cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Driving Pressure sebagai Bagian Strategi Ventilasi Mekanik pada Sindroma Gagal Napas Akut Pediatrik akibat Tenggelam Air Tawar Adika Putri Pratiwi; Suwarman
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.721 KB)

Abstract

Dilaporkan kasus anak laki-laki usia 14 tahun, datang dengan peningkatan work of breathing (WOB), desaturasi, penurunan kesadaran, dengan Quick sofa score 3. Klinis ronkhi kasar di kedua hemitoraks dengan edema paru dan pneumonia pada rontgen toraks. Diagnosis acute respiratory distress syndrome (ARDS) diekstrapolasi dari definisi Berlin. Strategi ventilasi mekanik sesuai protokol ARDS berupa target volume tidal ekspirasi (VTE) 6–8 mL/Ideal body weight, penggunaan kombinasi incremental positive end expiratory pressure (PEEP) dan FiO2, membatasi pPlateau <35 cmH2O, dan memasukkan unsur driving pressure (ΔP) yang dipertahankan kisaran 15–16. Tahap awal didapatkan ΔP≤8 dan ≥16, pada ΔP tersebut parameter oksigenasi tidak mengalami perbaikan. Nilai ΔP yang dipertahankan 15–16 membuat rasio PaO2/FiO2 (P/F) perbaikan, sehingga ΔP tidak hanya digunakan sebagai limit, namun dapat digunakan sebagai strategi ventilasi mekanik untuk optimalisasi oksigenasi. ARDS dengan penyebab pneumonia bilateral dan wet lung akibat tenggelam dapat segera diatasi dan menunjukkan perbaikan dengan tatalaksana diatas. Pemberat perawatan adalah adanya aspirasi pneumonia dan sepsis selama di intensive care unit (ICU). Terapi supportif lain berupa pemberian nutrisi, sedasi, analgesia, pelumpuh otot, antibiotik, ventilator associated pneumonia (VAP) bundle, dilakukan. Pada hari ke-7 klinis dan penunjang menunjukkan perbaikan, hari ke-8 pasien pindah ke ruang perawatan dan pulang pada hari ke-12.
Diagnosis dan Tatalaksana ARDS Ramacandra Rakhmatullah; Reza Widianto Sudjud
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.675 KB)

Abstract

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) mempengaruhi sekitar 200.000 pasien setiap tahunnya di Amerika Serikat, mengakibatkan hampir 75.000 kematian. Angka mortalitas yang cukup tinggi menunjukkan bahwa ARDS kurang terdiagnosis sehingga mengalami penundaan terapi. Tinjauan pustaka ini disusun untuk memahami diagnosis ARDS berikut perkembangan tatalaksananya. Penegakan diagnosis disesuaikan dengan konsensus definisi ARDS Berlin 2012. Penerapan definisi Berlin pada beberapa negara berkembang yang memiliki keterbatasan fasilitas menyebabkan ARDS kurang terdiagnosis. Alternatif penegakan diagnosis muncul dari studi Kigali yang menggabungkan definisi American-European Consensus Conference (AECC) 1994 dan definisi Berlin 2012. Fokus utama penegakan diagnosis tetap pada empat gejala klinis yaitu onset gagal nafas yang berhubungan dengan perburukan klinis pasien, edema paru selain karena sebab hidrostatik, temuan foto toraks, dan tingkat hipoksemia. Terapi utama dari ARDS adalah mengatasi hipoksemia diikuti dengan identifikasi dan terapi penyebab ARDS. Terapi hipoksemia menggunakan prinsip lung protective strategy untuk mencegah VILI (Ventilator Induced Lung Injury). Terapi selanjutnya bersifat suportif dan farmakologis yang bertujuan untuk meningkatkan pengiriman oksigen dan menurunkan konsumsi oksigen. Terapi cairan konservatif juga penting dilaksanakan untuk mencegah keseimbangan cairan positif. Kecepatan dalam menegakkan diagnosis dan ketepatan memberikan terapi sangat mempengaruhi outcome dan prognosis. Penelitian lebih lanjut tentang ARDS masih diperlukan.
Deteksi Dini Gejala Emboli Paru di ICU Bastian Lubis; Akhyar H Nasution
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.413 KB)

