cover
Contact Name
Marwati
Contact Email
mar.ambodalle@gmail.com
Phone
+628124118351
Journal Mail Official
jurnal.timpalaja@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36, Gowa, South Sulawesi, Indonesia Phone : +6281-241-183-51, +6285-299-959-452, Post Office: 92113
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
TIMPALAJA: Architecture Student Journal
ISSN : -     EISSN : 27458490     DOI : https://doi.org/10.24252/timpalaja
Core Subject : Art, Engineering,
TIMPALAJA: Architecture Student Journal (E-ISSN: 2745-8490) is a scientific publication for student collaborative research and lecturers of a widespread topic in architectural design studies. The papers received by this journal will be reviewed by the editorial team. TIMPALAJA publishes articles that include textual studies and field studies in a variety of architectural design perspectives including: Islamic architecture Mosque architecture Local Wisdom Historic architecture Interior Architectural theories and criticism Environmental architecture City Design Landscape Building Science and technology Structure and construction of buildings And much more related to architectural design
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2020): June" : 9 Documents clear
Perubahan Fungsi pada Bangunan Bersejarah Benteng Rotterdam terhadap Aktivitas Pengguna Bangunan Muhrizat, Nurul Ilmi Dian; Azizah, Nur Faiqah; Rahayu, Irma
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a2

Abstract

Abstrak_ Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan fungsi bangunan Fort Rotterdam sebagai Salah satu bangunan bersejarah (Heritage). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perubahan fungsi bangunan Fort Rotterdam dan pemanfaatan Fort Rotterdam sebagai salah satu bangunan bersejarah di kota Makassar serta aktivitas para pengunjung di Fort Rotterdam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan membagikan kuisioner kepada pengunjung Fort Rotterdam dan melakukan dokumentasi atau pengambilan gambar bangunan-bangunan Fort rotterdam yang mengalami perubahan fungsi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh pengunjung di Fort Rotterdam ini rata-rata berkunjung ke musium nageri La Galligo yang menyimpan beragam koleksi prasejarah, numismatik, keramik asing, sejarah hingga naskah serta etnografi. Kebanyakan benda kebudayaan yang dipamerkan berasal dari suku-suku di Sulawesi seperti suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Aktivitas lain yang dilakukan pengunjung  yaitu hanya sekedar berkeliling melihat bangunan-bangunan yang ada di Fort rotterdam ini serta berfoto-foto. Adapun perubahan fungsi bangunan-bangnan Fort Rotterdam yaitu pada masa kolonial Belanda, benteng dahulu dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan penampungan rempah-rempah Belanda di Indonesia. Pada masa kolonial Jepang, benteng ini beralih fungsi menjadi pusat studi pertanian dan bahasa. Sementara setelah Indonesia merdeka, benteng ini dijadikan sebagai pusat komando yang kemudian beralih fungsi menjadi pusat kebudayaan dan seni Makassar hingga saat ini.Kata Kunci: Bangunan Bersejarah; Fungsi Bangunan; Fort Rotterdam; Pusat Kebudayaan. Abstract­_ This study aims to determine the changing function of Fort Rotterdam building as one of the historic buildings (Heritage). This research is motivated by the change of purpose of Fort Rotterdam building and utilization of Fort Rotterdam as one of a landmark building in Makassar city and visitor activity in Fort Rotterdam. The research method used is qualitative research method by distributing questionnaires to visitors of Fort Rotterdam and doing documentation or taking pictures of Fort Rotterdam buildings that have changed function. The results of the study show that visitors undertake the activities in this fort Rotterdam on average visit the museum of La Gallego nageri which stores a diverse collection of prehistoric, numismatic, foreign ceramics, history to script and ethnography. Most cultural objects on display come from tribes in Sulawesi such as Bugis, Makassar, Mandar, and Toraja tribes. Other activities that visitors do is just around to see the buildings in this Fort Rotterdam and take pictures. The change of building function Fort Rotterdam is in the Dutch colonial period of the castle served as the centre of government and shelter of Dutch spices in Indonesia. In the Japanese colonial period, this fort turned to function as a centre for agricultural and linguistic studies. Meanwhile, after Indonesia's independence, this fort became a command centre which later turned the function of being the centre of Makassar's culture and arts to date.Keywords: Historic Buildings; Building Functions; Fort Rotterdam; Cultural Center.
Museum Astronomi dengan Pendekatan Arsitektur Biomimikri di Makassar Ismajaya, Muh. Aryanugraha; Said, Ratriana; Alfiah, Alfiah
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a3

