cover
Contact Name
Taufik Muhammad Fakih
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrf@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Farmasi
ISSN : 28083121     EISSN : 27986292     DOI : ttps://doi.org/10.29313/jrf.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Farmasi Jurnal Riset Farmasi (JRF) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian farmasi. JRF ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6292 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 100 Documents
Potensi Antiinflamasi Ekstrak Etanol Biji Kurma Ajwa terhadap Tikus Wistar Jantan Maulana, Muhammad Adril; Fetri Lestari
Jurnal Riset Farmasi Volume 3, No. 1, Juli 2023, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v3i1.1795

Abstract

Abstract. Inflammation is the body's response to damage in tissues which is characterized by symptoms such as redness, heat, swelling, pain, and loss of function. The ajwa date palm plant (Phoenix dactylifera L.) has secondary metabolite compounds, one of which is flavonoids and phenolic compounds that have anti-inflammatory activity. Based on this background, this study aims to determine the anti-inflammatory potential of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) in male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar). Samples were extracted by cold extraction using the maceration method. Then a standard solution was made with a concentration of ethanol extract of ajwa date palm seeds of 100, and 500 mg/Kg.BB. The method used for anti-inflammatory testing is the paw edema method and the results of the data obtained were analyzed by the Langford method. Then the results of statistical analysis of normality test and homogeneity test and non-parametric test. The results showed that ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory activity by comparing the percentage of udem inhibition at the 60th minute, namely a dose of 100 mg/Kg.BB of 12, 1271% and a dose of 500 mg/Kg.BB of 3.3082% with the comparison, namely piroxicam tablets 20 mg of 22.1153%. Based on the results obtained, it can be concluded that the ethanol extract of ajwa date palm seeds (Phoenix dactylifera L.) has anti-inflammatory potential against male wistar rats (Rattus norvegicus strain wistar) as seen from the percentage value of udem and percentage of udem inhibition. Abstrak. Inflamasi merupakan respon tubuh terhadap adanya kerusakan dalam jaringan yang dimana ditandai dengan gejala-gejala seperti kemerahan, terasa panas, bengkak, nyeri, dan hingga kehilangan fungsi. Pada tanaman tumbuhan kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki senyawa metabolit sekunder, salah satunya yaitu flavonoid serta senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antiinflamasi pada biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar). Sampel diekstraksi dengan ekstraksi cara dingin menggunakan metode maserasi. Kemudian dibuat larutan baku dengan konsentrasi ekstrak etanol biji kurma ajwa sebesar 100, dan 500 mg/Kg.BB. Metode yang digunakan untuk pengujian antiinflamasi yaitu metode edema paw dan hasil data yang didapatkan dianalisis dengan metode langford. Kemudian dilakukan hasil analisis statistik uji normalitas dan uji homogenitas serta pengujian secara non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki aktivitas antiinflamasi dengan membandingkan persentase inhibisi udem pada menit ke-60 yaitu dosis 100 mg/Kg.BB sebesar 12, 1271% dan dosis 500 mg/Kg.BB sebesar 3,3082% dengan pembanding yaitu piroksikam tablet 20 mg sebesar 22,1153%. Berdasarkan hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki potensi antiinflamasi terhadap tikus wistar jantan (Rattus norvegicus strain wistar) yang dilihat dari nilai persentase udem dan persentase inhibisi udem.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Lengkuas Merah terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Zulfa Azmalah
Jurnal Riset Farmasi Volume 3, No. 1, Juli 2023, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v3i1.1808

