cover
Contact Name
Gatot Suparmanto
Contact Email
info.lppm@ukh.ac.id
Phone
+62271-857724
Journal Mail Official
jurnal@ukh.ac.id
Editorial Address
masgat@yahoo.co.id
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
ISSN : 20875002     EISSN : 2549371x     DOI : https://doi.org/10.34035/jk.v13i2
Core Subject : Health,
jurnal ini masih berfokus pada ilmu kesehatan kedokteran,keperawatan,biologi,kebidanan dan bidang kesehatan lainnya
Articles 434 Documents
PENERAPAN PERILAKU HIDUP SEHAT BAGI PENGRAJIN TAHU MELALUI PEMANFAATAN MINYAK KELAPA FERMENTASI (MKF) YANG DIPERKAYA EKSTRAK BAWANG MERAH (Allium cepa) UNTUK MENCEGAH DERMATITIS KONTAK IRITAN (DKI) Cicik Sudaryantiningsih; Yonathan Suryo Pambudi
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.552 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.414

Abstract

Meningkatnya jumlah produksi tahu mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan kulit tangan pengrajin tahu di Krajan, Mojosongo, Surakarta, yaitu Dermatitis Kontak Iritan (DKI). Kejadian DKI menyebabkan pengrajin harus beristirahat sehingga produktivitas menurun, dan penghasilan berkurang. Ada cara mencegah terjadinya DKI yaitu dengan mengoleskan minyak kelapa fermentasi yang diperkaya dengan ekstrak bawang merah (MKF). Tujuan dari penelitian yaitu mendeskripsikan kesadaran para pengrajin tahu akan perilaku hidup sehat dengan menjalankan personal hygiene (kebersihan diri) dengan baik; mendeskripsikan pengaruh perilaku hidup sehat dengan menjalankan personal hygiene (kebersihan diri) terhadap terjadinya DKI pada tangan pengrajin tahu dan mengetahui potensi minyak kelapa fermentasi (MKF) yang diperkaya bawang merah (Allium cepa) untuk mencegah DKI pada kulit tangan pengrajin tahu. Metode penelitian ini adalah eksperimen semu, dengan rancangan One Group Pre-Test and Post-Test, dengan satu kelompok yang diamati. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengrajin tahu di Krajan, Mojosongo Surakarta memiliki tingkat personal hygiene yang rendah, yaitu 64%; kejadian DKI terjadi pada pengrajin yang memiliki tingkat personal hygiene yang rendah, dengan kriteria DKI rendah 37,50%, sedang 43,75% dan parah 18,75%. The increasing amount of tofu production resulted in the occurrence of skin health problems in the hands of tofu craftsmen in Krajan, Mojosongo, Surakarta, namely Irritant Contact Dermatitis (DKI). The Jakarta incident caused the craftsmen to have to rest so that productivity decreased and income was reduced. There is a way to prevent the occurrence of DKI, by applying fermented coconut oil enriched with onion extract (MKF). The purpose of the research is to describe the awareness of the craftsmen know the behavior of healthy living by running personal hygiene well; describe the effect of healthy living behavior by running personal hygiene on the occurrence of DKI in the hands of tofu craftsmen and knowing the potential of fermented coconut oil (MKF) enriched with shallots (Allium cepa) to prevent DKI on the skin of the hands of tofu craftsmen. This research method is quasi-experimental, with a One Group Pre-Test and Post-Test design, with one group being observed. The sampling technique is done by purposive sampling. The results showed that the tofu craftsmen in Krajan, Mojosongo Surakarta had a low level of personal hygiene, which was 64%; DKI incident occurred in craftsmen who had low levels of personal hygiene, with low DKI criteria 37.50%, moderate 43.75% and severe 18.75%.
ANALISIS TINGKAT DIMENSI KONSEP DIRI TERHADAP KUALITAS HIDUP ORANG DENGAN HIV/AIDS Susana Nurtanti; Sri Handayani; B Basuki
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.563 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.415

