cover
Contact Name
Abdur Rahman
Contact Email
arrahman@ulm.ac.id
Phone
+6287741278430
Journal Mail Official
fishscientiae@ulm.ac.id
Editorial Address
Achmad Yani Street, 36th Office Box 6 Banjarbaru, South Kalimantan-Indonesia,
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Fish Scientiae : Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Kelautan
ISSN : 16933710     EISSN : 25411187     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture,
Fish Scientiae is a journal containing articles on Fishing Technology, Technology Aquaculture, Technology General of Fisheries, Water Resources Management, Agribusiness Fisheries, Marine Sciences, Biology Fisheries and Aquatic Ecology. The writings can be published in this journal can be shaped dissertations, theses, research reports, scientific papers and book reviews. Fish Scientiae is Sciences Journal of Fisheries and Marine Resources, is published twice a year (June and December) by the Faculty of Fisheries and Marine Resources.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal" : 10 Documents clear
PERBANDINGAN POLA KELAYAKAN EKOLOGIS DAN FINANSIAL USAHA PADA KEGIATAN BUDIDAYA UDANG VANAME(L. vannamei) Heri Ariadi; Mahardhika Nur Puspitasari
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.241 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.176

Abstract

Budidaya udang vaname (L. vannamei) adalah salah satu kegiatan akuakultur yang banyak dikembangkan di daerah pesisir Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perbandingan kelayakan ekologis dan finansial usaha budidaya udang vaname pola semi-intensif dengan pola intensif di pesisir perairan Pekalongan, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif dengan metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Adapun data indikator penelitian yang diambil adalah data kualitas air (oksigen terlarut, pH, suhu, salinitas, dan profil plankton) serta data indikator kelayakan finansial usaha seperti nilai keuntungan usaha, R/C Ratio, rentabilitas usaha, nilai NPV (Net Present Value), nilai Payback Periods, dan nilai Profitability Index usaha. Dari hasil penelitian menunjukan tingkat kelayakan ekologis pada tambak semi-intensif dengan nilai pH 8.3, suhu 300C, oksigen terlarut 8.07 mg/L, ketinggian air 120 cm, dan warna air hijau memiliki tingkat kelayakan yang lebih baik dibandingkan tambak intensif. Sedangkan untuk kelayakan finansial, pada tambak intensif dengan nilai keuntungan Rp. 451.494.403,-, R/C Ratio 1.77, BEP Unit 2.455 kg, BEP Sales Rp. 134.573.507,-, rentabilitas usaha 7.7, NPV Rp. 35.466.189.367,-, payback periods 2.9, profitability index 52.83. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Kegiatan budidaya udang vaname di pesisir perairan Pekalongan memiliki tingkat kelayakan ekologis dan finansial yang sangat baik untuk dijalankan serta dikembangkan. Pada tambak semi-intensif memiliki kelayakan ekologis yang lebih baik dibandingkan tambak intensif, begitu juga dengan tingkat kelayakan finansial usaha yang memiliki pola sebaliknya. Kata kunci : ekologis, finansial usaha, udang vaname, L. vannamei Vaname shrimp (L. vannamei) cultivation is one of the most widely developed aquaculture activities in coastal areas of Indonesia. The purpose of this study was to determine the level of comparison of the ecological and financial feasibility of a semi-intensive vaname shrimp farming business with an intensive pattern in the Pekalongan coastal waters, Central Java. The method used in this research is descriptive quantitative and qualitative research with purposive sampling method. The research indicator data taken are water quality parameters (dissolved oxygen, pH, temperature, salinity, and plankton profile) as well as business financial feasibility indicator data such as business profit value, R/C Ratio, business profitability, NPV (Net Present Value), Payback Periods, and the business Profitability Index. The results showed that the level of ecological feasibility in semi-intensive ponds with a pH value of 8.3, temperature 300C, dissolved oxygen 8.07 mg/L, water level 120 cm, and green water color had a better feasibility level than intensive ponds. As for financial feasibility, in intensive ponds with a profit value of Rp. 451.494.403,-, R/C Ratio 1.77, BEP Unit 2.455 kg, BEP Sales Rp. 134,573,507, -, business profitability 7.7, NPV Rp. 35,466,189,367,-, payback periods 2.9, and profitability index 52.83. The conclusion from the results of this study is that vaname shrimp cultivation activities in the Pekalongan coastal waters have a very good level of ecological and financial feasibility to be carried out and developed. Semi-intensive ponds have better ecological feasibility than intensive ponds, as well as the level of financial feasibility of businesses that have the opposite pattern.. Keywords: ecological, business finance, white shrimp, L. vannamei
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PERIKANAN TANGKAP DI ERA NEW NORMAL PADA PELABUHAN PERIKANAN PANTAI BONDET CIREBON JAWA BARAT Andi Perdana Gumilang; Kresnha Kresnha
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.587 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.177

