cover
Contact Name
Taufik Muhammad Fakih
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrf@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Farmasi
ISSN : 28083121     EISSN : 27986292     DOI : ttps://doi.org/10.29313/jrf.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Farmasi Jurnal Riset Farmasi (JRF) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian farmasi. JRF ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6292 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 110 Documents
Kajian Pengaruh Polimorfisme CYP4F2 rs2108622 terhadap Pemberian Dosis Warfarin Muhammad Adliansyah Prawiratama Hidayat; Miswar Fattah
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1171

Abstract

Abstract. Warfarin is an oral anticoagulant drug indicated for the treatment of thromboembolism. Warfarin has a narrow therapeutic index, so care must be taken in determining the dose of warfarin for the patient. The effect of anticoagulant therapy produced by warfarin in individuals may vary due to the influence of the CYP4F2 polymorphism rs2108622 which causes changes in the C > T allele. and the genomic database from Ensembl. The results showed that individuals with the CYP4F2 polymorphism rs2108622 required a higher dose of warfarin than the normal allele. In addition, the frequency of the CYP4F2 rs2108622 polymorphism in Asian ethnicities is low. From the results obtained, it can be concluded that the CYP4F2 polymorphism strongly influences the dose of warfarin and the frequency of the polymorphism in Asia is low. Abstrak. Warfarin merupakan obat antikoagulan oral yang diindikasikan untuk terapi tromboembolisme. Warfarin memiliki indeks terapeutik yang sempit sehingga dibutuhkan kecermatan dalam menentukan dosis warfarin untuk pasien. Efek terapi antikoagulan yang dihasilkan oleh warfarin pada individu dapat bervariasi yang disebabkan adanya pengaruh dari polimorfisme CYP4F2 rs2108622 yang menyebabkan perubahan alel C > T. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh polimorfisme CYP4F2 rs2108622 terhadap pemberian dosis warfarin dengan menggunakan data dari artikel ilmiah internasional dan nasional bereputasi serta database genomik dari Ensembl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan polimorfisme CYP4F2 rs2108622 membutuhkan dosis warfarin yang lebih tinggi dibandingkan dengan alel normal. Selain itu, frekuensi polimorfisme CYP4F2 rs2108622 pada etnis Asia rendah. Dari hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa polimorfisme CYP4F2 sangat berpengaruh terhadap pemberian dosis warfarin dan frekuensi polimorfisme tersebut di Asia rendah.
Kajian Sediaan Orally Dissolving Film (ODF) Muhammad Sultan Ramadhan; Uci Ary Lantika
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1270

Abstract

Abstract. Oral route administration is the most common route and most widely known. However, this route is not always given beneficial. Some of the problems commonly encountered in this route are difficulty swallowing such hard tablets and capsules for patients who are at risk of choking on their use so the therapeutic effect is not optimal. Orally dissolving film (ODF) is a new invention that allows drugs to be used more comfortably than other oral solid preparations without the need for drinking water. In the oral cavity, there is vascularity that allows drugs to enter the systemic circulation without undergoing first-pass metabolism in the liver. ODF formulations consist of active pharmaceutical substances and excipients (film-forming polymers, plasticizers, saliva stimulants, sweeteners, flavoring agents). The ideal ODF preparation should be smooth, strong, and elastic but has a fast dissolving time. To ensure that ODF preparation is ideal, it is necessary to carry out evaluation tests including organoleptic, weight variety, film thickness, dissolution time, surface pH, folding endurance, tensile strength, percent elongation, drug content, transparency, and dissolution test. Abstrak. Rute pemberian oral merupakan rute paling umum dan paling banyak diketahui oleh masyarakat. Namun rute oral tidak selamanya memberikan keuntungan. Beberapa permasalahan yang umum ditemui pada rute ini yaitu kesulitan menelan seperti pada tablet dan kapsul keras bagi pasien yang berisiko tersedak pada penggunaanya sehingga efek terapi tidak optimal. Sediaan orally dissolving film (ODF) merupakan sebuah penemuan baru yang memungkinkan obat dapat digunakan secara nyaman dibandingkan sediaan solida oral lainnya tanpa memerlukan bantuan air minum. Dalam rongga mulut terdapat vaskularisasi yang membuat sebagian besar obat akan memasuki sirkulasi sistemik tanpa mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Formulasi sediaan ODF terdiri atas zat aktif farmasi dan eksipien (polimer pembentuk film, plastisizer, penstimulasi saliva, pemanis, flavouring agent). Sediaan ODF yang ideal harus bersifat halus, kuat, elastis, namun memiliki waktu melarut cepat. Untuk memastikan sediaan ODF yang dihasilkan ideal perlu dilakukan uji evaluasi meliputi organoleptis, keragaman bobot, ketebalan film, waktu larut, pH sediaan, ketahanan lipat, kekuatan tarik, persen pemanjangan, penetapan kadar, transparansi, dan uji disolusi.
Studi Literatur Aktivitas Antelmintik dari Biji Pinang (Areca catechu L.) Nurwahida Yani; Suwendar
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1271

