cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6285729637030
Journal Mail Official
dewidanendra3@gmail.com
Editorial Address
STHD Klaten Jawa Tengah Morangan, Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah Tlpn (085729637370)
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Jawa Dwipa
ISSN : -     EISSN : 27233731     DOI : https://doi.org/10.54714/jd.v2i2
Core Subject : Education, Social,
Jawa Dwipa : Jurnal Penelitian dan Penjaminan Mutu merupakan Jurnal Online Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah terbit setiap bulan Juni dan Desember yang menerbitkan artikel hasil penelitian mahasiswa, tenaga kependidikan maupun dosen dan artikel yang berkaitan dengan penjaminan mutu
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2021)" : 6 Documents clear
FUNGSI DAN GERAKAN YOGA ASANAS TERHADAP REMAJA DI SANGGAR JEPUN BALI DUSUN KALONGAN MAGUWOHARJO DEPOK KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Kadek Suwiti; Ni Luh Putu Wiardani Astuti
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.292 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.34

Abstract

Penelitian ini mendiskripsikan gerakan yoga asanas, manfaat dan fungsi yoga terhadap remaja di Sanggar Jepun Bali, gerakan-gerakan yoga yang efesien, dan berguna untuk kesehatan remaja. Dalam Jurnal ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, pendekatan tersebut digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pelaksanaan kegiatan yoga asanas bagi remaja, metode kualitatif dipakai sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau pelaku yang dapat diamati. Pendekatan kualitatif ini diarahkan pada individu secara menyeluruh dalam keutuhan kelas. Relevansi pemilihan pendekatan ini adalah bahwa penelitian kualitatif pada prinsipnya adalah mengamati perilaku orang dalam lingkungan kehidupannya, berinteraksi dengan mereka, dan berusaha memahami aktivitas yang ada di sanggar Jepun juga dengan dunia sekitarnya.Hasil penelitian menunjukan gerakan yoga asanas Jepun Bali berjalan dengan baik meliputi : (1).Cara memilih gerakan sesuai dengan kebutuhan remaja, yaitu dengan gerakan yoga, ada lima gerakan fokok yang diterapkan yaitu : Surya Namaskar ( Penghormatan terhadap Matahari), Vrksana (Postur Pohon), Hanurasana (Postur Busur), Dhava Mukha Dhanursana (Postur Roda), dan Matsyasana (Postur Ikan). Manfaat dan fungsi Yoga Asana, menyatukan atau mengubungkan diri untuk Tuhan. Yoga juga sebagai pengendali gerak- gerak pikiran. Yoga asanas. Bagi remaja yoga asanas sangat penting di lakukan untuk meningakatkan srada, bhakti, konsentrasi, daya ingat belajar dan menjaga kematangan atau keseimbangan bagi jasmani rohani, dengan tujuaan membuka pikiriran dan spritual ke arah yang positif. Fungsi dan manfaat yoga asanas dapat menjaga tubuh menjadi lebih sehat lentur membuang racun dari dalam tubuh, serta meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan untuk berpikir positif.
BAKDO NYEPI BENTUK POLA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI DUKUH MUNGGUR DESA KEMBANGSARI KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI Dewi Melani Ambarsari; Dewi Ayu Wisnu Wardani; Toto Margiyono
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.3 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.35

Abstract

Bakdo Nyepi secara umum adalah tradisi saling kunjung mengunjungi antar umat beragama. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali dua hari setelah umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian. Bakdo Nyepi yang dilakukan oleh masyarakat berlangsung selama tiga hari. Pola kerukunan antar umat beragama dalam Bakdo Nyepi terlihat dari persiapan pelaksanaan, berupa gotong royong pembersihan jalan, serta pemasangan umbul-umbul. Bentuk kerukunan yang lain, dalam kegiatan mengunjungi rumah warga, masyarakat tidak berjalan sendiri, namun bersama sama sehingga tampak rasa kebersamaan diantara pelaku Bakdo Nyepi. Pada intinya masyarakat yang ada memiliki satu pandangan untuk menciptakan kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Hal ini sesuai dengan falsafah Jawa Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah. Dengan melihat bentuk dan pola kerukunan yang ada, maka dalam pelaksanaan Bakdo Nyepi terkandung nilai kearifan lokal, yaitu, Tepo Seliro, Asih Ing Sesami, Tuna Satak Bathi Sanak, serta Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah. Kehadiran Bakdo Nyepi dalam masyarakat Dukuh Munggur memberikan Efek terhadap masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Efek yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat ada dua bidang yaitu Efek ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Efek bidang ekonomi, pada umumnya masyarakat pengusaha roti, tenaga kerja, serta pedagang pakaian. Secara finansial omset pengusaha dan pedagang bertambah karena pesanan dan penjualan yang meningkat. Sedangkan bagi pekerja diberikan sekedar tunjangan dan untuk pengusaha kue sering diadakan kerja lembur karena pesanan yang berlipat. Bidang sosial kemasyarakatan meliputi meningkatnya kesadaran masyarakat akan kegotongroyongan. Selain dua bidang tersebut terlihat kesadaran anak untuk menghormati orang tua dengan membantu meringankan pekerjaan semakin dirasakan oleh orang tua.
PENGARUH AJARAN TRI GUNA DALAM MENINGKATKAN BUDHI PEKERTI ANAK DI TK SARI MEKAR BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA Mujirah; Gatot Wibowo; I Nyoman Santiawan
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.384 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.36

