cover
Contact Name
Rinto Hasiholan Hutapea
Contact Email
rintohutapea81@gmail.com
Phone
+6281310083870
Journal Mail Official
haratijpk@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya Jl. Tampung Penyang RTA Milono Km. 6 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, 73112.
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen
ISSN : 2776995X     EISSN : 27766454     DOI : https://doi.org/10.54170/harati.v2i1
Core Subject : Religion, Education,
HARATI: Jurnal Pendidikan Kristen adalah jurnal yang menerbitkan hasil penelitian di bidang pendidikan kristen. Kajian-kajian penelitian bidang pendidikan kristen yang dimaksud mencakup pendidikan formal maupun nonformal. Secara khusus bidang kajian pendidikan kristen tersebut adalah: Pendidikan kristen dan kompetensi guru, Pendidikan kristen dan hasil belajar peserta didik, Pendidikan kristen pada usia dini, Pendidikan kristen pada usia lanjut, dan Pendidikan kristen dalam masyarakat majemuk.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
Strategi guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Mempersiapkan Peserta Didik Menghadapi Ujian Semester Ventje Andri Politon
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2022): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.68 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i1.103

Abstract

This paper aims to outline the strategies of Christian Religious Education teachers in the preparation of student semester exams. The approach used in this paper is with a literature study. The results of the discussion of this paper reveal that the strategy of Christian Education teachers in the preparation of semester exams in students, namely Christian Education teachers have a good work ethic, understand the nature of semester exam preparation well, and provide the right stages of exam preparation for students. The work ethic of Christian Education teachers and a good understanding of the nature of semester exam preparation are very important to note. The lack of work ethic and the lack of understanding of Christian Education teachers about the preparation of student examinations will affect the readiness of students in facing semester exams. Likewise with the stages of the preparation of the semester exam. Teachers of Christian Religious Education need to understand each stage of preparation for the exam. Work ethic, understanding, and implementation of good semester exam preparation is a strategy of Christian Education teachers in improving student learning outcomes. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan strategi guru Pendidikan Agama Kristen dalam persiapan ujian semester siswa. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini ialah dengan kajian pustaka. Hasil pembahasan dari tulisan ini mengungkapkan bahwa strategi guru Pendidikan Agama Kristen dalam persiapan ujian semester pada siswa yaitu guru Pendidikan Agama Kristen memiliki etos kerja yang baik, memahami hakikat persiapan ujian semester dengan baik, serta memberikan tahapan-tahapan persiapan ujian yang tepat pada siswa. Etos kerja guru Pendidikan Agama Kristen dan pemahaman yang baik akan hakikat persiapan ujian semester sangat penting untuk diperhatikan. Kurangnya etos kerja dan kekurangpahaman guru Pendidikan Agama Kristen tentang persiapan ujian siswa akan mempengaruhi kesiapan siswa dalam menghadapi ujian semester. Demikian halnya dengan tahapan pelaksanaan persiapan ujian semester. Guru Pendidikan Agama Kristen perlu memahami setiap tahapan persiapan ujian tersebut. Etos kerja, pemahaman, dan pelaksanaan persiapan ujian semester yang baik merupakan strategi guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Pengaruh E-Learning Berbasis Aplikasi Google Classroom dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII di SMP Kristen Palangka Raya Silvia Rahmelia; Maria Agustina; Rudie
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.817 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.99

