Articles
434 Documents
ARTERIAL PRESSURE (MAP) PADA LANSIA LAKILAKI DAN PEREMPUAN DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI KASIH SURAKARTA
Yunita Wulandari;
Anita Istiningtyas;
Isnaini Rahmawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (139.154 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i1.334
Penyakit hipertensi merupakan the silent disease karena orang tidak mengetahui dirinya terkena hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Penatalaksanaan nonfarmakologi mulai dikembangkan, salah satunya dengan keperawatan komplementer. Keperawatan komplementer merupakan pendamping dari penatalaksanaan medis. Okra merupakan jenis sayuran yang kaya akan mineral. Mineral ini berguna untuk mengontrol denyut jantung dan diharapkan dapat menurunkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan pengaruh infused water okra terhadap Mean Arterial Pressure (MAP) pda lansia laki-laki dan perempuan di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta. Jenis penelitian merupakan penelitian kuantitatif jenis pre-experimental design dengan rancangan 2 group post test design only. Sampel pada penelitian adalah 15 lansia hipertensi yang diambil dengan teknik purposive sampling. Infused water okra dibuat dengan perbandingan 1 buah (13 gram) okra direndam dengan 100cc air matang, kemudian didiamkan selama1-2 jam, diberikan selama 14 hari berturut-turut (+ 200cc). Tekanan darah diukur dengan menggunakan sphygnomanometer tipe jarum dengan merk ABN. Analisa data menggunakan Uji T tidak berpasangan. Hasil uji T-tidak berpasangan diperoleh nilai signiÞ kan 0,852, dimana p > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak atau tidak ada perbedaan pengaruh infused water okra terhadap Mean Arterial Pressure (MAP) pada lansia laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan acuan untuk intervensi keperawatan mandiri yang bisa dilakukan pada area home care atau solusi saat penyuluhan kesehatandi masyarakat sebagai terapi modalitas untuk pasien hipertensi. Hypertension is the silent disease because people do not know that they have hypertension before checking their blood pressure. Management of non-pharmacology began to be developed, one of which was complementary nursing. Complementary nursing is a companion of medical management. okra is a type of vegetable that is rich in minerals. This mineral is useful for controlling the heart rate and is expected to reduce blood pressure. This study aims to analyze the differences in the effect of infused water okra on Mean Arterial Pressure (MAP) in elderly men and women in the Dharma Kasih Surakarta Nursing Home. This research is a quantitative type pre-experimental design with 2 group post test design only. The sample in this study were 15 elderly hypertension taken by purposive sampling technique. Infuse water okra is made with a ratio of 1 fruit (13 grams) okra soaked with 100cc boiled water, then left for 1-2 hours, given for 14 consecutive days (+ 200cc). Blood pressure is measured using a needle type sphygnomanometer with the ABN brand. Data analysis using unpaired T test. The results of the unpaired T-test obtained a signiÞ cant value of 0.852, where p> 0.05, Ho is accepted and Ha is rejected or there is no difference in the effect of infused water okra on Mean Arterial Pressure (MAP) in elderly men and women. The results of this study are expected to provide a reference for independent nursing interventions that can be done in the area of home care or solutions when health education in the community as a therapy modality for hypertensive patients.
