cover
Contact Name
Gatot Suparmanto
Contact Email
info.lppm@ukh.ac.id
Phone
+62271-857724
Journal Mail Official
jurnal@ukh.ac.id
Editorial Address
masgat@yahoo.co.id
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
ISSN : 20875002     EISSN : 2549371x     DOI : https://doi.org/10.34035/jk.v13i2
Core Subject : Health,
jurnal ini masih berfokus pada ilmu kesehatan kedokteran,keperawatan,biologi,kebidanan dan bidang kesehatan lainnya
Articles 434 Documents
PENGARUH PENDIDIKAN TEMAN SEBAYA (PEER EDUCATION) KESEHATAN MENSTRUASI TERHADAP KESIAPAN SISWI SD MENGHADAPI MENSTRUASI AWAL Istinengtiyas Tirta Suminar; Diah Nur Anisa
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.328 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.433

Abstract

Remaja yang akan mengalami menstruasi pertama membutuhkan kesiapan mental yang baik dan harus diberikan pengetahuan tentang proses menstruasi dan juga informasi tentang menarche agar siap secara mental untuk menghadapinya. Salah satu media anak dalam memperoleh informasi adalah dari teman sebayanya. Pendidikan melaui teman sebaya (peer education) merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan untuk pelaksanaan intervensi promosi kesehatan pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendidikan teman sebaya (peer education) kesehatan menstruasi terhadap kesiapan menghadapi menarche siswi SD 2 Jambidan Banguntapan Bantul Yogyakarta. Metode penelitian adalah pre experimental dengan desain one group pretest - posttest. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2019 di SD 2 Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dengan jumlah responden 39 orang. Uji statistik Paired t test digunakan untuk melihat pengaruh pendidikan teman sebaya (peer education) kesehatan menstruasi terhadap kesiapan menghadapi menarche. Kesiapan responden dalam menghadapi menarche sebelum intervensi peer education berada pada kategori baik dan cukup masing-masing sebanyak 16 (41%) responden. Kesiapan responden dalam menghadapi menarche sesudah intervensi peer education berada pada kategori baik sebanyak 27 (69,2%) responden. Hasil uji paired t test menunjukkan nilai signifikansi 0,03 (p<0.05). Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara kesiapan responden sebelum dan sesudah intervensi peer education. Metode peer education dapat digunakan sekolah dalam upaya meningkatkan kesiapan siswi dalam menghadapi menstruasi awal. Adolescents who are about to experience their first menstruation require good mental readiness and must be given knowledge about the menstrual process and also information about menarche to be mentally ready to face it. One of the children's media in obtaining information is from their peers. Peer education is one of the most frequently used methods for implementing health promotion interventions for adolescents. This study aims to determine the influence of peer education on menstruation toward readiness of menarche. This study uses a pre experimental research method with one group pretest - posttest design. This study has conducted in August 2019 at SD 2 Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta with 39 respondents. Paired t test statistical test was used to assess the effect of peer education on menstrual health on readiness to face menarche. The readiness of respondents in facing menarche before the peer education intervention was in the good category and quite as much as each of 16 (41%) respondents. The readiness of respondents in facing menarche after peer education intervention was in a good category of 27 (69.2%) respondents. Paired T test results obtained a significance value of 0.003 (p <0.05). Based on the results of this study, it can be concluded that there are differences between the readiness of students before and after menstrual health peer education interventions. The peer education method can be used to increase student’s readiness in confront early menstruation.
TINGKAT SELF CARE KLIEN RAWAT JALAN DIABETES MELLITUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL Rosiana Nur Imallah; Agustina Rahmawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.726 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.434

