cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
syahrir_gassa@yahoo.com
Phone
+6275172201
Journal Mail Official
sofyan@kemenperin.go.id
Editorial Address
http://litbang.kemenperin.go.id/jli/about/editorialTeam
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Litbang Industri
Core Subject : Science,
Jurnal Litbang Industri (JLI) is a scientific journal published regularly twice a year in June and December. JLI contains primary articles or reviews are sourced directly from results of industrial research such as processing of agricultural products, food processing, fishing industry, mining industry, industrial standardization, and pollution control. All submissions are reviewed by qualified reviewers in their field.
Articles 213 Documents
Pengaruh penggunaan ekstrak gambir sebagai antimikroba terhadap mutu dan ketahanan simpan cake bengkuang (Pachyrhizus erosus) K Kamsina; F Firdausni
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.782 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4329.111-117

Abstract

Gambir merupakan sari getah yang diekstraksi dari daun tanaman gambir dan mengandung senyawa katekin yang bersifat sebagai antimikroba.  Guna meningkatkan ketahanan simpan pangan dan meminilisir penggunaan antimikroba sintetis dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi katekin terhadap nilai gizi dan ketahanan simpan cake bengkuang. Penelitian ini dilakukan dengan metoda Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (persentase catechin) yaitu A (kontrol), B (0,010%), C (0,015%), D (0,020%) dan E   (0,025%) dengan 5 kali ulangan. Hasil perlakuan optimal didapatkan pada perlakuan D dengan nilai kadar air 21,55%, kadar abu 0,3805%, gula 15,765%, antioksidan 28,38% dan total fenolik 2,01%. Uji organoleptik warna, rasa, aroma, dan tekstur disukai dengan nilai berturut-turut 3,481; 3,593; 3,593; 3,333. Sedangkan untuk ketahanan simpan cake bengkuang sampai minggu ke-3 untuk kadar air 31,91 % dan mikroba (Angka lempeng total) 7,4 x 104  koloni/g dan memenuhi standard SNI 01-3840-1995 (Roti). Penggunaan ekstrak gambir sebagai antimikroba dalam menghambat pertumbuhan bakteri kuat dengan daya hambat bakteri Escherechia coli 11 mm dan Salmonella 15 mm.AbstractGambier is a material that extracted from the leaves of gambier plants and contains catechin compounds which have antimicrobial characteristic. In order to improve the storage resistance of food and to minimize the use of synthetic antimicrobials, this study was carried out with the aim of knowing the effect of giving catechin concentrations on the nutritional value and storage resistance of yam cake. The method was conducted by a completely randomized design (CRD) with 5 treatments (percentage of catechin), namely A (control), B (0.010%), C (0.015%), D (0.020%) and E (0.025%) with 5 replications. The optimal result were obtained in treatment D with water content value 21.55%, ash content 0.3805%, sugar content 15.765%, antioxidant 28.38%, and total phenol 2.01%. Organoletic test of color, taste, flavor, and texture were preferred with value 3.481; 3.593; 3.593; 3.333 respectively. Whereas the resistance of jicama cake storage until the third week for water content 31.91% and microbes (total plate number) 7.4 x 104 colony/g and fulfilled the SNI standard 01-3840-1995 (Bread). The use of gambier extract as an antimicrobial in inhibit the growth of strong bacteria with inhibition of 15 mm for Salmonella bacteria and 11 mm for Escherechia coli.
Penentuan Sifat Termofisik Temu Lawak dan Temu Putih Lamhot P Manalu; Amos Amos; Wahyu Wahyu; Purwanto Purwanto
Jurnal Litbang Industri Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.552 KB) | DOI: 10.24960/jli.v2i1.594.1-8

