cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
jurnalneuroanestesi@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
jni@inasnacc.org
Editorial Address
Jl. Prof. Eijkman No. 38 Bandung 40161, Indonesia Lt 4 Ruang JNI
Location
,
INDONESIA
Jurnal Neuroanestesi Indonesia
ISSN : 20889674     EISSN : 24602302     DOI : https://doi.org/10.24244/jni
Editor of the magazine Journal of Neuroanestesi Indonesia receives neuroscientific articles in the form of research reports, case reports, literature review, either clinically or to the biomolecular level, as well as letters to the editor. Manuscript under consideration that may be uploaded is a full text of article which has not been published in other national magazines. The manuscript which has been published in proceedings of scientific meetings is acceptable with written permission from the organizers. Our motto as written in orphanet: www.orpha.net is that medicine in progress, perhaps new knowledge, every patient is unique, perhaps the diagnostic is wrong, so that by reading JNI we will be faced with appropriate knowledge of the above motto. This journal is published every 4 months with 8-10 articles (February, June, October) by Indonesian Society of Neuroanesthesia & Critical Care (INA-SNACC). INA-SNACC is associtation of Neuroanesthesia Consultant Anesthesiology and Critical Care (SpAnKNA) and trainees who are following the NACC education. After becoming a Specialist Anesthesiology (SpAn), a SpAn will take another (two) years for NACC education and training in addition to learning from teachers in Indonesia KNA trainee receive education of teachers/ experts in the field of NACC from Singapore.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2017)" : 8 Documents clear
Konsep Dasar Target Controlled Infusion (TCI) Propofol dan Penggunaannya pada Neuroanestesi Krisna J. Sutawan, Ida Bagus; Suarjaya, I Putu Pramana; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A. Himendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.686 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.40

Abstract

Semakin banyaknya dokter anestesi yang cendrung memilih total intravenous anesthesia (TIVA) terutama untuk operasi bedah saraf, merangsang munculnya sebuah penemuan baru yang dapat menghitung dan memperkirakan kadar obat anestesi di dalam plasma dan target organ yang selanjutnya dikenal dengan Target-controlled Infusion (TCI). Jika obat yang digunakan adalah propofol maka dikenal dengan TCI propofol. Ada dua model yang saat ini tersedia secara komersial untuk TCI propofol yaitu model Marsh dan model Schnider. Untuk dapat dengan baik menggunakan kedua model tersebut diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai konsep farmakokinetik tiga kompartemen dan farmakodinamik yang menjadi dasar dalam penghitungan dosis propofol pada kedua model tersebut. Jika menggunakan model Marsh maka disarankan untuk menggunakan target plasma, sedangkan pada model Schneider sebaiknya digunakan target effect. TCI propofol yang digunakan dengan baik dapat memberikan keadaan anestesi yang hemodinamiknya relatif stabil pada saat induksi dan pemeliharaan, penurunan angka penekanan respirasi, dan peningkatan waktu pemulihan.Basic Consept on Targeted-controlled Infusion (TCI) Propofol and its use in NeuroanesthesiaThere is increasing number of anesthesiologist who prefer to use total intravenous anesthesia especially neurosurgery, stimulate new invention that can calculate and predict drug concentration in plasma and target organ, that have known as Target-Controlled Infusion (TCI). If propofol is used, it is known as TCI propofol. There are two kind of TCI propofol modes that provided commercially, that are Marsh mode and Schnider mode. Understanding the different between those two modes needs knowleadge about pharmacokinetic of the three compartement models and pharmacodynamic which is the base of the calculation of the propofol dose. If Marsh mode is used, than it is suggested to use it in plasma target, however if the Schnider mode is used, than it is suggested to use it in target effect. TCI propofol, which is used in good manner can provide an anesthesia with relatifly stable haemodinamic on induction and maintenance, decrease respiratory depression and increase recovery time.
Perbandingan antara Tindakan Dekompresi Hemikraniektomi Evakuasi dengan Kraniotomi Evakuasi terhadap Hasil Luaran Pasien Perdarahan Intraserebral Spontan dengan Glasgow Coma Scale < 9 Adam, Achmad; Ferry, Bilzardy; Pribadi, Muhammad Adam
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2170.212 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.32