GAMBARAN TINGKAT ASUPAN GIZI ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI 06 SALATIGA
Kristiawan P.A. Nugroho;
Theresia P.E. Sanubari;
Stephanie Rosalina
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (129.06 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i1.335
Anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang mengalami proses tumbuh kembang secara pesat, sehingga diperlukan asupan gizi yang adekuat dan sesuai untuk mendukung proses tersebut. Apabila anak tidak mendapatkan asupan gizi yang adekuat dan sesuai kebutuhan, maka dapat memicu masalah gangguan gizi dan risiko penyakit lainnya yang dapat berpengaruh buruk secara berkelanjutan pada pertumbuhan dan perkembangan anak hingga dewasa kelak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan asupan gizi anak usia sekolah di SD Negeri 06 Salatiga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data observasional, pengukuran IMT, dan food record. Subjek penelitian adalah siswa sekolah dasar kelas 4 – 5 yang dipilih secara acak (random sampling) dan mengisi kuesioner food record 3 hari berurutan secara lengkap. Aplikasi nutrisurvey dan WHO Anthro Plus digunakan untuk menganalisis data asupan gizi dan IMT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan gizi responden tergolong kurang dari AKG (Angka Kecukupan Gizi), yakni <80% , meskipun sebagian besar responden berstatus gizi normal. Makanan yang kerap dikonsumsi oleh responden adalah makanan dengan tinggi kalori dan tinggi gula. School-age children are an age group that is experiencing a rapid growth and development, so the adequate and appropriate nutritional intake is needed to support that process. If the child does not get the nutritional intake as they needed, it can trigger nutritional problems and the risk of the other diseases that can adversely affect the growth and development of children to adulthood later. The purpose of this study is to describe school-age children’s nutritional intake in 06 States Elementary School Salatiga. The method that used in this research was decriptive quantitative research method with observational data collection, BMI measurements and food record questionnaire. The subjects studied were elementary school students in grades 4-5 who were randomly selected and have Þ lled in a complete 3-day food record questionnaire. Nutrisurvey and WHO Anthro Plus software are used to analyzed nutritional intake data and BMI. This study shows that respondents’ nutritional intake was less than the supposed Recommended Dietary Allowances (RDA), which is <80%, even though their nutritional status were normal. Food that is frequently consumed by respondents is high-calorie and high-sugar food.
HUBUNGAN EFIKASI DIRI PEMBERIAN MAKAN OLEH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI POSYANDU BALITA PERUMAHAN SAMIRUKUN PLESUNGAN KARANGANYAR
Maula Mar'atus Solikhah;
Nurul Devi Ardiani
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (143.252 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i1.336
Sampai saat ini masalah gizi pada balita masih merupakan tantangan yang harus diatasi dengan serius. Prevalensi gizi buruk diatas rerata nasional (5,4%) di 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota di Indonesia. Faktor penyebab utama kurang gizi pada balita yaitu disebabkan kurangnya asupan makanan bergizi dalam tubuh balita baik secara kualitas dan kuantitas selain itu juga efikasi diri ibu dalam pemberian makan balita dan perilaku ibu dalam pola asuh makan balita. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan efikasi diri pemberian makan oleh ibu dengan status gizi balita Penelitian menggunakan desain cross sectional. Sejumlah 47 orang tua balita diminta mengisi kuesioner efikasi diri dalam pemberian makan dan sekaligus akan dilakukan penimbangan pada balitanya. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan efikasi diri ibu dalam pemberian makan dengan status gizi balita (p value 0.031, : 0.05). responden yang memiliki efikasi diri yang kurang berisiko 0,091 kali memiliki status gizi balita yang tidak normal dibandingkan dengan responden yang memiliki efikasi diri yang baik (CI 95%; OR: 0,010-0,801). Penelitian ini merekomendasikan program peningkatan efikasi diri ibu dalam pemberian makan balita sebagai upaya perbaikan gizi balita. Nutritional problems in infants are a challenge that must be taken seriously. The prevalence of malnutrition is above the national average (5.4%) in 21 provinces and 216 districts/cities in Indonesia. The main causes of malnutrition in a toddler are lack of nutritious food intake in toddlers’ bodies both in quality and quantity. Besides that, maternal self-efficacy in toddler feeding and mother’s behaviour in parenting eating toddlers. The aim of the study was to identify the correlation of maternal self-efficacy in toddler feeding with the toddler’s nutritional status. The study used a cross-sectional design. There were 47 parents who were asked to fill out a questionnaire about maternal self-efÞ cacy in toddler feeding and at the same time carried out of weighing a toddler’s weight. The results showed a correlation of maternal self-efficacy in toddler feeding and the toddler’s nutritional status (p-value 0.031, : 0.05). Respondents who had less risk of self-efficacy 0.091 times had abnormal toddler’s nutritional status who compared to respondents who had good self-efficacy (95% CI; OR: 0.010-0.801). This study recommends a program to improve maternal self-efficacy in toddler feeding as an effort to improve toddler nutrition.