Abstract

Abstrak_Perancangan museum astronomi dengan pendekatan arsitektur biomimikri di Makassar bertujuan untuk menyediakan sarana wisata edukasi untuk mewadahi minat dan keingintahuan masyarakat tentang ilmu astronomi terkhusus di kota Makassar. Prinsip perancagan Museum Astronomi memperhatikan alam sekitar sehingga dapat menyesuaikan dengan alam tempat bangunan akan dibangun. Pada perancangan ini akan berfokus pada penerapan arsitektur biomimikri dengan menggunakan fasad kinetik yang dapat diatur menggunakan konfigurasi dari komputer.Kata Kunci: Museum; Astronomi; Perancangan, Gedung, Biomimikri. Abstract_The design of the Astronomy Museum with the Biomimicry Architecture design in Makassar offers a means of educational education to accommodate the interests and curiosity of the public about astronomy in particular in the City of Makassar. The Museum of Astronomy Design needs to pay attention to the natural surroundings so that it can adjust to nature where the building will be built. In this design, biomimicry architecture planning will be approved using a kinetic facade that can be set using a computer configuration.Keywords: Museum, Astronomy, Design, Building, Biomimicry.
Pusat Seni Tari Sulawesi Selatan dengan Pendekatan Arsitektur Metafora Rahman, Siti Aisyah; Minur, Sri Hastuti; Akhmadi, Nursyam
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a4

Abstract

Abstrak_Perancangan Pusat Seni Tari Sulawesi Selatan dengan Pendekatan Arsitektur Metaforabertujuan untuk menyediakan suatu fasilitas seni tari sebagai pusat pelatihan, pendidikan, serta pertunjukan agar dapat kembali diminati oleh masyarakat melalui penyediaan fasilitas seni tari tersebut serta dapat memberikan sebuah sumbangan yang berarti terhadap kebudayaan bangsa melalui dunia seni tari sehingga kebudayaan tersebut tidak pudar dan dapat dikenali kembali oleh masyarakat serta menjadi nilai tersediri di Indonesia dan mancanegara.Pada perancangan ini akan berfokus pada penerapan arsitektur metaforasebagai konsep dalam perancangan dengan bentuk dari alatmusik pengiring tari dan juga bentuk yang diambil dari filosofi tari itu sendiri yang kemudian dapat dipahami oleh pengamat akan maksud dan ekspresi dari bangunan tersebut sehingga memunculkan persepsi dan imajinasi orang yang melihatnya.Kata Kunci :Pusat, Seni Tari; Perancangan; Gedung; Metafora. Abstract_Planning a South Sulawesi dance Art Center with a metaphor architecture approach aims to provide dance art facilities as a training centre, education, and performances that will be re-enthused by the community through the provision of dance facilities and can contribute meaningfully to the nation's culture through dance so that culture does not fade and can be recognized by the community and in this design will focus on applying metaphor architecture as a concept in designing with the form of dance instrument accompaniment and also the form taken from philosophy The dance itself which can then be understood by the observer intent and expression of the building to manifest the perception and imagination of the man who saw it.Keywords: Dance;  Art; Design; Building; Metaphor.
Penerapan Konsep Fasad Rumah Tradisional Takalar pada Desain Pasar Sentral Syahrir, Muhammad Zulkarnain; Marwati, Marwati; Attar, Muhammad
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a1

