cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 239 Documents
Modernisme Biang Keladi Kerusakan Seni Rupa Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 11 No. 02 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i02.306

Abstract

Kemunculan Impresionisme di abad 20 yang merupakan awal dari Modernisme, telah menyebabkan perubahan besar dalam cara orang memandang seni. Karya seni yang pada periode sebelumnya sudah mempunyai tatanan yang rapi, kemudian dirombak total sehingga seni kemudian menjadi sulit dimengerti dan tidak dapat dibedakan antara karya seni dengan bukan seni. Hal itu terjadi karena dunia itu sendiri telah berubah dengan munculnya penemuan baru yang menyebabkan cara pandang manusia terhadap seni menjadi bergeser.
Rekonseptualisasi Hararian tentang Konsep Informasi dalam Pameran Souls of Protopia Sandy Tisa Simanjuntak, Mardohar
Dekonstruksi Vol. 11 No. 02 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i02.308

Abstract

Peran informasi dalam bentukan jejaring sosial manusia sejak revolusi kognitif tidak dapat dinafikan. Dengan kemampuannya untuk menarik abstraksi dan membangun struktur konsep, manusia dapat melampaui keterbatasannya dan mengungguli spesies lainnya. Meskipun demikian, Yuval Noah Harari berpendapat bahwa informasi yang membentuk sejarah manusia pada hakikatnya adalah kepercayaan faktik yang sifatnya ideologis. Dengan demikian, lepas dari faktual tidaknya informasi, perannya dalam membentuk jejaring (nexus) sosial sangat sentral. Pelukis Sandy Tisa mencoba untuk menunjukkan bahwa peta (chart) yang semestinya menggambarkan realitas objektif ternyata dapat berperan sebagai cara mememetakan (charting) wilayah-wilayah batin yang sifatnya reflektif dan retrospektif. Pameran Souls of Protopia yang digulirkan berada pada pemaknaan Hararian dalam tentang faktualitas ruang hidup mental manusia. Penelitian kualitatif-fenomenologis ini, dengan mengambil pameran tunggal sebagai objek kajian, sampai pada kesimpulan bahwa upaya teritorial yang dipetakan (charted) pada hakikatnya bersifat konstruktif terhadap pencapaian peradaban dan kebudayaan manusia.
Penderitaan Manusia dan Allah yang Menderita Menurut Walter Kasper Tangi, Banus
Dekonstruksi Vol. 11 No. 02 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i02.311

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan fenomena penderitaan dalam kehidupan manusia yang membuat manusia akhirnya menanyakan eksistensi Allah dengan berpegang pada perspektif teologi-kristologi Walter Kasper. Pada zaman ini, umat kristiani dilanda kebingungan atas peperangan, kematian orang-orang yang tidak berdosa, eksploitasi, penganiayaan dan penindasan. Kenyataan ini membuat mereka mempertanyakan eksistensi Allah. Bagi Kasper, pertanyaan mengenai eksistensi Allah menjadi salah satu penyebab manusia menjadi ateis. Oleh karena itu, ia menawarkan sebuah teologi-kristologi baru untuk menyadarkan umat kristiani bahwa Allah tetap berkarya dalam penderitaan manusia. Inti teologi-kristologi itu adalah Yesus Kristus historis. Dalam sejarah, Allah (Yesus Kristus) merasakan penderitaan terutama dalam peristiwa salib. Yesus yang menanggung penderitaan merupakan bukti bahwa Allah kristiani bukan Allah apatis. Dengan demikian, jika Allah telah menderita maka tidak ada alasan bagi manusia menjadi ateis atau menyangkal eksistensi Allah. Penderitaan membawa umat kristiani kepada sebuah harapan akan Allah sehingga terjadi proses pemurnian iman.
Tugas Seorang Penyair Aspahani, Hasan
Dekonstruksi Vol. 11 No. 02 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i02.315

Abstract

Siapakah penyair? Jawabannya bisa dirujukkan kepada perannya sebagai manusia di antara manusia lain, kesadarannya bahwa puisi adalah takdir bahasa, dan sumbangannya pada bahasa, medium seninya itu. Pesu Aftarudin (l. 1941), seorang penyair dan guru di Bandung, menjelaskan bahwa manusia penyair adalah dia yang menyadari eksistensi kehadirannya di dunia, sebagai seorang pribadi yang mengalami kehidupan jasmani dan rohani, dan mempunyai sikap moral yang membedakannya dengan makhluk lain.
Seksualitas Pemberian Allah : : Dari Refleksi Alkitab dan Teologis hingga Peran Gereja Kristianto, Paulus Eko
Dekonstruksi Vol. 11 No. 02 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i02.316

Abstract

Seksualitas bukan hal tabu. Ia merupakan pemberian Allah yang perlu dirayakan secara sehat dan penuh berkat. Demikianlah seruan yang diangkat di artikel ini. Topik ini dibedah melalui kajian seksualitas pemberian Allah: dari refleksi Alkitab dan teologis hingga peran gereja. Metode penelitian pustaka menjadi jalan menemukan diskusinya. Ini diangkat melalui jalan bahasan landasan Alkitab tentang seksualitas, seksualitas sebagai pemberian Allah, bentuk-bentuk seksualitas, penyimpangan seksualitas dalam Alkitab, penyimpangan seksualitas dalam masyarakat, peran gereja terhadap seksualitas dan penyimpangannya.
Representasi Fenomena Rasisme Melalui Media Musik Hip Hop Pada Film “Straight Outta Compton” Fitrah Raihan Fahreza; Nurcahyanti, Desy
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.305