Abstract

Desa Bondet merupakan wilayah potensial dalam usaha pengembangan perikanan tangkap di Pantai Utara Jawa Barat. Usaha perikanan tangkap merupakan salah satu mata pencaharian nelayan yang mulai berkembang di era new normal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek-aspek yang mempengaruhi usaha perikanan tangkap di Daerah Bondet di era new normal pasca pandemi Covid-19. Metode yang digunakan adalah metode survei terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat nelayan di sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai Bondet. Data diperoleh melalui kegiatan wawancara kepada nelayan pemilik kapal kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi usaha perikanan tangkap dapat dilihat melalui lima faktor yaitu faktor teknis, faktor produktivitas, faktor pemasaran, faktor sosial dan finansial. Berdasarkan analisis faktor teknis, unit penangkapan ikan yang ada di perairan Bondet terdiri dari kapal motor (5-10 GT) dan perahu motor tempel (<5 GT), produktivitas kapal motor lebih besar dibandingkan perahu motor tempel. Pola pemasaran hasil perikanan masih belum optimal karena belum ditunjang sarana dan prasarana yang memadai. Hasil analisis finansial, kapal motor memperoleh keuntungan sebesar Rp 73.399.560 per tahun, R/C 5,92 dan PP 2,44. Perahu motor tempel memperoleh keuntungan sebesar Rp 33.658.200 per tahun, R/C 5.29 dan PP 2,67. Bondet Village is a potential area in the development of capture fisheries on the North Coast of West Java. Capture fisheries business is one of the livelihoods of fishermen who are starting to develop in the new normal era. This study aims to analyze the aspects that affect the capture fisheries business in the Bondet area in the new normal era after the Covid-19 pandemic. The method used is a survey method to the factors that affect the fishing community around the Bondet Beach Fishing Port. The data was obtained through interviews with fishermen who own boats and then analyzed using qualitative descriptive methods. Based on the research results, it is known that the factors that influence the capture fisheries business can be seen through five factors, namely technical factors, productivity factors, marketing factors, social and financial factors. Based on the analysis of technical factors, fishing units in Bondet waters consist of motor boats (5-10 GT) and outboard motor boats (<5 GT), the productivity of motor boats is greater than outboard motor boats. The marketing pattern of fishery products is still not optimal because it has not been supported by adequate facilities and infrastructure. The results of financial analysis, motor boats earn a profit of Rp. 73,399,560 per year, R/C 5.92 and PP 2.44. Outboard motor boats earn a profit of Rp 33,658,200 per year, R/C 5.29 and PP 2.67.
PENGARUH LAMA WAKTU PENGGARAMAN YANG BERBEDA TERHADAP KADAR PROTEIN DAN ASAM AMINO CUMI-CUMI (LOLIGO SP.) Rabiatul Adawyah; Ulil Amri; Widya Ramadhini; El Redha El Redha; Findya Puspitasari
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.753 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.178