Abstract

Google Classroom is very popular nowadays, especially during this remote learning due to Covid-19 pandemic. However, the effectiveness of its use has yet to be ascertained on students' learning result, including in Christian Religious Education learning process. This research was conducted at Palangka Raya Christian Middle School with the research purpose is to find out how much e-learning based on Google Classroom application in Christian Religious Education learning has effect on learning outcomes. Research method that used is non-experimental quantitative with a comparative causal type of research, so this method is to examine cause-and-effect relationships. The population in this research were all students in Palangka Raya Christian Middle School, i.e 104 students, while the sample used was 34 students at eighth grade. The results showed that there was an effect of e-learning based on the google classroom application in learning Christian Religious Education, towards learning outcomes of students at Palangkaraya Christian Middle School with a significance level of 0.249 > 0.05. This effect is relatively small with an R Square value of 41%. That is, the learning outcomes of eighth grade students at Palangka Raya Christian Middle School are more influenced by other variables in improving student learning outcomes. Aplikasi google classroom sangat populer digunakan saat ini, terlebih di tengah sistem pembelajaran jarak jauh sejak pandemi Covid-19. Namun demikian efektivitas penggunaannya belum dapat dipastikan terhadap keberhasilan belajar peserta didik, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Penelitian ini dilakukan di SMP Kristen Palangka Raya dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh e-learning berbasis aplikasi google classroom dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Kristen Palangka Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimen dengan jenis penelitian kausal komparatif untuk meneliti hubungan sebab-akibat. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa di SMP Kristen Palangka Raya yang berjumlah 104 siswa, sedangkan untuk sampel yang digunakan adalah 34 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh e-learning berbasis aplikasi google classroom dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Kristen Palangka Raya dengan taraf signifikasi sebesar 0,249 >̲ 0,05. Adapun pengaruh tersebut terbilang kecil dengan nilai R Square sebesar 41%. Artinya, hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Kristen Palangka Raya lebih besar dipengaruhi oleh variabel lain dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Pendidikan Kristiani Berbasis Berpikir Kritis: Sebuah Tawaran Model Pembelajaran Demokratis Berdasarkan Pemikiran Pendidikan Membebaskan Menurut Paulo Freire Justice Zeni Zari Panggabean
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.868 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.101

Abstract

Freedom of learning for students can be carried out in the practice of Christian education, because it is important for the need to face social realities in everyday life. However, most Christian educational practices prioritize spiritual teachings that talk about life outside the real world. Christian education should play its role in generating spiritual understanding that is relevant to social (reality) transformation. Based on this, the importance of critical awareness aims as the actualization of Christian values ​​carried out in the reality of life. Paulo Freire's thinking in the concept of liberating education is used as a lens for teaching critical thinking, and dialogue as a democratic learning model for teachers and students to be able to think freely, have opinions, and have critical awareness. The research method used is qualitative research through literature review by reviewing books, journals by analyzing data by summarizing, and synthesizing information related to the topic. The results of this study found that: the development of the potential of students related to social transformation, the elaboration of Christian education and liberating education to build critical awareness of teachers and students, dialogue has the potential as a democratic model in learning. In conclusion, critical thinking is very suitable in Christian learning because this activity links social, emotional, and moral experiences for social transformation. Kebebasan belajar bagi naradidik dapat dilakukan dalam praktek pendidikan Kristiani, karena hal itu penting untuk kebutuhan menghadapi realitas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, praktik pendidikan Kristiani lebih mengutamakan pengajaran spiritual yang berbicara tentang kehidupan di luar dunia nyata. Seharusnya pendidikan Kristiani memainkan perannya dalam memunculkan pemahaman spiritual yang relevan dengan transformasi (realitas) sosial. Berdasarkan hal itu, pentingnya kesadaran kritis bertujuan sebagai aktualisasi dari nilai-nilai Kristiani dilakukan dalam realitas kehidupan. Pemikiran Paulo Freire dalam konsep pendidikan yang membebaskan dijadikan sebagai lensa untuk melakukan pengajaran berpikir kritis, dan dialog sebagai model pembelajaran demokratis untuk guru dan murid dapat bebas berpikir, berpendapat, dan memiliki kesadaran kritis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui literatur review dengan mengkaji buku, jurnal dengan melakukan analisis data dengan meringkas, dan mensintetis informasi terkait topik. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: pengembangan potensi naradidik berkaitan dengan transformasi sosial, elaborasi pendidikan Kristiani dan pendidikan yang membebaskan membangun kesadaran kritis guru dan naradidik, dialog berpotensi sebagai model demokratis dalam pembelajaran. Kesimpulannya, pemikiran kritis sangat cocok dalam pembelajaran Kristiani karena aktivitas ini mengaitkan pengalaman sosial, emosional, dan moral untuk transformasi sosial.
Pendidikan Agama Kristen dalam Ruang Publik Virtual: Sebuah Analisis Pemikiran Jürgen Habermas Frets Keriapy
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.979 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.109

