cover
Contact Name
Luqman Agung Wicaksono
Contact Email
luqmanagungw@gmail.com
Phone
+6287870205238
Journal Mail Official
jtp@upnjatim.ac.id
Editorial Address
Jalan Raya Rungkut Madya, Gunung Anyar Surabaya, 60294
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan
ISSN : 19784163     EISSN : 26545292     DOI : https://doi.org/10.33005/jtp
Jurnal Teknologi Pangan is one of Food Technology Journal in Indonesia managed by Department of Food Technology at Universitas Pembangunan Nasional "Veteran", East Java, Indonesia. This journal has been published since 2007 and registered with ISSN 1978-4163 and E-ISSN 2654-5292 (Online). Jurnal Teknologi Pangan is published twice a year in June and December. This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Food Microbiology,Food Processing and Food Chemistry.
Articles 351 Documents
SIFAT FISIKO-KIMIA KEMASAN BERBASIS GELATIN DENGAN VARIASI PENAMBAHAN GLISEROL DAN EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia calabura)
Jurnal Teknologi Pangan Vol 15, No 2 : DESEMBER 2021
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v15i2.2940

Abstract

Kemasan yang dapat hancur terurai oleh aktivitas mikoorganisme setelah digunakan dan dibuang pada lingkungan yaitu kemasan yang terbuat dari bahan alam. Kemasan tersebut dapat terbuat dari lipid, hidrokoloid terdiri dari bahan yang bersumber dari protein dan polisakarida dan komposit kombinasi antara kelompok bahan tersebut. Gelatin merupakan salah satu golongan protein yang bersifat hidrokoloid yang larut dalam air mampu membentuk gel, membentuk lapisan tipis yang elastis dan membentuk kemasan menjadi transparan serta kuat. Gliserol merupakan salah satu komponen yang sangat besar dalam pembuatan kemasan dapat mengurangi gaya inter molekuler sepanjang rantai polimer sehingga mampu meningkatkan gaya, mudah digunakan untuk mengembangkan lebih lanjut sifat plastisnya, mempunyai sifat peningkatan penyerapan air dan meningkatkan fleksibelitas pada kemasan. Daun kersen (Muntingia calabura) mengandung kumpulan senyawa kimia antioksidan seperti flavonoid, tanin, triterpen, saponin, polifenol, dan senyawa lignin lainnya. Flavonoid bekerja sebagai antimikroba, antioksidan, antivirus, antihipertensi, menghidupkan perkembangan estrogen, dan mengobati fungsi hati. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sifat fisiko-kimia kemasan berbasis gelatin dengan variasi penambahan gliserol dan ekstrak daun kersen. Kemasan berbasis gelatin dibuat dengan variasi penambahan gliserol 10%;20%;30% dan ekstrak daun kersen yang berbeda yaitu 5%;10%;15%. Parameter yang dianalisis adalah uji ketebalan, kuat tarik, persen pemanjangan, kelarutan, kadar air dan aktivitas antioksidan. Perlakuan variasi penambahan gliserol dan ekstrak daun kersen terhadap sifat fisiko-kimia menghasilkan meningkatkan nilai ketebalan, menurunkan nilai kuat tarik (tensile strength), meningkatkan nilai persen pemanjangan (elongasi) dan meningkatkan nilai persen kelarutan, meningkatkan nilai kadar air, dan meningkatkan nilai aktivitas antioksidan pada kemasan. DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v15i2.2940
MODEL MATEMATIS KADAR BETA KAROTEN LABU KUNING (Cucurbita maxima) SELAMA PROSES PENGERINGAN DALAM KABINET DRIER
Jurnal Teknologi Pangan Vol 14, No 1: Juni 2020
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v14i1.2178