Abstract

Masalah HIV dan AIDS yang menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Peran serta ODHA secara fisik dan psikologis sangat diperlukan agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk. Penelitian ini bertujuan menganalisa tingkat konsep diri terhadap kualitas hidup ODHA yang menjalani perawatan di klinik voluntary consulting and testing (VCT) Rumah Sakit Umum Daerah Soediran Mangoen Soemarso Wonogiri. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian diambil 30 orang, setara dengan 35 % dari penderita yang terdaftar dalam layanan selama periode pengumpulan data. Desain penelitian adalah deskriptif analisis kuantitatif dengan pendekatan cross – sectional. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner tentang konsep diri dan WHOQOL-HIV BREF. Data yang diperoleh diolah dalam spreadsheet Excel dan diekspor ke SPSS versi 17.0 program. Hasil penelitian responden dengan konsep diri rendah yang mempunyai kualitas hidup tinggi adalah 5 orang (16,7%), rendah 12 orang (40,0%), responden dengan konsep diri tinggi mempunyai kualitas hidup tinggi adalah 9 orang (30,0 %), rendah 4 orang (13,3 %). Hasil chi square test menunjukkan p = 0,030 > 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan kualitas hidup. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara diri fisik, diri keluarga, diri sosial dan kritik diri dengan kualitas hidup akan tetapi ada hubungan yang signifikan antara diri moral etik dan diri pribadi dengan kualitas hidup meskipun derajad hubungan masih rendah. Ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan kualitas hidup. Penelitian ini mempunyai kontribusi dalam peningkatan dimensi konsep diri yang mempengaruhi kualitas hidup melalui kegiatan pada Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dalam bentuk penyuluhan kesehatan, peningkatan ketrampilan dan diskusi dalam FGD. HIV and AIDS being a health challenge in almost all over the world, including in Indonesia. The role of PLWHA in physical and psychological is very necessary. This study aims to analyze the level of self-concept of the quality of life of people with HIV / AIDS who undergo treatment at the voluntary consulting and testing (VCT) clinic of the Soediran Mangoen Soemarso Hospital Wonogiri. Sampling uses a purposive sampling technique The study sample was taken 30 people. The design of this research is descriptive quantitative analysis with cross-sectional approach. Data collection instruments used a questionnaire about self-concept and WHOQOL-HIV BREF. The data obtained was processed in an Excel spreadsheet and exported to SPSS version 17.0 of the program. The results of the research respondents with low self-concept who have a high quality of life are 5 people (16.7%), low 12 people (40.0%), respondents with high self-concept who have a high quality of life are 9 people (30.0% ), low 4 people (13.3%). Chi square test results showed p = 0.030> 0.05 which means there is a significant relationship between self-concept and quality of life. The conclusion of this study is that there is no significant relationship between physical self, family self, social self and self criticism with quality of life, there is a significant relationship between moral ethical self and personal self with quality of life although the degree of relationship is still low. There is a significant relationship between self concept with quality of life. The contribution of this research is to increase the dimensions of self-concept that affect the quality of life through activities in the Peer Support Group (KDS) in the form of health education, skills improvement and discussion in the FGD.
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS WANARAJA Miftah Hudatul Umam; tetti solehati; Dadang Purnama
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.07 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.419

