan penurunan permukaan tanah (subsidence) pada lahan gambut di kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Baning dalam usaha konservasi. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil sampel tanah dengan hand-boring dengan kedalaman 50 cm dan melakukan pengamatan level muka air tanah menggunakan pipa paralon yang diberi pori di Taman Wisata Alam (TWA) Baning pada areal Hutan Sekunder Rawa Gambut dengan luas 132 Ha, sebanyak 5 titik sampel secara vertikal dengan jarak per 200 meter selama 3 hari dengan waktu pagi, siang, dan sore hari. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil infiltrasi yang terjadi di Taman Wisata Alam (TWA) Baning sebesar antara 16,05 mm/jam-48,92 mm/jam dan termasuk kategori kelas infiltrasi agak lambat dan sedang. Sedangkan, untuk subsidence yang terjadi di lokasi ini yaitu selama ± 22 tahun terjadi penurunan permukaan tanah sebesar 182 cm/tahun atau sekitar 1,82 m/tahun. Dari besarnya penurunan permukaan tanah (subsidence) yang telah dijabarkan, diketahui bahwa jika sifat fisik tanah berubah, terganggu, dan/atau rusak akan berpengaruh terhadap infiltrasi. Hal ini terlihat dari rendahnya kandungan kadar air gambut di TWA Baning, dikarenakan infiltrasi yang terjadi tidak maksimal sehingga menyebabkan over-drainage yang bisa berakibat terhadap penurunan permukaan tanah (subsidence). Kata kunci : Tanah Gambut, Infiltrasi, Subsidence, dan Over-drainage.
PERBANDINGAN KUAT TEKAN BATA PLASTIK BERJENIS POLYPROPYLENE (PP) POLYETHYLENE TEREPHTHALATE (PET) DAN HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE) Muhammad Ridho Reksi; Dian Rahayu Jati; Yulisa Fitrianingsih
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 9, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v9i1.46772

Abstract

AbstractPlastic waste needs attention because it can cause serious problems if not managed properly. Of the various types of plastics, the most widely disposed of to the environment are Polypropylene, Polyethylene Terephthalate, and High-Density Polyethylene which are usually in the form of plastic bags and bottles. This research was conducted to make bricks made of plastic as an alternative material for infrastructure that is economical, strong, and durable, which is seen based on the compressive strength value based on its type, namely PP, PET, and HDPE plastic bricks. The compressive strength testing phase is carried out three times in each type. The selling price of plastic bricks is determined by the Markup pricing method. The process of plastic brick making includes collecting plastic waste, washing, drying, chopping, melting, and printing. Based on the research results, the plastic bricks produced from the types of PET, HDPE, and PP are in the form of blocks with a size of 19 cm x 10 cm x 6.5 cm, where the PET type brick requires 5.1 kg of waste, 3.6 kg of HDPE type, and the type of PP as much as 3 kg. The compressive strength test values for PP, PET, and HDPE plastic bricks have met the compressive strength standards based on SNI 15-2094-2000, with the highest average compressive strength test values found in PP plastic bricks of 246 kg/cm², plastic bricks HDPE type 166 kg/cm², and plastic brick type PET 98.7 kg/cm². The selling price of plastic bricks without including the purchase price of plastic as raw material for making plastic bricks (Scenario I) for PP plastic bricks costs Rp1.907,00/brick, PET types Rp3.024,00/brick, and HDPE types Rp3.464,00/brick. While the selling price of plastic bricks by entering the purchase price of plastic as raw material for making plastic bricks (Scenario II) for PP plastic bricks Rp2.867,00/brick, PET type Rp4.624,00/brick, and HDPE type Rp3.944,00/brick.Keywords: Compressive Strength, Markup Pricing, Plastic Brick. AbstrakSampah plastik perlu mendapatkan perhatian karena menimbulkan masalah yang serius jika tidak dikelola dengan baik. Dari berbagai jenis plastik, yang paling banyak dibuang ke lingkungan adalah jenis Polypropylene, Polyethylene Terephthalate, dan High Density Polyethylene yang biasanya dalam bentuk kantong dan botol plastik. Penelitian ini dilakukan guna membuat bata berbahan plastik sebagai bahan alternatif infrastruktur yang bersifat ekonomis, kuat dan tahan lama yang dilihat berdasarkan nilai kuat tekan berdasarkan jenisnya, yaitu bata plastik jenis PP, PET, dan HDPE. Tahap pengujian kuat tekan dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan di setiap jenisnya. Harga jual bata plastik ditentukan dengan metode Markup pricing. Proses pembuatan bata plastik yaitu pengumpulan sampah plastik, pencucian, penjemuran, pencacahan, pelelehan, dan pencetakan. Berdasarkan hasil penelitian, bata plastik yang dihasilkan dari jenis PET, HDPE, dan PP berbentuk balok dengan ukuran 19 cm x 10 cm x 6,5 cm, dimana bata jenis PET memerlukan sampah sebanyak 5,1 kg, jenis HDPE sebanyak 3,6 kg, dan  jenis PP sebanyak 3 kg. Nilai uji kuat tekan pada bata plastik jenis PP, PET, dan HDPE telah memenuhi standar kuat tekan berdasarkan SNI 15-2094-2000, dengan nilai uji kuat tekan rata-rata tertinggi terdapat pada bata plastik jenis PP sebesar 246 kg/cm², bata plastik jenis HDPE 166 kg/cm², dan bata plastik jenis PET 98,7 kg/cm². Harga jual bata plastik tanpa memasukkan harga beli plastik sebagai bahan baku pembuatan bata plastik (Skenario I) pada bata plastik jenis PP seharga Rp1.907,00/bata, jenis PET Rp3.024,00/bata, dan jenis HDPE Rp3.464,00/bata. Sedangkan harga jual bata plastik dengan memasukkan harga beli plastik sebagai bahan baku pembuatan bata plastik (Skenario II) pada bata plastik jenis PP Rp2.867,00/bata, jenis PET Rp4.624,00/bata, dan jenis HDPE Rp3.944,00/bata.Kata Kunci: Bata Plastik, Kuat Tekan, Markup Pricing.
STUDI ALAT DESTILASI SEDERHANA BENTUK PIRAMID UNTUK PENGOLAHAN AIR LAUT MENJADI AIR BERSIH Rizki Ramadhani Nashrullah Yulisa Fitrianingsih
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.12840