Abstract

The most important limitation in process design for agricultural products is the lack of information on their thermal properties. Although a lot of experimental data can be found, the variety of products and the differences in measurement method make limitation on the value of the available data, especially for Indonesia's products. These data are required to get information about temperature change when product is processed like heating or cooling. It is worth due to optimizing the efficiency of energy. The objective of this study was to determine thermal diffusivity and conductivity of java turmeric and zedoary herbs. The values were determined numerically with indirect methods. The result showed that specific heat of java turmeric and zedoary were 2.835 kJ/ kgoC and 2.863 kJ/ kgoC, thermal conductivity were 0.2797 W/moC and 0.1359 W/moC, respectively, while thermal diffusivity were 9.34x10-8 m2/s and 1.00x10-7 m2/s, respectively.ABSTRAKDalam merancang suatu sistem proses dan peralatan pengolahan hasil pertanian diperlukan pengetahuan tentang sifat-sifat panas suatu bahan diantaranya panas jenis, konduktivitas, dan difusivitas panas. Nilai-nilai tersebut untuk produk pertanian lokal sangat jarang ditemukan, sehingga dalam aplikasinya sering digunakan data sifat panas dari literatur luar yang belum tentu sesuai dan tepat dengan produk dalam negeri. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya bias dalam perhitungan dan perancangan. Studi ini bertujuan untuk menentukan sifat-sifat/properti panas dari tanaman obat temu lawak dan temu putih. Hasil studi mendapatkan bahwa panasjenis temu lawak dan temu putih adalah masing-masing 2.835 kJ/ kgoC dan 2.863 kJ/ kgoC, konduktivitas panas masing-masing adalah 0.2797 W/moC dan 0.1359 W/moC, sedangkan nilai difusivitas panasnya masing-masing adalah 9.34x10-8 m2/detik dan 1.00x10-7 m2/detik.
Adsorbsi Ion Cr (VI) Menggunakan Adsorben dari Limbah Padat Lumpur Aktif Industri Crumb Rubber Salmariza Salmariza; Mardiati Mardiati; Mawardi Mawardi; Sofyan Sofyan; Ardinal Ardinal; Yudo Purnomo
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.794 KB) | DOI: 10.24960/jli.v6i2.1596.135-145

Abstract

Research on ion Cr(VI) adsorption by using adsorbent from waste activated sludge crumb rubber industry has been done with static method (batch). The samples were fresh activated sludge solid waste of crumb rubber industry and carbonized sludge continued by KOH activated. Parameter were studied including solution pH, contact time, and initial Cr(VI) ion concentration. The results reveal that the crumb rubber industrial waste activated sludge contained high silica and alumina, there were 49.02% and 16.498% respectively, so it can be used as an adsorbent. The adsorbent exhibited good adsorption potential at pH 1 for the KOH activated sludge adsorbent and pH 2 for the fresh sludge adsorbent, with 120 minutes optimum contact time and 70 mg/L initial concentration for each adsorbent  type. Adsorption data were well described by the Langmuir isotherm with maximum adsorption capacities of 2.075 mg/g and 2.232 mg/g for KOH activated sludge adsorbent and fresh sludge adsorbent respectively.ABSTRAKPenelitian tentang adsorbsi ion Cr(VI) dengan menggunakan  adsorben dari  limbah padat lumpur aktif industri crumb rubber telah dilakukan dengan metode statis (batch). Sampel yang digunakan adalah limbah padat lumpur aktif industri crumb rubber segar dan lumpur yang dikarbonisasi serta diaktivasi dengan KOH. Parameter yang dipelajari yaitu pH awal larutan, waktu kontak, dan konsentrasi ion Cr(VI). Hasil penelitian menunjukan bahwa limbah padat lumpur aktif industri crumb rubber mengandung silika dan alumina yang tinggi yaitu 49,0% dan 16,5%, sehingga dapat digunakan sebagai adsorben. pH optimum adsorben untuk lumpur diaktivasi yaitu  pada pH 1 dan lumpur segar pada pH 2. Waktu kontak optimum yaitu 120 menit dan konsentrasi ion Cr(VI) optimum 70 mg/L untuk masing-masing adsorben. Data sesuai dengan isotherm Langmuir dengan kapasitas serapan maksimum terhadap ion Cr(VI) 2,075 mg/g untuk adsorben lumpur diaktivasi dengan KOH dan 2,232 mg/g untuk adsorben lumpur segar.
Kenaikan nilai aktivitas antioksidan nanokatekin dibanding katekin sediaan konvensional dan peluang aplikasinya pada hard candy Yefsi Malrianti; Anwar Kasim; Alfi Asben; Gustri Yeni
Jurnal Litbang Industri Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.979 KB) | DOI: 10.24960/jli.v10i1.6111.7-14