PENGARUH TERAPI RELAKSASI GENGGAM JARI DAN NAFAS DALAM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARTASURA
Wahyu Rima Agustin;
Sylvia Rosalina;
Nurul Devi Ardiani;
Wahyuningsih Safitri
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.526 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i1.337
Hipertensi merupakan suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang sering terjadi pada masyarakat. Salah satu penanganan dalam penurunan tekanan darah adalah menggunakan terapi relaksasi genggam jari dan nafas dalam. Terapi relaksasi genggam jari dan nafas dalam merupakan terapi yang dapat menenangkan jiwa dan tubuh sehingga dapat menimbulkan efek relaks dalam tubuh. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi genggam jari dan nafas dalam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kartasura. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian pre eksperimen design dengan One Group Pre-Post test design. Sampel penelitian adalah 18 orang dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan di wilayah Kerja Puskesmas Kartasura. Analisis yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukan bahwa tekanan darah sistole dan diastole menunjukan penurunan yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan terapi relaksasi genggam jari dan nafas dalam dimana P Value Sistole = 0,000 dan P Value Diastole = 0,001. Hasil penelitian <0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh terapi relaksasi genggam jari dan nafas dalam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertesi di wilayah kerja Puskesmas Kartasura. Hypertension is a blood circulation system disorder, which is frequently encountered by community. One of the interventions to decrease blood pressure is handheld Þ nger relation and deep breathing therapy. This therapy can soothe soul and body so that the relaxing effects in the body occur. The objective of this research is to investigate the effect of handheld finger relaxation and deep breathing therapy on the blood pressure decrease of the hypertension sufferers in the work region of Community Health Center of Kartasura. This research used the quantitative pre-experimental research method with one group pre-and post-test design. It was conducted in the work region of Community Health Center of Kartasura. Purposive sampling technique was used to determine its samples. The samples consisted of 18 hypertension sufferers. The data of the research were analyzed by using the Wilcoxon’s Test.The result of the research shows that the systole and diastole blood pressures decreased significantly prior to and following the handheld finger relaxation and deep breathing therapy where the p-value of the systole = 0.000, and that of the diastole = 0.001. Thus, there was an effect of the handheld Þ nger relaxation and deep breathing therapy on the blood pressure decrease of the hypertension sufferers in the work region of Community Health Center of Kartasura.
PENGARUH KOMPRES JAHE MERAH TERHADAP PENURUNAN NYERI OSTEOARTRITIS PADA LANSIA
Wahyuningsih Safitri;
Ratih Dwi Lestari Puji Utami
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.084 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i1.338
Nyeri yang dialami lansia dengan osteoartritis sering kambuh dan resisten terhadap analgetik sehingga diperlukan terapi alternatif untuk mengurangi nyeri. Jahe merah adalah jahe yang sangat cocok untuk dijadikan herbal dan lebih banyak digunakan sebagai obat, karena kandungan minyak atsiri dan oleoresinnya paling tinggi dan mengandung gingerol diduga dapat memblok produksi prostaglandin sehingga dapat menurunkan nyeri. Penelitian ini berjudul pengaruh kompres jahe merah terhadap penurunan nyeri osteoartritis pada lansia. Metode penelitian adalah pre-eksperiment dengan one group pre-test dan post-test design with control group. Pengumpulan data dilakukan pada saat sebelum dan sesudah pemberian intervensi kompres jahe merah. Pengambilan sampel dengan purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Alat penelitian ini terdiri kompres jahe merah dan lembar observasi nyeri pre test dan post test. Analisa data dengan menggunakan Paired-Sample T Test karena data berdistribusi normal. Hasil menunjukkan ada pengaruh pemberian kompres jahe merah terhadap penurunan nyeri osteoartritis pada lansia dengan p value 0,006 dan rata-rata penurunan skala nyeri 3,16. Hasil uji Mann-Whitney didapatkan p value 0,000 rata-rata penurunan nyeri pada kelompok intervensi 2,26 dan kelompok kontrol 1,16, artinya ada perbedaan pemberian kompres jahe merah terhadap penurunan nyeri osteoartritis pada lansia. Pain experienced by elderly people with osteoarthritis often relapse and is resistant to analgesics so alternative therapies are needed to reduce pain. Red ginger is a ginger that is very suitable to be used asan herb and is more widely used as medicine, because the content of essential oils and oleoresin is the highest and contains gingerol which is thought to block the production of prostaglandins so that it can reduce pain. This study entitled the effect of red ginger compresses on reducing osteoarthritis pain in the elderly. The research method is pre-experiment with one group pre-test and post-test design with control group. Data collection was carried out before and after the intervention of red ginger compresses. Sampling with purposive sampling is a technique of determining samples with certain considerations. This research tool consisted of red ginger compresses and pain observation sheets pre test and post test. Analyze data using Paired-Sample T Test because data is normally distributed. The results showed there was an effect of giving red ginger compresses to the reduction of osteoarthritis pain in the elderly with p value 0.006 and the average reduction in pain scale 3,16. The Mann-Whitney test results obtained p value 0,000 the average reduction in pain in the intervention group 2,26 and the control group 1,16, meaning that there is a difference in the provision of red ginger compresses to decrease osteoarthritis pain in the elderly.