Abstract

Abstrak_ Bentuk fasad sebuah rumah tradisional sebagai identitas sebuah kota dan Pasar Sentral merupakan ikon sebuah daerah. Kondisi pasar sentral kota Takalar yang mengalami degradasi visual sehingga perlu diredesain kembali. Tujuan penulisan yaitu melakukan redesain kembali pasar Takalar dengan menerapkan bentuk fasad rumah Tradisional  Takalar. Metode Analisis terhadap lokasi, kondisi bangunan, ruang dan bentuk fasade rumah tradisional Takalar dan sintesa pada konsep bentuk desain pasar . Hasil Pembahasan meliputi lokasi yang berada di Jalan Poros Sungguminasa – Takalar, kabupaten Takalar, kondisi bangunan ini tidak tarawat dan tidak tertata, serta tidak menarik  dan konsep bentuk “Sulappa Appa” dan ornament rumah dari rumah tradisional Takalar. Perpaduan antara konsep Bentuk atap, Bentuk Rumah panggung ruang dan ornament pada fasade rumah tradisonal Takalar dan pasar sentral mampu menemukan bentuk desain baru pasar yang unik dan bisa dijadikan sebagai tarikan dan  ikon kota Takalar.Kata kunci : Fasad Pasar, Rumah Tradisional,  Takalar  Abstract_ The façade forms a traditional house as the identity of a city, and the central market is an icon of an area. The primary market conditions of Takalar City are visually degraded so that it needs to be redesigned. The purpose of writing is redesigning the market by applying traditional house facade Takalar. Methods of analysis of the location, conditions of the building, space, and the form of façade traditional house Takalar and synthesis on the concept of the shape of the market design. The results of the discussion include the location located on Poros Road. However, Minasa-Takalar, District Takalar, the condition of the building is not attractive and unorganized and is not exciting and the concept of the form of "Sulappa Appa" and a house ornament from the traditional house Takalar. The combination of the roof shape concept, the shape of the house stage space and decoration on the façade of the conventional house of Takalar and Central Market can find a new design of the market unique. It can be used as a pull and icon of the city Takalar.Keywords:  Market facade, Traditional House, Takalar 
Kajian Desain Interior Kamar Tidur Asrama Mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Gowa Muslimah, Nurul; Amin, Burhanuddin; Bunawardi, Ratriana Said
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a5

Abstract

Abstrak_ Desain interior merupakan penataan ruang dalam yang berhubungan dengan kenyamanan dari aktivitas manusia di dalamnya, baik kenyamanan fisik maupun psikis. Desain interior pada setiap ruangan berbeda khususnya pada kamar tidur. Kamar tidur pada asrama mahasiswa difokuskan pada aspek kenyamanan dalam belajar dan beristirahat. Salah satunya desain interior kamar tidur asrama mahasiswi di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Gowa atau Unhas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif induktif untuk mengidentifikasi dan mengkaji desain interior yang ada pada kamar tidur asrama Fakultas Teknik Unhas dengan menganalisis penempatan perabot dan pemakaian warna pada kamar tidur asrama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain interior pada kamar tidur asrama mahasiswi Fakultas Teknik Unhas baik dan nyaman digunakan, terutama dalam belajar dan beristirahat. Penempatan perabotnya sesuai dengan aktivitas yang terjadi dalam ruang tersebut serta pemakaian warna yang natural baik perabot maupun ruangnya. Alternatif lainnya adalah penempatan perabot dan pemakaian warna yang dapat membuat kamar tidur asrama menjadi lebih nyaman digunakan.Kata kunci : Desain Interior; Asrama; Perabot; Warna Abstract_ Interior design is room arrangement related to the convenience human activities inside either physical or psychological. The interior design of every room is uniquely different from the bedroom. The bedroom of the dormitory is focused on the amenities in learning and resting. One case is interior design of bedroom at student dormitory of engineering faculty, Hasanuddin University. This research uses inductive-qualitative in order to identify and assess interior design in the bedroom of engineering faculty dormitory and analyze the placement of furniture and colour at the bedroom. Results show that interior design in the bedroom of the hotel is relatively reasonable and comfortable to be utilized mainly in learning and resting. This is because of the suitability of furniture placement with daily activities in such room and the application of natural colour for the furniture and room. Alternatively, the furniture arrangement and a form of colour can make the bedroom to be more comfortably used.   Keywords: Interior Design; Dormitory; Furniture; Color.
Ragam Hias Rumah Soraja di Desa Binaga Karaeng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Saha, Riska; AS, Zulkarnain
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a6