Abstract

The digital era is an era where everything is done digitally, be it science or the journey of human spirituality. With the presence of digital space simultaneously there is also a public space in virtual form. In the past, humans were referred to as social creatures, in this digital era, humans are also referred to as digital creatures. So that the teaching of Christian religious education does not only stop in the private sphere, which is carried out in the church, but can also be done in a digital virtual sphere. By using a literature-based qualitative method, the author analyzes Habermas' thoughts on the public sphere. From the results of the analysis, it was found that in today's digital era, the public sphere in the digital realm is part of the virtual public sphere, in which the journey of human spirituality is carried out. Human interaction in the digital era does not only occur in physical public sphere, but also occurs in virtual public sphere. Therefore, this paper will examine Christian Religious Education in a virtual public space which of course starts from the analysis of the thoughts of Jürgen Habermas, a German philosopher and sociologist regarding the Public Sphere, then the author will discuss abaut Christian Religious Education in the public sphere a critical review. On Christian Religious Education in the private sphere, which then ends with the conclusion of this research Era digital menjadi era di mana segala sesuatu dilakukan secara digital baik itu ilmu pengetahuan maupun perjalanan spiritualitas manusia. Dengan hadirnya ruang digital, secara bersamaan hadir juga ruang publik dalam bentuk virtual. Yang dulu manusia disebut sebagai makhluk sosial, di era digital ini, manusia juga disebut sebagai makhluk digital. Sehingga pengajaran pendidikan agama Kristen pun tidak hanya berhenti pada ruang privat yakni dilakukan di dalam gereja, melainkan juga dapat dilakukan dalam ruang virtual digital. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis kepustakaan, penulis menganalisis pemikiran Habermas mengenai ruang publik. Dari hasil analisis, didapatkan bahwa di era digital sekarang ini, ruang publik dalam ranah digital merupakan bagian dari pada ruang publik virtual, yang di dalamnya perjalanan spiritualitas manusia dilakukan. Interaksi manusia di era digital tidak hanya pada ruang publik secara fisik, melainkan juga terjadi dalam ruang publik virtual. Dari sinilah penulis menggunakan ruang publik virtual atau virtual public sphere. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengkaji mengenai Pendidikan Agama Kristen dalam ruang publik virtual yang tentunya dimulai dari analisis pemikiran Jürgen Habermas seorang filsuf sekaligus sosiolog asal Jerman mengenai Ruang Publik (Public Sphere), kemudian penulis akan membahas mengenai PAK dalam ruang publik sebuah tinjauan kritis terhadap Pendidikan Agama Kristen dalam ruang privat, yang kemudian diakhiri dengan kesimpulan dari penelitian ini.
Diskursus Pendidikan Agama Sebagai Pendidikan Karakter Dicky Dominggus
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.633 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.110