Abstract

Abstract. Worm infection is a disease that includes Neglected Tropical Disease (NTD). This disease can affect all ages, but in preschoolers, it is more common. Ascariasis are chronic infections but the clinical symptoms caused are not clear and the impact will be seen in the long term. Treatment to prevent worm infection can use herbal plants as an alternative, one of the plants that has the potential as anthelmintics is betel nut (Areca catechu L.). This research is in the form of a systematic literature review by searching for articles through Google scholar and Science direct, then selecting according to the inclusion criteria, the total articles obtained are 16 articles and then data processing is carried out. This study aims to determine the potential anthelmintic activity of the areca nut, to determine the secondary metabolites that play a role in the anthelmintic activity of areca nut, and to determine the presence or absence of adverse side effects such as nausea, vomiting, and diarrhea produced by areca nut. In the results of this literature study, it is known that areca nut has potential as an anthelmintic. In this plant, there are secondary metabolites that are efficacious as anthelmintics in the form of phenols, flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, terpenoids, and a typical active compound in the form of arecoline. Areca nut is known to have adverse side effects in the form of nausea, vomiting, and diarrhea. Abstrak. Infeksi cacingan merupakan penyakit yang termasuk Neglected Tropical Disease (NTD). Penyakit ini bisa menyerang semua usia, akan tetapi pada anak usia prasekolah lebih sering terjadi. Cacingan merupakan infeksi yang bersifat kronis akan tetapi gejala klinis yang ditimbulkan tidak jelas dan dampaknya akan terlihat dalam jangka waktu yang panjang. Pengobatan untuk mencegah terjadinya infeksi cacingan dapat menggunakan tanaman herbal sebagai alternatif, salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai antelmintik adalah tumbuhan pinang (Areca catechu L.). Penelitian ini berupa systematic literature review dengan pencarian artikel melalui Google scholar dan Science direct, lalu dilakukan seleksi sesuai dengan kriterian inklusinya, total artikel yang diperoleh adalah 16 artikel kemudian dilakukan pengolahan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antelmintik dari biji pinang, mengetahui metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas antelmintik pada biji pinang, dan mengetahui ada atau tidaknya efek samping merugikan berupa mual, muntah, dan diare yang dihasilkan oleh biji pinang. Pada hasil studi literatur ini diketahui bahwa biji pinang memiliki potensi sebagai antelmintik. Pada tanaman ini terdapat metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai antelmintik berupa fenol, flavonoid, alkaloid, saponin, tannin, terpenoid, serta senyawa aktif yang khas berupa arekolin. Pada biji pinang diketahui memiliki efek samping merugikan berupa mual, muntah, dan diare.
Kajian Pengembangan Etosom sebagai Pembawa Agen NSAID Topikal Bella Triana; Anan Suparman
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1274

