cover
Contact Name
Muh Zainal
Contact Email
uak.172ob@gmail.com
Phone
+628114104990
Journal Mail Official
ojsbarugailmiah@gmail.com
Editorial Address
Jln. Sultan Alauaddin No. 105 Makassar Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Baruga, Jurnal Ilmiah BDK Makassar
ISSN : 19782233     EISSN : 28302524     DOI : -
The Baruga Journal of Makassar Religious Education and Training Center (p-ISSN 2620-5009, e-ISSN 2830-2524, is a six-month periodical journal published by the Makassar Religious Education and Training Center, under the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia. This journal aims to disseminate the results of research/study on approaches, models, strategies, methods, media, learning innovations the development of teaching materials that improve the quality of training for technical education and religious personnel. Baruga was first published in print in 2013 which is published twice a year, in June and December. In 2021 this journal is published twice a year based on the Open Journal System (OJS).
Articles 25 Documents
PENERAPAN TEORI ORGANISASI TERHADAP INDIVIDU PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Abdurrafiq rafiq
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 1 (2019): Maret
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.818 KB)

Abstract

Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui penerapan teori organisasi terhadap individu pada lembaga pendidikan Islam. Pembahasan diawali dengan penjelasan tentang teori organisasi kemudian melakukan analisis berdasarkan sajian teori yang terkait dengan teori organisasi dalam Lembaga Pendidikan Islam, teori organisasi dalam hubungannya dengan penerapan pada individu baik pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Hasil analisis terhadap sajian teori membuktikan bahwa penerapan teori organisasi dalam kehidupan khususnya dalam lembaga pendidikan Islam memberikan pengaruh pada perubahan sikap dari seseorang yang dijelaskan yakni pada kompetensi personal. Kompetensi personal yang dimaksudkan adalah kompetensi yang mewakili serangkaian sikap, keterampilan, dan nilai yang memungkinkan seorang bekerja sebagai individu secara efektif dan efisien, serta menyumbangkan tenaga dan keahliannya dengan positif kepada organisasi/lembaga, pengguna, dan profesinya.
PENDIDIKAN ‘AQIDAH TAUHID PADA ANAK DALAM KELUARGA Yuliarti yuli
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 1 (2019): Maret
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.937 KB)

Abstract

Di Era Informasi dan Globalisasi, pengaruh liberalisasi dan beragam informasi yang mendunia sampai kesudut-sudut kamar kita, tanpa ada filter yang membuat informasi itu tidak  higeinis untuk dikonsumsi oleh anak-anak kita. Derasnya arus informasi tidak seimbang dengan kekuatan keyakinan dan‘Aqidah  Islam yaitu Aqidah Tauhid yang tertanam dihati anak-anak kita. Sehingga  anak-anak dan remaja  sangat rentan  berubah kepercayaan yakni mempercayai hal-hal yang mereka anggap membawa mereka kepada kebahagiaan dan keselamatan sesaat. Fenetrasi budaya asing yang note benne adalah budaya barat sangat berpotensi menggerogoti keyakinan  anak-anak dan remaja muslim. Siklus kehidupan mereka dinaungi oleh suasana budaya kufur, mulai dari kepercayaan, gaya berpakaian, bahasa, prilaku, makanan, dan gaya hidup yang serba  hedonis, materialistik dan liberal. Untuk menetralisir semua pengaruh tersebut, maka bekal paling utama yang harus diberikan terhadap  anak dan remaja kita dewasa ini  adalah pondasi Islam yaitu Aqidah Tauhid dan memeliharanya yang harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah merupakan basis utama untuk membekali si anak dalam  berAqidah Tauhid yang benar. Oleh karena itu maka orangtua harus berupaya secara maksimal dengan segala daya dan upaya untuk menanamkan Aqidah Tauhid dan memeliharanya agar anak-anak dan remaja Islam terhindar dari pengaruh-pengaruh buruk yang mendangkalkan  aqidah apalagi hal-hal  yang  merusak aqidah.
URGENSI ZAKAT DALAM MENENTASKAN KEMISKINAN Samir Patsan Samir
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 1 (2019): Maret
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.757 KB)