Abstract

Cumi-cumi (Loligo sp.) merupakan binatang lunak dengan tubuh berbentuk silindris. Sirip-siripnya berbentuk triangular atau radar yang menjadi satu pada ujungnya. Pada kepalanya disekitar lubang mulutnya terdapat 10 tentakel yang dilengkapi dengan alat penghisap (sucker) dan merupakan sumber protein hewani yang mana komponen utama penyusun proteinnya adalah asam amino. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu penggaraman yang berbeda pada proses pengolahan cumi-cumi terhadap kadar protein dan profil asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu penggaraman yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap kadar protein berdasarkan hasil Analysis of Variance (ANOVA) α 5%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh lama waktu penggaraman cumi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kadar protein, Hasil analisa kadar protein tertinggi ada pada perlakuan C yaitu penggaraman selama 5 hari sebesar 15,09% sedangkan untuk profil asam amino lisin sebesar 1,38% dari perlakuan 0 yaitu cumi-cumi segar merupakan jenis asam amino esensial tertinggi dari profil asam amino penyusun protein cumi, sedangkan jenis asam amino non esensial tertinggi adalah asam glutamat sebesar 2,79% dari perlakuan 0 yaitu cumi-cumi segar. The squid (Loligo sp.) Is a soft animal with a cylindrical body. The fins are triangular or radar-shaped which are joined at the ends. On the head around the mouth opening there are 10 tentacles which are equipped with a sucker (sucker) and are a source of animal protein where the main component of protein is amino acids. This study aims to determine the effect of different salting times in the processing of squid on protein content and amino acid profile. The results showed that the different salting time treatments had no significant effect on protein content based on the results of the Analysis of Variance (ANOVA) α 5%. The conclusion of this study is that the effect of different salting time of squid has no effect on protein content.The results of the analysis of the highest protein content were in treatment C, namely salting for 5 days at 15.09%, while for the lysine amino acid profile of 1.38% of the treatment. 0, namely fresh squid is the highest type of essential amino acid from the amino acid profile of squid protein, while the highest type of non-essential amino acid is glutamic acid at 2.79% from treatment 0, namely fresh squid.
KAJIAN PATOGENITAS BAKTERI SALURAN PENCERNAAN IKAN PAPUYU (Anabas testudineus BLOCH) SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK SISTEM BIOFLOK Agussyarif Hanafie; Akhmad Murjani; Hida Zakiah; Ismi Khoeriah
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.604 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.179