Abstract

Rasisme timbul dari kesenjangan yang terjadi pada kehidupan sosial masyarakat. Konflik berawal dari perbudakan era kolonialisme kemudian terbawa menjadi stereotip bahwa kulit hitam merupakan ras yang paling rendah derajatnya. Seiring berkembangnya zaman, rasisme menjadi permasalahan dalam berbagai lapisan, termasuk dampaknya terhadap perkembangan film dan musik. Film merupakan salah satu implementasi seni yang fleksibel dengan berbagai bidang yang berkolerasi dengan fenomena sejarah umat manusia melalui media gambar bergerak yang memiliki maksud dan tujuan tertentu. Rasisme adalah sejarah sosial masyarakat yang diangkat oleh F. Gary Gray sebagai produser film “Straight Outta Compton” dengan latar belakang fenomena rasisme yang dialami oleh grup musisi hip hop N.W.A. Kultur musik hip hop 90-an lahir dari proses kreatif penciptaan karya seni yang bertujuan untuk merepresentasikan dan merespon berdasarkan peristiwa rasisme kepada ras kulit hitam yang terjadi di Amerika Serikat. Hasil analisis bertujuan untuk mendeskripsikan rasisme yang dialami oleh beberapa tokoh ras kulit hitam dan keterkaitannya dengan musik hip hop. Teknik analisis berawal dari timbulnya kultur rasisme yang ada pada masyarakat Amerika Serikat dengan menerapkan fokus teori rasisme James M. Jones. Artikel ini mendeskripsikan film tersebut menggunakan musik hip hop sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman rasisme, diskriminasi, dan perjuangan komunitas Afrika-Amerika di wilayah urban.
Levinasian Ethics of Face as Moral Guidance for Leaders of Superior Quality Agustinus Tamtama Putra; Along, Antonius
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.312

Abstract

This paper elaborates on Emmanuel Levinas' idea of the face of the other, which is the ethical basis for the most humane treatment of others as subjects. This idea of the ethics of the face of levinasian then becomes a moral guideline for leaders of superior quality. The author argues that a good leader is one who sees and treats anyone not as an object, let alone as a means to get personal gain. An excellent leader is one who first realises that other people are the most prioritised, upheld in dignity, loved as the primordial human intuition in looking at someone's face. In conclusion, this research underlines the discovery that superior quality leaders are effectively formed through the meaning and embodiment of levinasian face ethics in various contexts of life together.
Mendeskripsikan Testimoni sebagai Fenomenologi Sosial Nugroho, Ibnu
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.318

Abstract

This paper is a study entitled “Describing Testimony as Phenomenology of Social”. Testimony is described in various ways, even its existence is distinguished from each other. It is indicated that the testimony is formed from four connected elements, then, the testimony is distinguished between natural and formal. In this study, the thesis reveals that testimony is a social interaction that occurs through speech and the relationship of intersubjectivity, this is shown in the writing of Gerrit Jan Van Derr Heiden in The Voice of Misery. Dealing with the thesis, this study develops attractual interaction as the pioneer of testimony in social phenomenology. This attractual interaction is based on Georg Simmel’ idea on aesthetic sociology. The result of this study finds out that there is a relation of testimony within the scope of social phenomenology. The relation is obtained by representing the possibilities of social theory that has been discovered
Menggugat Hegemoni Antroposentrisme Melalui Dekonstruksi Hermeneutika Ekologis Sara, Bapthista Mario Yosryandi
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.319

Abstract

Krisis iklim dan kehancuran alam akhir-akhir ini merupakan gejala multidimensi yang tidak cukup dipahami dengan pendekatan ilmiah dan teknokratik semata. Perlu adanya kajian secara filosofis akar dari krisis tersebut, yaitu dominasi paradigma antroposentris terhadap relasi manusia dan alam. Dengan analisis filsafat ekologi, etika lingkungan, hermeneutika, ekofenomenologi, serta antroposentrisme, artikel ini berusaha untuk membongkar cara berpikir yang menempatkan manusia sebagai sentral eksistensi dan mengobjektifikasi alam layaknya sumber daya privat. Tulisan ini hendak menegaskan, bahwasannya keberlanjutan ekologi menuntut pembalikan paradigma menuju etika biosentris dan teosentris, serta mengajukan kritik atas diskursus pembangunan berkelanjutan yang masih terjebak di balik logika kapitalistik dan modernisme. Melalui telaah teoritis dan kajian literatur atas kehancuran lingkungan di negara-negara dunia ketiga–terkhususnya Indonesia, artikel ini memperlihatkan jika kehancuran ekosistem di abad-21 merupakan bagian dari krisis cara berpikir manusia itu sendiri; antroposentris, ekstraktif, dan kapitalis. Maka dari itu, menuju transisi yang berkelanjutan, perlu revolusi ontologis dan etis dengan memandang alam dan kehidupan di sekitarnya sebagai suatu kesatuan, subjek bukan objek eksploitasi.
Gerakan Ekumenis di Indonesia Kristianto, Paulus Eko; Prakosa, Pribadyo
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.320

Abstract

Artikel ini membahas pelacakan sejarah gerakan ekumenis di Indonesia. Proses ini dilakukan menggunakan penelitian pustaka. Dalam penyajiannya, penulis memperhatikan periodisasi yang ada agar pembaca memperoleh gambaran sejarah yang utuh. Dari keseluruhan proses yang ada, uraian sejarah ini mengajak kita perlu memahami gerakan ekumenis tidak sebatas kesatuan teologi, melainkan memperjuangkan aksi bersama bagi terwujudnya perdamaian dan keadilan.