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan:Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2013 yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau bergejala sebesar 12,1 per mil. Jawa barat menempati posisi ke-13 dari 33 provinsi dengan prevalensi pasien stroke 6,60/00.PIS spontan dapat sangat merusak dengan kematian yang tinggidalam 30 hari pertama pascaserangan. Pasien koma (GCS 9) dengan PIS merupakan suatu keadaan yang khusus karena angka mortalitas yang sangat tinggi dan tindakan terapi yang belum tepat.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbandingan tindakan dekompresi hemikraniektomi evakuasi dibandingkan kraniotomi evakuasi pada pasienPIS dengan GCS 9.Subjek dan Metode:Dilakukan penelitian ini selama bulan February-Juli 2016. Penelitian ini merupakan penelitian Kohort analitik dengan rancangan penelitian analitikkomparatif.Analisis statistik akan menggunakan uji-t tidak berpasangan jika sebaran data nomal, dilanjutkan dengan Man Whitney jika sebaran data tidak normal dengan menggunakan SPSS 17.Hasil:Didapatkan 16 sampel yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Didapatkan hasil perbandingan skor NIHS post operasi yang dilakukan dekompresi hemikraniektomi dengan kraniotomi yang memberikan hasil signifikan dengan p = 0,021 (p 0,05). Sedangkan untuk midline shift post operasi dan mortalitas 30 hari tidak memberikan perbedaan yang signifikan dengan p = 0.328 dan p = 1,00.Simpulan:Tindakan dekompresi hemikraniektomi evakuasi memberikan hasil luaran yang lebih baik dibandingkan kraniotomi evakuasi pada pasien PIS spontan di ganglia basal dengan GCS 9dengan tolak ukur skor NIHSComparison of Outcome between Evacuative Decompressive Hemicraniectomy and Craniotomy Evacuation Spontaneous Intracerebral Hemorraghe Patients with Glasgow Coma Scale 9Background and Objective:Indonesian stroke prevalence based upon 2013 Indonesian Health Ministry database that was diagnosed by health professionals was 12.1/mil. West Java was ranked 13 out of 33 provinces with a stroke prevalence of 6.6%. Coma patients with ICH are a special condition because of the high mortality rate and improper therapy. The aim of this study was to analyze the comparison between evacuative hemicraniectomy decompression and craniotomy evacuation upon spontaneous ICH patients with GCS 9.Subject and Method:This research was done during February-July 2016. The research used analytical cohort study with comparative analysis design. Employed statistical analysis was unpaired t-test with normal distribution or Mann Whitney if it was abnormal using SPSS ver. 17. Result:There were 16 samples that met research inclusion criteria. The results of postoperative NIHS score comparison between decompressive hemicraniectomy and craniotomy showed significant difference with p = 0.021 (p0.05). Meanwhile for postoperative midline shift and less than 30 days mortality didnt demonstrate significant difference with respective were p = 0.328 and p = 1.00.Conclusion:Evacuative hemicraniectomy decompression gave better outcome compared with craniotomy evacuation upon spontaneous basal ganglia ICH patients with GCS 9 using NIHS score assessment.
Monitoring Anesthesia Care Menggunakan Target Control Infusion Propofol pada Evacuasi SDH Spontan dengan Kelainan Jantung Krisna J. Sutawan, Ida Bagus; Oetoro, Bambang J; Rasman, Marsudi
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2158.018 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.34