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji patogenitas bakteri pada saluran pencernaan ikan papuyu sebagai kandidat probiotik sistem bioflok. Penelitian dimulai dengan mengisolasi, menyeleksi, mengidentifikasi bakteri yang didapatkan dari saluran pencernan, diawali dengan menggerus saluran pencernaan ikan papuyu dan diencerkan, kemudian dikultur. Koloni yang didapat dimurnikan dan diseleksi dengan uji metabolisme, uji antagonis dan diidentifikasi secara biokimiawi serta diuji tahan suhu dan tahan asam (pH), kemudian dilanjutkan uji patogenitas, LD50. dengan 10 pengenceran (perlakuan) dan 4 ulangan dengan ikan papuyu 20 ekor per akuarium sebagai ikan uji. Hasil penelitian menunjukkan Hasil penelitian dari 3 lokasi berbeda pada lokasi A1 Guntung Payung, lokasi A2 Loktabat dan lokasi A3 martapura. Bakteri yang ditemukan terdapat 47 isolat yang terdiri dari pada lokasi A1 15 isolat, lokasi A2 15 isolat dan lokasi A3 17 isolat. Hasil pengamatan makroskopik diperoleh 5 isolat morfologi yang berbeda berdasarkan bentuk, warna, tepian dan elevasi permukaan koloni. Pengamatan mikroskopik dengan uji KOH diperoleh 3 Gram positif dan 2 Gram negatif. Identifikasi bakteri yang ditemukan terdiri dari bakteri genus Bacillus sp., Plesiomonas sp., Staphylococcus sp., Flavobacterium sp., dan Micrococcus sp. Hasil uji patogenitas dan LD50 menunjukkan semua perlakuan kelulusanhidupnya 100 %, dengan demikian uji ini bakteri dari usus ikan papuyu lulus – dapat digunakan sebagai kandidat probiotik. This study aims to examine the pathogenicity of bacteria in the digestive tract of papuyu fish as a candidate for probiotics in the biofloc system. The study began by isolating, selecting, identifying bacteria obtained from the digestive tract, starting with grinding the digestive tract of papuyu fish and diluted, then cultured. Colonies obtained were purified and selected by metabolic test, antagonist test and identified biochemically and tested for temperature resistance and acid resistance (pH), then continued with pathogenicity test, LD50. with 10 dilutions (treatment) and 4 replications with 20 papuyu fish per aquarium as test fish. The results showed the results of the study from 3 different locations at location A1 Guntung Payung, location A2 Loktabat and location A3 martapura. The bacteria found were 47 isolates consisting of 15 isolates at location A1, location A2 15 isolates and location A3 17 isolates. The results of macroscopic observations obtained 5 different morphological isolates based on the shape, color, edge and surface elevation of the colony. Microscopic observation with KOH test obtained 3 Gram positive and 2 Gram negative. Identification of bacteria found consisted of bacteria of the genus Bacillus sp., Plesiomonas sp., Staphylococcus sp., Flavobacterium sp., and Micrococcus sp. The results of the pathogenicity test and LD50 showed that all treatments had a 100% survival rate, thus this test passed bacteria from the intestines of papuyu fish – which could be used as probiotic candidates.
POTENSI LESTARI DAN UPAYA PENANGKAPAN OPTIMUM IKAN BETOK (Anabas testudineus) DI PERAIRAN UMUM DARATAN KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Irhamsyah Irhamsyah; Ahyar Ahyar; Yonathan Geraldo Pratama; Muhamad Ilham Hadade
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.646 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menganalisis nilai produksi Lestari ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan; (2) Menganalisis upaya penangkapan optimum ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan; (3) Mengetahui jumlah tangkapan yang diperbolehkan ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan; (4) Mengetahui tingkat pemanfaatan ikan Betok (Anabas testudineus) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini menggunakan metode survey. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dengan observasi lapangan. Analisis CPUE dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan tingkat pemanfaatan ikan Betok. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari–November 2021. Lokasi penelitian adalah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Hasil penelitian menunjukkan Nilai produksi Lestari atau nilai Maximum Sustainable Yield (MSY) ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebesar 1.537,39 ton. Nilai upaya penangkapan optimum (FMSY) ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebesar 1.074.332 trip. Nilai jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) ikan Betok (Anabas testudineus) di perairan umum daratan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebesar 1.229,91 ton. Tingkat pemanfaatan ikan Betok (Anabas testudineus) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada tahun 2018 adalah lebih dari 100% termasuk tingkat overfishing This study aims to: (1)Analyze the Maximum Sustainable Yield (MSY) value of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency; (2) Analyzing the optimum effort of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency; (3) Knowing the Total Allowable Catch (TAC) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency; (4) Knowing the level of utilization of climbing gouramy (Anabas testudineus) in Hulu Sungai Selatan Regency. This research uses survey method. The data collected are primary data and secondary data. Data collection by field observation. CPUE analysis was conducted to determine the abundance and utilization rate of Betok fish. This research was conducted from February–November 2021. The research location is in Hulu Sungai Selatan Regency. The results showed that the value of the Maximum Sustainable Yield (MSY) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency was 1,537.39 tons. The value of the optimum effort (FMSY) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency is 1,074,332 trips. The value of the Total Allowable Catch (TAC) of climbing gouramy (Anabas testudineus) in the fresh waters of Hulu Sungai Selatan Regency is 1,229.91 tons. The utilization rate of climbing gouramy (Anabas testudineus) in Hulu Sungai Selatan Regency in 2018 was more than 100% including overfishing rates.
PRODUKTIVITAS TEMPIRAI KAWAT TERHADAP TANGKAPAN SEPAT RAWA DI DESA BANGKAU KALIMANTAN SELATAN Eka Anto Supeni; Putri Mudhlika Lestarina; Maulidia Maulidia
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.171 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.181