Abstract

Labu kuning adalah produk lokal yang memiliki banyak manfaat karena mengandung komponen gizi yang baikuntuk kesehatan, salah satunya adalah beta karoten (pro vitamin A). Beta karoten dapat mengalamikerusakan karena adanya proses pengolahan, yang menimbulkan oksidasi ataupun panas yang tinggi. Salahsatu proses pengolahan yang dilakukan pada labu kuning adalah proses pengeringan. Penelitian ini bertujuanmelihat pengaruh pengeringan terhadap perubahan kadar beta karoten yang kemudian diwujudkan dalambentuk persamaan Handerson dan Pabis. Pengeringan menggunakan cabinet dryer dengan suhu 50, 60, dan70OC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar beta karoten labu kuning mengikuti kurvaeksponensial dengan kadar beta karoten yang masih tinggi yaitu pada pengeringan 50OC yang mengikutipersamaan = 4,95 , Semakin rendah suhu pengeringan maka kurva yang terbentuk cenderunglebih landai sebelum akhirnya cenderung stabil. Penurunan kadar beta karoten paling banyak saat prosespengeringan terjadi pada 3 jam pertama.Kata kunci: beta karoten, labu kuning, model matematis, pengeringan  DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v14i1.2178
Fraksinasi dan Karakterisasi Fosfolipid dari Biji Nyamplung (Calophyllum inophyllum) (PhospholipidFractination and Characterisation of Calophylluminophyllum Kernel)
Jurnal Teknologi Pangan Vol 12, No 1: Juni 2018
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v12i1.1096

Abstract

Abstract The aim of this research is to obtain the Phospholipid characteristic of Calophylluminophyllum which is suitable with the need by means of fractination process.Phospholipidcharacterisation resulted from fractination will generate recommendation of Phospholipidfractination use on suitable product and food processing. The extraction process was performed by using chloroform-methanol (1:2 v/v). The polar lipid is separated by using ethanol, then ethanol is used to extract Phospholipid. Fractination was performed based on the soluability in ethanol and acetone. There were 5 Phospholipid fraction namely crude Phospholipid (without fractination), ethanol soluble, ethanol insoluble, ethanol-acetone insoluble fraction. Each fraction was characterised for phosphatidylcholine content (PC), hydrophilic-lipophilic balance (HLB), peroxide value, viscosity and color. The result showed that the highest PC content was found on ethanol-soluble fraction, whereas highest fatty acid which arrange Phospholipid werepalmitat (C16:0) and Oleat (C:18). Phospholipid fraction which is suitable to be used as oil in water emulsifier is ethanol soluble fraction, and ethanol insoluble fraction is used as water in oil emulsifier. Keywords: Calophylluminophyllum kernel, phosphatidylcholine, phospholipid, phospholipid characteristic DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v12i1.1096
TINJAUAN KUALITAS PERMEN JELLY SIRSAK (Annona Muricata Linn ) TERHADAP PROPORSI JENIS GULA DAN PENAMBAHAN GELATIN
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2: Desember 2013
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v7i2.496