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologis, sosial bahkan spiritual penderitanya. Salah satu upaya untuk dapat meminimalkan komplikasi DM adalah dengan melakukan self care DM. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kepatuhan self care pada pasien DM yang menjalani rawat jalan di RS PKU Muhamamdiyah Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 54 responden pasien rawat jalan di poliklinik penyakit dalam di RS PKU Muhammadiyah Bantul pada bulan Agustus 2019. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner SDSCA (Summary Diabetes Self Care Activities). Sebagian besar responden memiliki nilai tinggi dalam perilaku self care (51,9%). Perlunya upaya untuk meningkatkan kepatuhan self care pada pasien DM dan perawat dapat berperan penting didalamnya. Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that can affect the physical, psychological, social and even spiritual condition of the sufferer. One effort to minimize DM complications is by doing DM self care. This study aims to describe the level of self care adherence in DM patients undergoing outpatient care at PKU Muhammadiyah Hospital Bantul. This research is a quantitative research using a cross sectional approach. A sample of 54 respondents who were outpatients in the internal medicine clinic at PKU Muhammadiyah Hospital Bantul in August 2019. The measuring instrument used was the SDSCA (Summary Diabetes Self Care Activities) questionnaire. Self-care behavior in the majority of respondents in the high category (51.9%). The need for efforts to improve self-care compliance in DM patients and nurses can play an important role in it. The results of this study indicate that the majority of DM patient have high self-care behavior.
IMPLEMENTASI DISKUSI REFLEKSI KASUS (DRK) MENINGKATKAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM MENERAPKAN SOP MANAJEMEN NYERI Yuni Kurniasih; A Ardani; W Widiastuti
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.023 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.435

Abstract

Keberhasilan pelayanan kesehatan sangat tergantung pada partisipasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Banyaknya tugas yang hars dilakukan perawat membuat perawat kurang maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai pemberi asuhan keperawatan. Salah satu kegiatan untuk memecahkan masalah yang muncul dalam pelayanan kesehatan salah satunya dengan refleksi kasus yang di Indonesia diperkenalkan melalui kegiatan Diskusi Refleksi Kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dapat meningkatkan kepatuhan perawat dalam melaksanakan SPO manajemen nyeri di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperiment dengan dilakukan pada responden yang berjumlah 35 responden. Analisa data untuk menguji pre dan post menggunakan Uji PairedT-test atauUji T berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan kepatuhan penerapan sop manajemen nyeri didapatkan t hitung 13.126 dan signifikansi 0,00. The success of health services is highly dependent on the participation of nurses to provide quality nursing care. The number of tasks that must be done by nurses makes nurses less optimal in carrying out their duties as providers of nursing care. One of the activities to solve problems that arise in the health service is one of them by reflecting cases which introduced in Indonesia through the Case Reflection Discussion. This study aims to determine whether the Case Reflection Disscussion (CRD) can increase nurses' compliance in implementing SOP pain management at PKU Muhammadiyah Hospital in Yogyakarta. Data analysis pre and post test used the Paired T-test or Paired T Test. The results of this study indicate that there is a significant effect of compliance with the application of standart operating procedure (SOP) pain management obtained t count 13,126 and a significance of 0.00.
PERBANDINGAN APLIKASI TERAPI AKUPUNKTUR DENGAN SUSU FERMENTASI KEFIR UNTUK MENGHAMBAT PROSES PENUAAN DINI DI KOTA SURAKARTA Sri Yatmihatun; E Estuningsih
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.172 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.438