Abstract

Abstract. The skin is the outermost organ of the body that functions as a body protector against the environment. Facial skin is one that is prone to skin health problems such as acne which can be caused by oil glands, skin problems such as aging and enlarged skin pores. Acne is a skin disease that often appears in humans, especially on the face. Acne is inflammation accompanied by blockage of the ducts of the skin and hair (polysebaceous) oil glands. In Indonesia, the prevalence rate for acne sufferers is 80-85% for adolescents aged 15-18 years, 12% for women aged <25 years and 3% for those aged 35-44 years (Madelina W, 2018). Acne is more common in women than men. The causes of acne can be caused by genetic factors, endorphins, psychology, weather, stress, food, cosmetics and bacterial infections. This research was conducted by agar diffusion method using wells with Propionibacterium acnes and Staphylococus epidermidis bacteria. Bacteria were treated with ethanol extract of red galangal leaves 2%, 4%, 6%, 8% and 10%. The test parameters can be seen from the formation of clear zones around the wells. As a result, the ethanol extract of red galangal leaves was proven to have antibacterial activity against the tested bacteria. The minimum concentration on Propionibacterium acnes is 2% and on Staphylococus epidermidis is 6%. Abstrak. Kulit adalah organ terluar tubuh yang berfungsi sebagai pelindung tubuh terhadap lingkungan. Kulit wajah merupakan salah satu yang rentan terkena masalah kesehatan kulit seperti timbulnya jerawat yang dapat disebabkan karena adanya kelenjar minyak, masalah kulit seperti penuaan dan pori kulit yang membesar. Jerawat merupakan salah satu penyakit kulit yang sering muncul pada manusia, terutama pada bagian wajah. Jerawat merupakan peradangan yang disertai dengan penyumbatan saluran kelenjar minyak kulit dan rambut (polisebasea). Di Indonesia tercatat tingkat prevalensi penderita jerawat adalah 80-85% pada remaja dengan rentan usia 15-18 tahun, 12% pada wanita usia <25 tahun dan 3% pada usia 35-44 tahun (Madelina W, 2018). Jerawat sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Penyebab timbulnya jerawat dapat disebabkan karena faktor genetik, endorfin, psikis, cuaca, stress, makanan, kosmetika dan infeksi bakteri. Penelitian ini dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan sumuran dengan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococus epidermidis. Bakteri diberikan perlakuan dengan ekstrak etanol daun lengkuas merah 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%. Parameter pengujian dilihat dari terbentuknya zona bening di sekitar sumuran. Hasilnya, ekstrak etanol daun lengkuas merah terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji. Konsentrasi terkecil ekstrak yg membentuk zona bening pada bakteri Propionibacterium acnes adalah 2% dengan rata-rata diameter zona hambat 15,25 mm & +- SD 2,15 sedangkan pada bakteri Staphylococus epidermidis konsentrasi terkecil ekstrak yg membentuk zona bening yaitu 6% dengan rata-rata diameter zona hambat 17,33 & +-SD 2,05
Uji In Silico Aktivitas Senyawa Kumarin Turunannya Terhadap Enzim Alfa Glukosidase Antidiabetes Syifa Prahayati; Bertha Rusdi
Jurnal Riset Farmasi Volume 3, No. 1, Juli 2023, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v3i1.2343