Abstract

Abstrak_Rumah orang Bugis dapat dibedakan berdasarkan status sosial orang yang menempatinya. Daerah Pinrang dikenal istilah saoraja (istana) dan bola (rumah). Berbagai macam motif rumah adat  soraja yaitu  symbol-simbol ragam dan makna tertentu yang bersifat simbolik sebagai representasi perasaan, pikiran, atau juga paradigma hidup masyarakat Bugis, seperti motif  tumbuh-tumbuhan (flora), yaitu motif hias bunga parenreng (sulur suluran), motif hias bunga daun, motif belo-belo tellongeng (jendela), motif hias belo-belo renring (dinding), motif hias belo-belo cappa pattolo (ujung balok), motif hias belo-belo sudu’ (hiasan sudut), motif  hias rapang daung kolu (sawi). Motif binatang (fauna) seperti motif hias kepala kerbau, ayam (manuk), dan ular naga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengenali dan memahami  bentuk  bentk arsitektural dan makna yang terdapat pada Rumah Adat Saoraja di Desa Binanga Karaeng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang. Kata kunci: Bugis; Pinrang; Soraja; Ragam Hias; Simbol Ragam; Motif. Abstract_ Bugis houses can be distinguished based on the social status of the people who occupy them. Pinrang area known as Saoraja (palace) and bola (home). Various kinds of traditional Soraja house motifs are symbolic variants and specific symbolic meanings as a representation of feelings, thoughts, or also the paradigms of the Bugis community life, such as plant motifs (flora), namely decorating themes of parenting flowers (sulursuluran), decorative motifs of flowers leaves, tellongeng belo-belo motif (window), renring being (wall) ornamental motif, cappa pattolo belo-ornament motif (beam end), belo-belo sudu 'decorative motif (corner decoration), ornamental motifs of rapang daung kolu (mustard greens). Animal motif (fauna) such as buffalo head ornamental motifs, chickens (manuk), and nag snakes. This study uses quantitative methods to recognize and understand the architectural forms and meanings found in the Saoraja Traditional House in Binanga Karaeng Village, Lembang District, Pinrang Regency.Keywords :  Bugis; Pinrang; Soraja; Ornamental Variety; Symbol Variety; Motifs.Bugis houses can be distinguished based on the social status of the people who occupy them. Pinrang area known as Saoraja (palace) and bola (home). Various kinds of traditional Soraja house motifs are symbolic variants and specific symbolic meanings as a representation of feelings, thoughts, or also the paradigms of the Bugis community life, such as plant motifs (flora), namely decorating themes of parenting flowers (sulursuluran), decorative motifs of flowers leaves, tellongeng belo-belo motif (window), renring being (wall) ornamental motif, cappa pattolo belo-ornament motif (beam end), belo-belo sudu 'decorative motif (corner decoration), ornamental motifs of rapang daung kolu (mustard greens). Animal motif (fauna) such as buffalo head ornamental motifs, chickens (manuk), and nag snakes. This study uses quantitative methods to recognize and understand the architectural forms and meanings found in the Saoraja Traditional House in Binanga Karaeng Village, Lembang District, Pinrang Regency. Keywords :  Bugis; Pinrang; Soraja; Ornamental Variety; Symbol Variety; Motifs.
Kearifan Lokal Rumah Tradisional Bugis Baranti di Kabupaten Sidrap Al-Faaruuq, Aryun Muhammad; AS, Zulkarnain
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a8