Abstract

Abstract   Various types of candy on the market, confectionery products currently found quite interesting that public taste jelly candy. Jelly candy is candy made from fruit juice, glucose and sucrose gel-forming materials, which performance of clear and transparent, and has a certain texture and suppleness. Problems encountered in the manufacture of jelly candies are produced very elastic texture and sticky making it difficult to mold. The purpose of this study was to know the proportion of soursop jelly candy manufacture glucose: sukosa, and the addition of gelatin as well as knowing the best treatment combination favored by consumers. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) is arranged with 2 factors and repeated 3 times. The first factor is the proportion of glucose: sucrose (20:80; 30:70; 40:60) and the second factor is the addition of gelatin (25 grams, 20 grams, 15 grams). The results of the best treatment is the ratio of glucose: sucrose = 20: 80 and the addition of 15 grams of gelatin. The content of Vit. C mg/100 g 14.7883, 10.5115% reducing sugar, sucrose texture 35.3871% 0.7603 mm / gr.dt, 20.9935% moisture content, ash content of 1.9758% with 133 flavor, aroma 133 , 5 and chewy texture.   Keywords: Jelly Candy, glucose, sucrose, gelatin   Abstrak   Berbagai jenis permen yang beredar dipasaran, saat ini ditemui produk permen yang cukup menarik selera masyarakat yaitu permen jeli. Permen jelly merupakan permen yang dibuat dari sari buah, glukosa sukrosa dan bahan pembentuk gel, yang berpenampakan jernih dan transparan serta mempunyai tekstur dan kekenyalan tertentu. Permasalahan yang dihadapi pada pembuatan permen jelly adalah tekstur yang dihasilkan sangat elastis dan lengket sehingga mempersulit cetakan. Tujuan Penelitian ini mengetahui pembuatan permen jelly sirsak proporsi glukosa : sukosa dan penambahan gelatin serta mengetahui kombinasi perlakuan terbaik yang disukai oleh konsumen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL ) yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor I adalah proporsi glukosa : sukrosa (20:80; 30:70; 40:60) dan factor II adalah penambahan gelatin (25 gram,20 gram, 15 gram). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbaik adalah perbandingan glukosa : sukrosa = 20 : 80 dan penambahan gelatin 15 gram. Kandungan Vit. C 14,7883 mg/100 gr, gula reduksi 10,5115%, sukrosa 35,3871% tekstur 0,7603 mm/gr.dt, kadar air 20,9935%, kadar abu 1,9758% dengan rasa 133, aroma 133,5 dan tekstur kenyal yang disenangi.   Kata kunci: Permen Jelly, glukosa, sukrosa, gelatin
EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (PEMP) DI KABUPATEN PASURUAN
Jurnal Teknologi Pangan Vol 9, No 1: Juni 2015
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v9i1.463

Abstract

ABSTRACT The purpose of writing this paper was to evaluate the performance of the program PEMP as one policy applied DKP to improve the welfare of coastal communities and fishermen from many different perspectives. The results of the evaluation of the policy of economic empowerment programs of coastal communities were as follows: (1) apply the concept of co-management in fisheries resource management, where there are limits and a clear division of authority between state and society. This concept also minimizes the weaknesses in community-based fisheries resource management and management of fishery resources by the government. This concept was implemented by applying a variety of strategies and approaches, (2) the concepts developed in the theory of economic and development models to suit Indonesia formulated into a new concept, and can be packed into a Pancasila Indonesia concept development, (3) policies and economic empowerment of coastal communities still consider and take into account the value of sacrifices resource and value externalities generated resulting distribution of welfare in the current generation. Empowerment policies and programs must also preserve the resource in order to create sustainable development and ensuring the welfare of future generations, and (4) alternative implementation of policies and programs in each area was based on the analysis by considering the potential priorities and local needs, so that the priority of any policy or program regions may vary as a form of decentralization to confront forces that impede of the development. Key words: coastal communities economic empowerment program, fishermen welfare ABSTRAK Tujuan penulisan makalah ini adalah mengevaluasi kinerja program PEMP sebagai salah satu kebijakan yang diterapkan DKP untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan dari berbagai perspektif yang berbeda. Hasil evaluasi kebijakan program program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir antara lain sebagai berikut : (1) menerapkan konsep ko-manajemen dalam pengelolaan sumberdaya perikanan, dimana terdapat batasan dan pembagian kewenangan yang jelas antara pemerintah dan masyarakat. Konsep ini juga meminimalkan kelemahan yang ada pada pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis masyarakat dan pengelolaan sumberdaya perikanan oleh pemerintah. Konsep ini dijalankan dengan menerapkan berbagai strategi dan pendekatan; (2) segala konsep yang berkembang dalam teori ekonomi dan model-model pembangunan yang sesuai dengan Indonesia  dirumuskan menjadi satu konsep baru, dan dapat dikemas menjadi Konsep Pembangunan Indonesia yang Berpancasila; (3) kebijakan dan program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir tetap memperhatikan serta memperhitungkan nilai korbanan sumberdaya dan nilai eksternalitas yang ditimbulkan sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan pada generasi sekarang. Kebijakan dan program pemberdayaan juga harus menjaga kelestarian sumberdaya sehingga tercipta pembangunan berkelanjutan dan terjaminnya kesejahteraan generasi yang akan datang; dan (4) implementasi alternatif kebijakan dan program pada disetiap daerah dilakukan berdasarkan analisa prioritas dengan mempertimbangkan potensi dan kebutuhan lokal, sehingga prioritas kebijakan atau program setiap daerah dapat berbeda sebagai bentuk desentraliasi untuk menghadapi kekuatan yang menghambat pembangunan.   Kata kunci: program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, kesejahteraan nelayan
NILAI INDEKS GLIKEMIK DAN BEBAN GLIKEMIK PRODUK OLAHAN SUWEG (Amorphophalus campanulatus BI) Nurdyansyah, Fafa; Retnowati, Endang Is; Muflihati, Iffah; Muliani, Rizky
Jurnal Teknologi Pangan Vol 13, No 1: JUNI 2019
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v13i1.1513