Abstract

Salah satu alat tangkap yang paling banyak digunakan dan masih dioperasikan nelayan di perairan rawa Bangkau untuk menangkap sepat rawa adalah tempirai karena hasil tangkapan yang di dapat lebih banyak dari alat tangkap lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui konstruksi dan cara pengoperasian tempirai, fluktuasi hasil tangkapan sepat rawa per trip penangkapan dan menganalisis tingkat produktifitas tempirai kawat terhadap tangkapan sepat rawa di Desa Bangkau Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilaksanakan bulan Mei hingga Agustus 2021, di Desa Bangkau Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah experimental fishing. Yang dimaksud experimental fishing dalam penelitian ini adalah dengan melakukan percobaan penangkapan ikan sepat rawa dengan menggunakan tempirai kawat. Pada percobaan penangkapan yang dilakukan sebanyak 16 kali trip penangkapan dengan menggunakan 50 unit tempirai kawat. analisis produktivitas dilakukan melalui pendekatan perbandingan hasil tangkapan setiap tripnya dengan jumlah unit tempirai per trinya yang terisi ikan sepat rawa selama penelitian. Tempirai kawat yang ada di lokasi penelitian terdiri dari 4 komponen, yaitu pintu pengeluaran ikan, badan tempirai, pintu masuk ikan dan rangka tempirai. pintu pengeluaran ikan terletak pada bagian atas tempirai, badan tempirai terbuat dari bahan kawat besi dengan ukuran panjang 45 sentimeter, lebar 50 sentimeter dan tinggi 76 sentimeter dengan lubang atau celah kawat yang berukuran 1,2 sentimeter. Pintu masuk ikan dibuat melekuk masuk ke dalam terletak pada sisi depan tempirai kawat dengan lebar 4 sentimeter. Sedangkan rangka tempirai terbuat dari kawat besi yang berfungsi untuk membentuk alat tangkap tempirai. Total tangkapan ikan sepat rawa sebanyak 29,73 kg, dimana hasil tangkapan tertinggi terjadi pada trip penangkapan ke-10 dengan tangkapan sebanyak 3,2 kg, sedangkan hasil tangkapan terendah didapatkan pada trip penangkapan ke-4 dengan jumlah tangkapan sebesar 1,1 kg. Produktivitas alat tangkap yang tertinggi sebesar 65 gr/unit/trip, sedangkan produktivitas terendah adalah 24 gr/unit/trip.
VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG TAPIOKA DAN TEPUNG TERIGU TERHADAP UJI ORGANOLEPTIK NUGGET BELUT (Monopterus Albus) Siti Aisyah; Findya Puspitasari; Rabiatul Adawyah; El Redha El Redha; Muhammad Adriani; Tri Dekayanti
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.274 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.182

Abstract

Ikan Belut (Monopterus albus) secara maksimal dirubah bentuknya sehingga disukai menjadi bentuk olahan nugget. Nugget merupakan makanan siap saji yang sudah merakyat dan berupa olahan berbahan baku daging dan dilapisi dengan tepung dalam bentuk potongan-potongan kecil berwarna kuning keemasan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ikan belut menjadi bahan olahan, secara maksimal merubah bentuk tubuh belut yang kurang disukai menjadi olahan yang disukai, mendapatkan karakteristik nugget yang baik dan nilai kadar air sesuai SNI. Kesimpulan penelitian nugget belut berdasarkan keempat parameter dalam uji organoleptik dengan menggunakan 20 orang panelis tak terlatih yang menujukkan kualitas optimal adalah pada perlakuan B dengan penambahan tepung tapioka 10%, tepung terigu 10% dan kandungan kadar air, yaitu 48.32%. Eel (Monopterus albus) is maximally transformed so that it is preferred to be a processed nugget. Nugget is a fast food that is populist and consists of processed ingredients made from meat and contains flour in the form of small pieces of golden yellow. This study aims to utilize eels into processed materials, maximally change the body shape of the eels that are less preferred to processed high protein, get good nugget characteristics and water content values according to SNI. The conclusion of the study of eel nuggets based on the fourth parameter in the organoleptic test using 20 untrained panelists who showed optimal quality was in treatment B with the addition of 10% tapioca flour, 10% wheat flour and water content, which was 48.32%.
DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI MARTAPURA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Abdur Rahman; Deddy Dharmaji; Junita Siagian
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.026 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.183