Abstract

Diabetes melittus merupakan salah satu penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan. Penderita diabetes melittus akan mengalami berbagai permasalahan dalam proses kehidupannya yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien dengan diabetes mellitus di Puskesmas Wanaraja Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Sampeldidapatkandenganteknik total sampling berjumlah 91 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini WHOQOL-BREF yang terdiri dari 26 pertanyaan yang sudah valid dan reliabel. Analisa data yang dilakukan menggunakan analisa deskriptif. Hasil penelitian menunjukan kualitas hidup pasien diabetes mellitus sebagian besar63,7% berada pada kategorisedang. Kualitashidupberdasarkan domain fisik sebagian besar memiliki kualitas hidup pada kategori sedang sebanyak 61,5%, domain psikologis sebagian besar memiliki kualitas hidup pada kategori sedang sebanyak 60,4%, domain hubungansosial sebagian besar memiliki kualitas hidup pada kategori sedang sebanyak 58,2%, dan domain lingkungan sebagian besar memiliki kualitas hidup pada kategori sedang sebanyak 53,8%.Berdasarkan data tersebutdapatdisimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hidup yang sedang baik dari segi domain fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Oleh sebab itu pentingnya peran petugas kesehatan untuk melakukan promosi kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes mellitus menjadilebihbaik. Diabetes mellitus is a chronic disease that cannot be cured. Patients with diabetes mellitus will experience various problems in their life processes that can affect their quality of life. The purpose of this study was to determine the description of the quality of life of patients with diabetes mellitus in Community Health Center Wanaraja, Garut Regency. The research method used was quantitative descriptive. Samples were obtained by a total sampling technique as many as 91 people. The instrument used in this study was WHOQOL-BREF which consisted of 26 valid questions. Data analysis was performed using descriptive analysis. The results showed that the quality of life of patients with diabetes mellitus was mostly in the moderate category as many as 63.7%. Quality of life based on the physical domain mostly has a quality of life in the moderate category of 61.5%, the psychological domain mostly has a quality of life in the moderate category of 60.4%, the domain of social relations mostly has a quality of life in the medium category of 58.2 %, and most of the environmental domains have a quality of life in the medium category of 53.8%. Based on these data it can be concluded that the majority of respondents have a moderate quality of life in terms of physical, psychological, social and environmental relations. Therefore the important role of health workers to conduct health promotion to improve the quality of life of patients with diabetes mellitus be better.
TERAPI KECEMASAN DENGAN ANIMAL ASSISTED TEHRAPY W Widiyaningsih; Y Yunani; M Jamaluddin
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.512 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.420

Abstract

Data litbang Save Our Soccer (SOS) selama 2017 terdapat korban meninggal sebanyak 65 orang dari kericuhan sepak bola Indonesia serta kerusakan dari infrastruktur yang ada di stadion. Pengontrolan kecemasan pada atlet sepakbola anak dapat diterapi dengan menggunakan pendekatan non farmakologi yang minimal efek samping. Pengelolaan kecemasan yang baik dapat menstabilkan fungsi fisik dan psikis sebelum permainan di lapangan. Manfaat sosial lain adalah terkontrol sportivitas selama di lapangan dan mengurangi angka kejadian kekerasan misal tawuran dalam suatu pertandingan sepakbola. Ikan cupang merupakan salah satu hewan yang dapat dimanfaatkan sebagai animal assisted therapy untuk mengatasi kecemasan. Tujuan penelitian ini menganalisa pengaruh animal assisted therapy ikan cupang terhadap kecemasan pada atlet sepak bola anak. Metode penelitian menggunakan quasy experiment with one group pre and post test design. Penelitian ini menggunakan 30 responden atlet sepak bola anak yang terdaftar di sekolah sepak bola anak di Semarang menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian untuk mengukur kecemasan menggunakan Kuesioner Depression Anxiety Stres Scale (DASS) 42. Pengambilan data dilakukan 30 menit sebelum pertandingan sepakbola dimulai. Pertama peneliti mengambil data pretest untuk mengukur kecemasan. Setelah itu peneliti memberikan intervensi animal assisted therapy dengan ikan cupang selama 15 menit dengan cara memberikan kesempatan pada responden untuk melihat dan memberikan makan pada ikan cupang yang ditaruh dalam akuarium ikan. Posttest pengukuran kecemasan dilakukan setelah pemberian intervensi AAT ikan cupang. Intervensi diulang selama tiga kali pertandingan. Analisa data dengan dengan menggunakan uji wilcoxon didapatkan p value 0.000 sehingga disimpulkan terdapat pengaruh animal assisted therapy terhadap kecemasan pada atlet sepakbola anak. Save Our Soccer (SOS) R & D data during 2017 there were 65 people died from the chaos of Indonesian football and damage to the infrastructure in the stadium. Controlling anxiety in children's soccer athletes can be treated using a non-pharmacological approach that minimizes side effects. Good anxiety management can stabilize physical and psychological functions before playing in the field. Other social benefits are controlled sportsmanship while on the field and reduce the number of violent events such as brawls in a soccer match. Betta fish is one animal that can be used as animal assisted therapy to overcome anxiety. The purpose of this study was to analyze the effect of animal assisted therapy in betta fish on anxiety in children's soccer athletes. Research method was quasy experiment with one group pre and post test design This study used 30 respondents of children's soccer athletes enrolled in children's soccer schools in Semarang using purposive sampling. The research instrument for measuring anxiety used the Depression Anxiety Stress Scale (DASS) Questionnaire 42. Data was collected 30 minutes before the soccer match begins. First the researchers took the pretest data to measure anxiety. After that the researchers gave animal assisted therapy intervention with betta fish for 15 minutes by giving respondents the opportunity to see and feed the betta fish placed in a fish aquarium. Posttest measurement of anxiety was done after the administration of betta AAT intervention. The intervention was repeated for three matches. Data analysis used Wilcoxon test obtained p value 0,000 so that it was concluded there was an influence of animal assisted therapy on anxiety in children's soccer athletes.
SENAM AEROBIC UNTUK MENGATASI NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN AL ISHLAH SEMARANG Witri Hastuti; W Widiyaningsih
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.266 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.421