Abstract

Abstract. Alpha glucosidase enzyme is one of the treatment targets for diabetes mellitus. Coumarin compounds contained in the avocado plant (Persea americana Mill.). known to have antidiabetic effects in vitro. These compounds are thought to have antidiabetic effects in vitro. This compound is thought to have an antidiabetic effect by inhibiting the alpha glucosidase enzyme, but this hypothesis has not been proven. Therefore, this study tested coumarin compounds and their derivatives, namely umbelliferone, scoparon, scopaletin, fraxetin, esculin, osthole, psoralen, rutamarin, decursinol, decursidin, edgeworin, daphnoretin, and edgeworoside c, against the alpha-glucosidase enzyme receptor using molecular docking. in silico. This study aims to determine the physicochemical parameters, affinity, and toxicity of compounds with the most potential as antidiabetics. Parameters carried out identified the physicochemical properties of the test compounds using SwissADME software and Scibio-iitd.res.in. Then macromolecular preparation was carried out using the BIOVIA Discovery Studio 2021 software. Next, the docking method was validated and the docking method simulated using the MGLTools 1.5.6 software with AutoDock Tools 4.2. The results obtained using molecular docking were then visualized using the BIOVIA Discovery Studio 2021 software. The toxicity test was carried out using Toxtree version 3.1.0. The physico-chemical parameters show that the lipophilicity, molecular weight, molar reactivity, and hydrogen bonds show that coumarin compounds and their derivatives meet the requirements of Lipinski's Rule of Five, which means that these compounds are predicted to be absorbed and can bind to target receptors. The results of molecular docking of coumarin compounds and their derivatives have an affinity for alpha glucosidase receptors. The compound that has the best affinity is edgeworoside c with a bond free energy value of -8.91 kcal/mol and an inhibition constant of 0.29255 μmolar. The toxicity results obtained were that all the tested compounds were included in the toxicity class III, which means that at high concentrations safety in use is not guaranteed. Then all coumarin test compounds and their derivatives were neither carcinogenic nor mutagenic. Abstrak. Enzim alfa glukosidase adalah salah satu target pengobatan diabetes mellitus. Senyawa Kumarin yang terkandung dalam tanaman alpukat (Persea americana Mill.). diketahuo memiliki efek antidiabetes secara in vitro. Senyawa ini diperkirakan memiliki efek antidiabetes secara in vitro. Senyawa ini diperkirakan memiliki efek antidiabetes dengan menghambat enzim alfa glukosidase, namun hipotesa ini belum dibuktikan. Maka, penelitian ini dilakukan pengujian senyawa kumarin dan turunannya yaitu senyawa umbelliferone, scoparon, scopaletin, fraxetin, esculin, osthole, psoralen, rutamarin, decursinol, decursidin, edgeworin, daphnoretin, dan edgeworoside c, terhadap reseptor ezim alfa gkukosidase dengan menggunakan molecular docking secara in silico. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui parameter fisikokimia, afinitas, dan toksisitas senyawa yang paling berpotensi sebagai antidiabetes. Parameter yang dilakukan mengidentifikasi sifat fisikokimia senyawa uji menggunakan software SwissADME dan Scibio-iitd.res.in. kemudian dilakukan Preparasi makromolekul menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2021. Selanjutnya, dilakukan validasi metode docking dan simulasi metode docking dengan software MGLTools 1.5.6 dengan AutoDock Tools 4.2. Hasil yang diperoleh menggunakan molecular docking kemudian divisualisasikan dengan menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2021. Uji toksisitas dilakukan menggunakan Toxtree versi 3.1.0. Pada parameter fisiko kimia menunjukan bahwa lipofilisitas, berat molekul, reaktivitas molar, dan ikatan hidrogen bahwa senyawa kumarin dan turunanya memenuhi persyaratan Lipinski’s Rule of Five yang artinya senyawa tersebut diprediksi dapat diabsorpsi dan dapat berikatan dengan reseptor target. Hasil penambatan molekular dari senyawa kumarin dan turunannya memiliki afinitas terhadap reseptor alfa glukosidase. Senyawa yang memiliki afinitas paling baik yaitu senyawa edgeworoside c dengan nilai energi bebas ikatan -8,91 kkal/mol dan konstanta inhibisi 0,29255 μmolar. Hasil toksisitas yang diperoleh adalah seluruh senyawa uji termasuk ke dalam toksisitas kelas III yang artinya pada konsentrasi yang tinggi tidak dijamin keamanan dalam penggunaannya. Kemudian seluruh senyawa uji kumarin dan turunnya tidak bersifat karsinogenik maupun mutagenik.
Penelusuran Pustaka Tanaman yang Berpotensi Sebagai Antibakteri Untuk Penyakit Infeksi Saluran Kemih Kenny Utami Prameswari
Jurnal Riset Farmasi Volume 3, No. 1, Juli 2023, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v3i1.2360