Abstract

Katekin memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia diantaranya pada dunia pangan, kosmetik dan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kenaikan nilai aktivitas antioksidan dari nanokatekin dibanding dengan katekin sediaan konvensional dan peluang aplikasinya pada hard candy (HC). Preparasi nanokatekin menggunakan high speed homogenizer (HSH) kecepatan 12.000 rpm selama 90 menit pada campuran katekin dalam air konsentrasi 1%. Ukuran partikel diamati dengan PSA dan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode IC50. Ukuran diameter rata-rata partikel nanokatekin yang didapat adalah 229,21 nm. Nilai IC50 nanokatekin adalah 0,63±0,18 μg/mL sedangkan IC50 katekin sediaan konvensional adalah 2,62±1,75 μg/mL sehingga untuk mencapai nilai IC50 oleh nanokatekin hanya dibutuhkan 24,04% saja dibanding dengan katekin sediaan konvensional, jadi terlihat peningkatan sifat antioksidan yang sangat tinggi pada nanokatekin. Aplikasi katekin dan nanokatekin pada HC mempengaruhi aktivitas antioksidan HC. HC dengan penambahan katekin sediaan konvensional menghasilkan aktivitas antioksidan 9 kali lebih tinggi dibanding dengan HC tanpa katekin, sedangkan HC dengan penambahan nanokatekin menghasilkan aktivitas antioksidan 13 kali lebih tinggi dibanding dengan HC tanpa katekin.
Pengaruh Suhu dan Lama Pencelupan Benang Katun pada Pewarnaan Alami dengan Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb) Failisnur Failisnur; Sofyan Sofyan
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.145 KB) | DOI: 10.24960/jli.v6i1.716.25-37

Abstract

Natural dyes re-extraction of raw gambier was used as a dye on cotton yarn. Al2 (SO4)3, FeSO4 and CaO was used as a mordant with post-mordanting method. Dyeing process was done through a few stages; re-extracting of raw gambier, bleaching of cotton yarn, dyeing with gambier solution extract, mordanting with post-mordanting method, and finishing. Dyeing process was carried out at temperature of 30, 50, and 70⁰C with dyeing time 5, 15, and 25 minutes. Analysis of tannin content and particle size was conducted on raw gambier, gambier solution extract and remaining of dyeing solution. Cotton yarn which had been dyed with extracts of gambier evaluated its tensile strength, elongation, shrink yarn, intensity, color direction, and color fastness. The result showed that the hidhest color streght was obtained at 70⁰C dyeing and 25 minutes dyeing time using CaO mordant. Color fastness to 40⁰C washing with the use of CaO modant was good (4). The value of rubbing and light fastness was good until very good (4-5) for all treatments. All treatments with the same mordant shown to have similar of color direction visually, however quantitatively each of sample had a different significant on intensity and direction of colors.ABSTRAKPewarna alam gambir digunakan sebagai pewarna pada benang katun melalui  ekstraksi ulang dari gambir asalan.  Al2(SO4)3, FeSO4 dan CaO digunakan sebagai mordan dengan metoda pasca mordanting. Proses pencelupan dilakukan melalui tahapan; ekstraksi ulang gambir asalan, pengelantangan benang katun, pencelupan dengan larutan ekstrak gambir, pemordanan dengan metoda pasca mordanting, dan finishing. Proses pencelupan dilakukan pada suhu 30, 50 dan 70⁰C dengan lama pencelupan 5, 15 dan 25 menit.  Analisis kadar tanin dan ukuran partikel dilakukan terhadap gambir asalan, larutan ekstrak gambir dan larutan sisa pencelupan. Benang katun yang telah diwarnai dengan ekstrak gambir dievaluasi kekuatan tarik, mulur, mengkeret benang, intensitas, corak dan ketahanan luntur warnanya. Hasil penelitian didapatkan bahwa intensitas warna tertinggi terdapat pada pencelupan 70⁰C dan waktu pencelupan  25 menit dengan menggunakan mordan CaO. Ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40⁰C dengan penggunaan mordan CaO bernilai baik (4).  Nilai ketahanan luntur warna terhadap penyeterikaan dan sinar matahari adalah baik sampai sangat baik (4-5) untuk semua pelakuan.  Semua perlakuan dengan mordan yang sama terlihat mempunyai arah warna yang sama secara visual, namun secara kuantitatif masing-masing memiliki perbedaan intensitas dan arah warna yang cukup signifikan.
Pengaruh penambahan tepung agar terhadap komposisi kimia serbuk agar dari kolang-kaling Inda Three Anova; K Kamsina
Jurnal Litbang Industri Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.968 KB) | DOI: 10.24960/jli.v9i2.5631.119-126