Abstract

Dismenore merupakan nyeri yang biasanya bersifat kram dan berpusat pada perut bagian bawah yang terasa selama menstruasi, terkadang sampai parah sehingga mengganggu aktivitas. Prevalensi nyeri menstruasi pada remaja di Indonesia berkisar antara 43% hingga 93%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh olahraga senam aerobic terhadap nyeri dismenorea pada remaja puteri di Pondok Pesantren Al Ishlah Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimental Two groups Pre Test dan Post Test with control. Instrumen nyeri yang digunakan adalah Numeric rating Scale (NRS), dengan skala 0-10. Penelitian dilakukan pada 50 remaja putri yang mengalami nyeri menstruasi. Remaja yang memenuhi kriteria pada skrining diberikan latihan fisik berupa aerobik pada kelompok perlakuan dan jogging pada kelompok kontrol. Latihan fisik dilakukan 2 kali terjadwal dalam seminggu, masing-masing minimal 30 menit selama 3 siklus menstruasi. Rata-rata nyeri dismenore sebelum dilakukan tindakan adalah 3.24+0.523 dan setelah intervensi 1.08+0.277. Hasil uji dengan Mann Whitney didapatkan senam aerobic lebih efektif untuk mengurangi nyeri dibandingkan jogging dengan mean rank sebesar 20,96 dan nilai p value 0.000. Olahraga mampu meningkatkan produksi endorphin (penghilang rasa sakit alami tubuh) sehingga menghilangkan nyeri ketika menstruasi. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan pasokan darah ke organ reproduksi sehingga memperlancar peredaran darah. Diharapkan remaja putri dapat rutin melakukan olahraga senam aerobic minimal 1 kali dalam seminggu untuk mengurangi nyeri menstruasi. Dysmenorrhea is pain usually cramping and centered on the lower abdomen that is felt during menstruation, sometimes to severe so that it interferes with activity. The prevalence of menstrual pain in adolescents in Indonesia ranges from 43% to 93%. The purpose of this study was to determine the effect of jogging on dysmenorrhoea pain in young girls at Al Ishlah Islamic Boarding School in Semarang. This study used an experimental design of Two groups Pre Test and Post Test with control. The pain instrument used was the Numeric rating Scale (NRS), with a scale of 0-10. The study was conducted on 50 young women who experience menstrual pain. Adolescents who met the screening criteria were given physical exercise in the form of aerobics in the treatment group and jogging in the control group. Physical exercise was scheduled twice a week, each with a minimum of 30 minutes for 3 menstrual cycles. The mean pain of dysmenorrhea before the action was 3.24 + 0.523 and after the intervention 1.08 + 0.277. Aerobic exercise was more effective in reducing pain than jogging with a p value of 0,000. Exercise could increase endorphin production (the body's natural pain reliever) so that pain relief during menstruation. In addition, exercise could increase blood supply to the reproductive organs thereby improving blood circulation. It was expected that young women can routinely exercise at least once a week to reduce menstrual pain.
PERTOLONGAN PERTAMA DAN PENILAIAN KEPARAHAN ENVENOMASI PADA PASIEN GIGITAN ULAR Anissa Cindy Nurul Afni; Fakhrudin Nasrul Sani
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.068 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.423