Abstract

Abstract. NSAIDs are widely used in pain and inflammation therapy have side effects on the gastrointestinal tract. Delivery of NSAIDs by the topical route can be chosen to reduce these side effects. The ethosomal vesicle system for topical delivery of NSAIDs can be chosen to enhance percutaneous penetration. This review aims to study the ethosomal formulation strategies as NSAID agents delivery, the effect of the ethosomal system on percutaneous penetration of NSAIDs, and also to study the effect of the ethosomal system on the pharmacological activity of NSAIDs. The study was conducted systematically on several international articles from reputable publishers. NSAID agents that have been formulated into ethosomes, including selecoxib, diclofenac, meloxicam, aceclofenac, etodolac, diflunisal, indomethacin, flurbiprofen, and naproxen. The results showed that NSAID ethosomal formulations that showed good characteristics used phospholipids in the form of phosphatidylcholine with ethanol concentrations range from 20-45%, other alcohols such as propylene glycol could be added to increase entrapment efficiency. The ethosomal system was able to increase percutaneous absorption of NSAIDs, indicated by an increase in flux range from 73.71-2741.94%. The ethosomal system was also able to increase the activity of NSAID agents, indicated by an increase in the inhibition of rat paw edema range from 50-300%. It can be concluded that the development of ethosomal system can increase the pharmacological activity of topical NSAIDs by using appropriate strategy formulation. Abstrak. Obat-obat NSAID yang banyak digunakan untuk menangani nyeri dan inflamasi memiliki masalah efek samping gastrointestinal yang sering terjadi. Pengiriman NSAID dengan rute topikal dapat dipilih untuk mengurangi efek samping tersebut. Sistem vesikel etosom untuk pengiriman topikal NSAID dapat dipilih untuk meningkatkan penetrasi perkutan zat aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi formulasi etosom sebagai pembawa agen NSAID topikal, pengaruh pengembangan sistem etosom terhadap penetrasi perkutan NSAID, dan juga mengkaji pengaruh pegembangan sistem etosom terhadap aktivitas farmakologi NSAID. Kajian dilakukan secara sistematis terhadap sejumlah artikel internasional dari penerbit yang bereputasi. Sudah banyak agen NSAID yang diformulasikan menjadi etosom diantaranya selekoksib, diklofenak, meloksikam, aseklofenak, etodolak, diflunisal, indometasin, flurbiprofen, dan naproksen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi etosom NSAID yang menghasilkan karakteristik yang baik menggunakan fosfolipid berupa fosfatidilkolin dengan konsentrasi etanol berkisar 20-45%, dapat ditambahkan alkohol lain berupa propilenglikol untuk meningkatkan efisiensi penjerapan. Sistem etosom mampu meningkatkan penerasiperkutan NSAID ditandai dengan peningkatan nilai flux berkisar antara 73,71-2741,94%. Sistem etosom juga dapat meningkatkan aktivitas agen NSAID ditandai dengan peningkatan inhibisi edema kaki tikus berkisar antara 50-300%. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan sistem etosom mampu meningkatkan aktivitas farmakologi NSAID topikal dengan dengan strategi formulasi yang tepat.
Formulasi Basis Pastiles sebagai Model Penghantar Sediaan Antioksidan Nadya Aulia Amanda; Hanifa Rahma
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1334

Abstract

Abstract. In this era many, natural products are known to have potential as antioxidants, such as garlic, shallots, turmeric, ginger, nutmeg, paprika, lemongrass, and legumes. However, public interest to consume antioxidants from natural products is less. Because it has a bad taste when consumed directly. Therefore, must be processed to increase public interest in the consumption of antioxidants from natural products. One of them is made into pastilles. The purpose of this research was to determine the base formulation of pastilles as an optimal delivery model for antioxidant. The base of the pastilles was made using the molding mixture method with variations of sucrose and glucose syrup formula 1 (60%:15%); formula 2 (60%: 20%); formula 3 (60%: 25%). Based on the basic evaluation including organoleptic test, Gravimetric method of water content test, size uniformity test, weight diversity test, friability test, and dissolving time test, the optimal base is obtained in formula 1 because it satisfy all the evaluation requirements for pastilles. Abstrak. Saat ini sudah banyak bahan alam yang diketahui memiliki potensi sebagai antioksidan seperti bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, pala, paprika, serai, dan legkuas. Akan tetapi, minat masyarakat dalam hal konsumsi antioksidan dari bahan alam masih kurang. Karena memiliki rasa yang kurang enak apabila dikonsumsi secara langsung. Oleh karena itu, perlu diolah menjadi sediaan untuk meningkatkan minat masyarakat dalam hal konsumsi antioksidan dari bahan alam. Salah satunya adalah dibuat menjadi pastiles. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi basis pastiles sebagai model penghantaran sediaan antioksidan yang optimal. Basis pastiles dibuat dengan menggunakan metode molding mixture dengan variasi sukrosa dan sirup glukosa formula 1 (60%:15%); formula 2 (60%: 20%); formula 3 (60%: 25%). Berdasarkan evaluasi basis meliputi uji organoleptik, uji kadar air metode Gravimetri, uji keseragaman ukuran, uji keragaman bobot, uji friabilitas, dan uji waktu larut maka diperoleh basis yang optimal adalah pada formula 1 karena memenuhi seluruh syarat evaluasi pastiles.
Karakterisasi Simplisia Daun Tin (Ficus Carica L.) Devi Revita Amlia; Siti Hazar
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1447