Abstract

Pemanfaatan kolang-kaling sebagai produk pangan dalam bentuk serbuk memberikan nilai tambah bagi buah tersebut. Buah ini memiliki kandungan mineral yang cukup banyak, seperti: potassium, besi dan kalsium yang bermanfaat dan dapat memperlancar proses metabolisme dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh dari penambahan konsentrasi tepung agar pada pembuatan serbuk agar dari kolang-kaling. Penelitian dilakukan dengan penambahan tepung agar 1%, 2%, 3% dan 4%  pada bubur kolang kaling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung agar secara statistik tidak berbeda nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, kadar karbohidrat dan jenis ikatan rangkap (uji FTIR), tetapi berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% pada kadar beberapa mineral alami yaitu fosfor, kalsium dan besi. Perlakuan optimal didapatkan pada perlakuan penambahan tepung agar 2% dengan nilai kadar air 4,98%, kadar abu 0,49%, kadar serat 5,19%, kadar karbohidrat 64,29% dan mineral fosfor 400 ppm, kalsium 292,8 ppm dan besi 44,8 ppm, serta absorpsi air 10 kali. Produk  memenuhi SNI 01-2802-1995 tepung agar-agar untuk kadar air, abu dan absorpsi air.ABSTRACTThe utilization of kolang-kaling fruit as a food product in powder form can add the value of the fruit. The fruit has a lot of mineral content, such as: potassium, iron, and calcium which are useful and can facilitate the body metabolic processes. The research  purpose was to  find  the addition effect of the concentration of agar flour in the making of kolang-kaling agar powder. The research was done with the addition of agar flour 1%, 2%, 3% and 4%  into kolang-kaling puree. The results showed that the addition of agar flour statistically had no significant different to the water content, ash content, crude fiber content, carbohydrate content and type of double bond (FTIR test), but significantly different at 95% confidence on some natural minerals namely phosphorus, calcium and iron. The optimal treatment was obtained in the addition of 2% agar flour with a moisture content 4.98%, ash content 0.49%, fiber content  5.19%, carbohydrate content  64.29% and minerals phosphorus 400 ppm, calcium 292.8 ppm and iron 44.8 ppm with 10 times water absorption. Products meet the SNI 01-2802-1995 agar-agar powder for moisture content, ash content, and water absorption.
Efek Perbedaan Jenis Alpukat dan Gula Terhadap Mutu Selai Buah Inda Three Anova; Kamsina Kamsina
Jurnal Litbang Industri Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1820.54 KB) | DOI: 10.24960/jli.v3i2.628.91-99