Abstract

Emboli paru seringkali sulit dideteksi karena gejalanya tidak spesifik dan karakteristiknya yang sukar dicegah. Angka kematian akibat emboli paru berkisar antara 100.000 hingga 200.000 kematian tiap tahunnya di Amerika Serikat. Angka ini dapat menjadi lebih besar apabila emboli paru tidak ditangani segera. Angka kematian in dapat ditekan melalui anamnesis yang menyeluruh, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi (EKG), foto toraks, D-dimer, fibrinogen, ekokardiografi, dan prosedur mutakhir seperti CTangiografi. Angka kematian akibat emboli paru dapat diturunkan dengan diagnosis yang cepat dan pengobatan yang tepat. Pengobatan yang tepat menggunakan heparin, streptokinase, atau Digital Substraction Angiography (DSA) terkadang diperlukan dalam menatalaksana emboli paru masif.
Tata Laksana Mekanikal Ventilator pada Pasien Acute Respiratory Distress syndrome (ARDS) dengan Pendekatan Driving Pressure Ester Lantika Ronauli Silaen; Nurita Dian Kestriani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 3 (2019): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.583 KB)

Abstract

Manajemen ventilasi mekanik sindrom distres pernapasan akut (ARDS) antara lain penggunaan volum tidal rendah, positive end expiratory pressure PEEP tinggi, dan menjaga tekanan Pplat ≤30 cmH2O, dengan target untuk mencegah terjadi ventilator menginduksi cedera paru (VILI). Parameter driving pressure (DP) diperhitungkan pada saat ini sehubungan dengan batas aman dan sintasan pada pasien dengan komplians rendah seperti pada ARDS. Laporan kasus ini melaporkan seorang pria, usia 26 tahun, dengan luka tusuk pada dada yang dilakukan debridement dengan median sternotomi. Setelah satu hari dirawat di bangsal, pasien readmisi ke ICU dengan keluhan sesak napas, penurunan kesadaran, penurunan saturasi oksigen menjadi 65%, dan gambaran foto thoraks ditemukan opasitas bilateral. Pasien dilakukan penilaian dan penanganan dilanjutkan dengan manajemen ARDS, dan dipasang ventilator. Pengaturan ventilator dengan modus pressure control, menggunakan PEEP tinggi dan penyesuaian volum tidal berdasarkan nilai DP yang memberikan respon baik dengan meningkatnya oksigenasi pasien. Pasien kemudian berhasil diekstubasi setelah 8 hari dirawat di ICU. Penurunan komplians pada ARDS terjadi dengan hilangnya area paru yang bias ter-aerasi membuat penurunan luas paru yang fungsional. DP berhubungan dengan tekanan stress dalam paru dan merepresentasikan strain siklik yang menjadi sasaran parenkim paru selamat tiap siklus ventilasi. Penyesuaian parameter ventilasi mekanik dengan target driving pressure memberikan luaran yang baik pada kasus ini.
Hubungan antara Kelebihan Cairan dengan Meningkatnya Angka Mortalitas Pasien Sepsis yang Dirawat di Ruang Intensive Care Unit (ICU): Mayang Indah Lestari, Yusni Puspita, Zulkifli, Endang Melati Maas Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 1 (2017): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.029 KB)

Abstract

Terapi cairan merupakan landasan penting dalam merawat pasien kritis di intensive care unit (ICU), termasuk pasien sepsis. Terapi liberal dan goal-directed dianjurkan untuk mencapai tekanan arteri rata-rata lebih dari 65 mmHg pada tahap awal syok. Meskipun demikian, resusitasi cairan berlebihan meningkatkan tekanan hidrostatik mikrovaskular dan dapat menyebabkan akumulasi cairan interstitial. Resusitasi cairan yang memanjang berhubungan dengan kelebihan cairan dan meningkatkan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai seberapa besar hubungan antara kelebihan cairan dan angka mortalitas. Melalui studi case control, data dikumpulkan secara retrospektif dari Desember 2013 berdasarkan rekam medik di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang sampai jumlah sampel tercukupi. Subjek penelitian adalah pasien sepsis berat dan syok septik yang mendapat resusitasi early goal directed therapy. Enam puluh subjek yang memenuhi kriteria yang dibagi menjadi kelompok survivors dan non-urvivors. Kelompok non survivors ditemukan lebih banyak dengan kelebihan cairan ≥10% (73,3%) dibanding dengan kelebihan cairan <10% (26,7%). Sedangkan pada kelompok survivors ditemukan lebih banyak dengan kelebihan cairan <10% (66,7%) dibanding dengan kelebihan cairan ≥10% (33,3%). Pasien sepsis berat dan syok septik yang memiliki kelebihan cairan ≥10% mempunyai risiko kematian 5,5 kali lebih besar dibanding dengan kelebihan cairan <10%.
Perbandingan Keberhasilan Insersi Kanul Intravena antara Penggunaan dan Tanpa Penggunaan Penampil Vena pada Pasien Pediatrik: Aries Perdana, Christopher Kapuangan, Anas Alantas, Sidharta Kusuma Manggala, Yosi Dwi Wardhani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 1 (2017): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.389 KB)