Abstract

Pasien SDH spontan yang berhubungan dengan pengobatan warfarin biasanya memberikan keluaran yang baik setelah dilakukan evakuasi hematom SDH, namun biasanya pasien disertai oleh penyakit-penyakit penyerta yang memberikan tantangan pada saat penaganan anestesi. Monitoring Anasthesia Care (MAC) dengan Target Controlled Infusion (TCI) Propofol dibandingkan dengan bolus manual dihubungkan dengan peningkatan stabilitas hemodinamik dan penurunan dari efek penekanan jalan nafas dan respirasi. Seorang pasien geriatri dengan SDH spontan subkronik, riwayat penggunaan warfarin dan penyakit penyerta atrial fibrilasi, gagal jantung kronik serta hipertiroid dikeluhkan dengan penurunan kesadaran. GCS 13, pupil 3mm/2mm, reflek cahaya menurun, tekanan darah 140/90 dengan nadi irreguler 100x/mnt, murmur positif. CT-scan kepala, SDH frontotemporoparietal dextra dengan herniasi 1,62 cm ke kiri dan herniasi transtentorial. Echocardiografi, gobal hipokinetik, MR berat, PR sedang, TR berat dengan ejeksi fraksi 36%. Pembedahan difasilitasi dengan MAC menggunakan TCI propofol model Schnider yang ditingkatkan secara bertahap sampai skala ramsay 5, dan setelah dilakukan sclap blok, sedasi diturunkan sampai skala ramsay 3-4 untuk meminimalisir penekanan jalan nafas dan respirasi. MAC menggunaan kombinasi bolus fentanyl dengan TCI propofol ditambah premedikasi midazolam dan obat adjuvant klonidin, dapat memfasilitasi dengan baik tindakan evakuasi SDH spontan dengan borrhole. Induksi TCI propofol yang dilakukan dengan model Schnider dengan jalan meningkatkan effect sitenya (Ce) secara bertahap dapat memberikan keadaan hemodinamik yang stabil dan penekanan jalan nafas serta respirasi yang minimal.Monitoring Anesthesia Care using Target Control Infusion Propofol for Evacuation of Spontaneous SDH with Heart ProblemWarfarin associated spontaneous SDH patient usually have a good outcome following evacuation of SDH hematoma, however this kind of patient usually have underlying disease that become a challange for the anesthesia management. Monitoring Anasthesia Care (MAC) using Propofol Target Controlled Infusion (TCI) compare to manual bolus, associated with better hemodinamic stabilitas and less respiration/airway deppresion. A geriatic, warfarin associated subchronic spontaneous SDH patient is complained having decrease of conciousness. The patient with underlying disease of atrial fibrilaton, Chronic heart failure and hypertyroidism. GCS 13, pupil 3mm/2mm, decrease pupil reflex, blood pressure 140/90 with irregular pulse 100x/minute, murmur (+). Brain CT-Scan, SDH frontotemporoparietal dextra, with herniation to the left 1,62 cm and transtentorial herniation. Echocardiogrphy, global hypokinetic, MR severe, PR severe, TR severe with ejection fraction 36%. Surgery is fasilitated by MAC using Schiner model TCI propofol with slowly increasing dose to achieved ramsay lever 5. After the sugeon done with their sclap block, the dose is decreased up till ramsay level 3-4 is achived. The purpose is to minimalized respiratori and airway deppresion. MAC using combination of fentanyl bolus and TCI propofol with premedication midazolam and klonidin, can be use nicely to fasilitated an SDH spontan evacuation by borrhole. Induction of TCI propofol using Schiner model, in which the effect site (Ce) is slowly increased can give an hemodinamic stability and minimal airway/respiration deppresion.
Statin sebagai Protektor Otak pada Cedera Otak Traumatik Kenanga Marwan; Cindy Elfira Boom; Rovina Ruslami
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.416 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.39