Abstract

Abstrak_ Rumah panggung adalah rumah adat suku bugis yang berbentuk persegi panjang, dan pada atap nya berbentuk prisma. Rumah adat suku bugis ini memiliki banyak makna dan nilai kearifan suku bugis ini yang tergambarkan pada bagian-bagian rumah tersebut, mulai dari atap dan bagian-bagian nya yang memiliki makna tersendiri hingga pijakan nya yang memiliki makna tersendiri. Rumah adat bugis adalah perwujudan dari perasaan, pemikiran, dan juga paradigm/ andangan hidup dari masyarakat suku bugis ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna dari nilai-nilai yang terdapat pada setiap bagian dari rumah adat suku bugis yaitu rumah panggung dan menjelaskan makna dari symbol konstruksi rumah adat nugis itu sendiri. Penelitian ini menggukan metode deskriktif dimana akan di jelaskan makna serta nilai-nilai kearifan dari rumah adat suku bugis yaitu rumah panggung.Kata kunci: Rumah Adat, Rumah Panggung, Nilai Kearifan, Suku Bugsi. Abstract_ Stage houses are traditional houses of the Bugis tribe, which are rectangular in shape, and on the roof are in the form of prisms. This Bugis tribe traditional house has many meanings and values. The wisdom of this Bugis tribe is illustrated in the parts of the house, starting from the roof and parts that have their meanings until their footing has its purpose. Bugis' traditional home is the embodiment of feelings, thoughts, and also the paradigm/view of the life of this bugis tribal community. This study aims to explain the meaning of the values contained in each part of the Bugis tribe's traditional house, the stage house, and to explain the purpose of the symbol of the construction of the conventional house bugis itself. This research uses a descriptive method which will explain the meaning and wisdom values of the Bugis tribal traditional house, the stilt house.Keywords: Traditional Houses, Houses on Stilts, Wisdom Values, Bugsi Tribes.
Penerapan Kayu Laminasi “Glulam” sebagai Material Utama pada Struktur Bangunan Children Centre Abdullah, Sudarman; Mendila, Herdianto; Febriansyah, Muhammad Chaidar; Ibrahim, Ahmad
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a7

Abstract

Abstrak_Glued-Laminated Timber atau Glulam merupakan sebuah produk kayu berupa papan laminasi yang disusun yang direkatkan dengan lem. Pengaplikasian material Glulam pada bangunan umumnya digunakan sebagai rangka bangunan bentang lebar, dikarenakan jenis kayu glulam dapat memeiliki bentang diatas 50 m. Produk ini merupakan inovasi dalam mengatasi terbatasna bahan baku kayu utuh berdiameter besar dan berkualitas sebagai material bangunan. Glulam pertama kali ditemukan di jerman, dan saat ini menjadi salah satu material konstruksi bangunan yang sangat populer di dunia, terutama di kawasan eropa dan amerika utara. Jenis kayu Glulam memiliki banyak keunggulan dibandingkan material kayu ataupun material bangunan lainnya, salah satunya keluwesan bentuk produksi kayu sesuai dengan pesanan. Artinya, spesifikasi model rangka struktur dapat dimodifikasi menyesuaikan desain estetika bangunan. Ini berarti, keterbatasan desain terhadap kekhawatiran akan struktur dapat teratasi. Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan menignkatnya desain bangunan yang mengekspos strukturnya utamanya pada bangunan dan fasilitas publik seperti Children Centre. Konsep perencanaan Children Centre dengan pendekatan terhadap lingkungan alam dapat didukung dengan pengaplikasian material kayu untuk memberikan dampak psikologis yang dekat dengan alam. Selain jenis material ini aman dan tahan terhadap guncangan gempa dan lebih tahan api dibandingkan dengan produk kayu laminasi lain yang membuat glulam cocok sebagai material bangunan publik terutaman fasilitas khusus anak. Selain itu, keluwesan Glulam terhadap lebar bentang bangunan memungkinkan ruang bermain dan aktivitas indoor anak akan menjadi lebih luas yang memungkinkan anak merasakan kebebasan meskipun di dalam ruangan. Dalam tumbuh kembang anak, aktivitas bermain terutama berlari dan berjalan menjadi media utama anak dalam mengeksplorasi kondisi lingkungan di sekitarnya. Kata kunci : Glulam, Kayu Laminasi, Children Centre Abstract_Glued-Laminated Timber or Glulam is a wooden product in the form of a laminated board arranged which is glued together with glue. The application of Glulam material in buildings is generally used as a full span building framework because the type of glulam wood can have spans above 50 m. This product is an innovation in overcoming the limitations of large diameter raw wood material and quality as a building material. Glulam was first discovered in Germany and is currently one of the most famous building construction materials in the world, especially in Europe and North America. Glulam wood has many advantages compared to wood or other building materials, one of which is the flexibility of the form of wood products according to the order. That is, the specifications of the structural frame model can be modified to adjust the aesthetic design of the building. This means that the design limitations of fundamental concerns can be overcome. This is also one of the reasons for the rise in building design that exposes its structure primarily to buildings and public facilities such as the Children Center. The concept of planning a Children Center with an approach to the natural environment can be supported by the application of wood material to provide a psychological impact that is close to nature. In addition to this type of content, it is safe and resistant to earthquake shocks. It is more fire-resistant compared to other laminated wood products that make Glulam suitable as public building materials, especially for individual facilities for children. Also, the flexibility of Glulam against the width of the building's span allows the child's play space and indoor activities to be more extensive, which enables the child to feel freedom even in the room. In the growth and development of children, play activities, especially running and walking, become the child's main media in exploring the condition of the surrounding environment.Keywords: Glulam, Laminated Wood, Children Center
Strategi Pelestarian Kawasan Cagar Budaya dengan Pendekatan Revitalisasi Hildayanti, Andi
TIMPALAJA : Architecture Student Journals Vol. 2 No. 1 (2020): June
Publisher : The Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/timpalaja.v2i1a9