KEBIASAAN MAKAN, AKTIVITAS FISIK DAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) MAHASISWA S-1 UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
Aisyah Nurkhopipah;
Ari Natalia Probandari;
Sapja Anantanyu
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 9 No. 1, Januari 2018
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.783 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v9i1.342
Bagian penting dari mahasiswa adalah mereka mengalami masa transisi kuat dengan perubahan lingkungan yang ditandai dengan pola makan yang tidak sehat dan kurang aktivitas fisik yang menempatkan mahasiswa pada risiko yang lebih besar dari kenaikan berat badan. Kelebihan berat badan dan obesitas terjadi pada mahasiswa, menurut Centers for Disease Control (CDC), prevalensi obesitas pada mahasiswa laki-laki adalah 29,5% dan pada mahasiswa perempuan sebesar 32,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kebiasaan makan dan aktivitas fisik dengan Indeks Massa Tubuh mahasiswa S-1 UNS. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Subjek penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi S-1 UNS pada tahun 2016 yaitu sejumlah 24.826 orang. Data dianalisis dengan chi square dan regresi logistic multinomial. Hasil uji korelasi chi square, menunjukkan bahwa kebiasaan makan tidak berhubungan secara signifikan dengan IMT Normal-Kurus ataupun IMT Normal-Gemuk (p = 0,193 & p = 0,446), sedangkan aktivitas fisik mempunyai hubungan yang signifikan dengan IMT Normal-Gemuk (p = 0,029),tetapi tidak berhubungan dengan IMT normal-kurus (p=0,655). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan IMT normalkurus ataupun IMT normal-gemuk. Tidak ada hubungan antara aktifitas fisik dengan IMT normal-kurus namun terdapat hubungan yang signifikan antara variable aktivitas fisik dengan IMT normal-gemuk. The important part of the students is that they experience a strong transition period with environmental changes characterized by an unhealthy diet and lack of physical activity that puts students at greater risk of weight gain. Overweight and obesity occurs in college students, according to the Centers for Disease Control (CDC), the prevalence of obesity in male students is 29.5% and in female students 32.6%. The purpose of this study was to analyze the relationship between eating habits and physical activity with the body mass index of S-1 UNS students. Type of observational analytic research with Cross Sectional approach. The subjects of this study are all S-1 students of UNS program in 2016 that is 24,826 people. Data were analyzed by chi square and multinomial logistic regression. The result of chi square correlation test showed that Eating Habits did not correlate significantly with Normal BMI - Thin or Normal BMI - Overweight (p = 0,193 & p = 0,446), whereas Physical Activity had significant relation with Normal BMI – Overweight (p = 0,029 ), But not related to normal BMI-thin (p = 0.655). Conclusion of the research is there was no significant association between eating habits with normal BMI-thin or normal-fat BMI. There was no relationship between physical activity and normal BMI-but there was a significant relationship between physical activity variables and normal-fat BMI.