Abstract

Character education has a role in creating the quality of a nation in the future. In its implementation, character education starts from religious education in schools and in non-formal institutions. The implementation of religious education is expected to support the achievement of character education goals. This research is a qualitative research with a description method. This study begins with the concept of education from Ibn Khaldun, Ibn Sina, JJ Rousseau and Robert Raikes as representatives of religious education from Islam and Christianity. The results of this study are character education is an urgent thing to do in building a quality generation in the future. In order to achieve maximum results, character education needs to involve several things such as curriculum, teachers and parents. Pendidikan karakter mememiliki peran dalam menciptakan kualitas suatu bangsa di masa yang akan datang. Dalam pelaksanaannya, pendidikan karakter dimulai dari pendidikan agama di sekolah-sekolah maupun di lembaga non formal. Pelakasanan pendidikan agama tersebut diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskripsi. Dalam penelitian ini diawali dengan konsep Pendidikan dari Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, J J Rousseau dan Robert Raikes sebagai representatif Pendidikan agama dari Islam dan Kristen. Adapun hasil dari penelitian ini adalah pendidikan karakter merupakan hal yang urgent untuk dilakukan dalam membangun generasi yang berkualitas pada masa yang akan datang. Agar tercapai hasil yang maksimal, pendidikan karakter perlu melibatkan beberapa hal seperti peranan kurikulum, guru dan orang tua.
Pendidikan Konseling Kristianistik: Refleksi Kritis melalui Terang Henri Nouwen Maria Veronica
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.606 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.120

Abstract

The purpose of this paper traces the reading of Henri Nouwen's works which are in contacting with Christianistic counseling. Then, it crosses over with counseling education (inclusivity of survivors) and/or pastoral counseling that talks about being-with, compassionate hospitality and relativity between subjects (co-subjective or we-subjective). The research method used qualitative research with literature study. The findings/results of this paper are, both the counselee and the counselor, together see God as the Vulnerable One, see and care for his vulnerable colleagues, namely humans who are all vulnerable survivors. Therefore, Christianistic counseling education through natural events, could be leaded to reflection in here and now about the past and future. In addition, forgiveness becomes a process through which one could become to terms with one's pain and simultaneously experience reconciliatory spirituality. Then, there is the hope of liminality itself as spiritual growth and resilience against the threat of unexpected tragedy and the provision of space or Pericholysis for hospitality. Tujuan tulisan ini untuk menelusuri pembacaan atas karya-karya Henri Nouwen yang bersentuhan dengan konseling Kristianistik. Kemudian melintas dengan pendidikan Konseling (inklusivitas para penyintas) dan/atau Pastoral Konseling yang berbicara mengenai being-with, compassionate hospitality dan relativitas antar subjek (co-subjective atau we-subjective). Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka. Temuan/hasil tulisan ini adalah baik konseli maupun konselor, bersama-sama melihat Allah sebagai Sang-Rentan melihat dan menyahabati rekan rentannya yakni manusia yang semuanya adalah penyintas yang rentan. Berdasarkan hal tersebut, pendidikan konseling Kristianistik melalui peristiwa alam dapat mengarah pada refleksi di masa sekarang dan di sini tentang masa lalu dan masa depan. Selain itu, pengampunan menjadi proses di mana seseorang dapat mencapai rasa sakit yang dialaminya dan sekaligus mengalami spiritualitas rekonsiliatif. Kemudian, adanya harapan liminalitas itu sendiri sebagai pertumbuhan spiritual dan ketahanan terhadap ancaman tragedi yang tak terduga dan penyediaan ruang atau pericholysis bagi keramahan.
Tanggung Jawab Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Melaksanakan Profesinya Sebagai Pendidik Heri Kiswanto
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.553 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.122