Abstract

Abstrak_ Bangunan cagar budaya pada dasarnya merupakan suatu artefak kota (urban artifact). Bangunan cagar budaya sudah selayaknya dilestarikan karena merupakan asset daerah yang dilindungi oleh hukum perundang- undangan. Pada beberapa kasus, banyak diantara objek bangunan cagar budaya sudah tidak difungsikan lagi sehingga menurunkan kualitas bangunan tersebut. Berbagai permasalahan mulai bermunculan seperti pelapukan, rerumputan yang tumbuh liar, dan beberapa kerusakan kecil lainnya pada bangunan. Jika hal tersebut tetap dibiarkan maka akan berdampak buruk bagi kelangsungan bangunan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengulas eksistensi bangunan cagar budaya di Kota Makassar tepatnya pada kawasan Benteng Somba Opu dengan segala permasalahannya dan merumuskan strategi-strategi pelestarian agar bangunan cagar budaya dapat mempertahankan eksistensinya tanpa mengurangi kualitas bangunan itu sendiri melalui pendekatan revitalisasi. Dengan menggunakan metode eksploratif dengan pertimbangan pengamatan analisis SWOT maka ditemukan beberapa strategi pelestarian yang dinilai mampu mengoptimalkan fungsi dan eksistensi bangunan cagar budaya tersebut, diantaranya mengembalikan keadaan bangunan yang mengalami kerusakan pada keadaan awal. Menggantikan material yang rusak atau hilang dengan material yang baru atau sejenis. Melakukan tindakan pemeliharaan berkala agar terhindar dari kerusakan yang lebih parah. Serta melakukan adaptasi yaitu segala upaya untuk mengubah bangunan tersebut agar dapat digunakan untuk fungsi yang sesuai. Karena pada dasarnya konservasi arsitektur merupakan proses daur ulang sebuah bangunan dalam upaya melestarikan sumber daya tempat tersebut demi keberlangsungan eksistensinya. Kata kunci : Konservasi; Revitalisasi ; Cagar budaya; Pelestarian; Artefak kota; Benteng Somba Opu. Abstract_ Cultural heritage building is basically an urban artifact. So it must be preserved because they are regional assets that are protected by national law. In some cases, many cultural heritage buildings no longer function, thereby reducing the quality of the building. Various problems began to emerge such as weathering, growing weeds, and the other minor damage to the building. If it is still left then it will have a negative impact on building survival. Therefore, this study will review the existence of cultural heritage buildings in Makassar City with all its problems and formulate conservation strategies till cultural heritage buildings can maintain their existence without reducing the quality of the building itself through revitalization approaches. By using an exploratory method with consideration of observing the SWOT analysis, several conservation strategies were found to be able to optimize the function and existence of the cultural heritage building, including restoring the damaged buildings to the initial state. Replace damaged or lost material with new or similar material. Perform periodic maintenance measures to avoid further damage. And adaptation is all efforts to change the building so that it can be used for the appropriate function. Because basically the conservation of architecture is the process of recycling a building in an effort to preserve the place resources for the sake of its continued existence. Keywords : Conservation; Revitalization; Cultural heritage; Preservation; Urban artifacts; Fort Somba Opu.

Page 1 of 1 | Total Record : 9