Abstract

Indeks glikemik produk pangan dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu cara pengolahan seperti pemanasan, pemanggangan, penggorengan, dan pendinginan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilaiindeks glikemik dan beban glikemik umbi suweg (Amorphophalus campanulatus BI) akibat berbagai variasipengolahan bertingkat yaitu pemanggangan, pemanggangan disertai penggorengan, dan pemanggangan disertaipendinginan serta mengetahui perubahan komposisi nilai gizi suweg akibat proses pengolahan tersebut. Desainpenelitian yang digunakan yaitu studi eksperimental yang dilakukan terhadap subjek relawan. Sebanyak 6 orangsubjek relawan diberikan produk olahan suweg berupa 3 jenis perlakuan olahan suweg yaitu : suweg panggang,suweg panggang yang kemudian digoreng, dan suweg panggang yang kemudian didinginkan dan dilakukanpengukuran kadar glukosa darah setelah mengkonsumsi produk olahan suweg untuk ditentukan kurva responglukosa dan indeks glikemiknya. Nilai indeks glikemik semua produk olahan suweg termasuk dalam kategori rendahyaitu kurang dari 55, secara rinci yaitu suweg panggang memiliki nilai indeks glikemik sebesar 41,2, sedangkansuweg panggang + goreng memiliki nilai indeks glikemik sebesar 27,0 serta suweg panggang + pendinginan sebesar33,0. Beban glikemik produk olahan suweg dengan besaran porsi 100 gram suweg olahan yaitu 16,3; 14,0; dan15,3 masing-masing secara berurutan pada suweg panggang, suweg panggang-goreng, serta suweg panggang-pendinginan termasuk kedalam kategori tingkat sedang. Proses pengolahan bertingkat menyebabkan indeksglikemik produk olahan suweg yang lebih rendah dibandingkan dengan pengolahan tunggal. Kata Kunci : suweg, pengolahan, indeks glikemik, beban glikemik DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v13i1.1513
PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DENGAN METODE SENTRIFUGASI
Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 2: Desember 2010
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v4i2.441