Abstract

Zakat dalam Islam adalah kewajiban yang selain berdemensi ibadah kepada Allah SWT, juga berdemensi social yang dengannya sangat diharapkan dapat memberikan kesejahteraan hidup dan mengangkat harkat dan martabat fakir miskin (fukara’ walmaqsakin). Terlaksananya zakat secara adil dan merata bagi setiap mustahiq (orang yang berhak) merupakan suatu keniscayaan yang harus diindahkan oleh setiap orang yang beriman sebagai perwujudan dari keimanannya yang sempurnah. Karena itu orang beriman sesungguhnya adalah mereka yang tidak mau menahan haknya orang lain yang dititipkan Allah SWT kepadanya yaitu sebesar 2,5% (dua setengah persen) dari harta yang didapatkan dan atau dimilikinya bila sudah sampai khaulnya (cukup setahun dimiliki) dan cukup nisabya. Indonesia memiliki potensi zakat yang sangat besar, karena berbagai faktor, potensi zakat tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memberantas kemiskinan dan mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Sebagai gambaran hasil penghimpunan zakat oleh seluruh Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia pada tahun 2012 (versi UU No. 38/1999) yang disampaikan oleh BAZNAS mencapai angka 2,3 triliun. Sedangkan potensinya adalah 217 triliun. Ini artinya kemampuan penghimpunan zakat baru mencapai kurang lebih angka 1,1% dari total potensi yang ada. Potensi tersebut dimungkinkan akan bertambah setiap tahunnya seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Namun demikian, potensi zakat yang besar tersebut belum mampu dioptimalkan penyerapannya oleh pemerintah. Dalam literatur dan hasil kajian lainnya, banyak sekali ditemukan faktor-faktor yang dipercaya menjadi penyebab rendahnya produktivitas zakat di tanah air. Beberapa di antaranya seperti pemahaman yang sangat minim terhadap zakat, konsepsi fiqih yang kurang relevan dengan perkembangan zaman, masih dominannya pola berzakat tradisional, dan lain sebagainya.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI MAPPANRE TEMME’ PADA MASYARAKAT BUGIS DI KECAMATAN SOPPENG RIAJA KABUPATEN BARRU Anwar Iskar Hidayatullah
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 1 (2019): Maret
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.641 KB)