Abstract

Teaching is a unique profession because there are so many competencies that must be possessed in carrying out its duties to prepare future generations. The ideal teacher, not just a teacher who meets technical requirements: such as smart, clever, or an expert in the field of science they have; but more importantly, the teacher must be able to position himself as an agent of change. For this reason, Christian Religious Education Teachers must have roles and responsibilities personally, socially, intellectually, morally and spiritually. First, independent personal responsibility, namely being able to understand himself, manage himself, control himself and respect and develop himself. Second, social responsibility is realized through the competence of teachers from the social environment and having effective interactive abilities. Third, intellectual (professional) responsibility is realized through the mastery of various sets of knowledge and skills needed to support their duties. Fourth, spiritual and moral responsibility is realized through the appearance of teachers as religious beings whose behavior does not always deviate from religious and moral norms. This article provides an understanding of the responsibilities of Christian Religious Education teachers that must be carried out in carrying out their duties. With the aim that what is done by a Christian Religious Education Teacher can be accounted for before God and within the educational institution itself. This article uses descriptive qualitative research with a literature and biblical text approach and focuses on the discussion of the Teacher's Responsibilities to his Profession Keywords: responsibility; teacher; christian education. Guru adalah merupakan profesi yang unik karena begitu banyaknya kompetensi yang harus dimiliki dalam melaksanakan tugasnya mempersiapkan generasi yang akan datang. Guru yang ideal, bukan sekedar guru yang memenuhi syarat-syarat teknik: seperti pintar, pandai, atau pakar di bidang ilmu yang dimiliki; melainkan yang jauh lebih penting dari itu semua, guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai agen perubahan “agent of change.” Untuk itu Guru Pendidikan Agama Kristen harus memiliki peran dan tanggung jawab secara pribadi, sosial, intelektual, moral dan spiritual. Pertama, tanggung jawab pribadi yang mandiri yaitu mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, menngendalikan dirinya dan menghargai serta mengembangkan dirinya. Kedua, tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaktif yang efektif. Ketiga, tanggung jawab intelektual (profesional) diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk penunjang tugasnya. Keempat, tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma agama dan moral. Artikel ini memberikan pemahaman terkait tanggung jawab-tanggung jawab guru Pendidikan Agama Kristen yang harus dikerjakan dalam menjalankan tugasnya. Dengan tujuan agar apa yang dikerjakan oleh sorang Guru Pendidikan Agama Kristen bisa dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan dan didalam lembaga pendidikan itu sendiri. Artikel ini mengunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan pustaka dan teks Alkitab dan berfokus pada pembahasan tentang Tanggung Jawab Guru Terhadap Profesinya.
Pengaruh Kemandirian Belajar Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen Kelas VIII di SMP Negeri 7 Palangka Raya Alti Destri; Rinto Hasiholan Hutapea
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.604 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.140

Abstract

This article discusses the influence of learning independence on the learning outcomes of Christian Religious Education in class VIII students at SMP Negeri 7 Palangka Raya. This research is a quantitative research of non-experimental methods. The variables studied were Learning Independence (X) and Learning Outcomes of Christian Religious Education (Y). This study aims to determine the influence of learning independence (X) on the learning outcomes of Christian Religious Education (Y), and to find out whether there is an influence and how much influence learning independence (X) has on the learning outcomes of Christian Religious Education (Y) students at SMP Negeri 7 Palangka Raya. The sample used was 38 people, while data collection was carried out with a questionnaire instrument. The results showed that the t-test analysis was calculated at 2,083, obtained a ttable value of 2,028. With a calculation greater than ttabel (2,083> 2,028) it means that Ha1 is rejected and H01 is accepted, and there is a significant direct influence between Learning Independence on the Learning Outcomes of Christian Religious Education at SMP Negeri 7 Palangka Raya, with a Coefficient of Determination of 10.8% the remaining 89.2% is influenced by other factors that were not studied. Artikel ini membahas tentang pengaruh kemandirian belajar terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Kristen pada peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 7 Palangka Raya. Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif metode non eksperimen. Variabel yang diteliti yaitu Kemandirian Belajar (X) dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Kristen (Y). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemandirian belajar (X) terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Kristen (Y), dan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dan seberapa besarnya pengaruh kemandirian belajar (X) terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Kristen (Y) peserta didik di SMP Negeri 7 Palangka Raya. Sampel yang digunakan sebanyak 38 orang, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan instrumen kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis uji-t thitung sebesar 2,083, didapat nilai ttabel sebesar 2,028. Dengan thitung lebih besar dari ttabel (2,083> 2,028) artinya Ha1 ditolak dan H01 diterima, serta terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara Kemandirian Belajar terhadap Hasil belajar Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 7 Palangka Raya, dengan Koefisien Determinasi sebesar 10,8% sisanya 89,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.
Peran Orang Tua Dalam Menciptakan Kepercayaan Diri Anak Usia 18 Tahun Menggunakan Teori Psikososial Erik Erikson Alvary Exan Rerung
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2023): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/harati.v3i1.123