Abstract

Distribusi keracunan dan kematian akibat gigitan ular di dunia bevariasi. Dalam kasus berat, akan luka gigitan akan berkembang menjadi bula dan jaringan nekrotik, serta muncul gejala sistemik berupa mual, muntah dan kelemahan otot atau kejang. Tingginya angka kejadian snake bite di Indonesia belum diimbangi dengan penanganan yang optimal di prehospital. Fenomena yang muncul, Masyarakat cenderung melakukan pertolongan pertama menggunakan cara-cara tradisional, sedangkan WHO sejak tahun 2016 tidak lagi merekomendasikan bentuk pertolongan tersebut.Metode penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 35 responden, waktu pengambilan data Januari – September 2019 (9 bulan) dengan kriteria eksklusi: Pasien dengan gigitan ular yang meninggal saat datang ke IGD RSUD Gemolong. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner meliputi pertolongan pertama prehospital dan tanda dan gejala klinis yang muncul pada pasien saat tiba di rumah sakit utnuk menentukan derajat keparahan envenomasi. Analisa data univariat digunakan untuk menggambarkan deskriptif masing-masing variabel.Gambaran Pertolongan pertama prehospital yang dilakukan yaitu: 40,3% mengikat luka gigitan ular dengan tali, 31% responden menghisap ara luka, 14,3% responden merobek luka dengan pisau, 8,5% responden mencuci luka dengan sabun, 2,9% responden membakar luka dan memberikan jahe bakar pada area luka. Gambaran tingkat keparahan envenomasi responden yaitu: 57,2% responden menglami envenomasi derajat 2, sejumlah 22,8% responden mengalami envenomasi derajat 3, dan 20% responden mengalami envenomasi derajat 1. Tidak ada responden yang mengalami envenomasi derajat 4.Tindakan tradisional yang dilakukan dapat meningkatkan keparahan luka dan juga mempercepat penyebaran bisa. Prinsipn utama yang direkomendasikan untuk penanganan pertama gigitan ular adalah mecegah kecemasan yang berlebihan, melakukan imobilisasi area dengan balut tekan (pressure immobilitation tehnik) dan segera rujuk ke rumah sakit. The distribution of poisoning and mortality caused by snake bites in the world is increasing. In severe cases, the bite wound will develop into bullae and necrotic tissue, as well as systemic symptoms such as nausea, vomiting and muscle weakness or spasms. The high incidence of snake bite in Indonesia has not been matched by optimal handling at prehospital. The phenomenon that arises, the community tends to do first aid using traditional methods, WHO since 2016 no longer recommends this form of help. Design of this study is quantitative descriptive with cross sectional approach. This study used a total sampling technique with a total of 35 respondents, data collection time was January - September 2019 (9 months) with exclusion criteria: Patients with snake bites who died when they came to the Emergency Room. Data collection techniques using questionnaires included prehospital first aid and clinical signs and symptoms that appeared in patients when they arrived at the hospital to determine the severity of envenomation. Univariate data analysis is used to describe the descriptive of each variable. Result of this study showed the Prehospital First Aid overview: 40.3% respondent used a tourniquet technique, 31% of respondents sucking wound, 14.3% of respondents give an incission of the bite wound, 8.5% of respondents washed wounds with soap, 2.9% of respondents burn wounds and give burnt ginger to the injured area. The description of the severity of envenomation is: 57.2% of respondents in grade 2, 22.8% of respondents in grade 3, and 20% of respondents in grade 1. No one respondents experienced grade 4 envenomation.The traditional actions taken by the lay persone can increase the severity of the wound and also accelerate the spread of bacteria. The main principles recommended for the first treatment of snake bites are preventing excessive anxiety, immobilizing the area with pressure immobilization technique and immediately referring to the hospital.
PENGARUH EDUKASI DENGAN METODE ROLE PLAY TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN BULLYING PADA ANAK SEKOLAH DASAR Siti Mardiyah; Bambang Abdul Syukur
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.584 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.426