Abstract

Insersi kanul intravena pada bayi, balita atau anak-anak cukup sulit karena kecilnya ukuran pembuluh darah vena dan lokasinya yang dalam di jaringan subkutis. Kesalahan insersi kanul intravena cenderung terjadi pada kasus difficult venous access (DVA). Penelitian ini membandingkan keberhasilan insersi kanul intravena dengan atau tanpa penggunaan penampil vena pada pasien pediatrik. Setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik FKUI/ RSCM dan konsen dari pasien, dilakukan penelitian uji klinis acak tidak tersamar pada 88 sampel pasien pediatrik. Pasien dirandomisasi menjadi dua kelompok, pada kelompok 1 dilakukan insersi kanul intravena tanpa penampil vena, sedangkan kelompok 2 dilakukan insersi kanul intravena dengan penampil vena. Data yang terkumpul diuji dengan uji Chi-square. Insersi kanul intravena sekali tusuk dengan penampil vena keberhasilannya 3,095 kali lebih besar dibanding dengan tanpa penampil vena (p<0,05). Insersi kanul intravena sekali tusuk pada pasien dengan status gizi kurang-buruk memiliki angka keberhasilan 0,285 kali dibanding dengan status gizi normallebih (p<0,05). Usia memiliki hubungan signifikan terhadap insersi kanul intravena (p<0,05). Keberhasilan insersi kanul intravena sekali tusuk dengan menggunakan penampil vena lebih baik dibanding dengan tanpa penampil vena. Keberhasilan insersi kanul intravena memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi dan usia.
Gangguan Tidur pada Peserta Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif: Eddy Harijanto, Jefferson Hidayat, Astrid Pratiwi Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 1 (2017): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.168 KB)

Abstract

Dokter anestesiologi adalah profesi kedokteran yang rentan mengalami kelelahan akibat jam kerja yang panjang, beban kerja dengan tingkat stress pekerjaan yang tinggi. Sebanyak 80% kesalahan medis berhubungan dengan sindrom burnout dengan gangguan tidur sebagai keluhan yang sering dialami dokter anestesiologi. Penelitian ini menggunakan 2 kuesioner yang telah divalidasi di Indonesia; Kuesioner pittsburgh sleep quality index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur dan kuesioner epworth sleepiness scale (ESS) untuk menilai skala kantuk berlebih. Setelah mendapatkan izin komite etik dan informed consent, penelitian observasional potong lintang dengan subjek 98 orang peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI dilakukan di RSCM selama April–Mei 2016. Sampel mengisi kedua kuesioner. Analisis deskriptif dilakukan terhadap gangguan kualitas tidur dan skala kantuk, distribusi karakteristik dan data jam kerja. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan terhadap hasil kuesioner PSQI dan ESS. Faktor durasi tidur, keluhan tidur dan skala kantuk berlebih adalah faktor signifikan penyebab kualitas tidur kurang. Skala kantuk memiliki kecenderungan sebesar 132,8 kali sebagai faktor gangguan kualitas tidur. Faktor jumlah hari bebas tugas per bulan, tahap jaga, dan kualitas tidur subjek menjadi faktor signifikan penyebab skala kantuk berlebih. Gangguan kualitas tidur memiliki kecenderungan sebesar 38,73 kali sebagai faktor skala kantuk berlebih.70% subjek memiliki kualitas tidur kurang dan 65% subjek memiliki skala kantuk berlebih. Terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dengan skala kantuk berlebih.
Hubungan antara Klorheksidin 0,2% dan Povidone Iodine 1% dengan Ventilator-Associated Pneumonia (VAP): Studi Kohort: Mayang Indah Lestari, Yusni Puspita, Rizal Zainal, Theodorus Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 1 (2017): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.094 KB)