Abstract

The purpose of this study was to show the reality of low self-esteem among 18 year olds in Indonesia. This is certainly a dilemma, because self-confidence plays a very important role in interactions that will be carried out in a social environment. Not only that, losing self-confidence can trigger children to experience mental disorders and social anxiety, and can end in cases of suicide. Several aspects show that most children lose confidence in themselves because they receive inappropriate parenting from their parents. Seeing the reality of the problem, this paper uses descriptive qualitative methods, central studies and interviews to provide an understanding of how to apply proper parenting through Erik Erikson's Psychosocial theory. Erikson's theory will show how to treat (raise) children aged 0-1 years, 2-3 years, 3-5 years, 6-13 years, and 14-18 years. This will greatly assist parents in carrying out their role when raising their children. The findings of this study will help parents find out what things need to be done and avoided when raising children at a certain age. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan realitas rendahnya tingkat kepercayaan diri pada anak usia 18 tahun di Indoensia. Hal ini tentu menjadi dilema, sebab kepercayaan diri sangat berperan dalam interaksi yang akan dilakukan di lingkungan sosial. Tidak hanya itu, kehilangan rasa percaya diri dapat memicu anak mengalami gangguang mental dan kecemasan sosial, dan bisa berakhir pada kasus tindakan bunuh diri. Beberapa aspek menunjukkan bahwa sebagian besar anak kehilangan rasa percaya pada dirinya sendiri dikarenakan menerima pola asuh yang kurang tepat dari orang tuanya. Melihat realitas masalah tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, studi pusata dan wawancara hendak memberikan pemahaman tentang bagaimana seharusnya menerapkan pola asuh yang benar melalui teori Psikososial Erik Erikson. Teori dari Erikson ini akan memperlihatkan bagaimana seharusnya memperlakukan (mengasuh) anak ketika berusia 0-1 tahun, 2-3 tahun, 3-5 tahun, 6-13 tahun, dan 14-18 tahun. Hal ini akan sangat membantu orang tua dalam melakukan perannya ketika mengasuh anak mereka. Temuan penelitian ini akan membantu para orang tua dalam mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan dihindari ketika mengasuh anak pada usia tertentu.
Peran Pendidikan Teologi Berbingkai Moderasi Beragama Dalam Pengembangan Sikap Toleransi Mahasiswa Andar Gunawan Pasaribu
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2023): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/harati.v3i1.160

Abstract

Theological education in the frame of religious moderation is urgently needed now. Theological education in the framework of religious moderation means theological education which teaches and implements in four indicators, namely National Commitment, religious tolerance, anti-violence and accommodating local culture. The Old Testament has also implemented religious moderation with the implementation of the word מתינות דתית. While the New Testament uses the word metriopàqeia. Jesus showed an attitude of religious moderation but distanced himself from syncretism. Paul also shows an attitude of religious moderation. The method used is a qualitative method with literature and question to 10 pastor as resources. Pendidikan Teologi berbingkai moderasi beragama sangat berperan dalam pengembangan sikap tolerasnsi mahasiswa. Pendidikan teologi berbingkai moderasi beragama berarti Pendidikan Teologi yang mengajarkan dan mengimplementasi dalam empat indikator yaitu Komitmen Kebangsaan, toleransi beragama, anti kekerasan dan akomodatif kebudayaan Lokal. Perjanjian Lama juga sudah menerapkan moderasi beragama dengan implementasi dari kata מתינות דתית. Sedangkan Perjanjian Baru memakai kata metriopàqeia. Yesus menunjukan sikap moderasi beragama tetapi menjauhkan diri dari sinkritisme. Paulus juga menunjukan sikap moderasi beragama. Metode yang dipakai adalah kualitatif dan membuat pertanyaan kepada 10 orag pendeta.

Page 3 of 15 | Total Record : 149