Abstract

Avocado is a very popular fruit because it contains a lot of vitamins and minerals. It is more consumed in the form of fresh or juice at this time and is rarely treated into processed products. Avocado is easily decay in storage so that is necessary to be processed in order to keep the availability, for example by processing into jam. The making of jam generally use granulated sugar, however it can also use palm sugar. Palm sugar has a specific taste and flavor that can reduce the bitter taste of avocado. The study was conducted with a variety of treatments that used round green avocado (Porsea americana Mill) and long green avocado (Porsea gratissima Gaertn) with type of sugar, the granulated sugar and brown palm sugar. The resulted of jam then analyzed the moisture content, sugar content, soluble solids, ash content, fat content and level of panelists preference for color, aroma, flavor and microbiological testing. The results showed that the jam products that was made of round green avocado (Porsea americana Mill) with the use of palm sugar was preferably for organoleptic of color, flavor, and aroma, with 31,18% water content, 50.19% sugar content, 68,82% dissolved solids, 0.63% ash content, 8.48% fat content, microbe contamination of total plate count < 10 col/g, coliform bacteria < 3 MPN /g, mold yeast < 10 col/g, and meet the Indonesian National Standard for fruit jam, SNI 3746:2008.ABSTRAKBuah alpukat merupakan buah yang sangat digemari karena banyak mengandung vitamin dan mineral. Selama ini buah alpukat lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk segar atau jus dan jarang diolah menjadi produk olahan. Buah alpukat mudah sekali mengalami kerusakan dalam penyimpanannya sehingga perlu dilakukan pengolahan agar ketersediaanya tetap terjaga, misalnya dengan mengolah menjadi selai. Pembuatan selai umumnya menggunakan gula pasir, namun dapat juga mengunakan gula aren. Gula aren memiliki rasa aroma yang khas sehingga dapat mengurangi rasa pahit dari alpukat. Penelitian dilakukan dengan variasi perlakuan pemakaian jenis buah alpukat yaitu alpukat hijau bulat (Porsea americana Mill) dan alpukat hijau panjang (Porsea gratissima Gaertn) dengan jenis gula, yaitu gula pasir dan gula aren. Selai yang didapatkan selanjutnya diuji kadar air, kadar gula, padatan terlarut, kadar abu, kadar lemak dan tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma, rasa dan uji mikrobiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk selai dengan jenis alpukat hijau bulat (Porsea americana Mill) dan pemakaian gula aren disukai dari organoleptik warna, rasa, dan aroma,  dengan kadar air 31,18%, kadar gula 50,19%, padatan terlarut 68,82%, kadar abu 0,63%, kadar lemak 8,48%, cemaran mikoba ALT < 10 kol/g, bakteri coliform < 3 APM/g, kapang khamir < 10 kol/g, dan memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk selai buah, SNI 3746:2008.
Produksi garam di lahan geomembran: Perhitungan kapasitas produksi, mutu dan perbandingannya dengan garam tradisional Lancy Maurina; Mahlinda Mahlinda; Abdul Thalib; Ridho Kurniawan
Jurnal Litbang Industri Vol 11, No 2 (2021)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.347 KB) | DOI: 10.24960/jli.v11i2.6935.138-144

Abstract

Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah penghasil garam di Indonesia, dengan daerah utama penghasil garam terdapat di Kab. Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tamiang dan Simeuleu. Umumnya, proses pengolahan garam masih dilakukan secara tradisional dengan cara perebusan air garam menggunakan kayu bakar sebagai pemanas hingga air menguap dan menyisakan butiran garam berwarna putih buram. Teknologi perebusan ini memiliki beberapa kekurangan diantaranya harga kayu bakar semakin mahal, jumlah produksi sangat terbatas dan mutu garam yang dihasilkan masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses kristalisasi garam menggunakan geomembran, menghitung kapasitas produksi dan menguji produk sesuai SNI. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan proses produksi garam tradisional. Hasil penelitian menunjukkan, lahan geomembran dapat menghasilkan garam lebih banyak dengan selisih sebesar 1.100 kg/10 hari atau terjadi peningkatan produksi sebesar 122,22 %. Hasil uji kadar NaCl menunjukkan kadar NaCl garam geomembran lebih tinggi 6,12% dari garam tradisional. Sementara, hasil pengujian warna menunjukkan garam geomembran berwarna putih jernih, sementara garam tradisional memiliki warna putih buram.
Analisis gugus fungsi, distribusi, dan ukuran partikel tinta stempel dari ekstrak gambir (Uncaria gambir Roxb) dengan senyawa pengomplek NaOH dan Al2(SO4)3 S. Silfia; F. Failisnur; S. Sofyan
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.582 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i1.3886.31-38