Abstract

Cedera otak traumatik (COT) masih menjadi masalah morbiditas dan mortalitas utama di dunia. Cedera otak traumatik dengan cepat mencetuskan cedera sekunder yang yang dapat memperburuk outcome. Proteksi otak bertujuan untuk mencegah cedera otak sekunder dengan cara melakukan metode dasar, hipotermi, neurofarmakologi dan kombinasi hipotermi dan farmakologik. Metode dasar pada proteksi otak adalah dengan cara menjaga jalan napas bebas sepanjang waktu, oksigenasi yang adekuat, mencegah hipokarbia, pengendalian tekanan darah, pengendalian tekanan intrakranial, pengendalian tekanan perfusi otak, dan pengendalian kejang. Neurofarmakologi pada proteksi otak yaitu dengan menggunakan obat yang memiliki efek proteksi otak. Statin, suatu inhibitor 3-hydroxy-3-methyglutaryl coenzym-A (HMG CoA) reduktase telah dikenal sebagai obat penurun lemak darah. Statin memiliki efek pleiotropik yang bersifat kolesterol-independen dengan efek yang potensial dalam tatalaksana gangguan neurologis. Efek ini berupa kemampuan menurunkan hemostasis dengan cara mengurangi efek trombosis dan kaskade koagulasi, meningkatkan fibrinolisis dan kaskade antikoagulasi, memperbaiki fungsi endotel, mempercepat bioaviabiltas nitrat oksida, antioksidan, aktifitas imunomodulasi dan antiinflamasi, serta menstabilkan plak aterosklerosis. Pada kasus COT, statin menurunkan trombosis intravaskuler dan menurunkan mediator inflamasi seperti TNFα, IL-6 dan IL-1β. Hal ini membuat statin menjadi kandidat yang ideal untuk penanganan cedera otak akut.Statin As Brain Protector In Traumatic Brain InjuryTraumatic brain injury (TBI) still represents the leading cause of morbidity and mortality in the world. Traumatic brain injury could rapidly develop secondary brain injury after trauma that can make worst the outcome. Brain protection procedures to prevent secondary brain injury are basic method, hypothermia, neuropharmacology, and combination of both hypothermia and neuropharmacology. Basic method such as patency airway, adequate oxygenation, blood pressure control, intracranial pressure monitoring, maintain cerebral perfusion pressure and prevent of seizure. Neuropharmacology is one technique to do brain protection by using drugs with neuro-protection effect. Statin, 3-hydroxy-3-methyglutaryl coenzym-A (HMG CoA) reductase inhibitor is hypolipidemik drug which has pleiotropic effect in cholesterol-independen manner and suggest potential effect in neurologic disorder such as decreased hemostatic and decreased thrombotic effect and cascade coagulation, increased fibrinolytic and anticoagulation cascade, improve endothelial function, increase nitric oxide bioaviability, antioxidan, immunomodulation and anti-inflammatory activity and stabilize plaque atheroslerotic. In TBI, statin reduce intravascular thrombocytosis and decreased inflammatory mediator like TNF α, IL-6 dan IL-1β. These makes statin becomes ideal candidate for management acute brain injury. 
Penanganan Anestesi pada Pasien Pediatri dengan Cedera Otak Traumatik Sedang, Fraktur Impresi dan Edem Serebri Dhania A Santosa; Prihatma Kriswidyantomo; Pesta Parulian Maurid Edwar; Hamzah Hamzah
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2454.631 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.33