Abstract

Tesis ini membahas topik nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Mappanre Temme’ (khatam al-Qur’an) pada masyarakat bugis di kecamatan soppeng riaja kabupaten Barru. Permasalahan pokok dalam penelitian ini yakni bagaimana nilai pendidikan Islam pada tradisi adat Mappanre Temme’. Permasalahan pokok dirinci pada tiga sub masalah, yaitu bagaimana latar belakang keberadaan tradisi Mappanre Temme’, bagaimana tata cara pelaksanaan tradisi Mappanre Temme’, serta nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam tradisi Mappanre Temme’. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tatacara pelaksanaan dan nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Mappanre temme’ di soppeng riaja Barru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mappanre Temme’ adalah sebuah tradisi eksotis yang penuh daya tarik. Eksotisme Mappanre Temme’ bukan hanya karena ia menjadi sarana hiburan tradisional ditengah arus globalisasi budaya, akan tetapi tradisi Mappanre Temme’ sarat dengan makna dan pesan yang mengekspresikan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat bugis, yakni di dalamnya banyak terkandung nilai-nilai pendidikan Islam, yakni pendidikan iman, akhlak, intelektual, fisik dan psikis, dan sosial. Implikasi penelitian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan nilai manfaat bagi semua pihak, terutama bagi masyarakat soppeng riaja. Penelitian ini dapat menjadi dasar agar dilain pihak adanya keberanian dari tokoh budaya agar gaya, gerak dan baca-bacaan yang menghiasi suasana upacara Mappanre temme’ dimodifikasi menjadi seni yang bernuansa Islami yang sarat dengan nilai-nilai syiar Islam khususnya pendidikan Islam demi membumikan Islam ditengah kehidupan masyarakat.
KONTRIBUSI KEGIATAN KEPRAMUKAAN DALAM PENGEMBANGAN 5 NILAI KARAKTER DALAM DASADARMA PRAMUKA Arini Aulia Marifah aulia marifah
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 10 No. 2 (2021): MARET
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.242 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang bentuk kegiatan kepramukaan dan kontribusinya dalam mengembangkan 5 nilai-nilai karakter sesuai dengan Dasadarma Pramuka di MTs DDI Tabo-Tabo. Penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi serta analisis data model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kegiatan kepramukaan dan kontribusinya dalam mengembangkan 5 nilai-nilai karakter sesuai dengan dasadarma pramuka, yaitu: 1) Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu menjalankan semua perintah Tuhan serta meninggalkan segala larangan-larangan-Nya, 2) Patriot yang sopan dan kesatria yaitu belajar dengan baik, peduli, jujur, menghormati yang lebih tua, gemar menolong dan tabah, 3) Rajin, trampil, dan gembira yaitu teratur belajar, disiplin kehadiran, trampil dan gembira serta pantang menyerah, 4) Disiplin, berani, dan setia yaitu selalu tepat waktu dalam kegiatan di madrasah, mendahulukan kewajiban daripada hak, menepati janji dan berani mengambil keputusan, dan 5) Bertanggung jawab dan dapat dipercaya yaitu amanah, jujur, patuh kepada orang tua dan guru, berpikir positif, hati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Model Pelaksanaan Pengawasan Daring pada Madrasah di Kabupaten Maros Muh Zainal Hasjim; Burhan
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 10 No. 2 (2021): MARET
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.272 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pelaksanaan pengawasan daring pada madrasah di Kabupaten Maros. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan instrumen utama adalah penelitian sendiri dengan fokus penelitian pada model pelaksanaan pengawasan daring di Madrasah. Data primer diperoleh dari informan utama yaitu Koordinator pengawas Madrasah Kabupaten Maros dengan menggunakan pedoman wawancara terstruktur sementara data sekunder diperoleh dari hasil pengamatan dan dokumen pelaksanaan pengawasan di Madrasah. Sumber data juga diperoleh dari informan biasa yaitu guru dan kepala madrasah yang menjadi sasaran pelaskanaan kepengawasan melalui observasi, dokumen dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang terdiri dari data collection, data reduksi, dan conclution. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pelaksanaan pengawasan yang digunakan pengawas disesuaikan dengan model pembelajaran guru dengan tahapan (1) Pemetaan Lokasi Madrasah Binaan, (2) Penyusunan Rencana dan Program Pengawasan (3) Pelaksanaan Program Pengawasan, dan (4) Evaluasi Program Pengawasan. Jika pembelajaran dilaksankana secara daring synchronous maka pengawasan juga dilaksanakan secara singkronous pada aplikasi yang digunakan guru seperti Whatssapp, Zoom Meeting dan Google Classroom. Jika pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara daring dengan model asynchronous , maka pelaskanaan pengawasan dilaksanakan secara asynchronous  dengan menggunakan rekaman video yang diserahkan guru kepada pengawas. Jika pelaksanaan pembelajaran dengan model luring, maka pelaksanaan pengawasan secara luring dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.
PENGAWAS SEKOLAH PROFESIONAL: CIPTAKAN GURU BERKAPASITAS KNOWLEDGE PERSONS Eko Supraptono Supraptono
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 2 (2019): September
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.029 KB)