Abstract

ABSTRAK Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Tidak semua daerah mempunyai sumber daya air bersih yang baik. Di Kalimantan Barat khususnya di Kota Pontianak krisis air bersih terjadi akibat tecemarnya sumber air baku, karakteristik tanah daerah Kota Pontianak yang sebagian berupa tanah gambut dan juga akibat intrupsi air laut. Berangkat dari masalah tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mencari alternatif pengolahan air, yaitu dengan proses destilasi atau penyulingan air. Teknologi destilasi merupakan pemisahan komponen suatu bahan berdasarkan perbedaan titik didih dengan memanfaatkan energi panas.  Sejumlah volume air dengan variasi volume yang berbeda dilewatkan ke dalam sebuah alat destilasi sederhana berbentuk piramid. Variasi volume tersebut yaitu 1000 ml, 1500 ml dan 2000 ml dengan masing-masing volume dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan. Pada penelitian ini digunakan sumber air baku air laut yang diambil dari Pantai Samudera Indah Kabupaten Bengkayang. Dari hasil penelitian diperoleh volume sampel air dengan efisiensi paling tinggi yaitu 1000 ml dengan efisiensi pengolahan air sebesar 37%. Pada penelitian tersebut tercatat suhu  lingkungan penelitian adalah sebesar 38°C dansuhu di dalam alat sebesar 88°C. Sedangkan berdasarkan parameter kimia yaitu pengujian kadar Klorida (Cl) mengalami penurunan dari 19.850 mg/l menjadi rata-rata 15,97 mg/l, Magnesium (Mg) dari 2,06 mg/l menjadi rata-rata 1,60 mg/l, Sulfat (SO4) dari 3700 mg/l menjadi rata-rata 33,67 mg/l, Natrium (Na) dari 11.748,25 mg/l menjadi rata-rata 63,95 mg/l. Secara keseluruhan kualitas air hasil proses destilasi ini sudah memenuhi standar baku mutu yang diperbolehkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  No. 492 tahun 2010 tentang air minum. Kata Kunci : destilasi, pengolahan air laut, salinitas, suhu (°c)