Abstract

Abstract. Tin leaves (Ficus carica L.) one of the creations of Allah SWT have various benefits that can be used by humans such as foodstuffs, medicine, textiles, medicinal materials, and cosmetic ingredients. Therefore Allah Almighty shows that His creations both on earth and in the crosshairs are not in vain. As in the Qur'an surah Al-Imran verses 190 to 191, based on this verse when associated with our research as His people, learning can be carried out so as to obtain benefits such as the plants created. The tin plant (Ficus carica L) belongs to the family Moraceae. The benefits of the tin plant have such effects as antibacterial, antiviral, antifungal, anticancer, antimicrobial, antioxidant and immunomodulatory. The chemical content of the leaves of Ficus carica L contains phenolics, flavonoids, alkaloids and saponins. Standardization of Tin leaf simplisia (Ficus carica L.) is carried out water content tests, water soluble juice content tests, ethanol soluble juice content, and drying shrinkage to determine the moisture content in tin leaves and the amount of compound content in simplisia that can be attracted by solvents. The method used in this study was experimental in the Laboratory of the Islamic University of Bandung. Based on the results of the standardization of Tin fruit simplisia (Ficus carica L.), a moisture content of 5%, a water-soluble juice content of 8.51%, an ethanol soluble juice content of 14.56%, and a drying shrinkage content of 3.6817% were obtained. Abstrak. Daun Tin (Ficus carica L.) salah satu ciptaan Allah SWT memiliki berbagai manfaat yang dapat digunakan oleh manusia seperti bahan makanan, obat, tekstil, bahan obat, dan bahan kosmetik. Oleh karena itu Allah SWT menunjukkan bahwa ciptaan-Nya baik dibumi dan dilangit tidak sia-sia. Sebagaimana dalam Qur’an surah Al-Imran ayat 190 sampai 191, berdasarkan ayat tersebut bila dikaitkan dengan penelitian kita sebagai umat-Nya dapat dilakukan pembelajaran sehingga memperoleh manfaat seperti tumbuhan-tumbuhan yang diciptakan. Tanaman tin (Ficus carica L) termasuk keluarga Moraceae. Manfaat dari tanaman tin memiliki efek seperti antibakteri, antiviral, antifungal, antikanker, antimikroba, antioksidan, dan imunomodulator. Kandungan kimia daun Ficus carica L mengandung fenolik, flavonoid, alkaloid, dan saponin. Standardisasi simplisia daun Tin (Ficus carica L.) dilakukan uji kadar air, uji kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan susut pengeringan untuk mengetahui kadar air di dalam daun tin dan jumlah kandungan senyawa dalam simplisia yang dapat tertarik oleh pelarut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah secara eksperimental di Laboratorium Universitas Islam Bandung. Berdasarkan hasil standardisasi simplisia buah Tin (Ficus carica L.) maka diperoleh kadar air sebesar 5%, kadar sari larut air sebesar 8,51%, kadar sari larut etanol sebesar 14,56%, dan kadar susut pengeringan 3,6817%.
Karakterisasi Polimer Alami Sebagai Perekat Sediaan Transdermal Patch dengan Metode Pencampuran Rosidah Nurhamidah; Andrieanto Nurrochman
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1449