Abstract

The existence of the School Supervisor becomes very strategic when the School Supervisor can play his role significantly in accordance with his competencies. The competencies possessed by the School Supervisor if implemented in full will have implications for the growth of the spirit and the spirit of performance and will deliver School Supervisors to increase their professionalism. The teacher hopes that there will be recognition of his existence as a person of education and given the opportunity to realize his 'pedagogical autonomy' professionally. In realizing its pedagogical autonomy, Teacher hopes to get the opportunity to realize his personal and professional performance through creative self-empowerment. Therefore it is necessary to build a discourse and paradigm thinking that the teacher has autonomy in carrying out his duties. However, the autonomous Teacher context is more directed at self-building capacity and remains in the corridor of knowledge persons. Teacher is important, because one of the characteristics of the 21st century is marked by a century of knowledge. The existence of School supervisors is still needed by teachers in motivating and facilitating the activities of teachers so that teachers become professors and professionals. Eksistensi pengawas sekolah menjadi sangat strategis manakala pengawas sekolah tersebut dapat memainkan perannya secara signifikan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Kompetensi yang dimiliki oleh Pengawas Sekolah jika diimplementasikan secara paripurna maka akan berimplikasi pada tumbuhnya jiwa dan semangat kinerja dan akan menghantarkan pengawas sekolah untuk meningkatkan profesionalismenya. Guru sangat mengharapkan adanya pengakuan terhadap keberadaan dirinya sebagai pribadi insan pendidikan dan diberi peluang untuk mewujudkan 'otonomi pedagogisnya' secara profesional. Dalam mewujudkan otonomi pedagogisnya, guru berharap bisa memperoleh kesempatan dalam mewujudkan kinerja pribadi dan profesionalnya melalu pemberdayaan diri sendiri secara kreatif. Oleh sebab itu perlu dibangun wacana dan paradigma berpikir bahwa guru itu memiliki otonomi dalam melaksanakan tugasnya. Namun konteks guru otonom lebih mengarah pada kapasitas membangun (capacity building) diri dan tetap dalam koridor sosok yang berpengetahuan (knowledge persons). Hal ini penting dimiliki oleh guru, sebab salah satu ciri dari abad ke-21 ditandai dengan abad pengetahuan. Eksistensi pengawas sekolah masih tetap diperlukan oleh para guru dalam hal memotvasi dan memfasilitasi aktivitas guru agar menjadi guru yang kompeten dan profesional.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MODERASI TERHADAP PEMAHAMAN PENYULUH AGAMA PADA DIKLAT PENYULUH AGAMA NON-PNS DI BALAI DIKLAT KEGAMAAN MAKASSAR khidir bdkkhidir
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 2 (2019): September
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.138 KB)

Abstract

Moderasi Beragama merupakan focus utama Kementerian Agama, bahkan menjadi salah satu dari tiga mantra yang menjadi ruh pada Kementerian Agama saat ini. Hal itu disebabkan karena moderasi beragama mempunyai tingkat relevansi dan urgensi yang tinggi ditengah-tengah kehidupan beragama di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan apakah penyuluh Agama mampu memahami pendidikan moderasi. Sedangkan Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Dimana pendekatan deskritif hanya mendiskripsikan fenoma, gejala, peristiwa dan kejadian yang terjadi. Hasil dari penelitian ini menunjukan, bahwa hubungan kita terhadap sesama manusia haruslah terjaga dengan utuh dan erat berpegang teguh pada dasar islam yang telah ditanamkan oleh para pembawa Islam ketanah Indonesia. Sikap moderat yang di junjung tinggi oleh para pendahulu kita haruslah tetap eksist dalam jalannya, dengan cara kita menjaga citra islam di wajah dunia dan menjaga islam dari golongan ekstrim seperti orang yang berpaham liberal, plural, sekuler serta munculnya kaum radikal yang pendek pemahamannya akan islam tentu ini semua sebagai jalan kita untuk menjaga keabadaian syariat islam dan mengamalkan konsep moderat (wasahtiyah) dalam islam hingga terciptanya rasa kasih saying terhadap sesama dan rasa saling menghormati dan menghargai akan perbedaan dan keberagaman yang ada di kalangan umat islam khususnya yang ada di Indonesia.
PENERAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK BAGI GURU MADRASAH Istiati Hatma Mallewai
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 2 (2019): September
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.836 KB)