Abstract

Virgin Coconut Oil (VCO) is the oil produced from fresh coconuts. Unlike the ordinary coconut  oil,  Virgin  Coconut  Oil  (VCO)  is  produced  not  by the  addition  of  chemicals  or processes  that  use  high  heat.  Virgin  Coconut  Oil  (VCO)  beneficial  to  health,  this  is  because Virgin Coconut Oil (VCO) contains many medium chain fatty acids (Medium Chain Fatty Acid /  MCFA).  MCFA  are  most  in  the  Virgin  Coconut Oil  (VCO)  is  Lauric  acid  (Lauric  Acid). Properties  that  is  easily  absorbed  MCFA  will  increase  metabolism.  The  addition  of  energy produced  by  the  metabolism  of  this  produces  stimulating  effects  in  the  human  body  thereby increasing the level of energy produced.  Core  processes  in  the  manufacture  of  Virgin  Coconut  Oil  (VCO)  is  located  on  the separation of oil from water and protein. Many obstacles must be faced for separating oil from water  and  proteins,  such  as  in  the  fermentation  process,  the  separation  process takes  a  long time to get the Virgin Coconut Oil (VCO). While the centrifugation, the separation is done by utilizing the weight of the lighter oil. Although I do not require centrifugation long time but the way it has in the purity of the product constraints.  This research was conducted by using coconut cream from coconut milk is silenced for 3  hours.  Then  the  cream  is  incorporated  into  the  instrument  with  speed  centrifuges  spin 600,700,800,900 and 1000 rpm with vaiasion  times very; 30, 45, 60.75 and 90 minutes after that  coconut  cream  layer  divided  into  3  layers  of  oil  that  is,  the  middle  layer  of  protein (blondo)  and  next  underwater  layer  silenced  for  8,10,12,14,  and  16  hours  .  The  results  of virgin  coconut  oil  (VCO)  is  obtained  and  then  analyzed  with  the  parameters  water  content, protein content, Lauric acid, color and odor.  From the research, obtained the best conditions of rotational speed centrifuges at 1000 rpm and centrifuges turnaround time 90 minutes and 8 hours stagnand time with the quality of Virgin  Coconut  Oil  (VCO)  which  produced  yield:  Lauric  acid  yield  of  36.67%  and  52.23% results.Keywords: sentrifuge, coconut cream,,% yield results, VCO
PENGARUH KOMPOSISI PATI JEWAWUT (Setaria italica L.) DAN LILIN LEBAH SERTA KONSENTRASI SORBITOL TERHADAP KARAKTERISTIK EDIBLE FILM
Jurnal Teknologi Pangan Vol 15, No 2 : DESEMBER 2021
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v15i2.2941

Abstract

Karakteristik edible film dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti komposisi bahan film, jenis dan konsentrasi aditif, serta kondisi pembuatan. Film dapat dibuat dari semua jenis pati yang mengandung amilosa karena sifat liniernya yang dominan. Pati dari jewawut (Setaria italica L.) berpotensi untuk digunakan sebagai matriks film karena mengandung amilosa yang tinggi. Edible film berbahan pati menunjukkan permeabilitas tinggi yang mengakibatkan laju transmisi uap air tinggi, penambahan lilin-lebah mampu menurunkan laju transmisi uap air karena sifatnya yang hidrofobik. Selain itu, untuk meningkatkan elastisitas film, sorbitol yang berfungsi sebagai aditif plasticizer ditambahkan ke dalam campuran pati jewawut dan lilin-lebah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi optimal pati jewawut dan lilin-lebah serta konsentrasi sorbitol untuk pembuatan edible film yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembuatan edible film dilakukan dalam dua tahap: tahap pertama adalah variasi komposisi pati jewawut dan lilin-lebah, 4:1%; 4.2:0.8% dan 4.4:0.6%. Tahap kedua adalah variasi konsentrasi sorbitol, 5%; 5,5% dan 6%. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA), dan uji DMRT dilakukan jika pengaruhnya signifikan. Tahap pertama menghasilkan rendemen 12,025%, kadar air 11,68%, kadar pati 85,98%, kadar amilosa 25,795% dan kadar amilopektin 60,185%. Tahap kedua menunjukkan bahwa komposisi optimum pati jewawut dan lilin-lebah adalah 4:1%, dengan konsentrasi sorbitol 5% yang menghasilkan rendemen 11,77%, kadar air 15.896%, persen elongasi 10,791%, kuat tarik 0,915 N/mm2 dan 3.222 g/m2/hari laju transmisi uap air film. DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v15i2.2941
KAJIAN SUBSTITUSI TEPUNG TAPIOKA DAN PENAMBAHAN GLISEROL MONOSTEARAT PADA PEMBUATAN ROTI TAWAR
Jurnal Teknologi Pangan Vol 5, No 2: Desember 2011
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v5i2.412