Abstract

Penuaan atau aging merupakan perubahan manusia yang diakibatkan oleh faktor usia, psikologi, dan sosial. Penuaan juga dipengaruhi oleh faktor reactitive oxygen species (ROS) yang dihasilkan dalam sel. Tindakan akupunktur pada titik Zusanli (ST36) untuk anti aging mempunyai efek dalam melawan penuaan dengan meningkatnya aktivitas serum SOD dan penurunan serum Malondialdehyde (MDA). Kefir merupakan minuman susu fermentasi oleh mikroba atau bakteri asam laktat (Lactobacillus acidophilus, L. kefir, L. kerfigranum, L. parakefir) sehingga dikenal sebagai minuman probiotik karena mengandung mikroba yang baik untuk sistem pencernaan sehingga diketahui dapat berperan sebagai mencegah penuaan (aging). Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan antara antara aplikasi terapi akupunktur dengan susu fermentasi kefir untuk menghambat proses penuaan dini di Kota Surakarta. Metode penelitian adalah Quasy eksperimental dengan pendekatan Randomized Controlled Trial. Hasil penelitian menunjukkan skor anti oksidan pada kelompok sebelum terapi akupunktur sebesar 22.823,53 dan kelompok pemberian susu fermentasi kefir sebesar 20.352,94, dan gabungan kelompok pemberian terapi akupunktur dan pemberian susu fermentasi kefir sebesar 23.411,76. Skor anti oksidan pada kelompok setelah terapi akupunktur 18.176,47 kelompok pemberian susu fermentasi kefir, 17.764,70, dan gabungan kelompok pemberian terapi akupunktur dan pemeberian susu fermentasi kefir 19.294,12. Kesimpulan tidak ada perbedaan antara ketiga perlakuan yaitu pemberian terapi akupuntur; susu fermentasi kefir maupun kombinasi pemberian terapi akupuntur dan susu fermentasi kefir untuk menghambat proses penuaan dini di Kota Surakarta namun perpaduan akupunktur dan pemberian kefir mempunyai hasil yang lebih bagus. Manfaat dari penelitian yaitu aplikasi akupunktur dan kefir minuman fermentasi dapat dijadikan referensi untuk inovasi sebagai terapi alternatif pada kasus penuaan dini. Aging is a human change caused by age, psychology, and social factors. Aging is also influenced by the Reactitive Oxygen Species (ROS) factors produced in cells. The acupuncture action at the Zusanli point (36) for anti-aging results has an effect against aging with increasing serum SOD activity and decreasing serum Malondialdehyde (MDA). Kefir is a fermented milk drink by microbes or lactic acid bacteria (Lactobacillus acidophilus, L. kefir, L. kerfigranum, L. parakefir) so it is known as a probiotic drink because it contains microbes that are good for the digestive system so that it is known to play a role as preventing aging (aging). The purpose of this study was to determine the difference between the application of acupuncture therapy with kefir fermented milk to inhibit the process of premature aging in the city of Surakarta. The research method is an experimental Quasy with a Randomized Controlled Trial approach. The results showed the anti-oxidant score in the group before acupuncture therapy was 22,823.53 and the group giving kefir fermentation milk was 20,352.94, and the combined group giving acupuncture therapy and giving kefir fermentation milk was 23,411.76. Anti-oxidant score in the group after acupuncture therapy 18,176.47 group giving kefir fermentation milk, 17,764.70, and combined group giving acupuncture therapy and giving kefir fermentation milk 19,294.12. Conclusion there is no difference between the three treatments, namely the provision of acupuncture therapy; Kefir fermented milk and a combination of acupuncture therapy and kefir fermented milk to inhibit the process of premature aging in the city of Surakarta. The benefits of the research are the application of acupuncture and fermented beverage kefir can be used as a reference for innovation as an alternative therapy in cases of premature aging.
BEBAN KERJA MENTAL, FISIK DAN WAKTU PERAWAT DI POLI RSUD dr. SLAMET GARUT Indra Maulana; Ati Surya Mediawati; Egis Permana
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.529 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.441