Abstract

Abstract. Urinary Tract Infection is a disease that has a fairly high prevalence in Indonesia. The common treatment for this disease is using antibiotics. However, uncontrolled and irrational use causes resistance to these antibiotics. Thus, medicinal plants that have the potential to inhibit UTI-causing bacteria can be used as an alternative to reduce the occurrence of resistance to these antibiotics. MIC value (Minimum Inhibitory Concentration) is a parameter of plants that have potential. The results of the literature search show that there are several plants that have the potential to be antibacterial for UTIs, namely Garlic (Allium sativum), Fennel (Foeniculum vulgare mill), Seribu Leaf (Achillea mille folium) Horse Chestnut (Aesculus hippocastanum L.), Parsley ( Petroselinum crispum), Rosemary (Rosmarinus officinalis), Rosella (Hibiscus sabdariffa), Syrian Rue (Peganum harmala L.), Horsetail Ferns (Equisetum ramosissimum Desf. Stem), Galunggang (Sida acuta), Phyllanthus amarus, Phyllanthus muellerianus, and Cumin White (Cuminum cyminum). Abstrak. Penyakit Infeksi Saluran Kemih merupakan penyakit yang memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia. Pengobatan umum yang dilakukan untuk menangani penyakit tersebut adalah menggunakan antibiotik. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dan tidak rasional menyebabkan resistensi terhadap antibiotik. Sehingga, tanaman-tanaman obat yang berpotensi untuk menghambat bakteri penyebab ISK dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi terjadinya resistensi. Nilai KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) merupakan parameter dari tanaman yang memiliki potensi. Hasil dari penelusuran pustaka menunjukkan bahwa terdapat beberapa tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri untuk penyakit ISK yaitu Bawang Putih (Allium sativum), Berangan Kuda (Aesculus hippocastanum L. ), Rosemari (Rosmarinus officinalis), Galunggang (Sida acuta), Phyllanthus amarus, Phyllanthus muellerianus, dan Jintan Putih (Cuminum cyminum).
Kajian Pengaruh Polimorfisme CYP4F2 rs2108622 terhadap Pemberian Dosis Warfarin Muhammad Adliansyah Prawiratama Hidayat; Miswar Fattah
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1171

Abstract

Abstract. Warfarin is an oral anticoagulant drug indicated for the treatment of thromboembolism. Warfarin has a narrow therapeutic index, so care must be taken in determining the dose of warfarin for the patient. The effect of anticoagulant therapy produced by warfarin in individuals may vary due to the influence of the CYP4F2 polymorphism rs2108622 which causes changes in the C > T allele. and the genomic database from Ensembl. The results showed that individuals with the CYP4F2 polymorphism rs2108622 required a higher dose of warfarin than the normal allele. In addition, the frequency of the CYP4F2 rs2108622 polymorphism in Asian ethnicities is low. From the results obtained, it can be concluded that the CYP4F2 polymorphism strongly influences the dose of warfarin and the frequency of the polymorphism in Asia is low. Abstrak. Warfarin merupakan obat antikoagulan oral yang diindikasikan untuk terapi tromboembolisme. Warfarin memiliki indeks terapeutik yang sempit sehingga dibutuhkan kecermatan dalam menentukan dosis warfarin untuk pasien. Efek terapi antikoagulan yang dihasilkan oleh warfarin pada individu dapat bervariasi yang disebabkan adanya pengaruh dari polimorfisme CYP4F2 rs2108622 yang menyebabkan perubahan alel C > T. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh polimorfisme CYP4F2 rs2108622 terhadap pemberian dosis warfarin dengan menggunakan data dari artikel ilmiah internasional dan nasional bereputasi serta database genomik dari Ensembl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan polimorfisme CYP4F2 rs2108622 membutuhkan dosis warfarin yang lebih tinggi dibandingkan dengan alel normal. Selain itu, frekuensi polimorfisme CYP4F2 rs2108622 pada etnis Asia rendah. Dari hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa polimorfisme CYP4F2 sangat berpengaruh terhadap pemberian dosis warfarin dan frekuensi polimorfisme tersebut di Asia rendah.
Kajian Sediaan Orally Dissolving Film (ODF) Muhammad Sultan Ramadhan; Uci Ary Lantika
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1270