Abstract

Gambier is one of natural materials that can be used as raw material for ink production. This study aims to see how far the influence of NaOH and Al2(SO4)3 to the functional groups, distribution, and particles size of stamped ink from gambier. The research on the manufacture of stamp ink from gambier with the compound of NaOH and Al2(SO4)3 compounds was carried out in two stages. The first stage is the preparation of gambier extract by dissolving the raw gambier with water solvent, drying, powder extraction with alcohol solvent. The second stage is formulation the NaOH complexing (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) and Al2(SO4)3 (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) for every 35% gambier extract in ethanol. Analysis of stamp inks is the determination of functional groups, distribution and particle size. The results showed that the best stamped ink was found  with 15% NaOH complexing compound, because the values of particle size and polydispersity index (pdi) were the lowest from all treatments, as a result the ink obtained did not clot.AbstrakGambir merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tinta. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana pengaruh NaOH dan Al2(SO4)3 terhadap gugus fungsi, distribusi, dan ukuran partikel tinta stempel dari gambir. Penelitian pembuatan tinta stempel dari gambir dengan senyawa  pengomplek NaOH dan Al2(SO4)3 dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama pembuatan ekstrak gambir melalui pelarutan gambir asalan dengan pelarut air, pengeringan, ekstraksi bubuk dengan pelarut alkohol. Tahap ke dua memformulasikan pengomplek NaOH (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) dan  Al2(SO4)3 (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) untuk setiap 35% ekstrak gambir dalam etanol. Analisis terhadap tinta stempel adalah penentuan gugus fungsi, distribusi dan ukuran partikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinta stempel dengan pengomplek 15% NaOH yang terbaik, karena nilai ukuran partikel dan polydispersity index (pdi) paling rendah dari semua perlakuan, sehingga tinta yang didapatkan tidak menggumpal.
Biosorpsi ion Cd+2 oleh adsorben dari daun nenas (Ananas comosus) teramobilisasi dalam Ca-alginat Nurhidayah Nurhidayah; Diah Riski Gusti; Lenny Marlinda; Intan Lestari
Jurnal Litbang Industri Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1177.447 KB) | DOI: 10.24960/jli.v10i2.6304.139-146

Abstract

Daerah Tangkit Provinsi Jambi dikenal sebagai daerah penghasil nenas.. Pada musim panen buah nanas,  banyak ditemukan daun nanas yang tidak dimanfaatkan .Daun nanas mengandung selulosa yang dapat digunakan sebagai biosorben untuk mengadsorpsi ion-ion logam. Biosorpsi ion Cd+2 dalam larutan dipelajari menggunakan biosorben daun nanas yang teramobilisasi dalam Ca-alginat ( BDNC) dengan metode batch pada suhu kamar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kapasitas biosorpsi biosorben daun nanas teramobilisasi dalam Ca-alginat sebagai alternatif biosorben ion logam dari limbah alami. Kapasitas adsorpsi pada kondisi optimal diperoleh pada pH 6, waktu kontak selama 120 menit dan konsentrasi 300 mg/L adalah 28,56 mg/g. Mekanisme biosorpsi cenderung secara isoterm langmuir dengan nilai R2 = 0,9632, KL = 0,0527 L/mg, yang menunjukkan kekuatan ikatan molekul adsorbat dan biosorben dan Qmax =  29,762 mg/g.  Biosorben daun nanas terambobilisasi Ca-alginat memiliki potensial yang bagus untuk mengadsorpsi ion logam Cd+2.

Page 10 of 22 | Total Record : 213