Abstract

Pengaruh Ajaran Tri Guna Dalam Pendidikan Budhi Pekerti Anak Di TK Sari Mekar Banguntapan Bantul Yogyakarta, Dalam mencapai pendidikan Budhi pekerti di dalam ajarangama Hindu terdapat tiga sifat yang mempengaruhi pikiran manusia yang disebut Tri Guna yaitu sifat alami yang dibawa sejak lahir yaitu sattwam, rajas, tamas. Tiga sifat yang disebut Tri Guna tersebut saling memberi pengaruh terhadap pikiran (citta) anak dalam membentuk budhi pekerti sebagai sebuah perilaku. Anak yang memiliki sifat sattwam memiliki sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas, cenderung memiliki perilaku kebaikan, anak yang memiliki sifat rajas memiliki sifat lincah, gesit, tergesa-gesa, bernafsu, cenderung memiliki sifat mudah marah, selalu gelisah susah mengontrol emosinya, anak yang memiliki sifat tamas memiliki sifat tamak, malas, cenderung kurang aktif dan lamban. Pengaruh ajaran Tri Guna dalam mencapai keseimbangan ketiganya dalam membentuk perilaku yang berbudhi luhur pada anak dengan mengatasi sifat rajas dan tamas melalui peningkatan sifat sattwam menerapkan doa sehari-hari yang merujuk kepada ajaran suci weda dan mengatasi sifat rajas melalui ajaran tattwam asi, Tri kaya parisudha dan catur paramita. Sifat tamas dapat dicapai dengan melatih berjapa berulang-ulang dan penanaman Tri hita karana. Untuk menyeimbangkan sifat rajas, rajas dam meningkatkan sifat tamas dalam meningkatkan budhi pekerti dengan melakukan yoga asanas di sekolah yang melatih anak untuk, menghapal dan mengucapkan puja yoga : mantra gayatri, mantra guru, maha mrtyunjaya mantra, Pranayama (pernapasan), Pawanamuktasana (peregangan), asanas, Surya namaskar, Candra namaskar, relaksasi, pengurutan dan doa penutup.Beberapa manfaat yoga asanas diberikan kepada anak untuk menyeimbangkan kecenderungan tiga sifat (Tri guna) yang mempengaruhi pikiran (citta) sehingga akan membentuk budhi pekerti yaitu : Anak yang memiliki kecenderungan sifat sattwam akan dapat : Membangun pondasi tentang ajaran Weda, membuat anak memiliki kehidupan spiritual yang kuat sesuai dengan falsafah yoga yaitu mengutamakan hubungan dengan Tuhan, alam dan menjaga keseimbangan. Anak yang memilki kecenderungan sifat rajas akan dapat : Melatih anak lebih mengenal diri dan mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Meningkatkan ketenangan dan mengurangi ketegangan pada dirinya, Meningkatkan kelententuran, kekuatan, fleksibilitas, koordinasi dan kesadaran tubuh, Anak yang memiki kecenderungan sifat tamas akan dapat : Meningkatkan kepercayaan diri anak, Membangkitkan sifat lamban anak untuk lebih aktif.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PENDIDIKAN AGAMA HINDU KELAS IV MATERI CATUR PRAMANA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA Gangga Gupita Ganeswara; Trida Purwa Maduria
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.471 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.37

Abstract

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Agama Hindu diarahkan membangun kualitas mental pribadi siswa agar memiliki visi yang jelas, komitmen terhadap nilai-nilai dan prisip-prinsip hidup secara harmonis dan kreatif dalam masyarakat yang pluralistik, kepedulian terhadap lingkungan dan berkarya sesuai dengan swadharmanya. Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kerja siswa berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. Dengan pengembangan Lembar Kerja Siswa Pendidikan Agama Hindu ini diharapkan dapat membatu Guru untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan prestasi belajar siswa.
PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU PADA MASA PANDEMI COVID 19 Setyaningsih
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.271 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.38