Abstract

Abstract. The transdermal patch preparation is one of the preparations whose route of drug administration is percutaneous which provides advantages for several drugs in increasing bioavailability and longer drug action time. One of the active substances with low bioavailability is Vitamin B1 (thiamine), so that vitamin B1 which is made in the form of a transdermal patch is an effort to increase bioavailability. In transdermal patch preparations, polymers have a very important role in which the polymer plays a role in helping the delivery of the active substance. Shellfish is one of the marine biota that can stick to the surface with the help of byssus thread, this can happen because of the natural polymer compound, so in this study intends to look for other alternatives from polymers that can sticks to the skin for a longer period of time. From this background, this study aims to determine the characteristics of natural polymer as an excipient in transdermal patch preparations and to find out which polymers are suitable for use in transdermal preparations with the addition of natural polymer compounds. Transdermal patch vitamin B1 was made in the form of a matrix type, with the results of the study that natural polymer in the transdermal patch preparation did not provide adhesive results, but between F1, F2 and F3 the formula that could be said to be the best was F3, which results from the evaluation of the preparations carried out almost entirely entered range. Abstrak. Sediaan transdermal patch merupakan salah satu sediaan yang rute pemberian obatnya secara perkutan yang memberikan keuntungan bagi beberapa obat dalam meningkatkan bioavaibilitas dan waktu kerja obat yang lebih panjang. Salah satu zat aktif dengan bioavaibilitas rendah adalah Vitamin B1 (tiamin), sehingga vitamin B1 yang dibuat dalam bentuk transdermal patch merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan bioavaibilitas. Dalam sediaan transdermal patch, polimer memiliki peran yang sangat penting yang mana polimer tersebut berperan dalam membantu penghantaran zat aktif. Kerang merupakan salah satu biota laut yang dapat menempel pada permukaan dengan bantuan benang byssus hal tersebut dapat terjadi karena adanya kandungan polimer alami, sehingga dalam penelitian ini bermaksud untuk mencari alternatif lain dari polimer yang dapat menempel pada kulit dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dari latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik polimer alami sebagai zat eksipien pada sediaan transdermal patch dan mengetahui polimer yang cocok digunakan untuk sediaan transdermal yang ditambahkan senyawa polimer alami. Transdermal patch vitamin B1 dibuat dalam bentuk tipe matriks, dengan hasil penelitian bahwa polimer alami dalam sediaan transdermal patch belum memberikan hasil perekatan namun diantara F1, F2 dan F3 formula yang dapat dikatakan terbaik adalah F3 yang mana hasil dari evaluasi sediaan yang dilakukan hampir keseluruhan memasuki rentang.
Studi Literatur Aktivitas Antidiabetes pada Tiga Tanaman Suku Asteraceae Secara In Vivo Shelsa Berliana Yudita; Ratu Choesrina
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1479

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus or often referred to as diabetes is a chronic disease that arises when the body is unable to produce enough insulin or cannot use insulin (insulin resistance) which is characterized by hyperglycemia. Plants originating from the Asteraceae tribe can be used as traditional medicine because they have components of bioactive compounds, such as sesquiterpenes, lactones, pentacyclic triterpenes, alkaloids, tannins, polyphenols, saponins, and sterols that can be used for medicinal purposes. The purpose of this study was to determine the activity and content of compounds as well as the mechanism of action as antidiabetic from the Asteraceae tribe. This study uses a systematic literature review method derived from 6 articles. The plant extracts used in this study consisted of 3 types of plants, namely Stevia rebaudiana Bertoni, Vernonia amygdalina Del, and Cosmos caudatus Kunth. Stevia rebaudiana Bertoni contains stevioside which regulates final blood glucose levels by increasing insulin secretion and sensitivity as well as its ability to regulate protein expression. Meanwhile, Vernonia amygdalina Del, and Cosmos caudatus Kunth contain flavonoid compounds, alkaloids, saponins, and tannins that play a role in reducing glucose levels. This content is able to regenerate damaged pancreatic cells and improve insulin receptor sensitivity. Abstrak. Diabetes Melitus atau yang sering disebut dengan kencing manis yaitu suatu penyakit kronik yang timbul saat tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin (resistensi insulin) yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia. Tanaman yang berasal dari suku Asteraceae dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena memiliki komponen senyawa bioaktif, seperti seskuiterpen, lakton, triterpen pentasiklik, alkaloid, tanin, polifenol, saponin, dan sterol yang dapat digunakan untuk bahan pengobatan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas, dan kandungan senyawa serta mekanisme kerja sebagai antidiabetes dari suku Asteraceae. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review yang berasal dari 6 artikel. Ekstrak yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 3 jenis tanaman yaitu daun Stevia rebaudiana Bertoni, Vernonia amygdalina Del, dan Cosmos caudatus Kunth. Stevia rebaudiana Bertoni memiliki kandungan steviosida yang mengatur kadar glukosa darah akhir dengan meningkatkan sekresi dan sensitivitas insulin serta kemampuannya untuk mengatur ekspresi protein. Sedangkan untuk Vernonia amygdalina Del, dan Cosmos caudatus Kunth mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tannin yang berperan pada penurunan kadar glukosa. Kandungan ini yang mampu meregenerasi sel β pankreas yang rusak dan memperbaiki sensitivitas reseptor insulin.
Tinjauan Pustaka Metode Analisis Senyawa Hidrokuinon dalam Sediaan Krim Shifa Fudjayanti; Farendina Suarantika
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1483