Abstract

Cedera otak traumatik merupakan penyebab terbanyak kecacatan dan kematian pada anak dan orang dewasa. Di Amerika Serikat, terjadi lebih dari 510.000 kasus cedera otak traumatik per tahun pada anak-anak usia 0-14 tahun;1 dengan 2.000–3.000 di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuan dari penanganan cedera otak traumatik selain menangani cedera primernya, juga untuk mencegah terjadinya cedera sekunder. Seorang anak laki-laki usia 12 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas dan didiagnosis dengan cedera otak traumatik sedang, fraktur impresi regio temporo parietal kanan dan edema serebri dengan komorbiditas anemia, rencana akan dilakukan pembedahan darurat untuk debridement, eksplorasi duramater dan rekonstruksi tulang. Pembedahan dilakukan dengan anestesi umum intubasi endotrakeal dan berjalan selama tujuh jam. Kondisi pasien selama pembedahan relatif stabil dan setelahnya dirawat di Ruang Observasi Intensif dengan bantuan ventilator. Setelah memastikan kondisi ekstrakranial normal, pasien kemudian disapih dari ventilator dan diekstubasi keesokan harinya. Pasien dipulangkan pada hari kedelapan setelah kejadian.Anesthesia Management in Pediatric Patient with Moderate Traumatic Brain Injury, Impression Fracture and Cerebral OedemaTraumatic brain injury is the leading cause of morbidity and mortality in pediatric and adult patients. In United States, 510,000 cases of traumatic brain injury occur each year in children aged 0-14 years;1 with 2.000-3.000 pass away each year. Cure the primary insult and prevent secondary injury are the important thing in traumatic brain injury. A 12-year-old boy had a motor vehicle accident and was diagnosed with moderate traumatic brain injury, impression fracture at the right temporo parietal region and cerebral edema, with anemia, planned for emergency surgery of debridement, duramater exploration and bone reconstruction. Surgery was done under general anesthesia using endotracheal intubation and lasted for seven hours. Patient’s condition remained relatively stable during surgery and was observed with ventilator supported in Intensive Observation Ward afterward. Once extracranial factors considered normal, patient was weaned and extubated the next day. Patient was sent home on the eight day after incident. Cedera otak traumatik merupakan penyebab terbanyak kecacatan dan kematian pada anak dan orang dewasa. Di Amerika Serikat, terjadi lebih dari 510.000 kasus cedera otak traumatik per tahun pada anak-anak usia 0-14 tahun;1 dengan 2.000–3.000 di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuan dari penanganan cedera otak traumatik selain menangani cedera primernya, juga untuk mencegah terjadinya cedera sekunder. Seorang anak laki-laki usia 12 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas dan didiagnosis dengan cedera otak traumatik sedang, fraktur impresi regio temporo parietal kanan dan edema serebri dengan komorbiditas anemia, rencana akan dilakukan pembedahan darurat untuk debridement, eksplorasi duramater dan rekonstruksi tulang. Pembedahan dilakukan dengan anestesi umum intubasi endotrakeal dan berjalan selama tujuh jam. Kondisi pasien selama pembedahan relatif stabil dan setelahnya dirawat di Ruang Observasi Intensif dengan bantuan ventilator. Setelah memastikan kondisi ekstrakranial normal, pasien kemudian disapih dari ventilator dan diekstubasi keesokan harinya. Pasien dipulangkan pada hari kedelapan setelah kejadian.
Penggunaan Dexmedetomidin untuk Operasi Meningioma Petroclival dengan Intraoperatif Neurophysiological Monitoring Permatasari, Endah; Suarjaya, I Putu Pramana; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A Himendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2424.984 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.35