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu pada masa pandemi Covid 19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif melalui kajian teoretis. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter mempunyai peran yang sangat besar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu yang dapat dirinci berdasarkan tiga kerangka Agama Hindu yaitu Tattwa, Susila dan Upacara. Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalam ketiga kerangka Agama Hindu tersebut adalah jujur, perhatian, berani, percaya diri, disiplin, kerja keras, rasa ingn tahu, analitis, komitmen, peka, kontrol diri, teliti, beretos kerja tinggi, dinamis, produktif, ulet, gotong-royong, toleransi, demokratis, tanggung jawab, bereksplorasi, antusias, aktif, kreatif, kritis, inisiatif, problem solving,produktif, cekatan, berani mengambil risiko, visioner, perhatian, bersungguh-sungguh, berorientasi pada prestasi, rapi, tegas, luwes, hati-hati, bangga pada diri sendiri/kelompok. Masa darurat pandemi Covid 19 ini memberikan tantangan dan peluang tersendiri bagi dunia pendidikan. Perubahan perilaku pada generasi milenial sekaligus perubahan-perubahan lain yang terjadi secara cepat, masif, dan berdampak besar juga turut memengaruhi perkembangan pendidikan pada masa kini dan masa depan. Guru sebagai aktor utama dalam dunia pendidikan mau tidak mau harus segera berbenah dan selalu berupaya meningkatkan kompetensinya dalam mengatasi situasidan kondisi pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 ini.
PERAN PENYULUH AGAMA HINDU NON PNS TERHADAP PENDIDIKAN DAN SRADHA GENERASI MUDA HINDU DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOYOLALI I Made Rai Ardana; Farida Setyaningsih; Dewi Ayu Wisnu Wardani
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.112 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.39

Abstract

Penyuluhan Agama Hindu adalah suatu kegiatan memberi sesuluh atau penjelasan ajaran agama Hindu dalam rangka pembinaan umat agar dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu dengan kualitas dan kwantitas yang lebih baik. Seorang penyuluh dapat berfungsi untuk menginformasikan, mendidik, menghibur dan mempengaruhi. Tugas pokok dari seorang penyuluh agama yaitu melaksanakan penyuluhan untuk membina mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, pembentukan budi ekerti luhur, sebagai landasan hidup beragama, berbangsa dan bernegara. Penelitian ini membahas tentang kondisi Penyuluh Agama Hindu di Provinsi Jawa Tengah, Sasaran dan wilayah binaan Penyuluh Agama Hindu Non PNS di Kecamatan Tamansari Kabupaten Boyolali, Metode yang digunakan dalam penyuluhan, peran Penyuluh terhadap Pendidikan dan Sradha umat Hindu, serta kendala-kendala yang dihadapi dalam penyuluhan. Untuk memperoleh data yang akurat, penulis menggunakan metode pengumpulan data, metode observasi, metode wawancara, metode kepustakaan dan pendokumentasian. Kemudian data tersebut di analisa secara diskriptif interpretative menggunakan pendekatan konsep dan seperengkat teori yaitu Teori Fungsionalisme Struktural, Teori Interaksionisme Sosial dan Teori Peran. Secara umum diketahui bahwa di Provinsi Jawa Tengah memiliki 78 Penyuluh Agama Hindu, 3 Penyuluh PNS dan 75 Penyuluh Non PNS yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota. Penyuluh Agama Hindu Non PNS wilayah Kecamatan Tamansari telah melaksanakan kegiatan Penyuluhan pada semua jenjang usia dari anak-anak, Remaja dan Orang Tua. Metode yang digunakan untuk melakukan penyuluhan yaitu dengan Metode Sad Dharma dengan Lokasi Pembinaan di Pura Bhuana Puja, Pasraman Bhuana Puja, Pura Satya Dharma, Pura Yasa Dharma, Paguyuban KORPRI Kecamatan Musuk. Pembagian wilayah binaan telah disepakati oleh masing-masing Penyuluh Agama Hindu Non PNS di Kecamatan Tamansari Agus Sugiyono di Pura Satya Dharma, Agung Puji Widoyo di Pura Yasa Dharma, Wiyono dan Purwani di Pura Bhuana Puja. Peran Penyuluh Agama Hindu Non PNS dalam meningkatkan Pendidikan dan Sradha Generasi Muda Hindu diarahkan kepada Peningkatan Pendidikan Siswa Sekolah, Peningkatan Mental dan Spiritual Generasi Muda Hindu, Meningkatkan Pengetahuan Agama Hindu dan Keimanan Umat, Melestarikan Kebudayaan, Melakukan Kaderisasi Terhadap Tokoh-tokoh Hindu, dan Meningkatkan Kerukunan antar umat Hindu. Kendala yang dihadapi oleh Penyuluh Agama Hindu Non PNS secara umum dibagi menjadi dua yaitu pada kondisi wilayah binaan yang tergolong jauh dari tempat tinggal Penyuluh, sehingga kurang maksimal dalam melakukan penyuluhan sehingga agar semua kegiatan dapat terlaksana maka dijadwalkan dengan baik dalam pengaturan waktu. Kendala yang kedua adalah melibatkan kurangnya kesadaran anak muda dalam mengikuti pembinaan sehingga terkesan tidak serius dalam mengikuti pembinaan, serta umat yang kurang memahami Bahasa Indonesia membuat Penyuluh belajar ulang dalam menghadapi Umat Hindu.

Page 1 of 1 | Total Record : 6