Abstract

Penelitian daya tampung beban pencemar dilakukan pada daerah hulu-tengah dan hilir Sub-DAS Martapura selama periode pengamatan Oktober 2020 – Desember 2021. Hasil penelitian menunjukkan daya tampung beban pencemar Daya Tampung Beban Pencemar pada periode pengamatan Oktober 2020 diketahui bahwa pada parameter pH mempunyai nilai di atas baku mutu -0,8, pada daerah hulu lebih rendah dari baku mutu. Daya Tampung Beban Pencemar pada periode pengamatan April 2021 diketahui bahwa pada parameter PO4 sebesar -0,8, di bagian tengah dan -4,1 di bagian hilir berada di atas baku mutu. Daya Tampung Beban Pencemar pada periode pengamatan Bulan Desember 2021 diketahui bahwa pada parameter pH sebesar -0,6, DO sebesar -6,1 di daerah hulu berada di atas baku mutu, parameter PO4 sebesar -0,05, di bagian tengah berada di atas baku mutu dan parameter PO4 sebesar -0,03 di bagian hilir berada di atas baku mutu. Status mutu perairan dengan menggunakan metode STORET termasuk dalam kategori cemar sedang dengan total skor -20. Penurunan kualitas perairan di sepanjang Sub DAS Martapura disebabkan masukan bahan pencemar dari kegiatan antropogenik (akivitas masyarakat) di sepanjang bantaran sungai berupa Mandi, Cuci dan Kakus, dan kegiatan Keramba Jaring Apung (KJA) di bagian Hulu. The research on the carrying capacity of the pollutant load was carried out in the upstream-middle and downstream areas of the Martapura Sub-watershed during the observation period from October 2020 to December 2021. The results showed that the carrying capacity of the pollutant load was carried out in the observation period of October 2020, it is known that the pH parameter has a value above the quality standard of -0.8, in the upstream area it is lower than the quality standard. Pollutant Load Carrying Capacity in the observation period of April 2021, it is known that the PO4 parameter is -0.8, in the middle, and -4.1 in the downstream, which is above the quality standard. Pollutant Load Capacity in the observation period in December 2021, it is known that the pH parameter is -0.6, DO is -6.1 in the upstream area which is above the quality standard, the PO4 parameter is -0.05, in the middle it is above the quality standard and the PO4 parameter of -0.03 in the downstream are above the quality standard. The status of water quality using the STORET method is in the moderately polluted category with a total score of -20. The decline in water quality along the Martapura Sub-watershed is caused by the input of pollutants from anthropogenic activities (community activities) along the riverbanks in the form of bathing, washing, toileting, and floating net cages (KJA) activities in upstream.
PENGARUH KONSENTRASI GARAM YANG BERBEDA TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK IKAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus) Findya Puspitasari; Tri Dekayanti; Laili Wahyudi Rajab; El Redha El Redha; Rabiatul Adawyah
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.5 KB) | DOI: 10.20527/fishscientiae.v11i2.184