HUBUNGAN SELF EFFICACY DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA DI RSUD SUKOHARJO
Sahuri Teguh Kurniawan;
Intan Sari Andini;
Wahyu Rima Agustin
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.063 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i1.346
Hemodialisa akan mempengaruhi keadaan psikologis pasien. Kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa akan cenderung menurun sebagai dampak tindakan hemodialisa.Self efficacy diterapkan sebagai upaya pasien dalam menjalani pengobatan untuk meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan self efficacy dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 44 orang. Hasil uji analisa menggunakan kendall tau didapatkan nilai p value 0,003. Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan self efficacy dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa. Hemodialysis affects the patient’s psychological state. The quality of life of patients with chronic renal failure who undergo hemodialisa therapy will tend to decrease as a result of hemodialysis action. Self efficacy is applied as the patient’s efforts in undergoing treatment to improve the quality of life. This study aims to analyze the relationship of self efficacy with the quality of life of patients with chronic renal failure who undergo hemodialysis therapy. This type of research is quantitative with Cross Sectional design. Sampling technique purposive sampling with the number of samples of 44 people. The result of analysis test using kendall tau got p value 0,003. The conclusion of this research is there is a relationship of self efficacy with quality of life of chronic renal failure patient who underwent hemodialysis therapy.
PEMANFAATAN VCO (Virgin Coconut Oil) SEBAGAI BAHAN PENURUN KADAR GLUKOSA PADA NASI SEBAGAI MAKANAN PENDERITA DIABETIS MELITUS
S Suharyanto;
Rian Dianto
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 2, Juli 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.217 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i2.348
Makanan penduduk Indonesia sebagaian besar adalah nasi, disamping sagu dan jagung. Penderita Diabetus Melitus, nasi merupakan sumber glukosa yang pantas diwaspadai sehingga asupan nasi harus dibatasi. Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos mucifera L) tua segar yang diolah pada suhu 100C-150C dan dimasak tidak sampai matang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan kadar glukosa pada nasi yang dicampur VCO (Virgin Cocot Oil). Pada penelitian ini sampel dari nasi tanpa penambahan VCO dibandingkan dengan nasi dengan penambahan VCO 3%, 4%, dan 5% dari jumlah beras yang akan dinanak. Uji kuatitatif penentuan Glukosa menggunakan metode Anthrone Sulfat sedang analisisnya dengan metode Spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan kadar rata-rata glukosa pada sampel nasi tanpa penambahan VCO sebesar 30,65%b/b, kadar rata-rata glukosa pada sampel nasi yang ditambahkan VCO dengan kadar 3% sebesar 28,46%b/b, kadar rata-rata glukosa pada sampel nasi yang ditambahkan VCO dengan kadar 4% sebesar 28,31%b/b, kadar rata-rata glukosa pada sampel nasi yang ditambahkan VCO dengan kadar 5% sebesar 18,78%b/b. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar Glukosa nasi terbaik adalah nasi yang ditambah VCO kadar 5%b/b. The majority of Indonesian population's food is rice, besides sago and corn. Diabetus Melitus sufferers, rice is a source of glucose that must be watched out so that rice intake must be limited. Virgin Coconut Oil (VCO) is oil derived from fresh old coconut (Cocos mucifera L) which is processed at a temperature of 100C-150C and not cooked until cooked. The purpose of this study was to determine the decrease in glucose levels in rice mixed with VCO (Virgin Cocot Oil). In this study samples from rice without the addition of VCO were compared with rice with the addition of VCO 3%, 4%, and 5% of the amount of rice to be cooked. Quantitative testing of Glucose determination using the Anthrone Sulfate method is being analyzed using the Spectrophotometry method. The results showed that the average glucose level in the rice sample without the addition of VCO was 30.65% b / b, the average glucose level in the rice sample added with VCO at 3% was 28.46% b / b, the average level The average glucose in the rice sample which was added by VCO at 4% level was 28.31% b / b, the average glucose level in the rice sample added with VCO at 5% level was 18.78% b / b. From the results of the study it can be concluded that the best rice glucose level is rice which is added to the VCO level of 5% b / b.