Abstract

Ventilator-associated pneumonia (VAP) adalah infeksi nosokomial tersering di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Moh. Hoesin (RSMH) Palembang, angka kejadiannya pada bulan Juli 2011–Juni 2012 cukup tinggi (31,69%) dengan angka mortalitas 54,7%. Mekanisme utama dalam patogenesis VAP ialah aspirasi bakteri gram positif dan negatif patogenik yang berkoloni di daerah orofaring. Tindakan modulasi kolonisasi tersebut sangat bermakna dalam mencegah VAP. Pemberian povidon iodin 1% dan klorheksidin 0,2% sudah sering dilakukan namun belum ada penelitian mengenai hubungannya terhadap kejadian VAP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara klorheksidin 0,2% dan povidoneiodine 1% terhadap kejadian VAP. Studi kohort telah dilakukan di ICU RSMH pada bulan Februari – Juli 2014. Terdapat 32 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang mendapatkan klorheksidin 0,2% dan povidoneiodine 1%. Dilakukan uji χ2 menggunakan statistical program and service solution (SPSS) versi 21.0. Karakteristik umum subjek penelitian yang meliputi usia, jenis kelamin, skor APACHE II, diagnosis, dan lama intubasi antara dua kelompok tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p>0,05). Terdapat hubungan antara povidoneiodin 1% dan klorheksidin 0,2% terhadap kejadian VAP (RR 1,286) namun hubungan tersebut tidak bermakna (p=0,48).
Gambaran Dokumentasi Penilaian Nyeri pada Pasien Anak di Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung: Shofura Afifah, Stanza Uga Prayoga, Dedi Fitri Yadi Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 1 (2017): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.114 KB)

Abstract

Penilaian nyeri merupakan langkah penting dalam manajemen nyeri, tetapi dokumentasi nyeri yang tidak memadai serta oligoanalgesia pada pasien anak di Instalasi Gawat Darurat (IGD) masih dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan dokumentasi penilaian nyeri pada pasien anak di IGD Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung serta menggambarkan penggunaan analgesik berdasarkan skor nyeri. Penelitian ini merupakan studi lintang potong retrospektif yang dilakukan pada subjek rekam medis 625 pasien berusia 0–18 tahun yang berkunjung ke IGD RSHS selama periode Januari–Maret 2015. Variabel yang diambil adalah usia, jenis kelamin, jenis kunjungan, alasan kunjungan, status triase, diagnosis pasien, dan pemberian analgesik. Hasil penilaian nyeri menggunakan skala Wong Baker FACES, 61,6% pasien anak didokumentasikan skor nyerinya. Pasien obstetri dan ginekologi (0,8%), pasien klasifikasi darurat (10,4%), pasien bayi (19,7%), dan pasien dengan alasan berkunjung nyeri (24,2%) menunjukkan dokumentasi skor nyeri yang lebih rendah pada kelompok kategorinya. Dari setiap pasien yang didokumentasikan nyerinya, 45,9% menerima analgesik. Pasien yang tidak didokumentasikan penilaian nyerinya menerima analgesik paling sedikit (21,2%). Analgesik yang digunakan di IGD adalah NSAID (41,6%), parasetamol (29,7%), analgesik tidak spesifik (27,6%), dan opioid (1,1%). Dokumentasi penilaian nyeri pada pasien anak IGD RSHS masih suboptimal. Perlu dilakukan peningkatan dokumentasi penilaian nyeri untuk memperbaiki manajemen nyeri.
Pengaruh Eksorotasi Tungkai Bawah terhadap Jarak Saraf Femoralis dan Arteri Femoralis: Observasi dengan Panduan Ultrasonografi: Aida RositaTantri, Darto Satoto, Reni Hirda Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 35 No 1 (2017): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.728 KB)

Abstract

Teknik blok saraf femoralis menggunakan stimulator saraf merupakan teknik yang sering digunakan di Indonesia. Terdapat perbedaan anatomi antara ras Melayu dengan ras Kaukasoid dan ras Mongoloid sehingga menyebabkan perbedaan landmark jarak saraf femoralis ke arteri femoralis untuk blok saraf femoralis. Penelitian ini mengobservasi pengaruh eksorotasi tungkai bawah terhadap jarak saraf femoralis dan arteri femoralis pada lipatan inguinalis dengan panduan ultrasonografi pada ras Melayu. Studi potong lintang pada pasien bedah elektif di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta dilakukan selama Februari 2016. Ultrasonografi dua dimensi digunakan untuk mendapatkan gambaran saraf femoralis pada empat posisi kedua tungkai bawah yaitu: eksorotasi tungkai bawah 0o, 15o, 30o dan 45o. Jarak saraf ke arteri dan jarak saraf ke kulit pada setiap sudut dibandingkan. Data dianalisis dengan uji T dan uji Anova. Terdapat perbedaan bermakna jarak saraf femoralis dan arteri femoralis pada berbagai derajat eksorotasi 0o, 15o, 30o, dan 45o pada kaki kanan maupun kaki kiri (p<0,001). Tidak ada perbedaan jarak saraf femoralis ke arteri femoralis antara kaki kanan dan kaki kiri pada semua derajat eksorotasi. Tidak ada perbedaan bermakna jarak saraf femoralis ke kulit pada semua sudur eksorotasi tungkai bawah. Pada ras Melayu, semakin besar sudut eksorotasi tungkai bawah semakin jauh jarak saraf femoralis ke arteri femoralis.