Abstract

Pembelajaran tematik merupakan salah satu metode pembelajaran yang memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan pembelajaran lainnya. Karena pembelajaran tematik melibatkan beberapa mata pelajaran dalam standar kompetensi yang dimediai oleh satu tema. Bagamana dalam pemilihan tema yang bisa mengikat dari beberapa mata pelajaran merupakan bagian dari kelebihan pembelajaran ini. Sehingga proses belajar mengajar akan lebih diminati dan atau lebih bisa memancing peran aktif dari para peserta didik. Selain dari itu pembelajaran tematik juga dapat diakatan pembelajaran dengan pendekatan student centered. Dalam makalah ini lebih memfokuskan bagaimana penerapan pembelajaran tematik,. Dalam proses pembelajaran anak usia dini menggunakan pendekatan tematik, dimana guru selalu menggunakan suatu tema sebagai fokus dari kegiatan pembelajaran. Tema-tema belajar yang disajikan dalam kegiatan pembelajaran diambil dari lingkungan kehidupan sekitar anak. Hal ini dilakukan untuk mempermudah memberikan pembelajaran pada anak dan agar hasil pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Pendekatan tematik merupakan pendekatan yang dibutuhkan saat ini. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran suatu proses untuk mengaitkan dan memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran dengan semua aspek perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan social keluarga. Berdasarkan hasil pemaparan diatas, maka sebagai guru perlu memahami hal yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik dan kita sangat perlu tahu bagaimanakah pendekatan tematik dalam proses pembelajaran.
DESKRIPSI KEMAMPUAN PESERTA DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF MATEMATIKA UN MTs Amrin
Baruga: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 2 (2019): September
Publisher : BDK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.62 KB)

Abstract

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dilaksanakan Balai Diklat Keagamaan Makassar.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan peserta dalam memecahkan masalah matematika open-ended ditinjau dari perbedaan tingkat kemampuan prasyarat dan gaya kognitif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) tes GEFT, (2) tes kemampuan prasyarat, (3) tes pemecahan masalah open-ended, (4) dan wawancara berbasis tugas tidak terstruktur. Hasil penelitian ini adalah (1) subjek penelitian dengan kemampuan prasyarat tinggi gaya kognitif field dependen, menunjukkan kemampuan yang baik dalam memahami masalah dengan tepat, merencanakan pemecahan, menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh, (2) subjek penelitian dengan kemampuan prasyarat tinggi gaya kognitif field independen, dapat memahami masalah dengan tepat, melaksanakan pemecahan sesuai rencana, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Subjek dapat menyelesaikan masalah, (3) subjek penelitian dengan kemampuan prasyarat sedang gaya kognitif field independent, dapat memahami masalah dengan tepat, melaksanakan pemecahan sesuai rencana, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. subjek dapat menyelesaikan masalah, (4) subjek penelitian dengan kemampuan prasyarat sedang gaya kognitif field dependent, dapat memahami masalah dengan tepat, masih kurang yakin saat melaksanakan pemecahan, namun sesuai dengan rencana, dan (5) subjek penelitian dengan kemampuan prasyarat rendah gaya kognitif field independent, kurang mampu memahami permasalahan, memiliki rencana penyelesaian, namun tidak mampu ditulis dan dibahasakan, subjek memecahkan masalah dengan metode trial and error (coba-coba). Namun kurang yakin dalam membahasakan/membuktikan kebenaran hasil tersebut, (6) subjek penelitian dengan kemampuan prasyarat rendah gaya kognitif field dependent, kurang mampu memahami permasalahan, tidak mampu melaksanakan pemecahan masalah dengan benar, dan tidak yakin dalam menjelaskan langkah-langkah penyelesaian yang ditempuh.

Page 2 of 3 | Total Record : 25