Abstract

Dexmedetomidin merupakan obat baru yang popular dalam neuroanesthesia dan neurocritical care. Tumor supratentorial yang tersering ditemui pada orang dewasa adalah glioma, meningioma dan adenoma hipofisis. Penggunaan intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) dapat mengurangi risiko defisit neurologis pascaoperasi. Penggunaan IOM memiliki kelebihan karena dapat mendeteksi lebih dini kelainan saraf yang mungkin akan terjadi. Seorang pasien, wanita 45 tahun dengan berat badan 60 kg dengan diagnosis meningioma petroclival kiri. Pasien dilakukan operasi kraniotomi pengeluaran tumor. Selama operasi digunakan pemeliharaan obat dexmedetomidin dan propofol.Dilakukan pemantauan menggunakan IOM. Pembiusan dan operasi berlangsung selama 5 jam. Pasien langsung dibangunkan pascaoperasi dan dirawat di ICU. Anestesi untuk operasi tumor meningioma petroclival dengan pemantauan IOM membutuhkan suatu pemahaman mengenai patofisologi otak, pengaturan dan pemeliharaan perfusi otak serta menghindari komplikasi sistemik akibat cedera otak yang terjadi. Penggunaan IOM memperbaiki luaran pasien karena dapat mendeteksi lebih dini defisit neurologis sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal. Pemilihan obat-obat anestesi yang tepat menjadi kunci manajemen anestesi pelaksanaan kasus ini.Dibutuhkan komunikasi yang erat antara neurofisiologist, dokter anestesi dan ahli bedah untuk interpretasi IOM.The use of Dexmedetomidine for Craniotomy Meningioma Petroclival Tumor Removal with Intraoperative Neurophysiological MonitoringDexmedetomidine is a new drug gaining popularity in neuroanestesthesia and neurocritical care practice. The most common supratentorial tumor found in adults are gliomas, meningiomas and pituitary adenomas. The use of intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) can reduce the risk of postoperative neurological deficits. Use of IOM has the advantage of early detection of neurological disorders that might happen. A patient, a 45-year-old woman with a body weight of 60 kgs and diagnosed with left meningioma petroclival. Patient is carried out a surgery craniotomy for tumor removal. During the procedure dexmedetomidine and propofol are used. The procedure lasts for 5 hours. Patient was awakened immediately postoperatively for further monitoring in the ICU. The use of IOM in craniotomy petroclival meningiomatumor removal requires an understanding of the brain patophysiology, maintenance of cerebral perfusion pressure and avoiding systemic complications of brain injury that might occur. Use of IOM may improve patient outcomes as it can detect neurological deficits more quickly so that intervention can occur earlier. Selection of the appropriate anesthetic drugs is the key implementation anesthetic management of this case. A close working working relationship of the monitoring team, the anesthesiologist, and the surgeon is the key to the successful conduct and interpretation of IOM.
Korelasi antara Nilai S100-Beta Pre dan Post Kraniotomi Evakuasi Perdarahan Intraserebral Spontan dengan Luaran Adam, Achmad; Ferry, Bilzardy; Atman, Dhira
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2109.433 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.36

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Perdarahan intraserebral/Intracerebral hemorrhage (ICH) spontan ialah penyakit luaran bervariasi yang cenderung fatal dan berbiaya tinggi. S100B ialah enzim yang dapat dinilai pada serum darah saat sel otak cedera dengan biaya lebih rendah dibanding CT-Scan kepala. Penelitian ini mencari korelasi S100B dengan luaran ICH spontan. Prediksi dini luaran buruk pada masa perawatan postoperatif akan mempermudah tenaga medis dan keluarga memutuskan terapi lebih lanjut. Subjek dan Metode: Penelitian cross sectional ini mencari korelasi dengan pengumpulan data prospektif consecutive sampling pada 40 pasien ICH spontan yang dilakukan kraniotomi evakuasi di bagian bedah saraf RSUP Hasan Sadikin Bandung periode JanuariJuli 2016.Hasil: Pasien ICH spontan menunjukkan korelasi positif signifikan S100B preoperatif dan postoperatif dengan mortalitas. Risiko relatif ICH spontan dengan S100B preoperatif 0,220 ug/L berpeluang meninggal 3,157 kali lebih besar dan S100B postoperatif 0,225 ug/L berpeluang meninggal 5,405 kali. Ada korelasi negatif signifikan antara S100B preoperatif dan postoperatif dengan Glasgow Outcome Score (GOS). Ada korelasi positif signifikan antara S100B preoperatif dan postoperatif dengan volume ICH. Tidak ada perbedaan signifikan antara nilai S100B preoperatif dan postoperatif. Simpulan: Nilai serum S100B pre dan post kraniotomi evakuasi ICH spontan berkorelasi dengan luaran mortalitas dan GOS. Nilai S100B postoperatif 0,225 ug/L dapat membantu memutuskan terapi lanjut post kraniotomi.The Correlation between S-100 Beta Level at Pre and Post Craniotomy Evacuation Spontaneous Intracerebral Hemorrhage with OutcomeBackground and Objective: Spontaneous intracerebral hemorrhage (ICH) is a disease with diverse outcome which tends to be fatal and costly. S100B is a measurable enzyme from the blood serum when astrocytes are damaged. S100B has less cost compared with head CT-Scan. This study used S100B to predict spontaneous ICH outcome. Early post operative prediction of poor outcome would help in deciding further therapy. Subject and Method: This is a cross sectional study to find a correlation between variables by collecting prospective data with consecutive sampling of 40 inpatient spontaneous ICH subjects and performed craniotomy evacuation at Hasan Sadikin hospital neurosurgery department during January-July 2016 period. Result: Spontaneous ICH patients demonstrated significant positive correlation between preoperative and postoperative S100B levels with mortality. Relative risk of spontaneous ICH with 0.220 ug/L preoperative S100B level had 3.157 higher death risk and 0.225 ug/L postoperative S100B level had 5.405 higher death risk. There was significant negative correlation between preoperative and postoperative S100B levels with ICH volume. There was no significant difference between preoperative and postoperative S100B levels. Conclusion: S100B serum levels of pre and post craniotomy evacuation of spontaneous ICH patients had correlations between mortality and GOS outcome. Postoperative S100B level 0.225 can deciding further therapy.
Manajemen Anestesi untuk Evakuasi Epidural Hemorrhage bersama dengan Operasi Fraktur Cruris Terbuka Subekti, Bambang Eko; Oetoro, Bambang J.; Rasman, Marsudi; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2135.461 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.38