Abstract

Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap orang-orang atau kelompok lain yang dilakukan secara berulang-ulang dengan cara menyakiti secara fisik maupun mental. Bullying dapat menyebabkan depresi, kurang percaya diri, kesedihan (perasaan sedih, duka cita, kesusahan hati), merasa bodoh dan tidak berharga sehingga kepercayaan diri mereka menjadi rendah dan meningkatkan kecemasan sosial. Pelaku bullying dapat mempunyai efek untuk berbuat kriminalitas. Pengetahuan tentang bullying dan efeknya adalah penting untuk diterapakan dalam mencegah perilaku bullying. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui edukasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap pengetahuan tentang pencegahan bullying pada anak sekolah dasar.. Jenis penelitian adalah quasi eksperiment one group pretest posttest design dengan populasi penelitian adalah anak sekolah dasar. Tehnik pengambilan sample dengan purposive sampling yakni kelas empat dan lima yang berjumlah 64 siswa. Instrumen penelitian adalah intrumen pengetahuan siswa tentang bullying yang terdiri dari 17 pertanyaan dalam bentuk closed ended question yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menggunakan wilcoxon didapatkan hasil P value adalah 0,000<0,005 artinya terdapat pengaruh edukasi dengan metode role play terhadap pengetahuan tentang pencegahan bullying pada anak sekolah Dasar. Disarankan bagi sekolah agar menyisipkan pelajaran tentang bullying dengan metode role play untuk pencegahan bullying. Bullying is an aggressive behavior carried out by individuals or groups against other people or groups that are carried out repeatedly using hurting physically and mentally. Bullying can cause depression, lack of confidence, sadness (feelings of sadness, sorrow, distress), feeling stupid and worthless so that their confidence is low and increases social anxiety. Bullying can have the effect of committing a crime. Knowledge about bullying and its effects is important to be applied in preventing bullying behavior. Knowledge can be increased through education. The purpose of this study was to determine the effect of education on knowledge about the prevention of bullying in elementary school children. The type of research is a quasi-experimental one-group pretest-posttest design with the study population is elementary school children. The sampling technique was purposive sampling in the fourth and fifth grades totaling 64 students. The instrument of this study was the instrument of students' knowledge about bullying which consisted of 17 questions in the form of closed-ended questions that had been tested for validity and reliability. The results of the study using Wilcoxon showed that the P value was 0,000 <0.005, meaning that there was an influence of education with the role-play method on knowledge about preventing bullying in elementary school children. It is recommended for schools to insert lessons about bullying with the role-play method for bullying prevention.
INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT (IKM) TERHADAP PELAYANAN RAWAT JALAN PESERTA BPJS KESEHATAN DI PUSKESMAS YOGYAKARTA Sri Sularsih Endartiwi
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.168 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.427