Abstract

Ikan sepat rawa merupakan salah satu bahan makanan yang memiliki sumber protein relatif murah dibandingkan dengan sumber protein lainnya. Sebagai salah satu pengawetan dari ikan sepat rawa, teknik penggaraman digunakan karena kebanyakan bakteria, fungi dan organisme patogenik lainnya tidak dapat bertahan hidup dalam sebuah lingkungan dengan kadar garam yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi garam yang berbeda terhadap prosil asam lemak ikan sepat rawa. Rancangan penelitian ini bersifat eksperimental dengan penambahan konsentrasi garam yang berbeda memberikan pengaruh terhadap prosil asam lemak ikan sepat rawa. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi garam yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap profil asam lemak ikan sepat rawa. Jumlah kadar asam lemak tertinggi yaitu B dengan konsentrasi garam 10% sebesar 65,74 % dan untuk profil asam lemak terdapat 29 jenis dengan asam lemak terbanyak yaitu asam palmitat (asam lemak jenuh) sebesar 20,89 %, asam oleat (asam lemak tak jenuh tunggal) sebesar 17,86% dan asam linolenat (asam lemak tak jenuh jamak) sebesar 3,70%. Sepat rawa fish is a food that has a relatively cheap source of protein compared to other protein sources. As one of the preservation of three sepat rawa fish, the salting technique is used because most bacteria, fungi and other pathogenic organisms cannot survive in high salinity environments. This study aims to determine the effect of different salt concentrations on the fatty acid prosyl of three sepat rawa fish. The design of this research was experimental with the addition of different salt concentrations to affect the fatty acid prosyl of sepat rawa fish. The results showed that the difference in salt concentration had a significant effect on the fatty acid profile of three sepat rawa fish. The most fatty acid content is B with a salt concentration of 10% of 65.74% and for the fatty acid profile there are 29 types with the most fatty acids, namely palmitic acid (saturated fatty acid) of 20,89%, oleic acid (monounsaturated fat acids) by 17,86% and linolenic acid (poly unsaturated fatty acid) by 3,70%.
ANALISIS PENUTUPAN KANOPI MANGROVE MENGGUNAKAN METODE HEMISPHERICAL PHOTOGRAPHY DAN NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) DI PULAU KAGET KABUPATEN BARITO KUALA Hamdani Hamdani; Nursalam Nursalam; Nina S
Fish Scientiae Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Resources of Lambung Mangkurat University-South Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Kaget merupakan sebuah delta yang terletak di muara Sungai Barito Kabupaten Barito Kuala. Pulau ini masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan bentuk geomorfologi pulau yang landai sehingga memungkinkan Pulau Kaget menjadi habitat tempat tumbuhnya vegetasi mangrove. Aktivitas Sungai Barito sebagai jalur tranportasi laut, pembuangan limbah alami partikel biotik maupun non-biotik serta faktor lingkungan lainnya seperti sedimentasi dapat mengancam pertumbuhan vegetasi mangrove di sekitarnya sehingga dapat berdampak pada kesehatan vegetasi mangrove di Pulau Kaget. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat kondisi kesehatan mangrove melalui penutupan kanopi atau kerapatan tajuk menggunakan metode Hemispherical Photography dan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Analisis kesehatan vegetasi mangrove mengacu pada Estimasi Kerapatan Tajuk oleh Badan Informasi Geospasial 2014 dan Pedoman Inventarisasi dan Identifikasi Lahan Kritis Mangrove oleh Departemen Kehutanan tahun 2005 yang diolah menggunakan metode Sistem Inormasi Geografis (SIG). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa vegetasi mangrove dengan kelas lebat sebesar 26,703 Ha pada HP dan 29,453 pada NDVI, vegetasi mangrove kelas sedang sebesar 4,133 Ha pada HP dan 1,383 Ha pada NDVI dengan total luas kajian 30,836 Ha dengan nilai akurasi keseluruhan 83,33% dan akurasi kappa 65,38%. Secara keseluruhan kesehatan mangrove di Pulau Kaget memiliki status lebat atau baik. Kaget Island is a delta located at the mouth of the Barito River, Barito Kuala Regency. This island is still influenced by the tides and the sloping geomorphology of the island allows Kaget Island to become a habitat for mangrove vegetation to grow. The activity of the Barito River as a sea transportation route, disposal of natural waste, biotic and non-biotic particles and other environmental factors such as sedimentation can threaten the growth of mangrove vegetation in the vicinity so that it can have an impact on the health of mangrove vegetation on Pulau Kaget. This research was conducted to determine the health condition of mangroves through canopy closure or canopy density using Hemispherical Photography and Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) methods. The analysis of the health of mangrove vegetation refers to the Head Density Estimation by the Geospatial Information Agency 2014 and the Guidelines for Inventory and Identification of Critical Mangrove Land by the Ministry of Forestry in 2005 which were processed using the Geographic Information System (GIS) method. Based on the results of the analysis showed that mangrove vegetation with dense class was 26,703 Ha on HP and 29,453 on NDVI, medium class mangrove vegetation was 4,133 Ha on HP and 1,383 Ha on NDVI with a total study area of ​​30.836 Ha with an overall accuracy value of 83.33% and accuracy kappa 65.38%. Overall, the health of the mangroves on Pulau Kaget has a dense or good status.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 15 No 1 (2025): Edisi Juni Vol 14 No 1 (2024): Edisi Juni 2024, Vol. 14(1),2024 Vol 14 No 2 (2024): EDISI DESEMBER, Vol 14 (2), 2024 Vol 13 No 2 (2023): Edisi Desember 2023, Vol. 13(2),2023 Vol 13 No 1 (2023): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 12 No 2 (2022): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 12 No 1 (2022): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 11 No 2 (2021): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 11 No 1 (2021): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 10 No 2 (2020): Issue December Fish Scientiae Journal Vol 10 No 1 (2020): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 9 No 2 (2019): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 9 No 1 (2019): Issue -Fish Scientiae Journal Vol 5 No 1 (2015): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 8 No 2 (2018): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 8 No 1 (2018): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 7 No 2 (2017): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 7 No 1 (2017): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 6 No 2 (2016): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 6 No 1 (2016): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 5 No 2 (2015): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 4 No 2 (2014): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 4 No 1 (2014): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 3 No 2 (2013): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 3 No 1 (2013): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 2 No 2 (2012): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 2 No 1 (2012): Issue June-Fish Scientiae Journal Vol 1 No 2 (2011): Issue December-Fish Scientiae Journal Vol 1 No 1 (2011): Issue June-Fish Scientiae Journal More Issue