Abstract

Beban kerja mental merupakan suatu perbedaan antara kapasitas dan kemampuan dalam melakukan pekerjaan atau tugas-tugasnya. Beban kerja yang tinggi bisa menyebabkan beban kerja mental, fisik, dan waktu sedangkan beban kerja yang rendah bisa menyebabkan kebosanan dan kejenuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran beban kerja mental, fisik, dan waktu perawat di ruangan poli RSU dr, Slamet Garut. Metode Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif, Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat di ruangan poli RSU dr Slamet Garut. Teknik pengambilan sampel total sampling, dengan besar sampel yaitu 62 orang perawat. Pengukuran beban kerja mental menggunakan NASA TLX yang dinilai oleh peneliti dari lembar kuesioner. Analisis data menggunakan analisis deskritif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan beban kerja mental kategori tinggi sebanyak 58 responden (100,0%), beban kerja fisik kategori tinggi sebanyak 57 responden (98,3%), dan beban kerja waktu kategori tinggi sebanyak 57 responden (98,3%). Kesimpulan penelitian ini menggambarkan bahwa beban kerja perawat di ruangan poli RSU dr Slamet Garut kategori tinggi baik beban kerja mental, fisik, dan waktu. Perlunya perbaikan manajemen keperawatan perawat perlu menjaga kondisi fisik dan mental dalam memberikan pelayanan keperawatan karena beban kerja yang tinggi. Mental workload is a difference between capacity and ability to do work or tasks. High workload can cause mental workload, physical, time and low workload can cause boredom and burnout. This study is to find out how the mental, physical and nurse workload depictions in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital. The research method used quantitative descriptive design. The population of the study was all nurses in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital. The sampling technique was total sampling, with 62 nurses. The measurement of mental workload using NASA TLX which was assessed by researchers from the questionnaire sheet. The data analysis used quantitative descriptive analysis. The results showed that mental workload in the high category was 58 respondents (100.0%), physical workload in the high category was 57 respondents (98.3%), and the time workload in the high category was 57 respondents (98.3%). The conclusion was the workload of nurses in the poly room of dr. Slamet Garut Hospital in a high category both mental, physical, and time workloads. There needs to be an improvement in nursing management and nurses need to maintain physical and mental conditions in providing nursing services because of high workloads.
FAKTOR YANG MENINGKATKAN KINERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP: SYSTEMATIC REVIEW Dwi Retnaningsih; Luky Dwiantoro
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.626 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.442

Abstract

Perawat adalah tenaga kesehatan Sumber Daya Manusia yang berhubungan langsung dengan pasien dan memiliki tanggungjawab terhadap perawatan pasien. Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam berorganisasi di rumah sakit adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan perawat melakukan tindakan keperawatan. Tujuan systematic review meninjau penelitian empiris yang dipublikasikan tentang gaya kepemimpinan berkaitan dengan kinerja perawat dan jenis kepemimpinan yang bisa meningkatkan kinerja perawat di ruang rawat inap. Metode dengan melakukan tinjauan sistematis melalui review jurnal tentang gaya kepemimpinan dan kinerja perawat di ruang rawat inap. Strategi pencarian data dengan google scholar, ProQuest dan Sinta, kelayakan studi penelitian dengan melakukan penelitian empiris yang merujuk pada gaya kepemimpinan dan kinerja perawat di rawat inap. Kualitas studi dengan membaca topik, desain dan instrumen penelitian. Prosedur ekstraksi data dilakukan dari hasil penelusuran artikel dengan kata kunci gaya kepemimpinan, kinerja perawat di ruang rawat inap. Literatur 10 tahun terakhir, topik sesuai, dan artikel lengkap. Berdasarkan 12 artikel yang dianalisa, 5 penelitian dengan gaya kepemimpinan demokrasi mampu memberikan hasil kinerja perawat yang baik. 1 penelitian dengan gaya kepemimpinan otoriter, 4 penelitian dengan gaya kepemimpinan kompilasi, dan 2 penelitian dengan gaya kepemimpinan konsultasi memberikan hasil kinerja perawat cukup dan baik. Kecenderungan gaya kepemimpinan otoriter dan demokratik mampu memberikan kinerja yang baik dan cukup. Jadi, tidak ada gaya kepemimpinan yang tidak baik atau buruk. Gaya kepemimpinan yang tepat diperlukan untuk menghindari pemborosan, kebingungan, dan kesalahan. Nurses are health workers who is human resources who deal directly with patients and have responsibility for patient care. One of the critical success factors in organizing at a hospital was leadership that was able to move nurses into performing nurses' actions. The purpose of the systematic review was to review published empirical research on leadership styles related to nurse performance and the types of leadership that can improve nurses' performance in the inpatient room. The method was to conduct a systematic review through a journal review of the leadership style and performance of nurses in the inpatient room. Data search strategies with Google Scholar, ProQuest and Sinta, the feasibility of a research study by conducting empirical research that refers to the leadership style and performance of nurses in hospitalization. Quality of study by reading topics, designs and research instruments. Data extraction procedure was carried out from the results of searching the article with keywords leadership style, nurse performance in the inpatient room. Literature of the past 10 years, relevant topics, and full articles. Based on 12 articles analyzed, 5 studies with a democratic leadership style were able to provide good nurse performance results. 1 research with authoritarian leadership style, 4 research with compilation leadership style, and 2 research with consultative leadership style gives nurses good and good performance results. The tendency of an authoritarian and democratic leadership style was able to provide good and sufficient performance. So, there was no leadership style that was not good or bad. Appropriate leadership style to avoid waste, confusion, and mistakes.
PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN Klebsiella pneumoniae DENGAN EKSTRAK ETANOL DARI LIMBAH KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L.) Vector Stephen Dewangga; Muhammad Taufiq Qurrohman
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.904 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.443