Abstract

Puskesmas Kotagede I Kodya Yogyakarta dan Puskesmas Bambanglipuro Kabupaten Bantul merupakan pelayanan publik yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Masyarakat yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di kedua puskesmas tersebut masih memberikan keluhan terkait dengan pelayanan seperti antrean di pendaftaran yang lama, ruang tunggu yang kurang karena pada waktu pasien banyak maka menunggu antreannya harus berdiri. Lama waktu tunggu antara 15 sampai 30 menit. Waktu tunggu di pelayanan farmasi atau obat juga lama kurang lebih 30 menit bahkan bisa sampai 1 jam pada waktu pengunjungnya banyak. Penelitian bertujuan untuk menentukan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas Yogyakarta. Jenis penelitian adalah penelitian survei dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien peserta BPJS Kesehatan yang memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Kotagede I dan Bambanglipuro. Sampel diambil secara quota sampling sebanyak 100 peserta BPJS Kesehatan, dari Puskesmas Kotagede I sebanyak 50 orang dan dari Puskesmas Bambanglipuro Bantul sebanyak 50 orang. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kotagede I dan Bambanglipuro Bantul pada November 2018. Data dianalisis menggunakan perhitungan Indeks Kepuasan Masyarakat dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil nilai indeks kepuasan masyarakat sebesar 3,04732 dan setelah dikonversikan sebesar 76,183 menunjukkan bahwa mutu pelayanan di Pelayanan Rawat Jalan Peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Yogyakarta berada pada kategori “B” atau kinerja unit pelayanan “Baik”. Unsur pelayanan tertinggi adalah unsur keamanan pelayanan yaitu sebesar 3.12 dan yang terendah adalah unsur prosedur pelayanan senilai 2,94. Kesimpulan indeks kepuasan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di puskesmas adalah Baik. Kotagede I Health Center, Yogyakarta District, and Bambanglipuro Health Center, Bantul District are public services that provide health services to the surrounding community. People who use health services in both health centers still give some complaints related to the services they receive such as queues at longtime registration, lack of waiting room because when there are many patients waiting for the queue to stand up. In addition, the waiting time at the time of the examination is also approximately 15 to 30 minutes. The waiting time in pharmaceutical or drug services also takes approximately 30 minutes or even up to 1 hour when there are many visitors. This study’s objective is to determine the Community Satisfaction Index that utilizes health services in Yogyakarta health centers. This type of research is survey research using quantitative descriptive methods with a cross-sectional research design. The population in this study were all patients participating who use outpatient services at the Kotagede I and Bambanglipuro Health Center. Samples were taken by quota sampling with a total of 100 patients, from the Kotagede I health center as many as 50 people and from the Bambanglipuro Health Center Bantul as many as 50 people. The study was conducted at the Kotagede I and Bambanglipuro Health Center in November 2018. Quantitative data were analyzed using the calculation of the Community Satisfaction Index and presented in tabular form. The results of the community satisfaction index of 3.04732 and after being converted were 76.183 indicating that the quality of service in the Outpatient Services at the Yogyakarta Public Health Center was in the "B" category or the "Good" service unit performance. The highest service element is obtained service security element that is equal to 3.12 and the lowest is service element worth 2.94.
KETIADAAN ANAK LAKI-LAKI: AKANKAH MENJADI FAKTOR PENGHALANG PEMAKAIAN KONTRASEPSI? Dwi Trisnani
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.51 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.430