Abstract

Abstract. Oral route administration is the most common route and most widely known. However, this route is not always given beneficial. Some of the problems commonly encountered in this route are difficulty swallowing such hard tablets and capsules for patients who are at risk of choking on their use so the therapeutic effect is not optimal. Orally dissolving film (ODF) is a new invention that allows drugs to be used more comfortably than other oral solid preparations without the need for drinking water. In the oral cavity, there is vascularity that allows drugs to enter the systemic circulation without undergoing first-pass metabolism in the liver. ODF formulations consist of active pharmaceutical substances and excipients (film-forming polymers, plasticizers, saliva stimulants, sweeteners, flavoring agents). The ideal ODF preparation should be smooth, strong, and elastic but has a fast dissolving time. To ensure that ODF preparation is ideal, it is necessary to carry out evaluation tests including organoleptic, weight variety, film thickness, dissolution time, surface pH, folding endurance, tensile strength, percent elongation, drug content, transparency, and dissolution test. Abstrak. Rute pemberian oral merupakan rute paling umum dan paling banyak diketahui oleh masyarakat. Namun rute oral tidak selamanya memberikan keuntungan. Beberapa permasalahan yang umum ditemui pada rute ini yaitu kesulitan menelan seperti pada tablet dan kapsul keras bagi pasien yang berisiko tersedak pada penggunaanya sehingga efek terapi tidak optimal. Sediaan orally dissolving film (ODF) merupakan sebuah penemuan baru yang memungkinkan obat dapat digunakan secara nyaman dibandingkan sediaan solida oral lainnya tanpa memerlukan bantuan air minum. Dalam rongga mulut terdapat vaskularisasi yang membuat sebagian besar obat akan memasuki sirkulasi sistemik tanpa mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Formulasi sediaan ODF terdiri atas zat aktif farmasi dan eksipien (polimer pembentuk film, plastisizer, penstimulasi saliva, pemanis, flavouring agent). Sediaan ODF yang ideal harus bersifat halus, kuat, elastis, namun memiliki waktu melarut cepat. Untuk memastikan sediaan ODF yang dihasilkan ideal perlu dilakukan uji evaluasi meliputi organoleptis, keragaman bobot, ketebalan film, waktu larut, pH sediaan, ketahanan lipat, kekuatan tarik, persen pemanjangan, penetapan kadar, transparansi, dan uji disolusi.
Studi Literatur Aktivitas Antelmintik dari Biji Pinang (Areca catechu L.) Nurwahida Yani; Suwendar
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1271

Abstract

Abstract. Worm infection is a disease that includes Neglected Tropical Disease (NTD). This disease can affect all ages, but in preschoolers, it is more common. Ascariasis are chronic infections but the clinical symptoms caused are not clear and the impact will be seen in the long term. Treatment to prevent worm infection can use herbal plants as an alternative, one of the plants that has the potential as anthelmintics is betel nut (Areca catechu L.). This research is in the form of a systematic literature review by searching for articles through Google scholar and Science direct, then selecting according to the inclusion criteria, the total articles obtained are 16 articles and then data processing is carried out. This study aims to determine the potential anthelmintic activity of the areca nut, to determine the secondary metabolites that play a role in the anthelmintic activity of areca nut, and to determine the presence or absence of adverse side effects such as nausea, vomiting, and diarrhea produced by areca nut. In the results of this literature study, it is known that areca nut has potential as an anthelmintic. In this plant, there are secondary metabolites that are efficacious as anthelmintics in the form of phenols, flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, terpenoids, and a typical active compound in the form of arecoline. Areca nut is known to have adverse side effects in the form of nausea, vomiting, and diarrhea. Abstrak. Infeksi cacingan merupakan penyakit yang termasuk Neglected Tropical Disease (NTD). Penyakit ini bisa menyerang semua usia, akan tetapi pada anak usia prasekolah lebih sering terjadi. Cacingan merupakan infeksi yang bersifat kronis akan tetapi gejala klinis yang ditimbulkan tidak jelas dan dampaknya akan terlihat dalam jangka waktu yang panjang. Pengobatan untuk mencegah terjadinya infeksi cacingan dapat menggunakan tanaman herbal sebagai alternatif, salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai antelmintik adalah tumbuhan pinang (Areca catechu L.). Penelitian ini berupa systematic literature review dengan pencarian artikel melalui Google scholar dan Science direct, lalu dilakukan seleksi sesuai dengan kriterian inklusinya, total artikel yang diperoleh adalah 16 artikel kemudian dilakukan pengolahan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antelmintik dari biji pinang, mengetahui metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas antelmintik pada biji pinang, dan mengetahui ada atau tidaknya efek samping merugikan berupa mual, muntah, dan diare yang dihasilkan oleh biji pinang. Pada hasil studi literatur ini diketahui bahwa biji pinang memiliki potensi sebagai antelmintik. Pada tanaman ini terdapat metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai antelmintik berupa fenol, flavonoid, alkaloid, saponin, tannin, terpenoid, serta senyawa aktif yang khas berupa arekolin. Pada biji pinang diketahui memiliki efek samping merugikan berupa mual, muntah, dan diare.
Kajian Pengembangan Etosom sebagai Pembawa Agen NSAID Topikal Bella Triana; Anan Suparman
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1274