Abstract

Pisang kepok (Musa paradisiaca L.) adalah buah yang mudah ditemukan, akan tetapi kulit buahnya selama ini jarang dimanfaatkan. Pada kulit buah M. paradisiaca L. terkandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid yang berperan sebagai senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol limbah kulit M. paradisiaca L. mampu menghambat pertumbuhan Klebsiella pneumoniae. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik eksperimental, sampel kulit M. paradisiaca L. diperoleh dari pedagang keripik pisang kepok di Kabupaten Karanganyar. Ekstrak etanol 96% kulit M. paradisiaca L. dibuat dengan menggunakan metode perkolasi, sedangkan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode Kirby-Bauer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% limbah kulit M. paradisiaca L. mampu menghambat pertumbuhan bakteri K. pneumoniae, pada konsentrasi 20%; 40%; 60%; 80% dan 100%, dengan rata-rata zona hambat berturut-turut 6,10 mm; 6,35 mm; 6,95 mm; 7,35 mm; dan 7,80 mm. Ekstrak etanol 96% kulit M. paradisiaca L. mampu membentuk zona hambat radikal pada semua konsentrasi terhadap pertumbuhan K. pneumoniae, namun tidak mampu menghasilkan zona hambat radikal setara dengan kriteria sensitif antibiotik ciprofloxacin 5 µg berdasarkan CLSI 2018 terhadap pertumbuhan K. pneumoniae. Banana kepok (Musa paradisiaca L.) is a fruit that is easily found, but the peel of the fruit has rarely been used. The peel of M. paradisiaca L. contains flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, and terpenoids which act as antibacterial compounds. This study aims to determine whether the ethanol extract of M. paradisiaca L. peel can inhibit the growth of Klebsiella pneumoniae. The research method used was an experimental analytic, M. paradisiaca L. peel samples were obtained from banana chips traders in Karanganyar. Ethanol extract 96% of the skin of M. paradisiaca L. was prepared using the percolation method, whereas the antibacterial activity test was carried out by the Kirby-Bauer method. The results showed that the 96% ethanolic extract of M. paradisiaca L.peel was able to inhibit the growth of K. pneumoniae in 20%; 40%; 60%; 80% and 100% concentrations, with mean inhibitory zones in order 7,46 mm; 7,52 mm; 7,60 mm; 8,52 mm; dan 8,98 mm. 96% of ethanolic extract M. paradisiaca L. skin was able to form radical inhibitory zones at all concentrations of K. pneumoniae growth, but was unable to produce radical inhibitory zones equivalent to the 5µg ciprofloxacin antibiotic sensitive criteria based on CLSI 2018 on the growth of K. pneumoniae.
EDUKASI DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PADA KELUARGA PASIEN RAWAT INAP Wahyuningsih Safitri; Nining Wihastutik; Anis Nurhidayati; Heni Nur Kusumawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.675 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.446