Abstract

Cedera kepala merupakan masalah kesehatan utama, pemicu kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Epidural Hemorrhage (EDH) adalah salah satu bentuk cedera kepala yang sering terjadi. Epidural Hemorrhage umumnya terjadi karena robeknya arteri dan menyebabkan perdarahan di ruangan antara duramater dan tulang tengkorak. Kejadian cedera kepala ini biasanya juga dikuti dengan cedera di bagian tubuh lain yang juga memerlukan tindakan operasi. Penatalaksanaan cedera kepala saat ini difokuskan pada stabilisasi pasien dan menghindari gangguan intrakranial ataupun sistemik sehingga dapat menghindari cedera sekunder yang lebih buruk. Seorang laki-laki, 20 tahun, dibawa ke rumah sakit dengan penurunan kesadaran, fraktur femur tertutup dan fraktur cruris terbuka karena kecelakan lalu lintas. Setelah resusitasi dan stabilisasi didapatkan jalan napas bebas, laju pernapasan 12 x/menit (reguler), tekanan darah 130/85 mmHg, laju nadi 78 x/menit (reguler). Pada pasien dilakukan tindakan kraniotomi evakuasi hematoma dan debridement pada luka yang terbuka dengan anestesi umum dan dengan memperhatikan prinsip neuroanestesi selama tindakan bedah berlangsung.Anesthetic Management for Evacuation of Epidural Hemorrhagealong with Surgery Open Fracture CrurisHead trauma is a major health problem and considered as the leading cause of disability and death worldwide. Epidural Hemorrhage (EDH) is commonly seen in head trauma. Epidural Hemorrhage usually occurs due to ripped artery that coursing the skull causing blood collection between the skull and dura. The incidence of head trauma is usually followed by injuries in other body parts that require surgery.Head trauma management is currently focusing on patients stability and prevention the intracranial and haemodynamic instability to prevent the secondary brain injury. A 20 years old male patient, admitted to the hospital with decreased level of consciousness, closed fracture femur and open fracture cruris after traffic accidents. On examination, no airway obstruction found, respiratory rate was 12 times/min (regular), blood pressure 130/85 mmHg, heart rate 78 bpm (regular). Patient was managed with emergency hematoma evacuation and debridement of wounds under general anesthesia and with continues and comprehensive care using neuroanesthesia principles.

Page 1 of 1 | Total Record : 8