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI PADA KADER KESEHATAN
Putri Halimu Husna;
Endang Puji Astuti;
Antik Istiqomah
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 2, Juli 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (148.16 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i2.349
Kanker payudara merupakan penyakit kanker pada perempuan yang sering menyebabkan kematian dikarenakan keterlambatan deteksi. Keterlambatan deteksi dini salah satunya disebabkan oleh tingkat pengetahuan yang buruk tentang deteksi dini kanker payudara. Deteksi dini yang paling mudah dilakukan di rumah adalah pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan. Penelitian ini menggunakan metode Quasy Experiment dengan pendekatan One Group Pretest posttest. Populasi penelitian ini adalah kader kesehatan di puskesmas wonogiri II sebanyak 100 orang. Sampel penelitian diambil menggunakan metode pusposive sampling sehingga sampel berjumlah 68 responden. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat pengetahuan responden sebelum pendidikan kesehatan adalah sebesar 26.40 ± 2.819 dan rata-rata pengetahuan responden setelah pendidikan kesehatan adalah sebesar 28.21 ± 2.794 dengan nilai p sebesar 0.000 (p<0.001). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan kader kesehatan. Hasil ini menunjukkan pentingnya pendidikan kesehatan tentang SADARI terhadap peningkatan pengetahuan sehingga dapat mencegah angka kejadian kanker payudara sedini mungkin. Breast cancer was a cancer in women that often causes death due to late detection. One of the delays in early detection is caused by a poor level of knowledge about early detection of breast cancer. Early detection was the easiest to do at home was self breast examination (BSE). This study aimed to determine the effect of health education on the level of knowledge.This study used the Quasy Experiment method with the One Group Pretest posttest approach. The population of this study was 100 health cadres in the Wonogiri II health center. The research sample was taken using pusposive sampling method so that the sample amounted to 68 respondents. The level of knowledge is measured using a questionnaire that has been tested for validity dan reliability. Data analysis using t-test.The results showed that the average level of knowledge of respondents before health education was 26.40 ± 2.819 dan the average knowledge of respondents after health education was 28.21 ± 2.794 with a p value of 0.000 (p <0.001). The conclusion of this study shows that there is a significant effect of health education on the level of knowledge of health cadres. These results indicate the importance of health education about BSE on increasing knowledge so as to prevent the incidence of breast cancer as early as possible.
ANALISIS KEBUTUHAN BAHASA INGGRIS PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
Bambang Abdul Syukur;
Dedep Nugraha
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 10 No. 2, Juli 2019
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (191.361 KB)
|
DOI: 10.34035/jk.v10i2.376
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan materi pembelajaran ESP pada mahasiswa keperawatan. Untuk mengetahui kebutuhan tersebut, perlu dilakukan needs analysis agar mahasiswa mendapatkan materi yang diperlukan untuk mendukung proses belajar mereka pada saat ini atau karir yang akan datang. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah mahasiswa keperawatan kelas P17C yang sedang mengambil mata kuliah Bahasa Inggris. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Random Sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan teknik deskriptif dalam bentuk jumlah dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan mahasiswa keperawatan terhadap mata kuliah Bahasa Inggris ESP sangat beragam sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka memerlukan Bahasa Inggris bukan saja untuk kebutuhan mereka saat ini, tetapi juga untuk kepentingan karir profesional yang akan datang. Oleh karena itu disarankan agar pengajar Bahasa Inggris ESP atau pihak yang berkepentingan dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa, serta selalu melakukan analisis kebutuhan karena kebutuhan pembelajar ESP juga selalu berubah. This study is aimed at identifying and analyzing the needs of ESP learning material in learning English at diploma nursing students. To find out the correct reference, needs analysis is urged to be done to obtain information about what the students really need to support their learning process at the present time or in the future career. This study was conducted by using qualitative approach and descriptive method. The samples were students from P17C Diploma Nursing Study Program of STIKes Kusuma Husada Surakarta who are currently taking English subject and the sampling technique used was purposive random sampling. Meanwhile, a questionnaire as the instrument for this study was arranged in closed-ended form. The data analysis was descriptive analysis in the form of number and percentage. The study revealed that the needs of nursing students on English subject are very diverse and it can be concluded that they need English not only for their current needs as they can communicate in English to support their education in nursing field, but also for their future professional career. Therefore, it is recommended that ESP English teachers or other related parties should accommodate the needs of these students. In addition, it is suggested to always conduct needs analysis since the needs of ESP learners are constantly changing.