Abstract

Penyakit infeksi merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Upaya untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial adalah dengan menjalankan universal precautian yang salah satunya dengan mencuci tangan pada setiap penanganan pasien di rumah sakit. Edukasi dengan media audio visual lebih menarik dan lebih mudah dipahami dan diharapkan keluarga pasien mempunyai perilaku cuci tangan yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media audiovisual terhadap perilaku cuci tangan pada keluarga pasien. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, menggunakan rancangan penelitian quasi eksperiment dengan Non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pasien sebanyak 98 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan stratified proportionate random sampling. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh edukasi media audiovisual terhadap perilaku cuci tangan pada keluarga pasien rawat inap dengan p value 0,011. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam meningkatkan perilaku kesehatan melalui media audiovisual. Infectious diseases are the main cause of high morbidity and mortality rates in the world. Efforts to prevent the occurrence of nosocomial infections is to carry out universal precautian, one of which is by washing hands in every handling of patients in the hospital. Education with audio visual media is more interesting and easier to understand and it is expected that the patient's family has the correct hand washing behavior. This study aims to determine the effect of education with with audio visual media on hand washing behavior in patients' families.This type of research is quantitative research, using a quasi-experimental research design with Non-equivalent control group design. The population in this study were all patients' families as many as 98 people. Sampling in this study used a stratified proportionate random sampling. Analysis of the data in this study using the Mann-Whitney test. The results showed there was an influence of audio visual media on hand washing behavior in the families of inpatients with a p value of 0.011. The results of this study can be a reference in improving health behavior through audiovisual media.
BEHAVIOR BASED SAFETY SEKTOR INFORMAL BECAK MOTOR DI YOGYAKARTA J Julaikah; Sri Yuni Tursilowati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.359 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.449

Abstract

Peningkatan jumlah pengguna becak motor dan peningkatan eksistensi dimata penumpang Yogyakarta tidak lantas menjadikan dinas perhubungan DIY merekomendasikan becak motor sebagai salah satu angkutan yang berkeselamatan, hal ini dikarenakan beberapa kasus kecelakaan yang menimpa becak motor akibat konstruksi angkutan yang kurang baik dan perilaku pengemudi yang dinilai kurang selamat. Pada tahun 2016 sebuah media nasional mengabarkan bahwa selama kurun waktu 2015 di makasar telah terjadi 13 kasus kecelakaan becak motor yang mengakibatkan 3 orang meninggal dunia. Penelitian ini merupakan penelitian kombinasi (mix method) yang menggunakan desain deskriptif. Metode pengumpulan data kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner secara personal. Sedangkan data kualitatif didapatkan dengan wawancara terstruktur kepada reponden dan observasi untuk checklist kegiatan. Populasi dalam penelitian seluruh anggota Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PMBY) dengan sampel 94 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah komponen Behavior Based Safety (BBS) dan perilaku keselamatan pengemudi becak motor. Analisa data kuantitatif menggunakan Software smart PLS 3.0. hasil uji kuantitatif menunjukkan variabel yang saling berpengaruh yaitu pengetahuan dengan intensi yang memiliki P-value 0,042. Intensi dengan perilaku P-value 0,016. Persepsi dengan perilaku 0,019. Sedangkan variabel yang tidak saling berpengaruh adalah, persepsi dengan intensi 6,057. Pengetahuan dengan persepsi 1.035 dan pengetahuan dengan perilaku 0,374. Sedangkan data pendukung kualitatif menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku keselamatan pengendara becak motor serta minimnya perlengkapan keselamatan yang dimiliki oleh pekerja sehingga perilaku selamat belum dapat diwujudkan. Pengendara bentor yang memiliki pengetahuan yang bagus dan niat yang bagus namun tidak didukung dengan sarana prasarana dan kebijakan keselamatan yang memadai maka tidak akan berperilaku keselamatan yang baik dalam berkendara. There is an increasing number of the motorized pedicab and increasing existence among passengers in Yogyakarta do not necessarily make the Yogyakarta Special Territory (DIY) Transportation Agency recommends the motorized pedicab as one of the safe transports. This is the result of several cases of accidents that happen to the motorized pedicab due to the poor construction and the unsafe behavior among motorized pedicab drivers. The national media in 2006 reported that there were 13 motorized pedicab accidents in 2015 that resulted in 3 deaths. This was a mix method research that applied a descriptive design. Quantitative data collection methods were conducted using a personal questionnaire. Meanwhile, qualitative data was obtained by performing structured interviews with respondents and observations for the activity checklist. The population was all members of the Yogyakarta Motorized Pedicab Association (PMBY) with population 270 and the sample 94 people. The variables included the BBS components and the safety behavior of motorized pedicab drivers. Quantitative data analysis used SmartPLS 3.0 Software. Knowledge with perception showed a P value of 1.035 and knowledge with behavior showed a P value of 0.374. Quantitative test results showed interrelated variables, namely knowledge with the intention that had a P-value of 0.042. Intention variable with the behavior showed a P value of 0.016. Perception with behavior showed a P value of 0.019. Meanwhile, uncorrelated variable was perception with the intention of a P value of 6.057. Knowledge with perceptions showed a P value of a 1.035 and knowledge with behavior showed a P value of 0.374. Meanwhile, qualitative supporting data revealed that there was no correlation between knowledge and safety behavior among motorized pedicab drivers as well as the lack of safety equipment workers had so that safety behaviour cannot be practiced yet. Motorized pedicab drivers with good knowledge and good intentions but are not supported with adequate infrastructure and facilities as well as safety policies will not practice safe driving.
PENGARUH COACHING: SELF HEALING TERHADAP TINGKAT STRES DAN KADAR KORTISOL PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DENGAN HEMODIALISIS Nita Arisanti Yulanda; H Herman
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 2, Juli 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.795 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i2.450