Abstract

Abstract. NSAIDs are widely used in pain and inflammation therapy have side effects on the gastrointestinal tract. Delivery of NSAIDs by the topical route can be chosen to reduce these side effects. The ethosomal vesicle system for topical delivery of NSAIDs can be chosen to enhance percutaneous penetration. This review aims to study the ethosomal formulation strategies as NSAID agents delivery, the effect of the ethosomal system on percutaneous penetration of NSAIDs, and also to study the effect of the ethosomal system on the pharmacological activity of NSAIDs. The study was conducted systematically on several international articles from reputable publishers. NSAID agents that have been formulated into ethosomes, including selecoxib, diclofenac, meloxicam, aceclofenac, etodolac, diflunisal, indomethacin, flurbiprofen, and naproxen. The results showed that NSAID ethosomal formulations that showed good characteristics used phospholipids in the form of phosphatidylcholine with ethanol concentrations range from 20-45%, other alcohols such as propylene glycol could be added to increase entrapment efficiency. The ethosomal system was able to increase percutaneous absorption of NSAIDs, indicated by an increase in flux range from 73.71-2741.94%. The ethosomal system was also able to increase the activity of NSAID agents, indicated by an increase in the inhibition of rat paw edema range from 50-300%. It can be concluded that the development of ethosomal system can increase the pharmacological activity of topical NSAIDs by using appropriate strategy formulation. Abstrak. Obat-obat NSAID yang banyak digunakan untuk menangani nyeri dan inflamasi memiliki masalah efek samping gastrointestinal yang sering terjadi. Pengiriman NSAID dengan rute topikal dapat dipilih untuk mengurangi efek samping tersebut. Sistem vesikel etosom untuk pengiriman topikal NSAID dapat dipilih untuk meningkatkan penetrasi perkutan zat aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi formulasi etosom sebagai pembawa agen NSAID topikal, pengaruh pengembangan sistem etosom terhadap penetrasi perkutan NSAID, dan juga mengkaji pengaruh pegembangan sistem etosom terhadap aktivitas farmakologi NSAID. Kajian dilakukan secara sistematis terhadap sejumlah artikel internasional dari penerbit yang bereputasi. Sudah banyak agen NSAID yang diformulasikan menjadi etosom diantaranya selekoksib, diklofenak, meloksikam, aseklofenak, etodolak, diflunisal, indometasin, flurbiprofen, dan naproksen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi etosom NSAID yang menghasilkan karakteristik yang baik menggunakan fosfolipid berupa fosfatidilkolin dengan konsentrasi etanol berkisar 20-45%, dapat ditambahkan alkohol lain berupa propilenglikol untuk meningkatkan efisiensi penjerapan. Sistem etosom mampu meningkatkan penerasiperkutan NSAID ditandai dengan peningkatan nilai flux berkisar antara 73,71-2741,94%. Sistem etosom juga dapat meningkatkan aktivitas agen NSAID ditandai dengan peningkatan inhibisi edema kaki tikus berkisar antara 50-300%. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan sistem etosom mampu meningkatkan aktivitas farmakologi NSAID topikal dengan dengan strategi formulasi yang tepat.
Formulasi Basis Pastiles sebagai Model Penghantar Sediaan Antioksidan Nadya Aulia Amanda; Hanifa Rahma
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1334