Abstract

Tingkat penggunaan alat kontrasepsi (CPR) dan fertilitas (TFR) yang berbeda antar provinsi menimbulkan pertanyaan apakah ada pengaruh budaya terhadap pemakaian alat kontrasepsi modern yang merupakan program pemerintah melalui BKKBN. Perbedaaan TFR dan CPR antara Provinsi Sumatera Utara yang memperlihatkan masih tingginya TFR dan rendahnya CPR dibandingkan dengan Jawa Tengah menimbulkan dugaan bahwa hal ini terjadi karena adanya budaya yaitu sistem kekerabatan patrilineal pada Suku Batak yang merupakan suku yang dominan di Sumatera Utara. Budaya patrilineal yang memberi nilai lebih anak laki-laki menyebabkan berkurangnya keikutsertaan wanita dalam menggunakan alat kontrasepsi karena adanya keinginan untuk memiliki anak laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi jenis kelamin anak masih hidup yang dimiliki wanita terhadap penggunaan alat KB modern di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Dalam studi ini, data yang digunakan adalah data cross-sectional untuk survei tahun 2017 di wilayah Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan bahwa di Sumatera Utara wanita yang mempunyai anak laki-laki saja berpeluang lebih besar untuk memakai alat kotrasepsi modern daripada wanita yang tidak mempunyai anak laki-laki yang menunjukkan masih adanya son preference, sedangkan di Jawa Tengah komposisi jenis kelamin mempengaruhi penggunaan alat kontrasepsi. Differences in levels of contraceptive use (CPR) and fertility (TFR) between provinces raise the question of whether there is a cultural influence on the use of modern contraception which is a government program through the BKKBN. The difference of TFR and CPR between North Sumatra Province which shows high TFR and low CPR compared to Central Java raises suspicion this is caused by patrilineal kinship culture in the Batak tribe which is the dominant tribe in North Sumatra. A patrilineal culture that gives more value to boy/s leads to reduced participation of women in using contraception because of the desire to have a son. This study aims to determine the effect of children sex composition on the use of modern family planning in North Sumatra and Central Java Province. The data used are data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). In this study, the data used were cross-sectional data for the 2017 survey in North Sumatra and Central Java. In North Sumatra, the analysis showed that women who only had boys had a greater chance of using modern contraception than women who did not have boys who showed preference for boys, whereas in Central Java the sex composition does not affect contraceptive use.
KORELASI KELUHAN KESEHATAN IBU DAN ANGKATAN KERJA PEREMPUAN TERHADAP PEROKOK ANAK Shaela Mayasari
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.352 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.431

Abstract

Persentase jumlah perokok anak (?18 tahun) terus mengalami kenaikan tiap tahunnya. Merokok di usia sangat muda tentu berpengaruh pada kesehatan anak. Tidak hanya sekarang, tapi di masa depan. Untuk itu, diharapkan peran orang tua bisa membuat anak menjauhi aktifitas merokok. Maka penting untuk mengetahui kualitas kesehatan ibu dan ketersediaan waktu luangnya dalam mendidik anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengaruh keluhan kesehatan yang dialami ibu dan pengaruh ibu bekerja yang masuk sebagai angkatan kerja perempuan terhadap perokok anak. Jenis penelitian ini kuantitatif. Dengan metode analisis uji korelasi sederhana dan statistik deskriptif. Adapun sumber datanya ialah data sekunder BPS tahun 2016-2018. Hasil dari penelitian ini menyatakan hubungan antara keluhan kesehatan yang dialami ibu berkorelasi kuat dengan perokok anak, dimana nilai R2 =0.9663. Hubungan antara perokok anak dengan jumlah angkatan kerja perempuan, juga menunjukkan korelasi positif yang kuat dimana nilai R2 nya 0.9289. Karena keterbatasan data dan waktu, penelitian ini hanya bisa menggambarkan perkembangan pekerja anak, perkembangan keluhan kesehatan ibu, dan perkembangan angkatan kerja perempuan. Selanjutnya diperlukan penelitian lebih komperehensif lagi terhadap hubungan ketiganya. The percentage of child smokers (?18 years) continues to increase every year. Smoking at a very young age certainly affects the health of children. Not only now, but in the future. For this reason, it is hoped that the role of parents can make children stay away from smoking. So it is important to know the quality of maternal health and the availability of free time in educating children. This study aims to describe the effect of health complaints experienced by mothers and the influence of working mothers who enter the female workforce on child smokers. This type of research is quantitative. With the simple correlation test analysis method and descriptive statistics. The source of the data is BPS secondary data for 2016-2018. The results of this study stated the relationship between health complaints experienced by mothers strongly correlated with child smokers, where the value of R2 = 0.9663. The relationship between child smokers and the number of female workforce, also shows a strong positive correlation where the R2 value is 0.9289. Because of limited data and time, this study can only describe the development of child labor, the development of maternal health complaints, and the development of the female workforce. Furthermore, more comprehensive research is needed on the relationship of the three.