Abstract

Bread  is  one  of  fermentation  product  and  consumer  likely  made  form  wheat  flour  , bread  have  difference  taste  and  softness.  Using  cassava  flour    to  product    bread that can increased  various  bread  product  and  value.  The  purpose  of  this  research  is to  find    the  best combination between substitution cassava flour and glycerol monostearat addition for quality of bread.  Experimental  design  employed  in  this  research  is  randomized  completely  design consisting  of  two  factors  and  three  replications,   the  first  factors  substitution  cassava  flour (10%, 20%, and 30%) and the second factor is glycerol monostearat  addition (1%,2%,3%,4% and 5%). The best treatment was combination of cassava flour 10%  and glycerol monostearat addition 4%. This bread product has taste score 229,5, color score 195 and texture score 236, water content 29,34 %, protein 7,127%, fat 2,793%, starch 47,657%, loaf volume 347%, texture 0,915 mm/gr. det  and porous size 1,214 mm2.Keyword : bread, cassava starch flour, glycerol monostearat.
PEMBUATAN COOKIES BEKATUL (KAJIAN PROPORSI TEPUNG BEKATUL DAN TEPUNG MOCAF) DENGAN PENAMBAHAN MARGARINE
Jurnal Teknologi Pangan Vol 9, No 2: Desember 2015
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v9i2.507

Abstract

ABSTRACTCookies is a type of baked snacks. The proportion of bran flour and  mocaf in bran cookies production is expected to add to the nutritional value, because the chemical constituents in the flour bran is an essential nutrient for the body such as fiber, protein, vitamin B and vitamin E. The addition of bran in products cookies cause cookies to be loud so that added margarine in bran cookies. The addition of  margarine is expected to provide improved crispness, improve texture and enhance flavor. This study aims to determine the effect of the proportion of bran flour and mocaf  flour with the addition of margarine on the quality of the physico chemical and organoleptic. The study of bran cookies using Complete Random Design (RAL) factorial with two factor and each treatment combination was repeated 2 times. The first factor, proportions of bran flour and flour mocaf (20:80; 40:60; 60:40). The second factor, addition margarine (75 %; 85%; 95%) The results of the study indicate the best treatment cookies bran derived from rice bran and mocaf flour  combination (40%: 60%) with addition of 95% margarine. The bran cookies had the characteristic moisture content of 4.601%, protein 3.82% , fat  37.87%, and organoleptic test : sense 69, color 71, crispiness 65.Keyword: Rice Bran, Cookies, Margarine, MocafABSTRAKCookies atau kue kering merupakan jenis makanan ringan yang dipanggang. Proporsi tepung bekatul dan tepung mocaf dalam pembuatan cookies bekatul diharapkan dapat menambah nilai gizi dalam produk cookies, karena kandungan kimia yang ada di dalam tepung bekatul merupakan zat gizi penting untuk tubuh seperti serat, protein, vitamin B dan vitamin E. Penambahan bekatul dalam produk cookies menyebabkan cookies menjadi keras sehingga ditambahkan margarine dalam cookies bekatul diharapkan dapat memberikan peningkatan kerenyahan, memperbaiki tekstur dan meningkatkan cita rasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi tepung bekatul : tepung mocaf dengan penambahan margarine terhadap kualitas fisika kimia dan organoleptik cookies bekatul yang dihasilkan.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial  dengan 2 faktor dan masing-masing perlakuan kombinasi diulang sebanyak 2 kali. Faktor I proporsi tepung bekatul : tepung mocaf ( 20:80 ; 40:60 ; 60:40). Faktor II penambahan margarine (75 ; 85 ; 95).Hasil penelitian menunjukkan cookies bekatul perlakuan terbaik diperoleh dari kombinasi tepung bekatul : tepung mocaf (40% : 60%) dengan penambahan margarine 95%. Cookies bekatul tersebut mempunyai karakteristik dengan kadar air 4,601%, kadar protein 3,82%, kadar lemak 37,87%, dan hasil uji organoleptik dengan nilai rata-rata terhadap rasa 69, warna 71, kerenyahan 65.Kata Kunci: Bekatul, Cookies, Margarine, Mocaf