Abstract

Abstract. In this era many, natural products are known to have potential as antioxidants, such as garlic, shallots, turmeric, ginger, nutmeg, paprika, lemongrass, and legumes. However, public interest to consume antioxidants from natural products is less. Because it has a bad taste when consumed directly. Therefore, must be processed to increase public interest in the consumption of antioxidants from natural products. One of them is made into pastilles. The purpose of this research was to determine the base formulation of pastilles as an optimal delivery model for antioxidant. The base of the pastilles was made using the molding mixture method with variations of sucrose and glucose syrup formula 1 (60%:15%); formula 2 (60%: 20%); formula 3 (60%: 25%). Based on the basic evaluation including organoleptic test, Gravimetric method of water content test, size uniformity test, weight diversity test, friability test, and dissolving time test, the optimal base is obtained in formula 1 because it satisfy all the evaluation requirements for pastilles. Abstrak. Saat ini sudah banyak bahan alam yang diketahui memiliki potensi sebagai antioksidan seperti bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, pala, paprika, serai, dan legkuas. Akan tetapi, minat masyarakat dalam hal konsumsi antioksidan dari bahan alam masih kurang. Karena memiliki rasa yang kurang enak apabila dikonsumsi secara langsung. Oleh karena itu, perlu diolah menjadi sediaan untuk meningkatkan minat masyarakat dalam hal konsumsi antioksidan dari bahan alam. Salah satunya adalah dibuat menjadi pastiles. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi basis pastiles sebagai model penghantaran sediaan antioksidan yang optimal. Basis pastiles dibuat dengan menggunakan metode molding mixture dengan variasi sukrosa dan sirup glukosa formula 1 (60%:15%); formula 2 (60%: 20%); formula 3 (60%: 25%). Berdasarkan evaluasi basis meliputi uji organoleptik, uji kadar air metode Gravimetri, uji keseragaman ukuran, uji keragaman bobot, uji friabilitas, dan uji waktu larut maka diperoleh basis yang optimal adalah pada formula 1 karena memenuhi seluruh syarat evaluasi pastiles.
Karakterisasi Simplisia Daun Tin (Ficus Carica L.) Devi Revita Amlia; Siti Hazar
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1447

Abstract

Abstract. Tin leaves (Ficus carica L.) one of the creations of Allah SWT have various benefits that can be used by humans such as foodstuffs, medicine, textiles, medicinal materials, and cosmetic ingredients. Therefore Allah Almighty shows that His creations both on earth and in the crosshairs are not in vain. As in the Qur'an surah Al-Imran verses 190 to 191, based on this verse when associated with our research as His people, learning can be carried out so as to obtain benefits such as the plants created. The tin plant (Ficus carica L) belongs to the family Moraceae. The benefits of the tin plant have such effects as antibacterial, antiviral, antifungal, anticancer, antimicrobial, antioxidant and immunomodulatory. The chemical content of the leaves of Ficus carica L contains phenolics, flavonoids, alkaloids and saponins. Standardization of Tin leaf simplisia (Ficus carica L.) is carried out water content tests, water soluble juice content tests, ethanol soluble juice content, and drying shrinkage to determine the moisture content in tin leaves and the amount of compound content in simplisia that can be attracted by solvents. The method used in this study was experimental in the Laboratory of the Islamic University of Bandung. Based on the results of the standardization of Tin fruit simplisia (Ficus carica L.), a moisture content of 5%, a water-soluble juice content of 8.51%, an ethanol soluble juice content of 14.56%, and a drying shrinkage content of 3.6817% were obtained. Abstrak. Daun Tin (Ficus carica L.) salah satu ciptaan Allah SWT memiliki berbagai manfaat yang dapat digunakan oleh manusia seperti bahan makanan, obat, tekstil, bahan obat, dan bahan kosmetik. Oleh karena itu Allah SWT menunjukkan bahwa ciptaan-Nya baik dibumi dan dilangit tidak sia-sia. Sebagaimana dalam Qur’an surah Al-Imran ayat 190 sampai 191, berdasarkan ayat tersebut bila dikaitkan dengan penelitian kita sebagai umat-Nya dapat dilakukan pembelajaran sehingga memperoleh manfaat seperti tumbuhan-tumbuhan yang diciptakan. Tanaman tin (Ficus carica L) termasuk keluarga Moraceae. Manfaat dari tanaman tin memiliki efek seperti antibakteri, antiviral, antifungal, antikanker, antimikroba, antioksidan, dan imunomodulator. Kandungan kimia daun Ficus carica L mengandung fenolik, flavonoid, alkaloid, dan saponin. Standardisasi simplisia daun Tin (Ficus carica L.) dilakukan uji kadar air, uji kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan susut pengeringan untuk mengetahui kadar air di dalam daun tin dan jumlah kandungan senyawa dalam simplisia yang dapat tertarik oleh pelarut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah secara eksperimental di Laboratorium Universitas Islam Bandung. Berdasarkan hasil standardisasi simplisia buah Tin (Ficus carica L.) maka diperoleh kadar air sebesar 5%, kadar sari larut air sebesar 8,51%, kadar sari larut etanol sebesar 14,56%, dan kadar susut pengeringan 3,6817%.

Page 5 of 10 | Total Record : 100