Abstract

Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible yang memerlukan tindakan hemodialisis dan memiliki keterbatasan dalam kehidupannya. Keterbatasan ini mengakibatkan pasien rentan terhadap stres. Salah satu terapi self healing: mind body and spirit menggunakan do’a dan zikir mampu meningkatkan spiritual value dan mempengaruhi peningkatan kepribadian. Terapi ini mampu merubah stres negatif (distres) menjadi stres positif (eustres) dan perubahan respon biologis oleh potensi penurunan kortisol. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh self healing terhadap tingkar stres dan kadar kortisol pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Desain penelitian ini adalah quasy eksperimental (pre post test with control group design). Populasi penelitian adalah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di dua Rumah Sakit yang berbeda di Kalimantan Barat namun memiliki tipe yang sama, yaitu tipe B. Jumlah sampel 40 responden yang terbagi menjadi 2 kelompok (intervensi dan kontrol) masing – masing kelompok penelitian terdapat 20 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen DASS 42 dan pengukuran kadar kortisol dengan Elisa Kit. Hasil uji Independent T-test kedua kelompok pada variabel tingkat stres memiliki hubungan bermakna (p=0,004) sedangkan pada kadar kortisol memiliki hubungan tidak bermakna (p=0,148). Terdapat pengaruh self healing pada tingkat stres pasien hemodialisis. Sebagai seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan juga harus memperhatikan kebutuhan spiritual klien yang mampu menurunkan tingkat stres klien selama perawatan di rumah sakit. Chronic Renal Failure (CRF) is a progressive and irreversible renal function disorder that requires hemodialysis and CRF patients have several life limitation which make them vulnerable to stres. The self healing treatment:mind body and spirit therapy using prayers can increase spiritual value and influence personality improvement so that it changes negative stress (distress) to positive stress (eustress) and changes in biological responses by the effect for decreased cortisol. The purpose of the study was to analyze the effect of self healing on stress level and hemodialysis patient levels of cortisol in chronic renal failure patients. The design of this study is quasy experimental pretest-posttest with control group design. The population was hemodialysis patients in Hospitals Type B in West Kalimantan. The number of sample was 40 respondents who were divided into 2 groups (intervention and control). Purposive sampling technique was used to select the respondents. Data collection used DASS 42 instrument and measurement of cortisol levels. The results of the independent t-test of two groups on the stress level variable had a significant relationship (p = 0.004) whereas on cortisol levels the relationship was not significant (p = 0.148). There is a significant effect of self healing therapy on the stress level of hemodialysis patients. As a nurse in carrying out nursing care must also consider the spiritual needs of clients who are able to reduce the level of client stress during treatment in the hospital.