Abstract

Abstract. Whitening creams are in great demand by Indonesian women, but not all whitening creams use safe additives such as hydroquinone. Hydroquinone is an active ingredient that can control uneven pigment production to reduce or inhibit melanin formation. The use of hydroquinone in cosmetics should not exceed 0.02%. This study aims to determine the content and amount of hydroquinone (HQ) in facial whitening cream preparations on the market. Hydroquinone levels were tested using quantitative analytical methods such as High Performance Liquid Chromatography (HPLC), High Performance Thin Layer Chromatography-Densitometry (TLC-D), UV/Vis Spectrophotometry and Voltammetry. . Based on the measurement results, the validation parameters of each method that have been developed can be compared based on the accuracy value of 98.30-100%, precision of 0.81-0.97%, specific, LOD 0.14, LOQ 0.46 and linearity 0.9999, the best method is UVDS. Of all the samples that have been studied all positive contain hydroquinone. Abstrak. Krim pemutih sangat diminati oleh wanita indonesia, tetapi tidak semua krim pemutih menggunakan bahan tambahan yang aman contohnya hidrokuinon. Hidroquinon merupakan bahan aktif yang dapat mengontrol produksi pigmen yang tidak rata untuk mengurangi atau menghambat pembentukan melanin. Penggunaan hidroquinon dalam kosmetik tidak boleh lebih dari 0,02%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan dan jumlah kadar hidrokuinon (HQ) pada sediaan krim pemutih wajah yang beredar di pasaran. Pengujian kadar hidrokuinon dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif seperti Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi-Densitometri (KLTKT-D), Spektrofotometri UV/Vis dan Voltametri. . Berdasarkan hasil pengukuran, parameter validasi dari setiap metode yang sudah dikembangkan dapat dibandingkan berdasarkan nilai akurasi 98.30-100%, presisi 0.81-0.97%, spesifik, LOD 0.14, LOQ 0.46 dan linearitas 0.9999, metode yang paling baik yaitu UVDS. Dari semua sampel yang telah diteliti semuanya positif mengandung hidrokuinon.
Formulasi dan Evaluasi Stabilitas Sediaan Lip Balm Ekstrak Buah Mahkota Dewa Amalia Ridhani; Nurul Hidayah
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 2, Desember 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v2i2.1546

Abstract

Abstract. Background: Lips are an important part that is visible on the face which must be maintained and must be considered, one of which is by using lip balm. Lip balm is a cosmetic used to prevent dry, chapped, and dull lips. Plant extracts that can be used in lip balm formulations include Mahkota Dewa fruit (Phaleria macrocarpa) because it contains flavonoids which are useful as anti-inflammatory, antihypertensive, antioxidant and help reduce pain if swelling occurs. Objective: To formulate and evaluate the stability of lip balm preparations from the fruit extract of god's crown (Phaleria macrocarpa). Methods: The design of this study was pre-experimental with a one-shot case study design. Mahkota dewa fruit extract was formulated into three formulations and then the stability of the preparation was evaluated including organoleptic test, homogeneity, pH, stability of the preparation, adhesion, and preference test (Hedonic). Results: It was found that all formulations had good stability and met the requirements of the organoleptic test and homogeneity test. The value of pH stability and adhesion was not stable but still met the parameters. In the preference test (Hedonic) formulation 3 was less favored by the respondents. Abstrak. Latar Belakang: Bibir merupakan bagian penting yang terlihat pada wajah dimana harus dijaga dan harus diperhatikan, salah satunya adalah dengan menggunakan lip balm. Lip balm adalah kosmetik yang digunakan untuk mencegah bibir kering, pecah-pecah, dan berwarna kusam. Ekstrak tanaman yang dapat digunakan dalam formulasi lip balm antara lain buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) karena mengandung flavonoid yang berguna sebagai antiinflamasi, antihipertensi, antioksidan serta membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pembengkakan. Tujuan: Memformulasikan dan mengevaluasi stabilitas sediaan lip balm ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Metode: Desain penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan rancangan one-shot case study. Ekstrak buah mahkota dewa diformulasikan menjadi tiga formulasi dan selanjutnya dilakukan evaluasi stabilitas sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, stabilitas sediaan, daya lekat, dan uji kesukaan (Hedonic). Hasil: Didapat bahwa semua formulasi memiliki stabilitas yang baik dan memenuhi syarat uji organoleptis dan uji homogenitas. Nilai stabilitas pH dan daya lekat tidak stabil tetapi masih memenuhi parameter. Pada uji kesukaan (Hedonic) formulasi 3 kurang disukai responden.

Page 4 of 11 | Total Record : 110